Anda di halaman 1dari 38

STATUS MEDIK PASIEN

A. IDENTITAS
Nama Pasien

: Nn. R

Umur

: 20 tahun

Alamat

: Jl. Gamprit IV

Pekerjaan

: Guru PAUD

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: Belum Menikah

No.Rekam Medis

: 478964

Ruang Rawat

: Melati

Tanggal Masuk RS

: 13/04/2013

B. ANAMNESIS (Autoanamnesis)
Keluhan Utama
Keluhan Tambahan

: Batuk berdarah sejak 2 minggu SMRS


: mual, muntah, lemas, nyeri dada sebelah
kanan, sesak napas, nyeri perut dan demam.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RSUD Pasar Rebo dengan keluhan batuk berdarah bewarna
merah terang sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien bercerita bahwa
awalnya darah yang dikeluarkan berupa bercak darah dalam dahak encer dan bening,
namun semakin hari semakin banyak sampai sebanyak satu sendok teh. Sebelumnya,
pasien tidak pernah mengalami batuk darah. Pasien juga bercerita tentang sesak napas
yang dirasakannya terutama setelah batuk maupun ketika ia berjalan ke toilet yang
jauhnya kira-kira 6 meter. Sesak napas menetap walaupun pasien istirahat. Tidak
dikeluhkan adanya mengi. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada sebelah kanan dirasakan
lebih kuat apabila menarik napas dalam sejak satu bulan yang lalu. Nyeri dada yang
dirasakan selama kurang lebih selama 10 menit dan hilang ketika istirahat. Demam yang
dikeluhkan sering naik-turun, naik pada malam hari dan turun pada pagi harinya sejak 1
bulan lalu. Demam berkurang apabila pasien meminum obat penurun panas, namun akan
kembali demam jika tidak meminum obat. Pasien mengakui berat badannya turun dari 44
Kg menjadi 40 Kg sejak merasakan 2 minggu belakangan ini dan sering keluar keringat
1

pada malam hari sejak 5 bulan yang lalu namun keluhan keringat malam sudah jarang
dirasakan. Pasien juga mengeluh sering mual dan muntah sejak meminum OAT, sehingga
ia merasa tubuhnya menjadi lemas.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat sakit dengan keluhan batuk, sesak napas, nyeri dada, demam naik-turun,
keringat malam, penurunan berat badan (+)
Riwayat penyakit hipertensi disangkal
Riwayat diabetes melitus disangkal
Riwayat penyakit ginjal disangkal
Riwayat penyakit asma disangkal
Riwayat penyakit maag sejak SD , namun pasien tidak bisa menyebutkan pada
usia berapa (+)
Riwayat jaundice 1 bulan yang lalu (+)
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat penyakit paru yaitu bronkitis pada tahun 2011 (+)
Riwayat alergi obat, namun pasien lupa nama dan jenis obatnya (+)
Riwayat melakukan operasi atau pembedahan disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan sekitar pasien

Tidak ada anggota keluarga dan lingkungan sekitar pasien yang memiliki keluhan
yang sama dengan pasien
Tidak ada anggota keluarga dan kerabat maupun teman yang sedang menjalani
pengobatan paru
Riwayat keluarga penyakit hipertensi disangkal
Riwayat keluarga penyakit diabetes mellitus disangkal
Riwayat keluarga penyakit asma disangkal
Riwayat keluarga penyakit jantung disangkal
Riwayat keluarga penyakit paru sebelumnya disangkal
Riwayat keluarga penyakit ginjal disangkal
Riwayat keluarga alergi obat disangkal

Riwayat Pemakaian Obat


Sedang dalam pengobatan OAT selama 4 bulan (RHZE)
C. STATUS GENERALIS (Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 18/04/2013)
Kesadaran
: Composmentis
Keadaan Umum
: Sedang
Tekanan darah (dalam keadaan pasien tidur)
: 110/70 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
Frekuensi Napas
: 20 x/menit
Suhu
: 36,2 C
2

Pernapasan
Berat Badan
Tinggi Badan
Gizi

: 20 x/menit
: 40 Kg
: 155 cm
: kurang

D. PEMERIKSAAN FISIK (pemeriksaan dilakukan pada tanggal 18/04/2013)


KULIT
1 Warna
2 Jaringan parut
3 Pertumbuhan rambut
4 Suhu Raba
5 Keringat
6 Kelembaban
7 Turgor
8 Jaundice
9 Edema

: Sawo matang
: Tidak ada
: Normal
: Hangat
: Umum
: Lembab
: Cukup
: Tidak ada
: Tidak ada

KEPALA
1 Bentuk
2 Posisi
3 Penonjolan

: Normocephal
: Simetris
: Tidak ada

MATA
1 Exophthalmus
2 Enoptashalmus
3 Edema kelopak
4 Konjungtiva anemis
5 Skelera ikterik
6 Napas Cuping Hidung

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada

HIDUNG : Bentuk normal, nafas cuping hidung (-), sekret (-), septum deviasi (-)
MULUT
: Bibir kering pecah-pecah (-), sianosis (-) bercak putih pada lidah (-)
TENGGOROKAN : Tonsil T1- T1 tenang, faring hiperemis (-)
TELINGA
1 Pendengaran
: Baik
2 Tinitus
: Tidak ada
3 Vertigo
: Tidak ada
4 Membran timpani
: Tidak dilakukan
5 Darah
: Tidak ada
6 Cairan
: Tidak ada
LEHER
1 Trakea
2 Kelenjer tiroid
3 Kelenjar Limfe

