Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Evaporasi merupakan proses pemekatan larutan yang dilakukan dengan cara
mendidihkan atau menguapkan pelarut. Alat yang digunakan dalam proses
evaporasi disebut evaporator. Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi
mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk
cair menjadi uap. Evaporator memiliki dua fungsi dalam proses evaporasi yaitu
memindahkan panas dan memisahkan uap yang terbentuk dari campuran cairannya.
Proses evaporasi akan menurunkan aktivitas air dalam bahan hasil pertanian
sehingga kadar air pada bahan hasil pertanian akan rendah, penurunan aktifitas air
ini akan membuat bahan lebih awet karena proses pertumbuhan pada mikroba akan
terhambat. Bahan hasil pertanian merupakan bahan pangan yang mudah rusak dan
tidak tahan lama (Yulia. 2002). Evaporasi ditujukan untuk mendapatkan massa
yang lebih pekat dengan jalan menguapkan sebagian air yang ada pada massa cair.
Evaporasi juga merupakan perlakuan pendahuluan untuk proses lebih selanjutnya
misalnya pemekatan sari buah,susu cair sebelum dikeringkan dengan spray drying.
Proses evaporasi berprinsip pada penguapan kandungan air yang terdapat pada
bahan. Proses evaporasi selain berfungsi menurunkan aktivitas air, evaporasi juga
dapat meningkatkan konsentrasi atau viskositas larutan dan evaporasi akan
memperkecil volume larutan sehingga akan menghemat biaya pengepakan,
penyimpanan, dan transportasi. Proses evaporasi pada bahan pangan diharapkan
dapat mengalami perubahan fisik maupun kimia (Gaman, 1994). Pada praktikum
kali ini akan menggunakan bahan, yaitu jus untuk menentukan perubahan yang
terjadi selama evaporasi. Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan lebih lanjut
seperti evaporasi.

I.1 Tujuan
1. Mengetahui prinsip kerja dari evaporasi.
2. Mengetahui pengaruh konsentrasi temperature dan waktu terhadap proses
evaporasi.
3. Menghitung jumlah pelarut yang teruapkan dan konsentrasi produk.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Evaporasi


Evaporasi adalah proses pengurangan kadar air suatu bahan, tidak untuk tujuan
mengawetkan tetapi hanya mengurangi volume dan berat bahan sehingga
memudahkan dalam penanganan berikutnya. Selama evaporasi terjadi dua peristiwa
penting, yaitu transfer massa dan heat transfer.Transfer massa yang dimaksud
adalah perpindahan massa air dari dalam bahan menuju lingkungannya. Sedangkan
heat transfer adalah perpindahan kalor berupa panas dari lingkunghan menuju ke
dalam bahan. Heat transfer yang berlangsung selama evaporasi yaitu heat transfer
secara konveksi. Proses evaporasi akan menurunkan aktivitas air dalam bahan hasil
pertanian sehingga kadar air pada bahan hasil pertanian akan rendah, penurunan
aktifitas air ini akan membuat bahan lebih awet karena proses pertumbuhan pada
mikroba akan terhambat (Handojo, 1995).

II.2 Perubahan Selama Proses Evaporasi


Winarno (2002), mengatakan bahwa perubahan-perubahan akibat evaporasi antara
lain perubahan viskositas, kehilangan aroma, kerusakan beberapa komponen gizi
seperti vitamin A, protein serta perubahan lainnya seperti terjadinya pencoklatan
pada bahan yang mengandung gula dan protein. Selain itu selama proses evaporasi
bahan menjadi kental. Perubahan tersebut dapat memberikan efek Kehilangan
aroma, komponen aroma dan flavor pada beberapa bahan cairan seperti pada jus
buah lebih bersifat volatil dibandingkan dengan air. Jika bahan tersebut dievaporasi
akan menyebabkan penurunan kualitas pada konsentrat yang dihasilkan. Efek
lainnya adalah pencoklatan,beberapa bahan yang banyak mengandung gula pada
proses evaporasi akan mengalami pencoklatan. Pencoklatan akan lebih intensif bila
proses evaporasi dilakukan pada Temperature yang tinggi (Kartasapoetra,1989).

