Anda di halaman 1dari 67

BAB I

ATOLL
1.1

Pengenalan

Atoll adalah desain jaringan dan optimasi multi-platform teknologi berskala dan fleksibel
yang mendukung operator nirkabel di seluruh siklus hidup jaringan, dari desain awal untuk
densifikasi dan optimasi.
Atoll juga merupakan sistem informasi teknis terbuka yang mudah terintegrasi dengan
aplikasi TI lainnya dan meningkatkan produktivitas. Ini fitur alat pengembangan canggih
dan antarmuka terbuka yang memungkinkan integrasi disesuaikan atau tersedia secara
komersial modul pelengkap.
Atoll dirancang untuk bekerja dalam berbagai skenario pelaksanaan, dari mandiri ke
konfigurasi berbasis server enterprise-wide menggunakan terdistribusi dan komputasi
parallel.
1.1.1 Desain Jaringan dan Fitur
Atoll termasuk fitur perencanaan jaringan multi-teknologi canggih (misalnya GSM / UMTS /
LTE, CDMA2000 / LTE), dan Multi-RAT GSM / UMTS / LTE Monte-Carlo simulator dan lalu lintas
Model Single-RAN gabungan. Atoll mendukung GSM / GPRS / EDGE, UMTS / HSPA, LTE,
CDMA2000 1xRTT / EVDO, TD-SCDMA, WiMAX, dan jaringan penghubung Microwave; itu juga
termasuk mesin tinggi propagasi kinerja perhitungan, dan negara-of-the-art perencanaan
jaringan dan analisis fitur.
1.1.2 Terbuka dan Fleksibel
Atoll mendukung lingkungan multi-user melalui arsitektur database yang menyediakan
manajemen hak pengguna, berbagi data, manajemen integritas data, dan integrasi yang
mudah dengan sistem TI lainnya. Atoll memungkinkan otomatisasi tugas melalui bahasa
makro standar, dan termasuk canggih C ++ Software Development Kit (SDK) yang
memfasilitasi kustomisasi dan integrasi TI. Atoll juga memiliki rentang terbesar kompatibel
produk pihak ke-3 di pasar.
1.1.3 State-of-the-Art GIS Features
Atoll mendukung multi-format / multi-resolusi data geografi. Resolusi tinggi dataset perkotaan
dan negara-lebar didukung dan ditampilkan secara interaktif sebagai beberapa lapisan
termasuk teknik dan prediksi plot. Atoll juga dilengkapi dengan vektor / raster kartografi
Editor terpadu dan terintegrasi dengan alat GIS terkemuka seperti MapInfo dan ArcView.
1.1.4 Distributed Computing and Multi-Threading
Atoll memungkinkan perhitungan distribusi selama beberapa workstation dan mendukung
komputasi paralel pada server multi-prosesor, sehingga secara dramatis mengurangi
perhitungan kali dan mendapatkan hasil maksimal dari hardware.

Gambar 1. Tampilan pada Atoll


1.2 Komponen Atoll
1.2.1 Menu bar

Gambar 2. Menu bar Atoll


Pada menu bar terdapat menu-menu file, edit, view, document, tools, windows, help. Pada
menu bar tersebut memiliki sub menu sebagai berikut :
a. File
: new, open, open from zip, recent, close, save, save as, save to zip, save
image as, import, print setup, print perview, print, exit.
b. Edit
: cancel, redo, cut,paste,copy
c. View
: refresh, pointer, move map, zoom, full screen, network explorer, geo
explorer, event viewer, panoramic window, legend window, site explorer, toolbars,
statusbar, distance measurement, tip text, rulers, scale.
d. Document : calculate, force calculation, data audit, data exchange, link with, unlink,
properties.
e. Tools
: find on map, transport analysis tool, user configuration, distributed
calculations, signal level export, export to google earth, add-ins and macros, configure
auto backup.
f. Windows
:new map window, reset window layout.
g. Help
: help topics, about Atoll.
1.3

Toolbar

Berikut ini adalah toolbar yang terdapat pada Atoll


Icon

Nama

Fungsi

New

Membuat tamplete dokumen baru

Open

Membuka dokumen yang telah di simpan


2

Save

Menyimpan dokumen

New form an
existing database

Membuat dokumen baru yang tersimpan di


data base

Refresh database

Mengupdate data base yang telah di


modifikasi

Archive in
database

Menyimpan data base

Import file

Mengimport data dari external file

Load user
configuration file

Meng-load user parameter dari data yang ada

Save user
configuration file

Menyimpan parameter user

Cut

Untuk megmotong bagian an keng kopinya


diclipboard

Copy

Untuk meng-kopi bagian yang di pilih

Paste

Memasukkan contain

undo

Memabatalkan perintah

Redo

Melanjutkan perintah yang setelahnya

Print

Untuk mencetak dokumen

Print preview

Melihat bentuk dokumen yang akan di cetak

Help

Bantuan

Signal level
export

Untuk meng-export sinyal level ke file

Export to google
earth

Untuk meng-export entity ke google earth

Refresh

Reload map dan folder

Pointer

Select item pada map

Move map

Klik dan drag pada map

Previous view

Kembali ke zone dan lokasi sebelumnya


3

Next view

Kembali ke zone dan lokasi selanjutnya

Zoom in and out

Untuk melihat secara objek pada map lebih


dekat atau jauh

Difine zoom area

Menyesuaikan pandangan dengan objek

Terrain section

Memperlihatkan profile pada dua point

Measurement
distance

Untuk mengukur jarak

Tip text

Untuk memperlihatkan informasi

Find on map
Create new vector
layer
Create new
polygon

Untuk memperlihatkan objek yang


tersembunyi pada map
Untuk membuat layer vector baru
Untuk membuat bentuk polygon

Create new
rectangular

Untuk membuat bentuk persegi pada layer

New line

Untuk membuat garis baru pada layer

New point

Untuk membuat point baru pada layer

Combine

Untuk memgkombinasikan 2 vektor

Delete

Untuk menghapus item vector

intersection

Untu menjaga titik potong pada vector

Split

Untuk memotong vector dengan meggunaan


vector

New transmitter
or station

Untuk membuat stasiun atau transmitter baru

Create hexagonal
design

Membuat hexagonal grup dari stasiun

New repeater

Mumbuat repeater baru atau remote antena

Edit relation on
the map

Mengubah unidirectional dan symmetric pada


peta

Point anlysis

Menunjukan atau menyembunyikan analisis


poin

Calculate

Mengupdate pathloss dan mengkalkulasi


prediksi yang tidak terkunci
4

1.4

Force calculation

Memaksa Mengupdate pathloss dan


mengkalkulasi prediksi yang tidak terkunci

Stop calculation

Menghentikan kalkulasi

New link

Membuat hubungan linkbaru

Create new
repeater

Membuat repeater untuk link yang di pilih

New Multi hop link

Membuat multi hop link baru

New PMP

Membuat link poin ke multipoint baru

Microwave
analysis

Membuka analisis tool microwave

Channel
arrangement

Menunjukan pengaturan saluran

Custom report

Mengekspor laporan dari tamplate file

New node

Membuat node baru

New segment
Transport
analsysis tool

Membuat ruas baru


Menyembunyikan atau menunjukan tool
analisis

Bandwidth
calculator

Membuka bandwitdth kalkulator

Status Bar

Pada software Atoll terdapat statusbar yang berfungsi untuk menampilkan hasil analisa dan
menentukan parameter-parameter yang kana di gunakan untuk perancangan. Pada status bar
memiliki 6 kelompok yaitu : event, legend, task , geo, network, dan parameter. Berikut adalah
fungsi dari status bar :
1. Event
: untuk memperlihatkan kita kejadian-kejadian yang kita lakukan pada
Atoll seperti start session, end session, dll
2. Task
: untuk
3. Legend : untuk melihat hasil prediksi yang kita lakukan pada Atoll pada status bar
ini akan muncul prediksi seperti C/I, noise, coverage by signal, dll
4. Network : untuk menlihat dan melakukan percobaan prediksi pada Atoll
5. Geo
: untuk mensetting kontur bumi pada daerah atau lokaasi yang akan kita
gunakan sebagai percobaan Atoll
6. Parameter
: untuk mensetting parameter-parameter yang di butuhkan seperti
traffic parameter, radio network, radio network equipment, microwave setting,
microwave equiopment, propagation model.
5

Berikut adalah gambar dari status bar yang ada pada Atoll :

Gambar 3. Status bar Atoll

BAB II
PERANCANGAN KOMUNIKASI SELULAR
Pada jaringan komunikasi selular untuk mencakup satu area layanan yang luas, diperlukan
beberapa area layanan kecil yang disebut sebagai sel yang satu sama lain terpadu dalam satu
jaringan. Jaringan yang merupakan sub sistem jaringan yang lebih luas ini dikontrol oleh satu
pusat koordinasi yang disebut MSC (master switching centre). Untuk membentuk satu
jaringan total sistem yang lebih luas, diperlukan beberapa MSC yang satu sama lain juga
terhubung, sehingga satu pelanggan dimanapun dia berada pada area layanan sistem
(service area), dapat meng-akses jaringan. Melihat format jaringan yang diterapkan, maka
topologi yang digunakan adalah merupakan kombinasi jaring bintang dan jaring jala (mesh),
atau jaring cluster seperti ditunjukkan pada gambar 2.1 .