: Tidak deviasi
: Tidak membesar
: Tidak teraba

PARU-PARU
3

1
2
3
4

1
2
3
4

Inspeksi

: Bentuk & ukuran dada normal, gerakan dinding dada


dalam keadaan statis maupun dinamis simetris kanan
dan kiri
Palpasi
: Inspirasi memanjang (+/-), Fremitus taktil maupun
fremiktus vokal melemah sebelah dextra daripada
sebelah sinistra
Perkusi
: Terdengar sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi
: Suara napas utama dominan Bronkial di tengah dan
suara napas tambahan dominan Ronki basah kasar di lapang paru dextra lobus
superior dan wheezing negatif.
JANTUNG
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

ABDOMEN
1. Inspeksi
2. Auskultasi
3. Perkusi
4. Palpasi
EKSTREMITAS
Superior
Lengan
Tonus otot
Massa otot
Sendi
Gerakan
Kekuatan
Inferior
Tungkai dan Kaki
Tonus otot
Massa otot
Sendi
Gerakan
Kekuatan
Edema
Luka
Varises

: Iktus cordis tidak terlihat


: Iktus cordis teraba
: Tidak Dilakukan
: Bunyi Jantung I & II Normal, Reguler.
Gallop (-) Murmur (-)
: bentuk abdomen datar, gerakan peristaltik usus tidak
terlihat tidak tampak sikatrik maupun venektasi.
: Bising usus (+) Normal
: terdengar timpani di seluruh kuadran abdomen
: Nyeri tekan epigastrium dan hipogastrium kanan (+),
Hepar dan Lien tidak teraba

Kanan
Normal
Normal
Normal
Normal
5

Kiri
Normal
Normal
Normal
Normal
5

Kanan
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
-

Kiri
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
-

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium (14/04/2013)

Pem
eriksaan laboratorium (15/04/2013)
Jenis pemeriksaan
Hematologi
LED
Hemogolobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
Hitung Jenis
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
Fungsi Hati
Protein total
Albumin
Globulin
Bilirubin total
Bilirubin direk
Bilirubin indirek
Alkali fosfatase
Fungsi ginjal
Asam Urat

Hasil

Normal

17 mm/jam
12,4 g/dl
34 %
4,1 jt/ul
4970 ul
408000 ul
83 fL
30 pg
36 g/dl

<20
11,7-15,5
32-47
3,8-5,2
3600-11000
150000- 440000
80-100
26-34
32-36

0
0
0
52 %
44 %
4%

0-1
1-3
3-5
50-70
25-40
2-8

6,3 g/dl
3,5 g/dl
2,8 g/dl
0,42 mg/dl
0,32 mg/dl
0,10 mg/dl
101 U/L

6-8
3,4-4,8
<2
0,1-1,0
0-0,2

8,9 mg/dl

2-7

Pemeriksaan laborat
HHasil Pemeriksaan Kultur
5

30-120

Jenis Pemeriksaan
Hasil
Satuan Nilai Normal
Sediaan BTA Langsung
BTA I
-/ negatif
Tidak ditemukan BTA
BTA II
BTA III
Pemeriksaan laboratorium (19/04/2013)
Jenis Pemeriksaan
SGPT/ALAT
SGOT/ASAT

Hasil
38
17

Satuan Normal
U/L
dewasa 0-35
U/L
dewasa 0-35

F. PEMERIKSAAN RADIOLOGI THORAK


Pemeriksaan Radiologi thorak (15/02/2013)

Interpretasi :
Sinus, diaghfrahma dan Cor : dalam batas normal
Pulmo : Infiltrat lapang atas kanan dan kedua lapang tengah
Kesan : TB Paru

Pemeriksaan Radiologis (14/04/2013)

G. RESUME
Anamnesis
Keluhan Utama
Riwayat Penyakit Sekarang

: Hemoptisis Sedang sejak 2 minggu SMRS


:

Pasien datang ke RSUD Pasar Rebo dengan keluhan hemoptisis sejak 2 minggu
sebelum masuk rumah sakit. Hemoptisis awalnya hanya bercak darah berwarna merah
terang di dalam dahak bening dan encer, namun berangsur-angsur menjadi sebanyak satu
sendok teh. Sesak napas dirasakan oleh pasien terutama setelah batuk dan ketika ia
berjalan ke toilet. Sesak napas menetap walaupun pasien istirahat. Tidak dikeluhkan
adanya mengi. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada sebelah kanan dirasakan lebih kuat
apabila menarik napas dalam sejak 1 bulan yang lalu. Nyeri dada yang dirasakan selama
kurang lebih selama 10 menit dan hilang ketika istirahat. Demam yang dikeluhkan sering
naik-turun, naik pada malam hari dan turun pada pagi harinya sejak 1 bulan lalu. Pasien
mengakui berat badannya turun dari 44 Kg menjadi 40 Kg dan sering keluar keringat
pada malam hari sejak 5 bulan yang lalu namun keluhan keringat malam sudah jarang

dirasakan. Pasien juga mengeluh sering mual dan muntah sejak meminum OAT, sehingga
ia merasa tubuhnya menjadi lemas.
Tanda-tanda vital
Kesadaran
Keadaan Umum
Tanda-tanda vital
Status Gizi

: Composmentis
: Sakit-sedang
: dalam batas normal
: BB : 40 Kg TB : 155 cm
BMI = (BB) / [(TB) x (TB)]
= (40) / [(155) x (155)]
= 16.6
Underweight

