Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Segala puji selayaknya penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas nikmat, karunia dan kemudahan dari-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah
berjudul Rencana Pengelolaan Lingkungan PT. Carrefour Indonesia ini.
Makalah ini berkenaan dengan tugas akhir dalam mata kuliah Ilmu Lingkungan
yaitu dalam pembelajaran rencana pengelolaan lingkungan serta analisa mengenai dampak
lingkungan. Selain sebagai pemenuhan tugas pembuatan makalah, penulis berharap
makalah ini dapat memberikan manfaat sebagai sumber pengetahuan mengenai
pengelolaan lingkungan untuk rencana hyrpermart.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada . selaku dosen
pembimbing mata kuliah Ilmu Lingkungan, kepada Akbar Yudhanto, Teknologi Bioproses
2009, selaku asisten mata kuliah, dan kepada semua pihak yang telah membantu
penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
Namun demikian, makalah ini tentu saja tidak lepas dari kekurangan dan
kesalahan, karenanya penulis menerima kritik dan saran positif yang dapat membantu
memperbaiki makalah ini untuk ke depannya. Terima kasih dan semoga bermanfaat.
Depok, Mei 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................................ ii


DAFTAR ISI ................................................................................................................................... iii
Bab I.

Pendahulan ....................................................................................................................... 1

Bab II.

Pembahasan ..................................................................................................................... 2
2.1. Deskripsi Kegiatan .................................................................................................... 2
2.2. Rona Lingkungan ...................................................................................................... 7
2.3. Perkiraan Dampak..................................................................................................... 9

Bab III. Rencana Pengelolaan Lingkungan ..................................................................................... 14


3.1. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Pra Konstruksi ........................................ 14
3.2. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Konstruksi .............................................. 14
3.3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Operasi ................................................... 15
3.4. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Pasca Operasi ......................................... 20
Bab IV. Rencana Pemantauan Lingkungan ..................................................................................... 23
4.1. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Pra Konstruksi ........................................ 23
4.2. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Konstruksi .............................................. 23
4.3. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Operasi ................................................... 26
4.4. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Pasca Operasi ......................................... 27
Bab V.

Penutup ............................................................................................................................ 29

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 30


LAMPIRAN .................................................................................................................................... 31

BAB I
PENDAHULUAN
Pusat perbelanjaan kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat Indonesia, menjadi alternatif bagi masyarakat selain pasar tradisional untuk
memenuhi kebutuhan akan keperluan sehari-hari. Pusat perbelanjaan dengan mudah
ditemukan didaerah perkotaan dengan berbagai skala dari minimarket hingga skala
hypermarket (skala besar) yang memberikan pengalaman berbelanja one stop shopping
yang menyediakan hampir semua kebutuhan masyarakat. Asosiasi Pusat Belanja Indonesia
(APBI) mencatat terdapat 170 pusat perbelanjaan yang berdiri di Jakarta hingga akhir
2011. Research Colliers International Indonesia memperkirakan selama tahun 2012-2013
di Jakarta akan ada tambahan 21 pusat perbelanjaan baru dengan total luas lantai 827.376
2

m.
Fenomena pertumbuhan pusat perbelanjaan ini di satu sisi memberikan masyarakat
kemudahan untuk berbelanja dan menjadi penggerak ekonomi di suatu daerah karena
menambah lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Di sisi lain pusat perbelanjaan yang
memberikan fasilitas yang nyaman ini dapat menggusur peran pasar tradisional yang
sebagian besar diisi oleh pedagang menengah ke bawah. Pusat perbelanjaan yang
mengkonsumsi lahan dalam jumlah yang besar ini mengurangi daerah resapan air dan
ruang hijau terbuka di daerah perkotaan. Kemacetan jalan disekitar lokasi pusat
perbelanjaan juga menjadi dampak negatif yang tidak mudah untuk diatasi.
Pusat perbelanjaan menggunakan sumber daya seperti listrik, air dan bahan bakar
secara massif. Limbah air dari satu pusat perbelanjaan dapat mencapai angka 2.200
3

m /bulan (Badan Pengelola Lingkungan Hidup, 2010) cukup untuk kebutuhan minum
30.000 orang untuk 1 bulan dan konsumsi listrik mencapai 40 Megawatt/bulan.
Konsumsi sumber daya dan produksi limbah yang besar dari pusat perbelanjaan ini
perlu direncanakan dengan baik penggelolaannya yang tertuang dalam Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL) hypermart. Dengan demikian, dampak negatif dari
kehadiran hypermart pada lingkungan dapat diminimalisasikan, sehingga keuntungan dari
pembukaan hypermart dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas dari berbagai aspek.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Deskripsi Kegiatan
2.1.1. Gambaran Umum Hypermarket (Carrefour ITC Depok)
Rencana Pengelolaan Lingkungan untuk hypermart (pusat perbelanjaan skala
besar) ini disusun dengan mengambil PT. Carrefour Indonesia yang berlokasi di ITC
Depok Jawa Barat, sebagai objek. PT. Carrefour Indonesia, Depok yang berdiri sejak
Agustus 2005. Carrefour didirikan oleh keluarga Fournier dan Defforey. Keluarga ini
pada awalnya membuka sebuah supermarket di kota Annecy, Haute-Savoie, Peranci
pada tahun
1960. Pada tahun 1962, sebuah keluarga yang menjadi pelopor berdirinya Promodes,
Paul Auguste Halley, juga membuka supermarket di kota Mantes-la-Ville, Perancis.
Walaupun berbeda kota, tetapi kedua keluarga ini ternyata bersaing. Masing-masing
ingin menjadi yang pertama. Bila keluarga Fournier dan Defforey membuka cabang di
kota lain, maka keluarga Promodes pun tak mau kalah.
Tahun 1963, keluarga Fournier dan Defforey mengalami selisih paham yang
mengakibatkan keluarga ini pecah. Padahal keluarga ini telah merencanakan untuk
memperluas pangsa pasar mereka, yaitu dengan membangun sebuah hypermarket.
Kesempatan ini dipakai oleh keluarga Promodes. Keluarga Promodes ini mengaja salah
satu anggota keluarga Fournier dan Defforey untuk bekerja sama. Anggota keluarga
Fournier dan Defforey tersebut membocorkan rencana pembangunan hypermarket yang
bernama Carrefour ke keluarga Promodes. Mendengar rencana itu, keluarga
Promodes langsung bergegas mendahului pembangunan hypermarket Carrefour di
Perancis. Akan tetapi, ketika pembangunan hampir selesai, keluarga Fournier dan
Defforey telah mengumumkan pembukaan hypermarket mereka yang diberi nama
Carrefour.
Pengumuman tersebut membuat keluarga Promodes terkejut. Pasalnya, mereka
sudah menancapkan tiang nama yang sebenarnya juga ingin memakai nama
Carrefour. Hal ini membuat keluarga Promodes harus memutar otak mencari nama
lain yang juga terdiri dari 9 (sembilan) huruf. Lalu muncullah nama Continent.
Persaingan masih tetap berlanjut. Masing-masing saling memperluas pangsa pasar
mereka. Selain dengan membuka cabang di negara-negara lain, mereka juga membuat
berbagai jenis produk dan layanan jasa.
Carrefour dan Continent masuk ke Indonesia pada tahun 1998. keberadaan
mereka di Indonesia adalah berawal dari undangan para pengusaha Indonesia untuk
memperkenalkan konsep hypermarket pada masyarakat Indonesia dengan tujuan
membangkitkan investasi asing sebagai usaha perbaikan perekonomian semenjak dilanda

krisis ekonomi pada tahun 1997. Adanya persetujuan pemerintah Indonesia dengan IMF
pada tanggal 15 Agustus 1998 membuka kesempatan kepada para ritel asing untuk
membuka usaha di Indonesia yang ditetapkan dengan Kepres No. 99 tahun 1998. Hal ini
menjadi awal yang positif bagi Carrefour dan Continent untuk membuka bisnis
hypermarket di Indonesia.
Carrefour

