Anda di halaman 1dari 2

TEKNIK PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN

Salah satu hal yang paling penting dalam penelitan adalah instrumen penelitian.Mengapa ? Karena
instrumen yang akan memberikan hasil penelitian kepada peneliti apakah penelitian yang dilakukan
berhasil atau tidak. Dalam hal ini hipotesis diterima atau ditolak. Nah, tentu saja hal ini berlaku bagi
penelitian yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Walaupun jenis instrumen kedua jenis penelitian
tersebut berbeda tetapi teknik pengembangan atau pembuatan instrumen hampir sama. Hanya saja
penelitian kuantitatif berupa instrumen tes sedangkan penelitian kualitatif berupa instrumen
nontes.yang akan saya jelaskan pada kesempatan kali ini tentang tahap pembuatan instrumen tes.
Adapun langkah penyusunan instrumen sebagai berikut:
1. Teori
Teori yang dimaksud dalam hal ini adalah teori yang berkaitan dengan variabel yang hendak
diteliti atau yang akan disusun instrumen penelitiannya. Biasanya, seorang peneliti dalam
membuat atau menyusun teori hanya mengambil atau mengutip langsung pendapat beberapa ahli
dari berbagai sumber yang diperoleh. Hal tersebut tentunya tidak salah akan tetapi, belum
lengkap. Karena proses penyusunan teori yang baik diibaratkan seperti perut ibu hamil artinya
teori tersebut harus dimulai dari hal yang kecil/khusus kemudian melebar dan akhirnya akan
mengecil kembali. Secara rincinya dalam penyusunan teori yang benar adalah pertama-tama
seorang peneliti harus memberikan kalimat pengantar tentang variabel akan diteliti atau
setidaknya memberikan pendapatnya tentang variabel tersebut meskipun hanya satu paragraf.
Selanjutnya, kita dapat mengutip beberapa pendapat ahli tentang variabel tersebut dari berbagai
sumber. Kemudian, yang terakhir memberikan kesimpulan dari beberapa pendapat ahli tentang
variabel tersebut.
2. Dimensi dan indikator
Indikator merupakan hal yang sangat penting dalam penyusunan instrumen karena indikator yang
akan menjadi tolak ukur tentang pembuatan instrumen penelitian. Seorang peneliti yang akan
menyusun sebuah instrumen pastilah menyusun indikator terlebih dahulu. Dimensi sebenarnya
bukanlah hal yang sangat penting dalam sebuah instrumen karena tidak semua variabel penelitian
memiliki dimensi. Salah satu variabel yang memiliki dimensi adalah hasil belajar.
3. Kesimpulan
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa dalam pembuatan teori terdapat kesimpulan pada bagian
akhir. Dalam kesimpulan terdiri atas 2 yaitu definisi konseptual dan definisi operasional. Definisi
konseptual memuat tentang kesimpulan teori tetapi tidak sepenuhnya memiliki kalimat yang
sama persis dan indikator. Definisi operasional memuat tentang definisi yang akan menjadi
pedoman dalam bekerja
4. Penentuan tujuan dan jenis instrumen
Penentuan tujuan yang dimaksud adalah tujuan kita membuat instrumen sedangkan jenis
instrumen apakah instrumen tes atau nontes
5. Membuat kisi-kisi instrumen
Berikut adalah contoh pembuatan kisi-kisi instrumen
Jumlah
Kognitif
Kompetensi
soal
Ingatan Pemahaman Aplikasi Analisis Evaluas Mencipta
dasar
(C1)
(C2)
(C3)
(C4)
i (C5)
(C6)
Menganalisis
6,7
4,5
12,13
1,2,3
9
induksi. . . . .
Menerapkan
8,9
10,11
4
konsep . . . .
Jumlah soal
2
4
4
3
13

Penyusunan kisi-kisi instrumen harus berdasarkan pada kompetensi dasar dari pemblajaran
tersebut. Karena kompetensi dasar tersebut yang hendak dicapai oleh peserta didik. Apabila
kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah menganalisis seperti pada diatas maka instrumen
yang hendak dibuat ranah kognitif tertingginya adalah menganalisis (C4). Akan tetapi kita juga
bisa membuat instrumen yang berkaitan dengan ranah kognitif C3, C2, dan C1. Selain itu, dalam
penyusunan kisi-kisi instrumen jumlah butir setiap ranah kognitif setidaknya harus
seimbang/sama, tidak boleh memiliki jumlah perbedaan butir yang terlalu besar misal 2:9 dan
tidak diperbolehkan membuat butir untuk satu ranah kognitif hanya terdapat 1item soal. Karena
instrumen tersebut nantinya akan melewati tahap validitas dan apabila 1 item tersebut tidak valid
maka instrumen harus diulangi. Oleh karena itu, setidaknya setiap ranah kognitif memiliki
minimal 2 item soal karena apabila keduanya tidak valid maka diperbolehkan untuk memilih
salah satu atau salah dua dari item tersebut unuk direvisi tanpa harus mengulangi instrumen.
6. Menyusun butir instrumen berdasarkan kisi-kisi instrumen yang telah dibuat sebelumnya.
7. Penggandaan instrumen sesuai kebutuhan
8. Validasi secara teori, terbagi atas 3 yaitu:
1. validasi oleh pakar/ahli
Validasi oleh pakar setidaknya dilakukan oleh 2 pakar dengan tujuan untuk melihat pendapat
masing-masing pakar tentang instrumen yang telah dibuat. Validasi pakar ini akan
membutuhkan biaya.
2. validasi muka
3. analisis butir secara kualitatif
9. Penggandaan instrumen sesuai kebutuhan
10. Proses empirik, terdiri atas 3 yaitu
Ujicoba instrumen
Proses ujicoba instrumen dilakukan di populasi di luar sampel. Menurut
H.J.X.Fernandes jumlah responden minimal untuk ujicoba instrumen adalah 5 kali jumlah
item instrumen. Sedangkan menurut Huble responde minimal untuk melakukan ujicoba
adalah 9 atau 10 kali jumlah item instrumen. Mengapa jumlah responden harus banyak
dalam ujicoba? Karena semakin banyak responden maka semakin besar kemungkinan
intrumen yang telah dibuat memiliki tingkat validitas yang tinggi.
Validitas empirik
a. validitas berlaku untuk instrumen tes dan nontes
b. realibilitas, berlaku untuk instrumen tes dan nontes
c. analisis butir secara kuantitatif, hanya untuk instrumen tes
Seleksi butir instrumen berdasarkan kriteria dan kisi-kisi
11. Penggandaan instrumen
12.Instrumen siap pakai