Anda di halaman 1dari 16

Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas

Pada Klien dengan Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi dan Perubahan


proses pikir : Waham
dengan Metode Dinamika Kelompok di Ruang Cendrawasih
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat

I.

Topik
Terafi aktifitas kelompok orientasi realitas

II.

Tujuan
Tujuan Umum : Setelah klien mengikuti terafi aktifitas kelompok di harapkan
klien mampu berespon terhadap realita sebenarnya
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat mengenal orang
2. Klien dapat mengenal tempat
3. Klien dapat mengenal waktu

III.

Landasan Teori
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan

yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama (Stuart &Laria,
2001). Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang
lain. Kekuatan kelompok ada pada kontribusi dari setiap anggota dan pemimpin
dalam mencapai tujuannya. Disamping itu juga kelompok berfungsi sebagai tempat
berbagi pengalaman dan saling membantu satu sama lain, yang tak lain bertujuan
untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. Kelompok merupakan laboratorium
tempat mencoba dan menemukan hubungan interpersonal yang baik, serta
mengembangkan perilaku yang adaptif.
Terapi kelompok merupakan satu psikoterapi yang dilakukan sekelompok
pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau
diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang terlatih (Iyus,

2009). Focus dari terapi kelompok adalah membuat sadar diri (self awerness),
peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya (Keliat &
Budi Anna, 2005).
Sharing experience yang terjadi dalam terapi aktivitas kelompok diharapkan
dapat membantu klien dengan waham mampu menghargai pendapat orang lain dan
setelah mengikuti terapai aktivitas kelompok, klien dapat mengopntrol waham.
Terapi aktivitas kelompok ini menggunakan model komunikasi dimana model
ini memusatkan pada kelompok yang terbatas, melalui penyampaian secara verbal.
Metode yang digunakan adalah metode kelompok social therapeutic yang bermanfaat
untuk mengahasilakan identifikasi, dorongan, penerimaan, pemahaman, dan
penentraman untuk orang-orang yang menderita penyakit fisik dam emosional.
Terapi aktivitas kelompok adalah kemampuan individu yang mempunyai relasi
atau hubungan satu dengan yang lain, saling tekait dan dapat bersama-sama
mengikuti norma yang sama. Terapi aktivitas kelompok merupakan kegiatan
kelompok dengan memberikan terapi kepada anggotanya.
Penggunaan TAK dalam keperawatan jiwa memberikan dampak positif dalam
upaya pencegahan, pengobatan serta pemulihan kesehatan jiwa seseorang.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari aktivitas kelompok adalah dukungan
pendidikan, peningkatan kemampuan, memecahkan masalah serta meningkatkan uji
realitas klien. Salah satu kegiatan dalam TAK adalah permainan menguji kemampuan
klien dalam menghadapi realita sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat
dilakukan pada berbagai karakteristik seperti gangguan interaksi sosial : menarik diri,
perubahan sensori persepsi : halusinasi, perilaku kekerasan.
IV. Kriteria Klien
1. Klien dengan gangguan persepsi yang berhubungan dengan nilai-nilai,
menarik diri dari realita, inisiatif atau ide-ide negatif
2. Klien tidak menderita cacat fisik
3. Klien dapat berkomunikasi dengan baik
4. Klien bersedia dan kooperatif untuk mengikuti kegiatan

V. Proses Seleksi
Proses seleksi dilakukan oleh terapis (mahasiswa program profesi Ners FKep
Unpad), dibantu oleh perawat di ruang Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan kriteria di atas ditetapkan lima orang klien
yang akan diikutsertakan dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok. Setelah
ditetapkan klien yang akan diikutsertakan, diberikan penjelasan kepada klien
tentang rencana kegiatan terapi aktivitas kelompok yang kemudian dilakukan
kontrak dengan klien, apakah klien bersedia atau tidak untuk ikut serta dalam
terapi
VI. Uraian Struktur Kelompok
1. Tempat

: Ruang Cendrawasih

2. Hari /Tanggal

: Senin/ 19 / 09/ 2016

3. Waktu

: Jam 10.00 WIB

4. Pengorganisasian
a. Jumlah klien : 5 Orang
1) Ny. Ida W.
2) An. Syifa
3) Ny. Ade
4) Ny. Joice
5) Ny. Ajeng
b. Leader

: Sesi Septiani

Uraian Tugas :
Memimpin jalannya kegiatan.
Memperkenalkan anggota terapi.
Menjelaskan tujuan.
Mengatur jalannya teerapi.
Menetapkan jalannya tata tertib.
Mengambil keputusan dan menyimpulkan.

c. Co Leader : Mahfud Almahdali


Uraian Tugas:
Membantu leader jika blocking.
Mengoreksi dan mengingatkan leader jika keliru.
Bersama-sama leader menjelaskan, menyelesaikan masalah
d. Fasilitator

: Ana Ratnaningsih, Reni Pujiastuti, Heni Junita dan

Ridillah Vani Jasmia.


