Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM NUTRISI IKAN

IDENTIFIKASI BAHAN BAKU PELET

Disusun oleh :
Kelompok 10 / Perikanan C 2013
Fakhri Fathurrahman
Riana Faosa
Ali Aji Adi Negara
Kartika Irta Dewi
Taufik Ikhsan Kamil

230110130090
230110130167
230110130181
230110130194
230110130205

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya akhirnya
kami dari pihak penyusun dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Praktikum
Nutrisi Ikan dengan membahas mengenai Identifikasi Bahan Baku Pelet.
Laporan ini disusun guna memenuhi tugas akhir praktikum sebagai bahan
pertimbangan nilai.
Penyusunan laporan ini, tidak lupa pula kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu khususnya dari rekan-rekan
sekelompok kami sehingga laporan ini dapat diselesaikan dengan baik, walaupun
ada beberapa hambatan yang kami alami dalam penyusunan laporan ini. Namun,
berkat motivasi yang disertai kerja keras dan bantuan dari berbagai pihak akhirnya
dapat teratasi.
Semoga laporan ini, dapat bermanfaat dan menjadi sumber pengetahuan
bagi pembaca. Akhir kata dengan kerendahan hati, kritik dan saran sangat kami
harapkan demi penyempurnaan laporan ini. Sekian dan terima kasih.
Jatinangor, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB

Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................... iii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................

II

III

IV

PENDAHULUAN ...............................................................
1.1 Latar Belakang ..............................................................
1.2 Tujuan Praktikum ..........................................................
1.3 Manfaat Praktikum ........................................................
TINJAUAN PUSTAKA .....................................................
2.1 Pakan Ikan ....................................................................
2.2 Pakan Buatan ................................................................
2.3 Kandungan Nutrisi Pelet ...............................................
2.4 Proses Pembuatan Pelet ................................................
2.5 Rendemen Pakan ..........................................................
2.6 Uji Fisik Pelet ...............................................................
2.7 Uji Durabilitas...............................................................
2.8 Uji Stabilitas..................................................................
METODOLOGI PRAKTIKUM .......................................
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum ................
3.2. Alat dan Bahan ...........................................................
3.2.1 Alat-alat .......................................................................
3.2.2 Bahan ...........................................................................
3.3 Prosedur Praktikum......................................................
3.3.1 Identifikasi Bahan Baku Pelet .....................................
3.3.2 Uji Sifat Bulky .............................................................
3.3.3 Uji Stabilitas Pakan .....................................................
HASIL DAN PEMBAHASAN ...........................................
4.1 Hasil .............................................................................
4.1.1 Data Karakteristik Pakan Emulsi .................................
4.2 Pembahasan .................................................................
4.2.1 Tekstur .........................................................................
4.2.2 Aroma ..........................................................................
4.2.3 Warna ...........................................................................

1
1
2
2
3
4
5
7

12
12
12
12
12
12

14
14
14
14
15
15
16

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................... 17


5.1 Kesimpulan ................................................................... 17
5.2 Saran ............................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA .........................................................

18

LAMPIRAN ........................................................................

19

DAFTAR TABEL
No
1

Judul
Halaman
Kandungan Nutrisi Tepung Ikan .......................................... 19

2
3
4
5
6

Kandungan Nutrisi Tepung Jagung ...................................... 19


Kandungan Nutrisi Dedak..................................................... 19
Kandungan Nutrisi Tepung Kedelai ..................................... 19
Data Hasil Pengamatan Identifikasi Bahan Baku Pellet .......
Data Hasil Pengamatan Stabilitas Pellet ...............................

DAFTAR LAMPIRAN
No
1
2
3
4

Judul
Halaman
Gelas ukur.............................................................................. 19
Uji Bulky .............................................................................. 19
Tepung Terigu ...................................................................... 19
Dedak ................................................................................... 19
5

5
6
7
8
9
10
11

Lemna ...................................................................................
Tepung Kedelai .....................................................................
Tepung Sagu .........................................................................
Tepung Susu .........................................................................
Tepung Tulang ......................................................................
Minyak Ikan ..........................................................................
Tepung Daging .....................................................................

20
20
20
20
21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia

perikanan

kini

mempunyai

tempat

tersendiri

dibidang

perekonomian. Dengan potensinya sebagai penghasil pangan bahkan pendapatan


menjadikan usaha perikanan ini tidak lagi dipandang sebelah mata. Alhasil,
semakin menjamurnya usahausaha budidaya perikanan. Hal ini juga diikuti
dengan majunya pengetahuan mengenai usaha jenis tersebut. Kesuksesan

budidaya perikanan tidak terlepas dari teknik maupun cara pengelolaannya.


Teknik pengelolaan tersebut didukung oleh komponen pendukung yang sangat
penting dan harus ada pada usaha budidaya perikanan. Tanpa adanya komponen
tersebut maka usaha perikanan tidak bisa berjalan bahkan tidak bisa mencapai
hasil maksimal, sehingga merugikan sang peternak. Dengan demikian komponen
tersebut harus mendapat perhatian serius dari peternak.
Adapun komponen tersebut mengenai bahan baku pakan ikan. Bahan baku
adalah bahan yang belum diproses yang selanjutnya dihancurkan, diproses atau
dikombinasikan dengan bahan lain untuk menghasilkan produk akhir berupa
pakan (Utomo 2013). Bahan baku yang digunakan harus mampu menghasilkan
pakan yang baik sehingga cocok untuk dikonsumsi ikan. Bahan baku tersebut
harus memenuhi syarat berupa potensi lokal tinggi , tidak mengandung hazard
material, berbasis industri, tidak berkompetisi dengan kebutuhan manusia,
berbasis hasil samping, ketersediaan melimpah, kadar protein yang memadai dan
harganya kompetitif.
Setelah menentukan bahan baku, tahap selanjutnya adalah pembuatan
pakan. Pembuatan pakan adalah membuat pakan dari berbagai bahan baku yang
telah terpilih sehingga dihasilkan pelet (Utomo 2013). Dalam pembuatan pakan
digunakan formulasi sehingga kadar protein, lemak, karbohidrat, freemix sesuai
kebutuhan ikan sehingga dihasilkan produksi ikan yang tinggi Kualitas pakan
dipengaruhi oleh bakan baku yang digunakan. Pakan yang berkualitas akan
mendukung tercapainya tujuan produksi yang optimal. Oleh karna itu,
pengetahuan tentang

