Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

HIV/ AIDS

Pembimbing:
dr. Ariadi Humardhani, Sp.PD

Disusun oleh:
Tri Ayu Octaviyani
1102011285

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam RSUD Pasar Rebo


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
2016
BAB 1
PENDAHULUAN
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit
yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus tersebut merusak sistem
kekebalan tubuh manusia, dengan akibat turunnya/hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah
terjangkit penyakit infeksi. Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada cairan
sperma, cairan vagina dan darah. Penularan terutama terjadi melalui hubungan seksual yang
tidak aman, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transplantasi
organ/jaringan dan penularan dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya (KPA 2007).

Berdasarkan laporan dari tahun ke tahun kasus AIDS menunjukkan trend peningkatan
yang terus - menerus. WHO (World Health Organization) pada akhir tahun 2009 menyatakan
33,3 juta orang hidup dengan HIV dan 1,8 juta orang meninggal karenanya. Diperkirakan
jumlah ini masih jauh lebih banyak lagi karena masih banyaknya kasus-kasus yang tidak
terdeteksi. HIV/AIDS sudah menjadi global effect dengan kecepatan penularan penyebaran yang
sangat pesat, diperkirakan 1 menit 5 orang tertular di seluruh dunia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi HIV/ AIDS

2.1.1

Definisi HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang system

kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel
- sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit
yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit.
Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel - sel darah
2

putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh
manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400 - 1500.
Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang
terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus
bisa sampai nol) (KPA, 2007c).
Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau retroviridae. Virus ini
secara material genetik adalah virus RNA yang tergantung pada enzim reverse transcriptase
untuk dapat menginfeksi sel mamalia, termasuk manusia, dan menimbulkan kelainan patologi
secara lambat. Virus ini terdiri dari 2 grup, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing grup
mempunyai lagi berbagai subtipe, dan masing-masing subtipe secara evolusi yang cepat
mengalami mutasi. Diantara kedua grup tersebut, yang paling banyak menimbulkan kelainan dan
lebih ganas di seluruh dunia adalah grup HIV-1 (Zein, 2006).
Secara struktural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi
pembungkus lemak yang melingkar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV
mempunyai 3 gen yang merupakan komponen fungsional dan struktural yaitu gag (group
antigen), pol (polymerase), dan env (envelope)

2.1.2

Definisi AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti

kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi
virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar
3

seperti kuman, virus,dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini,
sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2006).
HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam sel atau media
hidup. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke dalam kondisi AIDS, apalagi tanpa
pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini ditandai dengan adanya berbagai infeksi baik akibat
virus, bakteri, parasit maupun jamur. Keadaan infeksi ini yang dikenal dengan infeksi
oportunistik (Zein, 2006).

2.2

Epidemiologi
1. Situasi Global
Berbagai aspek budaya, sosial, dan perilaku yang berbeda menentukan
karakteristik penyakit HIV di setiap daerah. Angka seroprevalensi di antara pengguna
obat suntik sangat bervariasi di seluruh dunia, namun epidemi terkini terjadi di Eropa
bagian timur, Rusia, dan India bagian utara.

Tabel 1. Jumlah orang yang hidup dengan HIV tahun 2008

Tabel 2. Epidemiologi HIV/AIDS di Asia

2. Situasi Nasional
Sejak ditemukannya kasus AIDS pertama di Indonesia pada tahun 1987,
perkembangan jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Indonesia datri tahun ke
tahun secara kumulatif cenderung meningkat. Pada tahun 2006 Ditjen PP & PL Depkes
RI mengadakan kegiatan estimasi populasi rawan tertular HIV dengan hasil sebagai
berikut:

Tabel 3. Estimasi Populasi Rawan Tertular HIV Tahun 2006

Pada April 2009, jumlah penderita HIV dan AIDS di Provinsi Sumatera Utara
berjumlah 1680 (AIDS 872+HIV808), dengan kasus terbanyak pada kota Medan dengan
jumlah 581 penderita AIDS dan HIV 600 orang, menyusul Deli Serdang berjumlah 142
(HIV 76+AIDS 66) penderita. Jumlah penderita AIDS yang meninggal di Provinsi
Sumatera Utara yang dilaporkan berjumlah 124 orang sampai dengan April 2009.

2.3

Etiologi
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human

Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawankawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV),
sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas
kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama virus dirubah menjadi HIV.
Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang
asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel
target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus
HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus
6

yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus
dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat
ditularkan selama hidup penderita tersebut.
Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian
selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic
Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis protein. Bagian selubung terdiri atas lipid
dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang
rentan. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk
virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah
dimatikan dengan berbagai desinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan
sebagainya, tetapi relatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.
Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV
dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak

