Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM EVAUASI TEKSTIL KIMIA II

Identifikasi Zat Warna Bubuk

Disusun oleh
Nama

: Mila Astarina Widiasari

NPM

: 15020020

Grup

: 2k1

Dosen

: Luciana, S.Teks., M.Pd.


Kurniawan, S.T., M.T.
Witri A.S., S.ST

POLITEKNIK STTT
BANDUNG
2016

I.

Maksud dan Tujuan


I.1 Maksud
Untuk mengidentifikasi jenis zat warna yang terdapat pada sampel zat
warna bubuk.
I.2 Tujuan
- Untuk mengetahui zat warna disperse, bejana dan belerang yang
-

terdapat pada lapisan eter-metanol


Untuk mengetahui zat warna direk, asam, basa, dan reaktif yang
terdapat pada lapisan air.

II.

Teori Dasar
Identifikasi zat warna digolongkan pada dua golongan yaitu golongan zat
warna yang berada dalam lapisan air dan golongan zat warna yang berada
dalam lapisan eter.
Zat warna yang berada dalam lapisan eter adalah zat warna dispersi,
dispersi reaktif, belerang, bejana, bejana larut, bejana belerang, naftol As.zat
warna tersebut dapat larut dalam eter-metanol karena bersifat hidrofob
sehingga larut banyak dalam pelarut organik.
Zat warna yang berada dalam lapisan air adalah zat warna reaktif, asam
dan direk dan basa karena zat warna tersebut bersifat hidrofil yang dapat
larut dalam air karena keempat jenis zat warna tersebut memiliki gugus
pelarut.
a. Zat warna larut dalam eter-metanol
1. Zat warna disperse
Zat warna dispersi pertama kali dibuat pada tahun 1923 oleh Baddiley
dan Shepherdson dari British Dyestuff. Zat warna ini kelarutannya kecil
dalam air dan merupakan kelarutan dispersi, terutama digunakan
untuk mewarnai serat-serat sintetik yang bersifat hidrofob, misalnya
polyester, rayon asetat.
Zat warna dispersi sebagian besar molekulnya tersusun oleh senyawa
azo, antrakinon atau difenil amin dengan berat molekul yang kecil dan
tidak mengandung gugus pelarut.
Zat warna dispersi dapat dibedakan menjadi tiga bagian berdasarkan
perbedaan anti kromofor, yaitu:
1. Kromofor Golongan Azo

2. Kromofor Golongan Antakrinon

3.Kromofor Golongan Nitroanilin

Reaksi

2. Zat warna bejana


Zat warna bejana tidak larut dalam air, oleh karena itu dalam
pencelupannya harus dirubah menjadi bentuk leuko yang larut.

Senyawa leuko tersebut memiliki substantivitas terhadap selulosa


sehingga dapat tercelup.
Adanya oksidator atau oksigen dari udara, bentuk leuko yang
tercelup dalam serat tersebut akan teroksidasi kembali kebentuk
semula yaitu pigmen zat warna bejana.
Senyawa leuko zat warna bejana golongan indigoida larut dalam
alkali lemah sedangkan golongan antrakwinon hanya larut dalam alkali
kuat dan hanya sedikit berubah warnanya dalam larutan hipiklorit.
Umunya

zat warna turunan tioindigo dan karbasol warna hampir

hilang dalam uji hipoklorit dan didalam larutan pereduksi warnanya


menjadi kuning. Ikatan zat warna bejana dengan serat antara lain
ikatan hydrogen dan ikatan sekunder seperti gaya-gaya Van der
Waals.hanya saja karena zat warna bejana tidak larut dalam air maka
ketahanan luntur dan cucinya tinggi.
Larutan ekstrak contoh uji yang telah larut ditambah Na2S2O4, dan
dilakukan pencelupan kapas dengan bantuan NaCl. Kemudian kapas
dioksidasi dengan NaNO2 dan Na2Cr2O7 dalam asam asetat warna
akan timbul kembali.
Reaksi Pembuatan Leuko (pembejanaan)
Na2SO4 + 2NaOH + 2H2O
D = C = O + Hn

2Na2SO4 + 6Hn
D COH

(zw bejana)
D COH + NaOH

D CONa
(garam leuko larut)

