Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA


DAN SEMISOLIDA NON STERIL
KELOMPOK 1
SHIFT A
RABU, 13.00-16.00

Oleh:
Rosidah

260110150001(Batch)

Shifa Hudzaifah

260110150002(Batch)

Rena Choerunisa

260110150003(Pendahuluan, Editor)

Riska Nelinda

260110150004(Pembahasan)

Qisti Fauza

260110150005(Monografi)

Rossi Febriany

260110150006(Monografi)

Fairuzati Anisah

260110150007(Pembahasan)

Wiwit Nurhidayah

260110150008(Pembahasan)

Wichelia Nisya Fitri

260110150009(Batch)

Fachreza Erdi Pratama

260110150015(Batch)
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN

2016Preformulasi Emulsi Oleum ricini


I. Pendahuluan
Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan dingin biji
Ricinus commmunis L. yang telah dikupas (Depkes RI, 1979). Kandungan asam
lemak pada minyak jarak 90% terdiri dari asam risinoleat, sedikit mengandung
asam dihidroksi stearat, linoleat, oleat dan stearat (Purwatiningrum, 2014).
Minyak jarak (Oleum ricini) termasuk golongan pencahar rangsang karena
merangsang otot polos usus sehingga meningkatkan peristaltik dan sekresi lendir
usus. Selain itu, minyak jarak bersifat emollient yaitu dapat melunakkan feses dan
memudahkan pengeluarannya. Penggunaan minyak jarak ini dapat ditemukan
dalam bentuk sediaan emulsi (Purwatiningrum, 2014).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau
surfaktan yang cocok (Depkes RI, 1979). Emulsi mengandung dua zat yang tidak
tercampur, biasanya mengandung air dan minyak, di mana salah satu cairan
terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Tujuan pembuatan
emulsi ini adalah untuk memperoleh sediaan yang stabil dan rata dari dua cairan
yang tidak bercampur, untuk pemberian obat yang mempunyai rasa lebih enak
serta memudahkan absorpsi obat (Ansel, 2005).
Untuk menstabilkan emulsi diperlukan emulgator yang cocok, tanpa adanya
emulgator emulsi akan segera pecah dan terpisah (Lachman dkk, 1994).
Emulgator tersebut harus memenuhi kualitas tertentu, salah satunya emulsi harus
dapat dicampurkan dengan bahan formulatif lainnya (Ansel, 2005). Salah satu
emulgator yang dapat digunakan dalam pembuatan emulsi adalah golongan
derivat selulosa, yaitu Na-CMC (Syamsuni, 2006).
Klasifikasi tipe emulsi berdasarkan fase terdipersinya digolongkan menjadi
dua tipe, yaitu tipe O/W (Oil on Water) atau M/A (Minyak dalam Air) dan emulsi
tipe W/O (Water on Oil) atau A/M (Air dalam MInyak). Emulsi tipe O/W atau
M/A adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi
dalam air. Minyak bertindak sebagai fase internal sedangkan air sebagai fase

eksternal, sedangkan untuk emulsi tipe W/O atau A/M adalah emulsi yang terdiri
atas butiran air yang terdispersi ke dalam minyak (Syamsuni, 2006).
Dibandingkan dengan emulsi minyak dalam air, jenis emulsi air dalam minyak
kurang sensitif terhadap pH, tetapi sensitif terhadap panas, peka pada perlakuan
elektrik, mempunyai konduktifitas lebih rendah, terwarnai oleh pewarna yang
larut dalam minyak, dan dapat diencerkan dengan penambahan minyak murni
(Holmberg dkk, 2003).
Emulgator atau zat pengemulsi merupakan komponen penting dalam
kestabilan emulsi. Emulgator dapat mencegah terjadinya koalesensi, yaitu
penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase
tunggal yang dapat mengurangi tegangan permukaan antar fase sehingga
meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran. Tingkat penurunan
tegangan permukaan oleh senyawa pengemulsi berkisar 10 dyne/cm jika
digunakan konsentrasi emulgator kurang dari 0,2 % (Purwatiningrum, 2014;
Lachman dkk, 1994).
Pembuatan emulsi biasanya menggunakan emulgator dari derivat selulosa
yang merupakan hidrokoloid, yaitu suatu koloid yang mempunyai afinitas
terhadap air. Dalam hal ini kemampuannya untuk berinteraksi dengan air, larut
dan terbagi merata di dalamnya (Philips dan Williams, 2009). Pada umumnya
viskositas derivat selulosa akan turun dengan adanya pemanasan. Tingginya
temperatur dan lamanya waktu pemanasan sampai terjadinya penurunan viskositas
berbeda-beda tergantung viskositasnya (Purwatiningrum, 2014).
Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: kelompok
hidrofilik, yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air, dan kelompok lipofilik
yaitu bagian yang suka pada minyak. Masing-masing kelompok akan bergabung
dengan zat cair yang disenanginya (Syamsuni, 2006). Metode yang digunakan
dalam pembuatan emulsi diantaranya adalah metode gom kering, metode gom
basah, dan metode botol (Anief, 1999; Ansel 2005).
Untuk membuat hubungan kuantitatif antara hidrofilisitas surfaktan dan
fungsi dari larutan, diberlakukan konsep keseimbangan HLB dari surfaktan. HLB
tersebut merupakan angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok

lipofil dengan kelompok hidrofil. Di mana semakin besar harga HLB berarti
semakin mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya (Syamsuni, 2006).
II. Monografi Zat
II.1.
2.1.1 Oleum riccini
Pemerian