2.4

Patogenesis
Virus HIV termasuk kedalam famili Retrovirus sub famili Lentivirinae. Virus famili ini

mempunyai enzim yang disebut reverse transcriptase. Enzim ini menyebabkan retrovirus mampu
mengubah informasi genetiknya kedalam bentuk yang terintegrasi di dalam informasi genetik
dari sel yang diserangnya. Jadi setiap kali sel yang dimasuki retrovirus membelah diri, informasi
genetik virus juga ikut diturunkan.
Virus HIV akan menyerang Limfosit T yang mempunyai marker permukaan seperti sel
CD4+, yaitu sel yang membantu mengaktivasi sel B, killer cell, dan makrofag saat terdapat
antigen target khusus. Sel CD4+ adalah reseptor pada limfosit T yang menjadi target utama HIV.
HIV menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, sampul
HIV yang mempunyai efek toksik akan menghambat fungsi sel T. secara tidak langsung, lapisan
luar protein HIV yang disebut sampul gp120 dan anti p24 berinteraksi dengan CD4+ yang
kemudian akan menghambat aktivasi sel yang mempresentasikan antigen.

Setelah HIV mengifeksi seseorang, kemudian terjadi sindrom retroviral akut semacam flu
disertai viremia hebat dan akan hilang sendiri setelah 1-3 minggu. Serokonversi (perubahan
antibodi negatif menjadi positif) terjadi 1-3 bulan setelah infeksi. Pada masa ini, tidak ada
dijumpai tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat serta test HIV belum
bisa mendeteksi keberadaan virus ini, tahap ini disebut juga periode jendela (window periode).
Kemudian dimulailah infeksi HIV asimptomatik yaitu masa tanpa gejala. Dalam masa ini terjadi
penurunan CD4+ secara bertahap. Mula-mula penurunan jumlah CD4+ sekitar 30-60 sel/tahun,
tetapi pada 2 tahun berikutnya penurunan menjadi cepat, 50-100 sel/tahun, sehingga tanpa
pengobatan, rata-rata masa dari infeksi HIV menjadi AIDS adalah 8-10 tahun, dimana jumlah
CD4+ akan mencapai <200 sel/L.

Dalam tubuh ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), partikel virus bergabung dengan DNA
sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi.
Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun
pertama, 50% berkembang menjadi penderita AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun
hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal.
Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan
perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap.
Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh, ODHA mulai menampakkan
gejala akibat infeksi opurtunistik seperti penurunan berat badan, demam lama, pembesaran
kelenjar getah bening, diare, tuberkulosis, infeksi jamur, herpes, dll. Infeksi oportunistik dapat
8

terjadi karena para pengidap HIV terjadi penurunan daya tahan tubuh sampai pada tingkat yang
sangat rendah. Virus HIV ini yang telah berhasil masuk kedalam tubuh seseorang, juga akan
menginfeksi berbagai macam sel, terutama monosit, makrofag, sel-sel mikroglia di otak, sel-sel
hobfour plasenta, sel-sel dendrit pada kelenjar limfa, sel-sel epitel pada usus, dan sel Langerhans
di kulit. Efek dari infeksi pada sel mikroglia di otak adalah encefalopati dan pada sel epitel usus
adalah diare kronis.

2.4

Determinan HIV/AIDS
a. Faktor Host
Infeksi HIV/AIDS saat ini telah mengenai semua golongan masyarakat, baik
kelompok risiko tinggi maupun masyarakat umum. Kelompok masyarakat yang
mempunyai risiko tinggi adalah pengguna narkoba suntik (Injecting Drug Use),
kelompok masyarakat yang melakukan promiskuitas (hubungan seksual dengan
banyak mitraseksual) misalnya WPS (wanita penjaja seks), dari satu WPS dapat
menular ke pelanggan - pelanggannya selanjutnya pelanggan - pelanggan WPS
tersebut dapat menularkan kepada istri atau pasangannya. Laki-laki yang berhubungan
seks dengan sesamanya atau lelaki seks lelaki (LSL).Narapidana dan anak-anak
jalanan, penerima transfusi darah, penerima donor organ tubuh dan petugas pelayan
kesehatan juga mejadi kelompok yang rawan tertular HIV.
Berdasarkan data Ditjen PP & PL Depkes RI (2009), rasio kasus AIDS antara
laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Proporsi penularan HIV/AIDS melalui hubungan
heteroseksual sebesar 50,3%, IDU 40,2%, Lelaki Seks Lelaki (LSL) 3,3%, perinatal
2,6%, transfusi darah 0,1% dan tidak diketahui penularannya 3,5%. Risiko penularan
dari suami pengidap HIV ke istrinya adalah 22% dan istri pengidap HIV ke suaminya
adalah 8%.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan infeksi HIV menjadi
AIDS adalah usia pada saat infeksi. Orang yang terinfeksi HIV pada usia muda,
biasanya lambat menderita AIDS, dibandingkan jika terinfeksi pada usia lebih tua.
9

