Anda di halaman 1dari 41

KULTUR AIR

LAPORAN PRAKTIKUM
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan
Dosen Pengampu:
Dr. H. Taufik Rahman, M.Pd
Dra. Hj. Sariwulan Diana, M.Si
Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.Si
Hj. Tina Safaria, M.Si

oleh:
Kelompok 6
Kelas Pendidikan Biologi B 2013
Siti Amirah Makarim

1304946

Siti Barkatul Laely

1307117

Siti Komariah Agustina

1304395

Suci Novianti

1307223

Tira Tahnia

1306499

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016

A. JUDUL
Kultur Air
B. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Hari

: Senin-Minggu

Tanggal

: 16 September 25 Oktober 2016

Tempat pelaksanaan

: Botani UPI

Waktu

: 15.00-Selesai WIB

C. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang ingin diselesaikan dalam praktikum
ini adalah bagaimana pengaruh unsur-unsur tertentu (fosfor) bagi prtumbuhan
tumbuhan?
D. TUJUAN
Tujuan yang diharapkan dalam praktikum ini adalah mengetahui
pengaruh unsur-unsur tertentu (fosfor) bagi prtumbuhan tumbuhan.
E. HIPOTESIS
Kekurangan unsur fosfor pada tumbuhan menyebabkan tumbuhan
tumbuh dengan ciri yang teramati pada daun yakni daun tua menjadi
keunguan dan cenderung kelabu. tepi daun menjadi cokelat, tulang daun
muda berwarna hijau gelap, pertumbuhan daun kecil, kerdil, dan akhirnya
rontok.
F. DASAR TEORI
a. Metode Kultur Air
Metode kultur air adalah metode menumbuhkan tanaman-tanaman
dengan air. Air sebagai media diisikan dalam wadah seperti tabung kaca
atau wadah lainnya, kemudian dicampur dengan larutan pupuk atau larutan
mineral untuk menyuplai kebutuhan tanaman (Anonim, 2013).
b. Kangkung
Kindom
Subkingdom
Superdivisio
Divisio
Kelas

: Plantae
: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Magnoliapsida

Gambar 1. Tanaman Kangkung


(Sumber: http://www.faunadanflora.com)

Sub kelas
: Asteridae
Ordo
: Solanales
Famili
: Convovulceae
Genus
: Ipomea
Spesies
: Ipomea aquatic
Kangkung merupakan tanaman yang sangat tergolong lama tumbuh,
tanaman ini memiliki akar tunggang dan bercabang-cabang. Perakaran ini
menembus dengan kedalam 60100 cm, dan menyebar luas secara
mendatar 150 cm hingga lebih, terutamanya tanaman kangkung pada air.
Batang pada tanaman kangkung bulat dan berlubang, berbuku-buku, dan
banyak mengandung air. Terkadang buku-buku tersebut mengeluarkan
akar tanaman yang serabut dan juga berwarna putih dan ada juga berwrana
kecoklatan tua. Kangkung juga memiliki tangkai dauan melekat pada
buku-buku batang dan di keiak batang terdapat mata tunas yang dapat
tumbuh cabang baru. Bentuk dauan memiliki ujung runcing dan juga
tumpul, permukaan dauan berwarna hijau tua , dan juga berwarna hijau
muda. Bunga pada tanaman kangkung memiliki bentuk terompet dan
memiliki dauan mahkota yang berwara putih atau kemerahan. Dan jika
menghasilkan buah berbentuk bulat atau oval yang di dalamnya memiliki
tiga butit biji. Warna biji tanaman kangkung berwran hitam jika sudah tua
dan hijau ketika mudah (Anonim, 2015).
c. Unsur Hara yang Dibutuhkan Tanaman
Hara merupakan unsur yang sangat diperlukan oleh tanaman. Hara
banyak terdapat dalam air tanah. Konsentrasi hara dalam air tanah pada (1)
Konsentrasi Normal sekitar 1-5 permil. (2) Jenuh air 0,21-1 permil dengan
PO 0,1-0,5 atm. (3) Tanah kering konsentrasi hara dalam air tanah dapat
meningkat dan menyebabkan PO tanah menjadi negatif (Anonim, 2013).
Berdasarkan peranannya, hara dibagi menjadi:
1) Hara esensial
Hara ini sangat diperlukan tanaman untuk menyelesaikan siklus
hidupnya. Hara ini juga sangat dibutuhkan pada proses biokimia
tertentu dan peranannya tidak dapt digantikan oleh unsur lain. Bila

unsur tersebut tidak ada, maka pertumbuhan tanaman akan


terhambat, dan akan tumbuh lebih lanjut jika unsur tersebut
ditambahkan (Anonim, 2013).
2) Hara fungsional
Hara ini adalah hara yang apabila ada dalam tanah atau medium
dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman. Misalnya. Unsur
Natrium (Na) dapat menggantikan peran dari unsur Kalium (K).
Unsur lain yang merupakan unsur hara fungsional adalah Kobalt
(Co) yang berperan dalam memperkuat ketahanan tanaman
terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan tanaman itu
sendiri (Anonim, 2013).
3) Hara potensial
Hara ini adalah unsur hara yang sering ditemukan dalam tubuh
tanaman, akan tetapi belum jelas fungsi dari unsur hara ini
(Anonim, 2013).
Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tanaman, hara dibagi menjadi 2
:
1) Unsur Hara Makro
Unsur ini sangat diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang sangat
besar. Unsur ini antara lain : N, P, S (anion) dan K, Ca, Mg (kation)
(Anonim, 2013).
2) Unsur Hara Mikro
Unsur ini dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sedikit. Umumnya
unsur ini antara lain : B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, Zn. Akan tetapi pada
tanaman tertentu Co, Se, Si, Na dibutuhkan juga sebagai unsur hara
mikro (Anonim, 2013).
d. Defisiensi Phosphor
Fungsi

fosfor

adalah

untuk

mempercepat

pembelahan

sel,

pembentukan bunga, pembentukan albumin buah dan biji. Selain itu fosfor
juga berfungsi untuk memperkuat batang, mempercepat pematangan buah,
perkembangan