Evaporasi merupakan proses pemekatan larutan dengan cara mendidihkan atau


menguapkan pelarut. Proses evaporasi akan menurunkan aktivitas air dalam bahan
hasil pertanian, penurunan aktifitas air ini akan membuat bahan lebih awet karena
proses pertumbuhan pada mikroba akan terhambat. Bahan hasil pertanian
merupakan bahan pangan yang mudah rusak dan tidak tahan lama. Oleh karena itu
butuh penanganan lebih lanjut seprti evaporasi. Contoh produk hasil evaporasi
adalah jam, jelly, gula pasir, kecap dan susu kental manis. Proses evaporasi selain
berfungsi menurunkan aktivitas air, evaporasi juga dapat meningkatkan konsentrasi
atau viskositas larutan dan evaporasi akan memperkecil volume larutan sehingga
akan menghemat biaya pengepakan, penyimpanan, dan transportasi.
Evaporasi adalah proses pengentalan larutan dengan cara mendidihkan atau
menguapkan pelarut. Di dalam pengolahan hasil pertanian proses evaporasi
bertujuan untuk, meningkatkan larutan sebelum proses lebih lanjut, memperkecil
volume larutan, menurunkan aktivitas air aw (Praptiningsih 1999).
Di dalam pengolahan hasil pertanian proses evaporasi bertujuan untuk:
1. Meningkatkan konsentrasi atau viskositas larutan sebelum diproses lebih lanjut.
Sebagai contoh pada pengolahan gula diperlukan proses pengentalan nira tebu
sebelum proses kristalisasi, spray drying, drum drying dan lainnya.
2. Memperkecil volume larutan sehingga dapat menghemat biaya pengepakan,
penyimpanan dan transportasi.
3. Menurunkan aktivitas air dengan cara meningkatkan konsentrasi solid terlarut
sehingga bahan menjadi awet misalnya pada pembuatan susu kental manis
(Wirakartakusumah, 1989).
Sebagai bagian dari suatu proses di dalam pabrik, alat evaporasi mempunyai dua
fungsi, yaitu merubah panas dan memindahkan uap yang terbentuk dari bahan cair.
Ketentuan-ketentuan penting pada praktek evaporasi adalah :
1. Temperature maksimum yang diperkenankan yaitu sebagian besar dibawah 212
F.
2. Promosi perputaran bahan cair melalui permukaan pindah panas, untuk
mempertahankan koefisien pindah panas yang tinggi dan untuk menghindari
setiap pemanasan global yang terlalu tinggi.

3. Kekentalan bahan cair yang selalu meningkat dengan cepat karena


meningkatnya jumlah bahan yang tidak terlarut.
4. setiap kecenderungan untuk berbusa yang mempersulit pemisahan bahan cair
dengan uap.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan dan mempengaruhi kecepatan pada
proses evaporasi adalah :
a. Kecepatan hantaran panas yang diuapkan ke bahan
b. Jumlah panas yang tersedia dalam penguapan
c. Temperature maksimu yang dapat dicapai
d. Tekanan yang terdapat dalam alat yang digunakan
e. Perubahan-perubahan yang mungkin terjadi selama proses penguapan.
Sedangkan menurut Buckle (1987), dalam prakteknya ada beberapa faktor yang
harus diperhatikan selama proses penguapan meliputi :
1. sirkulasi udara sehingga proses penghantaran panas tinggi.
2. terjadinya kenaikan viskositas
3. terbentuknya deposit pada evaporator
4. kehilangan aroma
kelarutan zat padat.
Mekanisme kerja evaporator adalah steam yang dihasilkan oleh alat pemindah
panas, kemudian panas yang ada (steam) berpindah pada bahan atau larutan
sehingga Temperature larutan akan naik sampai mencapai titik didih. Steam masih
digunakan atau disuplay sehingga terjadi peningkatan tekanan uap. Di dalam
evaporator terdapat 3 bagian, yaitu:
1. Alat pemindah panas
Berfungsi untuk mnsuplai panas, baik panas sensibel (untuk menurunkan
Temperature) maupun panas laten pada proses evaporasi. Sebagai medium pemanas
umumnya digunakan uap jenuh.