Preformulasi Zat Aktif


: Cairan kental, transparan, kuning pucat atau
hampir tidak bewarna, bau lemah, bebas
dari bau asing dan tengik, rasa khas.
: Larut dalam etanol, dapat bercampur

Kelarutan

dengan etanol mutlak, dengan asam asetat


glasial, dengan kloroform dan dengan eter
(Depkes RI, 2014, Edisi V, hal 247).
Stabilitas
Panas :

Hidrolisis /Oksidasi
Cahaya
pH
Inkompatibilitas

:
:
:
:

Stabil

dan

tidak

menjadi

tengik kecuali dikenai panas yang berlebih


(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 126).
Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V
Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V
Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V
Inkompatibel dengan oksidator kuat.

Titik Lebur/Titik Didih : -12 / 313


(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 126).
pKa/Pkb
Polimorfisme
Ukuran Partikel
Bobot Jenis

:
:
:
:

Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V


Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V
Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V
0,953 sampai 0,964
(Depkes RI, 1979, Edisi III, Hal. 459).

pH Larutan

: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V

Kegunaan

: Laksativum
(Depkes RI, 1979, Edisi III, Hal. 459).

2.2 Preformulasi Eksipen


2.2.1 Aqua destillata
Pemerian

: Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau;


tidak mempunyai rasa
(Depkes RI, Ed.III, 1979, hlm.96).

Kelarutan

: Larut dalam kebanyakan pelarut polar


(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.766).

Stabilitas

Panas

Hidrolisis/Oksidasi

Cahaya

pH

Inkompatibilitas

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE
: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
IV, FI V, dan HOPE
: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
IV, FI V, dan HOPE
: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
IV, FI V, dan HOPE
: Air dapat bereaksi dengan obat-obatan dan
eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis
(dekomposisi dikeberadaan air atau uap air)
di kamar dan suhu tinggi. Air dapat
bereaksi dengan logam alkali dan oksida
linnya,

seperti

kalsium

oksida

dan

magnesium oksida. Air juga bereaksi


dengan garam anhidrat untuk membentuk
hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan
bahan organic tertentu dan kalsium karbida
Titik Lebur/Tirik Didih : 0 / 100
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.766).

pKa/pKb

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

Polimorfisme

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

Ukuran Partikel

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

Bobot Jenis

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

pH Larutan

: 5,0 dan 7,0


(Depkes RI, Ed.IV, 1995, hlm.112).

Kegunaan

: Pelarut
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.766).

2.2.2

Brilliant Blue Fcf


Pemerian

: Bubuk kering; padatan; Ungu gelap-bubuk


perunggu dengan kilap logam; bubuk ungu
kemerahan

atau

granul

dengan

kilap

logam / garam natrium


Kelarutan

: Larut dalam air (5% pada 20

dan 98

) dan dalam etanol; dalam air, 30

mg / mL (3.0X10 + 4 mg / L); dalam etanol,


3 mg / mL; di etilena glikol monometil eter,
20 mg / mL; Praktis tidak larut dalam
minyak sayur; Solusi kuning pucat dalam
asam sulfat pekat, mengubah ke kuning biru
lalu kehijauan dalam dilusi; larut dalam eter

(PubChem, 2016, CID 19700).


Stabilitas

Panas

: Stabilitas menurun pada suhu lingkungan


(PubChem, 2016, CID 19700).
Hidrolisis/Oksidasi

Tidak

ditemukan dalam pustaka FI III, FI IV, FI V,

Cahaya

Martindale, dan HOPE


: Faktor terpenting dari pemancaran cahaya
(PubChem, 2016, CID 19700).
pH

Tidak

ditemukan

dalam

pustaka FI III, FI IV, FI V, Martindale, dan


HOPE
Inkompatibilitas

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, Martindale, dan HOPE

Titik Lebur/Tirik Didih : Titik leleh 283 (terurai)


(PubChem, 2016, CID 19700).
pKa/pKb

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, Martindale, dan HOPE

Polimorfisme

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, Martindale, dan HOPE

Ukuran Partikel

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, Martindale, dan HOPE

Bobot Jenis

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, Martindale, dan HOPE

pH Larutan

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, Martindale, dan HOPE

Kegunaan

: Sebagai

pewarna

dalam

obat-obatan,

kosmetik, dan bahan makanan


(Sweetman, Ed.36, 2009, hlm.1470).
2.2.3

Gliserin
Pemerian

: Cairan, jernih seperti sirup, tidak berwarna,


rasa manis, hanya boleh berbau khas lemah
(tajam atau tidak enak). Higroskopik, netral
terhadap lakmus.

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air dan dengan


etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam
eter, dalam minyak lemak dan dalam
minyak menguap
(Depkes RI, 2014, Edisi V, hal 172).

Stabilitas
Panas :

Terurai

evolusi akrolein beracun


Hidrolisis /Oksidasi :
terhadap

oksidasi

pada

pemanasan

Tidak
oleh

rentan
suasana

penyimpanan biasa
Cahaya :
Tidak stabil terhadap cahaya
(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 283).
pH
Inkompatibilitas

Tidak ditemukan di FI III, FI

IV, FI V, HOPE, Martindale edisi 36


: Dapat meledak jika dicampur dengan
oksidator kuat seperti kromium trioksida,

potassium klorat atau kalium permanganat.