akar,

memperbaiki

kualitas

tanaman,

metabolisme

karbohidrat,

membentuk

nucleoprotein

dan

menyimpan

serta

memindahkan energi seperti ATP, untuk meningkatkan ketahanan tanaman


terhadap penyakit, mempercepat pertumbuhan akar semai pada awal
pertumbuhan

tanaman,

memperkuat

batang,

mempercepat

proses

pembungaan dan pemasakan buah dan meningkatkan produksi buah, daun


dan biji-bijian (Anonim, 2015).
Jika kekurangan unsur fosfor maka pada tanaman akan terlihat adanya
warna merah keunguan pada bagian bawah daun. Daun terpelintir, tepi
daun, batang dan cabang juga berwarna ungu karenan pembentukan
antosianin. Gejala kekurangan unsur p diawali pada daun-daun tua yang
berubah warna menjadi keunguan dan cenderung kelabu. Tepi daun
menjadi coklat, tulang daun muda berwarna hijau gelap. Tepi daun seperti
hangus terbakar, pertumbuhan daun kecil, kerdir dan akhirnya gugur.
Pertumbuhan menjadi lambat dan tanaman kerdil. Kekurangan lainnya
mengakibatkan terhambatnya sistem perakaran

dan pembuahan pada

tanaman. Kekurangan dapat ditanggulangi dengan pemberian pupuk yang


mengandung unsur fosfor misalnya pupuk TSP, SP 18, SP 36/ pupuk NPK
(Azzamy, 2016).
G. METODE KERJA
1. Alat dan Bahan
1) Alat
Tabel 1. Alat Praktikum
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama Alat
Botol jam dengan tutupnya
Kapas
Pompa udara
Kertas karbon
pH meter
Penggaris

Jumlah
3 buah
Secukupnya
1 buah
Secukupnya
Secukupnya
1 buah

2) Bahan
Tabel 2. Bahan Praktikum
No.

Nama Bahan

Jumlah

1.
2.

Larutan Sach tanpa unsur fosfor


Tanaman kangkung

150 ml
3 buah

2. Cara Kerja
Bagan 1. Cara Kerja Kultur Air
Laruran Sach tanpa unsur
fosfor dimasukan ke
dalam 3 buah botol jam
yang telah dilapisi kertas
karbon masing-masing
dengan volume 150 ml

3 buah tanaman kangkung


yang memiliki jumlah
daun dan ukuran yang
hampir sama dipilih

Tananam kangkung
dimasukan kedalam botol
jam melalui salah satu
lubang yang ada pada
tutup botol jam

Lubang lain yang ada


pada tutup botol jam di
tutup menggunakan kapas

Dilakukan aerasi setiap


hari dan jika larutan sach
habis maka ditambahkan

Pengamatan dilakukan
setiap hari selama 1,5
bulan untuk melihat
perubahan yang terjadi
pada tanaman

H. HASIL PENGAMATAN
1. Hasil Pengamatan Kelompok
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Kelompok 6 - Larutan Tanpa P (Fosfor)
Jenis

Tanggal

larutan
-P

Nomor

Daun

Batang

Akar

Tinggi

tabung
16/09/2016

Keterangan

(cm)

Belum ada akar karena


baru

dipotong

dimasukkan

17

Keadaan

setiap

dab

organ

tanaman

kedalam

masih

sehat,

dengan

daun

botol pengamatan

yang hijau segar


serta

batang

yang tegak tanpa


akar
2

Daun

segar

dengan

Belum ada akar karena

beberapa daun yang lebar

baru

dipotong

dan sebagian lain lebih

dimasukkan

sempit dan panjang

botol pengamatan

19

Keadaan

setiap

dab

organ

tanaman

kedalam

masih

sehat,

dengan

daun

yang hijau segar


serta

batang

yang tegak tanpa


akar

Daun

segar

dengan

Belum ada akar karena

beberapa daun yang lebar

baru

dipotong

dan sebagian lain lebih

dimasukkan

sempit dan panjang

botol pengamatan

19,5

Keadaan

setiap

dab

organ

tanaman

kedalam

masih

sehat,

dengan

daun

yang hijau segar


serta

batang

yang tegak tanpa


akar
4

Daun

segar

dengan

Belum ada akar karena

beberapa daun yang lebar

baru

dipotong

dan sebagian lain lebih

dimasukkan

sempit dan panjang

botol pengamatan

22

Keadaan

setiap

dab

organ

tanaman

kedalam

masih

sehat,

dengan

daun

yang hijau segar


serta

batang

yang tegak tanpa


akar
-P

23/09/2016

Semua daun layu, namun Batang

patah,

tetap berwarna hijau dan dimungkinkan

karena

Batang
dan

patah,
tanaman

ada beberapa daun yang adanya luka pada bagian

terbagi menjadi

mulai membususk

batang yang terkena pada

dua,

lubang botol pengamatan

tanaman

bagian
yang

atas di masukkan
kembali kedalam
botol
pengamatan, dan
bagian bawah di
buah
2

Akar

tubuh

subur,

25

Daun berjumlah

dengan jumlah akar yang

4,

tumbuh

banyak dan pendek

pucuk.

Warna

daun hijau segar


dan lebar namu
ada

beberapa

daun

layu.

Batang

agak

layu.

Akar

tubuh

subur,

24

Daun berjumlah

dengan akar yang banyak

5,

dan

pucuk.

pendek

sebagian

namun

ada

yang

tumbuh

Warna

daun hijau segar.

panjang

Batang

kokoh

dengan
kebanyakan
daun lebar
4

Akar

tubuh

subur,

30

Daun berjumlah

dengan jumlah akar yang

8,

tumbuh

banyak dan pendek

pucuk. 2 daun
menguning
kecoklatan

-P

30/09/2016

Bagian

bawah

tidak

tumbuh

akar

malah

timbul

ciri-ciri

akan

daun

kuning

kering

membususk

Batang patah, 1

dan

berlubang

33

Daun

masih

hijau segar dan


batang

masih

tegak

30

Ada daun yang


menguning,

di

tengah daun ada


bercak

coklat,

batang

tumbuh

menyamping.