Indonesia

dibuka

pada

bulan

Oktober 1998 di Cempaka Putih. Dan pada saat yang


bersamaan, Continent juga dibuka di Pasar Festival.
Keduanya berlokasi di Jakarta. Tanggal 14 Oktober
1998, keluarga penerus Carrefour dan Continent
memutuskan untuk bersatu dengan memakai logo
yang sama, yaitu logo Carrefour. Carrefour artinya
adalah persimpangan jalan. Semua Carrefour yang
ada di Indonesia dibangun di persimpangan jalan,
baik itu persimpangan besar maupun persimpangan kecil. Lambang Carrefour terdiri dari 2
(dua) warna, yaitu merah dan biru. Warna merah artinya stop. Warna biru artinya
kesuksesan. Lambang Carrefour ini membentuk huruf C dan memiliki anak panah biru.
Maksudnya, setiap orang yang lewat akan berhenti dan menuju ke arah kesuksesan.
Saat ini Carrefour telah membuka 20 toko. Berikut adalah toko-toko Carrefour
yang ada di Indonesia :
Agustus
14 Oktober
2004 1998
: Carrefour
: Carrefour
Permata Cempaka
Hijau
Putih
15 Maret 1999

: Carrefour Pluit Mega Mall

13 Juli 1999

: Carrefour Cempaka Mas

24 Agustus 1999

: Carrefour Duta Merlin

22 Maret 2000

: Carrefour Ratu Plaza

29 Juni 2000

: Carrefour MT. Haryono

12 September 2001

: Carrefour Lebak Bulus

Juli 2002

: Carrefour Puri Indah

Oktober 2002

: Carrefour Ambassador

16 Juni 2003

: Carrefour Mollis

Mei 2004

: Carrefour Golden City

Agustus 2004

: Carrefour Palembang Square

25
September 2004

: Carrefour Medan Fair

September 2004

: Carrefour Mangga Dua

Oktober 2004

: Carrefour Makasar

1 Mei 2005

: Carrefour BSD

24 Agustus 2005

: Carrefour Depok

26 September 2005

: Carrefour Taman Palem

8 Desember 2005

: Carrefour Cikokol

PT. Carrefour Indonesia memiliki bisnis utama sebagai peritel yang menyediakan
kebutuhan sehari-hari masyarakat dengan menyediakan sendiri sarana-prasarana yang
dibutuhkan dalam skala besar. PT. Carrefour Indonesia menggunakan konsep supermarket
dalam operasionalnya dan membuka berbagai cabang di kota-kota besar di Indonesia.
Communication

Goods/Services
Industry (a collection
of sellers)

Market (a collection
of buyers)
Money

Information
Gambar 2. Sistem Pemasaran (juga dianut oleh PT Carrefour Indonesia dalam perannya
sebagai pihak industri dan market)
(Sumber. Kotler. 2003. Principals of Marketing Industry. New York : Prentice Hall)

PT. Carrefour Indonesia dengan kegiatan operasionalnya yang dilakukan dengan


skala besar, dapat dengan mudah mempengaruhi lingkungan karena besarnya sumber daya
dipakai. Limbah yang dihasilkan pun dalam skala besar yang memerlukan usaha
pengelolaan khusus agar dapat meminimalisir dampaknya pada lingkungan. Selain
kegiatan operasionalnya sendiri. Dengan sarana dan prasarana skala besar yang dibutuhkan
agar kegiatan operasional dapat berjalan, maka tahapan prakonstruksi dan konstruksinya
sendiri pun harus dikelola dengan baik dari aspek lingkungan.

Kegiatan-kegiatan dati prakonstruksi hingga operasional akan menghasilkan


dampak seperti produksi limbah air dan padat, limbah di udara, dampak pada lalu lintas,
dan lain-lain. Pada pembahasan Rencana Pengelolaan Lingkungan ini akan diuraikan dari
dampak dan pengelolaan serta pemantauan dari tahap prakonstruksi hingga tahap
operasional yaitu saat kegiatan perdagangan telah dimulai.
2.1.2. Alur Kegiatan (Metode Penelitian)

PROYEK

ANALISA

Ada
Dampak
Penting

Wajib AMDAL

Tidak Ada
Dampak
Penting

Tidak wajib AMDAL

Gambar 3. Flowchart awal (kerangka pemikiran)

Menurut UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP No.


27/1999 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup,
dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan. Hal hal
yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial
budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha
dan/atau kegiatan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan
bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, di sisi
lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha
dan/atau kegiatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar

dan penting terhadap lingkungan hidup, baik dampak negatif maupun dampak positif yang
akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk
menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif.
Begitu pula pada proyek hypermart (Carrefour ITC Depok), yang memiliki dampak
yang cukup signifikan bagi kehidupan sosial-budaya masyarakat sekitar proyek termasuk
bagi lingkungan. Lokasinya yang berada tepat ditengah kota Depok, dan langsung
berhubungan dengan alur kehidupan masyarakat menjadi penyebab utama mengapa
pembagunan hypermart ini bersifat wajib AMDAL. Hal ini sesuai dengan PP No. 27/1999
pasal 3 ayat 1 yang menerangkan bahwa, usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat
menimbulkan dampak besar d an penting terhadap lingkungan hidup meliputi :
a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam
b. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharu
c. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan,
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam
dalam pemanfaatannya;
d. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam,
lingkunganbuatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
e. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempe ngaruhi pelestarian kawasan
konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya.
Setelah proses penentuan wajib atau tidaknya AMDAL bagi proyek ini, kemudian
kegiatan berlanjut pada pelaksanaan AMDAL itu sendiri.
Tujuan secara umum AMDAL adalah menjaga dan meningkatkan kualitas
lingkungan serta menekan pencemar an sehingga dampak negatifnya menjadi serendah
mungkin. Dengan demikian AMDAL diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang pelaksanaan rencana kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan
hidup. Untuk proses pelaksanaan AMDAL dapat dilihat dibawah ini.
Pelingkupan
KA AMDAL
AMDAL
RKL
RPL
Gambar 4. Flowchart (tahapan) kegiatan

Keterangan :
a. Pelingkupan adalah proses pemusatan studi pada hal hal penting yang berkaita
dengan dampak penting.
b. Kerangka acuan (KA AMDAL) adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai
dampak lingkungan hidup y ang merupakan hasil pelingkupan.
c. Analisis dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah telaahan secaracermat dan
mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan.
d. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana
usaha dan/atau kegiatan.
e. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan
komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar da n penting akibat dari
rencana usaha dan/atau kegiatan.
Kedua flowchart pada penjabaran di ataslah yang menjadi latar belakang
penyusunan makalah RKL Pembagungan Hypertmart Carrefour ITC Depok ini.
Makalah ini akan banyak mengaitkan kondisi masyarakat sekitar bagik dari segi sosialbudaya, ekonomi, hingga pelestarian lingkungan dengan harapan mampu meningkatkan
efektifitas AMDAL itu sendiri.
Seperti yang diketahui, Carrefour ITC Depok sebagai target proyek pada
penelitian ini terletak sebagi satu kesatuan bangunan dengan ITC Depok, maka dari itu
perlu ditekankan bahwa, dalam makalah ini diasuimsikan bahwa proyek (ITC Depok)
belum berdiri dan pihak Carrefour ikut terlibat dalam rangkaian proses pembagunan
proyek.
2.2. Rona Lingkungan
2.2.1. Komponen Tata Ruang
PT. Carrefour Indonesia, Depok terletak di pusat kota Depok, yaitu Jalan
Margonda Raya. Berbatasan secara langsung dengan Jalan Margonda Raya, Terminal
Pusat Depok, dan Stasiun Depok Baru. Luas lahan yang digunakan adalah 1 ha
(Gambar.10, Lampiran)
2.2.2. Komponen Kimia-Fisika
2.2.2.1. Keadaan Geografis

Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6 1900 6 2800


o

Lintang Selatan dan 106 4300 106 5530 Bujur Timur. Secara geografis,
Kota Depok berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta disebelah utara,
Kabupaten Bogor disebelah selatan, dan dikelilingi area kabupaten lain yang masih
dalam wilayah Provinsi jawa Barat (Gambar.11, Lampiran) atau berada dalam
lingkungan wilayah Jabotabek.
Bentang alam Kota Depok dari Selatan ke Utara merupakan daerah dataran
rendah perbukitan bergelombang lemah, dengan elevasi antara 50 140 meter
diatas permukaan laut dan kemiringan lerengnya kurang dari 15%. Kota Depok
sebagai wilayah termuda di Jawa Barat, mempunyai luas wilayah sekitar 200,29
2

km . Kondisi geografisnya dialiri oleh sungai-sungai besar yaitu Sungai Ciliwung


dan Cisadane serta 13 sub Satuan Wilayah Aliran Sungai. Disamping itu terdapat
pula 25 situ. Data luas situ pada tahun 2005 sebesar 169,68 Ha, dengan kualitas air
rata-rata buruk akibat tercemar.
2.2.2.2. Keadaan Iklim
PT. Carrefour Indonesia, Depok terletak di pusat Kota Depok yang
memiliki iklim tropis dengan perbedaan curah hujan yang cukup kecil dan
dipengaruhi oleh iklim musim. Secara umum musim kemarau antara bulan AprilSeptember dan musim hujan antara bulan Oktober-Maret.
Temperatur

: 24,3o-33oC

Kelembaban rata-rata

: 25 %

Penguapan rata-rata

: 3,9 mm/th

Kecepatan angin rata-rata

: 14,5 knot

Penyinaran matahari rata-rata

: 49,8 %

Jumlah curah hujan

: 2684 m/th

Jumlah hari hujan

: 222 hari/tahun

2.2.2.3. Komponen Sosial, Ekonomi, dan Budaya


PT. Carrefour Indonesia yang berbatasan langsung dengan areal publik seperti
jalan utama, terminal, dan stasiun menjadikan areal PT. Carrefour Indonesia
secara langsung terhubung dengan kehidupan masyarakat. Masyarakat di areal
tersebut bekerja sebagai pedagang baik skala kecil maupun skala menengah
yang tersebar di sekitar jalan utama, terminal dan stasiun (Gambar.12
Lampiran)

2.3. Perkiraan Dampak


2.3.1. Matriks Perkiraan Dampak
Tabel 1. Matriks Perkiraan Dampak Pembangunan Carrefour ITC Depok

Tahap Kegiata
Komponen Lingkungan

Pra Konstruksi
A

I. Aspek tata ruang


I.1. Tata guna lahan
I.2. Fasilitas Lingkungan

2/1

II. Komponen Fisika-Kimia


II.1. Kualitas Udara
II.2. Kebisingan
II.3. Kualitas Air (Permukaan)
II.4. Kondisi Geologis (lahan)

Konstruksi
C

3/3

1/2
1/2

+ 2/2

2/2

2/2

+ 1/2

IV.1.2 Struktur Mata Pencahariaan Penduduk


IV.1.3. Kesempatan Kerja
IV.1.4. Tingkat Pendapatan

1/2
1/2
1/2

2/2
+2/3
2/2

Keterangan :
Besaran Dampak
= kecil
= sedang
= besar

Kepentingan Dampak
= kurang penting
= penting
= sangat penting

Contoh :1/3 = Dampak negatif, besaran kecil [Kepentingan dampak sangat penting]
Pra Konstruksi
A. Survey dan Pengukuran Lahan
B. Pendataan demografi
C. Pembebasan lahan
Konstruksi
A. Mobilisasi peralatan dan bahan
B. Rekruitmen tenaga kerja

1/1
1/2

2/2

+ 2/2
1/2

1/2

-2/1
-2/1
-1/1
-1/1

2/2
-1/1

1/1

Tahap Kegiatan

+1/2

IV.Sosial Ekonomi
IV.1.1. Pendapatan Daerah

1
2
3

-1/1

III. Sosial Budaya


III.1. Sikap Hidup

1
2
3

-1/3
-1/3

II.5. Energi listrik

III.2. Persepsi Masyarakat


III.3. Keamanan dan Ketertiban
III.4. Kesehatan Masyarakat

-1/1
-1/1
-1/1

+ 1/1

1/1
1/2
1/2
2/2

1/1
1/1

C. Penyiapan lahan
D. Pembangunan sarana dan prasarana
Operasi
A. Perubahan daya guna lahan
B. Rekruitmen tenaga kerja
C. Instalasi air bersih
D. Persepsi masyarakat mengenai kesehatan dan keamanan
Pasca Operasi
A. Pembuangan limbah padat
B. Penurunan nilai estetika
C. Interaksi masyarakat dan pengunjung
2.3.2. Perkiraan Dampak pada Tahap Prakonstruksi
Kegiatan pada tahap pra-konstruksi berupa kegiatan survei dan pengukuran,
penetapan batas-batas proyek bangunan dan perencanaan site plant. Dampak yang paling
potensial saat kegiatan pra-konstruksi adalah pendataan demografi dan sosialisasi konsep
pasar modern, masalah tanah yaitu penetapan batas-batas wilayah dan lahan dan persiapan
teknik birokrasi. Kemungkinan terhadap dampak negatif dapat dilihat pada sisi keresahan
yang timbul dikalangan masyarakat dengan adanya pembatasan wilayah, yang dapat

mengurangi mobilisasi masyarakat, apalagi di sekitar proyek terdapat terminal dan


lokasinya terletak tepat dipersimpangan, sehingga kemungkinan timbul kemacetan
yangssemakin parah. Setelah kegiatan pra-konstruksi ini dilalui maka, kegiatan selanjutnya
adalah tahap konstruksi.
2.3.3. Perkiraan Dampak pada Tahap Konstruksi
Tahap konstruksi yaitu tahap kegiatan pelaksanaan fisik/konstruksi pembangunan
dari mulai penerimaan tenaga kerja, mobilitas alat dan materi, persiapan lahan,
pembangunan gedung, sarana, dan prasarana.
1. Mobilisasi peralatan dan bahan, sebelum pembangunan konstruksi gedung dimulai,
terlebih dahulu dilakukan mobilisasi baik alat maupun material bangunannya. Hal
tersebut bertujuan agar jalannya kegiatan konstruksi tidak terjadi kendala.
Mobilisasi alat-alat dan material konstruksi berpotensi menimbulkan gangguan lalu
lintas berupa laju kendaraan yang terhambar dan kecelakaan lalu lintas.
Buldozer untuk pematangan tanah dan penyiapan jalan
Excavator untuk kebutuhan pengerukan
Truk dan dumptruck untuk mobilisasi alat dan bahan
Stoom Walls untuk pengerasan jalan
Mesin molen untuk cor
Alat-alat pertukangan
Aspek ini dapat menimbulkan dampak negatif selama tahap konstruksi karena akan
menimbulkan pencemaran udara (beberapa alat menghasilkan outpot sampingan
seperti asap), dan peningkatan level kebisingan termasuk peningkatan kemacetan
lalu lintas. Selain itu mobilisasi dari peralatan seperti Buldozer dapat merusak
keadaan jalan, karena kondisi aspal di sekitar proyek tidak cocok dengan beban
kendaraan yang melintasinya, dimana kondisi aspal di di setting untuk jalan raya
biasa.
2. Tenaga kerja, tenaga kerja yang diperlukan oleh proyek pembangunan terdiri dari
tenaga kasar dan tenaga kerja berkeahlian, seperti arsitek, dan tenaga teknik sipil.
Aspek ini dapat menimbulkan dampak positif dilihat dari kebutuhan tenaga kerjanya.
Tenaga ahli yang beragam dan berasal dari beberapa bidang keahlian jelas akan
mampu menyerap banyak tenaga kerja.
3. Kegiatan penyiapan lahan, pekerjaan dimulai dengan pembersihan lokasi dengan cara
pengerukan. Lalu diadakan survei dan pemetaan unutk mendapatkan batas-

