Anda di halaman 1dari 21

Geomechanical Wellbore Imaging: Key to Managing the Asset Life Cycle

Collen Barton and Daniel Moos


GeoMechanics International
Model Geomekanika
Model geomekanika diperlukan
untuk
mengurangi
biaya,
menghindari kesalahan seperti stuck
pipe atau lost circulation dan
meningkatkan produksi. Model
geomekanika menjelaskan besaran
dan orientasi dari tiga tegasan
utama, tekanan pori, properti elastik
dan kekuatan batuan pada suatu
lapangan. Beberapa data penting
yang diperlukan untuk membuat
model geomekanika dijelaskan pada
gambar 1.
Mekanika Kegagalan Sumur Bor

Gambar 1 Parameter model Geomekanika

Konsentrasi stress pada sumur bor yang


berkembang akibat pemboran melalui
batuan dapat mengakibatkan kegagalan
tensile atau compressional pada batuan di
sumur bor.
Wellbore breakout berkembang pada arah
Shmin dimana circumferential stress paling
kompresif (max) dan tensile fracture
terbentuk pada arah SHmax dimana
circumferential stress paling tensile.
Gambar 2 Wellbore failure

Aplikasi Interpretasi Wellbore Image pada Reservoir Geomechanics


1. Fault Trap Risk dan Hydrocarbon Column Height
Model geomekanika dapat digunakan untuk mengevaluasi potensi risiko dalam
mengembangkan reservoir yang dibatasi sesar untuk memahami perilaku sesar, apakah sesar
tersebut menutup (seal) atau bocor (leak). Untuk mengetahui hubungan antara permeabilitas
sesar dan kondisi tegasan sekarang diperlukan pengetahuan yang baik mengenai geometri
sesar dan stress tensor. Kemudian informasi tersebut dapat digunakan untuk menghitung
tegasan shear dan normal yang bekerja pada masing-masing elemen sesar.
Parameter model geomekanika, yaitu besaran tegasan, arah tegasan, orientasi sesar dan
tekanan pori dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya pergerakan pada sesar.
Peningkatan yang terjadi pada tekanan pori dengan bertambahnya akumulasi hidrokarbon
akan memicu terjadinya fault slip ketika tekanan kritis tercapai.

2. Menyeimbangkan produksi optimal dengan ketidakstabilan sumur bor yang


minimal pada fractured rock
Kunci dalam memaksimalkan produksi dan meminimalkan ketidakstabilan sumur bor
pada batuan terekahkan yang kompleks seperti batubara adalah untuk memilih wellbore
trajectories yang aman saat melakukan pemboran melewati beberapa bidang lemah.
Pemodelan geomekanika untuk mengoptimalkan berat lumpur pemboran dan arah sumur
pada reservoir CBM membutuhkan pemahaman bagaimana stabilitas rekahan pada sumur bor
yang dipengaruhi oleh konsentrasi stress. Risiko dalam pemboran fractured rock adalah
densitas rekahan (banyaknya rekahan pada sumur per satuan panjang sumur), rekahan yang
berdekatan akan memiliki risiko lebih besar dibanding dengan rekahan dengan spasi yang
jauh.
3. Memilih arah sumur yang optimal untuk meningkatkan produksi pada fractured
reservoir
Tujuan utama dalam perkembangan lapangan reservoir yang terekahkan dan
terkompartementalisasi adalah untuk memaksimalkan produksi sumur dengan
mengoptimalkan hubungan sumur dengan rekahan yang produktif secara hidraulik pada
reservoir. Pengetahuan mengenai besaran dan arah insitu stress serta geometri rekahan dan
sesar adalah kunci untuk mendeteksi dan menjelaskan variasi local dalam produksi.

Pendekatan
konvensional
mengasumsikan bahwa permeabilitas
dihasilkan oleh rekahan Mode I (extensile
fracture). Dalam paper ini dijelaskan
bahwa shear fracture (Mode I dan Mode
II) akan menghasilkan jalur fluida dan
meningkatkan permeabilitas pada kondisi
stress saat ini (critical stress condition).
Critically-stress fractures akan lebih
permeabel dibandingkan dengan yang
tidak dalam kondisi ctitically stress
(Barton et al., 1995)

Predrill Pore-Pressure Prediction Using Seismic Data


C. M. Sayers, G. M. Johnson, dan G. Denyer

Penentuan tekanan pori pada formasi sangat penting untuk menentukan penggunaan
mud weight dan casing. Besarnya tekanan pori dapat diestimasi dari cepat rambat gelombang
seismic menggunakan transformasi velocity-pore pressure. Dalam prediksi besarnya tekanan
pori, digunakan kecepatan gelombang elastic. Sedangkan, penggunaan kecepatan gelombang
seismic konvensional yang mengasumsikan bahwa kecepatan gelombang bervariasi dalam
perlambatan kecepatannya, baik secara lateral dan kedalaman. Hal ini menyebabkan
penggunaan kecepatan gelombang seismik konvensional akan menghasilkan resolusi yang
rendah untuk prediksi tekanan pori secara actual.
Dalam prediksi tekanan pori dari data seismik, digunakan velocity model yang
diperoleh dari PSDM (Pre Stack Depth Migration) yang diperhalus menggunakan cara iterasi
sehingga memberikan resolusi spasial dari kecepatan gelombang elastic yang kemudian dapat
digunakan dalam memprediksi tekanan pori
Kecepatan gelombang elastik bergantung pada tekanan pori serta total stress tensor,
mengikuti persamaan berikut:
ij=Sijpij

Pada kompaksi uniaksial (burial) umumnya diasumsikan bahwa porositas dan kecepatan
gelombang seismik saling bergantung hanya pada komponen vertikal
=S p (1)
Dengan merupakan komponen vertikal dari differential stress tensor. S merupakan
komponen vertikal dari total stress atau dikenal sebagai overburden yang bekerja pada suatu
titik di suatu kedalam di bawah permukaan. Besar dari total stress, S mengikuti persamaan
dibawah ini:
z