40

Bagian

tengah

daun menguning,
ujung

daun

kuning
mengkerut,
batang

tumbuh

menyamping.
-P

07/10/2016

Sudah tidak ada daun

Bagian

bawah

tidak

yang tersisa

tumbuh

menjadi

akar,

menunjukan

tetapi malah hitam lalu

tanda-tanda

membusuk

kematian dengan

dengan

Tumbuhan mulai

adanya sedikit lendir di

batang

sekitar akar

membusuk

Akar

tumbuh

subur

28

yang

Daun ada yang

dengan jumlah akar yang

menguning dan

semakin

bercak

banyak

semakin panjang

dan

hitam

kecoklatan.
Batang

pernah

patah,

namun

tubuh lagi tunas


dan

tumbuh

menyamping.
3

Akar

tumbuh

subur

44

Di tulang daun

dengan jumlah akar yang

ada

bercak

semakin

coklat

kering.

Batang

tumbuh

banyak

dan

semakin panjang

tegak.

Akar

tumbuh

subur

51

Daun menguning

dengan jumlah akar yang

serta sisi daun

semakin

kering

banyak

dan

semakin panjang

kecoklatan.
Batang

tumbuh

menyamping.
-P

14/10/2016

Sudah tidak ada daun


yang

tersisa

dengan

bagian atas menguning

Tumbuhan mati
karena

pada

kurun

waktu

beberapa minggu
tidak

terjadi

perubahan

ke

arah yang lebih


baik.

Bagian

yang membusuk
semakin banyak
dengan

lendir

yang bertambah
banyak disekitar
pangkal tanaman
2

30

Tumbuh

tinggi

dengan

batang

yang

segar

namun

tidak

tegak, akar yang


banyak,
yang

daun
banyak

namun sebagian
daun ada yang
mengalami
kerusakan, yaitu
ada

yang

mengunig,
bercak
dan

coklat
bolong

namun

paling

banyak

yaitu

daun

yang

menguning.
3

75

Tumbuh

tinggi

dengan

batang

yang

segar

namun

tidak

tegak, akar yang


banyak,
yang

daun
banyak

namun sebagian
daun ada yang
mengalami
kerusakan, yaitu
ada

yang

mengunig,
bercak
dan

coklat
bolong,

namun

paling

banyak

daun

yang bolong.
4

60

Tumbuh

tinggi

dengan

batang

yang

segar

namun

tidak

tegak, akar yang


banyak,
yang

daun
banyak

namun sebagian
daun ada yang
mengalami
kerusakan, yaitu
ada daun yang
bolong.

2. Hasil Pengamatan Kelas


Tabel 2.1. Hasil Pengamatan Kelompok 4 Larutan Lengkap
Keadaan Awal
Jumlah daun 6 dengan daun
teratas
masih
menutup
(berupa bakal daun), daun
paling bawah ujungnya sudah
mulai mengering

Keadaan Akhir
Jumlah Daun ada 11
dengan 4 daun teratas
masih kecil dan berwarna
hijau segar. Daun Paling
bawah sudah mulang
menguning dan kering.

Botol 2

Jumlah daun 6 dengan daun


paling
bawah
mulai
mengerut. Daun ketiga dari
atas masih hijau segar.

Jumlah Daun ada 14


dengan 4 daun teratas
masih kecil dan berwarna
hijau segar. Daun Paling
bawah sudah mulang
menguning dan layu.

Botol 3

Jumlah daun 9 dengan 2 daun


teratas berupa bakal daun),
dan 3 daun terbawah sudah
mulai menguning

Jumlah Daun hanya 2 dan


masih berupa bakal daun
dan masih menguncup.
Daun
lainnya
yangbberawa di bawah
sudah mulang menguning
dan layu.

Botol 1

Diameter batang 0,6 cm, Diameter batang 0,7 cm,


warna batang hijau segar. warna batang masih hijau.
Batang berdiri tegak
Batang sulit untuk tegak
jika tidak ditopang. Ujung
batang patah
Diameter batang 0,5 cm, Diameter batang 0,8 cm,
warna batang hijau segar. warna batang masih hijau.
Batang berdiri tegak.
Batang sulit untuk tegak
jika tidak ditopang.
Diameter batang 0,5 cm, Diameter batang 0,6 cm,
warna batang hijau segar. warna batang cokelat atau
Batang berdiri tegak.
dapat dikatakan batang
telah mati.
Akar
hanya
memiliki Jumlah
rambut
akar
beberapa cabang
semakin banyak, akar juga
bertambah panjang.
Akar
hanya
memiliki Jumlah
rambut
akar
beberapa cabang
semakin banyak, akar juga
bertambah panjang.

BATANG

DAUN

Bagian Tumbuhan
Botol 1

Botol 2

Botol 3

AKAR

Botol 1

Botol 2

Keterangan
Selama
pengkulturan
Jumlah
daun
bertambah
sebanyak 5 buah
dari
jumlah
semula dan tidak
ada yang gugur.
Selama
pengkulturan
Jumlah
daun
bertambah
sebanyak 8 buah
dari
jumlah
semula dan tidak
ada yang gugur.
Selama
pengkulturan
Jumlah
daun
berkurang karena
daun mati dan
batang tanaman
juga mati dan
mulai
tumbuh
kembali setelah
nya.
Diameter batang
bertambah
0,1
cm.

Diameter batang
bertambah
0,3
cm.
Diameter batang
bertambah
0,1
cm.

TINGGI

Botol 3

Akar
hanya
beberapa cabang

memiliki Jumlah
rambut
akar
semakin banyak, akar juga
bertambah panjang.

