Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia sampai saat ini penyakit malaria masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat. Malaria dapat menyebabkan kematian
terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, ibu hamil, selain
itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan
produktivitas kerja. Penyakit ini juga masih endemis di sebagian besar
wilayah Indonesia. Angka kesakitan penyakit ini pun masih cukup tinggi,
terutama di daerah Indonesia bagian timur. Di daerah trasmigrasi dimana
terdapat campuran penduduk yang berasal dari daerah yang endemis dan
tidak endemis malaria, di daerah endemis malaria masih sering terjadi
letusan kejadian luar biasa (KLB) malaria Oleh karena kejadian luar biasa ini
menyebabkan insiden rate penyakit malaria masih tinggi di daerah tersebut.
Di Indonesia penderita malaria mencapai 1-2 juta orang pertahun,
dengan angka kematian sebanyak 100 ribu jiwa. Kasus tertinggi penyakit
malaria adalah daerah papua, akan tapi sekitar 107 juta orang Indonesia
tinggal di daerah endemis malaria yang tersebar dari Aceh sampai Papua,
termasuk di Jawa yang padat penduduknya (Adiputro,2008).
B. Rumusan Masalah

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa definisi Malaria?


Apa Etiologi/Penyebab Malaria?
Bagaimana Patofisiologi Malaria?
Bagaimana Pencegahan Malaria?
Apa Definisi dari Anti Malaria?
Penggolongan dari pengobatan malaria ?

C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tujuan Penulisan
Mengetahui pengertian dari Malaria
Mengetahui Etiologi atau penyebab Malaria
Mengetahui Bagaimana Patofisiologi dari Malaria
Mengetahui pencegahan dari Malaria
Mengetahui Defisinisi Anti Malaria
Mengetahui Penggolongan Obat dari penyakit Malaria.

D. Manfaat Penulisan
1. Makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan, agar
kedepan kita dapat berbuat dan bertindak untuk mengenali dan mengatasi
serta menghindari penyakit Malaria.
2. Penulis dapat lebih mengetahui dan memahami secara spesifik tentang
Malaria.
3. Penulis dapat pula m,engetahui bagaimana pencegahan dan pengobatan
dari penyakit malaria.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Penyakit Malaria
1. Definisi Malaria
Kata malaria berasal dari bahasa Itali Mal yang artinya buruk dan
Aria yang artinya udara. Sehingga malaria berarti udara buruk (bad air). Hal
ini disebabkan karena malaria terjadi secara musiman di daerah yang kotor
dan banyak tumpukan air (koalisi (a) koalisi org 2001).
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa)
dan genus plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk
anopheles. (Prabowo, 2004: 2). Penyakit malaria merupakan penyakit yang
disebabkan oleh infeksi protozoa dan genus plasmodium masa tunas atau
inkubasi penyakit dapat beberapa hari atau beberapa bulan. (Dinas
kesehatan DKI Jakarta).
Berdasarkan pengertian diatas penyakit malaria adalah penyakit yang
disebabkan oleh infeksi protozoa dan genus plasmodium yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk anopheles yang masa inkubasi penyakit dapat
beberapa hari sampai beberapa bulan.
WHO mencatat setiap tahunnya tidak kurang dari 1 hingga 2 juta
penduduk

meninggal

karena

penyakit

yang

disebarluaskan

nyamuk

Anopheles. Penyakit malaria juga dapat diakibatkan karena perubahan


lingkungan sekitar seperti adanya Pemanasan global yang terjadi saat ini

mengakibatkan penyebaran penyakit parasitik yang ditularkan melalui


nyamuk dan serangga lainnya semakin mengganas. Perubahan temperatur,
kelembaban nisbi, dan curah hujan yang ekstrim mengakibatkan nyamuk
lebih sering bertelur sehingga vector sebagai penular penyakit pun
bertambah dan sebagai dampak muncul berbagai penyakit, diantaranya
demam berdarah dan malaria.
2. Etiologi (Penyebab) Malaria
Penyakit malaria disebabkan oleh bibit penyakit yang hidup di dalam
darah manusia. Bibit penyakit tersebut termasuk binatang bersel satu,
tergolong amuba yang disebut Plasmodium. Kerja plasmodium adalah
merusak sel-sel darah merah. Dengan perantara nyamuk anopheles,
plasodium masuk ke dalam darah manusian dan berkembang biak dengan
membelah diri.
Ada empat macam plasmodium yang menyebabkan malaria:
1. Falciparum, penyebab penyakit malaria tropika. Jenis malaria ini bisa
menimbulkan kematian.
2. Vivax, penyebab malaria tersiana. Penyakit ini sukar disembuhkan dan
sulit kambuh.
3. Malaria, penyebab malaria quartana. Di Indonesia penyakit ini tidak
banyak ditemukan.
4. Ovale, penyebab penyakit malaria Ovale. Tidak terdapat di Indonesia.
Penyebab lain terjadinya penyakit malaria, yaitu