batas tanah. Setelah peta diselesaikan, selanjutanya dilakuakan pematokan batas


tanah diikuti pembersihan lahan. Dari proses ini akan dapat menimbulkan dampak
negatif bila dilihat dari munculnya persepsi masyaraakat tentang proyek yang
sedang berlangsung. Persepsi masyarakat terhadap proyek yang baru dibangun
akan cenderung negatif sebab pola kehidupan dam mata pencaharian mereka yang
kebetulan terkait dengan lingkungan sekitar tiba-tiba saja berubah. Selain itu
persepsi yang muncul adalah mengenai gangguan kesehatan, kenyamanan, dan
keamanan akibat rangkaian proses pembangunan proyek. Disinilah proses
pengelolaan dengan mengandalkan pendekatan terhadap kehidupan social sangat
penting untuk dilakukan.
4. Pembangunan gedung, sarana dan prasarana utama, kegiatan pembangunan sarana
dan prasarana utama diawali dengan pembangunan jalan di lingkungan lokasi
kegiatan,

pembangunan

saluran

drainase

sederhana,

pembangunan

gedung,

pembangunan sarana sanitasi, tempat pembuangan sampah dan pembangunan


drainase permanen. hingga dokumen disusun. Dampak yang muncul dari proses ini
cenderung negatif sebab seluruh proses pembangunan memiliki resiko yang tinggi
akan munculnya gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar, dan menimbulkan
ancaman keselamantan serta kesehatan bagi pekerjanya.
2.3.4. Perkiraan Dampak pada Tahap Operasi
Kegiatan sebagai sumber dampak lingkungan yang akan timbul adalah : perubahan
daya guna lahan yang dapat memicu terjadinya konflik kepentingan, terjadinya
pengembangan perekonomian rumah tangga dan sumberdaya, timbulnya persepsi
masyarakat terhadap proyek baik positif maupun negatif, timbulnya penyakit akibat dari
pembangunan dan sistem instalasi air bersih yang dilakukan pihak terkait, dan perubahan
mata pencaharian. Perubahan mata pencaharian sebenarnya dari satu sisi dapat dilihat
sebagai dampak positif dengan adanya recruitment tenaga kerja untuk keseluhan kegiatan
operasi. Melalui proses ini akan tercipta kesempatan kerja baru, mata pencaharian dan
peningkatan pendapatan baru dari kegiatan operasi.
2.3.5. Perkiraan Dampak pada Tahap Pasca Operasi
Dampak pada tahap pasca operasi dapat dilihat pada proses pembuangan limbah.
Pengolahan limbah cair dapat mengurangi kualitas air dan limbah padat yang tidak melalui
proses pengelolaan dengan baik dapat meningkatkan timbunan sampah apda TPA sekitar.

Selain itu akan terjadi oeningkatan pencemaran udaran dan kebisingan akibat polutan yang
ditimbulkan oleh hasil pembakaran bahan bakar dari genset dan kendaraan pengunjung.
Di sisi lain, dampak negatif juga dapat dilihat dari penurunan nilai estetika akibat
ketidakpedulian pengunjung terhadapt kebersihan, seperti membuang sampah sembarangan,
merokok di area operasional, tidak menjaga kebersihan fasilitas penunjang seperti toilet.
Sirkulasi kendaraan keluar masuk yang tidak terkelola dengan baik menyebabkan kemacetan
dan penerangan yang tidak baik dijalur masuk keluar pada perparkiran basement dapat
menyebabkan kemacetan lalu lintas.
Dampak positif yang terdapat pada tahap ini dapat dilihat dari segi interaksi antar
karyawan ataupuan antara karyawan dan pengunjung. Hal ini dapat mengubah pola
kehidungan sosial masyarakat ke arah global sehingga masyarakat dapat memiliki pola
pemikiran yang lebih terbuka.

BAB III
RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Guna melaksanakan pengelolaan lingkungan yang baik sesuai dengan tujuan dan
sasaran yang diharapkan, diperlukan pedoman atau petunjuk pelaksanaan sebagai acuan
dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan berupa Rencana Pengelolaan
Lingkungan Hidup (RKL).
Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan bagian
dokumen AMDAL Reklamasi Pantai yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh pemrakarsa
dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan kawasan wisata pantai. Pelaksanaan RKL
juga diperlukan bagi pihak lain yang berkepentingan antara lain:
Institusi

Pemerintah

sebagai

perencana

kegiatan

pelaksana

dan

pengawas

pembangunan serta pengelolaan lingkungan hidup di wilayah reklamasi pantai dan


sekitarnya.
Masyarakat di sekitar lokasi reklamasi pantai terutama yang akan terkena dampak
penting.
Pemerhati lingkungan termasuk LSM, pakar dan masyarakat umum lainnya.
3.1. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Prakosntruksi
Dampak yang dapat terjadi pada tahapan ini yaitu potensi terjadinya konflik karena
penetapan batas-batas wilayah proyek antara pihak yang berkepentingan, misal masyarakat
sekitar. Pengelolaan yang dapat dilakukan antara lain :
a. Sosialisasi rencana kegiatan secara teratur
b. Penetapan batas-batas wilayah proyek dilakukan dengan kehadiran dari pihak-pihak yang
berkepentingan agar kedepannya tidak ada kesalahpahaman mengenai batas wilayah
masing-masing.
c. Pelaksanaan proses ganti rugi yang memadai, sesuai dengan perjanjian kedua belah
pihak, antara pelaksana pengelolaan dan masyarakat terkait, yang diawasi oleh instansi
pengawas terkait
3.2. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Konstruksi
Proses konstruksi melibatkan sejumlah peralatan berat seperti dumptruck, buldoser,
dan lain-lainnya. Pengoperasian sejumlah peraltan berat ini menyebabkan peningkatan
pencemaran udara yang berasal dari debu di sekitar lokasi pembangunan. Apalagi mengingat
bahwa depok merupakan daerah yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi, makal jalan
umum yang juga digunakan sebagai lintasan keluar masuk dumptruck dipenuhi oleh tanah
yang tersebar dari ban dumptruck yang keluar masuk ke lokasi pembangunan. Untuk
mengatasi hal tersebut, maka kontraktor pelaksana pembangunan Carrefour ITC Depok
melakukan upaya pengelolaan sebagai berikut :

a. Penyiraman lokasi di sekitar proyek sehingga debu yang beterbangan dapat


diminimalkan.
b. Pembersihan ban dumptruck yang keluar dari areal proyek sehingga tanah yang lengket
pada ban kendaraan tersebut dapat dikurangi dan tidak tercecer di sepanjang jalar raya
yang dilintasi kendaraan tersebut.
Dalam hal mobiliasasi peralatan, dampak yang muncul ialah mengenai kerusakan jalan
raya akibat mobilisasi kendaraan-kendaraan konstruksi seperti bulldozer dan dumptruck.
Dampak ini dapat diatasi dengan pengaturan beban dan ritasi kendaraan, pemasangan ramburambu lalu lintas (beban kendaraan maksimal) serta perbaikan jalan di sekitar tapak proyek.
Dampak lainnya mengenai gangguan lalu lintas hingga peningkatan angka kecelakaan dapat
diatas dengan pemasangan rambu-rambut lalu lintas (dengan kecepatan maksimal kendaran
yang melintas 20 km/jam), pengaturan dan ritasi kendaraan, pengaturan waktu kegiatan lalu
lintas material (dilaksanakan tidak pada jam sibuk, 06.00-08.00 dan 16.00-17.00) serta diikuti
dengan sosialisasi kegiatan (tahap konstruksi).
Pada tahap ini terdapat juga dampak positif dari rekruitmen tenaga kerja bangunan,
dimana hal ini dapat menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat sekitar, sebab akan
banyak tenaga kerja local yang terserap. Pengelolaan terhadap dampak ini dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut.
Penyuluhan kepada masyarakat tentang rencana kegiatan proyek dan manfaatnya pada
aspek kesempatan kerja, mata pencaharian dan pendapatan.
Memberikan prioritas tenaga kerja bagi masyarakat lokal, sepanjang memenuhi
persyaratan keterampilan yang dibutuhkan.
3.3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Operasi
Pada tahap ini, dampak yang paling krusial adalah instalasi air bersih, sebab proses ini
berdampak langsung bagi kualitas air bersih disekitar Carrefour ITC Depok. ITC depok secara
keseluruhan memiliki reservoir tempat penyimpanan air tertutup sebelum disistribusikan
untuk fasilitas sanitasi yang ada seperti kamar mandi, WC, tempat wuduk, dan westafel.
Sumber air bersih berasal dari air sumbur bor (deep well)

Kahuripan (PDAM ini menampung kebutuhan air bersih Depok dan Bogor hingga
pertengahan tahun 2012, dan PDAM kota Depok selesai pembangunannya). Disamping

digunakan untuk kebutuhan pengoperasian Carrefour, air bersih juga digunakan untuk
kebutuhan pertamanan dan hydrant kebakaran.