2. Alat pemisah
Berfungsi untuk memisahkan uap dari cairan yang dikentalkan.
3. Alat pendingin
Berfungsi untuk mengkondnsasikan uap dan memisahkannya. Alat pendingin ini
bisa ditiadakan bila sistem bekerja pada tekanan atmosfer (Gaman, 1994).
Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam proses evaporasi
Selama proses evaporasi dapat terjadi perubahan-perubahan pada bahan, baik yang
menguntungkan maupun yang merugikan. Perubahan-perubahan yang terjadi
antara lain perubahan viskositas, kehilangan aroma, kerusakan komponen gizi,
terjadinya pencokelatan dll. Pemekatan dapat dilakukan melalui penguapan, proses
melalui membrane, dan pemekatan beku. Peralatan yang digunakan untuk
memindahkan panas ke bahan bermacam-macam bentuk dan jenisnya. Penggunaan
bermacam-macam peralatan ini akan berpengaruh pada kemudahan penguapan dan
retensi zat gizi. Pada waktu air menguap dan larutan menjadi pekat, terjadi beberapa
perubahan penting. Pertama zat terlarut reaktif menjadi lebih pekat dan laju
kerusakan kimiawi dapat meningkat. Kedua terjadikenaikan titik didih. Ketiga
viskositas larutan meningkat dengan tajam, jika viskositas meningkat, maka cairan
menjadi sulit dipanaskan. Kesulitan ini menyebabkan penyebaran Temperature
yang tidak seragam sehingga dapat terjadi bercak panas dan hangus. Hal ini sangat
mempengaruhi retensi zat gizi. Sebagai contoh adalah susu dan produk olahannya
yang merupakan produk umum dengan kadar protein tinggi yang dipekatkan.
Karena adanya gula reduksi kerusakan terjadi pada lisin. Hasil riset tahum 1960
menunjukkan bahwa pada susu kental manis yang diolah dengan retort pada
Temperature 113 C Selma 15 menit, retensi lisin yang tersedia adalah 80%.
Sedangkan pada susu kental manis yang tidak diolah dengan retort retensi lisin yang
tersedia adalah 97%. Kerusakan vitamin pada proses pemekatan hamper tidak
terjadi selama proses pemekatan itu dilakukan dengan benar. Sari buah yang
dikentalkan pada Temperature rendah menunjukkan retensi menunjukkan retensi
vitamin C sebesar 92 97%. Thiamin adalah perkecualian, selama pemekatan zat
ini dapat mengalami susut sebesar 14 27%. Retensi zat gizi juga dipengaruhi oleh

lama waktu pemanasan larutan di dalam evaporator. Semakin lama lama pemanasan
maka retensi zat gizi semakin menurun (Tejasari, 1999).
Besarnya Temperature dan tekanan evaporator sangat berpengaruh terhadap proses
penguapan cairan. Semakin tinggi maka semakin cepat proses evaporasi, tetapi
dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bahan
(Gaman, 1994). Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di
dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap
air). Proses ini adalah kebalikan dari kondensasi. Umumnya penguapan dapat
dilihat dari lenyapnya cairan secara berangsur-angsur ketika terpapar pada gas
dengan volume signifikan. Rata-rata molekul tidak memiliki energi yang cukup
untuk lepas dari cairan. Bila tidak cairan akan berubah menjadi uap dengan cepat.
Ketika molekul-molekul saling bertumbukan mereka saling bertukar energi dalam
berbagai derajat, tergantung bagaimana mereka bertumbukan. Terkadang transfer
energi ini begitu berat sebelah, sehingga salah satu molekul mendapatkan energi
yang cukup buat menembus titik didih cairan. Bila ini terjadi di dekat permukaan
cairan molekul tersebut dapat terbang ke dalam gas dan menguap. Evaporasi atau
penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam zat cair
mendidih. Berikut adalah faktor-faktor yang mempercepat proses evaporasi:
1. Temperature; walaupun cairan bisa evaporasi di bawah Temperature titik
didihnya, namun prosesnya akan cepat terjadi ketika Temperature di sekeliling
lebih tinggi. Hal ini terjadi karena evaporasi menyerap kalor laten dari
sekelilingnya. Dengan demikian, semakin hangat Temperature sekeliling
semakin banyak jumlah kalor yang terserap untuk mempercepat evaporasi.
2. Kelembapan udara; jika kelembapan udara kurang, berarti udara sekitar kering.
Semakin kering udara (sedikitnya kandungan uap air di dalam udara) semakin
cepat evaporasi terjadi. Contohnya, tetesan air yang berada di kepingan gelas di
ruang terbuka lebih cepat terevaporasi lebih cepat daripada tetesan air di dalam
botol gelas. Hal ini menjelaskan mengapa pakaian lebih cepat kering di daerah
kelembapan udaranya rendah.
3. Tekanan; semakin besar tekanan yang dialami semakin lambat evaporasi terjadi.
Pada tetesan air yang berada di gelas botol yang udaranya telah dikosongkan
(tekanan udara berkurang), maka akan cepat terevaporasi.

