Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sasaran utama dari perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan pemegang
saham serta nilai perusahaan (value of the firm) (Brigham dan Houston, 2006:68). Semakin
meningkat nilai perusahaan, semakin menandakan bahwa kinerja perusahaan tersebut juga
semakin baik. Semakin tinggi nilai perusahaan juga menunjukkan bahwa kesejahteraan para
pemegang saham semakin meningkat. Nilai perusahaan juga dapat tercermin dalam harga
saham. Semakin tinggi harga saham, maka semakin tinggi pula nilai perusahaan tersebut,
begitupun sebaliknya.
Nilai perusahaan dapat menggambarkan keadaan perusahaan. Dengan baiknya nilai
perusahaan maka perusahaan akan dipandang baik oleh para calon investor. Banyak hal yang
dapat mempengaruhi nilai perusahaan, diantaranya adalah keputusan keuangan dan struktur
kepemilikan. Keputusan keuangan terdiri dari kebijakan dividen, kebijakan hutang dan
keputusan investasi. Keputusan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan harus demi
kepentingan pemegang saham, karena kesejahteraan para pemegang saham akan dijadikan
sebagai penilaian investor terhadap perusahaan yang memiliki prospek yang baik di masa
depan (Brigham dan Houston, 2010 : 9)
Kebijakan dividen pada dasarnya adalah penentuan besarnya porsi keuntungan yang
akan diberikan kepada pemegang saham. Kebijakan keputusan pembayaran dividen
merupakan hal yang penting yang menyangkut apakah arus kas akan dibayarkan kepada
investor atau akan ditahan untuk di investasikan kembali oleh perusahaan. Besarnya dividen
yang dibagikan tergantung pada kebijakan dividen masing-masing perusahaan. Proporsi Net

Incom After Tax yang dibagikan sebagai dividen biasanya dipresentasikan dalam Dividend
Payout Ratio (DPR). Dividend Payout Ratio inilah yang menentukan besarnya dividen per
lembar saham (Dividend Per Share). Jika dividen yang dibagikan besar maka hal tersebut
akan meningkatkan harga saham yang juga berakibat pada peningkatan nilai perusahaan.
Hasil penelitian Moch. Roni Noerirawan dan Abdul Muid (2012) menyatakan bahwa
kebijakan dividen berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian Arie
Afzal dan Abdul Rohman (2012) menyatakan hal berbeda yakni kebijakan dividen memiliki
efek signifikan negatif terhadap nilai perusahaan. Sri Sofyaningsih (2013) menyatakan bahwa
kebijakan dividen tidak terbukti mempengaruhi nilai perusahaan.
Keputusan investasi adalah suatu keputusan yang diambil perusahaan berkaitan
dengan kegiatan perusahaan dalam memperoleh dana dan pengalokasian dana. Keputusan
investasi merupakan kebijakan terpenting dari dua kebijakan lain dalam manajemen
keuangan, diantaranya kebijakan dividen dan kebijakan hutang (Harmono. 2009 : 9).
Penelitian yang dilakukan oleh Zulin Nur Faridah (2012) yang meneliti tentang
kebijakan dividen, kebijakan hutang, investasi dan pengaruhnya terhadap nilai perusahaan
pada perusahaan manufaktur. Hasil penelitian Zulin Nur Faridah (2012) membuktikan bahwa
kebijakan investasi memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap nilai perusahaan.
Salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai prospek perusahaan di masa
depan adalah dengan melihat sejauhmana pertumbuhan profitabilitas perusahaan (Tandelilin,
2001:240). Menurut Haryanto dan Toto (2003), profitabilitas perusahaan adalah salah satu
cara untuk menilai secara tepat sejauh mana tingkat pengembalian yang akan didapat dari
aktivitas investasinya. Profitabilitas dapat mencerminkan keuntungan dari investasi
keuangan, artinya profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan karena sumber internal
yang semakin besar (Sudarma, 2004). Semakin baik pertumbuhan profitabilitas perusahaan
berarti prospek perusahaan di masa depan dinilai semakin baik, artinya nilai perusahaan juga

akan dinilai semakin baik di mata investor. Apabila kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba meningkat, maka harga saham juga akan meningkat (Husnan, 2001 : 317).
Profitabilitas ialah kemampuan manajemen untuk memperoleh laba. Laba terdiri dari
laba kotor, laba operasi, dan laba bersih. Untuk memperoleh laba di atas rata-rata, manajemen
harus mampu meningkatkan pendapatan (revenue) dan mengurangi semua beban (expenses)
atas pendapatan. Dan hal itu berarti manajemen harus memperluas pangsa pasar dengan
tingkat harga yang menguntungkan dan menghapuskan aktivitas yang tidak bernilai tambah
(Darsono, 2007:55).
Berdasarkan beberapa hasil penelitian diketahui bahwa nilai perusahaan dapat
ditingkatkan oleh profitabilitas. Hasil penelitian Dwi Ayuningtias dan Kurnia 2013,
menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen,
kesempatan investasi, dan nilai perusahaan namun kebijakan dividen tidak terbukti
berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Selain itu, penelitian Li-Ju Chen
(Taiwan), Shun-Yu Chen (Taiwan) 2011 juga menunjukkan bahwa profitabilitas memiliki
pengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebijakan dividen, keputusan
investasi, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :

1. Apakah ada pengaruh secara parsial antara kebijakan dividen, keputusan investasi dan
profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di
BEI?
2. Apakah ada pengaruh secara simultan antara kebijakan dividen, keputusan investasi,
dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada Perusahaan Manufaktur yang
terdaftar di BEI?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari perumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara kebijakan dividen, keputusan
investasi, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada Perusahaan Manufaktur
yang terdaftar di BEI
2. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara kebijakan dividen, keputusan
investasi, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada Perusahaan Manufaktur
yang terdaftar di BEI

1.4. Manfaat Penelitian


Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan kegunaan dan kontribusi
sebagai berikut :
1. Bagi Penulis
Diharapkan dapat meningkatkan, memperluas dan memperkaya pengetahuan dibidang
manajemen keuangan khususnya yang terkait dengan kebijakan dividen, keputusan
investasi, profitabilitas, dan nilai perusahaan.
2. Bagi perusahaan
Diharapkan dapat meningkatkan dan mengembangkan kinerja kebijakan dividen,
keputusan investasi dan profitabilitas. Sehingga akan meningkatkan nilai perusahaaan
dimasa yang akan datang.

BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1.

Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu mengenai kebijakan dividen, kebijakan investasi,
dan profitabilitas yang diuraikan secara singkat sebagai berikut :

2.1.1. Penelitian Dwi Ayuningtias dan Kurnia (2013)


Penelitian ini mengambil topik pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan dengan
kebijakan dividen dan kesempatan investasi sebagai variabel mediasi. Tujuan dari penelitian
ini adalah menganalisis: (1) Pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan dividen. (2) Pengaruh

profitabilitas terhadap kesempatan investasi. (3) Pengaruh profitabilitas, kebijakan dividen,


dan kesempatan investasi terhadap nilai perusahaan. (4) Pengaruh profitabilitas terhadap nilai
perusahaan melalui kebijakan dividen dan kesempatan investasi. Jenis penelitian ini adalah
penelitian kausalitas. Sampel yang diteliti sebanyak 22 perusahaan manufaktur, dipilih
dengan teknik purposive sampling didasarkan pada nilai PBV > 1,0. Data penelitian
bersumber dari ICMD (2008-2010) dan data keuangan emiten. Teknik analisis yang
digunakan adalah Path Analysis yang diaplikasikan dengan software LISREL v.8.80, dan uji
hipotesis menggunakan uji t. Hasil dari penelitian ini adalah profitabilitas terbukti
berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen, profitabilitas terbukti berpengaruh
positif signifikan terhadap kesempatan investasi, profitabilitas terbukti berpengaruh
signifikan terhadap nilai perusahaan dan kesempatan investasi terbukti berpengaruh positif
signifikan terhadap nilai perusahaan, profitabilitas terbukti berpengaruh positif signifikan
terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan dividen dan kesempatan investasi.
2.1.2. Penelitian Oktaviana Tiara Sari (2013)
Penelitian ini berjudul Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan Dan
Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui
pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan dan kebijakan dividen terhadap nilai
perusahaan yang terdaftar di BEI. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35
perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011. Teknik analisis data
yang digunakan adalah metode analisis regresi linier berganda. Teknik pengambilan sampel
adalah menggunakan purposive sampling.
Hasil dari penelitian ini adalah keputusan investasi yang diukur dengan price earning ratio
berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan price book
value, keputusan pendanaan yang diukur dengan debt to equity ratio berpengaruh negatif

tidak signifikan terhadap nilai perusahaan dan kebijakan dividen yang diukur dengan
dividend payout ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
2.1.3. Penelitian Arie Afzal dan Abdul Rohman (2012)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh investasi, keputusan pendanaan, dan
kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Variabel dependennya adalah nilai perusahaan. Sedangkan variabel independennya
meliputi keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen. Sampel
dikumpulkan dari 25 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama
periode 2007-2010. Teknik analisisnya menggunakan Least Square (OLS). Penelitian ini
menunjukkan hasil positif dan signifikan dari keputusan investasi dan keputusan pendanaan
terhadap nilai perusahaan. Namun, kebijakan dividen memiliki pengaruh yang tidak
signifikan negatif terhadap nilai perusahaann.

2.2.

Landasan Teori
Sub ini akan akan diuraikan teori-teori pendukung yang nantinya digunakan sebagai dasar
dalam menyusun kerangka pemikiran maupun merumuskan hipotesis.
2.2.1

Kebijakan dividen
Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan

dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba
guna pembayaran investasi di masa datang (Sartono: 2010). Kebijakan ini akan melibatkan
dua pihak yang memiliki kepentingan berbeda yaitu pihak pertama, para pemegang saham
dan pihak kedua, manajemen perusahaan itu sendiri.

Kebijakan dividen mempunyai

pengaruh bagi pemegang saham dan perusahaan yang membayar dividen. Para pemegang
saham umumnya menginginkan pembagian dividen yang relatif stabil karena hal tersebut

mengurangi ketidakpastian akan hasil yang diharapkan dari investasi yang mereka lakukan
dan juga dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap perusahaan sehingga
nilai saham juga dapat meningkat. Kebijakan dividen tergambar pada dividend payout ratio
nya yaitu presentase laba yang dibagikan dalam bentuk dividen tunai. Laba ditahan (retained
earnings) merupakan salah satu dari sumber dana yang paling penting untuk membiayai
pertumbuhan perusahaan. Jika suatu perusahaan menjalankan kebijakan untuk membagi
dividen tunai maka semakin sedikit dana yang digunakan untuk melakukan investasi. Hal
tersebut mengakibatkan tingkat pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang menjadi
rendah dan berdampak pada harga saham untuk menghindari hal tersebut maka perusahaan
perlu menetapkan kebijakan dividen yang optimal yaitu dengan menciptakan keseimbangan
diantara dividen pada saat ini dan pertumbuhan dimasa yang akan datang sehingga
memaksimumkan harga saham.