Dalam larutan encer, reaksi berlangsung
lambat

dengan

terbentuknya

beberapa

produk oksidasi. Terjadi prubahan warna


menjadi hitam bila terkena cahaya atau
kontak langsung dengan ZnO dan bismuth
nitrat.

Titik Lebur/Titik Didih : 17,8 / 290


pKa/Pkb

(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 283).


: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,

Polimorfisme

HOPE, Martindale edisi 36


: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,

Ukuran Partikel

HOPE, Martindale edisi 36


: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,

Bobot Jenis

HOPE, Martindale edisi 36


: Tidak kurang dari 1,249
(Depkes RI, 2014, Edisi V, Hal. 172).

pH Larutan

: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,

Kegunaan

HOPE, Martindale edisi 36


: Zat tambahan
(Depkes RI, 1979, Edisi III, Hal. 271).

2.2.4

Methylis Parabenum
Pemerian
: Serbuk hablur; putih; hampir tidak berbau,
tidak
Kelarutan

memiliki

rasa,

kemudian

agak

membakar diikuti rasa tebal


: Larut dalam 500 bagian air, dalam 20
bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian
etanol (95 %) P, dan dalam 3 bagian aseton
P; mudah larut dalam eter P, dan dalam
larutan alkali hidroksida; larut dalam 60
bagian gliserol P panas dan dalam 40

bagian minyak lemak nabati panas, jika


didinginkan larutan tetap jernih.
(Depkes RI, Ed.III, 1979, hlm.378).
Stabilitas
Panas :

Tidak

ditemukan

dalam

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


Hidrolisis/Oksidasi
:
Mudah
terhidrolisis pada pH 8 atau diatas 8
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.443).
Cahaya :
Tidak
ditemukan
dalam
pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE
pH
:
Diatas
pH
8
mudah
terhidrolisis, pH 3-6 stabil
Inkompatibilitas

: Mudah Tereduksi di hadapan surfaktan non


ionic, seperti polisorbat 80, hasil dari
pembentukan
dengan

bahan

misel,

tidak

tercampur

lain,

seperti

bentonite,

magnesium trisilikat, tragakan, natrium


alginate, minyak esensial, sorbitol, dan
atropine.
Titik Lebur/Tirik Leleh : Titik leleh 125-128
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.443).
pKa/pKb

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

Polimorfisme

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

Ukuran Partikel

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

Bobot Jenis

: 1,352 g/cm3
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.443).

pH Larutan

: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI


IV, FI V, dan HOPE

Kegunaan

: Antimikroba
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.443).

2.2.5

Na-CMC
Pemerian

: Serbuk atau butiran, putih atau putih kuning


gading, tidak berbau atau hampir tidak

Kelarutan

berbau, higroskopik.
: Mudah mendispersi dalam air, membentuk
suspense koloidal, tidak larut dalam etanol
(95%) P, dalam eter P, dan dalam pelarut
organik lain.
(Depkes RI, 1979, Edisi III, Hal. 401).

Stabilitas
Panas :

Bisa

disterilisasi

dalam

kondisi kering pada suhu 160 selama 1 jam,


tapi terjadi pengurangan viskositas.
(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 118).
Hidrolisis /Oksidasi :
Tidak
ditemukan di FI III, FI IV, FI V, HOPE
Cahaya :
Tidak ditemukan di FI III, FI
IV, FI V, HOPE
pH
:
Larutan stabil pada pH 2-10,
pengendapan terjadi pada pH dibawah 2.

Viskositas larutan berkurang dengan cepat


jika pH diatas 10. Menunjukan viskositas
dan stabilitas maksimum pada pH 7-9
(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 118).
Inkompatibilitas

: Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan


dengan larutan garam besi dan beberapa
logam seperti aluminium, merkuri dan zink
juga dengan gom xanthan; pengendapan
terjadi pada pH dibawah 2 dan pada saat
pencampuran

dengan

etanol

95%.

Membentuk kompleks dengan gelatin dan


pektin.
Titik Lebur/Titik Didih : 227
pKa/Pkb

: pKa = 4,30
(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 118).

Polimorfisme

: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,


HOPE

Ukuran Partikel

: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,


HOPE

Bobot Jenis

: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,


HOPE

pH Larutan

: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,


HOPE

Kegunaan

: Zat tambahan
(Depkes RI, 1979, Edisi III, Hal. 401).

2.2.6

Oleum Menthae
Pemerian

: Cairan tidak berwarna atau kuning pucat;


bau khas kuat menusuk; rasa pedas diikuti

Kelarutan

rasa dingin jika udara dihirup melalui mulut


: Dalam etanol 70%, satu bagian volume
dilarutkan dalam 3 bagian etanol 70%:
tidak terjadi opalesensi
(Depkes RI, Ed.IV, 1995, hlm.629).

Stabilitas
Panas :

Tidak

ditemukan

dalam

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


Hidrolisis/Oksidasi
:
Tidak
ditemukan dalam pustaka FI III, FI IV, FI V,
dan HOPE
Cahaya :

Tidak

ditemukan

dalam

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


pH
:
Tidak
ditemukan
dalam
Inkompatibilitas

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

IV, FI V, dan HOPE


Titik Lebur/Tirik Didih : Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
pKa/pKb

IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

Polimorfisme

IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

Ukuran Partikel

IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

Bobot Jenis
pH Larutan
Kegunaan
2.2.7

IV, FI V, dan HOPE


: Antara 0,896 dan 0,908 g/cm3
(Depkes RI, Ed.IV, 1995, hlm.629).
: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
IV, FI V, dan HOPE
: Zat tambahan; karminativum
(Depkes RI, Ed.III, 1979, hlm.458).