4. Gerakan udara; pakaian akan lebih cepat kering ketika berada di ruang yang
sirkulasi udara atau angin lancar karena membantu pergerakan molekul air. Hal
ini sama saja dengan mengurangi kelembapan udara.
5. Sifat cairan; cairan dengan titik didih yang rendah terevaporasi lebih cepat
daripada cairan yang titik didihnya besar. Contoh, raksa dengan titik didih 357C
lebih susah terevapporasi daripada eter yang titik didihnya 35C (Anonim,
2010).
Vakum Rotary Evaporator adalah sebuah alat di laboratorium kimia yang
digunakan untuk menghilangkan kandungan cairan (liquid yang berada dalam
sebuah solvent dengan cara evaporasi (penguapan). Rotary evaporator pertama kali
ditemukan oleh Lyman C. Craig. Pada tahun 1957 perusahaan asal Swiss yaitu
Buchi baru mengkomersilkannya. Komponen-komponen yang terdapat di dalam
vakum rotary evaporator antara lain, sebuah sebuah motor penggerakan untuk
memutar botol yang berisi sampel, pipa uap air hasil dari penguapan sampel, sebuah
sistem vakum yang berguna untuk menurunkan tekanan yang terjadi dalam sistem
evaporator, sebuah pemanas yang berisi cairan, dan kondensor untuk mendinginkan
hasil evaporasi supaya mencapai Temperature yang standar (Anonim, 2011).

II.3 Pengertian Evaporator


Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan
sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap. Evaporator
mempunyai dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap
yang terbentuk dari cairan. Evaporator umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu
penukar panas, bagian evaporasi (tempat di mana cairan mendidih lalu menguap),
dan pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam
kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan lainnya. Hasil dari
evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa padatan atau larutan
berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa
komponen volatil (mudah menguap). Evaporator biasanya digunakan dalam
industri kimia dan industri makanan. Pada industri kimia, contohnya garam
diperoleh dari air asin jenuh (merupakan contoh dari proses pemurnian) dalam
evaporator. Evaporator mengubah air menjadi uap, menyisakan residu mineral di

dalam evaporator. Uap dikondensasikan menjadi air yang sudah dihilangkan


garamnya. Pada sistem pendinginan, efek pendinginan diperoleh dari penyerapan
panas oleh cairan pendingin yang menguap dengan cepat (penguapan
membutuhkan energi panas). Evaporator juga digunakan untuk memproduksi air
minum, memisahkannya dari air laut atau zat kontaminasi lain (Wikipedia, 2013).
Rotary vakum evaporator adalah instrumen yang menggunakan prinsip destilasi
(pemisahan). Prinsip utama dalam instrumen ini terletak pada penurunan tekanan
pada labu alas bulat dan pemutaran labu alas bulat hingga berguna agar pelarut
dapat menguap lebih cepat dibawah titik didihnya. Instrumen ini lebih disukai,
karena hasil yang diperoleh sangatlah akurat. Bila dibandingkan dengan teknik
pemisahan lainnya, misalnya menggunakan teknik pemisahan biasa yang
menggunakan metode penguapan menggunakan oven. Maka bisa dikatakan bahwa
instrumen ini akan jauh lebih unggul. Karena pada instrumen ini memiliki suatu
teknik yang berbeda dengan teknik pemisahan yang lainnya. Dan teknik yang
digunakan dalam rotary vakum evaporator ini bukan hanya terletak pada
pemanasannya tapi dengan menurunkan tekanan pada labu alas bulat dan memutar
labu alas bulat dengan kecepatan tertentu. Karena teknik itulah, sehingga suatu
pelarut akan menguap dan senyawa yang larut dalam pelarut tersebut tidak ikut
menguap namun mengendap. Dan dengan pemanasan dibawah titik didih pelarut,
sehingga senyawa yang terkandung dalam pelarut tidak rusak oleh Temperature
tinggi.
II.4 Jenis Jenis Evaporator
Evaporator dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1.