Botol 1

Tinggi Tanaman 37,5 cm

Tinggi Tanaman 68 cm

Botol 2

Tinggi Tanaman 37 cm

Tinggi Tanaman 62 cm

Botol 3

Tinggi Tanaman 30,5 cm

Tinggi Tanaman 43 cm

Kondisi Daun, Batang, dan Tinggi


Sebelum

Sesudah

Kondisi Akar
Sebelum

Sesudah

Tinggi tanaman
bertambah 30,5
cm
Tinggi tanaman
bertambah 25 cm
Tinggi tanaman
bertambah 13,5
cm

Tabel 2.2 Hasil Pengamatan Kelompok 1 Larutan Kurang Ca

No

Jenis
Larutan

Keadaan Awal Tanaman

Keadaan Akhir Tanaman


Ket

Daun

Batang

Akar

Tinggi

Daun

Batang

Akar

Tinggi

-Ca 1

Ada 8 daun Batang tegak Akar sehat


dengan keadaan dan hijau
segar dan hijau

20 cm

Daun sisa 3 Batang layu


dengan
keadaan kering

Akar baru 42,7 cm


tumbuh di
bekas nodus
batang,
keadaan
akar tidak
segar

-Ca 2

Ada 13 daun Batang tegak Akar sehat


dengan keadaan dan hijau
segar dan hijau

20 cm

Daun
cabang
kering
mati

- Ca 3

Ada 6 daun Batang tegak Akar sehat


dengan keadaan dan hijau
segar dan hijau

20 cm

Daun kering Batang patah Akar


dan mati
dan mati
terlihat
seperti
membusuk

- Fe

Ada 8 daun Batang tegak Akar sehat


dengan keadaan dan hijau
segar dan hijau

20 cm

Daun kering Batang layu Akar tidak 41,5 cm


dan mati
dan mati
segar

pada Tumbuh
Akar tidak 31,3 cm
ikut cabang baru segar
dan tetapi
ikut
layu dan mati
62, 6 cm

Tabel 2.3. Hasil Pengamatan Kelompok 2 Larutan Kurang S


No

Jenis
Larutan

Keadaan Awal Tanaman ( 14


September 2016)
Daun

-S

Batang

Akar Tingg
i

27cm

Keadaan Akhir Tanaman ( 17 Oktober 2016)

Daun

Batang

Akar

Ket.

Tinggi

70,2
cm

Daun tumbuh banyak


dan segar. Tetapi
terdapat daun yang
berlubang
dan
terdapat
bercak
cokelat. Batang dan
akar
segar
dan
tumbuh banyak serta
bertambah panjang.

-S

27cm

22cm
(perna
h
patah)

Pada hari ke-6 batang


patah.
Terdapat
bercak cokelat dan
daun kurang segar.
Batang dan akar juga
kurang segar.

Batang layu dan mati.


Daun
dan
akar
membusuk

-S

27cm

Tabel 2.4. Hasil Pengamatan Kelompok 3 Larutan Kurang Mg

No.

1.

Keadaan Awal Tanaman

Jenis
Larutan
-N

Daun
Daun
berjumlah 5
lembar,
daun ke-5
merupakan
pucuk, dan
terdapat 2
daun muda,

Batang

Akar

Batang

Akar

tegak

tunggang

berwarna

kecil sedikit

hijau

Keadaan Akhir Tanaman


Tinggi
20 cm

tua. cabang

Diameter
batang

halus.

Batang

Akar

Daun
berjumlah
lembar:

Batang tegak Panjang


5 dan berwarna akar 7 cm.
hijau.
Diameter
Daun hijau 2, batang
0,8
dan 3 lembar cm.
hijau

0,3 Panjang

cm.

Daun

Tinggi
42 cm

dengan

bagian tengah

akar 5 cm.

daun berbintil.
2.

-Mg (1)

Daun
berjumlah 4
lembar,
2
daun muda
dan 2 daun
dengan
ujung yang
sudah layu

Batang

Akar

tegak

tunggang

berwarna

kecil sedikit

hijau

tua. cabang

Diameter
batang
cm.

halus.
0,5 Panjang
akar 4,5 cm.

19 cm

Terdapat
lembar:

8 Batang
Panjang
melengkung, akar 7 cm.
berwarna
Daun hijau 4, hijau.
1 tunas, 1 layu, Diameter
0,9
1 hijau dengan batang
cm.
tengah kuning,
dan

berwarna hijau

45 cm

membulat.
3.

4.

-Mg (2)

-Mg (3)

Daun
Batang
berjumlah 5 tegak
lembar,
berwarna
diantaranya
hijau.
2
daun
Diameter
muda
0,4 cm.

Panjang

Daun
berjumlah 6
lembar,
terapat
tunas dan
daun tertua
mengalami
klorosis.

Batang

Panjang

tegak

akar 4,7 cm

Batang
Panjang
melengkung, akar 6,5 cm
berwarna
hijau.
Diameter 0,8
cm.

43 cm

42 cm

Diameter

Batang
Panjang
7 melengkung, akar 6,5 cm
berwarna
hijau.
Hijau
4, Diameter 0,9
kuning layu 2, cm.

0,5 cm

dan tunas 1.

berwarna
hijau.

23 cm

akar 5 cm

21 cm

Daun
berjumlah
lembar:

Tabel 2.5. Hasil Pengamatan Kelompok 5 Larutan Kurang N


No
Jenis
Tabung Larutan

Keadaan Awal Tanaman


Foto tanaman

Daun

Batang

Daun
berjumlah
9 Tegak
dengan daun lurus,
ke-9
adalah kokoh
pucuk

Keadaan Akhir Tanaman


Akar

Panjang
akar

Tinggi

Foto Tanaman

Daun

Batang

29 cm

Daun berjumlah 7,
tidak ada pucuk,
daun ke-1 dan 2
menguning, daun
ke-4 layu

29 cm

Daun berjumlah 5
dengan
daun Tegak
menguning dan ada lurus,
bercak
hitam kokoh
kemudian gugur

6 cm

Akar

Melengkun Panjang
g ke arah akar
kanan,
7.2 cm
kokoh

Tinggi

41 cm

Gambar 1.
-N

Daun
berjumlah
8 Tegak
dengan daun lurus,
ke-8
adalah kokoh
pucuk

Panjang
akar
6.3 cm

Panjang
akar
6.7cm

38 cm

Daun
berjumlah
7 Tegak
dengan daun lurus,
ke-7
adalah kokoh
pucuk

Panjang
akar
5,5 cm

22.5 cm

Daun berjumlah 1
dengan
daun
Melengkun Panjang
mengering
dan
g ke arah akar
berwarna
kuning
kiri, kokoh
5.4 cm
kecoklatan
yang
kemudian gugur

