Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN


ISTIRAHAT TIDUR

OLEH :

TRISNA OKTAVIANI
P07120015055

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES DENPASAR
JURUSAN D-III KEPERAWATAN
DENPASAR
2016

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
ISTIRAHAT/TIDUR

A. MASALAH KEPERAWATAN
Pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur.
B. PENGERTIAN
Makna istirahat dan kebutuhan tidur berbeda pada setiap individu.
Istirahat bermakna ketenangan, relaksasi tanpa stress emosional, dan
bebas dari ansietas. Oleh karena itu istirahat tidak selalu bermakna tidak
beraktivitas; pada kenyataannya, beberapa orang menemukan ketenangan
dari beberapa aktivitas tertentu seperti berjalan di udara segar. Saat
istirahat diprogramkan untuk perawatan klien, perawat dan klien harus
sama-sama mengetahui boleh beraktivitas atau inaktivitas (Kozier;2011)
Istirahat merupakan keadaan rileks tanpa adanya tekanan
emosional, bukan hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga
kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti berhenti
sebentar untuk melepaskan lelah, bersantai untuk menyegarkan diri, atau
suatu keadaan melepaskan diri dari segala hal yang membosankan,
menyulitkan, bahkan menjengkelkan (Aziz Alimul, 2015).
Tidur telah dianggap sebagai perubahan status kesadaran yang di
dalamnya persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungannya mengalami
penurunan. Tidur dicirikan dengan aktivitas fisik yang menurun, tingkat
kesadaran bervariasi, perubahan fisiologis pada tubuh, dan penurunan
respon terhadap stimulus external. Beberapa faktor eksternal seperti asap,
kebisingan, dan lainnya tak akan membangunkan.
Tidur merupakan kondisi tidak sadar yakni individu dapat
dibangunkan oleh stimulus atausensoris yang sesuai (Guyton, 1986), atau
juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif,
bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih
merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan cirri adanya
aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat

perubahan proses fisiologis, dan terjadi penurunan respons terhadap


rangsangan dari luar (Aziz Alimul, 2015).
Gangguan pola tidur adalah keadaan ketika individu mengalami
atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas
pola istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu
gaya hidup yang diinginkannya (Lynda Juall, 2012:522). Gangguan pola
tidur adalah gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor
eksternal (NANDA NIC-NOC,2013:603).
Insomnia adalah gangguan pada kuantitas dan kualitas tidur yang
menghambat fungsi. Deprivasi tidur adalah periode panjang tanpa tidur
(berhentinya kesadaran relatif secara periodik dan berlangsng alami).
Kesiapan meningkatkan tidur adalah pola berhentinya kesadaran relatif
secara periodik dan berlangsung alami untuk memberi istirahat dan
melanjutkan gaya hidup yang diminati, yang dapat ditingkatkan (NANDA,
2016).
Tabel. Kebutuhan Dasar Manusia
Umur

Tingkat

Jumlah

Kebutuhan

0-1 bulan
1-18 bulan
18 bulan-3tahun
3-6 tahun
6-12 tahun
12-18 tahun
18-40 tahun
40-60 tahun
60 tahun ke atas

Perkembangan
Bayi baru lahir
Masa bayi
Masa anak
Masa prasekolah
Masa sekolah
Masa remaja
Masa dewasa
Masa muda paruh baya
Masa dewasa tua

Tidur
14-18 jam/hari
12-14 jam/hari
11-12 jam/hari
11 jam/hari
10 jam/hari
8,5 jam/hari
7-8 jam/hari
7 jam/hari
6 jam/hari

C. GEJALA DAN TANDA (DATA MAYOR DAN DATA MINOR)


a. Dewasa
1. Mayor (harus terdapat)
Kesukaran untuk tertidur atau tetap tidur
2. Minor (Mungkin terdapat)
Keletihan waktu bangun atau sepanjang hari
Perubahan dalam bernafas
Perubahan mood
Tidur sejenak sepanjang hari
Agitasi (keresahan atau kegelisahan)
b. Anak-anak

Gangguan tidur pada anak seringkali dihubungkan dengan ketakutan,


enuresis atau respon tidak konsisten dari orangtua terhadap permintaan
anak untuk mengubah peraturan dalam tidur seperti permintaan untuk
tidur larut malam.
Keengganan untuk istirahat
Sering bangun waktu malam
Keinginan tidur dengan orangtua

D. POHON MASALAH (PATHWAY)


E.
F.
KEBISINGAN
TEMPAT TIDUR
TINGKAT CAHAYA
LINGKUNGAN

HIPNOTIK
DIURETIK
ANTIDEPRESAN & STIMULAN
ALKOHOL
KAFEIN
BENZODIAZEPIN
NARKOTIKA (MORFIN/ DEMORAL)

OBAT-OBATAN
STRES
EMOSIONAL

G.

