Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Pengetahuan


2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan pengetahuan terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
panca indra manusia yaitu indra pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba dengan sendiri. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata
dan telinga. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang
sekadar menjawab pertanyaan what, misal apa air, apa manusia, apa alam, dan
sebagainya11.
Pengetahuan diperoleh dari hasrat ingin tahu. Semakin kuat hasrat ingin
tahu manusia akan semakin banyak pengetahuan19. Rasa ingin tahu mendorong
manusia mengemukakan pertanyaan. Bertanya tentang dirinya, lingkungan di
sekelilingnya, ataupun berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Begitulah
cara manusia mengumpulkan pengetahuan. Menurut Poedjawijatna pengetahuan
tidak lain dari hasil tahu, kalau tahu bahwa pohon itu rendah, maka ia mengakui
hal rendah itu terhadap pohon itu. Mengakui sesuatu terhadap sesuatu. Memang
itu tahu, yang menghasilkan pengetahuan. Pengakuan sesuatu terhadap sesuatu itu
disebut putusan, sehingga dalam dasarnya putusan dan pengetahuan itu sama.
Pengetahuan ada pengakuan sesuatu terhadap sesuatu maka adalah dua sesuatu
dalam putusan, sehingga putusan selalu ada bagiannya, yaitu dasar pengakuan.
Dasar pengakuan itu disebut subjek15.
Keterarahan manusia terhadap objek hanya mungkin menimbulkan
pengetahuan kalau dalam diri manusia sebagai subjek sudah terdapat kesamaankesamaan prinsip atau kategori yang memungkinkan manusia dapat mengenal dan
menangkap objek yang diamati. Kalau tidak, objek itu akan berlalu begitu saja.
Sebagai contoh, murid tahu apa itu tempat sampah. Akan tetapi siswa menjadi
subjek juga menjadi objek pengetahuan yang siswa ketahui adalah mengetahui itu

tempat sampah dan apa yang seharusnya siswa lakukan adalah membuang sampah
di tempat sampah21.
Pengetahuan yang dapat disimpulkan, manusia adalah makhluk berpikir
yang selalu ingin tahu tentang sesuatu. Manusia memperoleh pengetahuan melalui
berbagai cara. Jika sekedar ingin tahu tentang sesuatu, cukup dengan
menggunakan pertanyaan secara sederhana. Namun di samping itu, adakalanya
pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman yang berulang-ulang terhadap
sesuatu dalam peristiwa atau kejadian12. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman
manusia terhadap diri dan lingkungan hidupnya, cara memperolehnya melalui
yang teramati oleh indera seperti mata dan telinga. Sebagai contoh siswa merasa
tidak nyaman dan mudah terserang penyakit akibat sampah yang menumpuk dan
tidak menjaga kebersihan akan menimbulkan bau dan penyakit. Hal ini
disebabkan oleh pengalaman yang sudah-sudah, lazimnya bila sampah menumpuk
ataupun tidak menjaga kebersihan. Berkali-kali kasus serupa mereka alami.
Akhirnya menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa sampah menumpuk dan tidak
menjaga kebersihan mengakibatkan ketidaknyamanan dan mudahnya siswa
terserang penyakit9.
2.1.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Soekidjo Notoatmodjo, pengetahuan yang tercakup dalam
domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu tahu (know), memahami
(Comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis),
dan evaluasi (evaluation). Pengetahuan yang dapat dijabarkan sesuai arti dan para
ahli yang sudah ditetapkan14.
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembalai (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari
atau rangsangan yang diterima11.
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara
benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari19.