BT S

sel

BSC

BSC

BSC
M SC

sel
sel

M SC

BT S

BT S

BSC

sel

BSC
BT S

a r e a la y a n a n

Gambar 2.1 Jaringan sistem seluler bergerak


MSC akan mengontrol sampai 16 traffic area atau kawasan yang harus ditangani oleh masingmasing satu BSC (base station controller). Sementara satu BSC akan mengen-dalikan sampai
64 BTS. Sehingga total satu MSC akan mengendalikan (16x64) BTS atau 1024 BTS.
Hubungan yang digunakan baik antara BSC dengan MSC-nya maupun antar MSC, da-pat
berbentuk jalur kabel koaksial, kabel serat optik ataupun sistem microwave. Tetapi dari sisi
investasi jaringan, dari ketiga kemungkinan tersebut maka sistem microwave lebih
menguntungkan, karena lebih murah, mudah penggelarannya serta perawatannya,
dibandingkan dengan dua sistem yang lain. Demikian juga antara satu BSC dengan be-berapa
BTS-nya, yang umumnya juga menggunakan jalur microwave.
8

2.1

Perencanaan Sel

Dilihat dari struktur jaringan seluler Gbr-1, maka sel adalah bagian terkecil yang ke-mudian
menyusun keseluruhan area layanannya. Oleh karena itu awal dari keseluruhan jaringan
adalah perencanaan sel. Tujuan perencanaan sel adalah untuk mengoptimalkan cakupan area
layanan yang direncanakan, dengan seefektif mungkin dilihat dari sisi de-rajat layanan
kepada pelanggan (GOS = grade of service) dan investasi modal yang di-perlukan untuk
terbangunannya sebuah BTS. Dengan perencanaan tersebut, maka dapat ditentukan cakupan
wilayahnya, jumlah sel serta lokasinya, sehingga dapat dihitung besarnya kebutuhan alokasi
kanal yang diperlukan. Sasaran yang akan dicapai dalam pe-rencanaan sel meliputi,
2.1.1 Pimilihan Bentuk Sel
Bentuk sel yang ideal adalah bentuk segienam beraturan (hexagonal) dengan pertim-bangan
mudah dalam perencanaan, dapat menutupi daerah layanan dengan sempur-na tanpa celah,
dan tidak terjadi tumpang tindih antara sel satu dengan sel yang lain. Akan tetapi pada
kenyataannya, bentuk segienam beraturan ini sulit dicapai karena pola radiasi antena stasiun
basis (BTS) mempunyai wavefront yang cenderung me-lingkar. Sementara bila sekarang,
daerah layanan tersebut dicakup oleh beberapa sel yang berbentuk lingkaran, maka diantara
sel itu pasti terdapat bagian area yang tidak tercakup oleh sel manapun, dan akan terdapat
juga bagian yang dicakup oleh bebe-rapa sel secara tumpang tindih seperti ditunjukkan pada
Gbr-2(b).
Selanjutnya, bentuk sel maupun jarak antara daerah layanan sel pada kenyataannya dapat
tidak beraturan, karena bentuk sel tersebut sebenarnya tergantung pada kondisi yang
terdapat di lapangan. Banyaknya halangan (obstacle) di sekeliling sel seperti pepohonan,
gedung-gedung tinggi, membuat bentuk sel yang terjadi sangat tidak ideal seperti
diperlihatkan pada Gbr-2(c).

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.2 Bentuk sel : (a) hexagonal/ideal; (b) lingkaran; (c) kondisi sebenarnya.
9

Jadi bentuk yang dipilih dalam perencanaan sel adalah bentuk segienam beraturan. Bentuk ini
diperoleh dengan penempatan panel (array) antena dipole sebanyak enam sisi sesuai sisi
hexagonal tersebut.
2.1.2

Penentuan Ukuran Sel

Beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan ukuran sel dalam satu daerah
layanan adalah :
a) Kepadatan lalu lintas (trafik) telepon yang diperkirakan,
b) Kekuatan pemancar serta sensitivitas penerima, baik stasiun basis / BTS maupun
stasiun bergerak / MS.
c) Tinggi antena BTS maupun MS
d) Keadaan topografi atau profil permukaan daratan daerah layanan termasuk ada-nya
halangan gedung, bukit dsb.
Sebelum mempertimbangkan beberapa faktor diatas keseluruhannya, jumlah BTS dapat
diperkirakan secara kasar, yaitu dengan anggapan bahwa kawasan daerah la-yanan
merupakan kawasan datar dan tidak bergedung tinggi. Luas daerah berbentuk hexagonal
dapat tertentu dari rumus,
3
x 3 xR 2
2
LS =
(1)
dimana :
LS
= luas daerah sebuah sel bentuk hexagonal, km2
R

= jari-jari sebuah sel, km

Untuk menentukan jari-jari cakupan layanan, dapat digunakan jarak radio horizon yang
tertentu dari rumus empirik,

ht
d = 4
dimana :
d
ht
hr

+4

hr

(2)

= jarak LOS antara pemancar dan penerima, km


= tinggi antena pemancar dari tanah, m
= tinggi antena penerima dari tanah, m

Dari rumus jari-jari , jarak LOS, d , dapat dianggap sebagai jari-jari sel, sehingga bila tinggi
antena BTS maupun MS diketahui, maka jari-jari sel dapat ditentukan. Mela-lui rumus (1) dan
(2), maka luas daerah layanan sebuah sel dapat dihitung, dan selanjutnya dapat dicari jumlah
minimum stasiun basis yang diperlukan untuk men-cakup seluruh daerah layanan. Jumlah
minimum BTS yang diperlukan dapat ter- tentu dari rumus,

nS =

L
LS

(3)

dimana :
nS = jumlah minimum BTS
L

= luas daerah layanan, km2

LS = luas daerah sebuah sel bentuk hexagonal, km2

10

Sebagai contoh misalnya, daerah layanan adalah wilayah DKI Jakarta yang luasnya 7310 km2.
Dengan antena pemancar BTS yang dipasang pada menara 20 m, dan tinggi rata-rata antena
MS adalah 1,5 meter, maka jumlah stasiun basis yang diper-lukan untuk melayani seluruh
wilayah DKI sebanyak 5,4 atau 6 lokasi stasiun basis yang masing-masing mempunyai luas
daerah layanan sekitar 1354 km2 dengan radius sampai 23 km.
Dengan jari-jari sel yang semakin kecil, maka akan semakin banyak stasiun basis (base
station) yang dioperasikan untuk mencakup daerah layanan seluruhnya yang mempunyai
konsekuensi semakin sering pula terjadi proses handof.
Berkaitan dengan kepadatan trafik, bila terjadi peningkatan karena semakin bertam- bahnya
jumlah pelanggan, maka jumlah kanal yang sudah tersedia harus diopera- sikan. Akan tetapi
bila kanal yang tersedia sudah mencapai batas maksimum, maka yang harus dilakukan
adalah meninjau kembali luas/ukuran layanan sel. Hubungan antara luas sel dengan
kepadatan trafik ditunjukkan oleh rumus,
C/K
R 2
d =
(4)
dimana :
d = kepadatan trafik, erlang/km2
C
K
R

= ofered traffic / sel


= pola pengulangan frekuensi (frequency reuse pattern)
= radius sel, km

Dari rumus (4) terlihat bahwa, bila jumlah kanal per sel (total ofered traffic), C, telah
mencapai maksimum, maka peningkatan kepadatan trafik, d, harus disertai dengan
pengurangan radius sel, R. Faktor K adalah angka yang menunjukkan pola pengulangan
frekuensi (frequency reuse) yang digunakan untuk menentukan jarak antar sel yang bekerja
dengan frekuensi sama (co-channel), sehingga tidak terjadi interferensi. Untuk sistem AMPS,
nilai K sebe-sar 7, sedang untuk GSM sebesar 4.
Namun rancangan ukuran sel sebenarnya lebih ditentukan dari daya pancar BTS, maupun
daya pancar MS, disamping ketinggian antena kedua sisi tersebut seperti diuraikan dalam
Modul-5. Bahasan pada bagian ini hanya menghitung perkiraan kasar jumlah BTS dalam satu
kawasan berdasarkan jarak line-of-sight saja. Dari hasil hitungan di atas, dengan tinggi antena
BTS, 20 meter, dan antena MS1,5 meter, maka radius sel mencapai 23 km. Padahal radius sel
praktis
jatuh
pada
kisaran
2
s/d
5
km
saja.
2.2

Perhitungan Trafik Sel

Langkah awal yang dilakukan dalam perencanaan jaringan adalah memperkirakan be-sarnya
trafik yang akan terjadi yang tergantung kepada penyebaran dan jumlah pelang-gan yang
akan dilayani oleh satu sel. Disamping itu, pertimbangan lain adalah, bahwa sel yang
direncanakan juga harus dapat melayani pelanggan 'roaming' yang berkaitan dengan proses
handof. Jumlah dan distribusi pelanggan yang mungkin, dapat diketahui dari data
kependudukan, data tingkat pendapatan masyarakat, distribusi pemilik telepon tetap yang
sudah ada, maupun data lokasi daerah perkantoran. Hasil pengumpulan data ini dapat
memberikan gambaran umum tentang lokasi setempat dan perkiraan lokasi stasiun basis
yang paling baik.
11

Perencanaan yang dilakukan dengan data dukung yang ada belum dapat secara akurat
langsung sesuai dengan kebutuhan layanan. Oleh karena itu perencanaan jaringan ini
sebaiknya mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi, sehingga dikemudian hari mudah
diatur kembali untuk disesuaikan dengan keadaan sebenarnya yang selalu berubah. Hal ini
disebabkan karena pelanggan sistem seluler mempunyai karakteristik yang khas, yaitu dapat
bebas bergerak kemanapun yang sangat jauh berbeda dengan sistem telepon tetap.
Penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan sehubungan dengan trafik yang mening-kat yang
harus selalu dipantau, sehingga akan diperoleh kondisi yang memuaskan pe-langgan, yaitu
tidak terjadi tingkat waktu tunggu yang tinggi.
2.2.1 Tipe Trafik
Secara umum trafik sistem komunikasi telepon seluler bergerak terdiri dari 3 tipe, yang
diklasifikasikan pada asal dan arah lawan bicara yang akhirnya menentukan jumlah kanal
yang digunakan, (1 kanal menggunakan 2 frekuensi). Ketiga tipe ter- sebut adalah,
1. Trafik tipe-1, dari telepon tetap ke telepon bergerak : Hubungan ini menggunakan 1
kanal untuk setiap pembicaraan yang dilakukan.
2. Trafik tipe 2, dari telepon bergerak ke telepon tetap : Hubungan ini juga menggunakan 1
kanal untuk setiap pembicaraan yang dilakukan.
3. Trafik tipe 3, dari telepon bergerak ke telepon bergerak : Hubungan ini menggunakan 2
kanal untuk setiap pembicaraan yang dilakukan.
Melihat ketiga tipe diatas, maka tipe-3 adalah jenis yang paling banyak mengguna-kan kanal
untuk setiap pembicaraan dalam satu sel. Keadaan ini menyebabkan ting-ginya tingkat
pendudukan kanal yang berlangsung, karena untuk setiap pembicaraan digunakan dua kanal
sekaligus.
2.2.2 Beberapa Parameter dalam Perhitungan Trafik
Terdapat tiga parameter yang saling berhubungan dalam perhitungan trafik, yaitu trafik
operasional (ofered traffic), tingkat pelayanan (grade of service/GOS), dan jumlah kanal.
Jumlah kanal sendiri telah disinggung dalam rumus (4) di depan
1.