S=g ( z ) dz
0

Nilai densitas untuk menghitung total stress dioperoleh dari log densitas atau secara empiris.
Terdapat hubungan antara komponen vertikal dari differential stress dengan cepat
rambat gelombang seismik yang digunakan untuk memprediksi tekanan pori pada suatu
formasi. Metode yang menyatakan hubungan antara diferential stress dengan cepat rambat
gelombang seismik ialah metode Bowers (1995) dan metode Eaton (1975).
1. Metode Bowers (1995)
Metode ini mengasumsikan hubungan empiris antara komponen vertikal differential
stress dengan cepat rambat gelombang seismic. Persamaan pada metode Bowers ialah
v =vo+ A

Sehingga diperoleh pesrsamaan untuk menghitung besar differential stress, yaitu:


(v vo)/ A

=
Setelah memperoleh nilai differential stress , maka tekanan pori selanjutnya dapat
diprediksi menggunakan persamaam 1.
2. Metode Eaton (1975)
Eaton membuat persamaan empiris yang menunjukkan hubungan antara differential
stress dengan cepat rambat gelombang seismic. Persamaan empiris yang dibuat oleh
Eaton ialah,
v n
= normal (
)
v normal
normal dan

v normal adalah diffential stress vertikal dan kecepatan seismik apabila

sedimen mengalami kompaksi dengan baik.


Pada persamaan Eaton (1975),

v normal

ialah kecepatan seismik pada sedimen yang

terkompaksi dengan baik. Namun, pada laut dalam sedimen dapat mengalami overpressure
pada kedalaman yang dangkal. Adanya kehadiran overpressure pada sedimen yang berarti
tekanan porinya berada di atas garis tekanan hidrostatik dapat menyebabkan kesalahan pada
prediksi tekanan pori.
Prediksi Tekanan Pori
Prediksi tekanan pori menggunakan data seismik diperlukan adanya velocity model
dari data seismic sehingga persamaan Bowers dan Eaton dapat digunakan untuk menentukan
vertical differential stress yang selanjutnya nilai tekanan pori dapat diketahui dari persamaan
1.
Dalam prediksi tekanan pori, model inversi dari persamaan Bower atau Eaton yang
digunakan harus dikalibrasi terhadap data tekanan pori yang ada pada sumur. Tekanan pori
terukur pada sumur merupakan nilai mud weight. Model yang digunakan adalah model yang
menghasilkan misfit antara nilai tekanan pori prediksi dengan tekanan pori terukur paling
kecil. Salah satu batasan dari kalibrasi ini adalah besaran mud weight dengan tekanan pori
pada formasi sehingga hasil kalibrasi dari tekanan pori prediksi tersebut memberikan
kesalahan pada prediksi selanjutnya.

How Faulting Keeps the Crust Strong


John Towned dan Mark D. Zoback

Semua batuan yang bersifat brittle dan berada didalam kerak bumi ini selalu berada
dalam critical condition terhadap in situ stress. Tekanan pori yang berada didalam batuan
selalu hampir mendekati tekanan fluida hidrostatik dengan nilai permeabilitas 10 -12 sampai
dengan 10-16 mD pada kearak bumi, baik di dekat batas pertemuan antar lempeng sampai
dengan intraplate yang sangat jauh dari batas pertemuan antar lempeng tersebut. Rekahan
dan sesar yang menjaga nilai permeabilitas tinggi pada batuan di intraplate tersebut, dimana
kondisinya selalu kritis sehingga rekahan dan sesar tersebut menjadi media yang dapat
memiliki permeabilitas tinggi.

Kehadiran media-media yang selalu berada dalam kondisi kritis dan juga dalam
kondisi aktif secara hidrolik ini tidak menyebabkan terjadinya overpressure, melainkan
menyebabkan tekanan fluida yang berada di intraplate mendekati nilai fluid hydrostatic
pressure. Beberapa bukti yang menunjukkan bahwa batuan, rekahan dan sesar di bawah
permukaan selalu dalam kondisi kritis adalah penyebaran seismisitas yang diakibatkan oleh
reservoir impoundment, gempabumi yang dipicu oleh gempa lainnya, perhitungan insitu
stress pada well-well pemboran.
Coloumb failure dapat terjadi lebih mudah pada batuan karena kehadiran rekahan dan
sesar alami, yang dijelaskan dengan teori structure inheritance. Oleh karena itu, koefisien
friksi (0,6-1,0 menurut Byerlee) adalah kontrol utama terhadap terjadinya reaktivasi rekahan
dan sesar. Kontrol lainnya ialah tekanan pori yang menyebabkan terjadinya pergeseran pada
sesar dan rekahan, disebabkan pengurangan effective stress batuan oleh kehadiran tekanan
pori tersebut.
Seiring dengan menngkatnya skala, maka nilai permeabilitas dari sebuah batuan akan
meningkat. Hal ini ditunjukkan dari data empiris, yaitu pada sampel core dan insitu.
Pengujian permeabilitas pada sampel core/skala berkisar cm menunjukkan nilai permeabilitas
10-20 10-18. Kemudian dilakukan pengujian permeabilitas pada skala insitu/ skala berkisar
km dan nilai permeabilitas 10-17-10-16 (3-4 kali lebih besar).
Rekahan dan sesar pada batuan yang terletak di intraplate bertindak sebagai media
yang aktif secara hidrolik mengalirkan fluida dengan nilai permeabilitas tinggi, apabila

berada dalam kondisi kritis terhadap insitu stress. Di lain sisi, apabila rekahan dan sesar tidak
berada dalam kondisi kritis terhadap insitu stress maka akan bersifat sealing. Rekahan pada
batuan dapat memberikan kemampuan untuk mengalirkan fluida dengan baik sehingga tidak
terbentuk tekanan fluida pada formasi overpressure, tetapi malah akan bersifat hidrostatik
karena nilai permeabilitas batuannya terjaga dengan baik. Oleh karena itu, kekuatan batuan
malah relatif lebih tinggi.
Persamaan waktu fluida untuk mengalir pada rekahan atau sesar adalah
l
2
f rl k dimana l adalah panjang rekahan, dan K adalah faktor hidrolik.
Persamaan tersebut menunjukkan batuan yang memiliki rekahan atau sesar dengan skala
besar dan nilai difusivitas hidrolik yang tinggi akan memiliki watu yang lebih cepat sehingga
tekanan hidrostatik terjaga dan kekuatan batuannya relatif lebih tinggi.
2

Fault Reactivation and Fluid Flow Along a Previously Dormant Normal


Fault in the Northern North Sea
David Wiprut dan Mark D. Zoback
Pada Northern Sea, terdapat
beberapa faktor yang menyebabkan
terjadinya reaktivasi sesar dormant
yang berada di daerah utaranya,
yaitu peningkatan tekanan pori
akibat kehadiran hidrokarbon pada
reservoir
yang
berada
pada
footwall, orientasi sesar yang
optimal
untuk
mengalami
pergeseran, peningkatan tegasan
kompresif,serta
peningkatan
tekanan pori akibat kehadiran
kolom gas yang menimbulkan
seismisitas.