Dalam Adisasmito (2007), risiko transmisi transplasental yaitu transmisi dari ibu
kepada bayi/janinnya saat hamil atau saat melahirkan adalah 50%, yaitu apabila
seorang ibu pengidap HIV melahirkan anak, maka kemungkinan anak itu terlular HIV.
Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan
melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya 1%.
Petugas kesehatan yang terluka oleh jarum suntik atau benda tajam lainnya yang
mengandung darah yang terinfeksi virus HIV, mereka dapat menderita HIV/AIDS,
angka serokonversi mereka <0,5%.
b. Faktor Agent
Virus HIV secara langsung maupun tidak langsung akan menyerang sel CD4+.
Infeksi HIV akan menghancurkan sel-sel T, sehingga menggangu sel-sel efektor imun
yang lainnya, daya tahan tubuh menurun sehingga orang yang terinfeksi HIV akan jatuh
kedalam stadium yang lebih lanjut.
Selama infeksi primer jumlah limfosit CD4+ dalam darah menurun dengan cepat.
Target virus ini adalah limfosit CD4+ pada nodus limfa dan thymus, yang membuat
individu yang terinfeksi akan terkena infeksi opurtunistik. Jumlah virus HIV yang masuk
sangat menentukan penularan, penurunan jumlah sel limfosit T berbanding terbalik
dengan jumlah virus HIV yang ada dalam tubuh.
AIDS adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya karena mempunyai Case
Fatality Rate 100% dalam lima tahun, artinya dalam waktu lima tahun setelah diagnosis
AIDS ditegakkan, semua penderita akan meninggal. Proporsi kasus AIDS yang
dilaporkan telah meninggal di Indonesia hingga Desember 2009 adalah 19,3%.
c. Faktor Environment
Menurut data UNAIDS (2009), dalam survei yang dilakukan di negara bagian
Sub-Sahara Afrika antara tahun 2001 dan 2005, prevalensi HIV lebih tinggi di daerah
perkotaan daripada di daerah pedesaan, dengan rasio prevalensi HIV di kota : pedesaan
yaitu 1,7:1. Misalnya di Ethiopia, orang yang tinggal di areal perkotaan 8 kali lebih
mudah terinfeksi HIV dari pada orang-orang yang tinggal di pedesaan.
10

Penelitian Silverman, dkk (2006) desain Case records di Mumbai, pada 175 orang
perempuan korban perdagangan seks di rumah pelacuran di India, 54,3% diantaranya
berasal dari India, 29,7% berasal dari Nepal, 4% berasal dari Bangladesh dan 12% tidak
diketahui asalnya. Dari 28,4% perempuan India korban perdagangan seks yang positif
HIV, perempuan yang berasal dari Kota Karnataka dan Maharashtra lebih mungkin
terinfeksi HIV daripada perempuan yang berasal dari Kota Bengal Barat dengan Odds
Ratio (OR) 7,35. Hal ini dikarenakan Kota Karnataka dan Maharashtra merupakan daerah
dengan prevalensi HIV yang tinggi. Jadi perempuan korban perdagangan seks yang
berasal dari daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi kemungkinan untuk telah
terinfeksi HIV sebelumnya lebih besar

2.5

Transmisi HIV/ AIDS


Transmisi HIV/AIDS terjadi melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV yaitu

melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual, jarum suntik pada
pengguna narkotika, transfusi komponen darah dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang
dilahirkannya. Oleh karena itu kelompok risiko tinggi terhadap HIV/AIDS dapat diketahui,
misalnya pengguna narkotika, pekerja seks komersial dan pelanggannya, serta narapidana.
2.5.1. Transmisi Seksual
Transmisi HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan
vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran
mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko
daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih
besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Kekerasan seksual secara umum
meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan
sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memuda hkan transmisi HIV.
Cara hubungan seksual ano-genital merupakan perilaku seksual dengan risiko
tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitraseksual yang pasif menerima ejakulasi
semen dari seorang pengidap HIV. Hal ini disebabkan karena tipisnya mukosa rektum
11

sehingga mudah sekali mengalami perlukaan saat berhubungan seksual ano-genital.


Risiko perlukaan ini semakin bertambah apabila terjadi perlukaan dengan tangan (fisting)
pada anus/rektum. Tingkat risiko kedua adalah hubungan oro-genital termasuk menelan
semen dari mitra seksual pengidap HIV. Tingkat risiko ketiga adalah hubungan genitogenital/hetero seksual, biasanya terjadi pada hubungansuami istri yang salah seorang
telah mengidap HIV
2.5.2

Transmisi Non Seksual


HIV dapat menular melalui transmisi parenteral yaitu akibat penggunaan jarum
suntik dan alat tusuk lainnya seperti alat tindik yang terkontaminasi HIV. Penggunaan
jarum suntik yang berganti-gantian menyebabkan tingginya kasus HIV/AIDS pada
kelompok pengguna napza suntik (IDU). Pada umumnya, ibukota dan kota-kota
metropolitan mempunyai jumlah penggu na napza suntik yang besar. 8 Di negara
berkembang, cara ini juga terjadi melalui jarum suntik yang dipakai oleh petugas
kesehatan. Berbagi dan menggu nakan kembali jarum suntik yang mengandung darah
yang terkontaminasi merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV.
Transmisi parenteral lainnya adalah melalui donor/transfusi darah yang
mengandung HIV. Risiko tertular infeksi HIV lewat transfusi darah adalah >90%, artinya
bila seseorang mendapat transfusi darah yang terkontaminasi HIV maka dapat dipastikan
orang tersebut akan menderita HIV sesudah transfusi itu. Di negara maju resiko
penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil, hal ini dikarenakan pemilihan
donor yang semakin bertambah baik dan pengamatan HIV telah dilakukan. Namun
demikian, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman.
Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa
perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan.
HIV tidak menular melalui peralatan makanan, pakaian, handuk, sapu tangan,
toilet yang dipakai secara bersama-sama, ciuman pipi, berjabat tangan, hidup serumah
dengan penderita HIV yang buka n mitra seksual dan hubungan sosial lainnya. Air susu
ibu pengidap HIV, saliva/air liur, air mata, urin serta gigitan nyamuk belum terbukti dapat
menularkan HIV/AIDS.
12