37 cm

Tabel 2.6. Hasil Pengamatan Kelompok 6 Larutan Kurang P


No

Jenis
Larutan

Keadaan Awal Tanaman ( 14 September 2016)


Daun

Batang

Akar

Tinggi

-P

17cm

-P

19cm

Keadaan Akhir Tanaman ( 17 Oktober 2016)


Daun

Batang

Akar

Ket.
Tinggi
-

30cm
(pernah patah)

-P

19,5cm

75cm

Pada hari ke-5


batang
patah,lalu
pada hari ke
16 mati

Tumbuh tinggi
dengan batang
yang
segar
namun tidak
tegak,
akar
yang banyak,
daun
yang
banyak namun
sebagian daun
ada
yang
mengalami
kerusakan
seperti bercak
coklat
dan
bolong
kemudian

-P

22cm

60cm

menguning
dan lepas dari
batang

Tabel 2.7. Hasil Pengamatan Kelompok 7 Larutan Kurang Fe


No.
Tabung

Larutan

Keadaan Awal

Keadaan Akhir

Daun

Batang

Akar

Tinggi

Daun
- Daun panjang dan sempit
- Daun ke 6,7,8 klorosis dan
berlubang,
- Daun ke 9 kering
- Daun panjang dan sempit
- Daun ke 6 dan 7 klorosis

-Fe

5 helai, lebar
dan segar

Layu

Segar

15 cm

-Fe

5 helai, lebar
dan segar

Layu

Segar

18 cm

-Fe

5 helai, lebar
dan segar

Layu

Segar

17,5 cm

- Daun ke 6,7,8 klorosis dan


nekrosis
- Daun panjang dan sempit

Batang

Akar

Tinggi

Panjang, tidak
kokoh, menjulur

Membusuk

50 cm

Panjang, tidak
kokoh, menjulur

Membusuk

62 cm

Panjang, tidak
kokoh, menjulur

Membusuk

52 cm

Tabel 2.8. Hasil Pengamatan Kelompok 8 Larutan Kurang Ca, S, Mg

No.

1.

Keadaan Awal Tanaman

Jenis
Larutan
-Ca

Daun
Terdapat

Batang

4 Batang tegak Akar

daun

segar berwarna

yang

utuh hijau tua.

(tanpa

Akar

Keadaan Akhir Tanaman


Tinggi
34 cm

Daun

Batang

Akar

Terdapat 4 daun Batang

Akar

tunggang

yang

tunggang

kecil dengan

bintik-bintik

sedikit

coklat

memiliki melekuk
(tidak

tegak) memanjang

pada namun masih dan

Tinggi
37,5 cm

bolong),
bukan

daun

cabang-

permukaannya.

cabang halus.

Tumbuh

muda

segar

cabangnya

kuncup

bertambah

daun

yang

banyak.

berasal

dari ketiak daun.


2.

-S

Terdapat

5 Batang tegak Akar

34 cm

Terdapat

7 Batang

Akar

1 melengkung.

tunggang

daun tua dan berwarna

tunggang

daun,

1 daun muda hijau tua.

kecil dengan

kuncup. Ukuran

memanjang

yang

masih

sedikit

daun kecil-kecil

dan

segar

dan

cabang-

(tidak

cabangnya

cabang halus.

berkembang).

bertambah

Hanya terdapat

banyak.

utuh

(tanpa

bolong).

dan

daun

42,5 cm

yang

sempurna (tanpa
bolong)
3.

-Mg

Terdapat
daun

9 Batang tegak Akar

segar, berwarna

ukuran
bervariasi.

hijau tua.

34 cm

Terdapat 7 daun Daun

sedikit Akar

tunggang

dengan kondisi melengkung,

kecil dengan

semua

sedikit

bolong-bolong,

cabang-

dan

cabang halus.

dengan

posisi

bertambah

paling

bawah

banyak.

daun cukup

tunggang

tegak memanjang

dibandingkan

daun yang lainnya.

dan
cabangnya

41,5 cm

hampir seluruh
warnanya
menguning.

I. PEMBAHASAN
1. Pembahasan Hasil Pengamatan Kelompok
Kangkung yang dipilih untuk diamati adalah jenis kangkung air.
Dikarenakan ppada pengamatan kali ini menggunakan media air yang
biasa kita sebut kultur air. Kelompok kami ditugaskan untuk mengamati
pertumbuhan dan perkembangan kangkung yang pada kultur airnya tidak
diberi fosfor. Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk ion ortofosfat
(H2PO4-) dan ion ortofosfat sekunder (HPO4=). Unsur fosfor masih dapat
diserap dalam bentuk lain, yaitu bentuk pirofosfat dan metafosfat, juga
kemungkinan unsur fosfor diserap dalam bentuk senyawa oraganik yang
larut dalam air, misalnya asam nukleat dan phitin. Secara umum, pada
hari pertama (16 September 2016) di keempat botol pengamatan,
kangkung masih segar dicirikan dengan daunnya yang masih berwarna
hijau segar dan batangnya yang kokoh, namun akar yang ada masih
pendek. Tinggi tanaman secara umum berkisar 17 22 cm.
Seminggu kemudian (23 September 2016), secara umum daun
masih berwarna hijau adapula daun yang layu bahkan ada yang mulai
membusuk. Jumlah daun bertambah, rata-rata pada setiap botol
pengamatan tumbuh 2-3 pucuk daun. Diameter batang semakin
membesar, namun arah tumbuh batang menjadi menyamping seperti
mengikuti arah datangnya cahaya karena pada kangkung terdapat hormon
auksin. Hormon auksin lebih aktif pada sisi tumbuhan yang lebih gelap,
sementara pada sisi yang terkena cahaya aktivitas hormon auksin
tehambat atau tidak sama sekali. Akibat dari kecepatan tumbuh yang
berbeda itu, maka tumbuhan akan cenderung tumbuh melengkung ke
arah datangnya cahaya. Hal ini membuat batang-batang menjadi tidak
kokoh. Kemudian mulai tumbuh akar sekunder dan akar adventitif. Ratarata tinggi tanaman 25-30 cm, kecuali pada kangkung di botol
pengamatan 1 yang patah. Khusus pada botol pengamatan nomor 1,
batangnya patah, hal ini dimungkinkan terdapat luka pada batang tersebut
akibat bergesekan dengan tutup botol pengamatan. Kemudian pada botol