Faktor-faktor
ini
juga
memberikan data bahwa sesar dapat
bertindak sebagai media yang
sangat permeable terhadap fluida/
bersifat barrier bagi fluida. Sesar
atau rekahan yang berada dalam
kondisi kritis terhadap tegasan
insitu yang bekerja pada saat ini
akan
bersifat
permeabel.
Pembentukan proses permeabelnya
suatu sesar berlangsung sangat
cepat, yaitu sesaat sebelum terjadi pergeseran pada sesar. Ketika kembali stabil, sesar akan
bersifat sealing kembali terhadap fluida, sehingga proses bergeraknya fluida pada sesar akan
bersifat periodik.
Faktor lain yang menyebabkan suatu sesar mengalami pergeseran adalah kehadiran
akumulasi hidrokarbon, yaitu ketika critical pressure difference yang dibentuk oleh akumulasi
hidrokarbon melampaui besar Coulomb fracture criterion. Sesaat setelah terjadinya
pergeseran pada sesar, itulah saat dimana sesar menjadi media yang sangat permeabel bagi
fluida, dimana aliran akan paralel dengan bidang sesar yang mengalami pergeseran. Setelah
fluida bergerak melalui sesar, kestabilan tekanan antara akumulasi fluida dan sesar kembali
tercapai sehingga sesar akan kembali bersifat sealing terhadap fluida.

Structurally Complex Reservoir


S. J. Jolley, D. Barr, J.J. Walsh dan R. J. Knipe
Structurally Complex Reservoir adalah suatu reservoir yang dicirikan dengan kehadiran
rekahan dan sesar yang kompleks dan mengontrol perangkap hidrokarbon dan perilaku
produksi dari reservoir tersebut. Jenis reservoir ini menjadi target utama pada eksplorasi saat
ini karena reservoir konversional menjadi sulit. Sifat reservoir yang kompleks ini
menyebabkan dibutuhkannya teknologi yang lebih mutakhir agar pemahaman mengenai
perilaku dari reservoir ini dapat dimengerti. Berikut adalah faktor faktor yang mengontrol
perilaku geomekanika dan dinamika fluida dari structurally complex reservoir ini, yaitu
1. Distribusi sesar dan rekahan
2. Kehadiran heterogenitas yang lainnya
3. Karakteristik storage transmissivity
Faktor faktor tersebut penting untuk diketahui agar produksi dari reservoir dapat
dioptimalkan.
Reservoir ini memiliki kompleksitas struktur, yaitu membentuk sistem jaringan sesar
dan rekahan yang kompleks. Pemodelan dari data seismik 3D dan bor dapat mendeteksi
kehadiran sesar dan distribusi sesar secara spasial. Tingginya kompleksitas struktur pada
reservoir ini meyebabkan dibutuhkannya pemodelan dari karakteristik sesar melalui flow
modelling.
Reservoir dengan kehadiran struktur yang kompleks dapat terjadi pada batuan
silisiklastik yang memiliki porositas dan permeabilitas yang dibentuk oleh matriks batuan.
Pada tipe reservoir ini, kehadiran sesar dan rekahan lebih cenderung bersifat penghalang bagi
fluida karena pada batuan silisiklastik, reaktivasi struktur lebih sulit karena sifat dari
materialnya. Namun, pada reservoir yang lebih bersifat brittle seperti granit dan batugamping,
aliran fluida merupakan hasil dari interaksi sistem rekahan dengan sesar yang pada umumnya
merepresentasikan aliran utama dari fluida yang terjadi pada reservoir tersebut. Kapasitas
penyimpanan fluida untuk batuan yang memiliki porositas sangat rendah seperti granit berada
pada sistem rekahan yang dimilikinya.
Salah satu ciri dari tipe reservoir ini adalah geometri dari sesar yang kompleks dengan
mode pembentukan sesar yang dapat berbeda beda pada waktu yang berbeda beda dan
dengan variasi reaktivasi sesar yang juga berbeda. Geometri sesar yang kompleks pada tipe
reservoir ini disebabkan karena dua hal, yaitu perpotongan antara sesar dan variasi dari
pergeseran sesar. Sistem sesar strike slip dan reverse menjadi sistem yang masih cukup
sulit untuk dipahami dan ditebak dibandingkan dengan sistem sesar normal.
Sesar yang berada pada reservoir ini dapat dideteksi menggunakan data seismik 3D dan
2D. Setiap sesar dapat diidentifikasi pada seismik 3D dan juga dapat dipetakan dalam 3D.
Yang menjadikan tipe reservoir ini disebut memiliki sistem struktur yang kompleks yaitu
karena suatu sesar dapat terbagi menjadi beberapa sesar (branch line) yang cukup besar.
Pendeteksian sesar menggunakan seismik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Terdapatnya seismik cut-off yang menandakan adanya sesar.
2. Untuk sesar dengan offset yang kecil akan ditunjukkan dengan adanya reflektor
seismik yang dimmed atau redup.
3. Perubahan dip yang signifikan yang diakibatkan oleh kehadiran sesar.

