Anda di halaman 1dari 21

KONSEP METODE PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL

(MPKP)
1. Pengertian / Definisi
Hoffart dan Woods (1996), mendefinisikan Model Praktik Keperawatan Profesional
sebagai sebuah sistem yang meliputi struktur, proses, dan nilai professional yang
memungkinkan perawat professional mengatur pemberian asuhan keperawatan dan
mengatur lingkungan untuk menunjang asuhan keperawatan. Sebagai suatu model berarti
sebuah ruang rawat dapat menjadi contoh dalam praktik keperawatan professional di
Rumah Sakit (Sitorus, 2011).
2. Tujuan Pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional
a. Meningkatkan mutu askep melalui penataan sistem pemberian asuhan keperawatan.
b. Memberikan kesempatan kepada perawat untuk belajar melaksanakan praktik
keperawatan profesional.
c. Menyediakan kesempatan kepada perawat untuk mengembangkan penelitian
keperawatan.
3. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Praktik Keperawatan Profesional
Terdapat enam unsur utama dalam penentuan pemilihan metode pemberian asuhan
keperawatan, yaitu:
a. Sesuai dengan Visi-Misi Rumah Sakit,
b. Dapat diterapkannya proses keperawatan,
c. Efisien dan efektif dalam penggunaan biaya,
d. Terpenuhinya kepuasan klien,
e. Kepuasan konsumen (keluarga dan masyarakat),
f. Kepuasan kerja perawat dan terlaksananya komunikasi yang adekuat
4. Peran Managerial dan Leadership
Ketua dalam tim betugas untuk membuat rencana asuhan keperawatan, mengkoordinir
kegiatan semua staf (PA) yang berada dalam tim, mendelegasikan sebagian tindakantindakan keperawatan yang telah direncanakan pada renpra dan bersama-sama dengan PA
mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
Seorang PP harus memiliki kemampuan yang baik dalam membuat renpra untuk klien
yang menjadi tanggungjawabnya. Adanya renpra merupakan tanggung jawab profesional
seorang PP sebagai landasan dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan
standar. Renpra tersebut harus dibuat sesegera mungkin pada saat klien masuk dan
dievaluasi setiap hari.
PP dituntut untuk memiliki kemampuan mendelegasikan sebagian tindakan
keperawatan yang telah direncanakan pada PA. pembagian tanggung jawab terhadap klien
yang menjadi tanggung jawab tim, didasarkan pada tingkat ketergantungan pasien dan
kemampuan PA dalam menerima pendelegasian.
Metode tim PP-PA dituntut untuk memiliki keterampilan kepemimpinan. PP bertugas
mengarahkan dan mengkoordinasikan PA dalam memberikan asuhan keperawatan pada

kelompok klien. PP berkewajiban untuk membimbing PA agar mampu memberikan


asuhan keperawatan seuai dengan standar yang ada. Bimbingan tersebut dapat
dilaksanakan secara langsung, misalnya mendampingi PA saat melaksanakan tindakan
tertentu pada klien atau secara tidak langsung pada saat melakukan konferensi. PP juga
harus senantiasa memotivasi PA agar terus meningkatkan keterampilannya, misalnya
memberikan referensi atau bahan bacaan yang diperlukan.
Selain terkait dengan bimbingan ketrampilan pada PA, sebagai bagian dari peran
kepemimpinan seorang PP, PP seharusnya juga memiliki kemampuan untuk mengatasi
konflik yang mungkin terjadi antar PA. PP harus menjadi penengah yang bijaksana
sehingga konflik bisa teratasi dan tidak mengganggu produktivitas PA dalam membantu
memberikan asuhan keperawatan.
5. Komunikasi tim melalui renpra, konferensi, dan ronde keperawatan
Komunikasi yang efektif merupakan kunci keberhasilan dalam melakukan kerjasama
profesional tim antara PP-PA. Komunikasi tersebut dapat melalui: renpra, konferensi, dan
ronde keperawatan yang terstruktur dan terjadwal.
Rencana asuhan keperawatan ( renpra ) selain berfungsi sebagai:
a. Pedoman bagi PP-PA
b. Landasan profesional bahwa asuhan keperawatan diberikan berdasarkan ilmu
pengetahuan
Kerjasama profesional PP-PA, renpra selain berfungsi sebagai penunjuk perencanaan
asuhan yang diberikan juga berfungsi sebagai media komunikasi PP pada PA.
Berdasarkan renpra ini, PP mendelegasikan PA untuk melakukan sebagian tindakan
keperawatan yang telah direncanakan oleh PP. Oleh sebab itu, sangat sulit untuk tim
PP-PA dapat bekerjasama secara efektif jika PP tidak membuat perencanaan asuhan
keperawatan ( renpra ). Hal ini menunjukan bahwa renpra sesungguhnya dibuat bukan
sekedar memenuhi ketentuan (biasanya ketentuan dalam menentukan akreditasi rumah
sakit ). Renpra seharusnya dibuat sesegera mungkin, paling lambat 1 kali 24 jam setelah
pasien masuk karena fungsinya sebagai pedoman dan media komunikasi. Berdasarkan
ketentuan tugas dan tanggung jawab PP tidak sedang bertugas ( misalnya pada malam
hari atau hari libur ), PA yang sebelumnya telah didelegasikan dapat melakukan
pengkajian dasar dan menentukan satu diagnosa keperawatan yang terkait dengan
kebutuhan dasar pasien. Selanjutnya segera setelah PP bertugas kembali maka
pengkajian dan renpra yang telah ada harus divalidasi dan dilengkapi.
Penting juga diperhatikan bahwa renpra yang dibuat PP harus dimengerti oleh semua
PA. Semua anggota tim harus memiliki pemahaman yang sama tentang istilah-istilah
keperawatan yang digunakan dalam renpra tersebut. Misalnya dalam renpra, PP

menuliskan rencana tindakan keperawatan ; " monitor I/O ( Intake/Output = pemasukan


