Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN HASIL PENGAMATAN

KEGIATAN KEDOKTERAN KELUARGA


DIAGNOSIS KELUARGA DAN KOMUNITAS PADA PASIEN GONORRHEA

Dosen Pembimbing
dr. Nur Aini Djunet

Oleh :
Muhammad Reyyan Alfaj

2011730090

KEPANITERAAN KLINIK STASE IKAKOM II


PUSKESMAS KERANGGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2016

KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah SWT, Shalawat dan Salam kami panjatkan bagi Nabi Besar kita
Nabi Muhammad SAW. Dalam mengikuti kegiatan IKAKOM 2 kami sebagai Dokter Muda di
tuntut agar bisa memahami dan menerapkan ilmu tersebut dalam praktik kedokteran nanti setelah
menyelesaikan masa pendidikan di kepaniteraan..
Penulis berharap semoga hasil dari laporan ini dapat bermanfaat bagi diri penulis sendiri
dan orang lain, sehingga diharapkan lebih banyak masyarakat yang lebih sadar bahwa setiap
pekerjaan memiliki resiko dan potensi bahaya. Bahwa penting sekali dalam melakukan pekerjaan
diperhatikan aspek-aspek yang dapat melindungi diri sehingga tidak membawa dampak penyakit
dimasa mendatang sehingga proktuvitas dapat terganggu dan biaya untuk berobat / perawatan
tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh dari tempat kita bekerja.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada keluarga, dosen-dosen
pembimbing dan sahabat sahabat di fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Penulis
Tangerang Selatan, Oktober 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gonore adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.
Manusia adalah satu-satunya tuan rumah alami untuk N.gonorrhoeae. Biasanya infeksi ini
mempengaruhi daerah genital, meskipun tenggorokan atau anus (bagian belakang) mungkin
juga bisa terinfeksi. Gonore mempengaruhi baik laki-laki maupun perempuan dan dengan
mudah dapat ditularkan selama hubungan seks. Gonore dapat masuk ke dalam uretra, anus,
tenggorokan, serviks (leher rahim) atau rahim. Selain di organ genital, Gonore dapat
menginfeksi di bagian mata. Angka serangan paling tinggi pada orang berusia 15-24 tahun
yang tinggal di kota, termasuk dalam kelompok sosio-ekonomi rendah, tidak menikah atau
homoseksual, atau memiliki riwayat PMS terdahulu.
WHO memperkirakan setiap tahun terdapat 350 juta penderita baru PMS (penyakit
menularseksual)dinegaraberkembangsepertidiAfrika,Asia,AsiaTenggara,danAmerika
Latin. Di negara industri prevalensinya sudah dapat diturunkan, namun di negara
berkembang prevalensi gonore menempati tempat teratas dari semua jenis PMS. Dalam
kaitannya dengan infeksi HIV/AIDS, United States Bureau of Census pada 1995
mengemukakan bahwa di daerah yang tinggi prevalensi PMSnya, ternyata tinggi pula
prevalensi HIV/AIDS dan banyak ditemukan perilaku seksual berisiko tinggi. Kelompok
seksualberperilakuberisikotinggiantaralaincommercialsexworkers(CSWs).Berdasarkan
jeniskelaminnya,CSWsdigolongkanmenjadifemalecommercialsexualworkers(FCSWs)
wanita penjaja seks (WPS) dan male commercial sexuall workers (MCSWs).Gonore
merupakanpenyakityangmempunyaiinsidenyangtinggidiantarapenyakitmenularseksual
lainnya. Pada pengobatannya terjadi pula perubahan karena sebagian disebabkan
olehNeisseriagonorrhoeaeyangtelahresisitenterhadappenisilindandisebutPenicilinase
Producing Neisseria gonorrhoeae. Di Indonesia, infeksi gonore menempati urutan yang
tertinggi dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung

terhadap WPS menunjukkan bahwa prevalensi gonore berkisar antara 74%


50%.Berdasarkan pada hal tersebut, maka penulis membuat makalah ini dalam rangka
menambah pengetahuan dan wawasan terhadap bakteri gram negatif yang disebut
sebagaiNeisseriagonorrhoeae.
B. Tujuan
TujuanUmum:

Memantapkan program penanganan Gonorrhea di Puskesmas

denganpenerapanpelayananKedokteranKeluarga
TujuanKhusus:
MelakukanpencegahanGonorrhea
Melaksanakan penatalaksanaan secara farmakologis dan non
farmakologisuntukGonorrhea

MengidentigikasifactorresikoGonorrhea

Melaksanakankunjunganrumah

Mengevaluasi dan melakukan penilaian terhadap kehidupan


psikososial

C. Manfaat
BagiMasyarakat:MenambahinformasimengenaiGonorrhea
Bagi Puskesmas : Membantu meningkatkan program puskesmas untuk

melakukanpencegahandanpentalaksanaanyangefektifmengenaiGonorrhea
BagiMahasiswa:MenambahwawasandanpengetahuanmengenaiGonorrhea

BABII
TINJAUANPUSTAKA
A. Definisi
Kencing nanah atau gonore penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum,tenggorokan, dan
bagian putih mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh
lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin
dan menginfeksi selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan
gangguan reproduksi.