Sesar yang saling berpotongan (hard-linked) akan memiliki distribusi strain yang berbeda
sepanjang sesar, khususnya dekat dengan perpotongan antar sesar. Sedangkan sesar yang
tidak saling berpotongan (soft-linked) akan memiliki strain yang sama sepanjang sesar dan
mendekati 0 pada fault tip. Oleh karena adanya perbedaan distribusi strain pada reservoir
menyebabkan tipe reservoir ini sangat kompleks.
Karakteristik sesar mengenai sifat hidroliknya perlu diketahui untuk memaksimalkan
produktivitas dari reservoir, yaitu apakah sesar akan bersifat sealing terhadap fluida ataupun
leaking. Pada umumnya, kehadiran clay pada sesar kan mengurangi permeabilitas dari sesar.
Terdapat tiga algoritma yang digunakan dalam menganalisis peran clay pada zona sesar, yaitu
1. Shale Gouge Ratio, didasarkan pada mechanical mixture dari material yang bersifat
shaley yang ada pada fault gouge. Algoritma ini mengasumsikan bahwa clay hadir
dari stratigrafi yang memiliki clay dan tersesarkan.
(Vcl . z ) x 100
SGR =
throw
2. Clay Smear Potential, memprediksi shale yang smeared ke dalam sesar
2
t hickness
CSP=
distance
3. Shale Smear Factor, memprediksi kontinuitas pada ketebalan shale yang smeared ke
dalam sesar
throw
SSF=
thickness
Selain dari kehadiran clay, kondisi tegasan dan temperatur saat proses deformasi juga
mengontrol derajat dari kataklasis dan kristalisasi dari semen dan konsekuensinya dapat
menurunkan nilai permeabilitas pada zona sesar sehingga walaupun stratigrafi yang memiliki
kandungan clay yang kecil juga dapat memiliki sesar yang menghalangi jalannya fluida
apabila sesar tersebut terbentuk pada kondisi suhu yang relatif tinggi.
Fractured reservoir merupakan tipe reservoir yang penyimpanan hidrokarbon dan
produktivitasnya dikontrol oleh rekahan. Interkasi antara storage domain (porositas tinggi,
permeabilitas rendah) dan fluid domain (porositas rendah, permeabilitas tinggi) menjadikan
farctured reservoir memiliki perilaku fluida dan tekanan yang kompleks. Fractured reservoir
dapat dikelompokkan menjadi empat tipe berdasarkan nilai porositas dan permeabilitasnya,
yaitu
1. Tipe I: porositas dan permeabilitas yang sangat rendah. Rekahan bertindak sebagai
media penyimpanan dan jalur fluida
2. Tipe II: porositas dan permeabilitas yang rendah. Rekahan bertindak lebih sebagai
media yang memberikan jalur untuk fluida.
3. Tipe III: porositas tinggi, permeabilitas rendah. Rekahan bertindak sebagai media
jalur fluida dan produksi berasal dari matriks

10

CHARACTERISING THE FULL STRESS TENSOR BASED ON OBSERVATIONS


OF DRILLING-INDUCED WELLBORE FAILURES IN VERTICAL AND INCLINED
BOREHOLES LEADING TO IMPROVE WELLBORE STABILITY AND
PERMEABILITY PREDICTION
C.A. Barton, D.A. Castillo, D.Moos, P. Peska, dan M. D. Zoback
Pengetahuan tentang tensor stres lengkap penting untuk mendesain jalur lubang bor
yang stabil secara optimal, menentukan berat jenis lumpur yang sesuai, menentukan titik-titik
pembuatan casing, serta mengoptimalkan produksi reservoir. SFIB (Stress and Failure of
Inclined Boreholes) digunakan untuk menunjukkan bagaimana observasi dari kegagalan
lubang bor secara kompresif dan tensile yang disebabkan oleh pengeboran dari gambar
akustik dan elektrik pada lubang bor vertikal maupun miring dapat diintegrasikan dengan
data pengeboran (LOT dan DST) untuk membuat tensor stress. Teknik ini juga dapat
digunakan untuk menetukan kekuatan batuan in situ. Sebagai tambahan, data pada gambar ini
juga dapat digunakan untuk menentukan distribusi, orientasi, dan bukaan semu dari sistem
rekahan dan sesar alami. Pengetahuan tentang orientasi dan besaran dari in situ stres
memungkinkan untuk mengetahui bagian dari rekahan yang konduktif hidarulik.
Konsentrasi stress elastic disekitar sumur pemboran sepanjang principal stress
dijelaskan dengan persamaan kirsch. Dalam hal ini, kegagalan dikontrol oleh tiga besaran
stress (dua horizontal dan satu vertical), orientasi dari stress horizontal, kekuatan batuan,
temperature, dan tekanan formasi. Contoh: jika terdapat perbedaan kontras antara besaran
stress horizontal, maka konsentrasi lingkaran stres dapat merbentuk rekahan kompresif dan
tensile. Lingkaran stress:
(1)
Titik dari konsentrasi stress maksimum berada pada

=90

yang pararel dengan

Shmin. Dapat dihitung dengan:


.Breakout terjadi ketika
konsentrasi maksimum stress melebihi compressive strength dari batuan. Sebaliknya, titik
dari konsentrasi minimum berada pada =0 yang pararel dengan SHmax dapat dihitung
dengan:
. Konsentrasi stress terkecil berada pada azimuth dari
SHmax dan dapat membuat terbentuknya rekahan tensile. Ketika sumbu lubang bor pararel
dengan satu principal stress, maka rekahan tensile akan memiliki orientasi 90 dari
breakout. Observasi dari breakout digunakan untuk menentukan orientasi dari principal stress
horizontal. Jika Sv dan Shmin diketahui,
SHmax dapat dicari
menggunakan lebar dari breakout. Pada
titik lebar breakout
maksimum, konsetrasi stress disekeliling sumur seimbang dengan kekuatan batuan sehingga
persamaan pertama dapat menjadi: , jika kekuatan batuan diketahui, maka SHmax dapat
dicari menggunakan:

Nilai ini bisa didapat jika kita mengetahui Shmin, pore pressure, berat lumpur, lebar
breakout, dan effective rock strength (ceff).