Transmisi melalui darah atau produk darah


Transmisi dapat melalui hubungan seksual (terutama homseksual) dan dari suntikan
darah yang terinfeksi atau produk darah. Diperkirakan bahwa 90 sampai 100% orang
yang mendapat transfusi darah yang tercemar HIVakan mengalami infeksi. Suatu
penelitian di Amerika Serikat melaporkan risiko infeksi HIV-1 melalui transfusi darah
dari donor yang terinfeksi HIV berkisar antara 1 per 750.000 hingga 1 per 835.000.
Pemeriksaan antibodi HIV pada donor darah sangat mengurangi transmisi melalui
transfusi darah dan produk darah (contoh, konsentrasi faktor VIII yang digunakan
untuk perawatan hemofolia)
Transmisi secara vertikal
Transmisi secara vertikal dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV kepada janinnya
sewaktu hamil , persalinan, dan setelah melahirkan melalui pemberian Air Susu Ibu
(ASI). Angka penularan selama kehamilan sekitar 5-10%, sewaktu persalinan 1020%, dan saat pemberian ASI 10-20%. Di mana alternatif yang layak tersedia, ibu-ibu
positif HIV-1 tidak boleh menyusui bayinya karena ia dapat menambah penularan
perinatal. Selama beberapa tahun terakhir, ditemukan bahwa penularan HIV perinatal
dapat dikaitkan lebih akurat dengan pengukuran jumlah RNA-virus di dalam plasma.
Penularan vertikal lebih sering terjadi pada kelahiran preterm, terutama yang
berkaitan dengan ketuban pecah dini.
Potensi transmisi melalui cairan tubuh lain
Walaupun air liur pernah ditemukan dalam air liur pada sebagian kecil orang yang
terinfeksi, tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa air liur dapat menularkan infeksi
HIV baik melalui ciuman biasa maupun paparan lain misalnya sewaktu bekerja bagi
petugas kesehatan. Selain itu, air liur dibuktikan mengandung inhibitor terhadap
aktivitas HIV. Demikian juga belum ada bukti bahwa cairan tubuh lain misalnya air
mata, keringat dan urin dapat merupakan media transmisi HIV (Nasronudin, 2007).
Transmisi pada petugas kesehatan dan petugas laboratorium
Berbagai penelitian multi institusi menyatakan bahwa risiko penularan HIV setelah
13

kulit tertusuk jarum atau benda tajam lainnya yang tercemar oleh darah seseorang
yang terinfeksi HIV adalah sekitar 0,3% sedangkan risiko penularan HIV ke
membran mukosa atau kulit yang mengalami erosi adalah sekitara 0,09%. Di rumah
sakit Dr. Sutomo dan rumah sakit swasta di Surabaya, terdapat 16 kasus kecelakaan
kerja pada petugas kesehatan dalam 2 tahun terakhir. Pada evaluasi lebih lanjut tidak
terbukti terpapar HIV (Nasronudin).
2.6 Klasifikasi Klinis
Tabel 4. Klasifikasi Klinis Infeksi HIV pada dewasa

14

Tabel 5. Klasifikasi Klinis dan CD4 orang dewasa menurut CDC

15

2.7 Manifestasi Klinis


Tanda-tanda gejala-gejala (symptom) secara klinis pada seseorang penderita AIDS
adalah diidentifikasi sulit karena symptomasi yang ditunjukan pada umumnya adalah
bermula dari gejala-gejala umum yang lazim didapati pada berbagai Penderita penyakit
lain, namun secara umum dapat kiranya dikemukakan sebagai berikut :
a. Rasa lelah dan lesu
b. Berat badan menurun secara drastis
c. Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam
d. Mencret dan kurang nafsu makan
e. Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut
f.

Pembengkakan leher dan lipatan paha

g. Radang paru
h. Kanker kulit
Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS pada umumnya ada 2 hal antara
lain tumor dan infeksi oportunistik :
a. Manifestasi tumor diantaranya;
1) Sarkoma kaposi ;
kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Frekuensi kejadiannya 36-50%
biasanya

terjadi

pada

kelompok

homoseksual,

dan

jarang terjadi pada

heteroseksual serta jarang menjadi sebab kematian primer.