nutrisi, gizi, komposisi serta kualitas secara fisik perlu

diketahui.
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :

mengidentifikasi bahan baku pakan secara fisik

mengetahui sifat bulky dari bahan baku pakan berupa dedak halus

mengetahui stabilitas pakan ikan berbentuk pelet.

1.3

Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengidentifikasi bahan

baku pakan secara fisik, dapat mengetahui sifat bulky dari bahan baku pakan
berupa dedak halus, dan dapat mengetahui stabilitas pakan ikan berbentuk pelet.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pakan Ikan
Pakan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam

keberhasilan

kegiatan

budidaya

karena

menentukan

pertumbuhan

dan

perkembangan ikan. Ikan membutuhkan makanan dalam jumlah cukup serta


berkualitas untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pakan merupakan
faktor yang sangat penting diperhatikan untuk keberhasilan usaha budidaya ikan.

Mufidah et al. (2009) menyatakan bahwa makanan berfungsi sebagai sumber


energi yang digunakan untuk pemeliharaan tubuh, pengganti jaringan tubuh yang
rusak, pertumbuhan, aktifitas dan kelebihan makanan tersebut digunakan untuk
reproduksi. Ikan membutuhkan materi (nutrien) dan energi untuk aktifitas
kehidupannya. Nutrien yang dibutuhkan berupa protein, lemak, karbohidrat,
vitamin dan mineral dalam jumlah yang memadai. Sebagai organisme heterotrof,
ikan membutuhkan semua itu yang berasal dari makanan.
Berdasarkan makanan utamanya ikan dapat dikelompokkan menjadi
herbivora (pemakan tumbuhan), karnivora (pemakan hewan), omnivora (pemakan
tumbuhan dan hewan) dan detrivora (Rahardjo et al. 2010). Nilai nutrisi suatu
makanan pada umumnya tergantung pada kandungan protein, lemak, karbohidrat,
vitamin, mineral, kadar air dan energi. Kebutuhan nutrisi bagi hewan air misalnya
ikan, jika dilihat dari kandungan protein umumnya lebih tinggi dibandingkan
dengan jenis unggas maupun mamalia yang hidup di darat. Pakan ada dua yaitu
pakan alami, yang disebut juga dengan pakan hidup. Pakan alami sangat penting
bagi larva ikan dan udang. Pakan buatan merupakan pakan tambahan yang
diformulasikan dari bahan-bahan yang sesuai dengan kebutuhan hewan tersebut.
Pelet dan pakan yang diformulasi dari campuran berbagai bahan pakan yang
disusun secara khusus sesuai dengan jenis dan masa pertumbuhan ikan disebut
pakan buatan (Yuwono & Sukardi 2008).
Pakan ikan mempunyai kadar protein yang cukup tinggi sehingga apabila
penyimpanannya kurang baik akan mudah ditumbuhi bakteri maupun jamur dan
dapat menyebabkan ikan menjadi sakit (Hanif et al. 2011). Webster & Lim (2006)
menyebutkan bahwa ikan bawal memiliki laju pertumbuhan yang baik pada kadar
protein dan konsentrasi energi optimum yakni 24-50%. Makanan yang ditelan dan
dicerna oleh ikan akan diubah menjadi energi yang digunakan bagi berbagai
fungsi dalam kehidupan ikan untuk tumbuh dan bereproduksi atau untuk
mengganti sel-sel yang rusak pada suatu jaringan. Ikan dikenal sebagai binatang
yang bersifat poikiloterm atau suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan air
tempat hunian ikan. Hal ini akan menentukan laju metabolisme ikan dan oleh
karena itu, kebutuhan nutrisi berkaitan dengan suhu lingkungan (Rahardjo et al.