11

Pore pressure bisa didapat dari DST, nilai Shmin bisa didapat dari LOT/XLOT,
sedangkan Sv didapat dari overburden stress, yaitu hasil integrase dari densitas batuan, dan
berat lumpur untuk menghitung perbedaan tekanan fluida dalam lubang bor.
Penentuan orientasi SHmax pada bor dalam sumur miring harus memperhatikan
bentuk 3dnya agar tidak salah dalam menginterpretasi (Mastin 1988). Contoh: pada well
vertical dengan SHmax N 45W breakout akan terbentuk pada N 45E. Namun dengan
kemirigan bor 70 pada arah 280 akan terbentuk breakout arah N100E.
Tensile fracture pada lubang bor miring akan memberikan pola tertentu (Brudy dan
Zoback, 1993). Mereka mengatakan bahwa tensile fracture pada lubang bor miring akan
mulai terbentuk pada titik dimana nilai kompresif stress terkecil sepanjang lubang bor paling
tensile, dan memanjang hingga kompresif stress terkecil memiliki nilai yang terlalu rendah
sehingga rekahan tidak dapat berkembang lagi.
Sesar dan rekahan berperan penting sebagai jalur migrasi fluida. Namun ada rekahan
dan sesar yang lebih bisa mengalirkan fluida disbandingkan yang lainnya. Hal ini
diperkirakan karena sesar dan rekahan akan melebar ke arah principal stress terkecil. Secara
hipotesis hal ini disebabkan oleh S3 akan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menutup
dan menghambat perjalanan fluida. Namun hal ini belum bisa dikatakan 100% benar karena
banyak kasus ditempat lain yang tidak demikian. Hipotesis yang ada menyatakan bahwa ada
faktor lain yang berperan, yaitu rekahan yang paling permeable adalah rekahan pada keadaan
kritis dan berada didalam frictional equilibrium dengan stress disekitarnya.
Kestabilan lubang bor dipengaruhi oleh kekuatan batuan, in situ stress, dan praktek
rekayasa.
Kesimpulannya, pengertian tentang in situ stress sangat penting terutama saat
produksi hidrokarbon mengharuskan kita melakukan pemboran lebih dalam, horizontal
drilling, dll. Paper ini menjelaskan bahwa dengan mengetahui tensor stress kita dapat
mendesain arah pemboran yang optimal dan stabil, menentukan berat jenis lumpur dan titik
untuk dicasing. Dengan mengintegrasi data selama pemboran seperti LOT, DST, dll, serta
mengamati kegagalan akibat pemboran secara kompresif maupun tensile dari gambar akustik
dan elektrik pada lubang bor vertikal maupun miring memungkinkan kita untuk mengetahui
tensor stress.
Pendapat: Teknik perhitungan lebar breakout untuk menentukan SHmax pada paper ini
memang sukses pada crystalline rock, namun masih perlu diuji coba pada batuan lunak
seperti poorly consolidated sediment. Selain itu, masih diperlukan kajian dan pembuktian
tentang penyebab utama peningkatan permeabilitas pada sesar dan rekahan. Karena rekahan
dan sear yang berhubungan dengan S3 karena dibeberapa tempat seperti di formasi Monterery
California tidak memiliki jumlah yang signifikan searah dengan S 3 sehingga dapat
menjelaskan permeabilitas yang teramati.

12

Wellbore Stability in Deep WaterHandling Geomechanical Uncertainty


Daniel Moos, Ph.D., Sr. VP Technology Development, GeoMechanics International,
Inc.

Paper ini bertujuan memprediksi ketidakpastian pada mud weight yang berkaitan dengan
ketidakpastian pada parameter-parameter geomekanika (insitu stress, pore pressure, rock
strength) dan menguantifikasikannya untuk memberikan panduan dalam memutuskan
mengenai keuntungan yang berhubungan dengan mengumpulkan tipe data tertentu
dibandingkan dengan resiko tidak mengumpulkan data tersebut. Simplifikasi dilakukan pada
pembahasan paper ini dengan mengasumsikan batuan yang ditembus sumur isotropik, tidak
terpengaruh interaksi kimiawi fluida pemboran dan shale, juga tidak mempertimbangkan
poroelastisitas atau efek fluida pori atau difusi termal.
Terdapat
hubungan
antara
lebar
awal
breakout dan volume
material yang diproduksi
yang tergantung litologi.
Hubungan
ini
memungkinkan
komputasi dari volume
cutting berlebih akibat
terjadinya breakout pada
lebar
tertentu,
yang
dimungkinkan untuk menentukan (pada suatu sistem pengeboran tertentu) batas breakout
akan membahayakan stabilitas lubang. Menghitung mud weight yang cocok dengan
kandungan compressive failure membutuhkan pengetahuan kemampuan hole cleaning dari
sistem pengeboran, dimana biaya peralatan yang lebih baik harus ditukar dengan biaya yang
berhubungan dengan kebutuhan menggunakan mud weight yang lebih tinggi jika hole
cleaning tidak memadai (yaitu panjang casing yang lebih pendek, resiko lebih besar dari lost
circulation, laju penetrasi dikurangi).
Jika dimungkinkan untuk menentukan ketidakpastian dalam parameter-parameter
geomekanika, maka dimungkinkan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menentukan
ketidakpastian dalam prediksi mud weight yang dibutuhkan sumur bor, dimungkinkan pula
mengenali parameter yang memberikan ketidakpastian paling besar dan untuk
mengembangkan suatu program pengukuran yang ditujukan untuk mengurangi resiko dengan
cara menghemat biaya.
Pada beberapa kasus, stabilitas relatif cukup untuk memandu menentukan keputusan.
Misalnya, pengetahuan yang akurat mengenai besaran tegasan relatif menyediakan informasi
yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan pengeboran yang jangkauannya diperpanjang
pada lingkungan laut dalam. Analisis lebih lanjut memanfaatkan data yang didapat pada
sumur eksplorasi vertikal.

13

Ketika diperlukan untuk


menguantifikasi
kekuatan
batuan atau tekanan pori ketika
sebuah sumur sedang dibor,
pengukuran
LWD
dapat
menyediakan
data
yang
diperlukan. Misalnya resistivitas
dan/atau data kecepatan dapat
digunakan untuk memperbaiki
profil tekanan pori dan untuk
mengurangi ketidakpastiannya.
Pengukuran kecepatan akustik
memberikan informasi untuk
menentukan kekuatan batuan.
Namun log LWD tersebut tidak
selalu didesain untuk beroperasi pada lubang yang besar yang dibutuhkan untuk beberapa sesi
casing sumur laut dalam. Sehingga informasi harus diperoleh menggunakan log wireline
yang menambah biaya secara signifikan dan resiko yang berhubungan dengan data yang
diperoleh.
Ketika terdapat ketidakpastian yang substansial di dalam prediksi yang bisa dikurangi
dengan melakukan analisis logging yang komprehensif, hal tersebut dapat mengefektifkan
biaya, possible benefit untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengurangi
ketidakpastian-ketidakpastian tersebut.
Akuisisi data LOT yang baik, termasuk penentuan yang hati-hati pada shut-in atau shutoff fracture closure pressure, bisa sangat berharga. Hal ini dikarenakan ia dapat menilai secara
kuantitatif resiko yang berhubungan dengan naiknya mud weight untuk mengatasi
ketidakstabilan lubang dimana tidak dimungkinkan untuk memperoleh data yang dibutuhkan
untuk mengurangi ketidakpastian dalam collapse pressure.
Meningkatkan carrying capasity dari sistem mud tidak selalu cukup mengurangi resiko
collapse untuk menjustifikasi biaya tambahan untuk alasan itu saja. Ketidakpastian yang
diprediksi di dalam mud weight memiliki sumber bermacam-macam yang berarti bahwa
upaya tambahan yang cukup besar harus dilakukan untuk meningkatkan prediksi, termasuk
akuisisi data real tiime untuk meningkatkan model sementara sumur sedang dibor.