Pemantauan yang telah dilakukan oleh pengelola bangunan saat ini dalam
pengelolaan air bersih melalui pengujian kualitas air bersih yang digunakan secara regular.
Reservoir
Distribution

Alur
PDAM
Tirta Kahuripoan

Taman
WC
Westafel
Tempat wuduk
Kamar mandi

pengelolaan air bersih Carrefour ITC Depok.

Sumur bor

Carrefour ITC Depok


Hidrant

Gambar 5. (Asumsi) Skeka instalasi air bersih Carrefour ITC Depok

Dari proses instalasi ini, kemudian akan muncul limbah cair yang
pengelolaannya tentu perlu mendapatkan perhatian khusus sebab pengelolaan yang
tidak tepat akan menybabkan pencemaran air. Pengendalian pencemaran air adalah
upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air
untuk menjamin agar sesuai dengan baku mutu air. Tujuan pengelolaan limbah cair
adalah untuk mengendalikan agar tidak terjadi pencemaran air atau menghasilkan zero
pollution (tidak ada polutan dalam air). Oleh karenanya maka sasaran yang ingin
dicapai adalah agar mengusahakan agar jumlah limbah yang dihasilkan sekecil
mungkin dengan kadar kontaminan sekecil mungkin. Untuk mencapai tujuan ini, maka
tidak hanya proses pengelolaan yang dapat dilakukan, tetapi juga proses pengolahan.
3.3.1. Produksi Bersih (Pengelolaan Limbah Cair)
Limbah yang berasal dari pusat perbelanjaan (seperti Carrefour ITC
Depok) pada prinsipnya di lokalisasi agar tidak menyebar. Sekitar tahun 1970
limbah industri termasuk pertokoan ditangani dengan membuat instalasi
pengolahan limbah di tempat (end of pipe). Model ini disebut sebagai
penanganan limbah industri dengan sistem setempat. Pengolahan terhadap
limbah industri ini memerlukan biaya yang tidak kecil, sehingga berpengaruh
terhadap harga jual barang produksinya. Kemudian para industriawan
melakukan berbagai upaya, agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin dan
dengan memanfaatkan kembali limbah yang ada. Cara ini disebut dengan istilah
produksi bersih. Produksi bersih didefinisikan sebagai strategi pengelolaan
lingkungan yang bersifat preventif, proaktif, terpadu dan diterapkan secara
kontinyu pada setiap kegiatan mulai dari hulu sampai dengan ke hilir yang
terkait dengan proses produksi terhadap suatu produk dan atau jasa.
Industri /pertokoan yang dibangun di suatu kawasan disebut kawasan
industry (Carrefour ITC Depok terletak di tengah kota Depok, yang dikelilingi oleh
pertokoan dan fasilitas umum lainnya). Sistem penanganan limbah yang
dikembangkan adalah sistem penanganan limbah terpusat, dengan dibuatkan
jaringan air kotor dan berakhir di instalasi pengolahan limbah industri. Jenis
industri yang dibangun di kawasan industri ini bervariasi, sehingga kualitas limbah
yang dihasilkan juga bervariasi. Apabila disatukan (dicampur) limbahnya, akan
menyulitkan dalam proses pengolahan serta meningkatkan biaya investasi dan
biaya operasionalnya, yang mempengaruhi tarif pengolahan limbah. Bagi industri
yang limbahnya memang sulit diolah akan menguntungkan, sedangkan industri
yang tidak sulit diolahnya akan dirugikan. Oleh karenanya masing-masing industri

melakukan pengolahan pendahuluan, hingga efluen limbah sebelum masuk ke


jaringan air kotor telah memenuhi syarat tertentu.
Bagan penanganan limbah cair domestik digambarkan berikut ini :

Gambar 6. Penanganan limbah cair


(Sumber. Departemen Pendidikan Nasional, (2004). Buku acuan Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta)

3.3.2. Produksi Bersih (Pengolahan limbah cair)


Selain mengubah proses, penanggulangan pencemaran air secara teknik
juga dilakukan dengan pengolahan limbah sebelum dialirkan ke sungai .
pengolahan limbah adalah proses penghilangan bahan-bahan pencemar dari air
yang sebelumnya digunakan oleh industry, pertania, atau berbagai kegiatan di kota
seperti pertokoan, perkantoran, pemukiman, dan lain-lain. Pemerintah kini
mewajibkan setiap industry yang menghasiolkan limbah untuk membuat IPAL
(Instalasi Pengolahan Air Limbah).
Ada sejumlah metode dalam pengolahan limbah tergantung pada jenis
limbah yang akan diolah. Berikut adalah salah satu metode pengolahan limbah :
Pengolahan primer, biasanya mencakup penghilangan material-material
berukutan besar dengan menggunakan saringan atau disebut screening.
Pengolahan primer merupakan proses pengolahan pendahuluan untuk
menghilangkan padatan tersuspensi, koloid, serta penetralan yang umumnya
menggunakan proses fisika atau kimia.
Pengolahan sekunder, dilakukan untuk mneghilangkan material-material
berukuran lebih kecil dan partikel-partikel yang masih ada pada air limbah
melalui penyaringan dengan menggunakan alat seperti membrane atau

dengan munggunakan mikroba (secara biologi). Kedua teknik tersebut dapat


juga digunakan secara bersamaan untuk memecah partikel, sehingga
meningkatkan luas permukaan partikel dan dengan cara demikia mikroba
dapat bekerja lebih efektif. Langkah pertama dalam tahap sekunder biasanya
adalah megirimkan limbah ke tangki aerasi (aeration tank) atau tangki
pengudaraan.
Pengolahan tersier, menggunakna cara-cara kimia untuk membunuh kumankuman. Semakin banyak proses dalam pengolahan limbah biasanya akna
membuat limbah menjadi lebih bersih dari bahan-bahan pencemar. Dengan
demikian air yang masuk ke sungai, danau, atau lingkungan lainnya akan
lebih bersih. Namun, semakin banyak proses atau langkah berarti semakin
besar biaya untuk mengoperasikan dan memelihara peralatan pengolah
limbah.

Gambar 7. Proses Pengolahan Air Limbah


(Sumber. http://earthpeace.com/image&/wastewater.png, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.19)

Di samping pengelolaan air limbah, Pengelolaan kebersihan dan penghijauan


lingkungan juga dilakukan untuk menjaga lingkungan Carrefour ITC Depok tetap tertata
rapi dan bersih. Pengelolaan kebersihan dilakukan dengan mengeluarkan beberapa
peraturan yang ditujukan kepada masyarakt pengguna untuk tetap menjaga kebersihan
pasar, seperti larangan buang sampah sembarangan, larangan merokok di bagian dalam
bagunan, dan lainnya. Di samping itu pengelolaan penghijauan dilakukan dengan
mempertahankan tetap adanya ruang terbuka hijau di sekitar bangunan. Penghijauan yang
dilakukan saat ini masih sangat terbatas kepada penanaman pohon pelindung di depan ITC
Depok yang juga diharapkan dapat menjadi buffer kebisingan dan pencemaran udara dari
aktivitas Carrefour ITC Depok seperti operasional genset.