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang


telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat diartikan
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dalam konteks atau situasi
yang lain20.
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Sintesis menunjukkan pada
suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam
suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis dapat juga diartikan sebagai suatu
kemampuan untuk menyusun rumusan baru dari rumusan-rumusan yang telah
ada14.
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan justifikasi atau penilaian terhadap
suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian terhadap suatu materi atau objek
berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteriakriteria yang telah ada19.
Pengetahuan yang akan diberikan dari pembahasan di atas, yaitu sebatas
tahu, memahami, dan mengaplikasi. Mengingat suatu materi yang telah dipelajari
perlu dipahami agar objek yang diketahui dapat menginterpretasi secara benar dan
perlu diaplikasikan sebagai kemampuan yang telah dipelajari1.
2.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain15 :
1) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengambangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang
maka akan semakin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan
pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi,
baik dari orang lain ataupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang
masuk maka semakin banyak pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.
Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan
seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas
pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa orang dengan pendidikan rendah
tidak mutlak memiliki pengetahuan yang rendah. Pengetahuan seseorang tentang

suatu objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua
aspek inilah yang nantinya menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu.
2) Media massa/informasi
Informasi yang diperoleh dari pendidikan formal maupun informal dapat
memberikan pengaruh dalam jangka pendek sehingga menghasilkan perubahan
atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan menyediakan bermacammacam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang
inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti
radio, televisi, majalah, dan surat kabar mempunyai pengaruh besar terhadap
pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Adanya informasi baru mengenai
suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan
terhadap hal tersebut.
3) Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran
apakah baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah
pengetahuannya walaupun tanpa melakukannnya. Status ekonomi seseorang juga
akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan
tertentu, sehingga status ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
4) Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh

kebenaran

pengetahuan

dengan

cara

mengulang

kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi dimasa


lalu. Pengetahuan belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman belajar selama
bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang
merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang
bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.
5) Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar individu, baik
lingkungan fisik, biologis, dan sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses
masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut.
Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan
direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

6) Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambahnya usia maka akan semakin berkembang daya tangkap dan
pola pikir seseorang sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik.
2.1.4 Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo, ada lima cara untuk memperoleh pengetahuan
yaitu13 :
1) Cara coba-salah (Trial and Error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil maka
dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
2) Pengalaman Pribadi
Pepatah mengatakan pengalaman adalah guru yang baik, mengandung
maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman
itu merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan.
3) Cara Kekuasaan atau Otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasan-kebiasaan
dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah itu
baik atau tidak. Kebiasan-kebiasan ini biasanya diwariskan turun-menurun dari
generasi kegenerasi berikutnya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh
berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, atau
otoritas pemimpin agama. Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang
dikemukakan oleh orang yang memiliki otoritas tanpa terlebih dahulu menguji
atau membuktikan kebenarannnya, baik berdasarkan fakta empiris ataupun
berdasarkan penalaran sendiri.
4) Cara Modern Dalam Memperoleh Pengetahuan
Cara baru dalam memperoleh pengetahuan dewasa ini lebih sistematis,
logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau popular disebut
metodologi penelitian.
5) Melalui Jalan Pikiran
Sejalan dengan perkembangan umat manusia, cara berpikir manusia pun
ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya

10

dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh


kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik
melalui induksi ataupun deduksi.
2.1.5 Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan kuesioner (questionair)
juga sering dikenal sebagai angket, yang menanyakan isi materi yang ingin diukur
dari subjek penelitian atau responden20. Kedalaman pengetahuan yang ingin
diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat pengetahuan.
Selain itu, angket juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan
terbesar di wilayah yang luas. Angket dapat berupa pertanyaan/ pernyataan
tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau
melalui pos atau internet21.
Menurut Riwidikdo, pengukuran pengetahuan digunakan perhitungan
sebagai berikut2 :
1) Baik
: Bila nilai responden yang diperoleh (x) > mean + 1 SD
2) Cukup : Bila nilai responden mean 1 SD x mean + 1 SD
3) Kurang : Bila nilai responden yang diperoleh (x) < mean 1 SD
2.2 Konsep Dasar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
2.2.1 Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan
yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat
menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatankegiatan kesehatan di masyarakat6.
PHBS merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar
kesadaran sebagai hasil pembelajaran. Sasaran dalam PHBS dikelompokkan
dalam lima tatanan (setting) yaitu: tatanan rumah tangga, tatanan institusi
pendidikan (sekolah, madrasah, pondok pesantren). Sasaran institusi kesehatan
(puskesmas, rumah sakit, klinik), sasaran tempat kerja (kantor, pabrik, tempat
usaha dan tatanan tempat umum (pasar, tempat ibadah, tempat rekreasi)7.
PHBS dalam tatanan institusi pendidikan adalah upaya pemberdayaan dan
peningkatan kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan
institusi pendidikan. Sasaran PHBS di tatanan institusi pendidikan adalah seluruh