2010). Molekul pakan yang besar dan kompleks harus dipecah menjadi molekul
yang lebih kecil dan sederhana agar dapat diabsorpsi dan selanjutnya digunakan di
dalam tubuh. Pemecahan molekul dilakukan dengan cara pencernaan (Yuwono &
Sukardi 2008).
Protein merupakan komponen pakan terpenting bagi hewan air, terutama
pada ikan. Akan tetapi kelebihan protein dalam pakan dapat mengakibatkan
kematian karena gejala kelebihan protein. Ikan dapat menerima protein tinggi
karena mempunyai kemampuan tambahan untuk melepaskan nitrogen yang
berlebihan melalui insangnya. Ikan dapat mengeluarkan sebagian besar sisa-sisa
protein sebagai ammonia secara cepat dan terus menerus. Protein dibutuhkan
untuk pertumbuhan dan reparasi jaringan, serta dapat pula sebagai sumber energi
untuk aktifitas. Protein tubuh terdiri atas rantai panjang asam-asam amino. Hanya
20 macam asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis molekul protein dalam
tubuh (Hanif et al. 2011).
Menurut Gustiano & Otong (2010) bentuk pakan bermacam-macam,
umumnya yang sering digunakan dalam budidaya antara lain: pakan berbentuk
tepung, remah dan pelet. Bentuk pakan ini biasanya disesuaikan dengan ukuran
ikan. Jumlah pakan yang diberikan setiap hari disesuaikan dengan berat ikan,
sering disebut sebagai tingkat pemberian pakan (TPP) atau feeding level. TPP
untuk setiap jenis ikan dan tingkatan ukuran ikan berbeda. Umumnya, ikan
berukuran kecil membutuhkan TPP dan frekuensi pemberian pakan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan ukuran yang lebih besar. Berdasarkan rata-rata berat
individu ikan, maka dapat ditetapkan tingkat dan frekuensi pemberian pakan.
Berdasarkan berat total dapat ditetapkan jumlah pakan yang dibutuhkan dalam
satu hari maupun satu kali pemberian pakan. Untuk mengetahui respon ikan
terhadap pakan yang diberikan dilakukan evaluasi pemberian pakan atau sering
disebut sebagai efisiensi pemberian. Efisiensi adalah perbandingan antara
pertambahan bobot ikan dengan jumlah pakan yang diberikan, dinyatakan dalam
persen. Semakin tinggi tingkat efisiensi, semakin baik tingkat efisiensi pakan.
2.2

Pakan Buatan

10

Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu


berdasarkan pertimbangan kebutuhannya. Pembuatan pakan sebaiknya didasarkan
pada pertimbangan kebutuhan nutrisi ikan, kualitas bahan baku, dan nilai
ekonomis. Dengan pertimbangan yang baik, dapat dihasilkan pakan buatan yang
disukai ikan, tidak mudah hancur dalam air, aman bagi ikan (Dharmawan, 2010).
Pakan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Pakan harus dapat dimakan oleh ikan, maksudnya kondisi pakan harus
baik dan ukuran pakan harus sesuai dengan ukuran mulut ikan.
2. Pakan harus mudah dicerna.
3. Pakan harus dapat diserap oleh tubuh ikan.
Apabila ketiga persyaratan diatas dapat dipenuhi, pemberian pakan akan
memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup
ikan (Khairuman 2002).
Berdasarkan tingkat kebutuhannya pakan buatan dapat dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu (1) pakan utama, (2) pakan tambahan, dan (3) pakan suplemen.
Pakan utama adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menggantikan sebagian
besar pakan alami. Pakan tambahan adalah pakan yang sengaja dibuat untuk
memenuhi kebutuhan pakan. Dalam hal ini, ikan yang dibudidayakan sudah
mendapatkan pakan dari alam, namun jumlahnya belum memadai untuk tumbuh
dengan baik sehingga perlu diberi pakan buatan sebagai pakan tambahan.
Sementara pakan suplemen adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menambah
komponen nutrisi tertentu yang tidak mampu disediakan pakan alami.
(Dharmawan 2010).
Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan ikan yaitu
tentang pemilihan bahannya. Bahan-bahan tersebut harus memenuhi beberapa
syarat, yaitu:

Mempunyai nilai gizi tinggi

Mudah diperoleh

Mudah diolah

Tidak mengandung racun

11

Harga relatif murah

Tidak merupakan makanan pokok manusia, sehingga tidak merupakan


saingan (Mujiman 1991).

Ada tiga jenis pakan buatan berdasarkan kadar airnya, yaitu:


1. Pakan Kering
Pakan kering adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya mengandung
sedikit kadar air, yakni sekitar 10%. Persentase kandungan air ini sengaja
dibuat agar pakan bisa disimpan lebih lama dan mengapung diperairan.
Kandungan air yang ada dalam pakan digunakan untuk melarutkan komposisi
bahan-bahan penyusunnya agar mudah diramu. Bentuk pakan kering cukup
beragam, seperti granule (butiran), flake (remah), pellet (bulat), dan stick
(batang) (Tiana 2004).
2. Pakan Basah
Pakan basah adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya mengandung
kadar air lebih dominan, yakni sekitar lebih dari 50%. Karakter pakan seperti
ini sengaja dibuat agar larva dan burayak ikan lebih mudah mengomsumsi dan
mencernanya. Jenis pakan basah ini beragam bentuknya, dari larutan emulsi,
larutan suspensi, sampai bentuk pasta.
3. Pakan Lembab
Pakan lembab adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya
mengandung kadar air 30-45%. Pakan lembab dapat dibuat bentuk bola,
bakso, dan roti kukus (Mudjiman 2009). Pada praktikum kali ini, kami
membuat pakan bentuk roti kukus. Pakan bentuk roti kukus memiliki tekstur
yang lembut walaupun bentuknya agak padat. Tekstur bahan baku pakan
adalah tingkat kehalusan bahan baku sebelum diramu. Pakan yang baik terbuat
dari bahan baku yang berbentuk tepung halus atau berupa tepung yang lolos
saring dari ayakan berdiameter 300 (Akbar 2000). Kehalusan bahan baku
pakan akan mempermudah proses pencernaan di dalam usus ikan. Hal tersebut
merupakan faktor terpenting karena ikan termasuk hewan yang tidak

12

mengunyah makanannya. Semua makanan akan langsung ditelan meskipun


ususnya tergolong pendek.
2.3

Kandungan Nutrisi Pelet


Di dalam budidaya ikan, formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan

gizi ikan yang dibudidayakan, seperti: protein (asam amino esensial), lemak (asam
lemak esensial), energi (karbohidrat), vitamin dan mineral. Umumnya bahan baku
berasal dari material tumbuhan dan hewan. Ada juga beberapa yang berasal dari
produk samping atau limbah industri pertanian atau peternakan. Beberapa
kandungan nutrisi bahan baku pakan adalah sebagai berikut :
A. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis)
yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan
menjadi bekasam untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu
makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi
cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan
asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%. Kandungan gizi: protein
22,65%, lemak 15,38%, abu 26,65%, serat 1,8%, dan air 10,72%.
Cara pembuatannya:
a.