Dividend Payout Ratio


Cara untuk mengukur dividen ada bermacam-macam cara, diantaranya Dividend
Payout Ratio (DPR) dan Dividend Yield. Penelitian ini menggunakan Dividend Payout Ratio
(DPR) untuk mengukur dividen.
Dividend payout ratio merupakan persentase dividen kas yang dibagikan dari
keuntungan bersih perusahaan (Ambarwati, 2012). Menurut Horne & Machowicz Jr (1998)
dividend payout ratio merupakan persentase pendapatan perusahaan yang diberikan ke para
pemegang saham secara tunai. Dividend payout ratio yang ditentukan perusahaan untuk
membayar dividen kepada para pemegang saham setiap tahun yang dilakukan berdasarkan
besar kecilnya laba bersih setelah pajak. Jumlah dividen yang dibayarkan akan

mempengaruhi harga saham atau kesejahteraan para pemegang saham (Prihantoro: 2003).
Dividen payout ratio merupakan rasio laba yang dibayarkan perusahaan sebagai dividen
kepada investor pada periode tertentu. Dividen payout ratio didefinisikan sebagai rasio antara
dividend per share (DPS) terhadap earning per share (EPS).
Menurut Mamduh dan Abdul (2003) formulasinya adalah:
DPR =

Dividen Per Share


Earning Per Share

.........................................................................................

Teori Kebijakan Dividen


Berikut beberapa teori yang menjelaskan pengaruh besar kecilnya dividend payout ratio
(DPR) terhadap harga pasar saham (I Made Sudana, 2010) :
1. Teori Dividend Irrelevance
Menurut Franco Modigliani dan Merton Miller (Modigliani-Miller/MM)
menyatakan kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap harga pasar saham atau
nilai perusahaan.
2. Teori Bird In-the-Hand
Myron Gordon dan John Lintner menyatakan bahwa kebijakan dividen
berpengaruh positif terhadap harga pasar saham. Artinya, jika dividen yang dibagikan
perusahaan semakin besar, harga pasar saham perusahaan tersebut akan semakin
tinggi dan sebaliknya. Dividen yang tinggi juga mengindikasikan bahwa laba
perusahaan semakin meningkat. Meningkatnya laba perusahaan menunjukkan prospek
perusahaan ke depannya akan semakin membaik. Hal ini akan menarik minat para
investor untuk menanamkan dananya ke perusahaan dengan membeli saham, dan nilai
perusahaan akan meningkat.
3. Teori Tax Preference

Berdasarkan teori tax preference, kebijakan dividen mempunyai pengaruh


negatif terhadap harga pasar perusahaan. Artinya, semakin besar jumlah dividen yang
dibagikan oleh suatu perusahaan, maka nilai perusahaan semakin rendah. Karena
semakin banyak perusahaan meningkatkan dividen, maka akan mengurangi laba
ditahan. Semakin kecil laba ditahan, maka untuk memperluas usahanya perusahaan
harus melakukan pinjaman kepada pihak kreditur. Perusahaan yang memiliki hutang
tinggi harus membayar biaya bunga yang besar pula. Hal tersebut akan mengurangi
laba perusahaan, dan semakin mengecilnya laba perusahaan maka akan mengurangi
nilai perusahaan pula. Tingginya dividen juga akan membuat para investor enggan
menanamkan dana dalam perusahaan dikarenakan alasan menghindari pajak.
Dilihat dari bentuk dividen yang didistribusikan kepada pemegang saham, dividen
dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti berikut :
1. Dividen tunai (Cash dividen), yaitu dividen yang dibagi kepada pemegang saham
dalam bentuk kas (tunai).
2. Dividen saham (Stock dividend), yaitu dividen yang dibagi bukan dalam bentuk tunai
melainkan dalam bentuk saham perusahaan tersebut.
3. Dividen properti (Property dividend), yaitu dividen yang dibagikan dalam bentuk
aktiva lain selain kas atau saham, misalnya aktiva tetap dan surat-surat berharga.
4. Dividen likuiditas (Liquidating dividend), yaitu dividen yang diberikan kepada
pemegang saham sebagai akibat dilikuidasinya perusahaan. Dividen yang dibagikan
adalah selisih nilai realisasi aset perusahaan yang dikurangi semua kewajibannya.
Berdasarkan beberapa jenis dividen tersebut, jenis dividen yang sering dibagikan
adalah dividen tunai dan dividen saham. Dari keduanya, dividen tunai merupakan dividen
yang lebih sering dibagikan perusahaan dan merupakan jenis dividen yang diidam-idamkan
pemegang saham.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Sartono (2001) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen, yaitu:


a) Kebutuhan dana perusahaan
Kebutuhan dana bagi perusahaan dalam kenyataanya merupakan faktor yang harus
dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan dividen yang akan diambil.
b) Likuiditas
Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan
dividen. Hal ini disebabkan karena dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar,
semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin
besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.

c) Kemampuan meminjam
Kemampuan meminjam dalam jangka pendek tersebut akan meningkatkan
fleksibilitas likuiditas perusahaan. Kemampuan meminjam yang lebih besar, fleksibilitas
yang lebih besar akan memperbesar kemampuan membayar dividen.
d) Keadaan pemegang saham
Jika perusahaan itu kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajemen biasanya
mengetahui dividen yang diharapkan oleh pemegang saham dan dapat bertindak dengan
tepat. Jika hamper semua pemegang saham berada dalam golongan high tax (pajak yang
lebih tinggi) dan lebih suka memperoleh capital gains, maka perusahaan dapat
mempertahankan dividend payout yang rendah.
e) Stabilitas dividen
Stabilitas disini dalam arti tetap memperhatikan tingkat pertumbuhan perusahaan,
yang ditunjukkan oleh koefisien arah yang positif. Bagi investor pembayaran dividen yang