/ pengeluaran ) tiap 24 jam".
Maka harus dipahami oleh semua anggota tim yang dimaksud dengan monitor I/O,
contoh lain dalam perencanaan PP menuliskan "berikan dukungan pada pasien dan
keluarganya" , maka baik PP dan PA dalam timnya harus memiliki persepsi yang sama
tentang tindakan yang akan dilakukan tersebut. Oleh sebab itu PP harus menjelaskan
kembali pada PA tentang apa yang disusunnya tersebut.
Pendelegasian tindakan keperawatan yang berdasarkan pada renpra, PP terlebih
dahulu harus memiliki kemampuan masing-masing PA. Hal yang tidak dapat
didelegasikan pada PA adalah tanggung jawab dan tanggung gugat seorang PP
(Dunville dan McCuock, 2004). Tindakan yang telah didelegasikan pada PA, PP tetap
berkewajiban untuk tetap memonitor dan mengevaluasi tindakan yang dilakukan oleh
PA.
6. Komunikasi tim oleh konferensi
Konferensi adalah pertemuan yang direncanakan antara PP dan PA untuk membahas
kondisi pasien dan rencana asuhan yang dilakukan setiap hari. Konferensi biasanya
merupakan kelanjutan dari serah terima shift. Hal-hal yang ingin dibicarakan lebih rinci
dan sensitif dibicarakan didekat pasien dapat dibahas lebih jauh didalam konferensi.
Konferensi akan efektif jika PP telah membuat renpra, dan membuat rencana apa yang
akan dibicarakan dalam konferensi. Konferensi ini lebih bersifat 2 arah dalam diskusi
antara PPPA tentang rencana asuhan keperawatan dari dan klarifikasi pada PA dan hal
lain yang terkait.
7. Komunikasi tim melalui Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan yang dilakukan dalam tim ini harus dibedakan dengan ronde
keperawatan yang dilakuan dengan Clinical Care Manager (CCM). Tujuan ronde
keperawatan dalam tim adalah agar PP dan PA bersama-sama melihat proses yang
diberikan.
Kerjasama dengan tim lain
Tim kesehatan lain adalah dokter, ahli gizi, ahli farmasi, fisioterapi, staf laboratorium
dll. Peran PP dalam melakukan kerjasama dengan tim lain tersebut adalah :
1. Mengkolaborasikan.
2. Mengkomunikasikan.
3. Mengkoordinasikan semua aspek perawatan pasien yang menjadi tanggung jawabnya.
4. PP dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai baik segi tingkat pendidikan
dalam pengalamannya.

PP bertanggung jawab untuk memberikan informasi kondisi pasien yang terkait


dengan perawatannya. PP dapat memberikan informasi yang akurat bagi tenaga
kesehatan lain, sehingga keputusan medis atau gizi misalnya akan membantu
perkembangan pasien selama dalam perawatan, agar PP melakukan komunikasi yang
efektif dengan tim kesehatan lain tersebut, maka haruslah disepakati waktu yang
tepat untuk mengkomunikasikan pada tim kesehatan yang lain, misalnya melalui
ronde antar profesional.
Kondisi dimana dokter tidak berada di ruang perawatan dapat menyebabkan
komunikasi langsung sangat sulit dilakukan oleh karena itu komunikasi antar tim
kesehatan dapat juga terbina melalui dokumentasi keperawatan. Dokumentasi
tersebut dibuat oleh PP tetapi sebelumnya harus telah disepakati oleh semua tim
kesehatan bahwa dokumentasi yang ada juga dimanfaatkan secara efektif sebagai
alat komunikasi.
Terciptanya komunikasi yang efektif dengan tim kesehatan dari profesi lain,
seorang PP harus

memenuhi kepribadian

yang baik

serta keterampilan

berkomunikasi, misalnya memiliki sikap mampu menghargai orang lain, tidak


terkesan memerintah atau menggurui atau bahkan menyalahkan orang lain dalam hal
ini tim kesehatan dari profesi lain, merupakan kemampuan yang harus dimiliki PP.
Melakukan komunikasi antar profesi ini PP dituntut untuk selalu berpegang pada
etika keperawatan.
Seorang PP harus melakukan tugas mengkordinasikan semua kegiatan yang
terkait dengan pengobatan dan perawatan pasien, misalnya dokter menjadwalkan
pasien untuk di rontgen dada dan di USG abdoment sekaligus pemeriksaan mata
pada hari yang sama, maka seorang PP harus mampu mengkoordinasikan semua
kegiatan tersebut agar tidak melelahkan dan membingungkan bagi pasien dan
keluarganya. Misalnya dalam hal ini perawat dapat menjadwal ulang semua kegiatan
tadi.
8. Peran dan Tanggung Jawab Perawat Sesuai Dengan Jabatannya
a. Peran Kepala Ruangan ( KARU)
1) Sebelum melakukan sharing dan operan pagi Karu melakukan ronde
keperawatan kepada pasien yang dirawat.
2) Memimpin sharing pagi.
3) Memimpin operan.

4) Memastikan pembagian tugas perawat yang telah di buat olek Katim dalam
pemberian asuhan keperawatan pada pagi hari.
5) Memastikan seluruh pelayanan pasien terpenuhi dengan baik, meliputi :
pengisian askep, visite dokter (advice), pemeriksaan penunjang (hasil Lab),
dll.
6) Memastikan ketersediaan fasilitas dan sarana sesuai dengan kebutuhan.
7) Mengelola dan menjelaskan komplain dan konflik yang terjadi di area
tanggung jawabnya.
8) Melaporkan kejadian luar biasa kepada manajer.
b. Peran Ketua Tim ( KATIM )
Tugas Utama : Mengkoordinir pelaksanaan Askep sekelompok pasien oleh Tim
keperawatan di bawah koordinasinya.
1) Mengidentifikasi kebutuhan perawatan seluruh pasien oleh tim keperawatan di
bawah koordinasinya pada saat Pre Croference
2) Mengidentifikasi seluruh PP membuat rencana asuhan keperawatan yang tepat
untuk pasiennya.
3) Memastikan setiap PA melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan
rencana yang telah dibuat PP
4) Melaksanakan validasi tindakan keperawatan seluruh pasien di bawah
koordinasinya pada saat Post Conference.
c. Peran Perawat Asosiet (PA) :
Tugas Utama : Mengidentifikasi seluruh kebutuhan perawatan pasien yang menjadi
tanggung jawabnya, merencakan asuhan keperawatan, melaksanakan tindakan
keperawatan dan melakukan evaluasi (follow up) perkembangan pasien.
1) Mengevaluasi tindakan keperawatan yang sudah dilaksanakan oleh PA
2) Memastikan seluruh tindakan keperawatan sesuai dengan rencana.
d. Penanggung Jawab Shift (PJ Shift)
Tugas Utama : menggantikan fungsi pengatur pada saat shift sore/malam dan hari
libur.
1) Memimpin kegiatan operan shift sore-malam
2) Memastikan PP melaksanaknan follow up pasien tanggung jawabnya
3) Memastikan seluruh PA melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan
rencana yang telah dibuat PP
4) Mengatasi permasalahan yang terjadi di ruang perawatan

5) Membuat laporan kejadian kepada pengatur ruangan.