Ikan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas.

b.

Air perasan ditampung untuk dibuat petis/diambil minyaknya.

c.

Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Tepung Ikan


Komponen
Kandungan
Fosfor
Kalsium
Protein kasar
Serat kasar

3,0 %
5,0 %
60 70 %
1,0 %

B. Tepung Jagung

13

Jagung merupakan bahan pangan yang bergizi tinggi dimana jagung juga
digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, bukan sebagai bahan sumber
protein dikarenakan kadar proteinnya yang rendah (8,9%) bahkan terhadap
defisiensi asam amino penting, terutama lysin dan triptofan.
Tabel 2. Kandungan Nutrisi Tepung Jagung
Nutrisi
Kuantitas
Asam Pantotenat
3,9 mg/kg
Bahan kering
75 90 %
Calcium
0,02 %
Energi gross
3918 Kkal/kg
Fosfor
3000 IU/kg
Lemak kasar
3,5 %
Niacin
26,3 mg/kg
Protein kasar
8,9 %
Riboflavin
1,3 mg/kg
Serat kasar
2,0 %
TDN
82 %
Tiamin
3,6 mg/kg
Vitamin A
Vitamin A

C. Dedak
Dedak padi digunakan sebagai bahan pakan ikan, karena
mempunyai kandungan gizi yang tinggi, harganya relatif murah, mudah
diperoleh, dan penggunaannya tidak bersaing dengan manusia. Menurut
(Schalbroeck 2001), produksi dedak padi di Indonesia cukup tinggi per
tahun dapat mencapai 4 juta ton dan setiap kuwintal padi dapat
menghasilkan 18-20 gram dedak, sedangkan menurut Yudono et al. (1996)
proses penggilingan padi dapat menghasilkan beras giling sebanyak 65%
dan limbah hasil gilingan sebanyak 35%, yang terdiri dari sekam 23%,
dedak dan bekatul sebanyak 10%. Protein dedak berkisar antara 12-14%,
lemak sekitar 7-9%, serat kasar sekitar 8-13% dan abu sekitar 9-12%
(Murni et al. 2008).
Dedak mempunyai potensi yang besar sebagai bahan pakan sumber
energi. Kelemahan utama dedak padi adalah kandungan serat kasarnya
14

yang cukup tinggi, yaitu 13,0% dan adanya senyawa fitat yang dapat
mengikat mineral dan protein sehingga sulit dapat dimanfaatkan oleh
enzim pencernaan.
Tabel 3. Kandungan Nutrisi Dedak
Komponen
Kandungan
Asam Pantotenat
22,0 mg/kg
Bahan kering
91,0 %
Calcium
0,1 %
Energi metabolis
1890,0 kal/kg
Lemak kasar
0,6 %
Protein kasar
13,5 %
Riboflavin
3,0 mg/kg
Serat kasar
13.0 %
Tiamin
22,8 mg/kg
Total Fosfor
1,7 %
Vitamin A
Vitamin A
D. Tepung Kedelai
Pada kacang kedelai mentah mengandung anti nutrisi atau bias
dibilang mengandung penghambat

typsin, penghambat typsin tersebut

dapat lepas melalui beberapa proses pengolahan seperti pemanasan atau


metoda lainya, sedangkan bungkil kacang kedelai merupakan limbah dari
proses pembuatan minyak kedelai. Pada kacang kedelai terdapat asam
amino metionen, dimana asam amino metionin sebagai faktor pembatas.
Tabel 4. Kandungan Nutrisi Tepung Kedelai
Nutrisi
Energi metabolis
Protein kasar
Serat kasar
2.4

Kuantitas
2825-2890 Kkal/kg
42-50%
6%

Proses Pembuatan Pelet


Proses pembuatan pakan ikan merupakan kelanjutan dari proses pemilihan

dan pengolahan bahan baku Pemilihan dan pengolahan bahan baku merupakan
tahap yang

sangat penting karena akan menentukan kualiltas pakan yang

15

dihasilkan. Oleh karena itu, bahan baku yang dipilih adalah bahan yang
berkualitas baik dan pengolahan dilakukan dengan tepat. Dalam proses pembuatan
pakan ditempuh berbagai tahapan, tahapan tersebut yaitu:
A. Penggilingan
Penggilingan bahan merupakan

proses pengecilan ukuran dari bahan

padat/butiran dengan gaya mekanis menjadi fraksi berukuran yang


kecil. Dengan pengecilan ukuran

lebih

ini, bahan dapat dipisahkan atas

keperluannya dan meningkatkan daya reaktivitas (Hubeis 1984).


B. Pencampuran
Proses selanjutnya adalah pencampuran bahan-bahan. Bahan-bahan yang
dibutuhkan dalam pakan dicampur secara merata dan homogen agar seluruh
bagian pakan yang dihasilkan mempunyai komposisi zat gizi yang merata dan
sesuai dengan formulasi. Pencampuran bahan- bahan dilakukan secara
bertahap mulai dari bahan yang volumenya paling kecil hingga bahan yang
volumenya paling besar.
C. Pencetakan
Pencetakan dimaksudkan untuk mendapatkan bentuk pelet, yaitu silinder
atau batangan (Ensminger et al. 1990). Ukuran pelet tergantung besar atau
kecilnya diameter lubang cetakan dan tekanan selama pencetakan (Murdinah
1989).

D. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu proses pemindahan air dari bahan yang berada
pada keadaan campuran antara cairan dan uap dengan menggunakan panas.
Pengeringan pellet dapat dilakukan dengan sinar matahari atau dengan cara
diangin-anginkan di udara terbuka (Hall 1970).
2.5

Rendemen Pakan
Rendemen adalah presentase produk yang didapatkan dari menbandingkan

berat awal bahan pakan dengan berat akhirnya. Sehingga dapat di ketahui

16

kehilangan beratnya proses pengolahan. Rendeman didapatkan dengan cara


(menghitung) menimbang berat akhir bahan pakan yang dihasilkan dari proses
dibandingkan dengan berat bahan pakan awal sebelum mengalami proses.
2.6

Uji Fisik Pelet


Uji Fisik Pelet adalah suatu pengujian terhadap kualitas pakan ikan yang

berbentuk pelet meliputi pengujian fisis, khemis maupun biologis. Pengujian


secara fisik mudah dilakukan dan tidak terlalu membutuhkan biaya yang banyak.
Pengujian sifat fisik pelet ikan meliputi bentuk, kekerasan pelet, stabilitas pelet
dalam air, kecepatan tenggelam pelet serta kadar kehalusan (Mujiman 1985). Uji
fisik pelet terdapat dua faktor yang mempengaruhi ketahanan serta sifat fisik
pelet yaitu karakteristik bahan dan ukuran partikel. Sedangkan untuk stabilitas
pakan yang berbentuk pelet dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
ukuran partikel, komposisi bahan, kadar bahan perekat dan teknik pengolahan
(Murdinah 1989).
Selain ukuran partikel, kadar kehalusan juga sangat perlu diperhatikan, hal
ini disebabkan karena mutu fisik pelet untuk ikan sebagian besar ditentukan oleh
kehalusan bahannya. Makin halus bahannya, makin stabil pelet berada dalam air,
sehingga tidak cepat rapuh atau pecah berantakan (Asmawi, 1983). Menurut
Mujiman (1985) stabilitas pelet ikan di dalam air minimal harus mencapai waktu
sepuluh menit agar pelet tidak terbuang percuma karena hancur di dalam air, yang
akhirnya dapat menyebabkan pencemaran air oleh pakan dan akan membahayakan
kelangsungan hidup ikan.
2.7

Uji Durabilitas
Durabilitas yaitu jumlah pelet yang kembali dalam keadaan utuh setelah

diaduk dengan mekanik (pneumatic). Definisi lain menjelaskan bahwa durabilitas


pelet adalah ketahanan partikel pelet yang dirumuskan sehingga persentase dari
banyaknya pakan pelet utuh setelah melalui perlakuan fisik dalam alat uji
durabilitas terhadap jumlah pakan semula sebelum dimasukkan kedalam alat.
Pelet yang baik mempunyai durabilitas di atas 90% atau kandungan tepung di
bawah 10%.

17

Nilai durabilitas pelet sangat ditentukan oleh penggunaan bahan baku


dalam formulasi pakan dan teknis operasional pelet. Untuk memperoleh
durabilitas tinggi digunakan bahan baku pelet yang mempunyai pelebilitas tingi
,sebagai conntoh jagung bernilai sedang ,katul bernilai rendah, dan wheat pollard
bernilai tinggi.
Penambahan gula juga berpengaruh pada kekentalan gel yang terbentuk.
Gula akan menurunkan kekentalan , hal ini disebabkan gula akan mengikat air
sehingga pembengkakan butir-butir pati terjadi lebih lambat akibatnya gelatinnya
lebih tinggi.

2.8

Uji Stabilitas
Stabilitas pakan dalam air adalah tingkat ketahanan pakan di dalam air

atau berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pakan lembek dan hancur,
meliputi uji kecepatan pecah dan dispersi padatan. Pengujian daya tahan
(stabilitas) pelet dilakukan dengan cara merendam contoh pelet yang akan diuji
selama beberapa waktu di dalam air. Tingkat daya tahan pelet dalam air (water
stability) diukur sejak pelet direndam sampai pecah. Makin lama waktu yang
dibutuhkan untuk membuyarkan pelet dalam proses perendaman, berarti makin
baik mutunya. Pelet ikan yang baik mempunyai daya tahan dalam air minimal 10
menit.
Pada dasarnya semakin halus bahan baku yang digunakan untuk menyusun
pakan, bentuk fisiknya akan semakin baik pula, karena akan tercampur lebih baik
sehingga menghasilkan produk yang lebih kompak dan stabil di dalam air,
sehingga relatif lebih mudah dicerna. Pakan buatan dengan water stability yang
rendah, menyebabkan pakan mudah hancur dan terdespersi. Secara umum pakan
uji sudah mempunyai tingkat stabilitas dalam air (yang sangat baik, yaitu di atas 5
jam). Menurut Balazs, et al. (1973) secara umum, stabilitas pakan dalam air
berkisar dari 35 jam. Stabilitas pakan dalam air menggambarkan kekompakan

18

pakan buatan, semakin lama waktu yang akan dibutuhkan untuk menghancurkan
pakan, berarti semakin tinggi kekompakan pakan buatan tersebut.
Disamping proses pembuatan, bahan perekat yang tepat juga sangat
menentukan stabilitas pakan dalam air dan sifat-sifat fisik pelet yang lain
(Dominy dan Lim 1991). Binder atau bahan perekat adalah bahan tambahan yang
digunakan untuk menyatukan semua bahan baku dalam pembuatan pakan. Bahan
tambahan yang digunakan sebagai perekat sangat menentukan stabilitas pakan
dalam air. Stabilitas pakan dalam air merupakan problem utama dalam pelet pakan
ikan, terutama dengan kandungan bahan nabati yang tinggi. Oleh karena itu
membutuhkan bahan perekat atau binder, dengan demikian stabilitas pakan dalam
air dapat ditingkatkan.