Pemeriksaan Fisik
Kepala
: normocephal
Mata
: conjungtiva anemis -/- sklera ikterik -/Telinga
: bentuk auricula normal, tidak ada nodul maupun massa, tidak
hiperemis,tidak keluar cairan dari liang telinga membran
timpani terlihat baik, tidak hiperemis.
Mulut
: tidak sianosis , lidah tidak kotor
Leher
: kelenjar getah bening tidak terba membesar, trakea tidak
Deviasi
Thorak
:
Paru-paru
Inspeksi

: Bentuk & ukuran dada normal, gerakan dinding dada


dalam keadaan statis maupun dinamis simetris kanan
dan kiri

Palpasi

: Inspirasi memanjang (+/-), Fremitus taktil maupun


fremiktus vokal melemah sebelah dextra daripada
sebelah sinistra

Perkusi

: Terdengar sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi
: Suara napas utama dominan Bronkial di tengah dan
suara napas tambahan dominan Ronki basah kasar di lapang paru dextra lobus
superior dan wheezing negatif.

Jantung
Inspeksi

: Iktus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus cordis teraba

Perkusi

: Tidak Dilakukan

Auskultasi

: Bunyi Jantung I & II Normal, Reguler.


Gallop (-) Murmur (-)

Kesan

: Jantung dalam batas normal, tidak ditemukan bunyi


jantung tambahan murmur maupun gallop.

Abdomen
Inspeksi

: bentuk abdomen datar, gerakan peristaltik usus tidak


terlihat tidak tampak sikatrik maupun venektasi.

Auskultasi

: Bising usus (+) Normal

Perkusi

: terdengar timpani di seluruh kuadran abdomen

Palpasi

: Nyeri tekan epigastrium dan hipogastrium kanan (+),

Kesan

Hepar dan Lien tidak teraba


: tidak ditemukan asites, hepatomegali maupun
spenomegali

Ekstremitas
Superior
Inferior

: akral hangat , tidak ditemukan udem


: akral hangat , tidak ditemukan udem

H. DIAGNOSIS BANDING
1. TB Paru
2. Bronkiektasis
3. Bronkitis Kronik
4. Karsinoma bronkogenik
5. Sindroma Dispepsia
I. DIAGNOSIS KERJA
TB Paru Dengan Gangguan Fungsi Hati
J. PENGKAJIAN MASALAH
Diagnosa kerja berdasarkan :
Batuk darah sejak 2 minggu sebelum masuk Rumah Sakit
Sesak napas disertai nyeri dada bagian kanan sejak 1 bulan yang lalu
Nyeri perut , mual dan muntah
Riwayat konsumsi OAT bulan keempat
Riwayat penyakit Paru sebelumnya
Pada Pemeriksaan Laboratorium didapatkan hasil melebihi batas normal pada
pemeriksaan fungsi hepar

K. TATALAKSANA
Terapi oral
- Extract saccum 7,5 mg 3x1
- Etambutol 750 mg 1x1
- Rifampisin 300 mg 1x1
- Streptomisin 450 mg 1x1
9

Transamin 3x1
Vit B 3x1
Vit C 3x1
Ranitidin 2x1

L. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad functionam
Ad sanactionam

: bonam
: bonam
: bonam

L. FOLLOW UP
S

18-04-2013
Keluhan : nyeri
dada kanan, sesak
napas , mual (+),
muntah (+)

O KU : sedang
Kes : CM
TD: 110/70 mmHg
FN : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,2oC
Mata : CA -/-, SI
-/THT : dbn
Thorax : vesikuler
-/-, Rh +/-, Wh -/BJ 1 & II reguler,
G-, MAbdomen : datar,
BU+, hepar dan
lien tidak teraba
Ekstremitas
:
hangat, edema -

19-04-2013
22-04-2013
Keluhan : nyeri Keluhan : batuk
dada kanan, sesak tanpa
dahak,
napas
sesak,
nyeri
dada
kanan,
nyeri
perut,
mual
(+),
muntah(+)
KU : sedang
KU : ringan
Kes : CM
Kes : CM
TD:110/70mmHg
TD:110/70mmg
FN : 80x/menit
FN : 80x/menit
RR : 20x/menit
RR : 20x/menit
o
Suhu : 35,2 C
Suhu : 37,0oC
Mata : CA -/-, SI Mata : CA -/-,
-/SI -/THT : dbn
THT : dbn
Thorax : vesikuler Thorax
:
-/-, Rh +/+, Wh -/- vesikuler -/-, Rh
BJ 1 & II reguler, -/+, Wh -/G-, MBJ 1 & II
Abdomen : datar, reguler, G-, MBU+, hepar dan Abdomen
:
lien tidak teraba
datar,
BU+,
Ekstremitas
: hepar dan lien
hangat, edema tidak teraba
Ekstremitas :
hangat, edema -

10

23-04-2013
Keluhan:
mual(+),
muntah(+),
nyeri
dada
kanan menjalar
ke
punggung,
sesak napas
KU : ringan
Kes : CM
TD:110/70mmg
FN : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 37,0oC
Mata : CA -/-,
SI -/THT : dbn
Thorax
:
vesikuler -/-, Rh
-/+, Wh -/BJ 1 & II
reguler, G-, MAbdomen
:
datar,
BU+,
hepar dan lien
tidak teraba
Ekstremitas :
hangat, edema -