stabil merupakan indikator prospek perusahaan yang stabil pula dengan demikian resiko
perusahaan juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan dengan perusahaan
yang membayar dividen tidak stabil
2.2.2. Keputusan Investasi
Keputusan investasi sebagai bentuk alokasi modal yang realisasinya diharapkan dapat
menghasilkan manfaat atau keuntungan di masa yang akan datang (Harmono, 2009 : 9).
Investasi dibagi menjadi dua yaitu investasi nyata (real investment) pada aktiva tetap
berwujud seperti tanah, gedung, kendaraan, pabrik, mesin, peralatan sedangkan investasi
keuangan (financial investmen) berupa surat-surat berharga jangka panjang milik perusahaan
lain yaitu dalam bentuk saham atau obligasi (Irham Fauzi, 2012 : 4).
Dalam hal ini keputusan investasi tidak dapat ditentukan secara langsung, sehingga
dibutuhkan proksi dalam perhitungannya. Menurut Gaver dan Gaver (1993) dalam penelitian
Sri Hasnawati (2005), Investment Opportunity Set merupakan nilai investasi perusahaan yang
besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan oleh manajemen dimasa
yang akan datang, sedangkan pada saat ini pilihan-pilihan investasi yang diharapkan
menghasilkan return yang lebih besar dari biaya modal dan dapat menghasilkan keuntungan.
Menurut Smith dan Watts (1992), Gaver dan Gaver (1993) dalam penelitian Sri Hasnawati
(2005), terdapat beberapa perhitungan IOS yang digunakan untuk melihat keputusan investasi
diantaranya adalah Total Asset Growth (TAG). Total Asset Growth merupakan pertumbuhan
asset suatu perusahaan dari satu tahun tertentu ke tahun berikutnya. TAG juga dapat disebut
sebagai besarnya pertumbuhan investasi pada seluruh asset yang dilakukan oleh perusahaan.
Total Asset Growth (TAG) dapat dirumuskan sebagai berikut :
Total Asset Growth (TAG) = Total Aset (t) Total Ase (t-1)
Total Aset (t-1)
2.2.3. Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam periode


tertentu dengan menggunakan seluruh sumber daya yang ada. Menurut R. Agus Sartono
(2010:122), profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.
Menurut Suharli (2007) menyebutkan bahwa ukuran profitabilitas dapat berbagai macam,
seperti: laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian investasi atau aktiva, dan tingkat
pengembalian ekuitas pemilik. Terdapat beberapa alat ukur untuk mengukur rasio
profitabilitas yang sering digunakan, antara lain: return on investment (ROI), return on assets
(ROA) , dan return on equity (ROE). Menurut Arilaha (2009), menyatakan profitabilitas
perusahaan merupakan salah satu cara yang digunakan sebagai penilaian secara tepat sejauh
mana tingkat pengembalian yang akan didapat atas aktivitas investasi yang dilakukan. Sesuai
dengan signalling theory yang menyatakan bahwa pembayaran dividen merupakan sinyal
bagi investor bahwa perusahaan memperkirakan peningkatan laba di masa mendatang. Oleh
karena itu penelitian ini menggunakan ROE sebagai alat ukur profitabilitas. ROE adalah rasio
yang digunakan untuk mengetahui sejauhmana investasi yang akan dilakukan investor di
suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang diisyaratkan
oleh investor. Dapat dikatakan pula bahwa return on equity merupakan rasio tingkat
kemampuan perusahaan dalam pengembalian laba atas ekuitas pemegang saham.
Rasio profitabilitas memiliki tujuan dan manfaat, tidak hanya bagi pemilik usaha
atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak di luar perusahaan, terutama pihak-pihak yang
memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan. Menurut Kasmir (2011:197) tujuan
penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan, maupun bagi pihak luar perusahaan, yaitu:
1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode
tertentu.
2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.

3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.


4. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
5. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal
pinjaman maupun modal sendiri.
Sedangkan manfaat dari rasio profitabilitas adalah :
1. Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode.
2. Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
3. Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu.
4. Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
5. Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal
pinjaman maupun modal sendiri.
Dalam penelitian ini, profitabilitas diukur dengan menggunakan Return On Equity (ROE).
Formulasinya adalah (Kasmir, 2011) :
ROE =

Net Income

.........................................................................................

Total Equity

Dimana net income merupakan laba bersih setelah pajak dan bunga atau laba ditahan dan
total equity merupakan total dari ekuitas atau modal.
2.2.4. Nilai Perusahaan
Tujuan jangka panjang dari setiap perusahaan adalah memaksimalkan nilai
perusahaan. Nilai perusahaan dapat tercermin dari harga sahamnya. Nilai perusahaan dapat
memberikan kemakmuran bagi pemegang saham secara maksimum apabila harga saham
perusahaan meningkat. Meningkatnya harga saham dipengaruhi banyaknya investor yang
menginvestasikan dananya di perusahaan. Banyaknya investor yang menanamkan dananya
dipengaruhi dengan kemampuan perusahaan memperoleh laba yang terus meningkat. Karena
semakin besar kemampuan perusahaan memperoleh laba, menunjukkan bahwa kinerja

perusahaan tersebut semakin membaik dan memiliki prospek ke depan yang semakin baik
pula.
Menurut Husnan (2000) nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh
calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Sedangkan menurut Keown (2004) nilai
perusahaan merupakan nilai pasar atas surat berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang
beredar. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan
perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat
nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak
hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
Nurlela dan Islahuddin (2008) menjelaskan bahwa enterprise value (EV) atau dikenal
juga sebagai firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi investor, karena
merupakan indikator bagi pasar menilai perusahaan secara keseluruhan. Ada beberapa konsep
dasar penilaian yaitu : nilai ditentukan untuk suatu waktu atau periode tertentu, nilai harus
ditentukan pada harga yang wajar, penilaian tidak dipengaruhi oleh kelompok pembeli
tertentu.
Ada banyak cara untuk mengukur nilai perusahaan, diantaranya menggunakan Tobins
Q, Price Book Value (PBV), Price Earning Ratio (PER). Penelitian ini akan menggunakan
Price Book Value (PBV) dalam pengukuran nilai perusahaan. Formulasi PBV adalah sebagai
berikut (Subramanyam dan John, 2010) :
PBV =

Harga Pasar Per Lembar Saham

.............................................................................