14

Stress, pore pressure, and dynamically constrained hydrocarbon columns


in the South Eugene Island 330 field, northern Gulf of Mexico
Thomas Finkbeiner, Mark Zoback, Peter Flemings,and Beth Stump
Pada paper ini, model konseptual dibuat sedemikian rupa berdasarkan studi kasus lapangan di
utara Gulf of Mexico, dimana model ini dinamakan dynamic capacity model yang bertujuan untuk
menformalisasikan dua buah mekanisme dinamis yang menyebabkan mungkinnya migrasi
hidrokarbon akibat meningkatnya fracture permeability. Sebagai informasi awal, merujuk pada Watts
(1987), jika permeabilitas sangat rendah dan nilai capillary entry pressure menjadi semakin tinggi
(contoh: shale), maka mekanisme yang berbeda harus ada untuk meningkatkan permeabilitas agar
fluida hidrokarbon dapat bermigrasi seefektif mungkin. Oleh sebab itu, hal yang mungkin terjadi
adalah akibat hydraulic fracturing. Merujuk pada beberapa penulis, bahwa hydraulic fracturing secara
natural merupakan mekanisme dominan yang menyebabkan terjadinya fracture permeability. Supaya
konsep ini bekerja, maka nilai dari pore pressure perlu tinggi paling tidak sesuai principal stress
(Rubey dan Hubbert, 1959; Nur dan Walder, 1990). Akan tetapi, faktor lain yang mungkin
menyebabkan fracture permeability adalah akibat shear failure sepanjang zona sesar aktif.
Dalam konsep yang diajukan dynamic capacity model, maka dalam paper ini dilakukan
investigasi mengenai kedua mekanisme yang mungkin terjadi (hydraulic fracturing dan failure
sepanjang shear fracture) untuk mengetahui apakah reservoir pore pressure, kolom hidrokarbon, dan
aliran fluida dapat dikontrol oleh fracture permeability dalam keadaan dynamic equilibrium dengan
keadaan stress yang ambien. Evaluasi mengenai apakah kedua mekanisme tersebut beroperasi
memerlukan pengetahuan tentang insitu stress dan kondisi pore pressure dari kedua unit batuan (shale
dan sand) di South Eugene Island (SEI) 330 field, Gulf of Mexico. Model konseptual tersebut
diaplikasikan pada 8 unit sand reservoir dari 3 depositional cycles (Lentic, OI-I, dan JD) pada SEI 330
field.

15

Pada area tersebut,


sedimentasi berlangsung
cepat
dengan
dikarakterisasikan melalui
struktur sesar normal pada
area dimana overburden
menjadi
maximum
principal stress (Shmin <
SHmax < Sv). Pada area
tersebut, pore pressure
pada shale diekspektasikan
memiliki nilai yang lebih
besar daripada di unit
batupasir
Karena
permeabilitas pada shale
lebih rendah dan relative buruk dalam hal drainage saat terjadi kompaksi. Akan tetapi, dari model
yang dipublikasikan, prediksi tersebut malah berlawanan (pore pressure pada unit sand > pore
pressure unit shale) dalam beberapa kasus. Model centroid tersebut; top tilting, fluid-filled sand layer,
pore pressure yang tinggi relatif pada shale. Fenomena kontras ini terjadi akibat adanya structural
relief yang memicu terjadinya differential sediment loading. Pertimbangan lainnya adalah bukan
hanya faktor pore pressure dan shale tetapi kondisi stress yang ambien pada shale yang mungkin
mengontrol mekanisme dinamik dari migrasi fluida dan terjadinya akumulasi hidrokarbon.
Ketika dilakukan penelitian tersebut, nilai dari (Pp ss) pada bagian top dari struktur tersebut
dipengaruhi oleh factor buoyancy selain dari structural relief yang dijelaskan dari centroid model di
paragraf atas. Konsekuensinya, perbedan tekanan pada sand dan shale bisa lebih besar. Pada contoh
model dibawah, digambarkan 3 scenario terjadinya migrasi dari hubungan antara pore pressure di unit
sand dan in-situ stress pada shale
Dalam semua kasus, puncak dari struktur dari lokasi penelitian paper ini menyebutkan bahwa
tekanan shale lebih rendah daripada tekanan di unit sand (sekitar 15-25%),sehingga fakta ini
menunjukan bahwa figure A dan B diatas adalah figure yang cocok (dynamic capacity mechanism)
dibanding figure C (static migration mechanism). Pada kondisi dimana tekanan akuifer awal besar,
maka perbedaan antara Pp crit dan Pp ss bernilai kecil. Reservoir akan menyuplai fase hidrokarbon
yang mengalami buoyancy secara kecil dan nilai Pp crit dapat diraih secara cepat. Akan tetapi, jika
tekanan akuifer awal kecil, maka perbedaan antara Pp crit dan Pp ss bernilai besar. Reservoir akan
menyuplai fase hidrokarbon yang mengalami buoyancy dan nilai Pp crit dapat diraih secara lambat.
Rentang nilai dari critical pore pressure (Pp crit) dari sebuah reservoir didefinisikan sebagai
nilai dari in-situ stress yang merepresentasikan keadaan dimana terjadi dynamic equilibrium dimana
failure dan migrasi hidrokarbon mungkin terjadi (bisa akibat reservoir bonding faults slip atau akibat
top seals yang mengalami hydraulic fracturing). Dengan kata lain, nilai kritikal ini mendifinisikan
tingginya kolom maksimum (pore pressure) pada kondisi dimana reservoir mencapai kondisi
kapasitas dinamisnya.
Studi lapangan tersebut juga memperlihatkan kondisi footwall dari Lentic Footwall dengan
unit sand dimana stress pada area tersebut mendekati kondisi isotropic karena nilai dari differential