Tinjauan Pustaka
TB Paru Dengan Gangguan Fungsi Hati
1. Definisi
Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman
Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu
pneumonia yang disebabkan oleh M. Tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80%

11

dari keseluruhan kejadian penyakit tuberculosis, sedangkan 20% lebihnya merupakan


tuberculosis ekstrapulmonar. Diperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia pernah
terinfeksi kuman M. Tuberculosis.1
Suspek TB adalah seseorang dengan gejala atau tanda TB. Gejala umum TB paru
adalah batuk produktif lebih dari 2 mingguyang disertai gejala pernapasan, dan atau
gejala tambahan (tidak nafsu makan, penurunan berat badan, keringat malam atau mudah
lelah).2
2. Epidemiologi
Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di
dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan
estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB
diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Indonesia merupakan negara dengan
percepatan peningkatan epidemi HIV yang tertinggi di antara negara-negara di Asia. HIV
dinyatakan sebagai epidemik terkonsentrasi (a concentrated epidemic), dengan
perkecualian di provinsi Papua yang prevalensi HIVnya sudah mencapai 2,5%
(generalized epidemic). Secara nasional, angka estimasi prevalensi HIV pada populasi
dewasa adalah 0,2%. Sejumlah 12 provinsi telah dinyatakan sebagai daerah prioritas
untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia sekitar
190.000- 400.000. Estimasi nasional prevalensi HIV pada pasien TB baru adalah 2.8%.3
Angka MDR-TB diperkirakan sebesar 2% dari seluruh kasus TB baru (lebih rendah
dari estimasi di tingkat regional sebesar 4%) dan 20% dari kasus TB dengan pengobatan
ulang. Diperkirakan terdapat sekitar 6.300 kasus MDR TB setiap tahunnya.3
Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan negara
pertama diantara High Burden Country (HBC) di wilayah WHO South-East Asian yang
mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan
pada tahun 2006. Pada tahun 2009, tercatat sejumlah sejumlah 294.732 kasus TB telah
ditemukan dan diobati (data awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213 diantaranya
terdeteksi BTA+. Dengan demikian, Case Notification Rate untuk TB BTA+ adalah 73
12

per 100.000 (Case Detection Rate 73%). Rerata pencapaian angka keberhasilan
pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah sekitar 90% dan pada kohort tahun 2008
mencapai 91%. Pencapaian target global tersebut merupakan tonggak pencapaian
program pengendalian TB nasional yang utama.3

Grafik 1. Pencapaian Pengendalian TB Nasional 1995-20093

Meskipun

secara

nasional

menunjukkan

perkembangan

yang

meningkat

dalampenemuan kasus dan tingkat kesembuhan, pencapaian di tingkat provinsi masih


menunjukkan disparitas antar wilayah (Tabel 3).3
Sebanyak 28 provinsi di Indonesia belum dapat mencapai angka penemuan kasus
(CDR) 70% dan hanya 5 provinsi menunjukkan pencapaian 70% CDR dan 85%
kesembuhan.3

13

Tabel 1.Pencapaian Target Pengendalian TB3

Dengan angka nasional proporsi kasus relaps dan gagal pengobatan di bawah 2%,
maka angka resistensi obat TB pada pasien yang diobati di pelayanan kesehatan pada
umumnya masih rendah. Namun demikian, sebagian besar data berasal dari Puskesmas
yang telah menerapkan strategi DOTS dengan baik selama lebih dari 514 Terobosan
Menuju Akses Universal Stop TB Strategi Nasional tahun terakhir. Probabilitas
terjadinya resistensi obat TB lebih tinggi di rumah sakit dan sektor swasta yang belum
terlibat dalam program pengendalian TB nasional sebagai akibat dari tingginya
ketidakpatuhan dan tingkat drop out pengobatan karena tidak diterapkannya strategi
DOTS yang tinggi. Data dari penyedia pelayanan swasta belum termasuk dalam data di
program pengendalian TB nasional. Sedangkan untuk rumah sakit, data yang tersedia
baru berasal dari sekitar 30% rumah sakit yang telah melaksanakan strategi DOTS.
Proporsi kasus TB dengan BTA negatif sedikit meningkat dari 56% pada tahun 2008
menjadi 59% pada tahun 2009. Peningkatan jumlah kasus TB BTA negatif yang terjadi
selama beberapa tahun terakhir sangat mungkin disebabkan oleh karena meningkatnya
pelaporan kasus TB dari rumah sakit yang telah terlibat dalam program TB nasional.3
Jumlah kasus TB anak pada tahun 2009 mencapai 30.806 termasuk 1,865 kasus BTA
positif. Proposi kasus TB anak dari semua kasus TB mencapai 10.45%. Angka-angka ini
merupakan gambaran parsial dari keseluruhan kasus TB anak yang sesungguhnya
mengingat tingginya kasus overdiagnosis di fasilitas pelayanan kesehatan yang diiringi
dengan rendahnya pelaporan dari fasilitas pelayanan kesehatan.3
3. Etiologi
14