Uraian Tugas:
Mendampingi peserta.
Membantu meluruskan dan menjelaskan tugas yang akan dilakukan.
Memberikan motivasi kepada klien untuk tetap aktif.
e. Observer : Cencen Hendra Setiawan
Uraian Tugas:

5.

Mengobservasi persiapan pelaksanaan TAK.

Mencatat semua kegiatan dalam TAK.

Langkah-Langkah
a. Persiapan

Mengingatkan kontrak dengan klien

Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

b. Orientasi (10 menit)

Salam terapeutik : ( Salam dari terapis pada klien, Terapis dan klien
memperkenalkan nama dan nama panggilan, Klien dan terapis pakai
papan nama).

Evaluasi/validasi : ( Menanyakan perasaan klien saat ini,


Menanyakan aktivitas apa yang telah dilakuan klien hari ini)

Kontrak : ( Menjelaskan tujuan kegiatan, Menjelaskan aturan main)

c. Tahap kerja (25 menit)


SESI : I (Orientasi orang)
Meminta klien untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan
nama lengkap, nama panggilan, alamat rumah dan hobi

Terafis menghidupkan tape dan memutar sebuah lagu dangdut dan


mengestafetkan bola searah jarum jam.

Terafis menghentikan lagu dan kemudian anggota kelompok yang


memegang bola tenis mendapat giliran untuk menyebutkan nama
lengkap, nama panggilan, alamat dan hobi anggota yang lain yang
di tunjuk oleh leader ( minimal nama panggilan).

Ulangi kegiatan tersebut sampai semua anggota kelompok


kebagian.

Memberikan pujian setiap keberhasilan anggota kelompok dengan


memberikan tepuk tangan
SESI: II (Orientasi Tempat)

Terafis menanyakan nama rumah sakit, nama ruangan, nomor


tempat tidur, letak nurse station dan letak kamar mandi. Peserta
diberikan kesempatan menjawab siapa saja yang dapat menjawab
dengan tepat.

Terafis menjelaskan dan mengestafetkan bola tenis searah jarum


jam.

Terafis menghentikan lagu dan kemudian anggota kelompok yang


memegang bola tenis mendapat giliran untuk menyebutkan nama
rumah sakit, nama ruangan, nomor tempat tidur, letak nurse station
dan letak kamar mandi. (minimal nama rumah sakit dan dan nama
ruangan)

Berikan pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan

memberikan tepuk tangan.


d. Tahap terminasi (10 menit)

Evaluasi : ( Subjektif meliputi : Terapis menanyakan perasaan klien


dan manfaat apa yang diperoleh setelah mengikuti TAK, Objektif :
Melihat respon dan ekspresi klien setelah mengikuti TAK serta
memberikan pujian yang sesuai dan tidak berlebihan atas
keberhasilan kelompok)

Tindak lanjut ( Rencakan TAK Sesi III (Orientasi Waktu)


Menganjurkan klien melatih melihat gambar (di TV, Koran,
majalah, album) dan mendiskusikannya pada orang lain, Membuat
jadwal melihat gambar)

Salam Terapeutik

6. Perilaku yang Diharapkan


1.

Persiapan

a.

Terapis atau perawat :

Mengidentifikasi masalah klien sebelum pelaksanaan

Menentukan tujuan

Menentukan waktu dan tempat


Mempersiapkan setting dinamika kelompok, tempat alat dan sebagainya
b.

Klien :

Siap mengikuti TAK

Mengetahui dan mentaati tata tertib TAK

Hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai

2.

Proses

a.

Klien atau anggota kelompok :

Mampu mengikuti TAK sampai selesai

Mampu mengeluarkan pendapatnya dalam kelompok

Mampu memberikan tanggapan dalam diskusi dan berespon terhadap


stimulus yang diberikan oleh anggota kelompok lain atau terapis

b.

Terapis atau perawat :

Perawat melaksanakan TAK sesuai perencanaan

Perawat dapat mengantisipasi hal-hal yang terjadi saat TAK

Perawat mampu memotivasi klien untuk berpartisipasi aktif

3.

Hasil

Perawat dapat melaksanakan tugas dengan baik

Klien mampu memahami tujuan dari terapi dan mencapai tujuan yang
ditetapkan pada pertemuan

7. Tata Tertib
1.

Anggota wajib hadir 10 menit sebelum acara dimulai.

2.

Sebelum acara dimulai jika ada anggota yang ingin BAB/BAK meminta
ijin dulu kepada leader.

3.