Offered Traffic

Yang dimaksudkan dengan ofered traffic adalah besar trafik yang masuk atau yang terjadi
dalam satu saat tertentu pada seluruh jaringan. Untuk menentukan nilai ofer-ed traffic dapat
digunakan rumus sebagai berikut.

A =

nxh
3600

(5)

dimana :
A

= jumlah trafik yang masuk (ofered traffic), erlang

= jumlah permintaan panggilan selama satu jam pengamatan

= waktu percakapan rata-rata (detik)

Sedang untuk menghitung besar ofered traffic yang harus dilayani oleh satu sel dalam satu
jaringan dapat digunakan persamaan,
12

AOS =

A
ns

(6)

dengan asumsi, bahwa pelanggan tersebar merata (jumlah per km 2 sama) di seluruh wilayah
layanan, dimana :
AOS= jumlah trafik yang masuk untuk satu sel, erlang
A
nS

= offered traffic total, erlang


= jumlah sel

Untuk menduga jumlah ofered traffic, Indonesia menggunakan metoda Lost-Calls- Cleared
dengan anggapan, bahwa jumlah pengguna telepon bergerak tidak terbatas dan jumlah kanal
pembicaraan yang tersedia, terbatas. Oleh karena itu rumusan nilai trafik untuk sistem
telepon seluler bergerak yang harus digunakan adalah persamaan Erlang-pertama.
Persamaan yang dimaksudkan adalah,

A C / C!
C

A
B =

x!

x 0

(7)

dimana :
B = grade of service jaringan atau prosentase panggilan yang hilang
A = ofered traffic total, erlang
C = jumlah kanal pembicaraan
x = batas bilangan dari 0 sampai C
Dengan melihat rumus (6-7), maka untuk mengetahui ofered traffic, ditentukan du- lu
syarat derajat layanan yang dikehendaki dan total kanal yang tersedia, dengan menganggap
bahwa sel yang direncanakan adalah jenis sektoral dengan sudut 120 O.
Berikut ini diilustrasikan satu nilai trafik untuk lebih memberikan pemahaman rumus (6-5)
diatas.
Tersedia 3 trunk atau kanal dalam satu grup switching, yang masing-masing didu-duki pada
variasidurasi seperti ditunjukkan pada Gbr-3. Trunk-1 diduduki 3 pang-gilan, Trunk-2 diduduki
3 panggilan, dan Trunk-3 diduduki 2 panggilan. Tentukan-lah nilai trafik pada grup switching
tersebut ?

13

T ru n k
1

1 /5

1 /1 0

1 /1 0

2 /5

4 ,5 /1 0

1 /2

T
1 /1 0

1 /5

Gambar 2.3 Satu grup switching dgn 3 trunk

Penyelesaian :
Jumlah panggilan (pelanggan yang melakukan hubungan telepon) dalam perioda waktu
T = (3 + 3 +2) = 8 panggilan.
Rata-rata waktu pendudukan
1/5T)/8

= (1/5T + 1/10T + 2/5T + 1/10T + 4,5/10T + 1/10T + 1/2T +

= (20,5/10)T/8

Jadi traffic ofered =

nh

8x

(20,5) / 10T
8

2,05 erlang

1. Derajat Pelayanan
Yang dimaksudkan dengan derajat layanan atau grade of service (GOS) adalah perbandingan antara trafik yang gagal dengan trafik yang ditawarkan dalam satu peri-oda
pengamatan. Jadi dengan nilai derajat layanan sebesar 0,02 atau 2% pada trafik yang
ditawarkan sebesar 100 panggilan, berarti terdapat 2 panggilan yang gagal yaitu tidak
mendapatkan sambungan. Derajat layanan sering dinyatakan dalam ang-ka desimal atau
angka perbandingan. Jadi derajat layanan sebesar 0,01 berarti juga 1 panggilan gagal dalam
100 panggilan.

14

Diturunkan dari rumus (6-7), dengan nilai GOS tertentu serta jumlah kanal tertentu, maka
nilai ofered traffic dapat diketahui dari Tabel 6-1. Terlihat pada Tabel 2.1 terdapat beberapa
nilai GOS, yaitu, 0,02; 0,01; 0,005; dan 0,001.
Kita telah mengetahui, bahwa jumlah kanal pembicaraan pada sistem GSM adalah delapan
untuk satu frekuensi kanal (sistem TDMA = time division multiplex access). Dari Tabel 2.1, bila
nilai GOS dipilih 0,01 (1 loss in 100), maka nilai A = 3,2 E. Nilai ini adalah nilai ofered traffic
tiap sektor. Untuk satu sel, maka nilai tersebut dikalikan tiga (3 frekuensi kanal), sehingga
menjadi 9,6 E. Nilai total ofered traffic untuk 24 kanal pembicaraan tersebut akan berbeda
bila 24 kanal itu berada dalam satu frekuensi. Kalau kita lihat di Tabel 2.1, nilai tersebut
adalah 15,3 E.

15

1
Tabel 2.1 Gos vs jumlah trafik
Jadi untuk satu sektor, A = 3,2 E. Bila kita kembalikan ke rumus (6-5), maka bila durasi
percakapan rata-rata 3 menit = 180 detik, maka jumlah pelanggan untuk satu sektor sebesar
64, sehingga untuk satu sel menjadi (64 x3) = 192 pelanggan.
Seandainya satu sel atau BTS yang telah dirancang pada trafik yang normal dapat
melayani 192 pelanggan, kemudian harus melayani pelanggan yang lebih banyak dari
kemampuan normalnya, maka dikatakan BTS tersebut mengalami overload. Kondisi overload
ini mengakibatkan nilai GOS akan menjadi lebih buruk. Yang se-mula hanya terjadi 1
panggilan-gagal-dalam 100 panggilan, maka akibat overload tersebut, jumlah panggilan-gagal
lebih banyak dari 1 dalam 100 panggilan. Grafik Gbr-4 menunjukkan keadaan tersebut.

16

Gambar 2.4 Grafik perubahan nilai GOS thd. overload


Nampak pada Gbr-4 bahwa, nilai GOS akan menurun bila grup trunk atau kanal
pembicaraan mengalami trafik yang melebihi trafik yang ditawarkan untuk beberapa ukuran
trunk. Pada 0% overload atau trafik pada kondisi normal, nilai GOS pada 0,002. Tetapi bila
jumlah trafik terus meningkat, maka nilai GOS menjadi lebih buruk. Misalnya, untuk jumlah
trunk sebanyak 5, kenaikan trafik hingga 10% over-load, maka nilai GOS bertambah buruk
sekitar 40% atau 0,4x0,002 = 0,0008 hingga menjadi 0,0028 atau dari 500 panggilan yang
dicoba, yang mengalami kegagalan sebanyak 1,4 panggilan dari keadaan normal yang hanya
satu panggilan. Sementara untuk grup trunk-100, 10% overload akan menyebabkan kenaikan
nilai GOS sampai 550 %, sehingga dari semula hanya satu panggilan gagal, menjadi 6,5
panggilan.
Karena alasan tersebut diatas, maka operator telekomunikasi menerapkan dua kri-teria,
yaitu menerapkan dua nilai GOS. Dua nilai GOS itu adalah, satu untuk normal trafik dan, yang
satu yang nilainya lebih besar, untuk keadaan overload. Misalnya, nilai B untuk normal tarfik
dan nilai 5B untuk trafik dengan 20% overload.
Contoh kasus satu sentral yang mengalami overload adalah, ketika satu stasiun televisi
mengadakan acara kuis secara live, penonton melakukan akses telepon untuk mengikutinya.
Ketika saatnya terjadi, maka sentral tersebut drop karena penelpon dari pelanggan
layanannya banyak sekali yang mencoba melakukan call.

1.3

Perhitungan Perancangan Sel

Dengan anggapan awal bahwa, medan kawasan layanan bukan merupakan kawasan berbukit, maka kerugian propagasi yang merupakan penyerapan daya oleh gedung, pepo-honan,
dsb diabaikan. Pengandaian ini juga dilakukan pada perancangan awal sebagai rancangan
kasar sebelum rancangan sebetulnya dibuat. Perencanaan sebetulnya dilaku-kan dengan
17

memasukkan data topografi kawasan layanan maupun


penduduknya). Juga jenis layanan sel berbentuk sektoral.

demografinya

(kepa-datan

Sebagai contoh pada satu kawasan akan dilayani oleh sistem seluler bergerak, dengan data
sebagai berikut :

Luas kawasan sebesar 400 km2


Jumlah pelanggan 4000 orang
Derajat layanan (GOS) yang dirancang sebesar 0,01
Rata-rata waktu percakapan pelanggan, T = 180 detik
Kelas daya sistem seluler adalah 5, atau MS = 0,5 watt dan BTS = 2,5 watt

Dari data luas kawasan dan data hasil pengamatan diharapkan dapat diperoleh, berapa
banyak sel yang diperlukan, berapa jauh radius tiap sel. Dan juga yang dapat diperoleh dari
rancangan ini adalah perkiraan jumlah kanal yang dioperasikan di setiap sel.