pengamatan 4, terdapat daun yang berwarna kekuningan, yang bagian


sisinya terdapat bercak kecoklatan. Hal ini merupakan tanda bahwa
kangkung sudahh menunjukkan gejala defisiensi unsur fosfor. Namun
pada bagian tulang daun tetap berwarna hijau segar.
Seminggu

kemudian

(30

September

2016),

pada

botol

pengamatan 1, meskipun batangnya telah patah, kami tetap menanam


kangkung tersebut pada media kultur air dengan menyangga batang yang
patah tersebut. Akar mulai menunjukkan ciri-ciri pembusukan, hal ini
dikarenakan akar terus menerus menyerap unsur hara namun unsur hara
tersebut sulit untuk diteruskan ke bagian batang dan daun, hal ini terkait
dengan batang yang patah. Begitupun dengan daunnya yang semakin
menguning dan kering di bagian ujung daun. Hal ini juga menunjukkan
bahwa kangkung mulai mengalami dampak dari tidak adanya unsur
fosfor, yaitu daun yang semakin menguning dan di bagian ujung daun
menjadi kering seperti terbakar. Hanya pada botol pengamatan 2 yang
warna daunnya masih hijau segar dan batang tumbuh tegak, padahal
kangkung pada botol ini juga sama-sama tidak diberi fosfor. Hal ini
dimungkinkan kangkung yang memang secara genetis sudah bisa tahan
pada kondisi kekurangan fosfor. Pada botol pengamatan 3 dan 4, warna
bagian tengah daun mulai menguning dan terdapat bercak coklat, serta
beberapa daun sampai kering mengkerut. Hal ini juga menunjukkan
bahwa kangkung mulai mengalami dampak dari tidak adanya unsur
fosfor, yaitu daun yang semakin menguning dan di bagian ujung daun
menjadi kering seperti terbakar. Bercak coklat pada daun juga bisa
menjadi ciri kangkung kekurangan unsur fosfor, karena bercak tersebut
umumnya terletak di tepi daun dan tampak seperti yang terbakar. Batang
tumbuh menyamping mengikuti arah datangnya cahaya. Secara umum
tinggi tanaman rata-rata 30-40 cm.
Seminggu kemudian (7 Oktober 2016), pada botol pengamatan 1,
tanaman benar-benar sudah mati tidak ada yang bisa diharapkan lagi
karena daun sudah tidak ada daun dan bagian akar mulai membusuk

ditandai dengan adanya lendir berwarna kuning bening pada akar. Secara
umum pada botol pengamatan 2, 3 dan 4, akar tumbuh subur ditandai
dengan jumlah akar adventitif yang semakin banyak dan semakin
panjang. Batang tetap tumbuh menyamping serta pada setiap botol ada
daun yang menguning serta bercak coklat kehitaman. Pada botol
pengamatan 3, terdapat daun yang tulang daun utamanya berwarna coklat
kering. Rata-rata tinggi tanaman yaitu 30-50 cm.
Seminggu kemudian (14 Oktober 2016), kangkung di botol
pengamatan 1 sudah mati, ditandai dengan batang dan akar yang
membusuk. Lendir pada akar menjadi semakin banyak karena unsur hara
yang tidak diteruskan ke bagian batang sehingga menumpuk dan
akhirnya membusuk. Secara umum pada botol pengamatan 2,3 dan 4,
daun-daun mulai menguning serta mulai banyak daun yang berlubang
juga bercak coklat pada daun. Akar semakin panjang dan ada yang
berlendir. Batang juga umumnya tumbuh menyamping, dengan tinggi
tanaman rata-rata 30-75 cm.
Jadi, kangkung yang berhasil tumbuh hingga akhir pengamatan
yaitu

botol pengamatan nomor 2, 3 dan 4. Botol pengamatan 1

mengalami kematian karena batangnya yang patah sehingga unsur hara


tidak dapat diteruskan dari akar menuju batang hingga daun. Secara
umum, tanaman tumbuh menyamping sebagai akibat adanya hormon
auksin pada kangkung. Beberapa duan kangkung pada masing-masing
botol pengamatan menunjukkan gejala kekurangan fosfor, antara lain
daun yang menguning, pada tepi daun umumnya layu hingga kering
seperti terbakar dan terdapat bercak coklat kehitaman pada ujung daun.
Pertumbuhan batang umumnya normal, diameter batang sekitar 1,5 cm
dan tinggi batang setiap minggu umumnya bertambah namun tumbuh
menyamping. Akar pada botol pengamatan 2, 3 dan 4 tumbuh dengan
normal yaitu banyak akar adventitif yang tumbuh, sedangkan pada botol
pengamatan 1, akarnya berlendir.

