Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah budaya hidup perorangan,
keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat, serta bertujuan untuk
meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental
maupun sosial5. Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku yang
tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan lingkungan yang sehat dan
bersih6.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat. Dalam
rangka mewujudkan derajat kesehatan baik individu, kelompok, atau masyarakat
maka kesehatan harus diupayakan dan ditingkatkan7. Upaya pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan diwujudkan dalam suatu wadah pelayanan kesehatan yang
disebut sarana atau pelayanan kesehatan (health service)4.
Konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah ditandai
dengan delapan indikator yaitu mencuci tangan dengan air mengalir dan
menggunakan sabun, mengkonsusmsi jajanan sehat di kantin sekolah,
menggunakan jamban yang bersih, olah raga teratur dan terukur, memberantas
jentik nyamuk, tidak merokok, membuang sampah pada tempatnya, menimbang
berat badan dan mengukur tinggi badan setiap enam bulan6.
Masa usia sekolah merupakan masa dimana anak akan belajar
keterampilan fisik, dan membangun fisik yang sehat. Mulai dari sekolah Taman
Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan
Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 13.
Perkembangan anak dalam masa usia sekolah dasar merupakan bagian dari
perkembangan berikutnya, sehingga setiap kelainan sekecil apapun akan
mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari12.
Tugas

perkembangan

anak

dalam

usia

sekolah

adalah

belajar

mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan meliputi kesehatan dan

kebersihan pribadi serta adanya hubungan positif yang tinggi antara jasmani dan
prestasi17. Anak sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dapat
mengidentifikasi tentang kebutuhan kebersihan diri dan berperilaku hidup bersih
dan sehat itu sangat penting bagi dirinya. Aspek perilaku merupakan hal yang
paling penting agar terwujudnya status kesehatan pribadi19.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan individu dan kesehatan
masyarakat adalah keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan masyarakat.
Selain faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku hidup bersih antara lain kelas sosial dan kelas ekonomi,
pengetahuan, sikap, status kesehatan serta kebiasaan pribadi4.
Sehubungan dengan hal tersebut, perilaku yang kurang sehat dapat pula
menimbulkan persoalan yang lebih serius seperti ancaman penyakit menular.
Sekolah atau pesantren merupakan sumber penularan penyakit infeksi antara lain:
infeksi tangan dan mulut, infeksi mata, demam berdarah, cacar air, campak,
rubela, dan gondong17. Jika siswa tidak memahami perilaku hidup bersih dan
sehat bukan tidak mungkin dapat meningkatkan tingginya angka penyakit
tersebut. Maka pengetahuan yang ada di sekolah atau pesantren perlu ditingkatkan
dengan cara memberikan kesempatan untuk mempraktekkan seminggu sekali
ataupun dengan cara pendalaman materi tentang perilaku hidup bersih dan sehat13.
Pesantren dapat menjadi salah satu tempat ancaman penularan penyakit
karena tingkat kepadatan dan lingkungan yang kurang memadai sehingga
penanaman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan kebutuhan yang
mutlak yang harus dilakukan karena penghuni pesantren adalah kelompok resiko
terkena penyakit7.
Akibat pengetahuan siswa tentang perilaku hidup dan sehat yang rendah,
bukan tidak mungkin siswa tidak bisa menerapkan perilaku hidup sehat dengan
benar atau bahkan tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
akan berpengaruh pada derajat kesehatan tubuh yang rendah13. Perlunya
penanganan dan solusi untuk itu dengan meningkatkan pengetahuannya,
memahami, dan mempraktekannya di lingkungan sekolah atau pesantren dan
untuk dirinya sendiri16.

Pengetahuan siswa tentang perilaku hidup sehat sangatlah penting,karena


pengetahuan siswa yang tinggi terhadap perilaku hidup sehat akan menjadi
pendorong timbulnya usaha sadar siswa untuk menjaga dan meningkatkan
kesehatannya melalui perilaku hidup sehat16. Menurut Sunaryo, pengetahuan
merupakan domain terpenting bagi terbentuknya tindakan seseorang. Perilaku
yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak
disadari oleh pengetahuan12.
Hasil Penelitian yang pernah dilakukan pada tahun 2014 mengenai tingkat
pengetahuan perilaku hidup sehat dan bersih di SMA Negeri 8 Surakarta
menunjukan sebanyak 5 responden (14,3%) dari 27 responden yang termasuk
dalam kriteria pengetahuan baik3. Penelitian serupa yang dilakukan pada tahun
2015 di Pondok Pesantren Al-Kahfi menunjukan sebanyak 33 responden (56,9%)
dari 58 responden yang termasuk dalam kriteria pengetahuan cukup dan 25
responden (43,1%) termasuk dalam kriteria pengetahuan buruk8.
Pondok Pesantren Asy-Syafiiyah Kaur merupakan salah satu tempat siswasiswi menimba ilmu. Fungsi pesantren selain sebagai tempat pembelajaran juga
dapat menjadi ancaman penularan penyakit jika tidak dikelola dengan baik karena
transmisi yang mudah ini disebabkan oleh tingkat kepadatan penduduk sehingga
PHBS merupakan kebutuhan yang harus dilakukan karena penghuni pesantren
adalah kelompok beresiko terkena penyakit9. Penyakit yang paling sering diderita
oleh santri (murid pesantren) Pondok Pesantren Asy-Syafiiyah adalah common
cold, skabies, diare, dan tifoid.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa para santri Pondok
Pesantren Asy-Syafiiyah merupakan kelompok beresiko terkena penyakit yang
berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul Tingkat Pengetahuan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) Terhadap Kebersihan Pribadi Santri SMA Pondok
Pesantren Asy-Syafiiyah Kaur.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi masalah dalam


penelitian ini adalah bagaimana tingkat pengetahuan perilaku hidup bersih dan
sehat terhadap kebersihan pribadi santri SMA Pondok Pesantren Asy-Syafiiyah
Kaur.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan perilaku hidup bersih dan sehat
terhadap kebersihan pribadi santri SMA Pondok Pesantren Asy-Syafiiyah Kaur.

1.4 Manfaat Penelitian


a. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan mengenai tingkat pengetahuan perilaku hidup
bersih dan sehat terhadap kebersihan pribadi santri SMA Pondok Pesantren AsySyafiiyah Kaur.
b. Bagi Teoritis
Diperoleh informasi mengenai tingkat pengetahuan perilaku hidup bersih
dan sehat terhadap kebersihan pribadi santri SMA Pondok Pesantren AsySyafiiyah Kaur.
c. Bagi Praktisi
Sebagai data dasar yang selanjutnya dapat menjadi pedoman dalam
melakukan edukasi terhadap para santri SMA Pondok Pesantren Asy-Syafiiyah
Kaur.