KONSEP MANAJEMEN MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL
(MPKP)
1. Perencanaan Di Ruang MPKP
a. Pengertian
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang
hal-hal yang akan dikerjakan dimasah mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan (Siagian, 1990). Perencanaan dapat juga diartikan sebagai suatu
rencana kegiatan tentang apa yang harus dilakukan. Sehingga perencanaan yang matang
akan memberi petunjuk dan mempermudah dalam melaksanakan suatu kegiatan. Dalam
suatu organisasi perencanaan merupakan pola pikir yang dapat menentukan
keberhasilan suatu kegiatan dan titik tolak dari kegiatan pelaksanaan selanjutnya.
Kegiatan perencanaan dalam praktek keperawatan professional merupakan upaya
meningkatkan profesionalisme dalam pelayanan keperawatan sehingga mutu pelayanan
bukan saja dapat dipertahankan tapi bisa terus meningkat sampai tercapai derajat
kepuasan tertinggi bagi penerima jasa pelayanan keperawatan dan pelaksana pelayanan
itu sendiri. Dengan demikian sangat dibutuhkan perencanaan yang professional juga.
Jenis-Jenis perencanaan terdiri dari rencana jangka panjang, rencana jangka
menengah dan rencana jangka pendek. Perencanaan jangka panjang disebut juga
perencanaan strategis yang disusun untuk 3 sampai 10 tahun. Perencanaan jangka
menengah dibuat dan berlaku 1 sampai 5 tahun. Sedangkan perencaan jangka pendek
dibuat satu jam sampai dengan satu tahun. Hirarki dalam perencaan terdiri dari
perumusan visi, misi, filosofi, peraturan, kebijakan, dan prosedur (Marquis & Houston,
1998).
b. Ruang Lingkup Perencanaan
Ruang lingkup perencanaan tingkat ruangan MPKP
1) Merumuskan visi ruang MPKP
Visi adalah pemyataan singkat yang menyatakan mengapa organisasi itu dibentuk
serta tujuan organisasi tersebut. Visi perlu dirumuskan sebagai landasan perencaan
organisasi.
2) Merumuskan misi ruang MPKP
Misi adalah pernyataan yang menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai visi
yang telah ditetapkan.

3) Merumuskan filosofi ruang MPKP


Filosofi adalah seperangkat nilai-nilai kegiatan yang menjadi rujukan semua
kegiatan dalam organisasi dan menjadi landasan dan arahan seluruh perencanaan
jangka panjang. Nilai-nilai dalam filosofi dapat lebih dari satu.
Beberapa contoh pernyataan filosofi: Individu memiliki harkat dan martabat
Individu mempunyai tujuan tumbuh dan berkembang, Setiap individu memiliki
potensi berubah Setiap orang befungsi holistic (berinteraksi dan bereaksidengan
lingkungan).
4) Menyusun perencaan jangka pendek yang meliputi rencana harian, bulanan dan
tahunan.
5) Kebijakan di ruang MPKP
Kebijakan adalah pernyataan yang menjadi acuan organisasi dalam pengambilan
keputusan.
c. Rencana Jangka Pendek di Ruang MPKP
Rencana jangka pendek yang diterapkan dalam ruangan MPKP terdiri dari rencana
harian, bulanan dan tahunan.
1) Rencana harian
Rencana harian adalah kegiatan yang akan dilaksakan oleh perawat sesuai dengan
peran dan fungsi perawat. Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan

(1)
(2)
(3)

dilengkapi pada saat operan dan pre conference.


a) Rencana harian kepala ruangan
Isi rencana harian kepala Ruangan meliputi:
Asuhan keperawatan,
Supervisi Katim dan perawat pelaksana
Supervisi tenaga selain perawat dan kerja sama dengan unit lain yang terkait.
b) Rencana harian ketua tim
Isi rencana harian ketua tim adalah :
(1)

Penyelenggaraan asuhan keperawatan pasien pada tim yang menjadi

"tanggung jawabnya
(2)
Melakukan supervisi perawat pelaksana
(3)
Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain
(4)
Alokasi pasien sesuai perawat yang dinas
c) Rencana harian perawat pelaksana
Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan untuk
sejumlah

pasien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana harian perawat

pelaksana shift sore dan malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu
tim maka perawat tersebut berperan sebagai ketua tim dan perawat pelaksana
sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference.

d) Penilaian rencana harian perawat


Untuk menilai keberhasilan dari perencanaan harian dilakukan melalui observasi
menggunakan instrumen jurnal rencana harian.
Setiap ketua tim mempunyai instrumen dan mengisinya setiap hari. Pada akhir
bulan dapat dihitung presentasi pembuatan rencana harian masing-masing
perawat.
2) Rencana bulanan
a) Rencana bulanan Karu
Setiap akhir bulan kepala ruangan melakukan evaluasi hasil keempat pilar atau
nilai MPKP dan berdasarkan hasil evaluasi tersebut kepala ruangan akan
membuat rencana tindak lanjut dalan rangka peningkatan kualitas hasil. Kegiatan
yang mencakup rencana bulanan karu adalah:
(1) Membuat jadwal dan memimpin case conference
(2) Membuat jadwal dan memimpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga
(3) Membuat jadwal dinas
(4) Membuat jadwal petugas menerima pasien baru
(5) Membuat jadwal dan memimpin rapat bulanan perawat
(6) Melakukan jadwal dan memimpin rapat tim kesehatan
(7) Membuat jadwal supervisi dan penilaian kinerja ketua tim dan perawat
pelaksana
(8) Melakukan audit dokumentasi
(9) Membuat laporan bulanan
b) Rencana bulanan ketua tim
Setiap akhir bulan ketua tim melakukan evaluasi tentang keberhasilan kegiatan
yang dilakukan di timnya. Kegiatan-kegiatan yang mencakup rencana bulanan
katim adalah:
(1)

Mempresentasikan kasus dalam case conference

(2)

Memimpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga

(3)