Sebagaimana telah diketahui, tuberkulosis paru disebabkan oleh basil TB


(Mycobacterium tuberculosis). M. Tuberculosis termasuk famili Mycobacteriaceae yang
mempunyai berbagai genus, satu di antaranya Mycobacterium dan salah satu spesiesnya
adalah M.Tuberculosis. M. Tuberculosis yang paling berbahaya bagi manusia adalah tipe
humanis (kemungkinan infeksi tipe bovinus saat ini dapat diabaikan, setelah higiene
perternakan semakin ditingkatkan). Basil TB mempunyai dinding sel lipoid sehingga
tahan asam. Sifat ini dimanfaatkan oleh Robert Koch untuk mewarnainya secara khusus.
Karena itu, kuman ini disebut pula basil tahan asam (BTA).4
Karena pada umumnya Mycobacterium tahan asam, secara teoretis BTA belum tentu
identik dengan basil TB. Namun, karena dalam keadaan normal penyakit paru yang
disebabkan oleh Mycobacterium lain ( yaitu M. Atipik) jarang sekali, dalam praktik BTA
dianggap identik dengan basil TB. Di negara dengan prevalensi AIDS/ infeksi HIV
tinggi, penyakit paru yang disebabkan oleh M. Atipik (=Mycobacteriosis) makin sering
ditemukan. Dalam kondisi seperti ini, perlu sekali diwaspadai bahwa BTA belum tentu
identik dengan basil TB. Mungkin saja, BTA yang ditemukan ialah Mycobacterium
atipik yang menjadi penyebab Mycobacteriosis.4

4. Patogenesis
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni, yang disebut sarang
primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam
paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan
saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti
oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer

15

bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer.4


Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis
fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
a

Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya. Salah satu contoh adalah


epituberkulosis, yaitu suatu kejadian penekanan bronkus, biasanya
bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga
menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan
akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang
bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan
peradangan pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai

epituberkulosis.
Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke

paru sebelahnya atau tertelan


Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan
dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang
ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak
terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan
keadaan

cukup

gawat

seperti

tuberkulosis

milier, meningitis

tuberkulosis, typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat


menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang,
ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan
penyebaran ini mungkin berakhir dengan :

16

o Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan


terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma )
atau
o Meninggal. Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer.
B.

TUBERKULOSIS POSTPRIMER
Tuberkulosis post primer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah

tuberkulosis primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post primer
mempunyai nama yang bermacam-macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa,
localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis
inilah yang terutama menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena dapat menjadi
sumber penularan. Tuberkulosis post primer dimulai dengan sarang dini, yang
umumnya terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini
ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni kecil. Sarang pneumoni ini akan
mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
1. Diresopsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan
penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan akan sembuh
dalam bentuk perkapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif kembali dengan
membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan
keluar.
3. Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti
akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya berdinding
tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Kaviti tersebut akan
menjadi:
-meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarang pneumoni ini akan
mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan di atas
17

-memadat

dan

membungkus

diri

(enkapsulasi),

dan

disebut

tuberkuloma.

Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif kembali,
mencair lagi dan menjadi kaviti lagi
-bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh
dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai
kaviti yang terbungkus dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate
shaped).

Gambar 1. Skema perkembangan sarang tuberkulosis postprimer dan perjalanan penyembuhannya 4

18

Gambar 2. Pathogenesis of Tuberculosis6

5. Klasifikasi
TUBERKULOSIS PARU
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk
pleura.4
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi atas:
a. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:

19

- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif


- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
-

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis


dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan


M.tuberculosis

2. Berdasarkan tipe pasien


Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa
tipe pasien yaitu :
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan
positif.Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi
aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
- Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur, keganasan dll)

20

- TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang berkompeten


menangani kasus tuberkulosis
c. Kasus defaulted atau drop out
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak mengambil obat 2
bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif
pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
e. Kasus kronik
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik
f. Kasus Bekas TB:
- Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran
radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial menunjukkan
gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung
- Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat pengobatan
OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan gambaran radiologi
B. TUBERKULOSIS EKSTRA PARU
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, ginjal, saluran
kencing dan lain-lain. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi
anatomi dari tempat lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan
spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstraparu
aktif.

21

Gambar 3. Skema klasifikasi tuberkulosis4

6. Diagnosis
Anamnesis
Keluhan Umum : Malaise, anorexia, mengurus, cepat lelah
Keluhan karena infeksi kronik :

Panas badan tidak tinggi (subfebril) dan keringat malam (lebih tepatnya berkeringat pada
waktu subuh, pada jam-jam 02.30-05.00, yaitu saat orang sehat tidak berkeringat).
Keluhan karena ada proses patologik di paru dan atau di pleura5 :
22

Batuk dengan atau tanpa dahak, batuk darah, sesak dan nyeri dada. Keluhan-keluhan ini
dapat berdiri sendiri atau didapatkan bersama-sama. Makin banyak keluhan-keluhan ini
didapatkan makin besar kemungkinan TB. Departemen Kesehatan dalam pemberantasan TB
di Indonesia, menentukan anamnesis resmi lima keluhan utama TB, yaitu batuk-batuk lama
(lebih dari 2 minggu), sesak napas, batuk darah, demam, dan nyeri dada. Mengingat Tb
merupakan penyakit menahun, keluhan-keluhan ini akan sudah dirasakan selama beberapa
waktu dengan kecendrungan progresif.5

Pemeriksaan Fisik
Pada auskultasi, hanya akan ditemukan ronki basah halus sebagai satu-satunya
kelainan pemeriksaan jasmani. Bila proses infiltrat ini semakin meluas dn menebal,
juga akan didaptkan fremitus yang menguat, bersama dengan redup pada perkusi,
suara napas bronkial5.
Bila sudah terjadi cavitas, akan ditemukan gejala-gejala berupa suara timpani pada
perkusi disertai suara napas amforis. Sebaliknya jika atelektasis, suara napas setempat
akan melemah sampai hilang sama sekali5.
Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama
daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2) , serta daerah apeks lobus inferior
(S6). Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan tanda-tanda penarikan paru,
diafragma dan mediastinum. Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisis
tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak,
pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang
terdapat cairan.4
Pada limfadenitis tuberkulosis, terlihat pembesaran kelenjar getah bening,
tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang di
daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi cold abscess.4
23

