Anda di halaman 1dari 13

KARYA TULIS

MARAKNYA BUDAYA MENCONTEK KALANGAN MAHASISWA


Tugas Bahasa Indonesia

Disusun Oleh :
Eva Heni Astuti
( 24030115120043)
Kelas A

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

ABSTRAK
Karya tulis ini berjudul MARAKNYA BUDAYA MENCONTEK
KALANGAN MAHASISWA, sengaja penulis pilih karena maraknya kebiasaan
mahasiswa yang suka menyontek, baik saat mengerjakan PR, Tugas, Ulangan
Harian, Ulangan Umum Semester, maupun Ujian.
Metode yang digunakan adalah metode observasi / pengamatan dan
metode angket. Tujuan ditulisnya karya tulis ini adalah membuat para mahasiswa
sadar bahwa menyontek sama saja dengan membohongi diri sendiri. Selain itu,
menunjukkan bagaimana melatih diri untuk berlaku jujur.
Dalam pembahasan masalah dapat disimpulkan kebiasaan menyontek
dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Menyontek menjadikan kita malas,
tidak jujur, dan merupakan satu tindakan awal dari budaya korupsi.
kata kunci : mencontek, prestasi mahasiswa, motivasi belajar, tidak percaya diri

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sistem pendidikan di Indonesia yang terbilang masih labil ini terus
berupaya mencari jati diri dan mencari pola tentang sistem penilaian dan
standarisasi mutu pendidikan. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah melalui
Kemendiknas dalam rangka mendidik anak bangsa dari ketertinggalan dan
kebodohan. Salah satu upaya yang sudah dilakukan antara lain dengan
memberlakukan kurikulum yang berubah dari satu periode ke periode yang
lainnya.
Telah kita ketahui bersama bahwa budaya mencontek di kalangan
mahasiswa sudah hal yang wajar bahkan seolah-olah sudah menjadi tradisi.
Bahkan ketika Ujian Nasional pun tradisi contek-mencontek tidak penah
ditinggalkan. Dengan alasan standar kelulusan semakin tinggi sehingga perbuatan
contek-mencontek di halalkan. Mencontek sering kali diartikan sebagai bentuk
solidaritas. Tapi solidaritas ini sering disalahartikan yaitu bagaimana kita
membantu teman, baik dalam hal positif maupun negatif. Jika solidaritas diartikan
sebagai solidaritas yang positif maka akan berdampak poositif juga, yaitu semakin
eratnya rasa persatuan. Tapi jika solidaritas disalah artikan dengan memberikan
contekan kepada teman tentu saja ini akan menyimpang arti dari solidaritas yang
sebenarnya. Biasanya mereka beranggapan jika tidak memberikan contekan maka
akan di anggap pelit dan tidak mempunyai teman. Hal ini yang membuat kita
serba salah sehingga kita tetap mencontek meskipun kita tahu bahwa apa yang
kita lakukan adalah hal yang salah.
Sadar atau tidak menyontek dapat mendatangkan bahaya baik jangka
pendek maupun jangka panjang, baik bagi penyontek maupun yang dicontek Bila
seorang mahasiswa terbiasa mencontek, maka kebiasaan itulah yang akan
membentuk dirinya. Beberapa karakter yang dapat dihasilkan dari kegiatan
mencontek antara lain mengambil milik orang lain tanpa ijin, menyepelekan,

senang jalan pintas dan malas berusaha keras. Bisa dipastikan, saat mahasiswa
sudah dewasa dan hidup sendiri, tabiat-tabiat hasil perilaku mencontek mulai
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencuri, korupsi, manajemen
buruk, pemalas tapi ingin jabatan dan pedapatan tinggi.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa faktor yang menyebabkan para mahasiswa melakukan contek-menyotek?
2. Apakah dampak dari perbuatan menyontek?
3. Bagaimana cara mengatasi kebiasaan menyontek dikalangan mahasiswa?
C. Tujuan
1. Mengetahui faktor yang menyebabkan mahasiswa mencontek.
2. Mengetahui akibat yang di timbulkan dari perbuatan mencontek.
3. Mencari sulosi yang tepat untuk mencegah dan membrantas budaya
mencontek di Indonesia.
D. Manfaat
1. Dapat memberi masukan agar para mahasiswa yang sering mencontek agar tidak
mencontek lagi.
2. Dapat mengetahui alasan mahasiswa mencotek dan dampak yang ditimbulkannya
3. Dapat mengetahui bahwa mencontek itu perbuatan yang menyimpang pancasila.
4. Dapat membantu mahasiswa jera akan mengulangi kebiasaan mencontek.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Mencontek
Mencontek memiliki arti yang beraneka macam, akan tetapi biasanya
dihubungkan dengan kehidupan sekolah khususnya bila ada ulangan dan ujian.