Propylis Parabenum
Pemerian
: Serbuk hablurputih; tidak berbau, tidak
berasa

Kelarutan

: Sangat suka larut dalam air; larut dalam 3,5


bagian etanol (95 %) P, dalam 3 bagian
aseton P, dalam 140 bagian gliserol P dan
dalam 40 bagian minyak lemak, mudah
larut dalam larutan alkali hidroksida
(Depkes RI, Ed.III, 1979, hlm.535).

Stabilitas
Panas :

Tidak

ditemukan

dalam

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


Hidrolisis/Oksidasi
:
Mudah
terhidrolisis pada pH 8 atau diatasnya
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.597).
Cahaya :
Tidak
ditemukan
dalam

Inkompatibilitas

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


pH
:
Stabil pada pH 3-6
: Aktivitas antmikroba propil paraben
berkurang dihadapan surfaktan non ionic
sebagai akibat dari pembentukan misel,
adanya

magnesium

alumunium

silikat,

magnesium trisilikat, oksidasi besi kuning


dan biru yang menyerap propil paraben
dapat mengurangi efektivitas pengawet.
Titik Lebur/Tirik Didih : Titik didih 295
pKa/pKb

(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.597).


: pKa 8,4 pada suhu 22

Polimorfisme

(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.597).


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

Ukuran Partikel

IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

Bobot Jenis
pH Larutan
Kegunaan

IV, FI V, dan HOPE


: 1,288 g/cm3
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.597).
: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
IV, FI V, dan HOPE
: Antimikroba
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.597).

2.2.8

Sorbitol
Pemerian

: Serbuk, butiran atau kepingan, putih, rasa

Kelarutan

manis, higroskopik.
: Sangat mudah larut dalam air, sukar larut
dalam etanol (95%) P, dalam methanol P,
dan dalam asam asetat P.
(Depkes RI, 1979, Edisi III, Hal. 567).

Stabilitas
Panas
Hidrolisis /Oksidasi

: Tidak terurai pada suhu tinggi


: Stabil diudara dengan tidak adanya katalis
(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 679).
Cahaya :
Tidak ditemukan di FI III, FI
IV, FI V, HOPE
pH
:
Stabil pada asam dan basa

Inkompatibilitas

encer
(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 679).
: Akan membentuk kelat larut dalam air
dengan ion logam divalent dan trivalent
dalam kondisi sangat asam dan basa.
Bereaksi

dengan

besi

oksida

yang

menyebabkan terjadinya perubahan warna.


Titik Lebur/Titik Didih : 110-112
pKa/Pkb

(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 679).


: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,

Polimorfisme

HOPE
: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,

Ukuran Partikel

HOPE
: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,

Bobot Jenis
pH Larutan
Kegunaan
2.2.9

Tartrazin
Pemerian

HOPE
: 1,49
(Rowe, 2009, Edisi VI, Hal. 679).
: Tidak ditemukan di FI III, FI IV, FI V,
HOPE
: Zat tambahan
(Depkes RI, 1979, Edisi III, Hal. 567).
: Penampilan Kuning atau bubuk oranyekuning. larutan air adalah berwarna kuning;

warna dipertahankan pada penambahan


larutan asam klorida, tetapi dengan larutan
natrium
Kelarutan

hidroksida

warna

kemerahan

terbentuk.
: Praktis tidak larut dalam aseton; larut 1 dari
91 bagian dalam etanol (75 %); larut 1 dari
5,6 bagian dalam gliserin; larut 1 dari 14,3
bagian dalam Propilen glikol; larut 1 dari 5
bagian dalam Propilen glikol (50%); larut 1
dari 26 bagian pada suhu 28oC dalam air;
larut 1 dari 5 bagian pada suhu 258oC; larut
1 dari 5 bagian pada suhu 608oC.
(Rowe, Ed.VI, 2009, hlm.195).

Stabilitas
Panas :

Tidak

ditemukan

dalam

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


Hidrolisis/Oksidasi
:
Tidak
ditemukan dalam pustaka FI III, FI IV, FI V,
dan HOPE
Cahaya :

Tidak

ditemukan

dalam

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


pH
:
Tidak
ditemukan
dalam
Inkompatibilitas

pustaka FI III, FI IV, FI V, dan HOPE


: Buruk kompatibel dengan larutan asam
sitrat. Kompatibel dengan asam askorbat,
laktosa, larutan glukosa 10%, dan jenuh
larutan

natrium

bikarbonat.

Gelatin

mempercepat memudar dari warna


(Rowe, Ed.VI, 2009, hlm.195).
Titik Lebur/Tirik Didih : Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
pKa/pKb

IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

Polimorfisme

IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI
IV, FI V, dan HOPE

Ukuran

Partikel

Tidak

ditemukan

dalam pustaka FI III, FI IV, FI V, dan


Bobot Jenis

HOPE
: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

pH Larutan

IV, FI V, dan HOPE


: Tidak ditemukan dalam pustaka FI III, FI

Kegunaan

IV, FI V, dan HOPE


: Tartrazine
adalah

monoazo,

atau

pyrazolone, pewarna. Digunakan untuk


meningkatkan
sebagai

penampilan

pewarna

khas

produk
untuk

identifikasi
(Rowe, et al, Ed.VI, 2009, hlm.195).
III.