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Bakteriologik
a. Bahan pemeriksasan
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang

sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini
dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan
lambung, kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan
jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)
b. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):
- Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
- Pagi ( keesokan harinya )
- Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3 hari berturutturut.
Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan/ditampung
dalam pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup berulir, tidak
mudah pecah dan tidak bocor. Apabila ada fasiliti, spesimen tersebut dapat dibuat sediaan
apus

pada

gelas

objek

(difiksasi)

sebelum

dikirim

ke

laboratorium.

Bahan pemeriksaan hasil BJH, dapat dibuat sediaan apus kering di gelas objek, atau untuk
kepentingan biakan dan uji resistensi dapat ditambahkan NaCl 0,9% 3-5 ml sebelum
dikirim ke laboratorium. Spesimen dahak yang ada dalam pot (jika pada gelas objek
dimasukkan ke dalam kotak sediaan) yang akan dikirim ke laboratorium, harus dipastikan
telah tertulis identiti pasien yang sesuai dengan formulir permohonan pemeriksaan

24

laboratorium. Bila lokasi fasiliti laboratorium berada jauh dari klinik/tempat pelayanan
pasien, spesimen dahak dapat dikirim dengan kertas saring melalui jasa pos. Cara
pembuatan dan pengiriman dahak dengan kertas saring:
- Kertas saring dengan ukuran 10 x 10 cm, dilipat empat agar terlihat bagian
tengahnya
- Dahak yang representatif diambil dengan lidi, diletakkan di bagian tengah dari kertas
saring sebanyak + 1 ml
- Kertas saring dilipat kembali dan digantung dengan melubangi pada satu ujung yang
tidak mengandung bahan dahak
- Dibiarkan tergantung selama 24 jam dalam suhu kamar di tempat yang aman, misal di
dalam dus
- Bahan dahak dalam kertas saring yang kering dimasukkan dalam kantong plastik kecil
- Kantong plastik kemudian ditutup rapat (kedap udara) dengan melidahapikan sisi
kantong yang terbuka dengan menggunakan lidi
- Di atas kantong plastik dituliskan nama pasien dan tanggal pengambilan dahak
- Dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui jasa pos ke alamat laboratorium.
c. Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain.
Pemeriksaan bakteriologi dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan pleura, liquor
cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar /BAL, urin,
faeces dan jaringan biopsi, termasuk BJH) dapat dilakukan dengan cara :

- Mikroskopik
- Biakan

25

Pemeriksaan mikroskopik:
Mikroskopik biasa
Mikroskopik

: pewarnaan Ziehl-Nielsen

fluoresens:

pewarnaan

auramin-rhodamin

(khususnya

untuk

screening)
lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah bila :
o 3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif = BTA positif
o 1 kali positif, 2 kali negatif ulang BTA 3 kali, kemudian bila 1 kali positif, 2 kali
negatif = BTA positif
o bila 3 kali negatif = BTA negatif
Interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala IUATLD (rekomendasi
WHO). Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) :
-

Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif


Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang

ditemukan
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+)
Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+)
Pemeriksaan biakan kuman:

Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan metode konvensional ialah dengan cara :


- Egg base media: Lowenstein-Jensen (dianjurkan), Ogawa, Kudoh
- Agar base media : Middle brook

Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral,
top-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi
gambaran bermacam-macam bentuk (multiform). Gambaran radiologi yang dicurigai
sebagai lesi TB aktif :

26

Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan

segmen superior lobus bawah


Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau

nodular
Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif


- Fibrotik
- Kalsifikasi
- Schwarte atau penebalan pleura
Luluh paru (destroyed Lung ) :
- Gambaran radiologi yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat, biasanya
secara klinis disebut luluh paru . Gambaran radiologi luluh paru terdiri dari atelektasis,
ektasis/ multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulit untuk menilai aktiviti lesi atau
penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologi tersebut.
- Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologi untuk memastikan aktiviti proses penyakit
Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat dinyatakan
sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif) :
- Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas
tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal
junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus
vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai kaviti
- Lesi luas
Bila proses lebih luas dari lesi minimal.

27

Pemeriksaan khusus

Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis secara konvensional. Dalam
perkembangan kini ada beberapa teknik yang lebih baru yang dapat mengidentifikasi
kuman tuberkulosis secara lebih cepat.
1. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode radiometrik. M
tuberculosis memetabolisme asam lemak yang kemudian menghasilkan CO 2 yang akan
dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif
pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan diagnosis dan melakukan
uji kepekaan. Bentuk lain teknik ini adalah dengan menggunakan Mycobacteria Growth
Indicator Tube (MGIT).
2. Polymerase chain reaction (PCR):
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA, termasuk
DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan teknik ini adalah
kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah cukup banyak dipakai, kendati
masih memerlukan ketelitian dalam pelaksanaannya. Hasil pemeriksaan PCR dapat
membantu untuk menegakkan diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan
dengan cara yang benar dan sesuai standar internasional. Apabila hasil pemeriksaan PCR
positif sedangkan data lain tidak ada yang menunjang ke arah diagnosis TB, maka hasil
tersebut tidak dapat dipakai sebagai pegangan untuk diagnosis TB. Pada pemeriksaan
deteksi M.tb tersebut diatas, bahan / spesimen pemeriksaan dapat berasal dari paru
maupun ekstraparu sesuai dengan organ yang terlibat.
3. Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda :
28

a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)


Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respons humoral
berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Beberapa masalah dalam teknik ini antara
lain adalah kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang cukup lama.
b. ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis) adalah uji serologi
untuk mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Uji ICT merupakan uji
diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran
sitoplasma M.tuberculosis, diantaranya antigen M.tb 38 kDa. Ke 5 antigen tersebut
diendapkan dalam bentuk 4 garis melintang pada membran immunokromatografik (2
antigen diantaranya digabung dalam 1 garis) disamping garis kontrol. Serum yang akan
diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan ke bantalan warna biru, kemudian serum akan
berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum mengandung antibodi IgG terhadap
M.tuberculosis, maka antibodi akan berikatan dengan antigen dan membentuk garis
warna merah muda. Uji dinyatakan positif bila setelah 15 menit terbentuk garis kontrol
dan minimal satu dari empat garis antigen pada membran.

c. Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh manusia. Uji ini
menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan pada suatu alat yang
berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam serum pasien, dan
bila di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam jumlah yang
29

memadai sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan warna pada sisir
dan dapat dideteksi dengan mudah
d. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi yang terjadi.
Dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang diperoleh, para klinisi harus hati
hati karena banyak variabel yang mempengaruhi kadar antibodi yang terdeteksi.
e. Uji serologi yang baru / IgG TB
Uji IgG adalah salah satu pemeriksaan serologi dengan cara mendeteksi antibodi IgG
dengan antigen spesifik untuk Mycobacterium tuberculosis. Uji IgG berdasarkan antigen
mikobakterial rekombinan seperti 38 kDa dan 16 kDa dan kombinasi lainnya akan
menberikan tingkat sensitiviti dan spesifisiti yang dapat diterima untuk diagnosis. Di luar
negeri, metode imunodiagnosis ini lebih sering digunakan untuk mendiagnosis TB
ekstraparu, tetapi tidak cukup baik untuk diagnosis TB pada anak. Saat ini pemeriksaan
serologi belum dapat dipakai sebagai pegangan untuk diagnosis.

Pemeriksaan Penunjang lain


1. Analisis Cairan Pleura

Pemeriksaan analisis cairan pleura dan uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan pada
pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Interpretasi hasil analisis
yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan

30

eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa
rendah.
2. Pemeriksaan histopatologi jaringan
Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TB.
Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histopatologi. Bahan jaringan dapat
diperoleh

melalui

biopsi

atau

otopsi,

yaitu

Biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH) kelenjar getah bening (KGB)
Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram, Cope dan Veen
Silverman)
Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBLB) dengan bronkoskopi, trans
thoracal

needle

aspiration/TTNA,

biopsi

paru

terbuka).

Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan, satu sediaan dimasukkan ke


dalam larutan salin dan dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dikultur serta sediaan
yang kedua difiksasi untuk pemeriksaan histologi.
3. Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk
tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan sebagai
indikator penyembuhan pasien. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap
darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik.
4. Uji tuberkulin
Uji tuberkulin yang positif menunjukkan ada infeksi tuberkulosis. Di Indonesia
dengan prevalens tuberkulosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik
penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila

31

didapatkan konversi, bula atau apabila kepositivan dari uji yang didapat besar sekali. Pada
malnutrisi dan infeksi HIV uji tuberkulin dapat memberikan hasil negatif.

Gambar 4. Skema alur diagnosis TB paru pada orang dewasa

f. Pengobatan
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase
lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama
dan tambahan.4,6
A. OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)
Obat yang dipakai:
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
32

INH
Rifampisin

Pirazinamid

Streptomisin

Etambutol

2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)

Kanamisin

Amikasin

Kuinolon

Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam
klavulanat

Dosis OAT
Tabel 2. Jenis dan dosis OAT4
Dosis yang dianjurkan
Harian
Intermitten
Obat

Dosis

Dosis
(mg/kgBB/Hr)

R
H
Z
E
S

Dosis (mg) / BB (kg)


< 40 40-60 > 60

(mg/kgBB/Hr)

(mg/kgB

maksi

B/Hari)
8-12
4-6
20-30
15-20
15-58

mum
600
300

10
5
25
15
15

10
10
35
30
15

1000

300
150
750
750
Sesu

450
300
1000
1000
750

600
450
1500
1500
1000

ai
BB
Tabel 3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 14
Berat Badan

Tahap Intensif
tiap hari selama 56 hari
RHZE (150/75/400/275)
33

Tahap Lanjutan
3 kali seminggu selama 16
minggu
RH (150/150)

30 37 kg
38 54 kg
55 70 kg
71 kg

2 tablet 4KDT
3 tablet 4KDT
4 tablet 4KDT
5 tablet 4KDT

2 tablet 2KDT
3 tablet 2KDT
4 tablet 2KDT
5 tablet 2KDT

Tabel 4. Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 14


Tahap
Pengobatan

Lama
Pengobatan

Intensif
Lanjutan

Dosis per hari / kali

Isoniazi
d
@300m
g
1
2

2 bulan
4 bulan

Rifampisi
n
@450mg
1
1

Jumlah
hari /
kali
menela
n obat

Pirazinami Etambut
d
ol
@500mg @250m
g
3
3
-

56
48

Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
a. Pasien baru TB paru BTA positif,
b. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif,
c. Pasien TB ekstra paru
Tabel 5.Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 24