a., Parasit.
Untuk kelangsungan hidupnya, parasit malaria memerlukan dua macam
siklus kehidupan yaitu Siklus dalam tubuh manusia. Sikus dalam tubuh
manusia juga disebut siklus aseksual, dan siklus ini terdiri dari :
1. Fase di luar sel darah merah
Siklus di luar sel darah merah berlangsung dalam hati. Pada
Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale ada yang ditemukan dalam bentuk
laten di dalam sel hati yang disebut hipnosoit. Hipnosoit merupakan suatu
fase

dari

siklus

hidup

parasit

yang

nantinya

dapat

menyebabkan

kumat/kambuh atau rekurensi (long term relapse).


Plasmodium vivax dapat kambuh berkali-kali bahkan sampai jangka
waktu 3 4 tahun. Sedangkan untuk Plasmodium ovale dapat kambuh
sampai bertahun-tahun apabila pengobatannya tidak dilakukan dengan baik.
Setelah sel hati pecah akan keluar merozoit yang masuk ke eritrosit (fase
eritrositer)
2. Fase dalam sel darah merah
Fase hidup dalam sel darah merah / eritrositer terbagi dalam :
Fase sisogoni yang menimbulkan demam
Fase gametogoni yang menyebabkan seseorang menjadi sumber
penularan

penyakit

bagi

nyamuk

vektor

malaria.

Kambuh

pada

Plasmodium falciparum disebut rekrudensi (short term relapse), karena


siklus didalam sel darah merah masih berlangsung sebagai akibat
pengobatan yang tidak teratur. Merozoit sebagian besar masuk ke eritrosit

dan sebagian kecil siap untuk diisap oleh nyamuk vektor malaria. Setelah
masuk tubuh nyamuk vektor malaria, mengalami siklus sporogoni karena
menghasilkan sporozoit yaitu bentuk parasit yang sudah siap untuk
ditularkan kepada manusia.
Fase seksual dalam tubuh nyamuk, Fase seksual ini biasa juga disebut
fase sporogoni karena menghasilkan sporozoit, yaitu bentuk parasit yang
sudah siap untuk ditularkan oleh nyamuk kepada manusia. Lama dan
masa berlangsungnya fase ini disebut masa inkubasi ekstrinsik, yang
sangat

dipengaruhi

oleh

suhu

dan

kelembaban

udara.

Prinsip

pengendalian malaria, antara lain didasarkan pada fase ini yaitu dengan
mengusahakan umur nyamuk agar lebih pendek dari masa inkubasi
ekstrinsik, sehingga fase sporogoni tidak dapat berlangsung. Dengan
demikian rantai penularan akan terputus
b. Nyamuk Anopheles
Penyakit malaria pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles vektor
betina. Di seluruh dunia terdapat sekitar 2000 spesies nyamuk Anopheles, 60
spesies diantaranya diketahui sebagai vektor malaria. Di Indonesia terdapat
sekitar 80

jenis nyamuk Anopheles, 22

spesies diantaranya

telah

terkonfirmasi sebagai vektor malaria. Sifat masing-masing spesies berbedabeda tergantung berbagai faktor seperti penyebaran geografis, iklim dan
tempat perkembangbiakannya. Semua nyamuk vektor malaria hidup sesuai
dengan kondisi ekologi setempat, contohnya nyamuk vektor malaria yang