Lampiran batch

dan

tujuan

IV.

Lampiran kemasan
4.1 Dus

4.2 Etiket

4.3 Brosur

RIC IR E X
Ol eum Ri cini
E mu lsi

Komposisi
Tiap 5 mL mengandung :
Minyak Jarak......................... 0.6 ml
Cara kerja obat
Laksatif-Anti Inflamasi
Sebagai laksatif bekerja secara langsung ataupun tidak langsung pada
mukosa kolon dalam menurunkan absorbs NaCl dan air.
Sebagai anti-inflasi bekerja sangat kuat, membentuk enzim
phospholiprisasa A2, sehingga tidak terbentuk asam arakidonat.
Indikasi
Memberi efek stimulat pada usu halus
Kontra indikasi
Tidak boleh dikonsumsi wanita hamil
Dosis
Anak 2.5 tahun
Anak 6-11 tahun
Anak > 12

1 sendok 3 kali sehari


2 sendok 3 kali sehari
3 sendok 3 kali sehari

Efek samping
Kolik, mual dan muntah
Peringatan dan Perhatian
Hati-hati penggunaan dalam jangka panjang akan mengakibatkan sintesis
vitamin oleh bakteri, tidak dapat mengabsorbsi mineral dalam tubuh yang
berujung pada kelemahan otot-otot dan susah buang air besar.
.
Penyimpanan
Simpan dalam wadah tertutup baik
Kemasan
Botol berisi 60 mL

No Reg
No Batch

: DTL1601109932A1
: 1160116

Diproduksi oleh : PT. Farmasi Unpad


Jatinangor, Indonesia

V. Pembahasan
Zat aktif yang digunakan dalam sediaan ini adalah oleum ricini
atau minyak jarak. Kandungan asam lemak pada minyak jarak 90% terdiri dari
asam risinoleat, hanya sedikit mengandung asam dihidroksi stearat, linoleat, oleat
dan stearat. Oleum ricini berkhasiat sebagai obat pencahar atau laksatif. Obat
pencahar atau laksatif dalam pemberian tertentu bisa menyebabkan diare.
Mekanisme kerja terjadinya diare oleh induksi oleum ricini adalah saat
terjadiproses hidrolisis didalam usus halus sehingga trigliserida dari asam
risinoleat yang terkandung dalam oleum ricini menjadi gliserin dan asam
risinoleat oleh enzim lipase pankreas yang selanjutnya akan menstimulasi
peristaltik usus sehingga diare terjadi.
Kelarutan oleum ricini dalam air sangat rendah, oleh karena itu agar oleum
ricini dan air bisa bersatu maka dibuat sediaan emulsi. Emulsi merupakan sediaan
yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya mengandung air dan
minyak. Ada dua tipe emulsi, yaitu emulsi minyak dalam air atau disebut O/W dan
yang kedua adalah emulsi air dalam minyak atau W/O. Untuk emulsi oleum ricini
dapat termasuk emulsi minyak dalam air atau o/w. Emulsi tipe O/W atau M/A
adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yeng tersebar atau terdispersi
dalam air.
Ada tiga komponen penting dalam pembuatan emulsi, diantaranya:
a. Terdapat 2 zat yang tidak saling melarutkan
b. Terjadi proses pengadukan (agitasi)
c. Terdapat emulgator
Sediaan emulsi yang baik adalah sediaan emulsi yang stabil, dikatakan
stabil apabila sediaan emulsi tersebut dapat mempertahankan distribusi yang
teratur dari fase terdispersi dalam jangka waktu yang lama. Pembuatan sediaan
obat dalam bentuk emulsi mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:

Sifat teurapetik dan kemampuan menyebar konstituen lebih meningkat


Rasa dan bau dari minyak dapat ditutupi
Absorpsi dan penetrasi lebih mudah dikontrol
Air merupakan eluen pelarut yang tidak mahal pada pengaroma emulsi

Selain memiliki beberapa keuntungan, sediaan emulsi juga memiliki


beberapa kelemahan diantaranya:

Sediaan kurang praktis


Mempunyai stabilitas yang rendah
Takaran dosis kurang teliti
Tidak tahan lama
Untuk menstabilkan emulsi diperlukan emulgator yang cocok, tanpa