2.9.1

Uji Bulky
Keambaan Sebanyak 24 gelas ukur yang masingmasing telah diketahui

volumenya digunakan untuk mengukur keambaan. Bahan pakan kering oven (60
C) yang telah digiling halus dimasukkan ke dalam gelas ukur, kemudian diukur
volume dan ditimbang sampel dari masing-masing perlakuan. Perhitungan
keambaan:
Keambaan (l/kg) =

Volume Sampel
Berat Sampel

Sarwono (1997), menyatakan bahwa pengawasan mutu adalah kegiatan


yang dilakukan untuk mengawasi pembuatan dan peredaran bahan baku pakan
dengan tujuan agar pakan yang dibuat dan diedarkan memenuhi standar mutu
sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Kerapatan bahan pakan pada setiap jenis bahan berbeda-beda dan
kerapatan jenis perlu dilakukan berguna untuk mengetahui kerapatan jenis
masing-masing bahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1997), yang
menyatakan bahwa kerapatan jenis yaitu kontrol infentaris digudang yang berguna
dalam proses penanganandan pencampuran bahan pada saat akan dimasukkan
kemixer.

19

Setiap bahan yang telah diterima dan ditentukan kerapatan jenisnya maka
dapat dengan jelas diketahui apakah bahan tersebut karapatan bahannya bagus
atau jelek. Hal ini sesuai dengan pendapat Anshory (1997), yang menyatakan
bahwa kerapatan bahan pakan merupakan perbandingan antara berat dan volume
bahan dan biasanya standar mutu bahan pakan sudah ditentukan sesuai dengan
standarnya masing-masing. Dan pendapat Santoso (1997), yang menyatakan
bahwa pengukuran kerapatan jenis bahan baku dapat dilakuakan dengan
menimbang sejumlah berat bahan yang ditakar dengan suatu kotak berukuran 1
meter atau tabung silinder dengan volume 1000 ml.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 24 Mei 2016 pukul

10.00 11.30 di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas


Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran.
3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat-alat

Sendok

: untuk mengambil bahan-bahan pakan

Wadah/Toples

: untuk menampung air dalam uji stabilitas

Saringan/Ayakan

: untuk menyimpan pakan dalam uji stabilitas

Gelas Ukur

: untuk menampung air dalam uji bulky

Penggaris

: untuk mengukur tinggi endapan

Beaker Glass

: untuk menyimpan bahan pakan

Timbangan

: untuk menimbang bahan pakan

20

3.2.2

Bahan-bahan

Tepung ikan, sebagai sumber protein

Tepung Susu, sebagai sumber kalsium

Tepung Bungkil Kedelai, sebagai sumber protein

Tepung Jagung, sebagai sumber karbohidrat

Tepung Daging, sebagai sumber

Tepung Tulang, sebagai sumber kalsium

Wheat Pollard, sebagai sumber karbohidrat

Dedak, sebagai sumber karbohidrat

Tepung Sagu, sebagai sumber karbohidrat

Tepung Tapioka, sebagai sumber karbohidrat

Tepung Grit, sebagai sumber karbohidrat

Minyak Ikan, sebagai sumber protein

3.3

Prosedur Kerja

3.3.1

Identifikasi Bahan Baku Pelet


Prosedur identifikasi bahan baku pellet dapat dilihat pada Gambar 1.
Diambil bahan dengan sendok dari wadah
Dilakukan pengamatan fisik terhadap sampel
meliputi penglihatan, perabaan, penciuman
Pengamatan penglihatan terdiri dari warna dan
bentuk bahan

Pengamatan penciuman : diambil sampel lalu


dikibaskan udara diatas sampel untuk memperoleh
aroma bahan

Pengamatan perabaan : diambil sampel lalu disaring


kemudian diamati homogenitas dan kehalusan

21

Gambar 1. Prosedur Pembuatan Identifikasi Bahan Baku

3.3.2

Uji Sifat Bulky


Prosedur dalam uji sifat bulky dapat dilihat pada Gambar 2.
Diambil gelas ukur dan dimasukan air bagian

Dicelupkan bahan kedalam gelas ukur

Dibiarkan beberapa menit sampai sebagian bahan


tenggelam

Diaduk secara perlahan dan diamati bahan menjadi


terapung / tenggelam

Diamati terlarut atau tidaknya


Gambar 2. Prosedur Uji Sifat Bulky

22

3.3.3

Uji Stabilitas Pakan


Prosedur dalam pengujian stabilitas pakan dapat dilihat pada Gambar 3.
Pelet ditimbang seberat 30 gram

Toples diisi air hingga penuh

Pelet dimasukkan ke dalam saringan dan diletakkan di


atas toples berisi air
Diamati perubahannya setiap 5, 10, dan 15 menit

Pelet dijemur kembali hingga kering, lalu ditimbang


kembali bobotnya
Gambar 3. Prosedur Uji Stabilitas Pakan

23

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil

4.1.1 Hasil Identifikasi Bahan Baku Pellet


Berdasarkan pengamatan terhadap 13 bahan baku pellet, maka didapatkan
data hasil pengamatan bahan pakan (Tabel 1).