Biasanya usaha mencontek dimulai pada waktu ulangan dan ujian akan berakhir,
tapi tidak jarang usaha tersebut telah dimulai sejak ujian dimulai. Walaupun kata
mencontek telah dikenal sejak lama namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
kata tersebut tidak dapat ditemukan secara langsung. Kata mencontek baru
ditemukan pada kata jiplak menjiplak yaitu mencontoh atau meniru

tulisan

pekerjaan orang lain. Dalam kamus modern bahasa Indonesia istilah mencontek
memiliki pengertian yang hampir sama yaitu meniru hasil pekerjaan orang lain.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta adalah
mencontoh, meniru, atau

mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana

aslinya. intinya bahwa mencontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang
tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai yang
terbaik dalam ulangan atau ujian pada setiap mata pelajaran.
B. Faktor-Faktor Penyebab Menyontek
Menurut Nugroho (2008), yang menjadi penyebab munculnya tindakan
menyontek bisa dipengaruhi beberapa hal. Baik yang sifatnya berasal dari dalam
internal yakni diri sendiri, maupun dari luar (eksternal) misalnya dari guru, orang
tua maupun sistem pendidikan itu sendiri.
1. Faktor dari dalam diri sendiri
a. Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal. Biasanya
disebabkan ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu
belajar.
b. Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu.
c. Sudah menjadi kebiasaan dan merupakan bagian dari insting untuk bertahan.
d. Merupakan bentuk pelarian atau protes untuk mendapatkan keadilan. Hal ini
disebabkan pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan
sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru atau dosen.
e. Melihat beberapa mata pelajaran dengan kacamata yang kurang tepat, yakni
merasa ada pelajaran yang penting dan tidak penting sehingga mempengaruhi
keseriusan belajar.
f. Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu
mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan
termasuk tes atau ujian.
g. Tidak ingin dianggap sok suci dan lemahnya tingkat keimanan.

2.

Faktor dari Guru

a. Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang
terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas
belajar.
b. Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan
untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu
kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak
mengalami variasi soal.
c. Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.
d. Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya
soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.
e. Kurangnya sistem pengawasan dari guru.
3. Faktor dari Orang Tua
a. Adanya hukuman yang berat jika anaknya tidak berprestasi.
b. Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing
dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak.
4.

Faktor dari Sistem Pendidikan

a. Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan


tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah. Misalnya tetap terjadi one way
yakni dari guru untuk mahasiswa.
b. Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu
jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/mahasiswa
menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan
semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.
C. Faktor-faktor yang Menyebabkan Mahasiswa Mencontek Ketika Ujian
a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada hasil studi berupa angka dan
nilai yang diperoleh mahasiswa dalam test formatif atau sumatif.
b. Pendidikan moral baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan dalam
kehidupan mahasiswa.
c. Sikap malas yang terukir dalam diri mahasiswa sehingga ketinggalan dalam
menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab.

d. Anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak SD, karena masa remaja bagi
mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan temanteman sekelasnya.
e. Kurang mengerti arti dari pendidikan.
f. Adanya kesempatan atau pengawasan tidak ketat.
g. Takut gagal karena yang bersangkutan merasa belum siap menghadapi ujian dan
dia tidak ingin mengulang.
h. Tidak percaya diri sehingga tidak yakin pada jawabanya sendiri.
D. Dampak dari PerbuatanMencontek
Dampak yang timbul dari praktik menyontek yang secara terus menerus
dilakukan akan mengakibatkan ketidakjujuran. Jika tidak, niscaya akan muncul
malapetaka. Peserta didik akan menanam kebiasaan berbuat tidak jujur, yang pada
saatnya nanti akan menjadi kandidat koruptor. (Poedjinoegroho, 2006).
Kebiasaan mencontek juga akan mengakibatkan seseorang tidak mau
berusaha sendiri dan selalu mengandalkan orang lain. Sehingga seseorang tersebut
tidak mau mempergunakan otaknya sendiri dan tentu saja akan muncul generasigenerasi yang bodoh dan tidak jujur.
Selain itu, umumnya para pelajar atau mahasiswa akan malas belajar,
malas berpikir dan merenung, malas membaca dan tidak suka meneliti. Orang
yang suka menyontek biasanya hanya memerlukan yang instan-instan saja dan
tidak percaya pada kemampuan dirinya sendiri, yang pada akhirnya akan menjadi
generasi yang labil. Kreatifitas dalam dirinya terhambat. Penuh dengan rasa
malas, putus asa, dan tidak bertanggung jawab. Semua yang diraihnya tidak halal
karena kecurangan sehingga mengakibatkan reputasi diri akan buruk di mata
sosial.
Dampak buruk lainya adalah membodohi diri sendiri. Ketika kita
mencontek, berarti kita memanipulasi nilai kita. Karena sebenarnya itu bukanlah
jawaban kita, melainkan jawaban orang lain. Belum tentu jawaban teman itu
benar. Dan ketika kita memberikan jawaban kepada teman kita, maka kita
memberikan peluang kepada teman kita untuk mendapatkan nilai yang lebih besar.
mungkin adalah penyontek-penyontek berat ketika mereka masih berada di
bangku sekolah. Mereka yang terbiasa menyontek di sekolah, memiliki potensi
untuk menjadi koruptor, penipu, dan penjahat krah putih dalam masyarakat nanti