adanya emulgator emulsi akan segera pecah dan terpisah. Emulgator sendiri harus
memenuhi kualitas tertentu, salah satunya emulsi harus dapat dicampurkan
dengan bahan formulatif lainnya. Emulgator merupakan komponen penting dalam
kestabilan emulsi. Emulgator dapat mencegah terjadinya koalesensi yaitu
penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase
tunggal yang memisah. Emulgator juga dapat mengurangi tegangan permukaan
antar fase, sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran.
Salah satu emulgator yang dapat digunakan dalam pembuatan emulsi adalah
golongan derivat selulosa. Pada pembuatan emulsi oleum ricini ini, emulgator
yang digunakan adalah Na-CMC.
Mekanisme Na-CMC sebagai emulgator adalah Na-CMC akan terdispersi
dalam air, kemudian butir-butir Na-CMC yang bersifat hidrofilik akan menyerap
air dan terjadi pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di luar granula dan bebas
bergerak, tidak dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan lebih
mantap dan terjadi peningkatan viskositas .Hal ini akan menyebabkan partikelpartikel terperangkap dalam sistem tersebut dan memperlambat proses
pengendapan karena adanya pengaruh gaya gravitasi.
Selain zat aktif dan emulgator, ada beberapa zat tambahan lain yang
digunakan diantaranya gliserol, sorbitol , oleum mentholum, campuran tartrazin
dan briliant blue, nipagin dan nipasol.
Gliserol digunakan sebagai zat pembasah. Gliserin adalah senyawa organic
yang tidak berwarna, tidak berbau, dan banyak digunakan secara luas dalam
bidang farmasi. Gliserin bersifat hidrofilik, digunakan pada produk sebagai
emollient.

Selain itu juga ada sorbitol yang digunakan sebagai pemanis. Pemanis
ditambahkan untuk menghilangkan rasa tidak enak pada obat. Sorbitol
(C6H14O6) berasal dari golongan gula alkohol merupakan hasil reduksi dari
glukosa di mana semua atom oksigen dalam molekul gula alkohol yang sederhana
terdapat dalam bentuk kelompok hidroksil. Sorbitol termasuk dalam kelompok
polyols asiklik. Sorbitol memiliki struktur gula alkohol (poliol) dengan enam
atom karbon (heksitol), merupakan bentuk tereduksi dari fruktosa. Rasa manisnya
sekitar 60% dari sukrosa, dengan kalori lebih kecil dari kalori sukrosa dalam
jumlah yang sama.
Selanjutnya ada nipagin dan nipasol sebagai pengawet. Metilparaben
(metil p-hidroksibenzoat, metil-4-hidroksibenzoat) disebut juga sebagai nipagin
dan propilparaben (propil p-hidroksibenzoat, propil-4-hidroksibenzoat) disebut
juga nipasol dapat dikonsumsi sampai 10 mg/kg bobot badan untuk setiap harinya.
Nipagin dan nipasol merupakan senyawa fenolik, stabil di udara, sensitif terhadap
pemaparan cahaya, tahan terhadap panas dan dingin termasuk uap sterilisasi,
stabilitas menurun dengan meningkatnya pH yang dapat menyebabkan hidrolisis.
Mekanisme kerja senyawa fenolik adalah dengan menghilangkan permebilitas
membran sehingga isi sitoplasma keluar dan menghambat sistem transport
elekrolit yang lebih efektif terhadap kapang dan khamir dibandingkan terhadap
bakteri, serta lebih efektif menghambat bakteri Gram posistif dibandingkan
dengan bakteri Gram negatif.
Selanjutnya ada pula pewangi dan pewarna. Pewangi ditujukan untuk
mengurangi bau tidak enak pada emulsi dan pewarna diberikan untuk menambah
daya tarik obat.Pewangi yang digunakan pada emulsi ini adalah oleum
mentholum, sedangkan pewarnanya berasal dari campuran tartrazin dan briliant
blue.
Peppermint atau Mentol (2-isopropil-5-metilsikloheksanol) merupakan
alkohol monoterpen siklik mempunyai 8 isomer optis aktif dengan sifat
organoleptik yang berbeda. Konfigurasi mentol yang sering digunakan adalah lmentol karena mempunyai aroma lebih segar daripada isomer lainnya. Selain di

bidang farmasi, minyak mentol atau peppermint sebagai penambah aroma atau
pewangi juga banyak digunakan di Industri Makanan dan Kosmetik.
Tartrazin (dikenal juga sebagai E102 atauFD &C Yellow 5) adalah
pewarnakuning lemon sintetis yang umum digunakan sebagaipewarna makanan.
Tartrazin merupakan turunan dari coal tar, yang merupakan

campuran

dari

senyawa fenol, hidrokarbon polisiklik, dan heterosklik. Karena kelarutannya


dalam air cukup baik, tartrazin umum digunakan sebagai bahan pewarna
minuman.
Brilliant Blue FCF (dikenal juga sebagai FD & C Blue No.1) dalah bahan
pewarna yang dapat diberi pada makanan dan substansi lainnya untuk mengubah
warna. Brilliant Blue memberi warna biru pada makanan.
Pada percobaan ini metode yang digunakan adalah metode inggris (gom
basah), karena metode ini cocok untuk emulsi dengan bahan minyak yang kental.
Langkah pertama adalah penimbangan zat-zat yang diperlukan. Penimbangan
dilakukan di ruang timbang menggunakan neraca analitik. Penimbangan dan
pengambilan zat dilakukan sesuai dengan sifat fisika kimia zat yang akan diambil.
Metode gom basah, terlebih dahulu dibuat mucilago yang kental dengan
sedikit air, kira-kira 20 kali lebih banyak dari emulgatornya. Proses ini dilakukan
di ruang proses. Dalam pembuatan muchilago, Na-CMC dikembangkan dalam air
panas. Alasan penggunaan air panas pada pembentukkan muchilago adalah karena
kekentalan muchilago dipengaruhi oleh panas. Apabila air yang digunakan bukan
air panas maka akan terjadi gumpalan Na-CMC sehingga muchilago tidak
mengembang secara sempurna.
Hal penting yang menentukan keberhasilan suatu emulsi adalah proses
pengadukan. Proses pengadukan haruslah cepat dan konstan. Pada pembuatan
muchilago, pengadukan yang tidak sempurna bisa menyebabkan adanya
gumpalan-gumpalan dan proses pengembangan muchilago yang tidak maksimal.
Pengadukan dapat dilakukan dengan berbagai cara, bisa menggunakan mortir dan
stemper dan ada pula yang menggunakan alat. Pada proses ini, emulsi oleum ricini
yang dibuat merupakan skala industri, sehingga tidak efektif apabila dilakukan