Berat Badan

Tahap Intensif
tiap hari
RHZE (150/75/400/275) + S
Selama 56 hari

Selama 28 hari

Tahap Lanjutan
3 kali seminggu
RH (150/150) +
E(275)
Selama 20 minggu

2 tab 4KDT

2 tab 4KDT

2 tab 2KDT

30 37 kg

+ 500 mg

+ 2 tab Etambutol

Streptomisin inj.
38 54 kg
3 tab 4KDT
+ 750 mg

3 tab 4KDT

3 tab 2KDT
+ 3 tab Etambutol

34

Streptomisin inj.
55 70 kg
4 tab 4KDT

4 tab 4KDT

4 tab 2KDT

+ 1000 mg

+ 4 tab Etambutol

Streptomisin inj.
71 kg
1000mg
Streptomisin inj.

5 tab 4KDT

5 tab 2KDT
+ 5 tab Etambutol

Tabel 6. Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 24


Tahap
Pengo
batan

Lama
Pengob
atan

Tahap
Intens
if
(dosis
harian
)
Tahap
Lanjut
an
(dosis
3x
semin
ggu)

2 bulan

Dosis per hari / kali


Isonia Rifamp Pirazi Etambu
zid
isin
namid
tol
@300 @450 @500 @250
mg
mg
mg
mg
1
1
3
3

Etambu
tol
@400
mg
-

Strepto
misin
injeksi

0.75gr

Jumlah
hari /
kali
menelan
obat
56

1 bulan

28

4 bulan

60

Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
a. Pasien kambuh,
b. Pasien gagal,
c. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default).
35

Catatan:
a. Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah
500mg tanpa memperhatikan berat badan,
b. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus,
c. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest
sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).
Tatalaksan Khusus ( TB Paru dengan Kelainan Hati)
Pasien dengan kondisi di bawah ini dapat diberikan pengobatan TB dan
-

dipastikan tidak ada bukti penyakit hati kronik


Hepatitis virus carriage
Riawayat hepatitis akut
Konsumsi alkohol yang berlebihan

Meskipun demikian pada keadaan di atas reaksi hepatotoksik sering terjadi dan
sebaiknya dihindari. Apabila terdapat hepatitis akut / akibat virus yang tidak berkaitan dengan
penyakit TB sebaiknya pengobatan ditunda sampai keadaan akut tersebut sembuh.
Pasien dengan gangguan hati berat dan belum stabil, uji fungsi hepar sebaiknya
dilakukan sebelum pengobatan dimulai. Pada pasien hepatitis akut dan atau klinis ikterik,
sebaiknya OAT ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan
sangat diperlukan dapat diberikan S dan E maksimal 3 bulan sampai hepatitis menyembuh.2
Hepatitis Imbas Obat
Adalah kelainan fungsi hati akibat penggunaan obat-obat hepatotoksik. Tatalaksananya
tergantung :
-

Fase pengobtan TB (awal/ lanjutan)


Beratnya gangguan hepar
Beratnya penyakit TB

36

Kemampuan atau kapasitas pelayanan kesehatan dalam tatalaksana efek samping

akibat OAT
Penatalaksanaan :
Bila klinis (+) (ikterik, gejala mual, muntah) OAT Stop
Bila gejala (-), laboratorium terdapat kelainan : bilirubin > 2 OAT STOP
SGOT,SGPT > 5 kali OAT STOP
SGOT, SGPT > 3 kali teruskan pengobatan dengan pengawasan

Pengobatan TB dihentikan sampai fungsi hepar kembali normal dan gejala klinik
(mual atau nyeri perut) menghilang maka OAT dapat diberikan kembali. Apabila tidak
dimungkinkan untuk melakukan tes fungsi hepar maka sebaiknya menunggu 2 minggu lagi
setelah kuning dan nyeri/tegang perut menghilang sebelum diberikan OAT kembali. Apabila
9 hepatitis imbas obat telah teratasi maka OAT dapat dicoba satu persatu. Pemberian OAT
sebaiknya dimulai dengan rifampisin yang jarang menyebabkan hepatotoksik. Setelah 3-7
hari baru diberika isoniazid. Pasien dengan riwayat ikterik tetapi tidak menerima rifampisin
dan isoniazid, sebaiknya tidak lagi mendapatkan pirazinamid.2

37

DAFTAR PUSTAKA

1. Djojodibroto, Darmanto. 2009. Respirologi (Repiratory Medicine). Jakarta: EGC


2. Isbaniyah, F. dkk. 2011. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia. Jakarta : PDPI
3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Stop TB Terobosan Menuju Akses
Universal Strategi Nasional Pengendalian TB 2010-2014. Direktorat Jendral
Pengendalian Lingkungan dan Penyehatan Lingkungan. 2011
4. Aditama, T.Y. dkk. 2006. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia. Jakarta : PDPI
5. Danusantoso, Halim. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. 2012. Jakarta : EGC
6. W, M.Jusuf, dkk. 2012. Buku ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Departemen Ilmu
Penyakit Paru FK UNAIR-RSUD dr.Soetomo.
7. Anonym. Tuberculosis. Diakses pada 25 April 2013
http://ketobapadah.blogspot.com/2011/05/tuberkulosis-tbc-i.html

38