hidup di air payau (Anopheles sundaicus dan Anopheles subpictus), di sawah


(Anopheles aconitus) atau di mata air (Anopheles balabacensis dan
Anopheles maculatus). Nyamuk Anopheles hidup di daerah iklim tropis dan
subtropis, tetapi juga bias hidup di daerah yang beriklim sedang.
Nyamuk ini jarang ditemukan pada daerah dengan ketinggian lebih dari
2500 meter dari permukaan laut. Tempat perkembangbiakannya bervariasi
(tergantung spesiesnya) dan dapat dibagi menjadi tiga ekosistem yaitu
pantai, hutan dan pegunungan. Biasanya nyamuk Anopheles betina vektor
menggigit manusia pada malam hari atau sejak senja hingga subuh. Jarak
terbang (flight range) antara 0,5 3 km dari tempat perkembangbiakannya.
Jika ada angin yang bertiup kencang, dapat terbawa sejauh 20 30 km.
Nyamuk Anopheles juga dapat terbawa pesawat terbang, kapal laut atau
angkutan lainnya dan menyebarkan malaria ke daerah yang semula tidak
terdapat kasus malaria. Umur nyamuk Anopheles dewasa dialam bebas
belum banyak diketahui, tetapi di laboratorium dapat mencapai 3 -5 minggu.
Nyamuk Anopheles

mengalami

metamorfosis

sempurna.

Telur

yang

diletakkan nyamuk betina diatas permukaan air akan menetas menjadi larva,
melakukan pergantian kulit (sebanyak 4 kali) kemudian tumbuh menjadi pupa
dan menjadi nyamuk dewasa. Waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan
(sejak telur menjadi dewasa) bervariasi antara 2 5 minggu tergantung
spesies, makanan yang tersedia, suhu dan kelembaban udara.

c. Manusia yang rentan terhadap infeksi malaria.


Secara alami penduduk di suatu daerah endemis malaria ada yang
mudah dan ada yang tidak mudah terinfeksi malaria, meskipun gejala
klinisnya ringan. Perpindahan penduduk dari dan ke daerah endemis malaria
hingga kini masih menimbulkan masalah. Sejak dulu, telah diketahui bahwa
wabah penyakit ini sering terjadi di daerah-daerah pemukiman baru, seperti
di daerah perkebunan dan transmigrasi. Hal ini terjadi karena pekerja yang
datang dari daerah lain belum mempunyai kekebalan sehingga rentan
terinfeksi.
d. Lingkungan
Keadaan lingkungan berpengaruh terhadap keberadaan penyakit malaria
di suatu daerah. Adanya danau, air payau, genangan air di hutan,
persawahan, tambak ikan, pembukaan hutan dan pertambangan di suatu
daerah akan meningkatkan kemungkinan timbulnya penyakit malaria karena
tempat-tempat tersebut merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk
vektor malaria.
e. Iklim
Suhu dan curah hujan di suatu daerah berperan penting dalam penularan
penyakit malaria. Biasanya penularan malaria lebih tinggi pada musim
kemarau dengan sedikit hujan dibandingkan pada musim hujan. Pada saat

musim kemarau dengan sedikit hujan, genangan air yang terbentuk


merupakan tempat yang ideal sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk
vektor malaria. Dengan bertambahnya tempat perkembangbiakan nyamuk,
populasi nyamuk vektor malaria juga bertambah sehingga kemungkinan
terjadinya transmisi meningkat.
3. Patofisiologi Penyakit Malaria
Ada 4 patologi yang terjadi pada malaria, yaitu demam, anemia,
imunopatologi dan anoksia jaringan, yang disebabkan oleh perlengketan
eritrosit yang terinfeksi pada endotel kapiler.
Demam paroksimal berbeda untuk keempat spesies tergantung dari lama
manutaskizonnya. Serangan demam disebabkan pecahnya eritrosit sewaktu
fase skizogom eritrositik dan masuknya merozoit kedalam sirkulasi darah.
Demam mengakibatkan terjadinya vasoaktif yang diproduksi oleh parasit.
Setelah merozoit masuk dan menginfeksi eritrosit yang baru, demam turun
dengan cepat sehingga penderita merasa kepanasan dan berkeringat
banyak. Anemia disebabkan oleh destruksi eritrosit yang berlebihan,
hemolisis autoimun dan gangguan eritropoesis. Diduga terdapat toksin
malaria yang disebabkan gangguan fungsi eritrosit dan sebagian eritrosit
pecah saat melalui limpa dan keluarlah parasit. Splenomegali disebabkan
oleh adanya peningkatan jumlah eritrosit yang ter infeksi parasit sehingga