1.3.1Perhitungan trafik dan jumlah pelanggan/sel


Nilai trafik normal yang harus dilayani per sel, ditentukan berdasarkan nilai GOS yang
dipilih atau diminta untuk syarat teknis satu sel. Dari nilai GOS ini dapat tertentu nilai trafik
yang bersesuaian. Kanal pembicaraan dalam sistem GSM dike-tahui berjumlah delapan
(sistem TDMA, lihat Modul-7). Tetapi dari delapan time slot (untuk satu frekuensi kanal), dua
time slot digunakan untuk keperluan kontrol jaringan (BCCH = broadcast control channel, dan
SDCCH = standalone dedicated control channel). Jadi hanya enam channel yang digunakan
untuk pembicaraan/data atau TCH = traffic channel. Untuk data trunk = 6, dan GOS = 0,01,
tertentu nilai ofered traffic, A, pada Tabel 6-1.
Nilai A ini adalah nilai per sektor, sehingga untuk satu sel, nilai ini harus dikalikan tiga (untuk
sektor 120O). Dari Tabel 6-1 tertentu nilai A = 1,9E. Sehingga untuk satu sel, nilai tersebut
menjadi (3 x 1,9)E = 5,7 E
Dengan memperhatikan rumus (6-5), dan Tabel 6-1, maka,
nx180
3600
1,9 =
, sehingga, n = 38 pelanggan per sektor
Untuk satu sel, maka nilai nS = 3 x 38 = 114 pelanggan.
Konfigurasi tiap sektor menggunakan 1 pemancar, sehingga satu BTS mengoperasi-kan 3
pemancar, adalah konfigurasi minimum. Tetapi bila jumlah trafik meningkat, yaitu jumlah
pelanggan yang meningkat dari setting awal, atau kebiasaan durasi te-lepon yang meningkat
(dari 3 menit menjadi rata-rata 6 menit), dsb, maka konfigu-rasi jumlah pemancar dalam satu
BTS juga berubah. Konfigurasi maksimum yang dioperasikan sekarang oleh salah satu
operator di Indonesia adalah, 4+4+2 = 10 pe-mancar. Dengan konfigurasi yang terakhir
tersebut, maka jumlah kanal pembicaraan total yang dilayani satu BTS menjadi = [(4x8)-2] +
[(4x8)-2] + [(2x8)-2] = 74 kanal. Dengan konfigurasi maksimum tersebut, maka jumlah
pelanggan yang dilayani BTS bersangkutan dengan asumsi holding-time rata-rata sebesar 3
menit, dan GOS = 0,01 adalah,
Sektor-1 :
n1 = 3 x (20 x 3,2) + (20 x 1,9) = 230
Sektor-2 :
n2 = 3 x (20 x 3,2) + (20 x 1,9) = 230
Sektor-3 :
n3 = (20 x 3,2) + (20 x 1,9)
=
102
Total pelanggan satu BTS

562
18

1.3.2

Tabel 2.2 menunjukkan ringkasan hubungan antara Jumlah TX per sektor dengan Jumlah
pelanggan yang dilayaninya, dengan asumsi nilai holding-time rata-rata se-besar 3 menit atau
180 detik, serta nilai GOS = 0,01.
Tabel 2.2

Hubungan antara Jumlah TX vs Jumlah


Pelanggan per sektor

Jumlah TX

Trafik (E)

Jumlah
nS

1,9

38

5,1

102

8,3

166

11,5

230

Asumsi :

Pelanggan,

GOS = 0,01

h = 3 menit
Sistem GSM/DCS
Perhitungan ukuran radius dan jumlah sel
Dengan data BTS yang ada, yaitu tinggi menara 40 m, daya kelas-5 (2,5 watt), gain antena
11,2 dBi, serta kerugian kabel yang ada sebesar 2 dB, sementara level peneri-maan minimum
sebesar -102 dBm dengan gain antena MS 2 dBi, dan kerugian aki-bat difraksi, berada di
dalam gedung serta penyerapan tubuh orang masing-masing 15 dB, 18 dB dan 3 dB, maka
radius sel dapat ditentukan dengan rumus (5-2), Modul-5, dimana d adalah sama dengan
radius R.
P1 P 2 G1 G 2 20 log h1 20 log h 2 Lkabel lain

40

d = 10

(8)
[ 34 ( 102) 11, 2 2 20 log 40 20 log1, 5 (18 3 2 )] / 40

=
10
3,7
= 10
= 5011 m atau 5 km

[ 3410213, 2 32 3,5 38] / 40

= 10

Hasil ukuran radius tersebut diperoleh bila pancaran berasal dari BTS ke MS (down-link)
dengan daya ERP rata-rata 34 dBm. Bila dihitung dengan cara yang sama, tetapi pancaran
berasal dari MS ke BTS (uplink), maka dengan daya ERP rata-rata MS sebesar 29 dBm, akan
diperoleh ukuran radius sel sebesar 4 km. Dengan adanya dua hasil dari perhitungan
tersebut, maka dipilih ukuran radius yang 4 km dengan alasan, bahwa radius terjauh 4 km itu
akan tercakup oleh BTS bersangkutan maupun oleh MS-nya. Nilai radius hasil perhitungan
tersebut adalah menunjukkan kemam-puan jangkau BTS dan MS dengan daya seperti
ditunjukkan dalam data. Tetapi ra-dius sel sesungguhnya, ditentukan oleh trafik yang harus
ditampung oleh satu BTS, yaitu memenuhi syarat GOS 0,01; dengan asumsi durasi rata-rata
panggilan sama dengan 180 detik, serta tipe sel 3 sektor. Perhitungannya adalah sebagai
berikut
19

contoh :
Dengan menganggap, bahwa radius sel yang dipilih sebesar 4 km sesuai perhitungan di
atas, maka jumlah sel menjadi, 400/41,57 = 9,62 sel atau 10 sel. Kemudian perhi-tungan
selanjutnya adalah, berapa jumlah trafik yang harus dilayani oleh masing-masing sel tersebut
dengan menentukan jumlah pelanggan per sel, yang kemudian menentukan nilai trafik yang
harus ditanggungnya.
Dari data jumlah pelanggan yang ada, yaitu, 4000, maka jumlah pelanggan per sel
adalah, 4000/10 = 400 pelanggan, sehingga per sektor menjadi 400/3 = 133,33 pe-langgan.
Dari Tabel 6-2 di atas, bahwa untuk tiga pemancar yang diinstal pada satu sektor, maka
jumlah pelanggan mencapai 166 orang. Sehingga dua sektor dengan konfigurasi tiga
pemancar, maka jumlah pelanggan yang dapat dilayani dapat ber-jumlah 332 pelanggan.
Sisanya harus dilayani oleh sektor ketiga, yaitu, (400 332) = 68 pelanggan. Karena
jumlahnya, 38 < nS < 166, maka akan cukup bila dipilih konfigurasinya pada dua pemancar,
yang tentu saja terdapat cadangan trafik yang masih dapat ditanganinya.
Jadi pada alternatif kedua ini dihasilkan :

Jumlah sel
= 10 area
Luas area per sel
= 41,57 km2
Jumlah pelanggan per BTS = 134 pelanggan
Jumlah total pelanggan = 4000 pelanggan
Konfigurasi TX
= 3+3+2

1.4 Parameter Dasar komunikasi selular


1. Frequenc reuse : memungkinkan penggunaan frekuensi yang sama pada sel yang berbeda,
diluarjangkauan interferensinya. Parameter yang menjadi ukuran adalah perbandingan daya
sinyal/carrier terhadap total daya interferensinya.
2. Handoff
: memungkinkan seorang pengguna pindah dari suatu sel ke sel lalin tanpa
adanya pemutusan hubungan. Terjadi pemindahan frekuensi/kanal secara otomatis yang di
lakukan oleh sistem.
2.4.1 frequency reuse
1. frequency reuse
frequency reuse adalah Frequency Reuse adalah penggunaan ulang sebuah frekuensi pada
suatu sel, dimana frekuensi tersebut sebelumnya sudah digunakan pada satu atau beberapa sel
lainnya. Terbatasnya spektrum frekuensi yang dapat digunakan pada sistem komunikasi
bergerak menyebabkan penggunaan spektrum frekuensi tersebut harus seefisien mungkin. Jarak
antara 2 sel yang menggunakan frekuensi yang sama ini harus diatur sedemikian rupa sehingga
tidak akan mengakibatkan interferensi.
Latar belakang penerapan frequency reuse ini adalah karena adanya keterbatasan resource
frekuensi yang dapat digunakan, sedangkan kebutuhan akan ketersedian coverage area yang
lebih luas terus meningkat. Maka agar coverage area baru dapat diwujudkan, dibuatlah sel-sel
baru dengan menggunakan frekuensi yang sudah pernah digunakan sebelumnya oleh sel lain.
Gambar di bawah ini menunjukan pemetaan geographis penggunaan freukensi pada beberapa
sel, dimana digunakan mekanisme frequency reuse.
20

Gambar 2.5 frekuensi reuse menggunakan 7 cell


Konsep selular adalah konsep frekuensi reuse. walaupun ada ratusan kanal yang tersedia,
bila setiap frekuensi hanya digunakan oleh satu sel, maka total kapasitas sistem akan
sama dengan total jumlah kanal. Dalam penggunaan kembali kanal frekuensi diusahakan
agar daya pemancar masing masing BS tidak terlalu besar, hal ini untuk menghindari
adanya interferensi akibat pemakaian kanal yang sama Interferensi Co-Channel). Jarak
minumum frekuensi reuse yang diperbolehkan ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jumlah
sel yang melakukan frekuensi reuse, bentuk geografis suatu wilayah, tinggi antena, dan
besarnya daya pemancar pada masing masing base station.

Gambar 2.6 jarak bebas interferensi frekuensi

Gambar 2.7 frekuensi reuse


Dalam hal ini jarak minimum frequency reuse dapat dicari dengan rumus pendekatan
teori sel hexsagonal, yaitu :
21

D
= 3 K
R

(9)

dimana :
D = Jarak minimum sel yang menggunakan kanal frekuensi yang sama.
R = Radius sel, dihitung dari pusat sel ke titik terjauh dalam sel.
K = Banyaknya sel per kelompok / pola sel / pola frequency reuse.
Pola frequency reuse pada sistem selular diperlihatkan gambar. Pengaturan pola
tersebut harus sebaik mungkin, hal ini untuk menghindari interferensi akibat adanya
penggunaan kanal yang berdekatan (Interferensi Adjacent Channel) dan interferensi cochannel.

2. Konsep kluster
Kluster adalah sekelompok sel yang masing-masing selnya memiliki 1 set frekuensi
yang berbeda dengan sel yang lain .
Ukuran kluster ( dilambangkan = K, sering juga dilambangkan = N ) adalah jumlah sel
yang terdapat dalam 1 kluster.
Contoh : K=3 artinya terdapat 3 sel dalam 1 kluster
K=4 artinya terdapat 4 sel dalam 1 kluster

Gambar 2.8 contoh kluster 3 cell dan 4 cell


Lalui sejauh i sel dari sel referensi sepanjang rantai heksagonalnya ( garis lurus yang
menghubungkan dua pusat sel), lalu berputar 60 berlawanan dengan arah jarum
jam,kemudian lalui sepanjang j sel pada arah tersebut. Pada posisiakhir disitulah letak
freq. reuse nya.