2) Limfoma ganas ;
terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang syaraf, dan bertahan kurang lebih
1 tahun.
b. Manifestasi Oportunistik diantaranya
1) Manifestasi pada Paru

Pneumonia Pneumocystis (PCP)


Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru PCP
dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan demam.
16

Cytomegalo Virus (CMV)


Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi
dapat menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan

penyebab kematian

pada 30% penderita AIDS.

Mycobacterium Avilum
Menimbulkan

pneumoni

difus,

timbul

pada

stadium

akhir

dan

sulit

disembuhkan.

Mycobacterium Tuberculosis
Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi miliar dan cepat
menyebar ke organ lain diluar paru.

2) Manifestasi pada Gastroitestinal


Tidak ada nafsu makan, diare khronis, berat badan turun lebih 10% per bulan.
c. Manifestasi Neurologis
Sekitar 10% kasus AIDS nenunjukkan manifestasi Neurologis, yang biasanya timbul
pada fase akhir penyakit. Kelainan syaraf yang umum adalah ensefalitis, meningitis,
demensia, mielopati dan neuropari perifer
Gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase, yang mencerminkan dinamika
interaksi antara HIV dan sistem imun :
1. Fase akut.
Fase ini ditandai dengan gejala nonspesifik yaitu nyeri tenggorok, mialgia,
demam, ruam dan kadang-kadang meningitis aseptic. Pada fase ini terdapat produksi
virus dalam jumlah yang besar, viremia dan persemaian yang luas pada jaringan
limfoid perifer, yang secara khas disertai dengan berkurangnya sel T CD4+.
Segera setelah hal itu terjadi, muncul respon imun yang spesifik terhadap virus,
yang dibuktikan melalui serokonversi (biasanya dalam rentang waktu 3 hingga 17
minggu setelah pajanan) dan melalui munculnya sel T sitotoksik CD8+ yang spesifik
17

terhadap virus. Setelah viremia mereda, sel T CD4+ kembali mendekati jumlah
normal. Namun, berkurangnya jumlah virus dalam plasma bukan merupakan penanda
berakhirnya replikasi virus, yang akan terus berlanjut di dalam makrofag dan sel T
CD4+ jaringan.
2. Fase kronis
Fase kronis menunjukan tahap penahanan relatif virus. Pada fase ini,
sebagian besar sistem imun masih utuh, tetapi replikasi virus berlanjut hingga
beberapa

tahun.

Para

pasien

tidak

menunjukkan

gejala

ataupun

menderita

limfadenopati persisten dan banyak penderita yang mengalami infeksi opotunistik ringan,
seperti sariawan. Replikasi virus dalam jaringan limfoid terus berlanjut. Pergantian
virus yang meluas akan disertai dengan kehilangan CD4+ yang berlanjut. Namun,
karena kemampuan regenerasi sistem imun yang besar, sel CD4+ akan tergantikan dalam
jumlah

yang

besar. Setelah

melewati

periode

yang

panjang

dan

beragam,

pertahanan pejamu mulai menurun dan jumlah CD4+ mulai menurun, dan jumlah
CD4+ hidup yang terinfeksi oleh HIV semakin meningkat
3. Fase kritis
Tahap terakhir ini ditandai dengan kehancuran pertahanan pejamu yang
sangat merugikan, peningkatan viremia yang nyata, serta penyakit klinis. Para
pasien khasnya akan mengalami demam lebih dari 1 bulan, mudah lelah,
penurunan berat badan, dan diare; jumlah sel CD4+ menurun di bawah 500
sel/L. Setelah adanya interval yang berubah-ubah, para pasien mengalami infeksi
oportunistik yang serius, neoplasma sekunder dan atau manifestasi neurologis
(disebut

dengan

kondisi yang

menentukan AIDS).

Jika

kondisi

lazim

yang

menentukan AIDS tidak muncul, pedo man CDC yang digunakan saat ini
menentukan bahwa seseorang yang terinfeksi HIV dengan jumlah sel CD4+ kurang
atau sama dengan 200 sel/L sebagai pengidap AIDS. Hampir semua orang yang
terinfeksi HIV, jika tidak diterapi, akan berkembang menimbulkan gejala-gejala yang
berkaitan dengan HIV atau AIDS.

18

2.8 Diagnosis HIV/AIDS


Menurut Barakbah et al (2007) karena banyak negara berkembang, yang belum
memiliki fasilitas pemeriksaan serologi maupun antigen HIV yang memadai, maka
WHO menetapkan kriteria diagnosis AIDS sebagai berikut:
Dewasa
Definisi kasus AIDS dicurigai bila paling sedikit mempunyai 2 gejala mayor dan 1
gejala minor dan tidak terdapat sebab-sebab penekanan sistem imun lain yang diketahui, seperti
kanker, malnutrisis berat atau sebab-sebab lainnya.
Gejala Mayor :

Penurunan berat badan > 10% berat badan per bulan.


Diare kronis lebih dari 1 bulan
Demam lebih dari 1 bulan.

Gejala Minor

Batuk selama lebih dari 1 bulan.