11

anggota keluarga institusi pendidikan dan terbagi dalam sasaran primer, sasaran
sekunder, dan sasaran tersier7. Sasaran primer adalah sasaran utama dalam
institusi pendidikan yang akan dirubah perilakunya atau murid dan guru yang
bermasalah

(individu

atau

kelompok

dalam

institusi

pendidikan

yang

bermasalah)5.
Sasaran sekunder adalah sasaran yang mampu mempengaruhi individu
dalam institusi pendidikan yang bermasalah misalnya, kepala sekolah, guru, orang
tua murid, kadar kesehatan sekolah, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan
lintas sektor terkait5.
Sasaran tersier adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur
pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan
untuk tercapainya pelaksanaan PHBS di institusi pendidikan misalnya kepala
desa, lurah, camat, kepala puskesmas, Diknas, guru, tokoh masyarakat, dan orang
tua murid5.
2.2.2 Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Indikator PHBS adalah suatu alat ukur untuk menilai keadaan permasalah
kesehatan di institusi pendidikan. Indikator instistusi pendidikan adalah sekolah
dasar negeri maupun swasta. Sasaran PHBS tatanan institusi pendidikan adalah
sekolah atau pesantren dan siswa dengan indikator tersedia jamban yang bersih
dan sesuai dengan jumlah siswa, tersedia air bersih atau air kran yang mengalir di
setiap kelas, tidak ada sampah yang berserakan, lingkungan sekolah yang bersih
dan asri, ketersediaan UKS yang berfungsi dengan baik, siswa menjadi anggota
dana sehat, siswa pada umumnya (60%) memiliki kebersihan diri yang baik, siswa
mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, siswa
ada yang menjadi dokter kecil atau promosi kesehatan sekolah minimal 10 orang4.
Perilaku hidup sehat bersih (PHBS) adalah tindakan yang dilakukan oleh
perorangan, kelompok, atau masyarakat yang sesuai dengan norma-norma
kesehatan, menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam membangun
kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya16.
Ada beberapa indikator PHBS di sekolah dasar yaitu7 :
a) mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun,
b) mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah,

12

c) menggunakan jamban yang bersih dan sehat,


d) olahraga yang teratur dan terukur,
e) memberantas jentik nyamuk,
f) tidak merokok di sekolah,
g) menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan,
h) membuang sampah pada tempatnya.
Indikator PHBS kebersihan diri yang diambil sebagai ukuran untuk
menilai PHBS di sekolah diantaranya mencuci tangan, kebersihan kuku,
kebersihan berpakaian, kebersihan gigi dan mulut, kebersihan rambut, dan
membuang sampah pada tempatnya. Selain itu ditambahkan indikator PHBS yang
menyangkut olahraga di sekolah6.
1) Mencuci tangan tidak hanya membasuh telapak tangan saja. Langkahlangkah mencuci tangan yang baik dan benar,
a. Membasahi tangan dengan air mengalir dan teteskan/usapkan sabun
secukupnya.
b. Gosok kedua telapak tangan sampai ke ujung jari. Gosokkan juga
telapak tangan kanan ke punggung tangan kiri (atau sebaliknya), dengan
jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan
kiri. Gosok sela-sela jari tersebut. Lakukan sebaliknya.
c. Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lain dan saling
mengunci. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak kiri dengan
gerakan berputar. Lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri.
d. Gosok telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan
gerakan ke depan, ke belakang dan berputar. Lakukan sebaliknya.
e. Pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri dan lakukan
gerakan memutar. Lakukan pula untuk tangan kiri.
f. Setelah minimal 10 detik mencuci tangan, bilas tangan hingga seluruh
busa sabun hilang.
g. Keringkan tangan dengan tisu bersih atau handuk sekali pakai, atau
pengering udara. Jika memungkinkan, gunakan tisu atau handuk untuk
mematikan kran.