Pembangunan pertokoan berlantai lima pada lahan seluas 32.000 m ini


memerlukan kebijakan yang mendasar dalam menyediakan lapangan parkir kendaraan.
Lapangan parkir itu diperlukan baik untuk pemilik kios serta pengunjung. Diperlukan
luasan tertentu sesuai dengan proyeksi pengelola toko dan pengunjung yang bakal
memanfaatkan lahan parkir tersebut. Selain luasnya, juga diperlukan cara-cara pengaturan
parkir hingga menjamin sirkulasi kendaan keluar masuk yang lancar, dan tidka
menimbulkan hambatan pada lalu lintas umum. Pengelolaan yang telah dilakukan adalah
dengan menyediakan area parkir pada basement bangunan ITC Depok. Namun,
pemanfaatan lapangan parkir sepertinya tidak dikelola dengan baik sebab dapat diihat
dengan kasat mata bahwa lebih banyak kendaraan yang parkir di seputaran Carrefour ITC
Depok dibandingkan dengan kuantitas jumlah kendaraan yang parkir di area yang
disediakan.
3.4. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Pasca Operasi
Dampak yang paliung krusial pada tahap ini adalah pembuangan limbah padat.
Limbah padat sering disebut juga sebagai sampah. Limbah padat umumnya mengandung
unsur bahan pencemar dengan konsentrasi yang bervariasi. Apabila limbah padat di
kembalikan ke alam dalam jumlah besar atau terakumulasi/menumpuk di alam, maka
akan mengganggu keseimbangan ekosistem alam.
Prinsip pengelolaan limbah padat dimulai pada sumbernya. Yang paling baik
dilakukan adalah mengurangi jumlah limbah padat melalui pengelolaan sumbernya.
Dengan demikian, limbah tidak cepat bertambah tetapi dapat dikurangi. Ada beberapa cara
untuk meminimisasi dampak yang merugikan lingkungan akibat pembuangan limbah padat
yaitu: (1) mengurangi penggunaan bahan baku dalam proses pengolahan industri, (2)
mengurangi jumlah limbah padat yang dihasilkan dengan cara antara lain tidak mudah
mengganti-ganti perabotan rumahtangga, (3) penggunaan kembali material limbah padat,
(4) pemulihan material limbah padat, (5) pemulihan energi limbah padat dan (6)
pengelolaan limbah padat yang berkesinambungan.
Kegiatan minimisasi limbah padat berpedoman pada konsep pelaksanaan
pembangunan yang sustainabel. Pembangunan yang sustainabel adalah pembangunan yang
menghemat sumberdaya alam dan pembangunan yang memberi nilai tambah sumberdaya
alam.

Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan dua upaya secara simultan, yaitu :
Melakukan penghematan pemanfaatan sumberdaya alam melalui berbagai upaya
antara lain pemanfaatan kembali (reuseability), mengganti sesuatu yang lebih
hemat dan lebih aman (replacement), menolak sesuatu yang membahayakan
keselamatan hidup (refusal), memperbaiki yang kurang sesuai (repair), menyusun
struktur yang tidak sesuai (reconstruct), memperpanjang umur sesuatu
(redurability), mengurangi limbah (reduce), memanfaatkan kembali limbah yang
masih dapat dimanfaatkan (recycle), mentransformasi limbah (recovery) dan
sebagainya.

Gambar 8. Diagram dari hirarki limbah


(Sumber. http://id.wikipedia.org/ Waste_hierarchy.svg, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.21)

Memberi nilai tambah sumberdaya alam yang kita manfaatkan. Misalnya dengan
menghasilkan produk yang lebih unggul, memproduksi barang atau jasa yang lebih
tinggi nilainya, dan sebagainya.
Proses penanganan limbah berawal dari penghasil limbah (sumber limbah). Pada
tahap ini diperlukan identifikasi limbah padat apakah masih memiliki nilai atau langsung
dibuang ke TPA (tempat pembuangan / penataan akhir). Limbah padat yang masih
memiliki nilai (mis, kertas, plastik, limbah organik) di proses lanjut ( daur ulang,
pemanfaatan kembali, dll), sedangkan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi
dikumpulkan dalam bak sampah (penyimpanan on site) menunggu diambil oleh
petugas pengumpul sampah. Petugas pengumpul sampah ini menggunakan gerobak
sampah untuk memindahkan sampahnya ke tempat penampungan sementara (TPS) dan
selanjutnya dengan truk sampah diangkut ke TPA. Namun ada juga dari penyimpanan
on site ini langsung diangkut oleh truk sampah ke TPA.
Kegiatan pemilahan limbah padat menurut tahapan proses penanganan limbah
padat di atas, mensyaratkan adanya kegiatan pemilahan limbah padat sejak dari penghasil
limbah. Sementara itu kenyataan di lapangan proses pemilahan dari sumber penghasil
limbah belum dilakukan, melainkan para pemulung yang mengambil barang yang
dibutuhkan dari tempat sampah untuk diproses lanjut.

Gambar 9. Proses pananganan limbah


(Sumber. Departemen Pendidikan Nasional, (2004). Buku acuan Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta)

Tujuan pembuangan akhir sampah adalah membuang sampah agar tidak mencemari
lingkungan tempat tinggal manusia, dan juga tempat lingkungan dimana sampahtersebut
dibuang. Ada bergai cara yang dapat dilakukan pada proses pembuangan akhir. Misalnya
Penimbunan tanah (Land Fill), penimbunan limbah padat secara sehat, dan pembakaran.
Cara penimbunan sampah Land fill tidak menjamin aman bagi lingkungan, karena
sering terjadi pencemaran air tanah akibat cairan busuk (lindi) yang ditimbulkan akabitan
pembusukan bahan organic didalam tanah. Kemungkinan akan terakumulasinya gas- gas
racun yang dihasilkan pada proses pengeruaian secara anaerobic; sehingga akan
mematikan kehidupan mikroorganisma yang menguntungkan, yang hidup di dalam tanah.
Dalam tipe ini semua jenis limbah padat dibuang ke dalamnya yaitu sampah yang tak
mudah membusuk (seperti kertas-kertas, potongan-potongan kayu, potongan besi seng,
kaleng bekas) dan sampah organik yang mudah membusuk. Campuran sampah ini akan
membusuk dan menyebarkan bau tak sedap, lalat, kacoa, dan jenis binatang lain hidup di
dalamya.
Penimbunan limbah padat secara sehat dilakukan secara terencana dengan
difasilitasi peralatan pengaman agar tidak mencemari lingkungan tanah perairan dan
lingkungan sekitarnya. Area cekungan yang dijadikan lokasi pembuangan akhir sampah
dinding dan dasar cekungan dilapisi bahan yang relatif kedap air (biasanya geotextile),
dilengkapi dengan pipa penyalur gas metan, dan saluran drainase untuk menampung lindi
yang dihasilkan. Sampah dibuang dan dibiarkan menggunung seperti cara penimbunan
tanah. Tetapi, setelah sampah mencapai ketinggian tertentu, permukaan atasnya ditimbun
dengan tanah. Lapisan tanah ini sedikitnya harus setebal 60 cm. Penimbunan limbah padat
juga dilakukan bertahap, yaitu setiap hari setelah penimbunan dilakukan pemadatan dan
penuntupan dengan tanah liat (bahan kedap air) untuk mencegah terjadinya pencampuran

dengan air hujan, dan gangguan dari binatang. Pemusnahan sekaligus pemanfaatan sampah
dengancara ini memang membutuhkan dana lebih besar dan waktu serta tenaga lebih besar,
tetapi lebih aman dan tidak merugikan kehidupan masyarakat.

BAB IV
RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN
Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) merupakan bagian
Dokumen AMDAL yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh Pemrakarsa dalam rangka
pelaksanaan pengelolaan lingkungan akibat adanya pembangunan Hypermart yang turut
mempengaruhi keseimbangan lingkungan dan keadaan sosial masyarakat sebagaimana di
uraikan di atas. Maksud dan Tujuan dilaksanakan pemantauan lingkungan hidup antara
lain untuk:
Mengetahui perubahan lingkungan atau dampak penting yang timbul akibat
pembangunan hypermart.
Mengevaluasi pengelolaan lingkungan yang telah dan akan dilaksanakan di
kawasan terkait.
4.1. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Pra Konstruksi
Dampak yang dapat terjadi pada tahapan ini yaitu potensi terjadinya konflik karena
penetapan batas-batas wilayah proyek antara pihak yang berkepentingan, misal masyarakat
sekitar. Pemantauan dilakukan secara berkala dari internal untuk memastikan semua areal
proyek yang telah ditentukan sesuai dengan kesepakatan antara pihak-pihak yang
berkepentingan.
Hal berikutnya yang menjadi perhatian adalah intensitas keluhan masyarakat yang
takut akan terkena dampak pembangunan. Untuk mengatasinya, pihak pengelola perlu
melakukan observasi dan wawancara (pendekatan langsung) pada warga agar dapat
mengetahui tingkat keresahan masyarakat yang akan terkena dampak. Pendekatan ini bias
dilakukan sebagi upaya pemantauan secara berkala sepanjang proses konstruksi untuk
mencegah adalah pertentangan tiba-tiba dari masyarakat ketika proses m=pembangunan
mulai menghasilkan pencemaran bagi lingkungan.
4.2. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Konstruksi
Pengelolaan yang telah dilakukan terhadap dampak yang ditimbulkan dari beberapa
peralatan di lokasi pembangunan telah cukup mengurangi pencemaran udara dan
meningkatkan tingkat kebersihan jalan raya walupun masih kurang maksimal. Penurunan
kualitas udara dan peningkatan kebisingan tetap sulit untuk dikesampingkan karena
pengelolaan yang ada tidak mampu mengembalikan kondisi lingkungan sekitar pada
keadaan semula sebelum proses pembangunan berlangsung.
Untuk menentukan sejauh apa tingkat pencemaran yang terjadi perlu dilakukan
proses pemantauan lingkungan. Dalam proses RPL perlu ditetapkan tolak ukur dampak,
dalam hal ini dapat digunakan Baku Mutu Kualitas Udara Ambien, berdasarkan kepada