Gonorhea

merupakan

penyakit

infeksi

yang

menyerang

lapisan epitel (lapisan paling atas dari suatu jaringan). Bila tidak diobati, infeksi ini akan
menyebar

ke

jaringan

yang

lebih

dalam.

Biasanya

membentuk

koloni

di

daerah mukosa, orofaring, dan anogenital.


B. Epidemiologi
Istilah gonore pertama kali digunakan oleh Galen di Yunani pada abad ke dua, yang
mengandung arti "benih yang mengalir".Gonore dapat ditemukan di seluruh dunia, mengenai
pria dan wanita pada semua usia terutama kelompok dewasa muda dengan aktifitas seksual
tinggi. Gonore umunmya ditularkan melalui hubungan seks baik secara genito-genital,
orogenital dan ano-genital, serta penularan dari ibu kepada bayi saat melalui jalan lahir yang
manifestasinya dapat benrpa infeksi pada mata yang dikenal dengan blenorrhea. Penularan
dari pria kepada wanita lebih sering karena adanya retensi ejakulat yang terinfeksi di dalam
vagina. Pada pria umumnya menyebabkan uretritis akut sementara pada wanita menyebabkan
servisitis yang biasanya asimptomatis.
Faktor risiko untuk infeksi Neisseria gonorrhoeae antanalain: status sosial ekonomi yang
rendah, aktivitas seksual yang dini, hidup serumah tanpa ikatan perkawinan, homoseksual,
heteroseksual, biseksual, adanya riwayat infeksi Neisseria gonorrhoeaea sebelumnya,
Berbagai data pada beberapa Rumah Sakit, angka kejadian gonore bervariasi, di RSU
Mataram tahun 1989 dilaporkan kasus gonore yang sangat tinggi yaitu sebesar 52,87% dari

seluruh penderita IMS. Di RS Dr Pimgadi Medan tahun 2002 dilaporkan l6% dari sebanyak
326 penderita, sedangkan di klinik IMS RS Dr Sutonto Surabaya tahun 1990-1993 terdapat
25,22% kasus gonore dari total 3055 kasus uretritis. Di RS dr Kariadi Semarang, gonore
menempati urutan ke tiga atau sebesar 17,56%dari seluruh penderita IMS pada tahun l990l994, di RSUP dr Mohammad Husin Palembang prevalensi gonore sebesar 39% pada tahun
l992.

C. Etiologi
Gonore disebabkan oleh Nersseria gonorrhoeae kuman kokus negatif Gram family
Neisseriaceae,tampakdi dalam dan di luar leukosit polimorfonuklear (neutrofil), berukuran
0,6-l,5 m, berbentuk diplokokus seperti biji kopi dengan sisi datar yang berhadap-hadapan
dan mempnnyai 3 lapis dinding sel yaitu outer membrone, membran periplasma dan inner
membrane pada bagian terdalam. Kuman ini tidak motil dan tidak membentuk spora.
Neisseria gonorrhoeae dapat dibiakkan dengan media. Thayer Martin pada suhu optimal 3537"C dengan kadar CO2 5%. Kuman ini tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati pada
keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39oC dan tidak tahan zat disinfektan. Kuman ini
ditemukan tahun 1879 oleh dokter Albert Ludwig Siegmund Neisser berkebangsaan Jerman,
melalui pengecatan hapusan duh tubuh uretra, vagina dan konjungtiva, pertama kali di kultur
in vitro tahun 1882 oleh Leistikow. Dilaporkan adanya karakteristik koloni yang berbeda dan
Neisseria gonorrhoeae diklasifikasikan menjadi 4 tipe. Tipe I dan 2 tumbuh pada media agar
sebagai koloni kecil abu-abu dan mempunyai pili pada permukaannya yang berperan sebagai
virulen. Sedangkan tipe 3 dan 4 koloninya lebih besar, tidak berpili dan avirulen.