22

Gambar 2.9 frekuensi reuse

Z 2=i 2 + j 2 2ij . cos 1200

Z 2=i 2 + j 2 ij

Z 2=i 2 + j 2 2ij . ( 0,5 )

K=ukuran cluster
)
Z2 K

(10)

23

.4.2

Contoh kaidah penentuan nomor K=7

Gambar 2.10 contoh kaidah penentuan nomor K=7


HandOf
Pada komunikasi seluler, istilah handoff merupakan proses transfer suatu ongoing call atau
data session dari suatu kanal yang terhubung dalam satu inti jaringan ke kanal lain. Pada
komunikasi satelit, istilah tersebut diartikan pengalihan tanggung jawab kontrol satelit dari satu
stasiun bumi k stasiun yg lain tanpa kesalahan (loss) atau interupsi layanan. Istilah British
English untuk panggilan seluler adalah handover, yang terminologinya berstandar 3GPP yang
berasal dari teknologi Eropa seperti GSM dan UMTS.

gambar 2.11 proses terjadinya handof


penyebab HO sel :
- RF kriteria ( RF level dan kualitas Hubungan)
- Network Kriteria (masalah trafik load)
Jenis HO :
a. Internal HO ( dikendalikan oleh BSC)
Intra-cell Ho : pemindahan hubungan ke kanal yang berbeda pada satu BTS yang
sama
Inter-cell HO : pemindahan hubungan antar BTS yang berbeda dalam satu BSC
b. External HO ( dikendalikan oleh MSC)

MSC intra HO
MSC
MSC inter HO

: pemindahan hubungan yang terjadi antar BSc dalam satu


: perpindahan hubungan antar 2 MSC yang berbeda

Untuk menjelaskan klasifikasi di atas mengenai inter-cell dan intra-cell handoff, dapat pula
dibagi menjadi hard dan soft handoff:
Hard handoff adalah suatu metode dimana kanal pada sel sumber dilepaskan dan
setelah itu baru menyambung dengan sel tujuan. Sehingga koneksi dengan sel sumber
terputus sebelum menyambung dengan sel target untuk alasan tersebut hard handoff
juga dikenal dengan sebutan break-before-make. Hard handoff dimaksudkan untuk
meminimalkan gangguan panggilan secara instan. Suatu hard handoff dilakukan oleh
jaringan selama panggilan berlangsung.

Soft handoff adalah suatu metode dimana kanal pada sel sumber tetap tersambung
dengan user sementara secara paralel juga menghubungi kanal pada sel target. Pada
kasus ini, sambungan ke target harus berhasil dahulu sebelum memutus sambungan
dengan sel sumber, karena itulah soft handoff juga disebut make-before-break. Interval
selama terjadinya dua sambungan dilakukan secara paralel bisa saja singkat maupun
substansial (tergantung kondisi yang memungkinkan). Karena alasan inilah soft handoff
dapat dilakukan dengan koneksi lebih dari satu sel, misalnya koneksi dengan tiga sel,
empat atau lebih, semua dapat dilakukan oleh telepon dalam satu waktu. Ketika
panggilan dalam keadaan soft handoff, sinyal yang terbaik dari semua penggunaan
kanal dapat dimanfaatkan untuk panggilan pada saat itu atau semua sinyal
dikombinasikan agar dapat menghasilkan duplikat sinyal yang lebih baik. Kemudian yang
lebih menguntungkan adalah, ketika kedua performa dikombinasikan pada downlink
(forward link) dan uplink (reverse link) maka handoff tersebut menjadi lebih halus
(softer). Softer handoff dapat dilakukan apabila sel yang mengalami handoff berada
dalam satu situs sel.

Kegunaan dari hard handoff adalah apabila terjadi suatu keadaan dimana suatu
panggilan hanya menggunakan satu kanal. Hard handoff dilakukan secara singkat dan
seringkali tidak dirasakan oleh pengguna. Pada sistem analog bisa saja terdengar seperti
bunyi klik atau beep yang sangat singkat, sedangkan pada sistem digital hal ini hampir
tidak terasa. Keuntungan lain dari hard handoff adalah perangkat telepon tidak memerlukan
kemampuan untuk menerima dua atau lebih kanal secara paralel, sehingga lebih murah dan
sederhana. Namun hal ini juga memiliki kekurangan, yaitu tingkat keberhasilan yang rendah
dimana kerap kali terjadi panggilan putus atau terganggu. Teknologi yang mendukung hard
handoff biasanya memiliki prosedur atau tata cara untuk menstabilkan koneksi dari sel
sumber apabila koneksi ke sel target tidak dapat dilakukan (gagal). Namun sayangnya proses
stabilisasi ulang ulang ini tak selalu berhasil (pada beberapa kasus panggilan akan terputus)
dan bahkan memungkinkan pula prosedur tersebut justru mengakibatkan putusnya
sambungan.

Sementara itu, keunggulan dari soft handoff adalah, sambungan pada sel sumber hanya
akan terputus ketika sudah tersambung dengan sel target sehingga kemungkinan putusnya
panggilan lebih rendah. Namun, keunggulan yang lebih besar adalah pemeliharaan kanal
yang secara simultan pada banyak sel dan panggilan hanya bisa gagal apabila kanal
terinterferensi atau mengalami pemudaran (fade) pada waktu yang bersamaan. Fading dan
interferensi pada kanal yang berbeda tidak saling berhubungan, sehingga kemungkinan
terjadi dalam waktu yang bersamaan dalam kanal sangatlah kecil. Sehingga kehandalan
koneksi meningkat apabila panggilan menggunakan soft handoff. Karena pada suatu jaringan
seluler, mayoritas handoff terjadi pada tempat-tempat yang tidak terlingkupi dengan baik,
dimana panggilan (secara frekuentif) menjadi tidak dapat diandalkan ketika kanal mengalami
interferensi atau fading, soft handoff membawa peningkatan yang signifikan untuk
peningkatan kehandalan dari sel dengan tidak menggabungkan interferensi dan fading dalam
satu kanal. Namun keunggulan ini berdampak pada makin kompleksnya perangkat keras
dalam telepon, yang harus dapat digunakan untuk memproses beberapa kanal secara paralel.
Harga lain yang harus dibayar adalah beberapa kanal dalam jaringan harus disediakan untuk
satu panggilan. Hal ini mengurangi jumlah kanal yang bebas sehingga mengurangi kapasitas
jaringan. Dengan menyesuaikan durasi selama handoff dan ukuran dari area yang ditangani,
teknisi jaringan dapat menyeimbangkan manfaat dari kehandalan panggilan ekstra untuk
melawan harga (konsekuensi) dari pengurangan kapasitas.
IMPLEMENTASI HANDOFF

Realisasi praktis dari soft handoff pada jaringan seluler adalah menambahkan daftar sel
target yang potensial, yang dapat digunakan untuk pengalihan panggilan dari sel target. Sel
target yang potensial disebut tetangga (neighbour) dan daftarnya disebut neighbour list.
Pembuatan list untuk sel yang diberikan tidak dilakukan secara dengan mudah dan
menggunakan perangkat komputer khusus. Mereka mengimplementasikan algoritma yang
berbeda dan bisa digunakan untuk input data dari daerah pengukuran atau dari prediksi
komputer dari propagasi gelombang radio pada area yang dilingkupi sel.
Selama terjadinya panggilan, satu atau lebih parameter sinyal pada kanal sumber
dimonitor dan dinilai untuk diputuskan kapan handoff dibutuhkan. Arah downlink (forward
link) dan/atau uplink (reverse link) juga dimonitor. Handoff bisa saja diminta oleh telepon atau
oleh BTS dari sel sumber tersebut dan pada beberapa sistem oleh BTS terhadap neighbouring
cell. Telepon dan BTS dari neighbouring cell saling memonitor sinyal satu sama lain dan calon
target terbaik dipilih di antara sel dalam neighbouring cell. Pada beberapa sistem, terutama
yang berbasis CDMA, calon target juga bisa dipilih dari sel yang tidak berada di dalam
neighbouring list. Setelah proses tersebut selesai maka selesai pula usaha untuk mengurangi
interferensi selama efek near-far.

Co-channel interference

Interferensi co-channel merupakan fungsi dari parameter q yang didefinisikan sebagai:


q=

D
R

(11)

dimana:
D = jarak antara sel-sel yang menggunakan frekuensi yang sama
R = radius selNilai q disebut faktor pengurangan interferensi co-channel (co-channel
reductionfactor) dapat ditentukan untuk setiap level dari perbandingan sinyal
terhadapinterferensi yang diinginkan.
Co-channel interface atau CCI disebabkan oleh sel yg menggunakan frekuensi Yg sama,
Dimana sel ini disebut sbg sel co-channel. CCI ini tidak dapat dihilangkan dgn memperbesar
daya pembawa di pemancar. Ini karena, bila daya dinaikkan maka akan menaikkan daya
Interferensi yg berasal dari sel co-channel. Untuk menghilangkan pengaruh interferensi, maka
Jarak sel co-channel harus dipisahkan sedemikian sehingga secara fisik tidak terpengaruh
oleh propogasi gelombang.
CCI tidak dipengaruhi oleh daya pemancar tetapi merupakan fungsi jari-jari sel, R dan jarak
Sel co-channel, D. Parameter co-channel reuse, Q di definisikan sebagai perbandingan D/R
Yang dinyatakan sebagai :
Q=D/R =

3 N

(12)

Semakin besar Q, maka semakin besar jarak sel co-channel yg akan mengurangi pengaruh
Interferensi. Nilai Q yg besar juga akan meningkatkan kualitas transmisi disebabkan dgn
Mengecilnya level co-channel interference. Nilai Q yg kecil menyebabkan kapasitas sistem
Meningkat karena ukuran cluster menjadi kecil.
Tabel co-chanel reuse ratio untuk value dari N
Cluster Size (N)
Co-channel Reuse ratio (Q)
I=1,j=1
3
3
I=1,j=2
7
4.58
I=2,j=2
12
6
I=1,j=3
13
6.24

Perbandingan sinyal terhadap interfernce atau signal to interference ratio (SIR) dinyatakan ;

S
S
= i
I
0

Ii
i=1

(12)

Seperti telah diketahui bahwa daya yg diterima oleh suatu receiver akan semakin turun
dgn makin jauh jarak receiver dari transmitter. Dapat di katakan untuk daya yg disebabkan
oleh Suatu sumber penginterferensi pada komunikasi seluler sebanding dgn jarak sebagai Dn,
Dimana n adalah faktor rugirugi propogasi (2<n<5). Untuk jumlah kanal penyebab
interferensi I=6, didapat nilai SIR sebagai :
1
i

D
S
= k
I k=1 R

( )

(13)

Adjacent-channel interference
Adjacent-channel interference (ACI) merupakan gangguan yang disebabkan oleh asing
kekuatan dari sinyal dalam saluran yang berdekatan . ACI dapat disebabkan oleh penyaringan
tidak memadai (seperti penyaringan yang tidak lengkap tidak diinginkan modulasi produk
dalam FM sistem), tidak benar tala atau kontrol frekuensi miskin (dalam saluran referensi,
saluran mengganggu atau keduanya). ACI dibedakan dari crosstalk .

