Anda di halaman 1dari 3

JURNAL

Laporan Kasus: Luka terpotong fatal pada tenggorokan dinyatakan sebagai


tanda bunuh diri setelah dilakukan autopsi secara cermat

Pembimbing :
dr. Baety Adhayati Sp.F

Oleh :
Annisa Fadhilah
1102011033

Kepaniteraan Kedokteran Forensik


RS Umum dr. Dradjat Prawiranegara Serang
Periode 9 Mei 28 Mei 2016

Pendahuluan
Penentuan kematian baik yang disebabkan karena bunuh diri, kecelakaan maupun
pembunuhan merupakan salah satu hal yang sulit dilakukan dalam patologi forensik atau
pemeriksaan medis.
Investigasi yang dilakukan pada tahap awal kematian penting dalam menunjang atau
menyingkirkan sebab kematian dikarenakan pembunuhan. Keputusan ini memiliki
konsekuensi yang serius jika kesimpulan yang diambil salah, pada kasus luka sayat yang
disebabkan karena kekerasan tajam kebanyakan disebabkan oleh tindak pembunuhan dan
jarang sekali yang disebabkan karena bunuh diri. Investigasi tempat keajadian perkara (TKP)
yang dilakukan secara teliti dan tindakan autopsi perlu dilakukan untuk penentuan sebab
kematian pada beberapa kasus.
Kasus
Sebuah mayat pria muda dengan usia sekitar 25 tahun ditemukan di lantai kamarnya
dengan berlumuran darah. Ayah korban menemukan mayat anaknya dan langsung menelpon
polisi. Mayat tersebut tergelatak dengan posisi terlentang dengan pakaian berlumuran darah.
Luka sayat pada tenggorokan mengarah ke arah pembunuhan.Interogasi pada ayah korban
mengatakan pada polisi bahwa dia sedang menonton televisi di ruang dekat mayat ditemukan.
Ayah korban juga mengatakan anaknya menjalani pengobatan dikarenakan mengidap
skizofren sejak 5 tahun lalu.
Pemeriksaan TKP
Rumah tempat korban ditemukan berada di area, rumah memiliki 2 kamar dengan
masing-masing berukuran 5x3 meter. Kamar dimana mayat ditemukan memiliki 2
pintu.Mayat ditemukan dengan posisi terlentang dan mayat berlumuran darah dan terdapat
banyak darah disekitar mayat. Terdapat cipratan darah di lantai berjarak sampai 1 meter dari
mayat ditemukan. Pisau besi dengan pegangan sepanjang 20 cm, ditemukan 35 cm dari
tangan kanan korban. Semua barang dikamar berada ditempatnya dan tidak ada tanda
perlawanan. Tidak ditemukan juga sidik jari atau jejak darah di dalam kamar maupun di luar
kamar.
Penentuan Autopsi
Pakaian pada mayat ditemukan utuh, tidak ada robekan namun pakaian berlumuran
darah. Tidak ada luka pada tangan dan lengan bawah yang mana sering ditemukan pada kasus

kekerasan tajam. Kaku mayat ditemukan pada seluruh tubuh. Terdapat luka lama sebanyak 4
luka dengan variasi ukuran 3x1 cm dan 2x0,5cm pada dada sebelah kiri.
Luka sayat pada tenggorokan di temukan di depan leher, memotong bagian kulit,
fasia,otot sternokleidomastoideus kiri, vena jugularis sebelah kiri, arteri carotis sinistra dan
dinding trakea depan serta samping. Panjang luka adalah 10,5 cm dan lebar maksimum 5 cm
pada tengah luka, dalam luka 4 cm dibagian kiri luka dan 1m dibagian kanan luka.
Pada pemeriksaan yang lebih teliti luka sayat tenggorokan ditemukan luka dangkal
dengan variasi ukuran 0,8x0,2 cm dan 0,5x0,2 cm ditemukan di bagian kiri luka sayatan
utama, luka ini mengarah pada tanda sayatan percobaan bunuh diri. Luka tersebut hanya bisa
diidentifikasi dengan menggunakan kaca pembesar. Tidak ada Luka lain yang ditemukan.
Pada pemeriksaan dalam ditemukan semua organ dalam keadaan pucat dan perut dalam
keadaan kosong. Pemeriksaan dalam ini menunjukkan bahwa penyebab kematian
dikarenakan syok dan perdarahan akibat luka sayat tenggorokan oleh benda bermata tajam
dan keras.
Diskusi
Berdasarkan data dari catatan kriminal nasional menunjukan bahwa metode bunuh
diri secara halus berupa gantung diri dan meracuni diri sedangkan metode bunuh diri lainnya
seperti menyayat diri sendiri yang jarang dilakukan dan biasanya banyak dilakukan oleh pria.
Karakterisitik dari kekerasan tajam untuk tindak bunuh diri biasanya dilakukan pada
pergelangan tangan, dan jarang pada daerah leher serta biasanya luka tersebut dangkal.
Karakterisik lainnya yang ditemukan luka yang menunjukan percobaan bunuh diri
berupa beberapa luka dangkal yang ditemukan disekitar luka sayatan utama. Hal ini
menunjukkkan pemikiran seseorang dimana hal tersebut merupakan insting normal bagi
seseorang untuk mempertahankan hidup. Luka semacam ini ditemukan pada 60-80% kasus.
Pada kasus ini juga tidak ditemukan adanya perlawanan yang menunjang kematian
disebabakan tindak bunuh diri. Pada penelitian lain menunjukkan bahwa dari terdapat
perbedaan besar dari populasi orang normal dengan populasi orang yang mengidap skizofren
dimana ditemukan 40% kasus bunuh diri lebih banyak pada pasien skizofren.
Kesimpulannya, penelitian menunjukkan bahwa luka sayatan tenggorokan awalnya
dicurigai kearah pembunuhan karena sulit dipahami oleh orang awam bagaimana bisa
seseorang menyayat leher sendiri untuk melakukan bunuh diri. Investigasi TKP dan autopsi
yang dilakukan secara teliti dapat menentukan sebab kematian secara benar pada beberapa
kasus.