Nilai Buku Per Lembar Saham

Dimana semakin tinggi PBV mengartikan bahwa saham perusahaan mengalami over value
dan menandakan kinerja perusahaan yang membaik pula. Hal tersebut akan meningkatkan
nilai perusahaan.

BAB III
Kerangka Konsep dan Hipotesis

3.1.
Kerangka Berfikir
3.1.1. Pengaruh Kebijakan Dividen Pada Nilai Perusahaan
Salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham adalah kemampuan perusahaan
membayar deviden (Martono dan Harjito, 2005:2). Kebijakan dividen berkaitan dengan
kebijakan mengenai seberapa besar laba yang diperoleh perusahaan akan didistribusikan
kepada pemegang saham (Sofyaningsih dan Hardiningsih, 2011). Kebijakan dividen
(dividend policy) merupakan keputusan seberapa besar laba yang diperoleh perusahaan pada
akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham sebagai dividen kas atau disimpan dalam
bentuk laba ditahan sebagai sumber pendanaan perusahaan (Brigham dan Houston, 2003).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan dividen mempengaruhi nilai perusahaan
secara positif (Wijaya dan Wibawa, 2010). Kebijakan dividen yang optimal merupakan
kebijakan dividen yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan

pertumbuhan di masa mendatang sehingga memaksimumkan harga saham perusahaan


(Weston dan Brigham, 2005: 199). Kenaikan jumlah dividen dianggap sebagai sinyal bahwa
manajemen perusahaan meramalkan laba yang baik di masa depan (Brigham dan Houston,
2011). Dividen adalah laba bersih yang diperoleh perusahaan, oleh karena itu dividen akan
dibagikan saat perusahaan memperoleh keuntungan. Semakin tinggi tingkat dividen yang
dibagikan maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. (Zulin Nur Faridah, 2012). Perusahaan
yang memiliki kemampuan membayar dividen dinilai masyarakat sebagai perusahaan yang
menguntungkan (Suharli, 2006).
3.1.2. Pengaruh Keputusan Investasi Pada Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan semata-semata ditentukan oleh keputusan investasi (Fama,
1978). Pada umumnya investasi merupakan suatu kegiatan menempatkan sejumlah dana
selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh penghasilan dan peningkatan nilai
investasi di masa yang akan datang (Jogiyanto, 2010). Keputusan investasi merupakan
tindakan untuk menanamkan dana yang dimiliki saat ini ke dalam aktiva lancar maupun
aktiva tetap dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang (Salim
dan Moeljadi, 2001). Semakin tinggi keputusan investasi yang dilakukan perusahaan semakin
tinggi peluang perusahaan untuk mendapatkan return yang besar (Lestari et al, 2013).
Manajer

yang berhasil menciptakan keputusan investasi yang tepat, maka aset yang

diinvestasikan akan menghasilkan kinerja yang optimal sehingga memberikan suatu sinyal
positif kepada investor yang nantinya akan meningkatkan harga saham dan nilai perusahaan
(Prasetyo, 2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi yang tinggi yang dilakukan
perusahaan, maka akan meningkatkan nilai perusahaan (Haruman, 2007). Signalling theory
menyatakan pengeluaran investasi memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan
perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator
nilai perusahaan (Hasnawati, 2005). Dalam penelitian dinyatakan bahwa keputusan investasi

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan sebesar 12,25%, sedangkan sisanya


dipengaruhi oleh faktor lain (Hasnawati, 2005). Penelitian lain juga menyatakan hal serupa
bahwa kebijakan investasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Wijaya dan Bandi, 2010).
Sedangkan penelitian lain menyatakan bahwa pengeluaran investasi memberikan sinyal
positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga meningkatkan
harga saham sebagai indikator nilai perusahaan (signalling theory) (Untug Wahyudi dan
Hartini Prasetyaning Pawestri, 2006)

3.1.3. Pengaruh Profitabilitas Pada Nilai Perusahaan


Profitabilitas adalah sejauh mana perusahaan menghasilkan laba dari penjualan dan
investasi perusahaan (Weston dan Copeland, 1997). Profitabilitas perusahaan adalah tingkat
keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya
(Nurhayati, 2013). Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam mencari keuntungan (Kasmir, 2008 : 196). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa rasio-rasio profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan mempengaruhi harga
saham perusahaan (Haryanto dan Toto Sugiharto, 2003). Apabila kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham juga akan meningkat (Husnan,
2001:317). Tingkat pengembalian investasi kepada pemegang saham tergantung pada laba
yang dihasilkan perusahaan (Suharli, 2006). Dengan tingginya tingkat laba yang dihasilkan,
berarti prospek perusahaan untuk menjalankan operasinya di masa depan juga tinggi sehingga
nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham perusahaan akan meningkat pula
(Oktaviani, 2008). Tingginya laba yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan cerminan bahwa
perusahaan tersebut mempunyai prospek yang baik kedepannya (Umi Mardiyati, Gatot Nazir
Ahmad dan Ria Putri, 2012).