Anggota wajib memberitahukan leader jika tidak bisa hadir.

4.

Anggota tidak diperkenankan untuk makan dan minum selama acara


berlangsung.

5.

Jika ada pertanyaan, anggota mengangkat tangan dan berbicara setelah


dipersailahkan.

6.

Jika ada anggota yang mengacau jalannya TAK maka anggota


dikeluarkan.

7.

Anggota wajib mengikuti kegiatan TAK dari awal sampai akhir.

8. Setting Tempat
L

Co

K5

F1

F4

K1

K4

F2
K3

K2

F3
O

Keterangan :
L

= Leader

Co

= Co Leader

= Fasilitator

= Observer

= Klien

9. Program Antisipasi
Adapun beberapa langkah yang diambil untuk mengantisipasi kemungkinankemungkinan yang terjadi pada pelaksanaan TAK adalah sebagai berikut :
1.

Sebelumnya telah dipersiapkan adanya klien cadangan yang telah


diseleksi sesuai dengan kriteria dan diterima oleh anggota kelompok
lainnya dengan cara ditawarkan terlebih dahulu.

2.

Apabila dalam kegiatan tersebut ada anggota yang tidak mentaati tata
tertib yang telah ditentukan sebelumnya maka klien diperingatkan atau
jika tidak mau akan ditawarkan pada klien untuk melanjutkan atau keluar
dari rencana TAK.

3.

Bila ada anggota kelompok yang ingin keluar harus dibicarakan dengan
semua anggota kelompok untuk mencari solusinya, tapi keputusan tetap
pada masing-masing klien

4.

Bila ada anggota kolompok yang melakukan kegiatan yang tidak sesuai
dengan tujuan, leader harus mengeksplorasi dalam kelompok.

5.

Bila ada anggota kolompok yang menghindari kelompok maka leader


berusaha memotivasi agar kllien mengikuti TAK.

10. Alat Bantu


1.Bola Tenis
2. Tape Recorder
3. Musik Dangdut

Lampiran Materi
Tinjauan Teoritis

I.

Pengertian
Menurut Cook dan Fontaine (1987) perubahan persepsi sensori: halusinasi

adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana klien mengalami perubahan persepsi
sensori, seperti merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan,
perabaan, atau penghiduan. Klien merasakan stimulas yang sebetulnya tidak ada.
Selain itu, perubahan persepsi sensori: halusinasi bisa juga diartikan sebagai persepsi
sensori tentang suatu objek, gambaran, dan pikiran yang sering terjadi
tanparangsangan dari luar meliputi semua sistem penginderaan (pendengaran,
penglihatan, penciuman, perabaan atau pengecapan).
Individu menginterpretasikan stresor yang tidak ada stimulus dari lingkungan
(Depkes RI, 2000).
Teori yang Menjelaskan Halusinasi (Stuart dan Sundeen, 1995)
1.

Teori biokimia
Terjadi sebagai respons metabolisme terhadap stres yang mengakibatkan
terlepasnya zat halusinogenik neurotik (buffofenon dan dimethyltransferase).

2.

Teori psikoanalisis
Merupakan respons pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang
mengancam dan ditekan untuk muncul dalam alam sadar.

II.

Jenis Halusinasi serta Data Objektif dan Subjektif


Tabel 1 Jenis Halusinasi Serta Ciri Objektif dan Subjektif

JENIS HALUSINASI
Halusinasi Dengar
(klien mendengar suara/bunyi yang
tidak ada hubungannya dengan
stimulus yang nyata/lingkungan).

DATA OBJEKTIF
Berbicara atau tertawa sendiri.
Marah-marah tanpa sebab.
Mendekatkan telinga ke arah
tertentu.
Menutup telinga.

DATA SUBJEKTIF
Mendengar suara-suara
atau kegaduhan.
Mendengar suara yang
mengajak bercakap-cakap.
Mendengar suara
menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya.

Halusinasi Penglihatan
(klien melihat gambaran yang
jelas/samar terhadap adanya stimulus
yang nyata dari lingkungan dan
orang lain tidak melihatnya).

Menunjuk-nunjuk ke arah
tertentu.
Ketakutan pada sesuatu yang
tidak jelas.

Halusinasi Penciuman
(klien mencium suatu bau yang
muncul dari sumber tertentu tanpa
stimulus yang nyata).

Mengendus-endus seperti sedang


membaui bau-bauan tertentu.
Menutup hidung.

Membaui bau-bauan
seperti bau darah, urien,
feses, dan terkadang baubau tersebut menyenagkan
bagi klien.

Sering meludah.
Muntah.

Merasakan rasa seperti


darah, urine atau feses.

Menggaruk-garuk permukaan
kulit.