Reaksi Pengoksidasian
D CONa + H2O2

D COH

D COH + On

D=C=O

3. Zat warna belerang


Termasuk zat warna yang tidak larut dalam air, warnanya terbatas
dan suram, tetapi ketahanan lunturnya tinggi kecuali terhadap khlor
(kaporit). Harganya relatf

murah, dan warna yang paling banyak

digunakan adalah warna hitam. Zat warna belerang banyak digunakan


untuk pencelupan serat kapas kualitas menengah kebawah.
Struktur molekul zat warna belerang terdiri dari kromogen yang
mengandung belerang yang dihubungkan dengan kromogen lainnya
melalui jembatan disulfida ( -S-S-), sehingga strukturnya menjadi relatif
besar.
Zat warna belerang adalah zat warna yang mengandung unsur
belerang sebagai kromofor. Struktur molekulnya merupakan molekul
yang

kompleks dan tidak larut dalam air oleh karena itu dalam

pencelupannya

diperlukan reduktor nnatrium sulfide dan soda abu

untuk melarutkannya. Untuk membentuk zat warna maka perlu proses


oksidasi baik dengan udara maupun dengan bantuan oksidatoroksidator lainnya.
Reaksi zat warna belerang dengan serat kapas
ZW S S ZW + 2H+ + NaOH
2 ZW SNa + H2O
Sel + 2 ZW SNa + H2O
Sel 2 ZW SH + NaOH
Sel - 2 ZW SH
Sel ZW S S ZW
Uji Penentuan :
ZW S S ZW + NaOH

(Tinggal S dari ZW)

ZW S S ZW + HCl + Pereduksi (SnCl 2)


H2S + Pb(CH3COO)2

PbS

(Cokelat/hitam) + 2 CH3COOH

Dalam Oksidator
ZW S S- ZW + NaOCl
NaOCl

NaCL + On

2 ZW SH + H2S + Hn

warna hilang

ZW S S ZW + On

2 ZW SOOH

ZW + SO 2

b. Zat warna yang larut dalam air


1. Zat warna direk
Zat warna direk bersifat larut dalam air, sehingga dapat langsung
dipakai dalam pencelupan serat selulosa seperti katun, rayon dan
rami.

Zat

warna

direk

relatif

murah

harganya

dan

mudah

pemakaiannya, tetapi warnanya kurang cerah dan tahan luntur hasil


celupannya kurang baik.
Zat warna Direk mempunyai daya afinitas yang besar tehadap
serat selulosa, beberapa zat warna direk dapat mencelup serat
binatang berdasarkan ikatan hidrogen. Kebanyakan zat warna direk
merupakan senyawa azo yang disulfonasi.
Kelarutan zat warna direk merupakan faktor penting yang perlu
dipertimbangkan karena zat warna direk yang kelarutannya tinggi akan
memudahkan dalam pemakaiannya, dan pada proses pencelupannya
relatif lebih mudah rata, tetapi dilain pihak kelarutan yang tinggi akan
mengurangi substantifitas zat warna dan tahan luntur warna terhadap
pencucian hasil celupnya lebih rendah.

2. Zat warna asam


Zat warna asam mengandung asam-asam mineral / asam-asam
organic dan dibuat dalam bentuk garam-garam natrium dari organik
dengan gugus anion yang merupakan gugus pembawa warna
(kromofor) yang aktif. Struktur kimia zat warna asam menyerupai zat
warna direk merupakan senyawa yang mengandung gugusan sulfonat
atau karboksilat sebagai gugus pelarut.
Zat warna asam dapat mencelup serat-serat binatang, poliamida
dan poliakrilat berdasarkan ikatan elektrovalen / ikatan ionic dimana

gugus ion pada zat warna akan berikatna dengan gugus amina pada
struktur serat protein. Dengan ekstrak hasil pelunturan dengan Amonia
10%, dilakukan uji pencelupan dengan penetralan larutan dengan
H2SO4 10 %, diujikan serat kapas, wol dan akrilat. Dengan
dipanaskan jika wol tercelup warna tua menunjukkan zat warna asam
(+).

3. Zat warna basa


Zat warna basa adalah zat warna yang mempunyai muatan
positif/kation. Zat warna basa merupakan suatu garam ; basa zat
warna basa yang dapat membentuk garam dengan asam. Asam dapat
berasal dari hidroklorida atau oksalat. Zat warna basa mampu
mencelup serat-serat protein sedangkan pada serat poliakrilat yang
mempunyai

gugus-gugus

asam

dalam

molekulnya

akan

berlaku/bersifat seperti serat-serat protein terhadap zat warna basa.