GANGGUANPOLA TIDUR

LATIHAN
FISIK

H.

POLA
I. TIDUR YANG BIASA DAN
MENGANTUK YANG BERLEBIHAN
PADA SIANG HARI ( EDS)

ASUPAN MAKAN

GAYA HIDUP
PENYAKIT FISIK

ALERGI MAKANAN
KEHILANGAN/
KENAIKAN BERAT
BADAN
DIET SEMIPUASA

DEPRIVASI
Fisiologi tidur merupakan pengaturan tidur yang melibatkan
hubungan mekanisme serebral secara bergantian agar mengaktifkan dan
menekan pusat otak untuk dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas
tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis. Sistem tersebut
mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat, termasuk
pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan kewaspadaan dan
tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Dalam keadaan

sadar, neuron dalam reticular activating sistem (RAS) akan melepaskan


katekolamin seperti norepineprin. Selain itu, RAS yang dapat memberikan
rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga dapat menerima
stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir.
Pada saat tidur, terdapat pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang
berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing
regional (BSR), sedangkan saat bangun bergantung pada keseimbangan
impuls yang diterima dipusat otak dan sistem limbic. Dengan demikian,
sistem batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur
adalah RAS dan BSR.
Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses
fisiologis, yaitu:
-

Penurunan tekanan darah dan denyut nadi


Dilatasi pembuluh darah perifer
Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas

gastrointestinal
Relaksasi otot-otot rangka
Basal matabolisme rate menurun 10-30%

traktus

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Remelda (2008) untuk mendiagnosis seseorang mengalami
gangguan tau tidak dapat dilakukan pemerikasaan melalui penilaian
terhadap :
1. Pola tidur penderita
2. Pemakaian obat-obatan, alcohol atau obat terlarang
3. Tingkatan stress psikis
4. Riwayat medis
5. Aktivitas pisik
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Farmakologi
Menerut Remelda (2008) untuk tindakan medis pada pasien
gangguan tidur yaitu dengan cara pemberian obat golongan
hipnotik-sedatif misalnya : bezodiazepin (diazepam, lorazepam,
triazolam, klordiazekposid) tetapi efek samping dari obat tersebut
mengakibatkan inkoordinasi motorik, gangguan fungsi mental dan

psikomotor, gangguan koordinasi berpikir, mulut kering, dan


sebagainya.
b. Non Farmakologi
Therapy
1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy)
CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si
penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa
depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya
sehingga si pendrita merasa berdaya atau merasa bahawa
dirinya masih berharga.
2. Sleep Restriction Therapy
Sleep Restriction Therapy digunakan untuk memperbaiki
efisiensi tidur si penderita gangguan tidur.
3. Stimulus Control Therapy
Stimulus Control Therapy berguna untuk memperthankan
waktu bangun pagi si penderita secara regular dengan
memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si
penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.
4. Relaxation Therapy
Relaxation Therapy berguna untuk memebuat si penderita
rileks pada saat dihadapkanpada kondisi yang penuh
ketegangan.
5. Cognitive Therapy
Cognitive Therapy berguna untuk mengidentifikasi sikap
dan kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur
6. Imagery Training
Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran
si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiranpikiran yang menyenangkan
G. PENGKAJIAN PERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
2. Identitas Penanggung
3. Alasan Masur RS
4. Riwayat Penyakit Klien dan Keluarga
5. Pola Kebutuhan Dasar Manusia II
6. Mobilisasi dan transportasi
7. Seksualitas
8. Belajar