Melakukan supervisi perawat pelaksana

3) Rencana tahunan

Setiap akhir tahun kepala ruangan melakukan evalusi hasil kegiatan dalam satu
tahun yang dijadikan sebagai acuan rencana tindak lanjut serta penyusunan rencana
tahunan berikutnya. Rencana kegiatan tahunan mencakup :
a) Menyusun laporan tahunan yang berisi tentang kinerja SP2KP baik proses
kegiatan (aktivitas yang sudah dilaksanakan dari 4 pilar praktek professional)
serta evaluasi mutu pelayanan.
b) Melaksanakan rotasi tim untuk penyegaran anggota masing-masing tim.
c) Penyegaran terkait dengan materi SP2KP khusus untuk kegiatan yang masih
rendah pencapaiannya. Ini bertujuan mempertahankan kinerja yang telah dicapai
SP2KP dan untuk meningkatkan kinerja di masa mendatang.
Pengembangan SDM dalam bentuk rekomendasi peningkatan jenjang karir perawat
(pelaksana menjadi katim, katim menjadi karu), rekomendasi untuk melanjutkan
pendidikan formal, membuat jadwal untuk mengikuti pelatihan-pelatihan.
2. Pengorganisasian
a. Struktur Organisasi Ruang MPKP
Struktur organisasi ruang MPKP merupakan system penugasan Tim-Primer
Keperawatan. Raung MPKP dipimpin oleh Kepala Ruangan yang mebawahi dua atau
lebih Ketua Tim. Ketua Tim berperan sebagai Perawat Primer membawahi beberapa
Perawat Pelaksana yang memberikan Asuhan Keperawatan secara langsung dan
menyeluruh kepada sekelompok pasen. Struktur Organisasi tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:

Gambar 1 : Sistem pemberian asuhan keperawatan Team Nursing


(Marquis dan Huston, 1998)
Kepala ruangan

Ketua Tim

Staff Perawat

Pasien 8-10

Ketua Tim

Staff Perawat

Pasien 8-10

Ketua Tim

Staff Perawat

Pasien 8-10

b. Mekanisme Pelaksanan Pengorganisasian Di Ruang MPKP


1) Kepala ruangan membagi perawat yang ada menjadi 2 tim dan taip tim diketuai
masing-masing oleh seorang ketua tim, yang dilpilih melalui tes.
2) Kepala ruangan bekerja sama dengan Ketua Tim mengatur Jadwal dinas (pagi,
sore, malam).
3) Kepala ruangan membagi klien untuk masing-masing tim.
4) Apabila suatu ketika satu tim kekurangan perawat pelaksana karena kondisi
tertentu, kepala ruangan dapat memindahkan perawat pelaksana dari tim ke tim
yang mengalami kekurangan anggota.
5) Kepala ruangan menunjuk penanggung jawab shift sore, malam dan shift pagi
apabila karena sesuatu hal kepala ruangan sedang tidak bertugas. Untuk itu yang
pengganti Kepala ruangan adalah ketua tim, sedangkan jika Ketua Tim berhalangan,
tugasnya digantikan oleh anggota tim ( perawat pelaksana) yang paling kompeten
diantara anggota tim.
6) Ketua tim menetapkan perawat pelaksana untuk masing-masing pasien.
7) Ketua tim mengendalikan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien, baik
yang diterapkan oleh dirinya maupun oleh perawat pelaksana anggota timnya.
8) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dilakukan oleh ketua tim. Bila ketua tim
karena sesuatu hal tidak sedang bertugas

maka tanggung jawab didelegasikan

kepada perawat paling ekspert yang ada di dalam tim.


9) Masing-masing tim memilii buku komunikasi.
10) Perawat pelaksana melaksanakan Asuhan Keperawatan kepada klien

yang

menjadi tanggung jawabnya.


c. Uraian Tugas
1) Kepala Ruangan
a) Management Aproach:
(1)
Perencanaan meliputi : menyusun visi, menyusun misi, menyusun
filosofi, menyusun rencana

jangka pendek ( rencana harian, bulanan,

tahunan).
(2)
Pengorganisasian, meliputi : menyusun struktur organisasi, menyusun
jadwal dinas, membuat daftar alokasi pasien
(3)
Pengarahan: memimpin operan, menciptakan iklim
mengatur pendelegasian, melakukan supervise
(4)
Pengendalian: mengevaluasi indikator

mutu,

motivasi,

melakukan

audit

dokumentasi, melakukan survey kepuasan pasien/keluarga, perawat

dan

tenaga kesehatan lainnya, melakukan survey masalah kesehatan/ keperawatan.


b) Compensatory Reward
(1) Melakukan penilaian kinerja ketua tim dan perawat pelaksana
(2) Merencanakan dan melaksanakan pengembangan staf
c) Profesional Relationship

(1) Memimpin rapat keperawatan


(2) Memimpin konferensi kasus
(3) Melakukan rapat dengan tim kesehatan
(4) Melakukan kolaborasi dengan dokter
d) Patien care delivery
Mampu melakukan asuhan keperawatan berdasarkan Kebutuahan Dasar Manusia.
2) Ketua TIM
a) Management Aproach:
i. Perencanaan: menyusun rencana jangka pendek ( rencana harian, bulanan ).
ii. Pengorganisasian: menyusun jadwal dinas bersama kepala ruangan,
membagi alokasi pasien kepada perawat pelaksana
iii. Pengarahan:Memimpin pre conference, memimpin post conference,
menciptakan iklim motivasi timnya, mengatur pendelegasian dalam timnya,
melaksanakan supervisi kepada anggota timnya
iv. Pengendalian: mengobservasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
yang dilakukan pada perawat pelaksana, memberikan umpan balik pada
perawat pelaksana
b) Compensatory Reward: menilai kinerja perawat Pelaksana
c) Profesional Relationship: melaksanakan konferensi kasus, melakukan kolaborasi
dengan dokter
d) Patien Care delivery
Mampu melakukan asuhan keperawatan berdasarkan kebutuahan Dasar Manusia:
3) Perawat Pelaksana
a) Perencanaan: menyusun rencana jangka pendek ( R harian, Bulanan ).
b) Patien Care delivery
Mampu melakukan asuhan keperawatan berdasarkan kebutuahan Dasar Manusia
d. Daftar Dinas Ruangan
Daftar dinas ruangan disusun berdasarkan tim, dibuat dalam satu minggu, sehingga
perawat sudah mengetahui dan mempersiapkan dirinya untuk melakukan dinas.
Pembuatan jadwal dinas perawat dilakukan oleh kepala ruangan pada hari terakhir
minggu tsb. Untuk jadwal dinas pada minggu yang selanjutnya dan bekerja sama
dengan ketua tim. Setiap tim memmpunyai anggota yang berdinas pagi, sore dan
malam serta ada yang lepas dari dinas (libur) terutama yang telah berdinas malam hari.
Daftar pasien adalah daftar sejumlah pasien yang menjadi tanggung jawab tiap tim
selama 24 jam. Setiap pasien mempunyai perawat yang bertanggung jawab secara
total selama dirawat

dan juga setiap shif dinas. Dalam daftar pasien tidak perlu

mencantumkan diagnosa dan alamat agar kerahasiaan pasien terjaga. Daftar pasien
dapat juga menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat atas asuhan
keperawatan pasien sehingga terwujudnya keperawatan pasien yang holistic.
Daftar pasien memberi informasi bagi kolega kesehatan lain dan keluarga untuk
berkolaborasi tentang perkembangan dan perawatan pasien. Daftar pasien ruangan