dengan menggunakan mortir dan stemper. Oleh karena itu, digunakan mesin
agitator mixer. Kelebihan menggunakan agitator mixer adalah kecepatan
pengadukan bisa ditentukan dan kecepatannya konstan sehingga pencampuran
lebih sempurna.
Setelah terbentuk muchilago, minyak ditambahkan sedikit demi sedikit
hingga terbentuk corpus emulsi. Proses pengadukan juga sangat berperan penting
dalam proses ini. Pengadukan yang cepat dan konstan akan menghasilkan corpus
emulsi yang baik. Kemudian fase air ditambahkan dengan pengadukan terus
menerus sampai homogen.
Setelah emulsi terbentuk maka ditambahkan gliserol sebagai zat pembasah dan
menjaga kestabilan emulsi, setelah gliserol tercampur homogen, ditambahkan
sorbitol untuk pemanis sediaan emulsi, jika sorbitol telah tercampur homogen,
maka ditambahkan campuran larutan nipagin dan nipasol yang sebelumnya telah
dilarutkan dalam air panas. Pelarutan nipagin dan nipasol dalam air panas,
dimaksudkan untuk meningkatkan kelarutan dari zat tersebut. Adapun
penggunaan nipagin yang bersamaan dengan nipasol dimaksudkan untuk
meningkatkan efektifitas bahan pengawetnya. Setelah pengawet tercampur
homogen, maka campuran pewarna tartrazin dengan briliant blue dapat
ditambhakan. Campuran zat warna ini menghasilkan warna hijau pada sediaan
emulsi yang dibuat.
Setelah sediaan emulsi Oleum ricccini selesai dibuat, dilakukan beberapa
evaluasi untuk memastikan kualitas dari sediaan tersebut. Untuk mengevaluasi
sediaan emulsi hal pertama yang dilakukan adalah uji organoleptis, uji
organoleptis dilakukan dengan cara mengamati warna, bentuk, rasa dan bau.
Emulsi oleum ricinni ini memiliki warna hijau yang berasal dari pewarna
campuran antara tartrazin cl dengan brilliant blue. Kemudian bentuknya cairan
kental yang memiliki viskositas yang tinggi, baunya seperti permen mint karena
diberi oleum mentholum dan rasanya manis karena diberi sorbitol.

Uji evaluasi yang kedua adalah mengetahui pH emulsi, cara mengetahui pH


emulsi digunakan pH universal yang dicelupkan kedalam emulsi, pH universal
tersebut akan berganti warna jika terjadi perubahan pH dan pH dari emulsi ini
adalah 7. Hal ini menunjukan bahwa emulsi yang dibuat cukup baik, pH
kestabilan emulsi adalah pH 7-9.
Uji yang ketiga adalah volume terpindahkan. Cara mendapatkan volume
terpindahkan pertama tuang sediaan emulsi kedalam botol coklat kemudian
dikocok. Kemudian tuang emulsi perlahan-lahan ke dalam gelas ukur kering
dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur
dan telah dikalibrasi secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukkan
gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih dari 45
menit. Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari sediaan emulsi.
Pada botol pertama diamati selama 45 menitpada 15 menit pertama didapatkan
penurunan volume dari 61,1 ml menjadi 60 ml dan stabil hingga menit ke 30 dan
dimenit 45 terjadi penurunan kembali hingga 60,9 ml. dibotol yang kedua pada 15
menit pertama terjadi penurunan dari 61,2 menjadi 61,1 dan stabil hingga menit
ke 30. Dimenit ke 30 terjadi penurunan menjadi 60 ml. Volume emulsi
terpindahkan yang baik adalah yang diperoleh tidak kurang dari 100 %, dan tidak
kurang dari 95 % dari volume yang dinyatakan pada etiket. Sediaan emulsi yang
dibuat memenuhi > 95% volume dari etiket hal ini menunjukan bahwa emulsi
yang dibuat cukup baik dan cukup stabil.
Uji yang ke empat adalah viskositas. Viskositas adalah suatu cara untuk
menyatakan berapa daya tahan dari aliran yang diberikan oleh suatu cairan. Uji
viskositas emulsi dengan menggunakan viscometer rion, caranya sediaan emulsi
dimasukan ke dalam wadah kemudian di uji dengan rotor 3 dan diputar selama
kurang lebih 3 menit. Rotor 3 digunakan karena fungsinya untuk mengukur aliran
non-newton. Hasil yang didapatkan viskositas dari sediaan emulsi tersebut adalah
7. Maka emulsi merupakan contoh dari sediaan pseudoplastis, karena akan
mengalami penurunan viskositas jika dilakukan pengadukan. Kebanyakan sediaan
farmasi memiliki aliran psedoplastis hal ini disebabkan karena emulgator yang