9. Istirahat Tidur
a. Mengkaji riwayat tidur pasien
Riwayat tidur klien secara umum wajib dikaji oleh perawat.
Riwayat tidur secara umum yaitu :
1) Pola tidur yang biasa, terutama waktu tidur dan bangun;
jam tidur yang tidak terganggu; kualitas atau kepauasan
tidur

misalnya

pengaruhnya

pada

energi

untuk

melakukan aktivitas setiap hari; dan durasi waktu tidur


siang.
2) Ritual waktu tidur yang dilakukan untuk membantu
seseorang tidur (misal minum segelas air hangat,
membaca buku, melakukan metode relaksasi, dan
menggunakan perlengkapan khusus seperti baju tidur,
dsb).
3) Pemakaian obat tidur dan obat lain.
4) Lingkungan tidur (misalnya kamar yang gelap (cahaya),
suhu dingin atau hangat, tingkat suara, dan cahaya
lampu).
5) Perubahan pola tidur atau kesulitan tidur baru-baru ini.
Mengkaji batasan karakteristik dari setiap diagnosa.
1. Insomnia
a. Sering membolos (misalnya kerja dan sekolah)
b. Afek ttampak berubah
c. Tampak kurang bergairah
d. Menyatakan perubahan alam perasaan
e. Meyatakan penurunann status kesehatan
f. Menyatakan penurunan kualitas hidup
g. Menyatakan sulit konsentrasi
h. Menyatakan sulit tidur
i. Menyatakan sulit tidur nyenyak
j. Menyatakan kurang puas tidur (saat ini)
k. Menyatakan peningkatan terjadi kecelakaan \
l. Menyatakan kurang bergairah
m. Menyatakan sulit tidur kembali setelah bangun
n. Menyatakan gangguan tidur yang berdampak pada
keesokan hari
o. Menyatakan bangun terlalu pagi
2. Deprivasi Tidur
a. Konfusi akut

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.

Agitasi
Ansietas
Apatis
Sering memberontak
Mengantuk di siang hari
Penurunan kemampuan berfungsi
Keletihan
Fleeting Nuystagmus
Halusinaasi
Tremor tangan
Peningkatan sensitivitas terhadap nyeri
Ketidakmampuan konsentrasi
Iritabilitas
Letargi
Lesu
Malaise
Gangguan persepsi (misal gangguan sensasi tubuh,

waham, merasa melayang)


s. Gelisah
t. Reaksi lambat
u. Paranoia sementara
3. Kesiapan Meningkatkan Tidur
a. Jumlah tidur sesuai kebutuhan perkembangan
b. Mengekspresikan perasaan dapat beristirahat
setelah tidur
c. Mematuhi rutinitas

tidur

yang

meningkatkan

kebiasaan tidur
d. Penggunaan obat penginduksi tidur hanya kadangkadang saja
e. Menyatakan merasa cukup istirahat setelah tidur.
4. Gangguan Pola Tidur
a. Perubahan pola tidur normal
b. Penurunan kemampuan berfungsi
c. Ketidakpuasan tidur
d. Menyatakan sering terjaga
e. Menyatakan tidak mengalami kesulitan tidur
f. Menyatakan tidak merasa cukup istirahat.
b. Pemeriksaan Fisik
Fokus kepada
1) Inspeksi wajah dan mata pasien :

Bentuk wajah, warna wajah pucat, adanya palpebrae edema


(+), kongjingtiva pucat, kantung mata (+), tampak lemas,
mata sayu.
B. Diagnosa Keperawatan
Daftar Diagnosa Keperawatan :
1. Insomnia
a. Definisi
Gangguan pada kuantitas dan kualitas tidur yang menghambat
fungsi.
b. Batasan Karakteristik
1) Sering membolos (misalnya kerja dan sekolah)
2) Afek tampak berubah
3) Tampak kurang bergairah
4) Menyatakan perubahan alam perasaan
5) Meyatakan penurunann status kesehatan
6) Menyatakan penurunan kualitas hidup
7) Menyatakan sulit konsentrasi
8) Menyatakan sulit tidur
9) Menyatakan sulit tidur nyenyak
10) Menyatakan kurang puas tidur (saat ini)
11) Menyatakan peningkatan terjadi kecelakaan
12) Menyatakan kurang bergairah
13) Menyatakan sulit tidur kembali setelah bangun
14) Menyatakan gangguan tidur yang berdampak

pada

keesokan hari
15) Menyatakan bangun terlalu pagi
c. Faktor yang Berhubungan
1) Pola aktivitas (misal waktu dan kuantitas)
2) Ansietas
3) Depresi
4) Faktor lingkungan (misal kebiasaan lingkungan sekitar,
pajanan
5)
6)
7)
8)
9)

terhadap

cahaya/gelap,

suhu/kelembapan

lingkungan sekitar, tatanan yang tidak familier)