Steam heated evaporator adalah evaporator dengan pemanasan stem dimana uap
atau uap lain yang dapat dikondensasi adalah sumber panas dimana uap
terkondensasi di satu sisi dari permukaan pemanas dan panas ditranmisi lewat
dinding ke cairan yang mendidih.

2.

Submerged combustion evaporator adalah evaporator yang dipanaskan oleh api


yang menyala di bawah permukaan cairan, dimana gas yang panas
bergelembung melewati cairan.

3.

Direct fired evaporator adalah evaporator dengan pengapian langsung dimana


api dan pembakaran gas dipisahkan dari cairan mendidih lewat dinding besi atau
permukaan untuk memanaskan.

II.5 Kapasitas Evaporator


Untuk evaporator jenis tabung dengan pemanasan uap, maka performa evaporator
diukur berdasarkan atas kapasitas evaporator tersebut. Kapasitas didefinisikan
sebagai banyaknya pon air yang diuapkan per jam. Agar dapat memindahkan energi
panas sesuai dengan keinginan, maka permukaan perpindahan panas evaporator
harus mempunyai kapasitas perpindahan panas yang cukup, agar semua refrigeran
yang akan diuapkan di dalam evaporator dapat berlangsung dengan optimal dan
menghasilkan pendinginan yang maksimum pula. Pemindahan panas yang
berlangsung di evaporator daoat terjadi dalam du cara yaitu konveksi dan konduksi.
Besarnya kapasitas perpindahan panas pada evaporator tergantung pada lima
variabel, yaitu luas area permukaan, beda Temperature, faktor konduktivitas panas,
ketebalan material yang digunakan, serta waktu.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat
1. Labu dasar bulat
Berfungsi sebagai wadah bagi larutan umpan.
2. Hot plate
berfungsi untuk mengatur Temperature pada waterbath dengan mengatur
temperature yang diinginkan.
3. Waterbath
berfungsi sebagai air yang dipanaskan oleh hotplate.
4. Kondensor
berfungsi sebagai alat berlangsungnya proses kondensasi.
5. Ujung rotor sampel
berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel bergantung.
6. Gelas ukur 100 ml
berfungsi sebagai alat untuk mengukur volume larutan.
7. Gelas piala
berfungsi sebagai wadah untuk membuat larutan.
8. Cawan penguap
berfungsi sebagai wadah untuk proses penguapan air.
9. Batang pengaduk
berfungsi sebagai alat untuk menghomogenkan larutan.

II.2 Bahan
1. Gula pasir
berfungsi sebagai zat terlarut / Solute.
2. Aquades
berfungsi sebagai zat pelarut / Solvent.

III.3 Prosedur Kerja


III.3.1 Pengukuran kadar air bahan
1.

Cawan penguap kosong dimasukkan kedalam oven lalu, masukkan kedalam


desikator lalu ditimbang, catat berat cawan kosong.

2.

Kemudian dtimbang gula sebanyak 2 - 5 gram lalu dipanaskan dalam oven 2


jam dengan Temperature 105oC .

3.

Kemudian didinginkan dalam desikator lalu ditimbang.

4.

Selanjutnya dipanaskan lag dalam oven selama 30 menit dinginkan dalam


desikator dan ditimbang kembali di neraca analitik.

5.

Perlakuan diulang kembali sampai didapatkan bobot konstan.

6.

Dari bobot konstan yang didapatkan dihitung kadar air gula tersebut.

III.3.2 Pelarutan Bahan


1.

Berdasarkan perhitungan neraca massa timbang gula pasir sesuai dengan hasil
perhitungan.

2.

Berdasarkan perhitungan neraca massa pelarut, diambil pelarut air sebanyak


dari hasil perhitungan.

3.

Dimasukkan gula kedalam gelas kemudian tambahkan dengan pelarut air


yang telah diukur sebelumnya, lalu larutan tersebut diaduk hingga homogen
terbentuklah larutan gula umpan.

III.3.3 Prosedur kerja alat evaporasi


1.

Disiapkan rangkaian alat evaporasi, dipastikan aliran air pendingin berjalan


lancer.

2.

Dimasukkan larutan gula encer kedalam labu evaporasi.

3.

Pada alat diatur kondisi operasinya.

4.

Ukur volume kondensat yang terbentuk.