diisi oleh ketua tim, sebelum operan dengan dinas berikutnya dan dapat dimodifikasi
sesuai kebutuhan.
3. Pengarahan Pelayanan Keperawatan di Ruang MPKP
a. Menciptakan budaya Motivasi
Di ruang MPKP penciptaan iklim motivasi diterapkan dengan cara:
1) Budaya pemberian reinforcement positif
Reinforcement positif adalah upaya menguatkan rilaku positif dengan memberikan
reward. Reward yang diberikan di ruangan dengan MPKP adalah pemberian pujian
yang tulus. Masing-masing staf dibudayakan untuk memberikan pujian yang tulus
diantara mereka terhadap kinerja dan penampilan.
2) Doa bersama sebelum memulai kegiatan
Doa bersama dilakukan setiap pergantian dinas. Setelah selesai operan semua staf
berkumpul untuk melakukan ritual

doa bersama

sesuai dengan agama

dan

kepercayaan masing-masing. Dengan berdoa diharapkan timbul selfawareness dan


dorongan spiritual.
3) Memanggil staf secara periodik untuk mengenal masalah setiap personil secara
mendalam dan membantu penyelesaiannya.
Kepala ruangan perlu berkomunikasi secara itensif dengan semua staf baik Ketua
Tim maupun perawat pelaksana untuk mempererat hubungan dengan semua staf
memahami problematika masing-masing sehingga pendekatan kepada staf
disesuaikan dengan kepribadian masing-masing. Hal ini diharapkan dapat memacu
motivasi staf perawat yang bekerja di MPKP.
Menjamin Sumber Daya Manusia melalui penerapan pengembangan jenjang karir
dan kompetensi (lihat Model Compensatory Reward).
b. Manajemen waktu
Pengertian
Manajemen waktu adalah penggunaan secara optimal waktu yang dipunyai.
Tahapan manajemen waktu meliputi tiga tahapan yaitu:
1) Membeuat perencanaan waktu dan membuat prioritas
2) Melengkapi prioritas tertinggi kapan saja memungkinkan, menyelesaikan tugas
sebelum memulai tugas yang lain
3) Membuat prioritas ulang berdasarkan informasi yang diterima
Penerapan Manajemen Waktu di MPKP
Dalam MPKP manajemn waktu diterapkan dalam bentuk penerapan rencana kerja
harian yaitu suatu bentuk perencanaan kerja melalui jadwal kerja yang disusun
secara berurutan disusun sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan. Rencana harian
dibahas secara detail dalam modul Perencanaan.
c. Komunikasi efektif, melalui kegiatan :
1) Operan
Yaitu komunikasi dan serah terima antara shif pagi, sore, malam. Operan dinas
malam ke dinas pagi dan dari dinas pagi ke dinas sore dipimpin oleh kepala

Ruangan, sedangkan operan dari dinas sore ke dinas malam

dipimpin oleh

penanggung jawab shif.


2) Pre Conference
Yaitu komnikasi Katim dan perawat pelaksana setelah selesai overan untuk
rencana kegiatan pada shif tersebut yang dipimpin oleh Katim atau Pj Tim. Jika
yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang , maka preconference ditiadakan.
Isi preconference adalah rencana tiap perawat (rencana harian), dan tambahan
rencana dari Katim dan Pj Tim.
3) Post Conference
Yaitu komunikasi Katim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang
shif dan sebelum operan kepada shif berikut. Isi post conference adalah: hasil
askep tiap perawat dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post Conference
dipimpin oleh Katim atau Pj Tim.
d. Manajemen konflik
1. Pengertian
Konflik adalah keadaan perbedan pandangan atau ide antara orang dengan orang
yang lain. Dalam organisasi yang dibentuk dan sekumpulan orang yang memiliki
latar belakang yang berbeda konflik mudah terjadi. Demikian juga di ruang MPKP
konflikpun bisa terjadi, untuk itu perlu mengantisipasi konflik dan mengatasi
konflik sedini mungkin di ruang MPKP.
Cara-cara penanganan Konflik ada beberapa macam, meliputi:
a) Bersaing
b) Berkolaborasi
c) Menghindar
d) Mengakomodasi
e) Berkompromi
Mengatasi konflik dengan bersaing adalah penanganan konflik dimana sesorang
atau astu kelompok

berupaya memuaskan

kepentingan sendiri

tanpa

mempedulikan dampaknya pada orang pada orang lain atau kelompok lain. Cara
ini kurang sehat, apabila diterapkan karena bisa menimbulkan potensi konflik
yang lebih besar terutama pihak yang merasa dikalahkan. Untuk itu organisasi
sebaiknya menghindari metode penyelesaian konflik jenis ini.
Berkolaborasi adalah upaya untuk menempuh untuk memuaskan kedua belah
pihak yang sedang koflik. Cara ini adalah salah satu bentuk kerja sama. Beberapa
pihak yang terlibat konflik didorong penyelesaian masalah yang mereka hadapi
dengan jalan mencari dan menemukan persamaan kepentingan dan bukan
perbedaan. Situasi yang diinginkan adalah tidak ada satu pihakpun yang dirugikan.
Istilah lain cara penyelesaian konflik ini disebut juga win-win solution.

Menghindar adalah cara menyelesaikan konflik dimana pihak yang sedang konflik
mengakui adanya konflik dalam interaksinya dengan orang lain tetapi menarik diri
atau menekan konflik tersebut (seakan akan) tidak ada konflik atau masalah. Cara
ini tidak dianjurkan dalam upaya penyelesaian konflik karena masalah mendasar
tidak diselesaikan yang terjadi adalah penyelesaian semu. Untuk itu tidak
dianjurkan organisasi untuk menggunakan metode ini.
Akomodasi adalah upaya menyelesaikan konflik dengan cara salah satu pihak
yang berkonflik menempatkan kepentingan pihak lain yang berkonflik dengan
dirinya lebih tinggi. Salah asatu pihak yang berkonflik mengalah pada pihak yang
lain.