2. Pembahasan Hasil Pengamatan Kelas


Percobaan kultur air ini bertujuan untuk mengetahui fungsi
berbagai macam unsur nutrien bagi tumbuhan sekaligus untuk
mengetahui pengaruh nutrien tersebut. Percobaan ini dilaksanakan
dengan memberi perlakuan yang berbeda pada tumbuhan kangkung
(Ipomea aquatica). Perlakuan pertama diberi nutrisi lengkap (oleh
Kelompok 4), perlakuan kedua tanpa Ca (oleh Kelompok 1), perlakuan
ketiga tanpa S (oleh Kelompok 2), perlakuan ke empat tanpa Mg (oleh
Kelompok 3), perlakuan ke lima tanpa N (oleh Kelompok 5), perlakuan
ke enam tanpa P (oleh Kelompok 6) dan perlakuan ketujuh tanpa Fe
(oleh Kelompok 7), serta perlakuan kedelapan pengulangan tanpa Ca,
tanpa S, dan tanpa Mg (oleh Kelompok 8) .
Pada perlakuan pertama tumbuhan mengalami pertumbuhan
normal. Pertumbuhan ini ditandai oleh jumlah daun yang bertambah,
sementara batang tumbuhan tetap tegak dan tinggi tanaman bertambah.
Hal ini disebabkan oleh tumbuhan memperoleh nutrisi lengkap dari
media tanam untuk dipergunakan dalam pembentukan biomasa tubuh
tumbuhan. Namun, jika kita amati lebih jauh akan menemukan kondisi
daun yang mati. Hal ini disebabkan mulai berkurangnya nutrien yang ada
di dalam media karena tidak dilakukan penggantian atau penambahan
nutrisi pada media. Jika diamati hasil percobaan ini, ditemukan terdapat
penambahan jumlah daun sebanyak 8 helai daun dan pertambahan
diameter batang selebar 0,3 cm dan tinggi tanaman hingga 30,5 cm. Ini
menunjukkan tumbuhan pada percobaan ini memanfaatkan sebagian
besar nutrisi untuk pembentukan daun dan batang.
Pada perlakuan yang ke dua, tumbuhan kangkung mengalami
pertumbuhan yang tidak normal. Ini terlihat dari tidak mengalami
pertambahan jumlah daun, ujung daun kering dan mati hanya sisa tiga
daun pada botol 1, terjadi pelayuan batang, keadaan akar tidak segar dan
ada yang busuk, namun tetap terjadi pertambahan tinggi. Fakta ini cukup
memberikan kita gambaran betapa pentingnya unsur Ca bagi

tanaman.

Kalsium

meningkatkan

pembelahan

sel-sel

meristem,

membantu pengambilan nitrat dan mengaktifkan berbagai macam enzim.


Sehingga kekurangan unsur ini dapat mengakibatkan klorosis, gangguan
pada daerah meristematis seperti abnormalitas bentuk daun muda dan
gangguan pertumbuhan.
Pada perlakuan ketiga yaitu dengan larutan tanpa S. Terdapat
ketidaknormalan seperti klorosis pada daun, akar tidak segar, dan
panjang batang berkurang. Ini disebabkan oleh kedua unsur ini
merupakan unsur utama dalam pembentukan semua jenis protein baik
hormon, enzin, protein sel dan jaringan. Sehingga ketiadaan unsur ini
mengakibatkan tidak terjadi pertumbuhan. Namun, pada botol pertama,
batang tumbuh tinggi hingga 70,2 cm, daun tetap segar meski ada yang
berlubang dan terdapat bercak, akarnya pun terlihat segar.
Pada media yang tidak terkandung unsur magnesium (Mg) juga
mengalami bintil-bintil pada daun, daun layu dan batang melengkung
namun tetap mengalami pertambahan tinggi, serta panjang akar sedikit
bertambah. Ini disebabkan karena unsur Mg merupakan unsur yang
berperan dalam pembentukan klorofil, sehingga tidak ada klorofil yang di
sintesis maka warna daun dan batang tidak akan hijau namun mengalami
pemucatan dan timbul bintil-bintil. Tidak ada klorofil akan mengurangi
jumlah sumber energi yang dapat disintesis oleh tumbuhan tersebut.
Perlakuan kelima yaitu tanpa N, dimana tumbuhan ini banyak
mengalami penguguran daun, jumlah dan panjang akar berkurang, namun
kondisi batang ada yang tetap tegak dan ada pula yang melengkung,
terdapat peningkatan panjang batang. Fenomena devisiensi ini sebagian
besar menyerang daun dan ini wajar terjadi karena unsur nitrogen sangat
dibutuhkan guna pembentukan daun baru serta mendukung pertumbuhan
daun. Nitrogen juga merupakan salah satu unsur pembentuk protein,
berbagai jenis protein yang didalamnya terdapat nitrogen seperti hormon
auksin. Hormon yang berperan dalam mencegah pengguguran daun ini
hanya akan terbentuk apabila terdapat unsur pembentuknya yaitu

nitrogen, sehingga ketika tidak ada unsur nitogen pada media maka
hormon ini tidak dapat disintesis yang pada akhirnya menyebabkan
pengguguran daun secara drastis. Penambahan panjang tanaman tidak
terganggu oleh ketiadaan unsur nitrogen tetapi kondisi batang yang lemas
merupakan salah satu ciri divisiensi unsur nitrogen. Penambahan tinggi
batang menunjukkan unsur pendukung pertumbuhan batang berupa unsur
Ca ditemukan dilingkungan namun unsur pengokoh batang yaitu nitrogen
tidak ada, maka beberapa protein pembentuk batang tidak disintesis pada
perlakuan ini.
Pada perlakuan dengan larutan tanpa P, terjadi klorosis pada
daun, daun menguning dengan bercak coklat kehitaman serta tepi
daunnya layu, berkurangnya jumlah akar dan terdapat lendir, batang
mengalami pertambahan panjang namun tidak tegak. Ini disebabkan oleh
kedua unsur ini merupakan unsur utama dalam pembentukan semua jenis
protein baik hormon, enzin, protein sel dan jaringan.
Terjadi divisiensi juga ditemukan pada media tanpa Fe (besi).
Terjadi klorosis pada daun, terjadi pembusukan pada akar, serta batang
yang tidak kokoh. Zat besi merupakan unsur penting proses metabolisme
pada tumbuhan seperti salah satu komponen pembentukan klorofil,
katalase, peroksidase, sitokrom dan berperan dalam proses respirasi
tumbuhan. Selain itu dapat dipastikan bahwa proses fotosintesis akan
terganggu karena kekurangan klorofil sebagai agen katabolisme. Namun,
pada perlakuan ini tetap terjadi pertambahan panjang batang hingga
menjadi 62 cm. Ini berarti kekurangan zat besi tidak menghambat
pertambahan panjang batang tanaman. Sebenarnya terjadi gangguan
terhadap proses fotosintesis berarti terganggu pula pertumbuhan
tumbuhan, proliferasi sel, diferensiasi jaringan dan keberlangsungan
hidup tumbuhan. Hal ini karena fotosintesis merupakan suatu proses
pembentukan sumber energi bagi tumbuhan. Ketika sumber energi tidak
dihasilkan lagi maka yang terjadi adalah perombakan materi tumbuh