Pruritus dermatitis menyeluruh.
Infeksi umum yang rekuren, misalnya herpes zoster.
Kandidiasis orofaringeal.
Infeksi herpes simpleks kronis progresif atau yang meluas.
Limfadenopati generalisata.
Adanya Sarkoma Kaposi meluas atau meningitis cryptococcal sudah cukup untuk

menegakkan AIDS.
Anak
Definisi kasus AIDS terpenuhi bila ada sedikitnya 2 tanda mayor dan 2 tanda
minor dan tidak terdapat sebab-sebab penekanan imun yang lain yang diketahui, seperti
kanker, malnutrisi berat atau sebab-sebab lain.
Gejala Mayor :

Berat badan turun atau pertumbuhan lambat yang abnormal


Diare kronis lebih dari 1 bulan
Demam lebih dari 1 bulan.

Gejala Minor :

Limfadenopati generalisata
Kandidiasis orofaringeal
Infeksi umum yang rekuren
Batuk - batuk selama lebih dari 1 bulan
Ruam kulit yang menyeluruh
19

Tabel 6. Gejala Mayor dan Minor pada Pasien HIV/AIDS

Pemeriksaan Infeksi HIV/ AIDS


Pada daerah di mana tersedia laboratorium pemeriksaan anti-HIV, penegakan diagnosis
dilakukan melalui pemeriksaan serum atau cairan tubuh lain (cerebrospinal fluid) penderita.
1. Diagnosis
a. ELISA (enzyme-linked immunoabsorbent assay)
Tes skrining yang digunakan untuk mendiagnosis HIV adalah ELISA (enzyme linked immunoabsorbent assay). Untuk mengidentifikasi antibodi terhadap HIV, tes
ELISA sangat sensitif, tapi tidak selalu spesifik, karena penyakit lain juga bisa
menunjukkan hasil positif sehingga menyebabkan false positif, diantaranya penyakit
autoimun ataupun karena infeksi. Sensivitas ELISA antara 98,1% -100% dan dapat
mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV dalam darah.
b. Western Blot
Western Blot memiliki spesifisitas (kemampuan test untuk menemukan orang
yang tidak mengidap HIV) antara 99,6% - 100%. Namun pemeriksaannya cukup
sulit, mahal dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Tes Western Blot mungkin juga
tidak bisa menyimpulkan seseorang menderita HIV atau tidak. Oleh karena itu, tes
harus diulangi setelah dua minggu dengan sampel yang sama. Jika test Western Blot

20

tetap tidak bias disimpulkan, maka test Western Blotharus diulangi lagi setelah 6
bulan.
c. PCR (Polymerase chain reaction)
PCR untuk DNA dan RNA virus HIV sangat sensitif dan spesifik untuk infeksi
HIV. Tes ini sering digunakan bila hasil tes yang lain tidak jelas. Diagnosis infeksi
HIV & AIDS dapat ditegakkan berdasarkan klasifikasi klinis WHO dan atau CDC. Di
Indonesia diagnosis AIDS untuk keperluan surveilans epidemiologi dibuat bila
menunjukkan tes HIV positif dan sekurang-kurangnya didapatkan dua gejala mayor
dan satu gejala minor.
Salah satu cara penentuan serologi HIV yang dianjurkan adalah ELISA, mempunyai
sensitivitas 93 - 98% dengan spesifitas 98 - 99%. Pemeriksaan serologi HIV sebaiknya
dilakukan dengan 3 metode berbeda. Dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih
spesifik Western blot.
Tes serologi standar terdiri dari EIA dan diikuti konfirmasi WB. Melalui WB
dapat ditentukan antibodi terhadap komponen protein HIV yang meliputi inti (p17, p24,
p55), polimerase (p31, p51, p66), dan selubung (envelope) HIV (gp41, gp120, gp160).
Bila memungkinkan pemeriksaan WB selalu dilakukan karena tes penapisan melalui EIA
terdapat potensi false positif 2%. Interpretasi WB meliputi:

a. Negatif
b. Positif
c. Indeterminate

: tidak ada bentukan pita


: reaktif terhadap gp120/160 dan gp41 atau p24
: terdapat berbagai pita tetapi tidak memenuhi kriteria hasil positif.

Akurasi pemeriksaan serologi standar (EIA dan WB atau immunoflourescent


assay) sensitivitas dan spesifitasnya mencapai > 98%.

2.9 Penatalaksanaan Klinis Infeksi HIV/AIDS


a) Penatalaksanaan Umum

21

Istirahat, dukungan nutrisi yang memadai berbasis makronutrien dan mikronutrien


untuk penderita HIV&AIDS, konseling termasuk pendekatan psikologis dan psikososial,
membiasakan gaya hidup sehat antara lain membiasakan senam.
b) Penatalaksanaan Khusus
Pemberian antiretroviral therapy (ART) kombinasi, terapi infeksi sekunder sesuai
jenis infeksi yang ditemukan, terapi malignansi.