Ketakutan
Tidur siang terlalu lama
Perubahan hormon terkait jenis kelamin
Berduka
Gangguan pola tidur normal (misal bepergian, kerj

ashift)
10) Higine tidur tidak adekuat (saat ini)
11) Konsumsi alkohol

12) Konsumsi stimulan


13) Tidur terputus
14) Tanggung jawab orang tua
15) Obat
16) Ketidak nyamanan fisik (misal nyeri, napas pendek,
batuk,

refluks

gastroesofagus,

mual,

inkontinensia/urgensi)
17) Stres (misal pola/kebiasaan merenung sebelum tidur)
2. Deprivasi Tidur
a. Definisi
Periode panjang tanpa tidur (tidur ayam yang peridik dan
alami secara terus menerus)
b. Batasan Karakteristik
1) Konfusi akut
2) Agitasi
3) Ansietas
4) Apatis
5) Sering memberontak
6) Mengantuk di siang hari
7) Penurunan kemampuan berfungsi
8) Keletihan
9) Fleeting Nuystagmus
10) Halusinaasi
11) Tremor tangan
12) Peningkatan sensitivitas terhadap nyeri
13) Ketidakmampuan konsentrasi
14) Iritabilitas
15) Letargi
16) Lesu
17) Malaise
18) Gangguan persepsi (misal gangguan sensasi tubuh,
waham, merasa melayang)
19) Gelisah
20) Reaksi lambat
21) Paranoia sementara
c. Faktor yang Berhubungan
1) Pergeseran tahap tidur terkait penuaan
2) Demensia
3) Paralisis tidur familial
4) Hipersomnolen sistem saraf pusat idiopatik
5) Aktivitas di siang hari tidak adekuat
6) Narkolepsi
7) Mimpi buruk

8) Peran sebagai orang tua yang mengakibatkan tidak dapat


tidur
9) Pergerakan ekstremitas periodik (misal sindrom resah
kaki, mioklonus nokturnal)
10) Higine tidur selalu tidak adekuat
11) Penggunaan obat atau suplemen penahan kantuk
12) Apnea tidur
13) Enuresis terkait tidur
14) Ereksi nyeri terkait tidur
15) Teror tidur
3. Kesiapan Meningkatkan Tidur
a. Definisi
Pola tidur ayam yang periodik dan alami, yang memberi
istirahat

adekuat,

mempertahankan

gaya

hidup

yang

diinginkan, dan dapat ditingkatkan.


b. Batasan Karakteristik
1) Jumlah tidur sesuai kebutuhan perkembangan
2) Mengekspresikan perasaan dapat beristirahat setelah tidur
3) Mematuhi rutinitas tidur yang meningkatkan kebiasaan
tidur
4) Penggunaan obat penginduksi tidur hanya kadang-kadang
saja
5) Menyatakan merasa cukup istirahat setelah tidur

H. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


1. Insomnia
2. Deprivasi
3. Kesiapan meningkatkan tidur
4. Gangguan pola tidur
I. INTERVENSI KEPERAWATAN

No
1

Diagnosa
Insomnia

Tujuan & kriteria hasil

intervensi

rasional

Setelah dilakukan

1.Mengidentifikasi

1. Mengetahui deviasi

asuhan keperawatan

pola tidur klien dan

tidur yang dialami klien

selama x 24 jam

aktivitas klien

2. Agar pasien memahami

diharapkan pasien tidak

2 .Jelaskan pentingnya

tujuan intervensi yang

mengalami insomnia

tidur yang adekuat

akan dilakukan.

dengan kriteria hasil

3. Dorong pasien

3. Agar pasien mampu

:MOG label:sleep

menetapkan waktu

membangun pola tidur

1.waktu tidur normal (6-

tidur yang rutin.

yang sesuai

8 jam semalam)

4. Bantu

4. Stres dapat

2.kualitas tidur normal

menghilangkan situasi

mengganggutidur

3.pola tidur normal

yang membuat stres.

seseorang.