E.Usaha untuk memberantas budaya mencontek


Untuk memulai sesuatu memang berawal dari diri sendiri. Seperti halnya
memberantas contek-menyontek berawal dari diri kita yaitu para mahasiswa untuk
lebih giat belajar dan meningkatkan percaya diri. Namun disamping itu perlu
adanya pihak yang mendukung sehingga contek-menyontek tersebut tidak terjadi
yaitu guru. Berbagi cara telah guru lakukan untuk mencegah contek-menyontek
yakni dengan memberi teguran hingga sanksi yang berat untuk para mahasiswa
yang menyontek. Hal itu masih saja belum berhasil. Nampaknya mahasiswa yang
menyontek lebih jeli dibandingkan dengan gurunya yang mengawasi saat ujian
berlangsung. Namun ada satu cara yang efektif untuk mencegah tindakan
mencotek ialah dengan cara memberikan tes lisan.

BAB III
PEMBAHASAN
A.Faktor-faktor Mencontek
Berdasarkan data-data dari tinjaun pustaka di atas,kita dapat mengetahui
bahwa banyak sekali faktor yang menakibatkan pelajar mencontek antaranya yaitu
faktor dari diri sendiri karena kurangnya percaya diri atau kemampuan yang
dimilikinya,faktor guru karena pelajaran yang diberikan terlalu teoritis,pertanyaan
ujian yang terlalu membuku dan adanya peluang karena pengawasan dari guru
tidak ketat,faktor dari orang tua karena adanya hukuman dari orang tua jika
anaknya tidak bisa berpretasi sehingga melakukan nyontek dan kurangnya
pendidikan agama yang diberikan ke anak dan yang terakhir faktor dari sistem
pendidikan karena pemerintah hanya mempriotiskan ujian tertulis saja.
B. Faktor yang Menyebabkan Siswa Mencontek Ketika Ujian Tertulis
Pengertian dari mencontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak
jujur, curang, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai yang terbaik

dalam ulangan atau ujian.dalam ujian tertulis,kebanyakan pelajar melakukan


mencontek dan kebanyakan anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak
SD, karena masa remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan
anak SD belum begitu berani melakukan mencontek. Itu semua di karenakan tidak
percaya diri sehingga tidak yakin pada jawabanya sendiri dan pertanyaan soal
yang terlalu membuku.
C.Bentuk Penyimpangan Budaya Mencontek
Dalam melakukan mencontek merupakan salah satu bentuk penyimpangan
dari UUD yang tercantum dalam pasal 29 ayat 1 dan nilai-nilai pancasila yaitu sila
pertama dan ke lima .Pada sila yang pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha
Esa dan UUD pasal 29 ayat 1 yang berbunyi Negara berdasarkan atas
Ketuhanan Yang Maha Esa, jelas sekali bahwa kita sebagai makhluk
beragama

mempunyai

Tuhan.setiap

agama

pasti

mengajarkan

yang
tentang

kebaikan(kejujuran) dan tentang hal-hal yang mana harus dikerjakan dan mana
yang dilarang serta ada salah satu sifat Tuhan yaitu Maha Melihat,yang senantiasa
mengawasi setiap perbuatan yang dilakukan ,tentunya saat kita mencontek pun
Tuhan pasti melihat perbuatan kita. Mencontek merupakan perbuatan yang curang
dan tidak jujur, Jika kita melakukannya tentu saja kita berdosa karena telah
melakukan apa yang di larang oleh Tuhan. Dalam sila yang ke lima berbunyi
Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia penjelasannya bahwa setiap
ulangan,seharusnya kita mengerjakan sendiri,tapi jika mengerjakannya dengan
cara yang curang atau dengan mencontek tentu ini tidak akan adil bagi mahasiswa
yang lain yang mengerjakan dengan jujur, Itu sebabnya mencontek masuk
kedalam penyimpangan dari UUD pasal 29 Ayat 1 dan pancasila sila ke-1 dan ke5.
D.Dampak mencontek
Dampak yang timbul dari praktik menyontek yang secara terus menerus
dilakukan akan