Secara umum, penatalaksanaan ODHA terdiri dari beberapa jenis, yaitu:


1. Pengobatan untuk menekan replikasi HIV dengan obat anti retroviral (ARV).
2. Pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi dan kanker yang
menyertai infeksi HIV/AIDS seperti jamur, tuberkulosis, hepatitis, sarkoma
kaposi, limfoma, kanker serviks.
3. Pengobatan suportif, yaitu makanan yang mempunyai nilai gizi lebih baik dan
pengobatan pendukung lain seperti dukungan psikososial dan dukungan agama
serta tidur yang cukup dan menjaga kebersihan.

Terapi Antiretroviral
Antiretroviral therapy ditemukan pada tahun 1996 dan mendorong suatu
evolusi dalam perawatan penderita HIV/AIDS. Replikasi HIV sangat cepat dan terusmenerus sejak awal infeksi, sedikitnya terbentuk 10 miliar virus setiap hari. Namun
karena waktu paruh virus bebas (virion) sangat singkat maka sebagian besar virus
akan mati. Penurunan CD4 menunjukkan tingkat kerusakan sistem kekebalan tubuh
yang disebabkan oleh HIV. Pemeriksaan CD4 ini berguna untuk memulai, mengontrol
dan mengubah regimen ARV yang diberikan.
Pemberian ARV tidak serta merta segera diberikan begitu saja pada penderita
yang dicurigai, tetapi perlu menempuh langkah-langkah yang arif dan bijaksana, serta
22

mempertimbangkan berbagai faktor; dokter telah memberikan penjelasan tentang


manfaat, efek samping, resistensi dan tata cara penggunaan ARV, kesanggupan dan
kepatuhan penderita mengkonsumsi obat dalam waktu yang tidak terbatas; serta saat yang
tepat untuk memulai terapi ARV.
Tabel 6. Rekomendasi memulai terapi antiretroviral penderita dewasa menurut WHO

Obat anti retroviral terdiri dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse
transcriptase inhibitor, nleotide reverse transcriptase inhibitor, non-nucleoside reverse
transcriptase inhibitor, dan inhibitor protease. Saat ini regimen pengobatan anti retroviral
yang dianjurkan WHO adalah kombinasi dari 3 obat ARV. Terdapat beberapa regimen
yang dapat dipergunakan dengan keunggulan dan kerugian masing-masing. Kombinasi
ARV lini

pertama

yang

umumnya digunakan

di

Indonesia adalah kombinasi

zidovudin(ZDV), lamivudin (3TC), dengan nevirapin (NVP)

Tabel 8. Kombinasi ART untuk terapi inisial

23

*Tidak dianjurkan wanita hamil trimester pertama/wanita yang berpotensi tinggi hamil

Tabel 9. Dosis ARV untuk penderita HIV/AIDS dewasa

24

Tabel 10.Toksisitas utama pada pada regimen lini pertama dan anjuran obat penggantinya

25

26

Tabel 11. Definisi Kegagalan Terapi secara klinis dan kriteria CD4 pada ODHA dewasa

Obat ARV juga diberikan pada beberapa kondisi khusus seperti pengobatan profilaksis
pada orang yang terpapar dengan cairan tubuh yang mengandung

HIV

(post

exposure

prophylaxis). Selain itu juga digunakan untuk pencegahan penularan dari ibu ke bayi.
Faktor yang harus diperhatikan dalam memilih regimen ART baik di tingkat program
ataupun tingkat individual :

Efika si obat
Profil efek samping obat
Persyaratan pemantauan laboratorium
Kemungkinan kesinambungan sebagai pilihan obat di masa depan
Antisipasi kepatuhan oleh pasien
27

Kondisi penyakit penyerta


Kehamilan dan risikonya
Penggunaan obat lain secara bersamaan
Infeksi strain virus lain yang berpotensi meningkatkan resistensi terhadap satu

atau lebih ART.


Ketersediaan dan harga ART.

2.9 Pencegahan
1. Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat
atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang paling
penting, terutama dalam merubah perilaku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara
lain :
a. Pencegahan dilakukan dengan tindakan seks yang aman dengan pendekatan
ABC yaitu, Abstinence, artinya absen seks ataupun tidak melakukan hubungan
seks bagi orang yang belum menikah merupakan metode paling aman untuk
mencegah penularan HIV/AIDS

melalui hubungan seksual, jika tidak

memungkinkan pilihan kedua adalah Be Faithful, artinya tidak berganti-ganti


pasangan. Jika kedua hal tersebut tidak memungkinkan juga, maka pilihan
berikutnya adalah penggunaan kondom secara konsisten.
b. Berhenti menjadi pengguna NAPZA terutama narkotika suntikan, atau
mengusahakan agar selalu menggu nakan jarum suntik yang steril serta tidak
mengunakannya secara bersama-sama.
c. Di sarana pelayanan kesehatan harus dipahami dan diterapkan kewaspadaan
universal (universal precaution) untuk mengurangi risiko penularan HIV
melalui darah. Kewaspadaan universal ini meliputi cuci tangan dengan sabun
dan air mengalir sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan,
penggunaan alat pelindung yang sesuai untuk setiap tindakan, pengelolaan dan
pembuangan alat tajam secara hati-hati, pengelolaan alat kesehatan bekas