No
.
1

Tabel 5. Data Hasil Pengamatan Identifikasi Bahan Baku Pellet


Ciri Fisik
Asal
Bahan
Katerangan
Bahan
Warna
Bentuk Tekstur Aroma
Tepung
Tulang

Tulang

Putih
Kecokelata
n

Crumble

Kasar

Khas
ikan

Protein Hewani

Tepung
Kedelai

Biji
Kedelai

Coklat
Muda

Crumble

Kasar

Khas
kedelai

Protein Nabati

24

SP. Suplemen

SP. Basal

No
.
3

4
5
6
7
8
9
10

11
12
13

Bahan

Asal
Bahan

Ciri Fisik

Katerangan

Warna

Bentuk

Tekstur

Aroma

Wafer

Kasar

Khas
lemna

Protein Nabati

Lemna
Kering

Lemna

Hijau
Kecokelata
n

Tepung
Sagu

Sagu

Putih

Powder

Halus

Khas
tepung

Protein Nabati

Tepung
Susu

Susu

Putih

Powder

Halus

Khas
susu

Protein Hewani

Tepung
Jagung

Jagung

Kuningkcokelatan

Granule

Kasar

Khas
jagung

Protein Nabati

Crustacea

Cokelat

Garnule

Kasar

Air laut

Daging

Coklat abu

Crumble

Kasar

Khas
daging

Protein Hewani

Bungkil
Padi

Cokelat
Muda

Crumble

Halus

Khas
Jerami

Protein Nabati

Gandum

Cokelat

Crumble

Kasar
Sedikit
Halus

Minyak
Ikan

Ikan

Bening

Larutan

Licin

Tepung
Ikan

Ikan

Coklat tua

Crumble

Kasar

Khas
ikan

Protein Hewani

Tepung
Terigu

Gandum

Putih

Powder

Halus

Khas
tepung

Protein Nabati

Grit
Tepung
Daging
Dedak
W. Pollard

SP. Suplemen

SP. Basal

SP. Basal

SP. Basal
Protein Hewani
SP. Basal

SP. Suplemen

SP. Basal

Protein Nabati
Khas
gandum SP. Suplemen
Protein Hewani
Feed Additive

SP. Suplemen

SP. Basal

4.1.2 Hasil Uji Bulky


1.

Apakah terdapat bahan baku yang terapung dan tenggelam?


Jawab : Ya, ada bahan yang tenggelam dan terapung

2.

Berapakah lama waktu pada bahan pakan sehingga dapat tenggelam


sebagian?

25

Jawab : 5 menit = 30% tenggelam, 10 menit = 60% tenggelam dan 15


menit = 95% tenggelam
3.

Apakah terdapat perubahan pada bahan pakan dan tenggelam menjadi


terapung setelah pengadukan?
Jawab : Ya, bahan yang sebelumnya tenggelam menjadi terapung (terjadi
perubahan)

4.

Apakah bahan pakan tersebut dapat larut sepenuhnya? Jelaskan!


Jawab : Tidak larut sepenuhnya, karena air memiliki karakteristik yaitu
memiliki batas/ titik jenuh untuk melarutkan suatu bahan

5.

Berapakah ketebalan (cm) bahan pakan yang terapung dan tenggelam


setelah pengadukan?
Jawab : Tenggelam = 4 cm; terapung = 0,3 cm

4.1.3 Hasil Uji Stabilitas Pellet


Perhitungan stabilitas pellet yang diamati adalah sebagai berikut :
SP=

Y 0Y 1
100
Y0

3026,33
100
30

3,07
100
30

SP=9,5

Hasil pengamatan perubahan bentuk pellet tiap waktu dapat dilihat pada
(Tabel 2).
Waktu
5 menit
10 menit
15 menit

Tabel 6. Data Hasil Pengamatan Stabilitas Pellet


Keterangan
Tekstur keras namun lapisan luar sudah mulai melebur
Masih berbentuk pellet, namun saat diangkat pellet
mudah rapuh, ketika ditekan pakan masih ada yang keras
dan melebur
Pellet lunak dan sudah rapuh

26

4.2

Pembahasan

4.2.1 Identifikasi Bahan Baku Pakan


Berdasarkan data hasil pengamatan pada Tabel 1, dapat dianalisis bahwa
terdapat bahan yang berasal dari sumber hewani dan nabati. Bahan baku hewani
adalah semua bahan yang berasal dari hewan yang terdiri dari tepung tulang,
tepung susu, tepung daging, grit, minyak ikan dan tepung ikan sedangkan bahan
baku nabati adalah semua bahan yang berasal dari tumbuhan yang terdiri dari
tepung kedelai, lemna kering, tepung sagu, tepung jagung, dedak, wheat pollard,
dan tepung terigu. Karakteristik bahan pakan yang berasal dari hewani maupun
nabati memiliki kekhasan berdasarkan ciri fisik yaitu warna, bentuk, tekstur dan
aroma yang berbeda-beda. Perbedaan yang mendasar dari bahan proetin hewani
dan nabati adalah pada aromanya, dimana bahan protein hewani mengandung
semua jenis asam amino essensial sehingga aromanya akan lebih menyengat dan
cenderung berkesan anyir. Asam amino yang terkandung dalam protein ini tidak
selengkap pada protein hewani dan sumber protein nabati cenderung memiliki
serat yang tinggi sehingga karakteristik tekstur yang masih kasar (Winarno 1992).
Bahan pakan dapat berasal dari sumber protein suplemen, basal dan feed
additive. Berdasarkan hasil pengamatan (Tabel 1), dapat dianalisis bahwa terdapat
6 bahan yang berasal dari sumber protein suplemen yaitu tepung ikan, tepung
kedelai, tepung daging, tepung tulang, lemna kering dan wheat pollard. Enam
bahan tersebut tergolong sumber protein suplemen karena bahan baku protein
suplemen merupakan bahan yang mengandung protein >20%. Misalnya, tepung
ikan dan tepung kedelai yang memiliki kandungan protein 62,99% dan 46,8%
(Muktiani 2011).
Terdapat 6 bahan yang berasal dari sumber protein basal yaitu tepung
terigu, tepung jagung, dedak, tepung susu, tepung sagu dan grit sedangkan minyak
ikan tergolong dalam sumber protein feed additive. Enam bahan tersebut
tergolong sumber protein basal karena bahan baku protein basal merupakan bahan
baku yang mengandung protein <20% dan bahan baku protein feed additive
merupakan bahan tambahan pakan. Misalnya tepung terigu dan tepung jagung