5. Ajarkan pasien

5.Relaksasi membantu
pasien santai.
1. Menghilangkan

Deprivasi

Setelah dilakukan

melakukan relaksasi
1. Temukan dan

Tidur

asuhan keperawatan

pahami pandangan px

pencetus stres sebelum

selama ... x 24 jam

terhadap situasi

tidur.

diharapkan pasien tidak

2. Berada di dekat

2. Rasa aman akan

mengalami deprivasi

pasien untuk

membuat pasien lebih

tidur dengan kriteria

mengurangi rasa takut.

rileks.

hasil : NOC label

3. Ajarkan teknik

3. Relaksasi mebuat

:anxiety level

relaksasi.

pasien lebih santai.

1. Wajah tidak pucat

4. Dorong verbalisasi

4. Untuk menentukan

2. Tidak mengalami

perasaan pasien.

intervensi lanjutan.

ketegangan otot
3. Dapat menjelaskan
3

Kesiapan

kecemasannya
Setelah dilakukan

NIC Label:

Meningkatka

asuhan keperawatan

Environtment

n Tidur

selama...x 24 jam

management Comfort

diharapkan pasien dapat

1.Cegah gangguan

meningkatkan tidur

yang tidak diinginkan

1.Agar pasien tidak

dengan kriteria hasil

dan berikan periode

terganggu

NOC label: Rest

istirahat

2. Meningkatkan rasa

1.Jumlah istirahat cukup. 2. Sediakan tempat

nyaman pasien

2. Pola istirahat teratur

tidur yang bersih dan

3. Suhu yang nyaman

3. Kualitas tidur baik

nyaman

akan menginduksi tidur

3. Sediakan/ lepaskan

yang lebih baik

selimut

4. Posisi yang nyaman

4. Posisikan pasien

akan memudahkan pasien

pada posisi yang

untuk relaksasi

nyaman

Gangguan

NOC :

Pola Tidur

1. Sleep
Sleep Enhancement
Setelah
dilakukan
1. Jelaskan
asuhan keperawatan
pentingnya
selama 2 x 24 jam.
tidur yang
Dengan
adekuat
mempertahankan
keadaan pola tidur
pasien
secara
normal. Dari skala 2 2. Determinasi
5
efek-efek
medikasi
Dengan
kriteria
terhadap pola
hasil :
tidur
Ju
mlah jam tidur
pasien
dalam
batas normal
b.
R
utinitas
tidur
pasien
dalam
batas normal

NIC :

a.

2. Rest extent pattern


a. Kualitas istirahat
pasien dalam batas
normal
b. Jumlah
tidur
pasien dalam batas
normal
c. Memulihkan
energi
saat
istirahat

1. Mempermudah
pemahaman pasien
tentang pola tidur

2. Untuk mengetahui
ada

efek-efek

medikasi

pada

pasien

3. Untuk
meningkatkan
kenyamanan tidur
3. Ciptakan
lingkungan
yang nyaman

yang optimal

4. Untuk membantu
pasien agar mudah
4. Fasilitasi untuk
mempertahank
an aktivitas
sebelum tidur
5. Memonitor
pola tidur
pasien dan
perhatikan fisik

untuk tidur

5. Untuk mengetahui
pola tidur pasien
dan

keadaan

umum pasien

6. Kolaborasi
pemberian obat
tidur

6. untuk

membantu

pasien lebih tenag


untuk tidur

J. Referensi
Potter & Perry. 2012. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2.
Jakarta : EGC
Nanda International. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA 2012-2014.
Jakarta : EGC
Lippincott dan Williams&Wilkins. 2012. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan Lynda Juall Carpenito-Moyet Edisi 13. Jakarta: EGC
Doengos.E.Maryln,dkk. (2002). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:
EGC.
Asmadi. (2011). Prosedural Keperawatan, Konsep dan Aplikasi KDM.
Jakarta: Salemba Medika.
Wilkinson, Juidith M dan Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosa
Keperawatan NANDA Nic Noc Edisi 9. Jakarta : EGC
Alimul H, A.Aziz. 2013. Kebutuhan Dasar Manusia. Surabaya : Salemba
Medika
Lippincott dan Williams&Wilkins. 2012. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan Lynda Juall Carpenito-Moyet Edisi 13. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai