Anda di halaman 1dari 3

Madu Hutan dan Gerakan Konservasi

Inisiatif Rakyat Ujung Kulon


oleh : Eman Sulaeman

Bumi cukup untuk semua umat, tidak untuk satu orang serakah

Tema konservasi saat ini menjadi hangat dalam dinamika internasional, sepertinya
masyarakat dunia telah menyadari bahwa krisis energi bagaikan kiamat bagi
keberlangsungan peradaban manusia. Eksploitasi atas sumber daya energi yang tak
terbaharui, serta dampak dari penggunaannya oleh sektor industri telah menyebabkan
terjadinya perubahan iklim bumi, bencana alam, ancaman makin terkikisnya daratan oleh
lelehan gunung es serta pencemaran lingkungan yang mempengaruhi kesehatan. Sepertinya
bumi sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi manusia, dengan tanpa ada pilihan
lain.

Menurut DepHutBun (2000), laju degradasi hutan di Indonesia mencapai rataan 1-1,5 juta
hektar yang sekaligus mengancam seluruh tipe habitat, dari hujan dataran rendah sampai
alpin dan menyebabkan penyusutan sebanyak 20% sampai 70%. Akibat lanjutannya adalah
fungsi lingkungan hutan yang mendukung kehidupan manusia terabaikan, beragam
kehidupan flora dan fauna yang membentuk mata rantai kehidupan yang bermanfaat bagi
manusia menjadi rusak dan hilang. Semua ini mengakibatkan timbulnya ketidakadilan dan
kesenjangan mengakses manfaat pembangunan bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Penyelenggaraan konfrensi internasional perubahan iklim yang diadakan di Bali beberapa


waktu yang lalu, merupakan bukti keresahan dunia internasional atas kondisi bumi yang
semakin memburuk. Banyak pihak yang menyatakan bahwa Negara industri maju adalah
pihak yang paling banyak memberikan andil atas kemerosotan kualitas lingkungan dan
perubahan iklim, karena eksploitasi sumber daya energi yang massif untuk memenuhi
kebutuhan sektor industri. Tuduhan tersebut diakui pula oleh Negara industri maju dengan
membangun komitmen memberikan konsesi kepada Negara berkembang yang masih
memiliki sumber daya hutan yang baik. Komitmen tersebut dibangun dalam bentuk jual beli
karbon, dimana Negara berkembang dengan sumber daya hutan yang baik diberikan konsesi
melalui dana hibah maupun hutang untuk mengelola hutannya.

Indonesia, sebagai Negara berkembang yang terlibat dalam kesepakatan jual-beli karbon
tersebut, berupaya untuk memenuhi kesepakatan internasional atas perlindungan hutannya.
Saat ini luas hutan konservasi di Indonesia telah meningkat 21,73%, yang menjadi
pertanyaan banyak pihak adalah apakah dengan massifnya upaya perluasan hutan konservasi
merupakan hal yang baik bagi rakyat dan bangsa ini atau hanya untuk memenuhi
kepentingan Negara industri maju saja ?
Paradigma Pengelolaan Hutan: Percayakan pengelolaan hutan pada Rakyat !

Jauh sebelum Negara mengelola hutan - baik hutan produksi maupun konservasi - ,
masyarakat lokal / adat telah lebih dahulu cakap dalam mengelola hutan untuk keseimbangan
alam hidup masyarakatnya. Paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat lokal / adat
jelas harus menjadi bagian dari partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan untuk
kepentingan bersama. D a n, Pemerintah harus berupaya melaksanakan tugas konservasi
dengan menggunakan paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat lokal / adat.

Seperti yang khalayak ketahui, kondisi hutan di negeri kita telah banyak yang kondisinya
rusak. Penyebab terbesarnya adalah karena adanya over eksplorasi sumber daya hutan untuk
memenuhi kebutuhan industri, konversi lahan hutan menjadi pertambangan, perkebunan, atau
objek transmigrasi, kebakaran hutan serta timber ekstraksion dan illegal logging. Beberapa
faktor penyebab kerusakan hutan tersebut yang terbesar adalah karena lemahnya penegakan
hukum dengan longgarnya pemberian konsesi pengusahaan sumber daya hutan yang tidak
terkontrol, korupsi aparatur negara dan kebijakan-kebijakan yang tumpang-tindih dengan
memberikan kemudahan bagi pengusaha besar. Maka menjadi tidak heran ketika Dephutbun
(2000) mengumumkan laju degradasi hutan di Indonesia mencapai rata-rata 1-1,5 juta Ha
yang mengancam seluruh tipe habitat hutan.

Sekali lagi, jauh sebelum negara ini berdiri dan membuat perundang-undangan mengenai
pengelolaan hutan, masyarakat lokal sekitar hutan telah lebih dahulu memiliki sistem
keyakinan lokal yang sangat ramah lingkungan. Ikatan kesejarahan masyarakat sekitar hutan,
telah menciptakan suatu sistem ketergantungan antara kehidupannya dengan sumber daya
hutan, menjaga dan merawat hutan bagi masyarakat lokal merupakan kewajiban yang diatur
dalam norma sosial mereka. Setidaknya hal tersebut masih terawat pula didalam kehidupan
masyarakat Ujung Kulon.

Ngala odeng, meulakan leuweung kolot (mengambil madu, menanami hutan)

Ketergantungan masyarakat Ujung Kulon terhadap sumber daya hutan telah menjadi
kesatuan yang utuh dari sistem sosio-ekologi masyarakat. Pengambilan madu di wilayah
hutan Ujung Kulon telah berlangsung lama secara turun-temurun untuk menambah
penghasilan keluarga disaat tidak mengelola lahan pertaniannya. Pertanian di Ujung Kulon
hanya bisa dikelola dikala musim penghujan, sedangkan madu hutan mulai dapat dipanen
disaat musim kemarau.

Melalui pendampingan dari PHMN, masyarakat Ujung Kulon yang biasa mengambil madu di
hutan mendapat pengetahun pola panen lestari madu hutan dan memperluas jejaring
pemasaran. Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) sebagai lembaga jaringan nasional
kelompok masyarakat pengelola madu hutan, telah banyak memberikan andil besar dalam
peningkatan kapasitas kelompok madu hutan di Ujung Kulon.
Pola panen lestari madu hutan, merupakan bentuk dari gerakan konservasi hutan yang
bersumber atas inisiatif rakyat. Kelompok madu hutan Ujung Kulon, saat ini memiliki aturan
kelompok, dimana setiap melakukan pemanenan madu hutan diharuskan untuk melakukan
penanaman tanaman nectar madu dan tanaman tempat sarang lebah. Pola pemanenan pun
dirubah untuk melindungi keberlangsungan koloni lebah madu hutan jenis Apis Dorsata atau
dengan nama lokal Odeng, dengan cara tidak mengambil anakan lebah dan menyisakan
sedikit bagian madu untuk makanan anakan lebah, sehingga koloni lebah diharapkan dapat
terus bertambah tingkat populasinya, mengingat populasi lebah jenis Apis Dorsata di dunia
ini terus menurun.

Melalui pengelolaan madu hutan ini, masyarakat Ujung Kulon diharapkan akan dapat
menunjukkan partisipasi konkritnya pada perlindungan kawasan hutan Taman Nasional
Ujung Kulon, memberikan udara segar bagi umat dunia...Amin