mengakibatkan mahasiswa malas untuk berfikir,tidak pecaya

terhadap kemampuan dirinya sediri sehingga memperoleh prestasi yang palsu dan

memperoleh kepribadian yang buruk, Kebiasaan mencontek juga akan


mengakibatkan seseorang tidak mau berusaha sendiri dan selalu mengandalkan
orang lain. Sehingga seseorang tersebut tidak mau mempergunakan otaknya
sendiri dan tentu saja akan muncul generasi-generasi yang bodoh dan tidak jujur.
Dampak buruk lainya adalah ketika mencontek, berarti memanipulasi, Jika
hal tersebut terus dilakukan ketika di bangku perkuliahan bukan tidak mungkin
akan dilakukan lagi di masa dewasa dengan berkelakuan dengan tidak jujur dan
senang memanipulasi sehigga akan timbulnya koruptor-koruptor. Mereka yang
terbiasa menyontek, memiliki potensi untuk menjadi koruptor, penipu, dan
penjahat krah putih dalam masyarakat nanti. Itu sebabnya menyontek merupakan
gerbang untuk menjadi seorang koruptor.
E.Cara Mencegah dan Memberantas Budaya Mencontek
Untuk mencegah dan membrantas budaya mencontek haruslah di mulai dari
diri kita sendiri dengan cara memandang bahwa peruatan mencontek itu adalah
perbuatan yang tercela dan bentuk penyimpangan dari pancasila serta menyadari
bahwa mencontek itu bisa membuat diri sendiri menjadi bodoh.yang kedua
dangan meningkatankan ibadah kepada Tuhan karena tuhan melarang perbuat
yang tercela dan selalu mengajarkan kejujuran serta yakin bahwa Tuhan selalu
melihat apa yang kita lakukan.yang terakhir yaitu peran dari guru dengan tidak
memberikan soal secara tertulis tapi tes lisan.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Faktor-faktor yang menyebabkan pelajar berbuat mencontek yaitu faktor
faktor dari diri sendiri karena kurangnya percaya diri ,faktor dari guru karena
pelajaran yang di berikan terlalu teoritis dan kurangnya pengawasan dari guru
,faktor dari orang tua karena kurangnya didikan tentang kejujuran dan yang
terakhir faktor dari system pendidikan.salah satu faktor yang menyebabkan
menyontek saat ujian tertulis yaitu karena kurangnya pengawasan dari guru dan
soal yang sangat membuku.
Mencontek merupakan bentuk penyimpangan dari UUD pasal 29 Ayat 1 dan
pancasila pada sila yang ke-1 dan ke-2.
Dampak yang ditumbulkan dari mencontek yaitu belajar menjadi malas
,tidak mau berfikir,tidak pecaya terhadap kemampuan dirinya sediri ,gampang

putus asa,memiliki sifat yang tidak jujur dan masih banyak lagi.bahkan dapat
menimbulkan bibit-bibit korupsi dari perbuatan tersebut.
Cara untuk mencegah dan membrantas budaya mencontek yaitu harus di
mulai dari kita sediri dengan sadar bahwa perbuatan tersebut banyak
menimbulkan hal negatifnya dan bantuan dari pihak lain seperti guru,teman
,sahabat dan orang lain.
B. Saran
Sebaiknya bagi para mahasiswa yang terbiasa mencontek dikurangi
bahkan kalau bisa di hilangakan karena banyak hal negatifnya dan bagi
mahasiswa yang belum pernah mencontek jangan sekali-kali mencobanya karena
mencontek ini bagaikan obat narkoba sekali mencoba maka akan merasa
ketagihan ingin terus melakukan hal tersebut.
Untuk para guru atau dosen sebaiknya memberikan sanksi yang tegas
kepada mahasiswa yang mencontek karena mencontek ini akan menimbulkan
tergantungan kepada orang lain dan sebaiknya dalam melakukan ulangan atau tes
secara lisan saja.
Bagi orang tua dihaharapkan memgajarkan perilaku jujur dan agama
kepada anaknya serta menyuruh agar tidak berbuat malas-malasan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Alhadza. Masalah Perilaku Menyontek (cheating) Di Dunia
Pendidikan. http://depdiknas.go.id/jurnal/38 . Diakses pada tanggal 25
Desember 2015
Santoso, T. 1991. Menyontek Bukan Seni. Dalam Kartini Kartono
(ed.). Bimbingan Bagi Anak Remaja yang Bermasalah. Jakarta: Rajawali
Press.
http://ademardhatillah.blogspot.com/2012/10/makalah-perilaku-menyimpang.html
http://onosari.com/t8019-tips-menghilankan-kebiasan-mencontek
http://sidikaquarius.blogspot.com/2012/09/makalah-pendidikan-pancasilamencontek.html