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kep.02/MENKELH/11/1996). Parameter kualitas


udara yang akan diukur adalah : debu, NOx, SO2, CO, HC, selain itu dilakukan pengukuran
intensitas kebisingan. Secara singkat data iklim dan kualitas udara yang akan dikumpulkan
adalah sebagai berikut:
a. Wilayah telaah : daerah studi rencana pembangunan (Carrefour ITC Depok dan
lingkungan sekitarnya)
b. Paramater: temperature dan curah hujan.
Tabel 2. Ringkasan Wilayah Telaah Kualitas Udara dan Kebisingan

Udara

Kebisingan

Wilayah

Daerah di sekitar area pembangunan

Sama

telaah

proyek (lingkungan sekitar Carrefour

pengukuran udara

dengan

lokasi

ITC Depok
Parameter Debu, NOx, SO2, CO, HC
Metoda
Sampling dan analisa laboratorium

Intensitas Kebisingan
Pengukuran
langsung
menggunakan sound level
meter

Periode

Selama proses konstruksi

Selama proses konstruksi

Kualitas udara akan diukur di lapangan bersamaan dengan dilakukannya


pengukuran iklim mikro dengan menggunakan alat dan metode analisis sebagaimana
disajikan pada tabel dibawah ini. Hasil pengukuran kualitas udara ambien akan
dibandingkan dengan baku mutu kualitas udara ambien yang berlaku di Kota Depok.

Tabel 3. Parameter, Metode Analisis, dan Peralatan Kualitas Udara dan Kebisingan

4
5
6
7

CO
Pb
HC
Kebisingan

NDIR
Gravimetrik, Ekstraktif, Pengabuan
Flame Ionization
-

NDIR Analyzer
Hi-Vol, AAS
Gas Chromatograph
Sound Level Meter

(Sumber. Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Kep-48/MENLH.1996
tentang Baku Mutu Kebisingan)
Tabel 4. Baku Mutu UdaraAmbien

Parameter
3
SO2, g/m (ppm)
3
CO, g/m (ppm)
3
NOx, g/m (ppm)
3
O3, g/m (ppm)
3
Debu, g/m (ppm)
3
Pb, g/m (ppm)
H2S, g/m 3(ppm)
NH3, g/m 3 (ppm)
HC, g/m 3 (ppm)

Baku Mutu
260 (0.1)
2.260 (20)
92.5 (0.05)
200 (1.0
260
60
42 (0.03)
1.360 (2)
160 (0.24)

Waktu
24 jam
8 jam
24 jam
1 jam
24 jam
24 jam
30 menit
24 jam
3 jam

(Sumber. KepMen KLH No.02/MENKLH/1988)

Faktor kebisingan juga perlu dipantau, akibat beroperasinya sejumlah peralatan


konstruksi yang mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Tingkat kebisingan tersebut
harusnya dipanatu secara berkala sebab pendengaran manusia memiliki ambang batas
tersendiri dengan jumlah waktu paparan yang terbatas. Survey dapat dilakukan dengan
menggunakan instrumentasi sound level meter, untuk kemudian membandingkan hasil
yang diperoleh dengan baku mutu tingkat kebisingan sebagai parameter.
Tabel 5. Baku Mutu Tingkat Kebisingan

Tingkat Kebisingan dBA


Zona
Penelitian, Perawatan
Kesehatan, Sosial, dst
Perumahan, Pendidikan,

Maksimum yang
dianjurkan

Maksimum yang
diperbolehkan

35

45

45

55

Perkantoran, Pertokoan,
Perdagangan, Pasar, dst
Industri, Pabrik, ST. KA,
Terminal Bus, dst

50

60

60

70

(Sumber. Peraturan Mentri Kesehatan RI No.718/MENKES/Per/XI/1987)

3. Rencana Pemantauan Lingkungan pada Tahap Operasi


Pada tahap ini, dampak yang cukup krusial dan butuh pemnatauan secara berkala
adalah masalah kualitas air di Carrefour ITC Depok. Pemeriksaan kualitas air (parameter
fisik, kimia dan bakteriologi) akan dilakukan dengan pengumpulan data primer dan data
sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh dari hasil pengujian kualitas air permukaan
dan air tanah yang ada di rencana lokasi proyek pembangunan UPS. Pengujian akan
dilakukan di laboratorium rujukan.
Untuk beberapa parameter dilakukan pemeriksaan in situ (di lapangan), sedangkan
pengumpulan data sekunder akan dilakukan dengan membandingkan berdasarkan hasil
penelitian sebelumnya di sekitar tapak lokasi yang kemungkinan pernah dilakukan.
Parameter kualitas air yang dianalisa meliputi sifat fisik, kimia, dan bakteriologi.
Pemilihan parameter yang dianalisis akan ditentukan oleh karakteristik kegiatan
khususnya dari kegiatan pada tahap konstruksi dan tahap operasi UPS (Unit Pengolahan
Sampah). Beberapa parameter yang cepat berubah karena waktu diukur di lapangan (in
situ), sedangkan parameter lainnya diperiksa di laboratorium. Parameter kualitas air
permukaan yang diamati serta alat dan metoda analisisnya disajikan pada table dibawah
ini.
Tabel 6. Parameter, Alat, dan Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan

No.

Parameter

Unit

Alat/Metoda

Keterangan

Thermometer, Pemuaian

In-situ

Fisika
1

Temperatur

TSS

Gravimetri

Lab induk

TDS

Gravimetri

Lab induk

0C

Kimiawi
pH
1

pHmeter

In-situ

DO

mg/l

DO Meter, Modifikasi Winkler

In-situ

BOD

mg/l

Modifikasi Winkler

Lab induk

COD

mg/l

Titrimetri

Lab induk

Klorida (Cl)

mg/l

AAS

Lab induk

Fluorida (F)

mg/l

AAS

Lab induk

Nitrat (-NO3)

mg/l

Metode Brusin

Lab induk

Nitrit (-NO2)

mg/l

Metode Sulfanilik

Lab induk

Amoniak bebas

mg/l

Metode Nessler

Lab induk

10

Sulfida

mg/l

Titrimetri/Spektrofotometri

Lab induk

11

Sulfat (SO4)

mg/l

Gravimetri/Spektrofotometri

Lab induk

12

Minyak/lemak

mg/l

Ekstraksi

Lab induk

13

Natrium (Na)

mg/l

AAS

Lab induk

14

Arsen (As)

mg/l

AAS

Lab induk

15

Nikel (Ni)

mg/l

AAS

Lab induk

16

Barium (Ba)

mg/l

AAS

Lab induk

17

Besi (Fe)

mg/l

AAS

Lab induk

18

Mangan (Mn)

mg/l

AAS

Lab induk

19

Tembaga (Cu)

mg/l

AAS

Lab induk

20

Timbal (Pb)

mg/l

AAS

Lab induk

21

Seng (Zn)

mg/l

AAS

Lab induk

22

Krom total

mg/l

AAS

Lab induk

23

Detergen

mg/l

Grafimetri, Spektrofotometri, Inframerah

Lab induk

24

Fenol

mg/l

Spektrofotometri

Lab induk

25

Senyawa aktif biru


metilen
Posfat

mg/l

Spektrofotometri

Lab induk

mg/l

Spektrofotometri

Lab induk

26

Bakteriologi
1 Total koliform

JPT/100 ml

Botol steril model tabung ganda inkubator

Lab induk

Kolifirm tinja

JPT/100 ml

Botol steril model tabung ganda inkubator

Lab induk

(Sumber. Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 dan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air
Permukaan)