Ini siatu upaya lose-win solution. Upaya penyelesaian konflik dengan

akomodasi sebaiknya juga tidak digunakan terlalu sering karena kepuasan tidak
terjadi secara penuh dan bisa menimbulkan potensi konflik di masa mendatang.
Kompromi adalah cara penyelesaian konflik di mana semua pihak yang
berkonflik mengorbankan kepentingan demi bterjadinya keharmonisan hubungan
dua belah pihak tersebut. Dalam upaya ini tidak ada salah satu yang menag atau
kalah

Ini adalah lose-lose solution dimana masing-masing pihak akan

mengorbankan kepentinagn agar hubungan yang terjalin tetap harmonis


2. Penerapan Manajemen Konflik di Raung MPKP
Upaya mengetahui konfli yang diterapkan di MPKP adalah upaya win-win
solution Suatu upaya berkolaborasi. Untuk itu pembudayaan kolaborasi antar staf
menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pengeloaan ruang MPKP.
Pendekatan penyelesaian konflik yang ditempuh adalah dengan pendekatan
penyelesaian masalah (problem solving) yang meliputi:
a) Mengidentifikasi akar permasalahan yang terjadi dengan melakukan klarifikasi
pada pihak yang berkonflik
b) Mengidentifikasi penyebab timbulna konflik
c) Mengidentifiasi alternatif alternatif penyelesaian yang mungkin diterpkan
d) Memilih alternatif penyelesaian terbaik untuk diterapkan menerapkan solusi
pilihan
e) Mengevaluasi peredaan konflik
Bila pendekatan internal yang telah dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang
terjadi belum berhasil maka Kepala Ruangan dapat berkonsultasi dengan Kepala
Seksi Perawatan atau Konsultan.
3. Evaluasi Penerapan Aktivitas Penyelesaian Konflik
Aktivitas Penyelesaian konflik dievaluasi oleh seluruh staf Keperawatan MPKP.
e. Pendelegasian
1) Pengetian penddelegasian

Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melaui orang lain. Dalam organisasi


pendelegasian dilakuakn agar aktivitas organisasi tetap berjalan untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan
Pendelegasian dilaksanakan melalui proses:
a) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan
b) Identifikasi keterampilan
tingkat pendidikan
c)
d)
e)
f)

yang diperlukan untuk

melaksanakan tugas.
Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan
Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa tujuannya
Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas
Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi masalah
tertentu, manajer harus bisa menjadi model peran menjadi nara sumber untuk

menyelesaikan masalah yang dihadapi


g) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai
h) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenagan
2) Penerapan pendelegasian di ruang MPKP
Delegasi dilaksanakan di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh kepala
ruangan kepada ketua tim, ketua tim kepada perawat pelaksana. Pendelegasian
dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang. Pendelegasian
tugas ini dilakukan secara berjenjang. Penerapannya dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
pendelegasian terncana dan pendelegasian insidentil.
Pendelegasian terencana adalah pendlegasian yang secara otomatis
sebagai konsekuensi system penugasan

terjadi

yang diterapkan di ruang MPKP.

Bentuknya dapat berupa:


a) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada ketua tim untuk menggantikan
tugas semntara karena lasan tertentu
b) Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada penanggung jawab shif
c) Pendelegasian kepada ketua tim
kepada perawat pelaksana

dalam

melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan.


Pendlegasian insidentil terjadi apabila salah satu personil ruang MPKP
berhalangan hadir maka pendelegasian tugas harus dilakukan. Dalam hal ini yang
mengatur pendelegasian adalah kepala seksi perawatan, kepala ruangan, ketua
tim, atau penanggung jawab shif, tergantung pada personil yang berhalangan.
Mekanismenya dalah sebagai berikut:
a) Bila kepala ruangan berhalangan, kepala seksi menunjuk salah satu ketua tim
untuk menggantikan tugas kepala ruangan
b) Bila ketua tim berhalangan hadir maka kepala ruangan menunjuk salah satu
anggota tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas ketua tim
c) Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir sehingga

1 tim

kekurangan personil maka kepala ruangan /penaggung jawab shif berwenang

memindahkan perawat pelaksana dari tim lain masuk tim yang kekurangan
personil tersebut atau Katim melimpahkan pasien kepada perawat pelaksana
yang hadir.
3) Prinsip-prinsip Pendelegasian
a) Pendelegasian
tugas yang

terencana

pendelegasian tugas
b) Personil yang menerima pendelegasian

harus

menggunakan

format

tugas adalah personil yang

berkompeten dan setara dengan kemampuan yang digantikan tugasnya.


c) Uraian tugas yang didelegasikan tugas harus dijelaskan secara verbal secara
terinci baik secra lisan maupun tertulis
d) Pejabat yang mengatur pendelegasian tugas wajib memonitor pelaksanaan
tugas dan menjadi rujukan bila ada kessulitan yang dihadapi.
e) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang sudah
dilaksanakan dan hasilnya.
4) Evaluasi Penerapan Pendelegasian Tugas
Pendelegasian Tugas di MPKP dievaluasi dengan menggunakan Instrumen yang
diisi oleh seluruh staf perawat dengan cara self Evaluasi.
1. Compensatory Reward
a. Proses Rekrutmen Tenaga Perawat di Ruang MPKP
Rekrutmen di ruang MPKP berfokus pad rekrutmen perawat yang ada di RS bukan
mencari tenaga perawat baru dari luar RS.
Dalam menentukan perawat yang diperlukan di ruang MPKP, perlu diketahui
kategori ruang MPKP yang akan dikembangkan. Ruang MPKP dikategorikan
menjadi tiga level professional I, II, III, pemula dan transisi.
Untuk level MPKP Profesional I diharapkan Karu dan Katim mempunyai
latar belakang pendidikan Ners, Sarjana Keperawatan dengan jenjang Karir
minimal Perawat Klinik 3 (PK3). Serta seluruh perawat pelaksana minimal
mempunyai latar belakang pendidikan D III Keperawatan dengan jenjang karir
minimal Perawat Klinik 2 (PK2).
MPKP Profesional II adalah MPKP yang tenaga perawatnya berlatar belakang
minimal D III Keperawatan dengan mayoritas Ners. Bahkan pada tingkat ini
diharapkan

sudah ada perawat specialis kepererawatan yang berada di ruang

MPKP.
MPKP Profesional III adalah MPKP semua

tenaga perawatnya

berlatar

belakang pendidikan Ners, beberapa perawat specialis Keperawatan, bahkan ada


doctor keperawatan yang bekerja di area MPKP ini.
Untuk level MPKP/SP2KP Pemula diharapkan Karu dan Katim diharpkan
mempunyai latar belakang pendidikan minimal D III Keperawatan dengan jenjang
karir minimal PK 3, serta seluruh perawat pelaksana minimal mempunyai latar

belakang pendidikan D III Keperawatan dan PK 1 (telah lulus orientasi). Untuk


level MPKP transisi diharapkan kondisinya sama dengan level pemula, tetapi latar
belakang pendidikan perawat pelaksana dapat SPK dengan jenjang karir minimal
PK 2.
Proses Rekrutmen Tenaga Perawat di Ruang MPKP:
1) Seluruh Perawat di RS harus menyepakati level MPKP yang akan dipilih
disesuaikan dengan sumber daya keperawatan yang ada

di RS tersebut,

diharapkan minmal memilih SP2KP level pemula.