1.5

Propagasi radio

Pemodelan kanal propagasi tergantung kepada benda-benda diantara pengirim dan


penerima, frekuensi gelombang dan bandwidth informasi yang dikirimkan, gerakan pengirim
dan atau penerima. Pada sistem komunikasi umumnya lingkungan mempunyai profile
irregular terrain dengan jumlah obstacle yang tidak tertentu, berupa pohon, gedung dll.
Sehingga pantulan, difraksi, dan hamburan sangat berpengaruh terhadap propagasi
gelombang radio, pengaruhnya bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan system
tersebut. Pemodelan kanal propagasi dibedakan menjadi tiga bagian yaitu :
a. Propagasi Free Space
Diasumsikan propagasi hanya terjadi pada satu lintasan dan tidak terjadi refleksi serta zona
ke-1 Fresnell harus bebas halangan. Free Space Loss terjadi akibat adanya penyebaran daya
yang diradiasikan oleh antena transmitter. Faktor yang mempengaruhi adalah frekuensi dan
jarak lintasan gelombang.
Model propagasi free space digunakan untuk memprediksi Free Space Loss, dengan asumsi
bahwa lingkungan antara pemancar dan penerima adalah clear, tanpa obstacle yang berarti
sistem tersebut LOS. Model ini hanya valid untuk daerah yang merupakan medan jauh (far
field) terhadap pemancar, dimana daerah medan jauh didefinisikan oleh Fraunhofer daerah
minimal memenuhi :
(14)

Free Space Loss didefinisikan sebagai rugi-rugi propagasi di ruang bebas antara dua
antena isotropis, dimana pengaruh permukaan tanah dan atmosfer diabaikan.

Persamaan Loss Free Space

LFS = 32,5 + 20 log FMHZ + 20 log dKM

(15)

LFS = 92,5+20 log FGHZ + 20 log dKM

(16)

Fresnel Zone (Daerah Freshnel)


Teori Fresnel sebenarnya cukup kompleks tetapi cukup mudah dipahami berawal dari
prinsip Huygens bahwa setiap titik dari barisan gelombang adalah tempat berawalnya
gelombang sirkular, dan kita juga mengetahui bahwa pancaran gelombang mikro akan
melebar saat meninggalkan antenna dan jika gelombang pada satu frekuensi akan saling
berinteferen sisatu denganl ainya.
Dari prinsip diatas Teori Fresnel zone melihat garis lurus antara A dan B, dan ruang di
sekitar garis lurus tersebut untuk melihat apa yang akan terjadi pada saat sinyal sampai di
B. Beberapa gelombang akan merambat langsung dari A ke B, beberapa lainnya akan
merambat keluar garis lurus. Akibatnya jalur yang di tempuh menjadi lebih panjang, hal ini
menimbulkan perbedaan fasa antara sinyal yang langsung dengan yang tidak langsung.
Pada saat perbedaan fasa adalah satu panjang gelombang, kita akan melihat interferensi
konstruktif sinyal pada dasarnya bertambah. Melihat kondisi ini dan menghitung, kita akan
melihat adanya daerah lingkaran sekitar garis lurus antara A dan B yang akan berkontribusi
terhadap sinyal yang tiba di titik B.

Gambar 2.6 Fresnel Zone


Pada gambar diatas Fresnel Zone akan di blok pada hubungan ini walaupun jika dilihat
secara kasat mata gambar tersebut tampak LOS atau tidak ada hambatan.
Daerah Fresnel atau Fresnel zone adalah tempat kedudukan titik sinyal tidak langsung
yang berbentuk ellips dalam lintasan propagasi gelombang radio dimana daerah tersebut
dibatasi oleh gelombang tak langsung (indirect signal) dan mempunyai beda panjang
lintasan dengan sinyal langsung sebesar kelipatan atau 2 kali . Jika sinyal langsung
dan tak langsung berbeda panjang lintasan sebesar , maka kedua sinyal tersebut akan
berbeda fasa 180, artiny akedua sinyal tersebut akan saling melemahkan. Fresnel pertama
merupakan daerah yang mempunyai fading multipath terbesar, sehingga diusahakan untuk

daerah Fresnel pertama dijaga agar tidak dihalangi oleh obstacle. Secara matematis daerah
Fresnel didekati dengan rumus sebagai berikut:

Fn=17.3

n d 1 d 2
f D

(17)

Dimana :
Fn

= jarak lintasan tertentu terhadap lintasan LOS(m)

= daerah frekuensi ke n

d1
d2
(km)

= jarak ujung linatasan (pemancar/penerima) kepenghalang (km)


=jarak ujung lintasan lain (pemancar/penerima )kepenghalang

= frekuensi (GHz)

= d1+d2

Path Loss suatu sistem bisa didekati nilainya dengan persamaan Loss Free Space, jika
daerah jari jari Freshnel I sistem tersebut bebas dari obstacle.

Untuk perhitungan pathloss berdasarkan link budget calculation dapat


digunakan diagram level berikut :

Gambar 2.7 Diagram level

PersamaanPath Lossberdasarkan
link budget
PRX= PTX LFTX+ GTX LP + G
RX LFRX
sehingga
LP =TX
P LFTX+ GTX PRX+ GRX LFRX

b. Shadowing
Propagasi shadowing terjadi ketika suatu lintasan yang menghubungkan Tx dan Rx pada zona
ke-1 fresnell terdapat obstacle yang bercelah seperti pepohonan, sehingga akan terjadi refleksi.

c. Blocking
Propagasi blocking terjadi ketika suatu lintasan yang menghubungkan Tx dan Rx pada zona
ke-1 fresnell terdapat obstacle yang kokoh seperti gedung,bukit,dll, sehingga akan terjadi
refleksi.

1.6

Fading

Fading merupakan karakterisktik utama dalam propagasi radio bergerak. Fading


didefinisikan sebagai fluktuasi daya di penerima. Fading terjadi karena interferensi atau
superposisi gelombang multipath yang memiliki amplitudo dan fasa yang berbeda-beda. Pada
umumnya, sinyal yang diterima pada titik penerima adalah jumlah dari sinyal langsung dan
sejumlah sinyal terpantul dari berbagai obyek.
Pada komunikasi mobile, refleksi akan
disebabkan oleh :

Permukaan tanah

Bangunan-bangunan

Obyek bergerak berupa kendaraan

Gelombang pantul akan berubah magnitude dan fasanya, tergantung dari koefisien
refleksi, lintasannya, dan juga tergantung pada sudut datangnya. Jadi, antara sinyal langsung
dan sinyal pantulan akan berbeda dalam hal :

Amplitudo, tergantung dari magnitude koefisien refleksi

Phasa, yang tergantung pada perubahan fasa refleksi serta pada


perbedaan jarak tempuh antara gelombang langsung dan gelombang
pantul

Kondisi terburuk terjadi saat gelombang langsung dan gelombang pantul memiliki
magnituda yang sama serta berbeda fasa 180 o. Pada kondisi yang demikian, terjadi saling
menghilangkan antara gelombang langsung dan pantulnya (complete cancellation).
Sedangkan kondisi terbaik dicapai jika gelombang langsung dan gelombang pantul memiliki
fasa yang sama atau kelipatan dari 360o (In Phase Combination).
2.6.1 Jenis Fading
1. Large Scale Fading
Disebabkan karena akibat keberadaan obyek-obyek pemantul serta penghalang pada
kanal propagasi serta pengaruh kontur bumi, menghasilkan perubahan sinyal dalam hal
energi, fasa, serta delay waktu yang bersifat random. Sesuai namanya, large scale fading
memberikan representasi ratarata daya sinyal terima dalam suatu daerah yang luas.
2. Small Scale fading
Digunakan untuk menggambarkan perubahan (fluktuasi) yang lebih cepat dari amplitude
sinyal yang diterima dalam periode waktu dan jarak tempuh yang singkat. Disebabkan oleh
interferensi 2 sinyal atau lebih yang datang di receiver pada waktu yang berbeda dengan
beda waktu yang sempit atau kecil. Sinyal-sinyal ini disebut dengan gelombang jalur jamak
(multipath), yang dikombinasikan pada antenna penerima untuk menghasilkan sinyal dengan
berbagai amplitude dan fasa yang tergantung pada intensitas distribusi dan waktu propagasi
dari gelombang dan BW sinyal.
Berikut ini table pembagian jenis-jenis small scale fading :
Table 2.2 jenis-jenis small fading

Berikut ini grafik penjelasan mengenai jenis fading

Gambar 2.8 Grafik Jenis Fading

Range jarak pengukuran optimal umumnya pada sekitar 2


jaraknya terlalu dekat

mungkin tidak memberikan harga rata-rata (mean

value), sedangkan jika range jarak pengukuran terlalu jauh


keluar dari nilai large scale realnya ( nilai

karena jika

mungkin akan

mungkin sudah berubah)

Jumlah sample pengukuran adalah > 36 sample untuk mendapatkan interval


tingkat keyakinan 90%

2.6.2 Faktor Penyebab Fading


2.6.2.1

Refleksi

Terjadi ketika sinyal mengenai objek yang mempunyai dimensi yang lebih besar
daripada panjang gelombang sinyal. Pemantulan dapat disebabkan oleh benda-benda

dielektrik
maupun oleh konduktor seperti logam. Jika gelombang mengenai
permukaan dielektrik maka sebagian gelombang akan diteruskan dan sebagian lagi
dipantulkan. Jika mengenai konduktor sempurna, seluruh gelombang akan
dipantulkan.
2.6.2.2

Difraksi

Terjadi ketika sinyal mengenai objek yang mempunyai bentuk yang tajam.
2.6.2.3 Scattering
Hamburan (scattering) terjadi ketika sebuah halangan atau partikel dengan dimensi yang
lebih kecil dari panjang gelombang, mengubah perambatan gelombang dengan mengirim
ulang sinyal ke berbagai arah sehingga energi akan tersebar ke berbagai arah. Jika jumlah
pertikelnya cukup banyak, daya pengirim dapat hilang dalam jumlah besar. Berikut ini
merupakan ilustrasi dari penjelasan di atas :

Gambar 2.9 penjelasan Fading


2.6.3Faktor Yang Mempengaruhi Fading
2.6.3.1 Propagasi MultiPath
Adanya objek yang menyebabkan pantulan dan hamburan pada saluran mengakibatkan
berkurangnya energi sinyal pada amplitudo dan fasa. Efek ini menjadikan sinyal yang
diterima receiver bervariasi yang mengakibatkan fluktuasi sinyal sehingga terjadi fading dan
distorsi. Propagasi multipath juga mengakibatkan perbedaan waktu yang menyebabkan
timbulnya intersimbol interference, delay spread, dan multipath fading.