terjadi aktivitas system RES untuk memfagositosis eritrosit baik yang terifeksi
maupun yang tidak. Kelainan patologik pembuluh darah kapiler disebabkan
karena eritrosit yang terinfeksi menjadi kaku dan lengket, perjalanannya
dalam kapiler terganggu sehingga mekat pada endotel kapiler, timbul
hipoksia atau anoriksia jaringan. Juga terjadi gangguan integritas kapiler
sehingga terjadi pembesaran plasma. Monosit atau makrofag merupakan
partisipan selalu terpenting dalam fagositosis eritrosit yang terinfeksi
(Soegijanto, 2004: 5).
4. Penularan dan Penyebaran Malaria
Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit kepada orang sehat,
sebagian besar melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam darah
manusia dapat terhisap oleh nyamuk, berkembang biak di dalam tubuh
nyamuk, dan ditularkan kembali kepada orang sehat yang digigit nyamuk
tersebut.
Jenis-jenis vektor (perantara) malaria yaitu:
Anopheles Sundaicus, nyamuk perantara malaria di daerah pantai.
Anopheles Aconitus, nyamuk perantara malaria daerah persawahan.
Anopheles Maculatus, nyamuk perantara malaria daerah perkebunan,
kehutanan dan pegunungan.
Cara penularan penyakit malaria dapat di bedakan menjadi dua macam
yaitu :

a. Penularan secara alamiah (natural infection)


Malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Nyamuk ini jumlahnya kurang
lebih ada 80 jenis dan dari 80 jenis itu, hanya kurang lebih 16 jenis yang
menjadi vector penyebar malaria di Indonesia. Penularan secara alamiah
terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang telah terinfeksi oleh
Plasmodium. Sebagian besar spesies menggigit pada senja dan menjelang
malam hari.
Beberapa vector mempunyai waktu puncak menggigit pada tengah malam
dan menjelang pajar. Setelah nyamuk Anopheles betina mengisap darah
yang mengandung parasit pada stadium seksual (gametosit), gamet jantan
dan betina bersatu membentuk ookinet di perut nyamuk yang kemudian
menembus di dinding perut nyamuk dan membentuk kista pada lapisan luar
dimana ribuan sporozoit dibentuk. Sporozoit-sporozoit tersebut siap untuk
ditularkan. Pada saat menggigit manusia, parasit malaria yang ada dalam
tubuh nyamuk masuk ke dalam darah manusia sehingga manusia tersebut
terinfeksi lalu menjadi sakit.
b. Penularan tidak alamiah (not natural infection)
Malaria bawaan
Terjadi pada bayi yang baru lahir karena ibunya menderita malaria.
Penularannya terjadi melalui tali pusat atau plasenta (transplasental)
Secara mekanik

Penularan terjadi melalui transfusi darah melalui jarum suntik.


5. Gejala Klinis dan Masa Inkubasi Malaria
Keluhan dan tanda klinis, merupakan petunjuk yang penting dalam
diagnosa malaria. Gejala klinis ini dipengaruhi oleh jenis/ strain Plasmodium
imunitas tubuh dan jumlah parasit yang menginfeksi. Waktu mulai terjadinya
infeksi sampai timbulnya gejala klinis dikenal sebagai waktu inkubasi,
sedangkan waktu antara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit
dalam darah disebut periode prepaten.
Gejala klinis
Gejala klasik malaria yang umum terdiri dari tiga stadium (trias malaria),
yaitu:
a. Periode dingin.
Mulai

dari

menggigil,

kulit

dingin

dan

kering,

penderita

sering

membungkus diri dengan selimut dan pada saat menggigil sering seluruh
badan bergetar dan gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang
kedinginan. Periode ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan
meningkatnya temperatur.
b. Periode panas.
Penderita berwajah merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas
badan tetap tinggi dapat mencapai 400C atau lebih, respirasi meningkat,