digunakan adlah emulgator sintetik Na-CMC yang biasanya menyebabkan aliran


psedoplastis.
Uji yang ke lima adalah tipe emulsi. Tipe emulsi ada dua yaitu minyak dalam
air dimana fase minyak terdispersi dalam fase air dan air dalam minyak dimana
fase air terdispersi dalam fase minyak. Untuk mengetahui fase pendispersi dan
terdispersinya dilakukan dengan uji tipe emulsi. Caranya yang pertama dengan
metode pengenceran, metode ini berdasarkan prinsip bahwa suatu emulsi akan
bercampur dengan yang menjadi fase luarnya. Misalnya suatu emulsi tipe m/a,
maka emulsi ini akan mudah diencerkan dengan penambahan air. Begitu pula
sebaliknya dengan tipe a/m tidak akan bercampur dengan air. Metode yang kedua
menggunakan kertas saring, sediaan emulsi dioleskan pada kertas saring, jika
kertas saring basah maka emulsi tersebut memiliki tipe minyak dalam air dan
sebaliknya. Emulsi yang dibuat adalah tipe minyak dalam air karena dapat larut
dalamair dan dapat membasahi kertas saring. Hal ini menunjukan bahwa fase
minyak sebagai fase dalam terdispersi dalam air sebagai fase luarnya.
Uji yang keenam adalah volume sedimantasi. Volume sedimentasi adalah
volume pengendapan pada t10, t20, t30, t60 dan 1 hari, hal ini bertujuan agar
dapat diketahui rasio dari volume pemisahan akhir Vo terhadap volume mula-mula
dari emulsi Vo sebelum terjadi pengendapan, dengan rumus perhitungan , dimana
Vu adalah volume pengendapan dan V0 adalah volume awal. Hal ini untuk melihat
kestabilan dari emulsi. Hubungan volume sedimentasi dengan ketidakstabilan
emulsi adalah semakin kecil volume sedimentasi semakin tidak stabil suatu
emulsi. Volume sedimentasi yang baik adalah yang mendekati 1. Pada menit ke
10, 20 dan 30, sediaan emulsi belum mengendap, sedangkan pada menit ke 60
terjadi pengendapan dan pemisahan emulsi hingga didapat volume sedimentasi
0,98. Dan setelah diamati selama satu hari didapatkan volume sedimentasi 0,68
yang artinya emulsi mengendap dan terjadi pemisahan antara fase air dan minyak,
maka emulsi yang dibuat tidak stabil.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan dari emulsi adalah :

a.
b.
c.
d.
e.

Suhu pemanasan tidak konstan


Perbedaan intensitas pengadukan
Pencampuran kurang merata
Kekompakan dan elastisitas film yang melindungi zat terdispersi
Ketidaktelitian dalam pengamatan kestabilan emulsi.

Adapun

parameter

ketidakstabilan

suatu

emulsi

dalam

percobaan

ini

adalahterjadinya :
a. Flokulasi dan Creaming
Fenomena ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan oleh
adanya energi permukaan bebas saja. Flokulasi adalah terjadinya kelompokkelompok globul yang letaknya tidak beraturan di dalam suatu emulsi.
Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan kosentrasi yang berbedabeda di dalam suatu emulsi. Lapisan dengan konsentrasi yang paling pekat
akan berada di sebelah atas atau di sebelah bawah tergantung dari bobot jenis
fase yang terdispersi.
b. Koalesen dan demulsifikasi
Terjadikarena tidak semua globul terlapis oleh film antar permukaan.
Koalesen adalah terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar,
sedangkan demulsifikasi adalah proses lebih lanjut pada keadaan koalesen
dimana kedua fase ini terpisah kembali menjadi dua cairan yang tidak
bercampur. Kedua fenomena ini
pengocokan.

tidak dapat diperbaiki kembali dengan

Daftar Pustaka
Anief, M. 1999. Sistem Dispersi, Formulasi Suspensi dan Emulsi. Yogyakarta:
UGM-Press.
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk sediaan Farmasi Edisi 4. Jakarta : UI Press.
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Depkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Holmberg K, Jnsson B, Kronberg B, Lindman B.

2003. Surfactants and

Polymers in Aqueous Solution. Second Edition. England: John Wiley &


Sons.
Lachman, L., Lieberman, H. A., Kanig, J. L. 1994. Teori dan Praktik Farmasi
Industri. Edisi Ketiga. Jakarta: UI-Press.
Philips, G.O., Williams, P. A. 2009. Handbook of Hydrocolloids: Second Edition.
New York: CRC Press.
PubChem. 2016. Open Chemistry Database: National Center For Biotechnology
Information.

Brilliant

Blue

FCF.

Available

online

at

https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Acid_Blue_9#section=Top.
[9 Oktober 2016].
Purwatiningrum, Heni. 2014. Formulasi dan Uji Sifat Fisik Emulsi Minyak Jarak
(Oleum Ricini) Dengan Perbedaan Emulgator Derivat Selulosa. Ejournal
Poltek Tegal. Vol 3(1), 1-4.
Rowe, Raymond C., Paul, J. Sheskey, and Marian, E. Quinn. 2009. Handbook Of
Phermaceutical Excipients. Sixth edition. USA: Pharmaceutical Press.
Sweetman, S. C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36. London
Chicago: Pharmaceutical Press.

Syamsuni. 2006. Farnasetika Dasar Dan Hitungan Farmasi. Jakarta : EGC.