3.1.4. Pengaruh Kebijakan Dividen, Keputusan Investasi dan Profitabilitas Pada Nilai
Perusahaan
Perusahaan yang ingin mencapai tujuan jangka panjang akan mengambil beberapa
keputusan keuangan berupa keputusan investasi, keputusan pembelanjaan dan kebijakan
dividen (Husnan dan Pudjiastuti, 2006). Manajer perusahaan dihadapkan pada keputusan
keuangan yang meliputi keputusan investasi (investment decision), keputusan pendanaan
(investment decision), dan keputusan yang menyangkut pembagian laba dalam bentuk
dividen (Van Horne, 2001). Ketiga keputusan tersebut saling berkaitan dan setiap keputusan
yang diambil akan mempengaruhi keputusan keuangan yang lainnya serta kombinasi yang
optimal atas ketiganya akan memaksimumkan nilai perusahaan yang selanjutnya akan
meningkatkan kemakmuran kekayaan pemegang saham (Hasnawati, 2005). Hasil penelitian
menyatakan bahwa keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen
berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Wijaya dan Wibawa, 2010). Penelitian
sebelumnya juga menyatakan hal yang sama bahwa keputusan investasi dan kebijakan
dividen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Wijaya et al, 2010). Sedangkan dalam
penelitian lain menyatakan bahwa keputusan investasi berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan sebesar 12,25%, sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti keputusan
pendanaan, kebijakan dividen, faktor eksternal perusahaan seperti: tingkat inflasi, kurs mata
uang, pertumbuhan ekonomi, politik, dan psychology pasar (Hasnawati, 2005).

Berdasarkan teori yang telah dipaparkan, dapat disusun kerangka penelitian sebagai berikut :
Kebijakan Dividen
(DPR)
Kebijakan Investasi

Nilai Perusahaan

(TAG)

(PBV)

Profitabilitas
(ROE)

3.2.

Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan perumusan jawaban sementara pada suatu masukan yang akan
diteliti sebagai tuntutan dalam menyelesaikan masalah serta untuk mencari jawaban yang
sebenarnya. Dari landasan teori yang ada dan jurnal yang dijadikan acuan yang dapat dikaji
dalam penelitian sebuah dugaan sementara yang akan dibuktikan kebenarannya maka
dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
H1 :

Kebijakan dividen, keputusan investasi dan profitabilitas secara parsial berpengaruh


signifikan terhadap nilai perusahaan

H2 :

Kebijakan dividen, keputusan investasi dan profitabilitas secara simultan berpengaruh


signifikan terhadap nilai perusahaan

BAB IV
Metode Penelitian
4.1.

Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan-batasan. Adapun batasan dalam

penelitian ini adalah :


a. Penelitian ini terbatas oleh variabel yang digunakan yaitu kebijakan dividen,
keputusan investasi dan profitabilitas
b. Penelitian ini terbatas oleh periode yang digunakan yaitu selama 3 tahun yaitu mulai
dari tahun 2011-2014
c. Penelitian ini terbatas oleh sampel yang digunakan yaitu perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia
4.2.

Identifikasi Variabel
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen

dan variabel independen.


a. Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel


yang lain (Supomo dan Indianto,1999). penelitian ini menggunakan variabel kebijakan
dividen, keputusan investasi dan profitabilitas sebagai variabel independen.
b. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel
independen (Supomo dan Indiarto,1999) variabel dependen pada perusahaan ini adalah
nilai perusahaan.
4.3.

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel


Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

4.3.1. Nilai Perusahaan (Y)


Nilai perusahaan merupakan suatu ukuran yang penting bagi para investor dalam
berinvestasi. Karena nilai perusahaan diakui sebagai metode penilaian yang baik, serta
mencakup keseluruhan perusahaan, termasuk dalam memperkirakan nilai saham dimasa yang
akan datang dan menentukan besamya modal dalam saham. Mengacu pada penelitian yang
dilakukan oleh Wijaya dan Wibawa (2010), nilai perusahaan dapat dilihat dari perbandingan
antara harga pasar per lembar saham dengan nilai buku per lembar saham. Nilai perusahaan
dalam penelitian ini diproksikan melalui Price to Book Value (PBV). PBV mengukur nilai
yang diberikan pasar kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah
perusahaan yang terus tumbuh (Brigham dan Houston, 2011).
Price to Book Value (PBV) =

Harga Per Lembar Saham


Nilai Buku Per Lembar Saham

4.3.2. Deviden (X1)

Pembayaran deviden merupakan besarnya laba yang dibagikan kepada pemegang saham
pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan besarnya laba yang akan ditanamkan pada
laba ditahan akhir tahun. Indikator pembayaran deviden diantaranya adalah DPR. DPR
(Deviden Payout Ratio) merupakan perbandingan antara (DPS) dividen per lembar saham
dengan (EPS) laba per lembar saham (Ang, 2007: 6). Deviden per lembar saham dan laba per
lembar saham pada penelitian ini menggunakan data per 31 desember 2011-2014 yang diukur
dengan formulasi sebagai berikut:

DPR =

Dividen per lembar (DPS)


Laba bersih per Lembar Saham (EPS)

4.3.3. Keputusan Investasi (X2)


Keputusan investasi adalah sebagai bentuk alokasi modal yang realisasinya
diharapkan dapat menghasilkan manfaat atau keuntungan di masa yang akan datang. Hasil
keputusan investasi yang tepat akan menghasilkan kinerja yang optimal yang dapat
meningkatkan pertumbuhan aset perusahaan (Setiani, 2007). Keputusan investasi dalam
penelitian ini diproksikan dengan rasio Total Asset Growth (TAG). Rasio Total Asset Growth
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
mempertahankan posisinya dalam pertumbuhan ekonomi dan industri (Hestinoviana, dkk,
2013). TAG dapat diukur dengan :
TAG = Total Asett - Total Asett-1
Total Asett-1
Keterangan :
TAG

= Total Aset Growth (pertumbuhan aset)

Total aset t

= Total aktiva pada tahun t

Total aset t-1 = Total aktiva pada tahun t-1

4.3.4. Profitabilitas (X3)


Profitabilitas merupakan salah satu pengukuran bagi kinerja suatu perusahaan,
profitabilitas

suatu

perusahaan menunjukan

kemampuan suatu perusahaan

dalam

menghasilkan laba selama pereode tertentu pada tingkat penjualan, asset dan modal saham
tertentu. Pengukuran profitabilitas ini mengacu dari Return On Equity (ROE) merupakan
rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Rasio
ini menunjukkan daya untuk menghasilkan laba atas investasi berdasarkan nilai buku para
pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik, artinya posisi pemilik perusahaan
semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Hal ini akan mempengaruhi minat para investor
untuk melakukan transaksi jual beli saham, sehingga akan meningkatkan volume penjualan
saham perusahaan tersebut..
Formula yang digunakan untuk menghitung Return On Equity (ROE) yakni sebagai berikut
(Horne,2005:225) :
Laba Bersih Setelah Pajak ROE = Laba bersih setelah pajak
X 100 %
Total Ekuitas
4.4.