nyeri kepala, terkadang muntah-muntah, dan syok. Periode ini lebih lama dari
fase dingin, dapat sampai dua jam atau lebih diikuti dengan keadaan
berkeringat.
Demam disebabkan oleh pecahnya entrosit matang yang berisi skizon
yang mengandung merozoit memasuki sirkulasi darah. Pada plasmodium
falcifarumnterval demam tidak jelas (setiap 24-48 jam). Plasmodium vivax
dan Plasmodium ovale interval demam terjadi setiap 48 jam dan Plasmodium
malariae setiap 72 jam. Stadium ini berlangsung 2-4 jam.
c. Periode berkeringat.
Mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah, temperatur
turun, lelah, dan sering tertidur. Bila penderita bangun akan merasa sehat
dan dapat melaksanakan pekerjaan seperti biasa. Di daerah dengan tingkat
endemisitas malaria tinggi, sering kali orang dewasa tidak menunjukkan
gejala klinis meskipun darahnya mengandung parasit malaria. Hal ini
merupakan imunitas yang terjadi akibat infeksi yang berulang-ulang. Limpa
penderita biasanya membesar pada serangan pertama yang berat/ setelah
beberapa kali serangan dalam waktu yang lama. Bila dilakukan pengobatan
secara baik maka limpa akan berangsur-berangsur mengecil.
Keluhan pertama malaria adalah demam, menggigil, dan dapat disertai
sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal. Untuk

penderita tersangka malaria berat, dapat disertai satu atau lebih gejala
berikut: gangguan kesadaran dalam berbagai derajat, kejang-kejang, panas
sangat tinggi, mata atau tubuh kuning, perdarahan di hidung, gusi atau
saluran pencernaan, nafas cepat, muntah terus-menerus, tidak dapat makan
minum, warna air seni seperti the tua sampai kehitaman serta jumlah air seni
kurang sampai tidak ada.
Masa inkubasi
Masa inkubasi dapat terjadi pada :
a. Masa inkubasi pada manusia (intrinsik)
Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing Plasmodium. Masa
inkubasi pada inokulasi darah lebih pendek dari infeksi sporozoid. Secara
umum masa inkubasi Plasmodium falsiparum adalah 9 sampai 14 hari,
Plasmodium vivax adalah 12 sampai 17 hari, Plasmodium ovale adalah 16
sampai 18 hari, sedangkan Plasmodium malariae bisa 18 sampai 40 hari.
Infeksi melalui transfusi darah, masa inkubasinya tergantung pada jumlah
parasit yang masuk dan biasanya bisa sampai kira-kira 2 bulan.
b. Masa inkubasi pada nyamuk (ekstrinsik)
Setelah darah masuk kedalam usus nyamuk maka protein eritrosit akan
dicerna oeleh enzim tripsin kemudian oleh enzim aminopeptidase dan

selanjutnya karboksipeptidase, sedangkan komponen karbohidrat akan


dicerna oleh glikosidase. Gametosit yang matang dalam darah akan segera
keluar dari eritrosit selanjutnya akan mengalami proses pematangan dalam
usus nyamuk untuk menjadi gamet (melalui fase gametogenesis). Adapun
masa inkubasi atau lamanya stadium sporogoni pada nyamuk adalah
Plasmodium vivax 8-10 hari, Plasmodium palsifarum 9-10 hari, Plasmodium
ovale 12-14 hari dan Plasmodium malariae 14-16 hari.
6. Pencegahan Malaria
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit malaria
Adalah sebagai berikut :
1. Menghindari gigitan nyamuk malaria
Cara mencegah penyakit malaria yang pertama adalah dengan
menghindari gigitan nyamuk malaria tersebut. Di daerah rawa-rawa atau
pingiran kota yang banyak sawah, tambak ikan, disarankan untuk memakan
baju lengan panjang dan celana panjanng saat keluar rumah terutama pada
malam hari. Juga bagi merekan yang tinggal di daerah endemis malaria agar
memasang kawat kasa di jendela dan ventilasi rumah, dan menggunakan
kelambu saat tidur. Selain itu, kita juga dapat menggunakan obat nyamuk
untuk menghindari gigitan nyamuk malaria tersebut.
2. Membunu jentik nyamuk dan nyamuk malaria dewasa

Untuk membunuh jentik nyamuk dan nyamuk malaria dewasa, dapat


dilakukan tindakan berikut ini:
Penyemprotan rumah. Sebaiknya penyemprotan dilakukan di daerah
endemis malaria dengan insektisida 2 kali dalam setahun dengan interval
waktu enam bulan.
Larvaciding. Merupakan

kegiatan

penyemprotan

rawa-rawa

yang

potensial tempat peindukan nyamuk malaria.