tumbuhan itu sendiri sehingga mengakibatkan tumbuhan mengalami


pertumbuhan yang negatif.
J. JAWABAN PERTANYAAN
1. Mengapa botol yang digunakan harus ditutup dengan kertas karbon?
Jawab: Karena agar disesuaikan dengan keadaan sebenarnya yang
diandaikan berada didalam tanah.
2. Mengapa medium harus diaerasi?
Jawab: Karena akar sensitive terhadap kandungan oksigen yang rendah.
3. Adakah perbedaan diantara perlakuan yang anda amati ? jelaskan !
Jawab: Ya, Botol pengamatan 1 mengalami kematian karena batangnya
yang patah sehingga unsur hara tidak dapat diteruskan dari akar menuju
batang hingga daun. Secara umum, tanaman tumbuh menyamping sebagai
akibat adanya hormon auksin pada kangkung. Beberapa duan kangkung
pada masing-masing botol pengamatan menunjukkan gejala kekurangan
fosfor, antara lain daun yang menguning, pada tepi daun umumnya layu
hingga kering seperti terbakar dan terdapat bercak coklat kehitaman pada
ujung daun. Pertumbuhan batang umumnya normal, diameter batang
sekitar 1,5 cm dan tinggi batang setiap minggu umumnya bertambah
namun tumbuh menyamping. Akar pada botol pengamatan 2, 3 dan 4
tumbuh dengan normal yaitu banyak akar adventitif yang tumbuh,
sedangkan pada botol pengamatan 1, akarnya berlendir.
4. Pada hari keberapa tumbuhan yang anda amati mulai menunjukan
perubahan? Gejala apa saja yang dapat anda lihat ?
Jawab : Pada hari kedelapan atau seminggu kemudian (23 September
2016), secara umum daun masih berwarna hijau adapula daun yang layu
bahkan ada yang mulai membusuk. Jumlah daun bertambah, rata-rata pada
setiap botol pengamatan tumbuh 2-3 pucuk daun. Diameter batang
semakin membesar, namun arah tumbuh batang menjadi menyamping
seperti mengikuti arah datangnya cahaya karena pada kangkung terdapat
hormon auksin. Hormon auksin lebih aktif pada sisi tumbuhan yang lebih
gelap, sementara pada sisi yang terkena cahaya aktivitas hormon auksin

tehambat atau tidak sama sekali. Akibat dari kecepatan tumbuh yang
berbeda itu, maka tumbuhan akan cenderung tumbuh melengkung ke arah
datangnya cahaya. Hal ini membuat batang-batang menjadi tidak kokoh.
Kemudian mulai tumbuh akar sekunder dan akar adventitif. Rata-rata
tinggi tanaman 25-30 cm, kecuali pada kangkung di botol pengamatan 1
yang patah. Khusus pada botol pengamatan nomor 1, batangnya patah, hal
ini dimungkinkan terdapat luka pada batang tersebut akibat bergesekan
dengan tutup botol pengamatan. Kemudian pada botol pengamatan 4,
terdapat daun yang berwarna kekuningan, yang bagian sisinya terdapat
bercak kecoklatan. Hal ini merupakan tanda bahwa kangkung sudahh
menunjukkan gejala defisiensi unsur fosfor. Namun pada bagian tulang
daun tetap berwarna hijau segar.
K. PENUTUP
1. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data dapat diambil
kesimpulan bahwa kekurangan unsur fosfor pada tumbuhan menyebabkan
tumbuhan tumbuh dengan ciri yang teramati pada daun yakni daun tua
menjadi keunguan dan cenderung kelabu. tepi daun menjadi cokelat,
tulang daun muda berwarna hijau gelap, pertumbuhan daun kecil, kerdil,
dan akhirnya rontok.
Selain itu, kalsium berperan dalam memperkuat dinding sel dan
sebagai aktivator berbagai enzim. Pospor, Sulfur dan Nitrogen, berperan
dalam pembentukan berbagai protein penting untuk metabolisme.
Besi dan Magnesium berperan dalam pembentukan klorofil untuk
fotosintesis. Jika kekeurangan salah satu unsur ini, maka tumbuhan akan
menunjukkan

gejala

divisiensi.

Sehingga

untuk

menghasilkan

pertumbuhan yang optimal maka harus diberikan nutrien yang lengkap pula.
2. Saran
Pada

pengamatan

selanjutnya

disarankan

untuk

dilakukan

penggantian larutan secara berkala, agar nutrisi yang terkandung tetap. Hal
tersebut dilakukan agar akurasi dalam pengamatan terjaga.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2015). Klasifikasi dan Ciri-ciri Morfologi Kangkung. Online. Tersedia:
http://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-ciri-ciri-morfologikangkung/ [13 Desember 2016]
Azzamy. (2016). Gejala Visual Kekurangan Defisiensi Unsur Hara pada
Tanaman. Online. Tersedia: http://mitalom.com/gejala-visualkekurangan-defisiensi-unsur-hara-pada-tanaman/ [13 Desember 2016]
Anonim. (2015). Gejala Kelebihan dan Kekurangan Unsur Hara Fosfor pada
Tanaman. Online. Tersedia: http://agroteknologi.web.id/gejalakelebihan-dan-kekurangan-unsur-hara-fosfor-pada-tanaman/
[13
Desember 2016]
Anonim. (2013). Mengenal Hidroponik Metode Kultur Air. Online. Tersedia:
http://kebunkita.net/mengenal-hidroponik-metode-kultur-air/
[13
Desember 2016]
Anonim. (2013). Hara dan Hubungannya dengan Tanaman. Online. Tersedia:
http://laborr-ilmu.blogspot.co.id/2013/02/hara-dan-hubungannyadengan-tanaman.html [13 Desember 2016]
Tim Fisiologi Tumbuhan. (2016). Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA-UPI.