2.6.3.2

Kecepatan MS (Receiver)
Gerak relatif antara Base Station dengan MS menghasilkan modulasi frekuensi random
berkaitan dengan pergeseran frekuensi Doppler yang berbeda untuk tiap lintasan multipath.
Doppler shift bisa positif dan negatif tergantung dari posisi pergerakan MS terhadap BS.

2.6.3.3

Kecepatan Objek Pemantul

Jika pergerakan benda lebih besar dibandingkan gerakan MS (receiver) sendiri, maka
pergerakan objek tersebut akan lebih beasr pengaruhnay pada terjadinya fading.
2.6.3.4

Lebar Pita Transmisi Sinyal


Jika bandwith sinyal yang ditransmisikan lebih besar dari bandwith saluran multipath,
maka yang diterima akan menalami ditorsi.

2.6.4Cara Mengatasi fading


2.6.4.1
Diversity

Teknik diversitas adalah metode yang digunakan untuk merekonstruksi sinyal informasi
dari beberapa sinyal yang ditransmisikan melalui kanal fading yang saling independen.
Teknik diversitas memungkinkan transmitter memancarkan sinyal informasi disertai replika
sinyal tersebut.
a. Diversitas waktu (time diversity)
sinyal informasi akan ditransmisikan melalui time slot yang berbeda, sinyal replika akan
ditransmit dengan delay waktu tertentu. Agar sinyal asli dengan sinyal replika memiliki
independensi fading, delay antar time slot didekati setidaknya sebesar waktu koheren kanal
b. Diversitas Frekuensi ( frequency diversity)
Diversitas frekuensi yaitu sinyal informasi akan memodulasi lebih dari satu frekuensi carrier,
dimana untuk menghasilkan independensi fading, jarak antar frekuensi carrier yang
digunakan didekati setidaknya sebesar bandwidth koheren kanal.
c. Space Diversity
Diversitas ruang (space diversity), sinyal ditransmisikan menggunakan beberapa antena
transceiver dan beberapa antena penerima. Dimana jarak antar antena dipilih agar fading
yang terjadi antar antena saling independen
2.6.4.2 Fading Margin
Fading margin adalah level daya yang harus dicadangkan yang besarnya merupakan
selisih antara daya rata-rata yang sampai di penerima dan level sensitivitas penerima. Nilai
fading margin biasanya sama dengan peluang level fading yang terjadi., yang nilainya
tergantung pada kondisi lingkungan dan sistem yang digunakan.

2.7 Model Propagasi


2.7.1 Model Okumura-Hata
Pemodelan Okumura-Hata merupakan formula empiric untuk estimasi pathloss propagasi
sinyal berdasarkan hhasil pengukuran okkumura terhadap propagasi sinyal di Tokyo. Oleh Hata
hasil pengukuran tersebut di dekati dengan suatu formula umum untuk lokasi urban dan beserta
beberapa pengkoreksiannya. Pendekatan ini dipakai luas di Eropa dan Amerika utara untuk desai
sistem pada banda 800-900 MHz. Dari hasil penelitian yang ada harga pathloss dari pendekatan
ini untuk daerah urban di inggris, kanada dan amerika serikat mempunyai harga 10 dB lebih
rendah tetapi untuk daerah suburban cukup sesuai.
Okumura-Hata membedakan jenis lingkungan propagasi menjadi 4 macam, yakni :
1. Metropolitan :jika lingkungan berupa gedung beertingkat dengan tinggi rata-rata
lebih dari 5m tingkat lebar jalan lebih dari 15 m.
2. Daerah Urban : jika lingkungan berupa gedung beertingkat dengan tinggi rata-rata
kurang dari 5m tingkat lebar jalan kurang dari 15 m.
3. Dearah Sub-urban : dengan lingkugan area rural dengan pemantulan rumah dan
pepohonan.
4. Daerah rual : daerah ini tidak terdapat pohon-pohon dan bangunan tinggi di
sepanjang lintasan dan tidak ada halangan seperti, kawasan persawahan, ladang/
lapangan terbuka.
Perhitungan pathloss berdasarkan kriteria :
1. Daerah metropolitan

Lurban=C 1+C 2 log ( f )13.82 log ( h bts ) a ( hms ) + ( 44.96.55 log ( hbts ) ) log ( r )

(18)

Dimana :
f

= frekuensi (MHz)

hbts

= tinggi BTS(m)

hms

= tinggi antena MS(m)

= jarak bts-ms (km)

C1

= 69.55 untuk 400 f 1500MHz; 46.3 untuk 1500 f 2000MHz

C2

= 26.16 untuk 400 f 1500MHz; 33.9 untuk 1500 f 2000MHz

a ( h ms)

= factor koreksi ketinggian antena MS


2

a ( h ms) =3.2 {log ( 11.75 h ms ) } 4.97>kota besar

2. Daerah Urban
merupakan daerah yang memiliki kepadatan penduduk yang cukuptinggi, merupakan
daerah pusat perkantoran, niaga, pemerintahan, pendidikan, dan pemukiman penduduk
dengan densitas yang cukup banyak. Bangunan di daerah ini pada umumnya memiliki
ketinggian di atas 3 meter. Rata-rata interval antara jalandan bangunan sebesar 30 meter
dengan memiliki 2 jalan/lajur atau lebih. Sehinggarumus untuk menghitung propagasi di
daerah ini yakni sebagai berikut :

Lbu=69.55+26.26 log ( f )13.82 log ( hbts )a ( hms ) + ( 44.96.55 log ( hbts ) ) log d (19)
f

= frekuensi (MHz)

hbts

= tinggi BTS(m)

hms

= tinggi antena MS(m)


= jarak bts-ms (km)

a(hm) =[1.1 log(f)0..7]hm[1.56log(f)0.8]

3. Daerah Dense Urban

Ldense =C 1+C 2 log ( f )13.82 log ( h bts )a ( hms ) + ( 44.96.55 log ( hbts ) ) log ( r ) +Cm
urban

(20)

Dimana : Cm = 3dB
4. Daerah Sub-urban
merupakan daerah dengan kepadatan penduduk relatif rendah.Bangunan di daerah ini
biasanya memiliki ketinggian di bawah 3 meter. Rata-rata interval antara jalan dan
bangunan sebesar 40 meter dengan memiliki 2 jalandan 1 jalur. Adapun penghitungan
propagasi yang terjadi di daerah ini,digunakan rumus seperti ini :
Lbs=Lbu-2[log(f/28]-5.4

(21)

5. Daerah rural

Lrural=Lurban4.78 {log ( f ) }2 +18.33 log ( f )40.94

(22)

berdasarkan standard ITU terdapat pula formula perdekatan okumurahata berdasarkan tingkat kepada
Ldense =C 1+C 2 log ( f )13.82 log ( h bts )a ( hms ) + ( 44.96.55 log ( hbts ) ) logrB
urban

(23)
Dimana :

a ( h ms) =[ 11 log ( f )0.7 ] hms[ 1.56 log ( f )0.8 ]

B=3025 log (daerah yang tercover gedung)


Radius sel yang di tentukan oleh propagasi Hata untuk mengetahui jarak terjauh antara
MS dan BTS agara komunikasi masih dapat berlangsung. Adapun rumus radius sel propagasi
hata adalah seperti berikut :

R(km) = arc log [(MAPL-L1)/10 ]


Untuk menghitung radius sel dalam satuan km di daerah urban, maka digunakan rumus :

1.56 log ( fc )0.8

MAPL69.5526.16 log ( fc ) +13.82 ( hb ) + [ 1.1 log ( fc )0.7 ] hm

R=arc log
Untuk menghitung radius sel di daerah sub-urban digunakan rumu berikut :

{ ( )}

fc
MAPL69.5526.16 log ( fc ) +13.82 ( hb ) +a ( hm ) +2 log
28
R=arc log
44.96.55 log ( hb)

+5.4

2.7.2 Cost 231 Walfisch-ikegami

Parameter, path loss excess dari model yang Walfisch-Bertoni dan pathloss bangunan akhir
dari Ikegami Model digabungkan dalam model ini dengan beberapa parameter koreksi
empiris. Model ini adalah statistik dan tidak deterministik karena Anda hanya dapat
memasukkan nilai karakteristik, tanpa pertimbangan database topografi bangunan. Model ini
dibatasi untuk daerah perkotaan datar .
Parameter yang digunakan dalam cost 231 Walfisch- Ikegami dilambangkan pada gambar
berikut.

Gambar 2.10geometri dari cost 231


Formula untuk model propagasinya :
Jika freeLOS ada pada jalan maka pathloss di definiskan sebagai berikut :
Llos=42.6+26logR+20logf for R 20m

(23)

Jika non-LOS ada, pathloss didefinisikan sebagai berikut :


Jika ; Lrts+Lmsd<0

(24)

LFS mewakili free space loss, Lrts adalah puncak gedung ke jalan difraksi dan scatter loss, , Lrts
adalah multiscreen loss .
hroof>hmobile
jika Lrts<0
difraksi dari gedung ke jalan dan scatter loss Lrts mewakili coupling gelombang propagasi
bersama multiscreen path dalam lokasi MS di jalan.