Seperti halnya zat warna asam, zat warna basa akan berikatan secara
ionik denga bahan pada gugus karboksilat serat. Sehingga tahan
luntur dan tahan cucinya sama dengan zat warna asam.
Dasar dari pengujian ini adalah mendapatkan endapan zat warna
dari contoh uji yang telah direduksi dengan aklohol. Kemudian
ditambahkan air, NaOH 10 % dan eter. Eter akan terpisah, kemudian
pindahkan lapisan eter yang ditambahkan Asam asetet 10 %. Larutan
asam mewarnai contoh uji karena perputaran ikatan silang.
Pada uji penentuan, larutan ekstraksi digunakan untuk mencelup
serat akrilat maka serat tercelup, zat warna basa (+).
4. Zat warna reaktif
Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi
dengan serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari
serat (ikatan kovalen). Oleh karena itu zat warna ini mempunyai
ketahanan cuci yang baik ( tahan luntur tinggi ) . Zat warna ini

mempunyai berat molekul yang kecil oleh karena itu kilapnya lebih baik
dibandingkan dengan zat warna direk.
Sifat-sifat umum :
- larut dalam air
- berikatan kovalen dengan serat
- karena kebanyakan gugusnya azo maka zat warna ini mudah rusak
oleh reduktor kuat
- tidak tahan terhadap oksidator yang mengandung klor ( NaOCl )
Zat warna reaktif dikenal sebagai zat warna yang dapat bereaksi
secara kimia dengan serat selulosa dalam ikatan yang stabil. Ikatan ini
memberikan sifat tahan luntur warna yang baik terhadap pelarut
organik dan air. Karena tidak ada cara yang khusus untuk menguji zat
warna reaktif, maka perlu diadakan dulu pengujian yang menunjukkan
zat warna tersebut adalah zat warna reaktif.
III.

Alat dan Bahan


Alat
- Gelas Piala 600 ml
- Tabung Reaksi
- Penjepit
- Pembakar Bunsen
- Kassa
- Pipet
- Pengaduk
- Rak Tabung
- Penjepit

IV.

Bahan
-

Asam asetat 10%

NaCl

Penetrasid TN

NaOH 10%

Serat akrilat

Kapas putih

HCl

SnCl2

Na2S2O4

Kertas Pb-asetat

NaOCl

Alkohol

Na2S

Wol putih
Cara Kerja
Uji pendahuluan
1. Buat larutan induk zat warna dengan cara melarutkan dalam 10 mL air.

2. Masukkan larutan contoh uji ke dalam tabung reaksi ditambahkan 3 mL


campuran eter-metanol
3. Biarkan terpisah.
Pengujian
a. Zat warna Dispersi
Zat warna berada pada lapisan eter-metanol
1. Masukkan cu* ke dalam tabung ditambahkan kapas putih, didihkan
selamma 5 menit.
2. Keluarkan kapas, lakukan penyabunan
Uji penentuan:
1. Cu* ditambah eter-metanol, lapisan eter methanol terwarnai
2. Pisahkan lapisan eter diuapkan ditambah air, zat pendispersi, serat asetat
rayon didihkan
3. Serat asetat tercelup menunjukkan zat warna disperse reaktif.
b. Zat warna belerang
1. Masukkan cu* ke dalam tabung ditambah SnCl2 dan HCl.
2. Tutup mulut tabung dengan kertas Pb asetat didihkan.
3. Kertas berwarna coklat menunjukkan zat warna belerang.
Uji penentuan
1. Masukkan cu* ke dalam tabung ditambah NaOH 10% dan Na 2S didihkan
2. Bila zat warna belerang larutan menjadi kuning/jingga.
3. Zat warna hidrolsol sulit tereduksi, ditambha Na 2S2O4 warna menjadi
kuning.
c. Zat warna bejana
1. Masukkan cu ditambah NaOH 10%

dan Na 2S2O4 didihkan selama 15

menit, warna berubah


2. Masukkan H2O2(oksidasi), warna kembali.
d. Zat warna asam dan direk
1. Memasukkan contoh uji kedalam tabung beserta asam asetat 10% dan
wol putih kemudian dipanaskan beberapa saat untuk diamati perubahan
warna pada serat wolnya.
2. Memasukkan contoh uji kedalam tabung dan NaCl beserta kapas putih
kemudian dipanaskan selama 3 menit dan diamati perubahan warna pada
bahan.
c. Zat warna basa

1. Memasukkan contoh uji kedalam tabung reaksi bersama asam asetat


10% dan serat asetat untuk dipanaskan selama 5 menit.
2. Serat akrilat yang terwarnai ditambahkan dengan NaOH 10% sehingga
warnanya akan hilang.
3. Kedalam larutan ditambahkan asam asetat 10% dan diamati perubahan
warnanya.
4. Zat warna reaktif
1. Memasukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang telah berisi kapas
putih dan mendididihkannya selama 5 menit.
2. Kemudian dicuci dengan larutan sabun dan ditambahkan dengan
penetrasi TN untuk diamati perubahan warnanya.
V.

Data Pengamatan
Terlampir

Anda mungkin juga menyukai