Biological control. Adalah suatu kegiatan penebaran ikan kepala timah
dan ikan guppy di genangan-genangan air yang mengalir di persawahan.
Ikan-ikan tersebut berfungsi sebagai pemangsa jentik-jentik nyamuk
malaria.
3. Mengurangi tempat perindukan malaria
Tempat perindukan malaria ini bervariasi, tergantung variasi spesies
nyamuknya itu sendiri. Di daerah endemis malaria, masyarakat perlu
menjaga kebersihan lingkungan. Membersihkan lingkungan dan barangbarang yang tak terpakai yang memungkinkan menjadi genangan air tempat
perkembangan larva nyamuk malaria, besihkan dan kubur barang-barangan
atau sampah yang tak terpakai.
4. Pemberian obat pencegahan malaria
Pemberian obat pencegahan malaria (Profilaksis) malaria bertujuan untuk
mencegah terjadinya infeksi, serta timbulnya gejala penyakit malaria. Orang

yang akan berpergian ke daerah-daerah endemis malaria harus minum obat


malaria sekurang-kurangnya seminggu sebelum keberangkatannya sampai 4
minggu setelah orang tersebut meninggalkan daerah endemis malaria
tersebut.
B. ANTI Malaria
1. Definisi Anti Malaria
Anti Malaria Adalah Obat-Obat yang digunakan untuk mencegah dan
mengobati penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel tunggal (Protozoa)
yang ditularkan melalui gigitan Nyamuk Anopheles betina yang menggigit
pada malam hari dengan posisi menjungkit.
2. Penggolongan Obat Malaria
a. Obat-Obat Pencegah (Profilaktik)
Untuk perlindungan terhadap gigitan Nyamuk (Kloroquin, Meflokuin)
sebenarnya yang terpenting adalah perlindungan pribadi terhadap gigitan
Nyamuk. Kelambu yang telah diimpregnasi dengan permetrin dapat
mencegah berbagai gigitan nyamuk, begitu juga anti Nyamuk bakar, Anti
Nyamuk Listrik, Anti Nyamuk Semprot.
Formula Dietiltoluamid (DEET) dalam lotio, roll on dan semprot sangat
efektif dan tidak berbahaya jika digunakan pada kulit, tetapi efek
perlindungannya hanya beberapa jam sajah.

b. Obat-Obat penyembuh atau pencegah demam = Kurativum


Contohnya Kina, Kloroquin, Pirimethamin, Meflokuin, Halofantrin.
c. Obat-Obat pencegah Kambuh
Contoh : Primaquin.
d. Obat-Obat pembunuh Gametosid

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh
plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya
bentuk aseksual didalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa
demam, menggigil, anemia dan splenomegali. Terdapat beberapa parasit
yang dapat menyebabkan penyakit malaria, yaitu plasmodium falciparum,
vivax, malaria dan ovale. Parasit ini menggunakan nyamuk sebagai hospes
definitifnya, yaitu nyamuk Anopheles. Gejala klinis penyakit ini terdiri dari 3
tahap, yaitu periode dingin, periode panas dan periode berkeringat.
Penularan penyakit ini bias secara alami, yaitu melalui gigitan langsung
nyamuk anopheles dan secara tidak alami yaitu secara bawaan dan secra
mekanik. Diagnosanya dapat dilihat dari manifestasi klinis yaitu terjadinya
demam, imunnoserologi yaitu ditemukannya antigen HRP-2, pLDH dan
aldolase dan lewat pemeriksaan mikroskopik yaitu melihat morfologi sel
darah merah yang terinfeksi dan melihat asam nukleat pada parasit. Malaria
ini dapat menyebabkan rasa sakit, gangguan otak hingga menyebabkan
kematian.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan lima metode, yaitu yang pertama
menggunakan mikroskopik cahaya dengan melihat morfologi eritrosit yang

terinfeksi, yang kedua menggunakan mikroskop flouresensi dengan melihat


asam nukleat yang terdapat diparasit, yang ketiga dengan menggunakan
metode rapid test yaitu identifikasi antigen yang terdapat pada serum sampel,
yang keempat menggunakan dip-stick yaitu identifikasi antigen parasit
malaria yang terdapat dalam serum sampel, yang