13

Akibat tidak mencuci tangan sendiri yaitu terjadinya penyakit diare,


infeksi saluran pernapasan, pneumonia atau radang paru-paru, dan infeksi cacing,
mata, dan kulit. Pentingnya menjaga kebersihan tangan, mencuci tangan dengan
sabun bermanfaat agar terhindar dari penyakit-penyakit diatas.
2) Selain mencuci tangan dianjurkan untuk memelihara kebersihan kuku.
Kuku memberi kekuatan dan perlindungan pada ujung-ujung jari, kuku
tumbuh dari depan mulai dari pangkal kuku (akar kuku). Kuku yang sehat adalah
kuku yang pendek, bersih dan tidak ada kelainan pada kuku tersebut. Cara
memelihara kebersihan kuku adalah memotong kuku sekurang-kurangnya sekali
seminggu, memotong kuku jangan terlalu dekat dengan permukaan kulit
bawahnya tetapi sedikit diatas permukaan kulit sehingga mudah dibersihkan,
mencuci kuku dengan sabun dan disikat serta disiram air bersih.
Kuku panjang sangat rapuh dan dapat melukai kulit. Sebagai contoh saat
kita membuka makanan kaleng, kuku panjang mengalami patah. Contoh lain
adalah saat tidak sengaja kuku menyentuh kulit yang sensitif, maka kulit mudah
tergores atau terluka. Ketika sedang makan, kuku panjang yang menyimpan
bakteri akan
mudah pindah ke dalam makanan. Sehingga bakteri itu bisa masuk ke dalam
tubuh. Mikroogranisme itu akan memicu gangguan pada sistem pencernaan.
3) Kebersihan dalam berpakaian.
Cara memelihara kebersihan dalam berpakaian adalah mengganti pakaian
setiap hari atau bila sudah kotor dan bila badan sudah berkeringat. Memakai
pakaian yang bersih dan rapi serta sesuai ukurannya dengan badan dan jangan
membiasakan menggunakan pakaian orang lain karena penyakit dapat ditularkan
melalui pakaian. Tidak membiasakan menggantung pakaian di kamar atau di
rumah karena selain menimbulkan bau juga menjadi sarang nyamuk serta
membedakan pakaian sekolah dan pakaian rumah agar pakaian lebih bersih dan
awet.
4) Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut
Gigi berfungsi untuk menghaluskan makanan, mengucap kata-kata dengan
jelas, dan mendorong pertumbuhan rahang sehingga bentuk rahang menjadi

14

harmonis. Cara memelihara kebersihan gigi adalah dengan menggosok gigi


menggunakan pasta gigi secara benar, sikatlah permukaan gigi dengan minimal
delapan kali gerakan untuk setiap permukaan, memakai sikat gigi sendiri dan
mengurangi konsumsi makanan yang dapat merusak gigi seperti makanan yang
bergula.
Memelihara kebersihan gigi perlu dilakukan setiap hari sesudah makan
dan sebelum tidur. Akibat tidak membersihkan gigi dan mulut yaitu gigi akan
keropos atau berlubang, gigi akan terasa sakit, bau mulut, dan masih banyak
penyakit yang timbul.
5) Pemeliharaan kebersihan rambut
Rambut berfungsi melindungi kepala terhadap suhu yang datang dari luar
baik panas maupun dingin. Cara memelihara kebersihan rambut adalah mencuci
rambut menggunakan sampo minimal 2 kali dalam seminggu, seluruh kulit kepala
digosok dengan cara dipijat, setelah selesai rambut dikeringan dengan handuk
milik sendiri. Setelah kering, rambut kemudian disisir agar rapi dengan
menggunakan sisir sendiri karena sisir dapat menularkan penyakit dan kutu.
Rambut yang tidak dijaga kebersihannya akan mengakibatkan gatal-gatal, rambut
rontok, rambut berbau, timbul kutu, lengket, dll.
6) Pembuangan sampah di sekolah
Sekolah harus menyediakan tempat sampah di setiap ruangan. Memastikan
bahwa bak sampah utama bebas dari lalat dan serangga, serta dapat menampung
sampah dengan baik, tidak menimbulkan bau, dan jarak minimalnya dari area
sekolah maupun sumber air bersih adalah sepuluh meter.
Sampah dapat dibersihkan dengan cara-cara sebagai berikut9 :
a. Membersihkan Sampah Organik. Sampah organik adalah sampah yang
dapat dimakan oleh zat-zat organik di dalam tanah, maka sampah
organik dapat dibersihkan dengan mengubur dalam-dalam sampah
organik tersebut, contoh sampah organik: Daun-daun tumbuhan,
ranting-ranting tumbuhan, akar-akar tumbuhan.
b. Membersihkan Sampah Non Organik. Sampah non organic adalah
sampah yang tidak dapat hancur (dimakan oleh zat organik) dengan
sendirinya, maka sampah non organik dapat dibersihkan dengan