27

yang memiliki kandungan protein 12,27% dan 9,8 % (Muktiani 2011). Minyak
ikan merupaka bahan feed additive karena mengandung asam lemak omega-3,
khususnya EPA Eilosa Panteonil Acid dan DHA/ D-Hexaenoic Acid sehingga
berfungsi sebagai probiotik pada pakan (Muchtadi 1996).
4.2.2 Uji Bulky
Uji kualitas fisik bahan pakan dapat dilakukan dengan uji bulky / uji
apung. Uji bulky bertujuan untuk mengetahui kualitas bahan.Hal ini sangat
diperlukan untuk memberikan informasi yang tepat tentang kandungan zat
makanan yang terkandung di dalamnya.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam uji bulky dedak halus dapat
diketahui bahwa dedak halus yang dianalisis memiliki kualitas yang baik karena
dedak yang tenggelam mencapai 95%. Semakin banyak dedak halus yang
mengapung, semakin jelek / buruk kualitas dedak tersebut. Hal tersebut
dikarenakan dedak memiliki ukuran partikel yang kecil sehingga akan cepat
menyerap air dan akhirnya tenggelam.
4.2.3 Uji Stabilitas Pellet
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan stabilitas

pakan,

didapatkan nilai SP = 10,23% dan terjadinya perubahan bentuk pakan setelah


direndam selama 15 menit dalam air menjadi hancur (melebur). Hal tersebut
menunjukkan bahwa pellet yang dianalisis memiliki kualitas yang kurang baik.
Menurut Aslamyah dan Fujaya (2009), untuk mencapai keadaan optimum/
efisiensi dianjurkan agar pakan udang secara fisik masih tetap utuh kira-kira
selama tiga jam berada dalam air.

28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum mengenai identifikasi

bahan baku pellet yaitu :

Hasil

identifikasi

bahan

baku

pelet

membuat

praktikan

dapat

mengelompokkan bahan-bahan tersebut termasuk ke dalam protein basal,


protein suplemen, atau feed additive dan mengelompokkan suatu bahan
pakan ke dalam bahan pakan nabati atau hewani melalui uji fisik yaitu uji
penciuman, penglihatan, dan perabaan yang dapat dilihat dari warna,
aroma, tekstur, dan bentuk bahan.

Bahan uji dedak memiliki kualitas yang baik karena bahan dedak yang
tenggelam mncapai 95%. Daya tenggelam yang tinggi menunjukkan
bahwa suatu bahan pakan tersebut memiliki kandungan serat yang tinggi
sehingga mudah untuk dicerna oleh ikan.

Hasil perhitungan uji stabilitas pakan bentuk pellet memiliki hasil nilai SP
10,23 %. Nilai SP menandakan bagaimana kekuatan pellet secara fisik
berada di dalam air. Bahan pakan pellet yang baik memilikikekuatan fisik
yang tinggi ketika berada dalam air.

5.2

Saran
Saran dari praktikum mengenai uji identifikasi bahan baku, uji stabilitas

dan uji bulky ini, sebaiknya praktikan lebih teliti dalam melakukan pengamatan
agar praktikum mampu benar-benar mengelompokkan bahan pakan berdasarkan
identifikasi yang dilakukan dan mampu menghitung nilai stabilitas dan sifat bulky
dengan akurasi yang tinggi.

29

DAFTAR PUSAKA
Afrianto , Eddy dan Evi Liviaty. 2005. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta
Alip. 2010. Mesin Pelet Ikan Terapung. 12 Oktober 2011
Anggraeni, 2010. Pelet ikan.
Deny. 2009. Pelet Ikan.
Gunawan, Drh. Dajadi. 2010. Pedoman pembangunan pabrik pakan skala kecil
dan
proses pengolahan pakan.
Handayani, Ika. Agustin. 2007. Kandungan Nutrisi Pada Pembuatan Pakan
Bentuk
Pelet Dry Dan Moist Dibalai Budidaya Air Payau Situbondo Propinsi Jawa
Timur

30

LAMPIRAN

Gambar.1 Gelas Ukur

Gambar 2. Uji Bulky

Gambar 4. Dedak

Gambar. 3 Tepung Terigu

31

Gambar 5. Lemna

Gambar 6. Tepung kedelai

Gambar 7. Tepung Sagu

Gambar 8. Tepung Susu

32

Gambar 9. Tepung Tulang

Gambar 10. Minyak Ikan

Gambar 11. Tepung Daging

33