kelima dengan

menggunakan PCR yaitu dengan menggandakan sekuens DNA/RNA yang


spesifik dengan menggunakan primer oligonukleotida yang spesifik pula lalu
dibaca menggunakan elektroforesis.
B. Saran
Diharapkan kepada mahasiswa agar dapat Melakukan penyuluhan secara
intensif guna memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara
mencegah dan menanggulangi malaria yaitu dengan memasang kasa
nyamuk pada ventilasi rumah, menggunakan kelambu dan menggunakan
obat anti nyamuk waktu tidur. Melakukan kegiatan surveilens malaria secara
menyeluruh, baik pemantauan parasit dan spesies vektor serta kepadatan
vektor malaria.
Bagi masyarakat agar memperbaiki lingkungan dalam rumah seperti
pemasangan kasa nyamuk pada ventilasi rumah. Menghindari gigitan
nyamuk malaria dengan cara pemakaian kelambu dan menggunakan obat
anti nyamuk waktu tidur.

Daftar Pustaka
1. http://gejalapenyakitmu.blogspot.com/2013/06/gejala-malaria-penyebabpencegahan-pengobatan-penyakit.html
2. http://malariana.blogspot.com/2008/11/malaria-diagnosis.html

(Diakses

pada tanggal 08 April 2012


3. http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/malaria.htm

(Dikses

pada tanggal 08 april 2012


4. Depkes RI, Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor, Direktorat
Jenderal PPM-PL, Departemen Kesehatan RI, Jakarta 2001.
5. Day 1998. Nyamuk Penular Malaria, Dalam Jurnal Data dan Informasi
Kesehatan, Pusdatin, Depkes RI, Jakarta 2003.
6. Nugroho, Agung. 2010. Malaria Dari Molekuler ke Klinis.Jakarta : EGC
7. http://yuesuf.wordpress.com/2013/04/16/makalah-penyakit-malaria/
8. http://adinnagrak.blogspot.com/2013/09/makalah-kesehatan-malaria.html

LAMPIRAN
1. Kloroquin
Malaria yang disebabkan plasmodium falcifarum sudah resiten terhadap
kloroquin hamper diseluruh bagian dunia. Di Papua Nugini dilaporkan
Plasmodium ViVax juga resisten terhadap kloroquin.
Indikasi

: Obat terpilih untuk pengobatan Malaria ringan (yang


diesbabkan

Plasmodium

Vivax),

Profilaksis/

pencegahan Malaria didaerah dengan kemungkinan


resistensi kloroquin masih rendah, digunakan juga
sebagai proguanil bila terdapat malaria falsifarum
yang resisten terhadap klorokuin, diindikasikan juga
untuk Arthritis Rheumatoid dan lupus erimatosus.
Kontra Indikasi

: Penderita gangguan fungsi Hati / ginjal, kehamilan,


gangguan Neurologis (hindari untuk pasien Epilepsi)

Efek Samping

: Gangguan saluran cerna, sakit kepala, kejang,


gangguan penglihatan, Over Dosi, Sangat Toksis.

Sediaan
Cara Penyimpanan

: Klorokuin (Generik) tablet 100 mg, 150 mg.


: Dalam Wadah tertutup baik, terlindung dari sinar
dan kelembaban.

2. Halofantrin
Digunakan untuk pengobatan Malaria falsifarum, tetapi sekarang jarang
digunakan. Tidak boleh digunakan untuk malaria ringan, juga bila mefloquin
sudah digunakan untuk profilaksis.
3. Mefloquin
Digunakan untuk profilaksis malaria didaerah endemis malaria falsifarum
yang resisten terhadap klorokuin efektif terhadap malaria ringan, tapi tidak
dianjurkan, kecuali yang telah resistensi terhadap klorokuin.
Indikasi

Kemoprofilaksis

malaria,

pengobatan

malaria

falsifarum (Lihat Atas)


Kontra Indikasi

: Hindari penggunaan pada wanita hamil (Efek


Teratogenik

pada

hewan

percobaan),

Hindari

kehamilan sampai tiga bulan, menyusui, Depresi,


Riwayat Epilepsi.
Efek Samping

: Mula, Muntah, diare sakit perut, pusing, gangguan


keseimbangan.

Sediaan Generik : -

4. Primaquin
Indikasi

: Pengobatan Radikal malaria vivax atau ovale,


penggobatan kambuhnya malaria lain dengan siklus
ekso errittrosit sekunder.