15

membakar sampah tersebut dan lalu menguburnya. Sampah yang tidak


dibersihkan atau dibiarkan menumpuk mengakibatkan berbagai macam
timbul berbagai penyakit dan pencemaran air tanah serta polusi udara,
serta salah satu penyebab banjir.
7) Olahraga
Olah raga berfungsi untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan.
Berolahraga selain membuat badan bugar dan sehat juga dapat membuat sistem
kekebalan tubuh terhadap bakteri dan virus penyebab penyakit meningkat,
sehingga dengan berolahraga diharapkan dapat menjaga dan meningkatkan
kesehatan bagi siswa. Olahraga juga meningkatkan suasana hati menjadi lebih
nyaman sehingga menghindari dari stres.
2.3 Konsep Dasar Remaja
2.3.1 Pengertian
Masa remaja adalah masa perlaihan dari anak-anak ke dewasa, bukan
hanya dalam pengertian psikologis tetapi juga fisik. Bahkan, perubahanperubahan fisik yang terjadi merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.
Sementara itu perubahan-perubahan psikologis muncul antara lain akibat dari
perubahan-perubahan fisik tersebut17.
Remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan yang
secara berangsur-angsur mengalami kematangan seksual, mengalami perubahan
jiwa kanak-kanak menjadi dewasa, dan mengalami perubahan keadaan ekonomi
dari ketergantungan menjadi relatif mandiri18.
Menurut Hurlock, ada peningkatan pada perubahan sosial yang penting
dalam masa remaja. Peningkatan itu meliputi meningkatnya pengaruh kelompok
sebaya, pola perilaku sosial yang lebih matang, pengelompokan sosial baru dan
nilai-nilai baru dalam pemilihan teman dan pemimpin, dan dalam dukungan
sosial10.
2.3.2 Tahapan Perkembangan Remaja
Menurut Sarwono, dalam proses penyesuaian diri menuju dewasa terdapat
tiga tahapan perkembangan remaja yaitu17 :

16

1) Remaja Awal (Early Adolescence)


Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahanperubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang
menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran
baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis.
2) Remaja Madya (Middle Adolescence)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman-teman, ia senang bila
banyak teman yang menyenanginya. Ada kecenderungan Narcistik, yaitu
mencintai diri sendiri dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang
sama dengan dirinya.
3) Remaja Akhir (Late Adolescence)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju dewasa dan ditandai dengan
pencapaian lima hal yaitu21 :
a. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
b. Egonya untuk mencari kesempatan bersatu dengan orang-orang lain dan
pengalaman-pengalaman baru
c. Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
d. Egosentrisme, yaitu terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri,
diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan
orang lain
e. Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
masyrakat umum (the public)

2.4 Kerangka Teori

17

Gambar 2.1 Kerangka Teori

18

2.5 Kerangka Konsep

Gambar 2.2 Kerangka Konsep