2) Setelah level disepakati, maka kepala bidang keperawatan melakukan sosialisasi
pembentukan ruang SP2KP kepada pimpinan dan para pejabat setruktural yang
ada di RS untuk mendapatkan komitmen dan dukungan.
3) Kepala Ruangan melakukan sosialisasi kepada semua perawat yang ada di
ruangan tentang pembentukan

ruang MPKP disertai (criteria perawat yang

dibutuhkan dengan tujuan merekrut perawat yang memenuhi criteria). Kepala


ruangan memotivasi perawat di ruangannya

yang memenuhi criteria untuk

mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran.


Sebelum menetapkan proses rekrutmen perlu ditetapkan jumlah perawat

yang

dibutuhkan, jenis tenaga perawat terdiri dari : kepala ruangan (Karu), perawat primer
(PP), sebagai ketua tim (Katim). Dan Perawat Pelaksana / Perawat Associat (PA).
Perbandingan pasien dengan perawat adalah 1:1 atau 1,7 :1 di tambah Karu. Kriteria
dari tiap tenaga perawat ditetapkan, dan secara umum perawat berlatar belakang
pendidikan D III Keperawatan.
Adapun kriteria perawat yang akan bekerja di ruang MPKP adalah:
1) Kepala Ruangan, Kriterianya adalah:
a) Pendidikan minimal S-1 Keperawatan, jika belum ada pada masa transisi boleh
D III Keperawatan.
b) Pengalaman menjadi kepala ruangan minimal 2 tahun, dan bekerja pada area
keperawatan minimal 2 tahun.
c) Sehat jasmani dan rohani.
d) Pernah mengikuti peltihan :
(1) Kurus /pelatihan/workshop tentang MPKP, keperawatan dasar sesuai bidang
keilmuannya ( misal, untuk ruangan bedah kursus perawatan luka modern (CWCC)
dll.
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

Kursus standar asuhan keperawatan baik umum maupun khusus


Pelayanan prima dalam keperawatan
Komunikasi keperawatan
Bimbingan Klinik (untuk RS pendidikan).
Lulus test tulis
Lulus wawancara
Lulus test presentasi

2) Perawat Primer, Kriterianya adalah:


a) Pendidikan minimal S-1 Keperawatan (Perawat Primer), jika belum ada pada
masa transisi boleh D III Keperawatan (Perawat Primer Pemula).
b) Pengalaman kerja di area keperawatan untuk D III Keperawatan minimal 2
tahun dan S-1 Keperawatan magang 3 bulan.
c) Sehat jasmani dan rohani
d) Pernah mengikuti pelatihan (sertifikat):
(1) Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP)
(2) Standar Asuhan Keperawatan/ audit keperawatan
(3) Komunikasi keperawatan
(4) Pelayanan prima dalam keperawatan
(5) Manajemen Keperawatan
(6) Lulus tet tulis
(7) Lulus tes wawancara
3) Perawat Pelaksana, Kriterianya adalah:
a) Pendidikan minimal D III Keperawatan
b) Pengalaman kerja di ruangan perawatan minimal 1 tahun
c) Sehat jasmani dan rohani
d) Pernah mengikuti pelatihan (sertifikat) : asuhan keperawatan yang relevan dan
pelatihan pelayanan prima dalam keperawatan
e) Lulus test tulis
f) Lulus test wawancara
b. Proses Seleksi Tenaga Perawat di Ruang MPKP
Proses seleksi perawat di ruang MPKP:
1) Proses seleksi dimulai dari telaah dokumen untuk menetapkan perawat yang
memenuhi syarat menjadi kepala ruangan, perawat primer, ketua tim, dan perawat
pelaksana.
2) Semua perawat yang memenuhi criteria dipanggil untuk test tulis. Hasil test tulis
menetapkan perawat pelaksana yang memenuhi criteria dan bakal calon ketua tim
dan kepala ruangan.
3) Perawat yang lulus test tulis mengikuti test wawancara
4) Tahap seleksi berikutnya adalah presentasi yang diikuti oleh perawat yang
memenuhi kritria Karu dan Katim untuk memilih kepala ruangan.
Test tulis dilakukan oleh orang yang independen. Materi test adalah pengetahuan
perawat terkait dengan konsep MPKP. Test ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui sejauh mana pengetahuan perawat tentang konsep MPKP. Jumlah yang
lulus disesuikan dengan kebutuhan perawat di ruang MPKP dengan nilai yang
tertinggi.
Wawancara dilakukan oleh tim RS yang terdiri dari bagian administrasi, dan bidang
Keperawatan dengan menggunakan panduan wawancara. Test wawancara ditunjukkan
pada bakal calon Karu, Perawat Primer dan Perawat Pelaksana.
Tujuan wawancara kepada calon karu dan Katim untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan mereka terhadap konsep manajemen, asuhan keperawatan, kemampuan

menyelesaikan konflik, motivasi dan disiplin. Wawancara kepada calon perawat


pelaksana dilakukan

untuk mengetahui sejauh mana

pengetahuan terhadap

pengelolaan asuhan keperawatan, motivasi dan disiplin.


Presentasi dilakukan oleh calon Karu dan Katim. Tim penilai terdiri dari konsultan
bidang keperawatan, Bagian Personalia, Pimpinan RS.
Presentasi berisi: visi, misi dan program kerja sesuai standar MPKP yang akan
dijalankan jika terpilih sebagai Karu. Kemudian semua nilai direkapitulasi (lampiran
60 dan hasilnya dikonsultasikan pada pimpinan RS untuk menetapkan kepala ruangan
(Karu). Jika nama dan jumlah perawat telah ditetapkan sesuai dengan hasil test maka
pimpinan RS membuat Surat Keputusan (SK) penempatan perawat yang bekerja di
ruang MPKP.
Sebelum perawat bekerja di ruang MPKP, mereka diminta untuk membuat pernyataan
akan kesediaan bekerja dan mengembangkan ruang MPKP dan menandatanganinya
Perawat diberian penjelasan tentang lingkup kerja dan pengembangan karir.
c. Proses Orientasi Tenaga Perawat di Ruang MPKP
Setiap Perawat yang akan bekerja di ruang MPKP harus melalui masa orientasi yang
sering disebut pelatihan awal sebelum seseorang bekerja pada unit kerja tertentu.
Orientasi berupa peltihan tentang informasi budaya kerja MPKP dan informasi umum
tentang Rumah sakit (visi, misi, program jangka pendek dan jangka panjang, program
mutu, kebijakan dan peraturan). Kegiatan orientasi menggunakan metode Kalisikal
praktik lapangan dan praktik kerja (implemntasi).
Metode klasikal berlangsung selama 3 hari, praktek lapangan berlangsung 3 hari yang
diakhiri dengan presentasi hasil praktik. Praktik kerja (implementasi) di ruangan
MPKP dilakukan selama 6 bulan. Kepala bidang keperawatan dan tim konsultan akan
membimbing dan mensupervisi implementasi konsep MPKP.
Kegiatan orientasi dilakukan pada perawat baru yang akan bekerja di ruang MPKP.
Karu dan Katim membuat rencana orientasi menggunakan metode on the job training
untuk semua kegiatan MPKP.
d. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja di ruang MPKP ditujukan pada kepala ruangan, perawat primer, dan
perawat asociat. Kemampuan setiap SDM dievaluasi dengan menggunakan supervisi
baik secara langsung (observasi) maupun tidak langsung (melalui dokumentasi).
Kinerja kepala ruangan disupervisi/dievaluasi oleh kepala Bidang Perawatan dan Tim
Konsultan Keperawatan. Kinerja Perawat Primer disupervisi/dievaluasi oleh Kepala
Bidang