(25)
Untuk ;0=<<35
untuk ; 35=<<55
untuk; 55=<<=90
Dimana Lori di definisikan

Dimana adalah sudut sinyal yang datang dari BTS ke jalan, dalam derajat yang di tunjukan
pada gambar berikut :

Gambar yang menunjukan sudut datang dari BTS ke jalan


hmobile=hroof-hmobile
hBase= hbase-hroof
Difraksi loss multiscreen Lmsd adalah integral untuk walfish-bertoni model untuk solusi
pendekatan untuk kasus ketinggian antena BTS lebih dari rata-rata atap. Cost 231
memperpanjang untuk solusi kasus antena BTS lebih renda dari rata-rata atap termasuk
fungsi empiris.
(26)

Untuk hbase>hroof

untuk hbase>hroof

untuk hbase<=hroof

untuk hbase<=hroof

hbase>hroof
untuk R>=0.5 km dan hbase<=hroof
untuk R<0.5 km dan hbase<=hroof
ukuran kota medium dan sub-urban dengan kepadatan pepohonan sedang

untuk metropolitan

bentuk Ka menunjukkan peningkatan path loss untuk antena base station di bawah atap
bangunan yang berdekatan. Istilah kd dan Kf mengontrol ketergantungan hilangnya difraksi
layar multi vs frekuensi jarak dan radio.
Pembatasan model diberikan sebagai berikut:

Frequency (MHz)

800-2000 MHz

Base Station Height


(hbase)

4-50 m

Mobile Height (hmobile)

1-3 m

Distance R,km

0.02-5 km

Table pembatasan dari cost 231 WI Model


Dalam kasus bahwa data pada struktur bangunan dan jalan tidak tersedia, nilai berikut dapat
diambil sebagai default.

b=20-50 m
w=b/2
hroof= 3m(number of floors)+roof
roof=3 m for pitched
0 m for flat
=900

2.8 Planning Capacity


Tahap perhitungan :
1. Number of user

Un=Uo(1+gf )

Uo u=u Uon

Uo=Uo u=Uo

Uo = Uon

Ket :
Un
Uo
a
b
d
N
gf
n
u/sub

=num of user in year n


= initial num of num of user(urban/sub-urban)
=percent of cellular user(%)
= pentration of operator a(%)
=percent of LTE user
= num of civilian of object are
=num of user growth factor
= planned year
=urban/suburban penetration (%)

2. User density

Lu=L u

L=L

Lu

= urban area wide

= sub-urban

= object are

Cu =Un/Lu

C =Un/ L

Cu

= urban are density

=sub-urban area wide

3. Services and type

Service (Rb)
Voip : 64 Kbps
FTP :1 Mbps
Video : 384 Kbps
Type (C)
Building
: 50 %
Vehicular
: 30%
Pedestrian : 20

4. Penetration : building,vehicular,pedestrian (e.g)

Pernetration (p) pertype persevice


Building Voip usage penetration = 0.5
Building FTP usage penetration = 0.4
Pedestrian video usage penetration = 0.3
BHCA (B) pertype perservice
Building Voip usage penetration = 0.008
Building FTP usage penetration = 0.009
Pedestrian video usage penetration = 0.008
Call duration (h) pertype perservice
Building Voip usage penetration = 60
Building FTP usage penetration = 50
Pedestrian video usage penetration =50

5. OBQ

voip
=C T C u; T pT RbVoip BT hT
OBQ T

FTP
=C T C u; T pT Rb FTP BT h T
OBQ T

video
=C T C u; T pT RbVideo BT h T
OBQ T
OBQtotal=OBQ Voip +OBQ FTP +OBQvideo

OBQvoip =OBQ vehicular +OBQbuilding +OBQ pedetrian

OBQ FTP=OBQ vehicular +OBQ building +OBQ pedetrian

OBQvideo =OBQvehicular +OBQbuilding +OBQ pedetrian

eNodeB capacity

PeakBitRate e [ Mbps ] =

N
bit
N subcribers symbolper subframe
Hz
1 ms

Bandwith (MHz)
1.4
3
5
10
15
20

QPSK
2.016 Mbps
5.04 Mbps
8.4 Mbps
16.8 Mbps
25.2 Mbps
33.6 Mbps

6. Site calculation

Cell dimensioning
Luas cakupan cell

Lcell=

kapasitas informassitiap set


=k m2 / sel
OBQ

modulation
16 QAM
4.032 Mbps
10.08 Mbps
16.8 Mbps
33.6 Mbps
50.4 Mbps
67.2 Mbps

64QAM
6.048 Mbps
15.12 Mbps
25.2 Mbps
50.4 Mbps
75.6 Mbps
100.8 Mbps

Jumalh cell

L . area
L . cell

cell=

Jari-jari cell

R . cell=

L. cell
2.59

BAB III
SIMULASI PLANNING CAPACITY DAN COVERAGE
PADA ATOLL

3.1 Planning Coverage dan Capacity


Diskripsi wilayah yang
menggunakan Atoll :

akan

di

gunakan

sebagai

objek

simulasi

Freq
hBTs
h Ms
lokasi

Luas wilayah

Golongan wilayah urban


Jumlah penduduk : 286.135 jiwa
Jumlah penduduk usia produktif : 65.6%x286.135 = 187.704 jiwa

planning

dengan

:2150 MHz (XL)


: 50 m
: 1.75 m
: Kec. Bekasi barat
: 18,89 km

km 2

di batasi menjadi 15

a. Traffic forecasting sampai tahun 2021

Un=Uo(1+fp)n
U ( 3 )=187.704 ( 1+0.0815 )7 =324.832
Dari jumlah tersebut diharapkan sebanyak 7.5% menjadi pelanggan potensial. Besarnya
sebanyak 7.5%x324.832=24.362 pelanggan
b. Offered bit quantity (OBQ)

=
Service
typre

pelanggan potensial 24.362


=
=1624 user /km2
luas wilayah
15

D(s)

BHCA
(call/s)

BW
(Kbps)

user/km

OBQ
(Kbps/

km 2

Voice

1.624

0.7

60

0.9

12.2

208.05

Data

1.624

0.3

300

0.1

144

584.69

OBQ total= OBQ voice+ OBQ data=792.75

Cell dimensioning
Luas cakupan cell

Lcell=

Kbps/ km

kapasitas informassitiap set


2100 kbps /sel
=
=2.64 k m2 / sel
OBQ
792.75 kbps /Km 2

Jumalh cell

cell=

L . area 15
=
=6 cell
L . cell 2.64

Jari-jari cell

L . cell
2.64
=
=1.01 km
2.59
2.59
R . cell=

Propagasi dengan cost 231

Lp=46.3+33.9 log f 13,82 logh tea ( h ) + ( 44.96.55 log h te ) logd+Cm


46.3+33.9 log( 2150)13,82 log (50)a ( h ) + ( 44.96.55 log ( 50 ) ) log (1.01 ) +3=138.38 dB

a. Simulasi

1. Tampilan awal pada Atoll

2. Membuka baru tamplate untuk penrancangan, file > new > from a document tamplate>
pilih UMTS HSPA. Untuk tamplatenya di sesuaikan dengan teknologi yang akan digunkanan
di dalam projek ini seperti 3G, 2G, dan 4 G.

3. Mensettting koordinat, documents > properties > pilih pada tanda () > pada find in pilih
WGS 84UTM zones > pilih WGS 84/UTM 48S yang merupakan letak Indonesia >ok>ok

4. Memasukan peta, file > import > cari di file dimana terdapat peta clutter > pilih
peta> open> pilih clutter classes > ok

5. Mengedit peta sesuai dengan kelas dari peta yang telah di masukan seperti urban,
pedesaan, hutan, perairan dll. Caranya klik kanan pada clutter classes > pilih
properties > discrite value > ubah dan sesuaikan warna dengan kelas-kelas untuk
clutter > apply> ok.

6. memasukan ketinggian dari peta, file> import > cari di file dimana terdapat file
untuk ketinggan peta > pilih peta> open> pilih altitudes > ok

7. mengedit dan menyesuaikan ketinggian dari peta yang telah dimasukan, klik kanan
pada digital terrain model > properties > pada display type pilih value interval >
ubah ketinggian dan warna > apply > ok

8. memilih tempat yang akan dibuat untuk objek planning pada proses ini kita harus melihat
peta agar sesuai . caranya : lihat peta > zoom ini dimana daerah tersebut berada > zones
> klik kanan pada focus zones > draw polygon > bentuk polygon sesuai bentuk dan luas
daerah yang kan dibuat untuk planning .

9. mensetting propagasi model yang akan digunakan. Buka pada status bar untuk
parameter > propagastion model > pilih salah satu propagasi model yang akan di
gunakan dan klik kanan > pilih formula > pilih kelas daerah > ok .

10.
mensetting parameter traffic yang akan di gunakan. Parameter traffic > service>
klik kanan pada salah satu layanan> pilih properties > sesuaikan dengan
perhitungan atau standar yang sudah ada > ok

11.
selanjutnya setting terminal. Terminal > klik kanan pada salah satu terminal >
properties > ubah dan sesuaikan dengan perhitungan atau standar yang sudah ada
> ok

12.
setting radio network parameter >station tamplete > pada tab general isikan
sesaui dengan standar dan perhitungan yang telah ada > apply

13.
kemudian pada tab transmitter . pilih equipment > masukan TMA, feeder, dan
transmitter, masukan panjang feeder, dan perkiraan lose untu perancangan>
commit> apply>ok

14.
kemudian pada tab W-CDMA/UMTS . pada Reuse Distance isikan sesuai dengan
jarak diameter sel> commit> apply>ok

15.
selanjutnya mensetting antena yang akan di gunakan. Radio network equipment
> pilih salah satu antena sesaui dengan frekuensi kerja>klik kanan> properties >
ubah parameter yang di perlukan sesai dengan perancangan> apply > ok.

16.
Kemudian setting transmitter. Buka status bar pada network > transmitter > klik
kanan> properties > setting pada propagasi sesuai dengan perhitungan yang telah
di lakukan > apply>ok

17.
Meletakan nobeB. Klik icon bts pada tool bar > letak kan sesuai dengan jumlah
yang telah di hitung .

18.
kemudian ubah tampilan nodeB . transmitter > klik kanan.properties>display type >
pilih automatic >apply>ok.

19.
selanjutnya melakukan perhitungan pathloss. Klik kanan pada transmitter >
calculation> calculate pathloss metrics> save > ok

20.
kemudian melakukan prediksi. Klik kanan prediction > new > pillih salah satu
prediction types > calculate. Dalam langka ini lakukan prediksi pada setiap jenis
prediksi yang di inginkan.

21.

tampilan hasil prediksi yang telah di lakukan.

22.
melakukan report. Klik kanan pada prediction>generate report>pilih yang ingin
di tampilkan> ok

23.

bentuk report dari prediksi yang telah di lakukan.

24.
selanjutnya langkah terakhir yaitu melihat hasil report yang telah di lakukan
pada excel. Klik kanan pada prediction > export coverages > pilih hasil prediksi
yang akan di export>save

DAFTAR PUSTAKA

[1] www.teleres.com.au/Atoll