Kontra Indikasi

: Penyakit yang berkaitan dengan granulositopenia


(Arthritis rematoid, lupus Errithematosus), kehamilan,
Menyusui, Anak dibawah 4 tahun.

Efek samping

: Mual, Muntah, Sakit perut, Anemia Haemolitik.

Sediaan

: Primaquin (Tablet) 15 mg.

Cara Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari sinar dan


kelembaban.

5. Pirimetamin
Indikasi

Pengobatan

Malaria

falsiparum,

dan

dapat

digunakan bersama atau sesuda kinina Pirimetamin


tidak boleh digunakan tersendiri, harus digunakan
bersama Sulfadoksin atau Dapson.
Kontra Indikasi

: Gangguan fungsi hati atau ginjal, Wanita Hamil,


menyusui,.

Efek Samping

: Depresi Sistem Haematopoesis, Dosis besar dapat


menyebabkan, ruam kulit, Imsomnia.

Sediaan

: pirimetamin (Generik) tablet 25 mg. Pirimetamin +


Sulfadoksin (Generik) Tablet S-doksin 300 mg +
Pirimetamin 25 mg.

Cara penyimpanan

: Wadah kedap udara terlindung terhadap sinar.

6. Kina
Merupakan obat malaria tertua dari Alkaloid pohon Chinchona Succirubra.
Indikasi

: Pengobatan malaria falsiparum

Kontra Indikasi

: Homoglobin Uria, Neuritis Optik.

Efek Samping

Sakit

kepala, Telinga

Berdenging, Gangguan

keseimbangan, penglihatan kabur, mual, muntah,


ruam kulit, gangguan darah, karna diyakini berkhasiat
oksitosik maka

banyak

disalah

gunakan

untuk

abortus, juga berkhasiat analgetik antipiretik.


Sediaan

: Kina (Generik) Tablet 200 mg. Kuinin Dihidroclorida


(Generik) Cairan Injeksi 25 %.

Cara penyimpanan

: Dalam Wadah tertutup Baik, Terlindung dari sinar.

Spesialite Obat Obat Malaria :


NO
1.

Generik Dan Latin


Klorokuin Chloroquinum

2.

Sulfadoxin+Pyrimetamin

3.
4.
5.

Kinin Sulfas (Quinini Sulfas)


Eukinin/ kinin Etil Karbonat
Meflokuin

Dagang
Nivaquine
Riboquine
Resochin
Fansidar
Suldox
Tablet Kina
Euchinin
Malacid

MAKALAH FARMAKOLOGI
ANTI MALARIA

Pabrik
Rhone Poulenc
Dexa medica
Bayer
Roche
Dumex
Kimia Farma
Kimia Farma
Dexa Medica

Disusun Oleh :
Kelompok V
Andi Nurmiati Ramadhani
14.049.AF
GIlang Septian
14.0
Muhram Ras
14.064.AF
Nurul Hidayanti Ibrahim
14.074.AF
Putri Wulandari
14.076.AF
Rindy Nindya Hajar
14.078.AF
Sri nurinsana
14.082.AF
AKADEMI FARMASI YAMASI MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karna berkat
rahmat dan Hidayahnyalah sehingga kita dapat menyelesaikan
Makalah Farmakologi Yang berjudul Anti Malaria.
Tak lupa pula kita ucapkan terima kasih kepada Selaku Bapak
Dosen

dan

pihak-pihak

yang

telah

membantu

kami

dalam

menyelesaikan Makalah kami ini.


Kami sadar dalam penyusunan makalah kami ini masih jauh
dari kesempurnaan, Oleh karena itu kami butuh kritik dan saran demi
kesempurnaan makalah kami ini.
Kami berharap makalah kami ini dapat bermaanfaat bagi
pembaca dan dijadikan referensi untuk pembuatan makalah dengan
judul yang sama.
Makassar, Mei 2015
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I (Pendahuluan)
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Tujuan Penulisan
d. Manfaat Penulisan
Bab II (Pembahasan)
A. Penyakit Malaria
1. Definisi Malaria
2. Etiologi penyebab Malaria
3. Patofisiologi penyakit Malaria
4. Penularan dan Penyebaran Malaria
5. Gejala Klinis dan Masa Inkubasi Malaria
6. Pencegahan Malaria
B. Anti Malaria
1. Definisi Anti Malaria
2. Penggolongan Obat Malaria
Bab III (Penutup)
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
Lampiran