16

stress sangatlah kecil. Kenaikan nilai Pore Pressure yang menyebabkan hydraulic fracturing dan
reservoir bonding fault to slip menyebabkan keluarnya kelebihan tekanan pada batuan.
Identifikasi 8 unit sand reservoir dari 3 depositional cycles (Lentic, OI-I, dan JD) pada SEI
330 field memperlihatkan bukti-bukti lapangan yang menarik. Pada Lentic-sand, pore pressure
mendekati the least principal stress, yang mengindikasikan terjadinya natural hydraulic fracturing atau
fluid flow sepanjang sesar aktif. Zona OI-1 yang mengalami overpressure juga mengindikasikan 2 hal
yaitu yang pertama, kolom hidrokarbon pada blok sesar di zona tersebut cenderung rendah dan
memiliki tekanan yang tinggi mendekati nilai dari dynamic fault slip. Sehingga, kedua reservoir OI-1
tersebut pada present-day termasuk dalam dynamic capacity dan tinggi kolom serta perpindahan
fluida hidrokarbon dikontrol oleh sesar aktif sepanjang reservoir bounding growth faults. Pernyataan
yang kedua ialah, meskipun pada zona OI-1 terdapat juga dua reservoir lain yang memiliki kolom
hidrokarbon yang panjang, tekanan pada reservoir tersebut dibawah daridynamic equilibrium,
dibuktikan dengan unit sand tersebut merupakan spill-point controlled dan hidrokarbon dapat keluar
menuju arah barat dari structure zona OI-1 tersebut. Sedangkan, pore pressure dari zona reservoir
yang ketiga yaitu JD dibawah dari critical value untuk dynamic failure.

17

Self-Similar Distribution and Properties of Macroscopic Fractures at Depth


in Crystalline Rock in the Cajon Pass Scientific Drill Hole
Collen A. Barton dan Mark D. Zoback
Studi ini dilakukan bertujuan untuk karakterisasi frekuensi, orientasi dan apertur (bukaan
rekahan) dari rekahan makroskopik di dalam kerak dan efeknya terhadap sifat fisik pada
interval kedalaman yang cukup dalam (1829-3450 m).
Frekuensi dari rekahan (given aperture) berkurang seiring dengan meningkatnya apertur.
Dengan koreksi untuk bias pecontohan (bias sampling), distribusi apertur rekahan yang
teramati memiliki bentuk power law yang memberikan bukti sifat self-similar (scale
invariant, tidak bergantung skala) rekahan pada kerak kristalin. Analisis fraktal dari data
apertur rekahan menghasilkan dimensi fraktal (irregularitas distribusi, kurva atau figur
geometris, setiap bagian yang memiliki karakter statistik sama dengan keseluruhan, pola yang
sama berulang pada semakin skala yang lebih kecil) 1.4 sepanjang pengukuran apertur yang
terpercaya pada studi ini dari 15 hingga 100 mm
Pada interval studi, frekuensi rekahan tidak secara sistematik berkurang dengan
kedalaman.Tidak ada korelasi signifikan yang ditemukan antara terjadinya rekahan dan
litologi. Jarak dan apertur rekahan tidak berkorelasi dengan orientasi atau kedalaman
rekahan.
Mayoritas rekahan yang ditemui pada sumur berjurus NNW-SSE dan kemiringan terjal ke
arah barat. Satu kumpulan dari rekahan berkemiringan terjal terlihat berhubungan dengan
sesar San Andreas berjurus NW dan terlihat berhubungan dengan rekahan geser
berkemiringan terjal, berjurus NW yang diamati di sekitar singkapan yang dicirikan oleh
alterasi laumonitik
Rekahan ini tidk memiliki relasi yang jelas terhadap arah timurlaut kompresi horizontal
maksimum (SHmaks) namun berkorelasi dengan anomali pada pengukuran sifat fisik kecepatan
kompresional dan geser, porositas dan resistivitas.
Rekahan makroskopik berjurus pada arah hampir tegak lurus terhadap arah propagasi
cepat dari anisotropi gelombang seismik yang ditentukan dari profil eksperimen seismik
vertikal di dalam sumur, rekahan ini terlihat tidak berhubungan dengan anisotropi seismik
teramati.
Rekahan konduktif hidrolik dan sesar mayor menunjukkan bahwa rekahan yang
menghantarkan fluida merupakan subset dari keseluruhan populasi signifikan secara statistik
dan tidak berhubungan dengan sesar San Andreas atau terhadap orientasi dari S Hmax secara
jelas.
Orientasi, distribusi, dan apertur semu dari rekahan alami yang memotong sumur
penelitian Cajon pass telah dipelajari melalui analisis interaktif mendetil pada data sumur bor
televiewer pada interval 1750-3460 m. Mayoritas dari rekahan yang ditemui pada sumur
tersebut memiliki jurus NNW-SSE dan kemiringan terjal ke arah barat.
Meskipun populasi rekahan primernya tidak membawa relasi yang jelas terhadap jurus N
60 W dari sesar San Andreas atau orientasi timurlaut dari kompresi horizontal maksimum, ia
terlihat berhubungan dengan rekahan geser (Shear Fracture) berjurus NW yang
o

18

berkemiringan terjal yang diamati pada singkapan disekitarnya dan sampel inti bor yang
dicirikan oleh alterasi laumontitik.
Hasil dari eksperimen VSP menandakan bahwa arah cepat dari energi gelombang seismik
mengikuti medan tegangan ambien, bukan trend dari rekahan makroskopik yang dideteksi
dengan televiewer sumur bor.

Distribusi probabilitas variabel acak self-similar memiliki bentuk distribusi inverse


power law
Analisis distribusi statistik rekahan menandakan bahwa distribusi
self-similar rekahan dan kemungkinan hubungan antara perekahan dan fenomena gempa
bumi. Disadarinya sifat self-similar, power law fenomena alami menawarkan kemungkinan
menjelaskan sistem pada kisaran skala, meskipun masih terdapat beberapa pertanyaan tersisa
mengenai ukuran kisaran perilaku self-similar dapat diasumsikan.