Populasi, sampel, dan teknik pengambilan sampel


Populasi adalah kumpulan dari keseluruhan elemen yang menjadi pusat objek
penelitian (Supomo dan Indrianto,2002). Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011-2014.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik ini
bisa diartikan sebagai suatu proses pengambilan sampel dengan menentukan terlebih dahulu
jumlah sampel yang hendak diambil, kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan
berdasarkan tujuan-tujuan tertentu. Adapun kriteria-kriteria pada penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a. Perusahaan manufaktur yang tercatat di BEI pada tahun 2011-2014
b. Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit dengan
menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember.
c. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan membagikan deviden tunai selama
tiga tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2014.
d. Perusahaan manufaktur yang memiliki nilai perusahaan positif selama periode 20112014.
Data dan Metode Pengumpulan Data

4.5.

Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data yang telah dikumpulkan oleh
pihak lain. Berdasarkan pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode
dokumentasi yaitu dengan mengumpulkan data yang dilakukan dengan mempelajari data
sekunder yang telah disediakan sebelumnya. Data yang dipakai adalah laporan keuangan
tahunan pada perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dan dipublikkan
melalui ICMD maupun IDX.
4.6.

Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tahapan sebagai
berikut :
4.6.1

Analisis Deskriptif
Analisis statistik deskriptif mempunyai tujuan untuk mengetahui gambaran umum

dari semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, dengan cara melihat tabel statistik
deskriptif yang menunjukkan hasil pengukuran mean, nilai minimal dan maksimal, serta

standar deviasi semua variabel tersebut. Analisis deskriptif ini digunakan untuk menjelaskan
variabel-variabel pengamatan yaitu kebijakan dividen (DPR), keputusan investasi (TAG),
profitabilitas (ROE), dan nilai perusahaan.

4.6.2. Analisis Regresi Linier Berganda


Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
kebijakan dividen (DPR), keputusan investasi (TAG), dan profitabilitas (ROE) sebagai
variabel independen terhadap nilai perusahaan sebagai variabel dependen. Berikut ini model
regresi linier berganda :
Y = + l xl + 2 x2 + 3 x3 + e
Dimana :
Y = Nilai perusahaan (PBV)
= Konstanta
1-3 = Koefisien
X1 = Kebijakan dividen (DPR)
X2 = Keputusan investasi (TAG)
X3 = Profitabilitas (ROE)
e = error
4.6.3. Uji Asumsi Klasik

Penggunaan uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui dan menguji kelayakan
atas model regresi yang digunakan pada penelitian ini. Tujuan lainnya untuk memastikan
bahwa di dalam model regresi yang digunakan mempunyai data yang terdistribusikan secara
normal, bebas dari autokorelasi, multikolinieritas serta heterokedistisitas.

4.6.3.1. Uji Normalitas


Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas,
dan variabel terikat memiliki distribusi normal dan tidak. Model regresi yang baik adalah
memiliki distribusi data secara normal atau mendekati normal (Ghozali, 2005) untuk menguji
normalitas data dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama dengan melihat grafik normal
probability plot dasar pengambilan keputusan dari tampilan grafik normal probability plot
yang mengacu pada Imam Ghozali (2005), yaitu:

Jika data (titik) menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal,
berarti menunjukkan pola distribusi yang normal sehingga model regresi dapat

memenuhi asumsi normalitas.


Jika data (titik) menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis
diagonal berarti tidak menunjukkan pola distribusi normal sehingga model regresi
tidak memenuhi asumsi normalitas.

Pengujian normalitas yang lain yang lebih baik dilakukan adalah dengan menggunakan
analisis statistik. Pengujian ini digunakan untuk menguji normalitas residual suatu model
regresi adalah dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Dalam uji KolmogorovSmirov, suatu data dikatakan normal apabila nilai Asympotic Significant lebih dari 0,05 (Hair
et.al 1998). Dasar

pengambilan keputusan dalam uji K-S adalah:

Apabila probabilitas nilai 2 uji K-S tidak signifikan < 0,05 secara statistik maka Ho

ditolak, yang berarti data terdistribusi tidak normal.


Apabila probabilitas nilai 2 uji K-S signifikan > 0,05 secara statistik Ho diterima, yang
berarti data terdistribusi normal.

4.6.3.2. Uji Heterokedastisitas


Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual satu observasi yang lain. Apabila varians dari residual
satu observasi ke observasi yang lain tetap disebut homokedastisitas. Sedangkan apabila
varians dari residual satu observasi ke observasi lain berbeda maka disebut heterokedastisitas.
Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas, tidak terjadi heterokedastisitas dengan
melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan nilai
residual SRESID. Deteksi ada tidaknya dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola
tertentu pada grafik Scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang
telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi - Y sesungguhnya) yang telah di
standardized.
4.6.3.3. Uji Multikolonieritas
Tujuan dari uji multikolonieritas adalah untuk menguji apakah model regresi memiliki
korelasi antar variabel bebas. Multikolonieritas terjadi jika terdapat hubungan linear antara
independen yang libatkan dalam model. Jika terjadi gejala multikolonieritas yang tinggi maka
standar eror koefisien regresi akan semakin besar, akibatnya convidence interal untuk
pendugaan parameter semakin lebar. Uji multikolonieritas ini dilakukan dengan meregresikan
model analisis dan menguji korelasi antar variabel independen dengan menggunakan variance
inflantion factor (VIF). Batas (cut off) dari VIF > 0 dan nilai tolerance jika nilai VIF lebih