Pada tahap ini, saat proses recruitment tanaga kerja juga perlu dilakukan
pemantauan. Pemantauan dimaksudkan agar pelaksana/pemrakarsa proyek dapat
meprioritaskan tenaga kerja lokal. Hal ini dapat mengindari kecemburuan masyarakat
terhadap proyek terkait dan mencegah konflik.
4.4. Rencana Pemantauan Lingkungan pada Tahap Pasca Operasi
Setelah proses operasi, akan selalu timbul limbah padat (sampah) sebagai output
dari proses operasi itu sendiri. Informasi dan data mengenai komposisi kimia sampah erat

kaitannya dengan pemilihan alternatif pengolahan dan pemanfaatan tanah. Untuk


mengetahui kandungan unsur kimia yang terdapat dalam sampah dapat dilakukan analisa
dan percobaan di laboratorium.
Pada sistem Sanitary Landfill dan Open Dumping, informasi mengenai komposisi
kimia sampah dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh
leachate terhadap air tanah. Sedang pada proses penghumusan, informasi ini sangat
berguna untuk mengetahui besarnya kandungan unsur-unsur, seperti zat hara yang
diperlukan oleh tanaman.
Umumnya komposisi kimia sampah terdiri dari unsur Carbon, Hidrogen, Oksigen,
Nitrogen, Sulfur dan Phospor (C, H, O, N, S, P), serta lainnya yang terdapat dalam protein,
karbohidrat dan lemak. Pemantauan limbah padat juga dapat dilakukan melalui beberapa
metoda berikut ini.
Wawancara/Interview, dilakkan pada pengunjung, pedagang, dan petugas
kebersihan dengan menggunakan lembaran pengamatan lapangan (questioner)
yang telah disusun, wawancara dilakukan untuk masing-masing responden secara
kontinyu selama kurunwaktu tertentu (misalkan 3 bulan)
Observasi/pengamatan, adalah pengamatan langsung ke lapangan, untuk melihat
kondisi sara dan prasarana untuk pengelolaan limbah padat domestic yang ada pada
Carrefour ITC Depok.
Pengolahan dan analisa data, hasil survey terhadap tempat penampungan
sementara,

pengangkutan,

dan

pengolahan

data

dengan

emnggunakan

komputerisasi dan mengkategorikan nilai skor pada hasil pengisisan quisioner.


Pemantauan pencemaran lingkungan dapat dilakukan pada lokasi sekitar Carrefour
ITC Depok seperti lokasi penghasil limbah padat, TPS, lokasi jalur pengangkutan limbah,
dan lokasi lainnya yang berpotensi.
Disamping permasalahan lingkungan, permasalah sosial seperti timbulnya
kecemburuan dan keresahan masyarakat berkaitan pelayanan yang tidak sesuia dan tidak
prima oleh Pengelola, seperti penempatan pedagang. Apabila penempatan ini tidak sesuai
dengan kesepakatan yang diambil pada saat sebelum pembangunan, maka besar
kemungkinan akan terjadi persepsi negatif atau konfliks antara masyarakat pedagang
pengelola hypermart.
Pengumpulan dan analisis data pengelolaan di lapangan ditekankan utuk
mendapatkan gambaran kondisi lingkungan pada saat operasional Carrefour ITC Depok
dan membandingkan dengan kondisi sebelumnya (kondisi rona lingkungan). Pengumpulan
data dan analisisnya dilakukan dengan pengambilan data primer dan sekunder melalui
wawancara dan analisa data terhadap ketidakpuasan dan kecemburuan sosial. Data yang
terkumpul kemudia ditabulasi dan dianalisi secara deskriptif.

BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
1. AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), merupakan salah satu alat yang
dibuat untuk tindakan terhadap kemungkinan ketidaklsetarinya fungsi lingkungan
sebagai akibat adanya rencana usaha dan atau kegiatan pambangunan.
2. Pusat perbelanjaan skala besar seperti hypermart membutuhkan pengelolaan yang
tepat, sistematis, dan efisien bagi keseluruhan aspek mulai dari perencanaan
pembangunan, masyarakat sekitar, hingga lingkunga.
3. Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungann merupakan
bagian dokumen AMDAL yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh pemrakarsa
dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan kawasan industry dan perkotaan.
4. Guna melaksanakan pengelolaan lingkungan yang baik sesuai dengan tujuan dan
sasaran yang diharapkan, diperlukan pedoman atau petunjuk pelaksanaan sebagai
acuan dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan berupa Rencana
Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL), yang juga didukung dengan pemantauan yang
baik melalui penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
5. Secara umum, dampak dari pembangunan hypermart menyentuh langsung kehidupan
masyarakat sekitar proyek dan mengakibatkan perubahan keseimbangan lingkungan
sehingga pembangunan hypermart memiliki sifat wajib AMDAL, maka dari itu
dibutuhkan adanya dokumen-dokumen substansial seperti RKL dan RPL.
6. Dalam pembuatannya, RKL dan RPL meninjau beberapa aspek kehidupan mulai dari
geografis tan topografi wilayah, komponen fisika-kimia terkait, serta aspek sosial,
ekonomi, dan budaya.
7. Peninjau atau institusi yang berhak menentukan dampak terhadap lingkungan adalah
pemilik perusahaan, pemerintah daerah setempat dan masyarakat sekitar.
Saran
Dalam

upaya

peningkatan

pembangunan

di

area

perkotaan

seharusnya

lebih

memperhatikan dampak yang dapat terjadi pada lingkungan, teruatam pada aspek

kesehatan masyarakat. Begitu juga pada pembangunan hypermart yang harus selalu
memperhatikan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, (2004). Buku acuan Pendidikan Lingkungan Hidup.
Jakarta.
Kotler. 2003. Principals of Marketing Industry. New York : Prentice Hall.
KepMen KLH No.02/MENKLH/1988
Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Kep48/MENLH.1996 tentang Baku Mutu Kebisingan
Peraturan Mentri Kesehatan RI No.718/MENKES/Per/XI/1987
Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 dan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis Kualitas Air
Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan
http://3.bp.blogspot.com/_288fhLNuaJ4/TF8Ei55m4sI/AAAAAAAABJA/NBLTYoadsY/
s1600/itc+depok.jpg, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 21.04

http://www.carefour.org
http://desmond.imageshack.us/Himg299/scaled.php?server=299&filename=kotasatelityan
gaadawebdw0.jpg&res=landing, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.47
http://earthpeace.com/image&/wastewater.png, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.19
http://i364.photobucket.com/albums/oo82/GrandiePektay/Kaskus/Counter%20ITC%20De
pok/DenahlokasiITCDepok.jpg, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.21
http://id.wikipedia.org/ Waste_hierarchy.svg, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.21

LAMPIRAN

Gambar 10. Denah Proyek (Carrefour ITC Depok)


(Sumber.http://i364.photobucket.com/albums/oo82/GrandiePektay/Kaskus/Counter%20ITC%20Depok/Dena

hlokasiITCDepok.jpg, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.21)

Gambar 11. Keadaan geografis kota Depok


(Sumber.http://desmond.imageshack.us/Himg299/scaled.php?server=299&filename=kotasatelityangaadaweb

dw0.jpg&res=landing, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.47)

Gambar 12. Kehidupan masyarakat di sekitar Carrefour ITC Depok (Sumber.


http://3.bp.blogspot.com/_288fhLNuaJ4/TF8Ei55m4sI/AAAAAAAABJA/NB-LTYoadsY/s1600/itc+depok.jpg,
diakses pada 14 Mei 2012, pukul 21.04)