28

pakai dengan melakukan dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi dengan


benar.
d. Pencegahan penyebaran melalui darah dan donor darah dilakukan dengan
skrining adanya antibodi HIV, demikian pula semua organ yang akan
didonorkan, serta menghindari transfusi, suntikan, jahitan dan tindakan inva
sif lainnya yang kurang perlu.
e. WHO mencanangkan empat strategi untuk mencegah penularan vertikal dari
ibu kepada anak yaitu dengan cara mencegah jangan sampai wanita terinfeksi
HIV/AIDS, apabila sudah terinfeksi HIV/AIDS mengusahakan supaya tidak
terjadi kehamilan, bila sudah hamil dilakukan pencegahan supaya tidak
menular dari ibu kepada bayinya dan bila sudah terinfeksi diberikan dukungan
serta perawatan bagi ODHA dan keluarganya
2. Pencegahan Sekunder
Infeksi HIV/AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif
sehingga muncul berbagai infeksi opurtunistik yang akhirnya dapat berakhir pada
kematian. Sementara itu, hingga saat ini belum ditemuka n obat maupu n vaksin yang
efektif. sehingga pengobatan HIV/AIDS dapat dibagi dalam tiga kelompok sebagai
berikut :
a. Pengobatan

suportif

yaitu

pengobatan

untuk

meningkatkan

keadaan

umum

penderita. Pengobatan ini terdiri dari pemberian gizi yang baik, obat simptomatik dan
pemberian vitamin.
b. Pengobatan infeksi opurtunistik merupakan pengobatan untuk mengatasi berbagai
penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. Jenis-jenis mikroba
yang menimbulkan
Toxoplasma,

dan

infeksi sekunder adalah protozoa (Pneumocystis carinii,


Cryptotosporidium),

cytomegalovirus/CMV,

Papovirus)

jamur
dan

(Kandidiasis),

bakteri

virus

(Mycobacterium

(Herpes,
TBC,

Mycobacterium ovium intra cellular, Streptococcus, dll). Penanganan terhadap


infeksi opurtunistik ini disesuaikan dengan jenis mikroorganisme penyebabnya dan
diberikan terus-menerus.

29

c. Pengobatan antiretroviral (ARV)


ARV bekerja langsung menghambat

enzim

reverse transcriptase atau

menghambat kinerja enzim protease. Pengobatan ARV terbukti bermanfaat memperbaiki


kualitas hidup, menjadikan infeksi opurtunistik menjadi

jarang

dan

lebih

mudah

diatasi sehingga menekan morbiditas dan mortalitas dini, tetapi ARV belum dapat
menyembuhkan pasien HIV/AIDS ataupun membunuh HIV.
3. Pencegahan Tersier
Orang yang di diagnosis HIV biasanya banyak menerima diskriminasi saat
membutuhkan pengobatan HIV ataupun bantuan dari fasilitas rehabilitasi obat, selain itu
juga dapat mendatangkan trauma emosi yang mendalam bagi keluarganya. ODHA perlu
diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan
aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin. Misalnya :
Memperbolehkannya
untuk
membicarakan

hal-hal

tertentu

dan

mengungkapkan perasaannya
Membangkitkan harga dirinya

atau mengenang masa lalu yang indah


Menerima perasaan marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya
Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengendalikan

diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain


Selain itu perlu diberikan perawatan paliatif (bagi pasien yang tidak dapat
disembuhkan

atau

sedang

dengan

dalam

tahap

melihat

keberhasilan

terminal)

yang

hidupnya

mencakup

pemberian kenyamanan (seperti relaksasi dan distraksi, menjaga pasien tetap


bersih dan kering, memberi toleransi maksimal terhadap permintaan pasien
atau keluarga), pengelolaan nyeri (bisa dilakukan dengan teknik relaksasi,
pemijatan, distraksi, meditasi, maupun pengobatan antinyeri), persiapan
menjelang kematian meliputi penjelasan yang memadai tentang keadaan
penderita, dan bantuan mempersiapkan pemakaman

2.10 Prognosis

30

Sebagian besar HIV/AIDS berakibat fatal. Sekitar 75% pasien yang didiagnosis AIDS
meninggal tiga tahun kemudian. Penelitian melaporkan ada 5% kasus pasien terinfeksi HIV
yang tetap sehat secara klinis dan imunologis.

DAFTAR PUSTAKA

31

1. Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan


pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series
2. Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series
3. Health, Directorate General of Disease Control and Environmental Health. Available at
the Data Hub for Asia-Pacific (supported by UNAIDS, UNICEF, WHO, ADB HIV and
AIDS): http://aidsdatahub.org/en/country-profiles/indonesia Accessed 9 August 2012
4. Ministry of Health (2008): Mathematic Model of HIV Epidemic in Indonesia, 2008-2014.
Jakarta: Ministry of Health. Cited in Indonesian National AIDS Commission (2012)
5. Ministry of Health (2011): Laporan Nasional: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010,
Jakarta: Ministry of Health, National Institute of Health Research and Development

32