besar dari 10 dan nilai tolerance kurang dari 0,10 dan tingkat kolinieritas lebih dari 0,95 maka
terjadi
multikolonieritas (Ghozali,2005).
4.6.3.4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi terjadi apabila terdapat penyimpangan terhadap suatu observasi oleh
penyimpangan yang lain atau terjadi korelasi diantara obserasi menurut waktu dan tempat.
Konsekuensi dari adanya korelasi dalam suatu model regresi adalah variabel tidak
menggunakan tidak menggambarkan variabel populasinya lebih jauh lagi. Ada beberapa cara
yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya autokorelasi, salah satunya dengan uji dusbin
waston (DW-Test). Uji Dusbin-waston hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first
order autocoorelation) dan mensyaratkan adanya konstanta atau intercept dalam model
regresi
serta tidak ada variabel lagi diantara variabel independen (Ghozali,2005). Kriteria
pengambilan keputusan dalam uji Dusbin waston adalah (Ghozali,2005).
0 < DW < dl : Terjadi autokorelasi
dl DW du : Tidak dapat disimpulkan
du < DW < 4-du : Tidak ada autokorelasi
4-du DW 4-dl : Tidak dapat disimpulkan
4-dl < d < 4 : Terjadi autokorelasi
Keterangan :
DL : Batas bawah DW
DU : Batas atas DW

4.6.4. Pengujian Hipotesis


4.6.4.1. Uji Simultan (Uji Statistik F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang
dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel
pengikat (Mudjarat Kuncoro, 2013:245). Pada penelitian ini uji F digunakan untuk
mengetahui apakah secara keseluruhan kebijakan dividen (DPR), keputusan investasi (TAG)
dan profitabilitas (ROE) berpengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan.
Berikut ini pengujian hipotesis uji F :
1. Merumuskan hipotesis
H0 : 1 = 2 = 3 0, artinya kebijakan dividen, keputusan investasi dan profitabilitas
secara simultan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan.
H1 : minimal salah satu i 0, artinya kebijakan dividen, keputusan investasi dan
profitabilitas secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai
perusahaan.
2. Menentukan level of significant
Penelitian ini menggunakan sebesar 5%.
3. Menentukan kriteria pengujian
Daerah penerimaan dan penolakan uji F
4. Menghitung nilai uji statistik
5. Menarik Kesimpulan

Sig.F > 0,05 : H0 diterima. Artinya kebijakan dividen, keputusan investasi dan
profitabilitas secara simultan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
nilai perusahaan.
Sig.F 0,05 : H1 diterima. Artinya kebijakan dividen, keputusan investasi dan
profitabilitas secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai
perusahaan.

4.6.4.2. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)


Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas
secara individual dalam menerangkan variabel-variabel terikat (Mudjarat Kuncoro,
2013:244). Pada penelitian ini uji t digunakan untuk mengetahui apakah kebijakan dividen,
keputusan investasi dan profitabilitas berpengaruh secara parsial terhadap nilai perusahaan.
Berikut ini adalah langkah-langkah pengujian hipotesis Uji t satu sisi kanan :
1. Perumusan hipotesis statistik
H0 : i 0, artinya kebijakan dividen atau keputusan investasi atau profitabilitas
mempunyai pengaruh tidak positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
H1 : i 0, artinya kebijakan dividen atau keputusan investasi atau profitabilitas
mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
2. Menentukan level of significant
Penelitian ini menggunakan sebesar 5%

3. Menentukan kriteria pengujian


Daerah penerimaan dan penolakan uji F
4. Menghitung nilai uji statistik
5. Menarik Kesimpulan
Sig.F > 0,05 : H0 diterima. Artinya kebijakan dividen atau keputusan investasi atau
profitabilitas tidak mempunyai pengaruh tidak positif signifikan terhadap nilai
perusahaan.
Sig.F 0,05 : H1 diterima. Artinya kebijakan dividen atau keputusan investasi atau
profitabilitas mempunyai pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
4.6.4.3.1. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2005). Nilai R2 mempunyai interval antara
0 sampai 1 (0 R2 1). Semakin besar R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model
regresi tersebut dan semakin mendekati 0, maka variabel independen secara keseluruhan
tidak dapat menjelaskan variabel dependen (Sulaiman, 2004). Nilai R2 yang kecil berarti
kemampuan variabel-variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai
yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan semua informasi yang
dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Amsi, Mang. 2014. http://www.syariahsaham.com/2015/06/daftar-dividen-tunai-dan-imbalhasil.html (Diakses Juni 2016)


Danuarta, Adad. 2014. http://adaddanuarta.blogspot.co.id/2014/11/profitabilitas-menurutpara-ahli.html (Diakses 17 Maret 2010)
Dwi, Mega. 2015. Pengaruh Kebijakan Dividen, Keputusan Investasi, Keputusan
Pendanaan, Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Surabaya. Program Pendidikan Strata Satu
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas.
Halim, Abdul. 2007. Manajemen Keuangan Bisnis. Malang: Ghalia Indonesia
Kartika, Hadiyanti. 2015. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Dengan
Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan LQ-45 Di Bursa Efek
Indonesia. Skripsi. Surabaya. Program Pendidikan Strata Satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Perbanas.
Kumalasari, Mustika. 2014. Pengaruh Kebijakan Dividen, Tata Kelola, Dan Profitabilitas
Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Surabaya.
Program Pendidikan Strata Satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas.

Sono, Anjang. 2015. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Pada


Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Surabaya. Program
Pendidikan Strata Satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas.
Sudana, I Made. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: Erlangga
Wedaran. 2016. https://www.wedaran.com/4393/cara-menulis-metodologi-yang-baik-danbenar/ (Diakses 2 Oktober 2016)