III.4 Skema

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

Percobaan

Temperature

Volume

Volume uap

Konsentrasi

(oC)

umpan (ml)

(ml)

(%)

500

11

20.45

489

11

20.92

15

478

11

21.41

500

29

21.23

471

29

22.62

15

442

29

24.5

500

34

21.46

466

34

23.59

432

42

26.32

Waktu (menit)
5

10

10

10
15

70

80

90

IV.2 Pembahasan
Evaporasi adalah proses pemekatan larutan dengan cara menguapkan pelarutnya.
Umumnya penguapan dapat dilihat dari hilangnya cairan pelarut secara berangsur
angsur. Proses ini adalah kebalikkan dari proses kondensasi. Dan secara umumnya
evaporasi merupakan salah satu metoda yang digunakan untuk pengentalan larutan,
dengan pelepasan air dari larutan tersebut melalui pendidihan didalam suatu bejana,
evaporator serta mengeluarkan hasil uapnya dalam bentuk cairan atau biasa disebut
kondensat manfaat umum proses penguapan atau evaporasi ini pada dunia industri
antara lain sebagai : pengentalan awal cairan sebelum proses lanjut, pengurangan
volume cairan, untuk menurunkan aktivitas air. Umumnya evaporasi dilakukan
dengan menambahkan kalor pada larutan untuk menguapkan bahan pelarut. Secara
prinsip kalor. Dipasok untuk kalor larutan penguapan. Alat yang digunakan dalam
proses evaporasi ini adalah evaporator. Evaporator adalah sebuah alat - alat yang
berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan pelarut dan sebuah larutan dari
bentuk cair menjadi uap. Pada praktikum rotary evaporator ini menggunakan

larutan gula sebagai bahan yang akan di evaporasi larutan gula akan dievaporasi
pada temperature yang bervariasi sebagai penugasanya diantara lain : 60OC, 70 OC,
80 OC dan 90 OC dengan kecepatan peraturan labu pada evaporator konstan untuk
seluruh Temperature yatu : 110 Rpm serta tekanan yang digunakan pada percobaan
juga konstan yaitu : 240 milibar. Pada masing - masing

Temperature akan

dilakukan pengukuran untuk volume kondensat yang didapat setiap 5 menit,


pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali untuk satu variasi. Pada praktikum ini
konsentrasi awal gula adalah 20% dengan tekanan 240 milibar. Adapun mekanisme
dari alat rotary evaporator ini adalah larutan gula yang akan di evaporasi
dimasukkan kedalam labu evaporator yang akan diberikan kecepatan putaran dan
temperature. Pada evaporator berputar ini menggunakan air sebagai medium untuk
proses pemanasnya. Evaporator yang digunakan adalah evaporator vakum ,
evaporator vakum digunakan sebagai alat untuk menguapkan bahan bahan yang
peka terhadap Temperature tinggi. Alat ini dipakai menghasilkan penguapan secara
tepat dan tekanan pada bahan tetap dipertahankan dibawah 1 Atm.
Labu yang berisikan larutan gula akan dikontakkan dengan medium pemanas
dengan memberikan kecepatan putaran medium pemanas dengan memberikan
kecepatan putaran, panas dari air sebagai medium akan berpindah kedinding labu
sehingga temperature dari larutan gula juga akan menjadi naik pada proses ini
terjadi panas sensible, setelah temperature pada larutan gula mencapai titik didih
maka pelarut pada larutan gula akan menguap dan akan berubah fasanya menjadi
uap sehingga akan naik keatas dan pada proses ini terjadi panas latent.
Uap yang naik keatas akan masuk ke kondensor dan di kondensor tersebut terjadi
proses kondensasi sehingga fasa uap berubah menjadi fasa cair dan pada proses ini
terjadi panas latent. Dari proses kondensasi tersebut menghasilkan kondensat,
karena terlarutnya sebagian campuran gula maka campuran larutan menjadi
semakin pekat dan konsentrasinya mnjadi tinggi atau meningkat.

IV.2.1 Hubungan waktu vs volume kondensat


Berikut bentuk grafik ditampilkan terhadap hubungan waktu evaporasi dengan
volume kondensat.