Mengatakan ada serangga


di permukaan kulit.
Merasa seperti tersengat
listrik.

Memegang kakinya yang


dianggapnya bergerak sendiri.

Mengatakan badannya
melayang di udara.

Memegang badannya yang


dianggapnya berubah bentuk dan
tidak normal seperti biasanya.

Mengatakan perutnya
menjadi mengecil setelah
minum soft drink.

Halusinasi Pengecapan
(klien merasakan sesuatu yang tidak
nyata, biasanya merasakan rasa
makanan yang tidak enak).
Halusinasi Perabaan
(klien merasakan sesuatu pada
kulitnya tanpa ada stimulus yang
nyata).
Halusinasi Kinestetik
(klien merasa badannya bergerak
dalam suatu ruangan atau anggota
badannya bergerak).
Halusinasi Viseral
(perasaan tertentu timbul dalam
tubuhnya).

Sumber: Stuart dan Sundeen (1998)

Melihat bayangan, sinar,


bentuk geometris, kartun,
melihat hantu, atau
monster.

III. Tahapan Halusinasi


Tabel 2 Tahapan Halusinasi
TAHAP
Tahap I
Memberi rasa nyaman
Tingkat ansietas sedang secara
umum halusinasi merupakan
sesuatu kesenangan

Tahap II
Menyalahkan
Tingkat kecemasan berat
secara umum halusinasi
menyebabkan rasa antipati

KARAKTERISTIK

Mengalami ansietas, kesepian,


rasa bersalah, dan ketakutan
Mencoba berfokus pada
pikiran yang dapat
menghilangkan ansietas
Pikiran dan pengalaman
sensori masiha ada dalam
kontrol kesadaran
Non Psikotik

PERILAKU KLIEN

Pengalaman sensori
menakutkan
Merasa dilecehkan oleh
pengalaman sensori tersebut
Mulai kehilangan kontrol
Menarik diri dari orang lain
Non Psikotik

Tahap III
Mengontrol
Pengalaman halusinasi tidak
dapat ditolak

Tersenyum, tertawa
sendiri
Menggerakkan bibir
tanpa suara
Pergerakan mata yang
cepat
Diam dan berkonsentrasi

Klien menyerah dan menerima


pengalaman sensorinya
(halusinasi)

Isi halusinasi menjadi atraktif


Kesepian bila pengalaman

sensori berakhir
Psikotik

Terjadi peningkatan
denyut jantung,
pernapasan dan tekanan
darah
Perhatian dengan
lingkungan kurang
Konsentrasi terhadap
pengalaman sensorinya
Kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi
dengan realitas
Perintah halusinasi
ditaati
Sulit berhubungan
dengan orang lain
Perhatian terhadap
lingkungan berkurang.
Hanya beberapa detik
Tidak mampu
mengikutiperintah dari
perawat, tampak tremor

dan berkeringat
Tahap IV
Klien sudah dikuasai oleh
halusinasi
Klien panik

IV.

Perilaku panik
Resiko tinggi
mencederai
Agitasi atau kataton
Tidak mampu berespon
terhadap lingkungan

Pohon Masalah
Effect

Core problem

Cause

Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan

Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi

Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah Kronis

Lembar Evaluasi Kemampuan Pasien


Stimulasi Realita: Halusinasi
Kemampuan klien menyebutkan gambar dan menjelaskan fungsi dari gambar
yang dilihat.

No

Nama klien

Menyebutkan gambar
yang telah dibuat

Menceritakan/
menjelaskan gambar
yang telah dibuat

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menyebutkan gambar dan
menjelaskan fungsinya. Beri tanda (V) jika klien mampu dan beri tanda (X) jika
klien tidak mampu.

DAFTAR PUSTAKA

Kumpulan Makalah Pelatihan Nasional Terapi Modalitas Keperawatan Profesional


Jiwa, 2003.
Rumah Sakit Jiwa Bandung 1997. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika Aditama.
Carpenito LJ. (1995). Buku Saku Diagnosa Keperawatan (Edisi 6). Jakarta : EGC.
Maramis WF. 1994. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Unair Pess.
Maslim, Rusdi. 2001. Buku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III. Jakarta.

Proposal Terapi Aktivitas Kelompok : Orientasi Realitas

Pada Klien dengan Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi dan Perubahan


proses pikir : Waham
dengan Metode Dinamika Kelompok di Ruang Cendrawasih
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat
Disusun Oleh Kelompok 1
Mahfud Almahdali

220112160005

Ana Ratnaningsih

220112160006

Cencen Hendra Setiawan

220112160009

Heny Junita

220112160023

Ridillah Vani Jasmia

220112160062

Sesi Septiani

220112160077

Reni Pujiastuti

220112160096

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXII
BANDUNG
2016