Perawatan

dan

Kepala

Ruangan.

Kinerja

disupervisi/dievaluasi oleh Kepala Ruangan dan Perawat Primer.

Perawat

Pelaksana

Kepala Bidang Perawatan bertanggung jawab mengobservasi

dan menilai

keberlangsungan seluruh aktivitas di ruang MPKP. Selama melakukan supervise di


ruang MPKP Kepala Bidang Keperawatan didampingi oleh Tim Konsultan
Keperawatan.
e. Pengembangan Tenaga Perawat
Pengembangan tenaga perawat merupakan salah satu proses yang berhubungan
dengan manajemen SDM. Tujuan pengembangan tenaga perawat adalah membantu
masing-masing perawat

mencapai kinerja sesuai dengan posisinya dan untuk

pengakuan/penghargaan terhadap pengakuan rofesional tenaga perawat yang akan


memaksimalkan pencapaian jenjang karir. Bentuk pengembangan tenaga perawat di
ruang MPKP adalah Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB) dan program
pengembangan jenjang karir.
Pada tiap awal bekerja di ruang MPKP, perawat mendapat penjelasan tentang proses
pengembangan yang dapat diikuti. Berikut uraian tentang lingkup kerja perawat di
MPKP yaitu:
Kepala Ruangan
a. Masa percobaan 3 bulan
b. Setiap tahun dilakukan evaluasi
c. Bila waktu 2 tahun berhasil maka akan diusulan hal-hal beriut sesuai dengan
1)
2)
3)

kebijakan dan kemampuan Rumah Sakit:


Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
Mengikuti pelatihan sesuai dengan program jenjang karir
Mendapat sertifikat pengalaman kerja di ruang MPKP
d. Masa kerja karu 2 tahun dan maksimal menjadi Karu 2 kali
Perawat Primer/Ketua Tim
a. Masa percobaan selama 3 bulan
b. Setiap tahun dievaluasi
c. Bila dalam waktu 2 tahun berhasil dan memenuhi criteria maka akan diusulkan
hal-hal sebagai berikut sesuai kebiakan dan kemampuan Rumah Sakit:
1) Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
2) Magang persiapan menjadi kepala ruangan
3) Mengikuti pelatihan sesuai dengan program jenjang karir
4) Mendapat sertifikat pengalaman kerja di ruang MPKP
d. Menduduki jabatan sebagai perawat primer selama 2 tahun untuk I kali kurun
waktu. Jika tidak ada kesempatan promosi maka kembali menjadi perawat
pelaksana tetapi kemampuan yang baik.
Perawat Pelaksana
a. Masa percobaan 3 bulan
b. Setiap 6 bulan dilakukan evaluasi
c. Jika kompetensi tidak tercapai diberikan kesempatan perbaikan selama 2 bulan

d. Bila lebih 8 bulan yang bersangkutan tidak berhasil akan dikembalikan di bidang
Keperawatan.
e. Bila dalam 1 tahun berhasil memenuhi criteria diusulkan untuk pelatihan
f. Bila memenuhi keterampilan merawat 10 macam kasusu dengan masalah sesuai
bidang penyakit di ruangan dipersiapkan magang untuk persiapan perawat primer.
Pendidikan keperawatan berkelanjutan dapat berupa pendidikan formal, yaitu
peningkatan pendidikan dari D III Keperawatan ke S-1 Ners Keperawatan. Atau S-1
Ners Keperawatan ke S-2/spesialis Keperawatan dan seterusnya. Selain itu PKB
dapat berupa pendidikan informal melalui on the job training atau out the job
training.
out the job training yaitu pelatihan yang diselenggarakan dalam kurun waktu tertentu
(misalnya pelatihan 4 hari/lebih), perawat harus meninggalkan pekerjaannya
sementara. Pelatihan yang diikuti oleh perawat

akan dirancang sesuai dengan

pengembangan kemampuan yang terkait.


Pengembangan jenjang krir adalah pengembangan peran dan tanggung jawab .
seorang baru yang telah sukses

mengembangkan ruang MPKP merupakan asset

keperawatan untuk mengembangkan MPKP di ruang rawat lain, artinya menjadi


pembaharu. Ia dapat pula perperan sebagai nara sumber bagi rumah sakit lain yang
ingin mengembangkan MKP. Perawat Primer/Katim dapat berkembang menjadi
kepala ruangan, dan perawat pelaksana

dapat berkembang menjadi perawat

primer/katim.
Sesuai dengan jenjang karir yang dikembangkan oleh PPNI dan Direktorat
Keperawatan Depkes RI maka di RS program pengembangan karir

di RS

direncanakan sebagai berikut:


a. Perawat Lulusan D III Keperawatan hanya dapat berkembang mencapai perawat
klinis 2 (PK2) dan perawat manajer 1 (PM1)
b. Perawat Lulusan S-1 Ners Keperawatan

dapat berkembang sampai jenjang

perawat klinis 3 (PK 3). Perawat manajer 2 (PM 2), dan perawat Pendidik 1 (PP
1).
c. Perawat lulusan S-2 / Spesialis Keperawatan dapat berkembang sampai PK 5, PM
5, PP 4 dan Perawat Riset 3 (PR 3).
d. Perawat lulusan S-3 Keperawatan/ kesehatan dapat berkembang sampai jenjang PK
5, PM 5, PP 5, PR 5 dengan syarat pendidikan sebelumnya adalah bidang
Keperawatan.