Pada grafik diatas terlihat hubungan waktu dengan volume kondensat yang didapat
sebagian besar konstan itu terlihat pada Temperature 70 oC, 80oC. secara teoritis
semakin lama waktu evaporasi harusnya volume kondensat yang akan diperoleh
juga akan banyak, karena dengan semakin lamanya waktu maka panas yang
berpindah akan lebih banyak dan merata. Akibatnya volume kondensat yang
diperoleh lebih meningkat dari menit ke menitnya. Tetapi pada data diatas tidak
mengalami

peningkatan, konstanya volume

kondensat

diakibatkan oleh

pengambilan volume kondensat yang tidak tepat pada waktu penugasan. Praktikan
mengambil volume kondensat sebelum waktu 10 dan 15 menit akibatnya volume
kondensat masih ada yang tertinggal di kondensor.

IV.2.2 Hubungan waktu vs konsentrasi gula (%)


Pada percobaan ini memiliki beberapa variasi Temperature diantaranya 70 oC, 80
o

C dan 90 oC. pengukuran dilakukan selama 5 menit, 10 menit dan 15 menit untuk

satu variasinya. Pada waktu tersebut volume kondensat yang diperoleh akan diukur
konsentratnya dengan cara memakai neraca massa komponen dan didapat
konsentrasinya terus meningkat, berikut grafik ditampilkan hubungan antara waktu
dengan konsentrasi gula yang terbentuk :

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa jika semakin lama waktu evaporasi maka
konsentrasi gula akan semakin tinggi pula. Itu disebabkan oleh volume kondensat
yang didapat meningkat atau tetap. Jika volume kondensat menurun dari waktu
sebelumnya. Maka konsentrsi dari gula akan menurun pula karena masih banyak
pelarut air berada pada labu umpan.

IV.2.2 Hubungan Temperature vs konsentrasi gula (%)


Berikut akan ditampilkan grafik hubungan variasi Temperature dengan konsentrasi
gula yang didapat pada vakum rotary evaporator.

Untuk Temperature 70 oC, 80 oC dan 90 oC. sebelumnya terus mengalami


peningkatan volume kodensat. Akibatnya konsentrasi umpan akan juga semakin
meningkat karena pelarut air semakin banyak teruapkan pada labu kodensat. Jadi
didapat hubungan grafik , semakin tinggi Temperature yang digunakan maka
semakin tinggi pula konsentrasi gula (%) pada umpan, dan itu telah sesuai dengan
teoritisnya dimana konsentrasi gula perwaktunya ialah : pada Temperature 70 oC di
dapat konsentrasi gula totalnya yaitu 21.41% kemudian untuk Temperature 80 oC
didapat pula konsentrasi totalnya yaitu sekitar 24.53% dan terakhir pada 90
o

C.didapat konsentrasi totalnya yaitu 26.32%.

IV.2.2 Hubungan Temperature vs volume kondensat.


Berikut grafik ditampilkan dimana hubungan antara Temperature dengan volume
kondensat yang didapat, Temperature yang dipakai bervariasi diantaranya 70 oC, 80
o

C dan 90 oC.

Secara teoritisnya volume kondensat akan terus naik jika Temperature evaporasi
dinaikkan pula. karena titik didih pelarut air berada pada 100oC untuk tekanan 1
atm. Pada praktikum ini kita menggunakan evaporator vakum akibatnya pada
Temperature yang rendah air akan juga ikut menguap karena tekanan berbanding
lurus dengan temperature. Pada Temperature 70oC didapat volume kondensat total
selama 15 menit yaitu 33 ml kemudian untuk Temperature 80oC didapat volume
kondensat total untuk 15 menit yaitu sekitar 87 ml dan terakhir untuk Temperature

90oC didapat volume kondensat total untuk 15 menit waktu proses didapat
volumenya sekitar 110 ml. dan akan terus mengalami peningkatan volume
kondensat jika Temperaturenya terus dinaikkan karena akan lebih mendekati titik
didih dari pelarut air.

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.

Evaporasi adalah proses pengurangan kadar air suatu bahan, tidak untuk tujuan
mengawetkan tetapi hanya mengurangi volume dan berat bahan sehingga
memudahkan dalam penanganan berikutnya.

2.

Mekanisme kerja evaporator adalah steam yang dihasilkan oleh alat pemindah
panas, kemudian panas yang ada (steam) berpindah pada bahan atau larutan
sehingga Temperature larutan akan naik sampai mencapai titik didih. Steam
masih digunakan atau disuplay sehingga terjadi peningkatan tekanan uap.