19

Relationships Among In-Situ Stress, Fractures and Faults, and Fluid Flow:
Monterey Formation, Santa Maria Basin, California
Thomas Finkbeiner, Colleen A. Barton, and Mark D. Zoback
Rekahan dan sesar memiliki peran penting terhadap peningkatan permeabilitas dan aliran
fluida. Oleh karena itu, dilakukan suatu studi untuk mengkarakterisasi rekahan terhadap peningkatan
permeabilitas dan hubungannya terhadap stress regional. Metode yang digunakan pada paper ini
adalah pengamatan terhadap borehole televiewer (BHTV) untuk mengidentifikasi keberadaan
borehole breakouts dan menganalisis arah principal stress horizontal (SHmax dan Shmin). Arah
principal stress horizontal akan dibandingkan dan divalidasi dengan data focal mechanism stress
inversion (FSMI) untuk mengetahui hubungannya terhadap principal stress tensor. Selanjutnya
dilakukan analisis terhadap data DST untuk mengamati hubungan antara orientasi rekahan dengan
permeabilitas fluida pada interval penelitian.
Sumur penelitian terletak pada Cekungan Santa Maria, terdiri atas 3 sumur offshore A, B, dan
C (Chevron USA) dan 1 sumur onshore D (Unocal). Target penelitian adalah reservoir terekahkan
pada formasi Monterey yang terdiri dari limestone/dolomite, shale, dan diatom. Fase tektonik pada
cekungan saat Miosen merupakan rezim stress transtensional menghasilkan deformasi ekstensional
pada arah N-S dan pada Pliosen rezim stress berubah menjadi transpressional pada arah NE-SW
menyebabkan struktur inversi dan lipatan pada arah NW-SE. Daerah penelitian berada pada zona
lipatan aktif dan thrust belt, dengan beberapa variasi stress local.
Analisis terhadap orientasi borehole breakouts dilakukan untuk mendapatkan arah orientasi
dari Shmin dan SHmax yang selanjutkan akan dibandingkan dengan earthquake focal mechanism
(FMSI) sebagai validasi terhadap orientasi principal stress saat ini. Orientasi SHmax dari breakouts
dan principal stress S1 ditunjukkan oleh tabel dan gambar di bawah ini .

terhadap

Analisis
bidang
perlapisan dan rekahan

Tabel 1. Orientasi SHmax pada sumur A, B, C, dan D


serta orientasi S1 hasil stress inversi FMSI

Gambar 1. Histogram orientasi SHmax


pada keempat sumur penelitian.
Gambar 2. Lower hemisphere stereonet untuk T axis
dan P axis pada salah satu rekaman data gempa
bumi.

dilakukan terhadap keempat sumur penelitian.


Terdapat variasi terhadap arah strike dari bidang
perlapisan di masing-masing sumur. Variasi ini disebabkan karena pengaruh struktur, salah satunya
antiklin Point Arguello sebagai salah satu trap pada cekungan Santa Maria, menyebabkan rotasi strike
bidang perlapisan akibat plunging dan tilting pada antiklin. Analisis terhadap rekahan yang
berkembang pada sumur penelitian menunjukkan hal yang sama, yaitu terdapat variasi orientasi dan
frekuensi rekahan pada tiap sumur. Rekahan dapat dikelompokkan menjadi beberapa basis
berdasarkan orientasi strike/dip dan frekuensi dari rekahan. Hal ini berkorelasi seiring dengan

20

perubahan
litologi,
menunjukkan
bahwa
perkembangan rekahan yang ada juga
dipengaruhi oleh sejarah tektonik, diagenesis, dan
variasi struktur yang ada. Pengaruh terhadap
variasi frekuensi dan orientasi rekahan juga
divalidasi oleh data log sumur, dimana
perkembangan rekahan yang intensif ditunjukkan
oleh beberapa respon densitas, resistivitas, sonic,
dan gamma ray, dan neutron yang khusus.
Peningkatan nilai log resistivitas, gamma ray, dan
densitas serta pengurangan nilai log neutron dan
sonic terjadi seiring peningkatan dip rekahan
serta arah strike rekahan yang tegak lurus
terhadap SHmax.
Untuk mengetahui hubungan antara
orientasi rekahan dengan aliran dan permeabilitas
Gambar 3. Variasi orientasi strike/dip bidang rekahan
dan perlapisan terhadap litologi

fluida, dilakukan analisis terhadap data DST yang tersedia pada sumur A dan sumur C. Pada data DST
sumur A terlihat bahwa pada interval DST 6 memberikan nilai permeabilitas paling tinggi terlepas
dari populasi rekahannya yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa hanya rekahan dengan orientasi
tertentu saja yang memberikan pengaruh besar terhadap permeabilitas. Pada DST 6, terlihat bahwa
semua bidang baik rekahan maupun perlapisan berada pada kondisi critically stress. Orientasi rekahan
pada interval ini memiliki arah strike yang subprependicular terhadap SHmax dan orientasi bidang
perlapisan berarah orthogonal terhadap SHmax. Intepretasi yang serupa juga terdapat pada DST 2 7
dimana sebagian besar bidang rekahan dan perlapisan berada pada kondisi critically stress, namun
memiliki permeabilitas yang lebih rendah dari interval DST 6 disebabkan karena populasi rekahannya
yang lebih scattered. Pada interval DST 8 sebagian besar bidang rekahan dan perlapisan berada pada
kondisi critically stress namun memiliki permeabilitas yang rendah. Penjelasan terhadap hal ini
berkaitan dengan karakteristik litologi shale pada interval DST 8 yang cenderung tidak dapat
mempertahankan bukaan dari fracture karena sifatnya yang ductile/plastis, jika dibandingkan dengan
batuan pada interval lainnya yang lebih bersifat brittle. Intepretasi dan pengamatan yang telah
dilakukan memberikan bukti bahwa permeabilitas di suatu interval akan meningkat seiring
berkembangnya bidang rekahan dan perlapisan pada kondisi critically stressed dengan arah orientasi
yang perpendicular atau oblique terhadap SHmax pada zona litologi brittle. Hal ini mengindikasikan
bahwa rezim strike slip dan reverse yang bekerja pada sumur penelitian memberikan pengaruh besar
terhadap permeabilitas dan migrasi fluida pada interval penelitian.

Gambar 4. DST pada interval sumur A


beserta orientasi dan kondisi bidang
rekahan dan perlapisam.

21

Gambar 5. DST pada interval sumur C


beserta orientasi dan kondisi bidang
rekahan dan perlapisam.