3.

Kadar air umpan awal : 0.16%

4.

Konsentrasi larutan gula yang paling pekat yaitu pada suhu 90oC yaitu 26.32%.

5.

Volume pelarut yang teruapkan pada variasi suhu 70oC : 33 ml dan suhu 80oC
: 87 ml kemudian untuk suhu 90oC : 110 ml.

6.

Factor yang mempengaruhi evaporasi : Temperature, Konsentrasi larutan, dan


waktu evaporasi.

V.2 Saran
Dari praktikum yang telah dilakukan diharapkan bahwa :
Saat mengukur volume kondensat pastikan sudah sesuai dengan waktu yang telah
ditugaskan agar diperoleh volume kondensat yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K. A dkk. 1987. Ilmu Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.


Gaman, P. M. 1994. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi.
Yokyakarta: UGM Press.
Poedjiadi, anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Praptiningsih, Yulia. 1999. Buku Ajar Teknologi Pengolahan. FTP UNEJ: Jember.
Winarno, F. G. 2007. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Yulia. 2002. Teknologi Pengolahan Pangan. FTP Unej: Jember.

LAMPIRAN PERHITUNGAN

Diketahui :
Kadar air gula = 0.16%
Berat gula tertimbang = 100.16 gram
Volume pelarut = 399.84 ml
Umpan = 500 ml
Konsentrasi gula encer = 20%
V=
Xa = 1
Produk = 500 ml

MIXER
Xg = 0.9984

Xg = 0.2

Xa = 0.0016

Xa = 0.8

Neraca Massa Total


F=V+ P
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.9984 . F = 0.2 . 500
100

F = 0.9984
F = 100.16 gram gula
V = 500 ml 100.16
V = 399.84 ml

1.
a.

Variasi suhu 70oC


waktu = 5 menit

V = 11 ml
Xa = 1
Produk =

Feed = 500 ml

EVAPORATOR

Xg = 0.2

Xa =

Xa = 0.8
Neraca Massa Total
F=V+ P
P=FV
P = 500 11
P = 489 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2. 500 = Xg . 489
Xg =

0.2 .500
489

Xg = 0.2045
b.

Waktu 10 menit

Neraca Massa Total


F=V+ P
P=FV
P = 489 11
P = 478 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2045. 489 = Xg . 478
Xg =
c.

Xg =

0.2045.0489
478

Waktu 15 menit

Neraca Massa Total

Xg = 0.2092

F=V+ P
P=FV
P = 478 11
P = 467 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2092. 478 = Xg . 467
Xg =

0.2092.478

467

2. Suhu 80oC
a. waktu = 5 menit

Xg = 0.2141

V = 29 ml
Xa = 1

Feed = 500 ml
Xg = 0.2
Xa = 0.8

Neraca Massa Total


F=V+ P
P=FV
P = 500 29
P = 471 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2. 500 = Xg . 471
Xg =

0.2 .500
471

Xg = 0.2123

Produk =

EVAPORATOR

b.

waktu 10 menit

Neraca Massa Total


F=V+ P
P=FV
P = 471 29
P = 442 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2123 . 471 = Xg . 442
Xg =

c.

0.2123 .471

442

Xg = 0.2262.

Waktu 15 menit

Neraca Massa Total


F=V+ P
P=FV
P = 442 29
P = 413 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2262 . 442 = Xg . 413
Xg =

0.2262 .442

413

Xg = 0.2451.

3.
a.

Suhu 90oC
Waktu 5 menit

V = 34 ml
Xa = 1

Feed = 500 ml

EVAPORATOR

Xg = 0.2
Xa = 0.8
Neraca Massa Total
F=V+ P
P=FV
P = 500 34
P = 466 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2. 500 = Xg . 466
Xg =

0.2 .500
466

Xg = 0.2146
b.

Suhu 10 menit

Neraca Massa Total


F=V+ P
P=FV
P = 466 34
P = 432 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2146 . 466 = Xg . 432
Xg =

Produk =

0.2146 .466

432

Xg = 0.2359

c.

Waktu 15 menit

Neraca Massa Total


F=V+ P
P=FV
P = 432 42
P = 390 ml
Neraca Massa Komponen
Xg . F = Xg . P
0.2359 . 432 = Xg . 390
Xg =

0.2146 .432

390

Xg = 0.2632

Anda mungkin juga menyukai