D. Patogenesis
Infeksi gonore umunnya terbatas pada permukaan mukosa superfisialis yang berlapis
epitel silindris dan kubis. Epitel skuamosa dimana terdapat pada vagina dewasa, tidak rentan
terhadap infeksi Neisseria gonorchoeae. Bakteri melekat pada sel epitel kolumnar, melakukan
penetrasi dan bermultiplikasi di membran bawah (basement membrane). Perlekatan ini di
perantarai melalui fimbriae dan protein opa (P II). Bakteri melekat hanya pada microvili dari
sel epitel kolumnar. Perlekatan pada sel epitel yang bersilia tidak terjadi. Setelah itu bakteri

dikelilingi oleh microvili yangakan menariknya ke permukaan sel mukosa. Bakteri masuk ke
sel epitel melalui proses parasite-directed endocytosis. Selama endositosis, membran sel
mukosa menarik dan mengambil sebuah vakuola yang berisi bakteri. Vakuola ini
ditransportasikan ke dasar sel dimana bakteri akan dilepaskan melalui eksositosis ke dalam
jaringan subepitelial. Nieisseria gonorrhoeae tidak dirusak dalam vakuola endositik ini, tetapi
tidak jelas apakah bakteri-bakteri ini bereplikasi dalam vakuola sebagai parasit intra seluler.
Protein porin yang utama, P I (Por) yang terdapat pada membran luar merupakan protein
yang memperantarai penetrasi pada sel hospes. Masing-masing strain dari Neisseria
gonoyrhoeae hanya mengekspresikan satu tipe por. Neisserio gonorrhoeae dapat
memproduksi satu atau beberapa Protein lapisan membran luar yang dinamakan Opa (P II).
Selama infeksi gonokokus akan menghasilkan berbagai produk ekstraseluler seperti
fosfolipase, peptidase yang dapat meyebabkan kerusakan sel. Peptidoglikan dan
lipooligosakarida bakteri akan mengaktivasi jalur alternatif komplemen hospes, sementara
lipo oligo sakharida (LOS) juga menstimulasi produksi tumor neuosis factor (TNF) yang
menyebabkan kerusakan sel. Neutrofil segera datang ke tempat tersebut dan mencerna
bakteri. Dengan alasan yang belum diketahui, beberapa bakteri Neisseria gonorrhoeae
mampu bertahan hidup dalam fagositosis, sampai neutrofil mati dan melepaskan bakteri yang
dicerna. Setelah ituinfiltrasi sejumlah leukosit dan respon neutrofil menyebabkan
terbentuknya pus dan munculnya gejala subjektif
E. Gejala Klinis
Masa tunas gonore sangat singkat yaitu sekitar 2 hingga 5 hari pada pria. Sedangkan pada
wanita, masa tunas sulit ditentukan akibat adanya kecenderungan untuk bersifat asimptomatis
pada wanita. Keluhan subjektif yang paling sering timbul adalah rasa gatal, disuria,
polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen dari ujung uretra yang kadang-kadang dapat
disertai darah dan rasa nyeri pada saat ereksi. Pada pemeriksaan orifisium uretra eksternum
tampak kemerahan, edema, ekstropion dan pasien merasa panas. Pada beberapa kasus
didapati pula pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral maupun bilateral.
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dari pria. Pada wanita, gejala
subjektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan objektif. Adapun gejala
yang mungkin dikeluhkan oleh penderita wanita adalah rasa nyeri pada panggul bawah, dan
dapat ditemukan serviks yang memerah dengan erosi dan sekret mukopurulen.
F. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Gram dengan menggunakan sediaan langsung dari duh uretra


memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terutama pada duh uretra pria,
sedangkan duh endoserviks memiliki sensitivitas yang tidak begitu tinggi.
Pemeriksaan ini akan menunjukkan N.gonorrhoeae yang merupakan bakteri gram
negatif dan dapat ditemukan baik di dalam maupun luar sel leukosit.
Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya dilakukan pada

media

pertumbuhan Thayer-Martin yang mengandung vankomisin untuk menekan


pertumbuhan kuman gram positif dan kolimestat untuk menekan pertumbuhan
bakteri negatif-gram dannistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. Pemeriksaan
kultur ini merupakan pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi,
sehingga sangat dianjurkan dilakukan terutama pada pasien wanita
Tes defenitif: dimana pada tes oksidasi akan ditemukan semua Neisseria akan
mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula bening menjadi merah
muda hingga merah lembayung. Sedangkan dengan tes fermentasi dapat
dibedakan N.gonorrhoeae yang hanya dapat meragikan glukosa saja.
Tes beta-laktamase: tes ini menggunakan cefinase TM disc dan akan tampak
perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.
Tes Thomson: tes ini dilakukan dengan menampung urine setelah bangun pagi ke
dalam 2 gelas dan tidak boleh menahan kencing dari gelas pertama ke gelas
kedua. Hasil dinyatakan positif jika gelas pertama tampak keruh sedangkan gelas
kedua tampak jernih
G. Penatalaksanaan
Farmako
Penisilin Prokain : 4,8 juta IU IM, 2 hari berturut turut
Kanamisin : 2 gram IM dosis tunggal
Amoksisilin atau Ampisilin : 3,5 gram oral dosis tunggal
Tetrasiklin cap: 4 X 500 mg selama 5 hari, atau dosis awal 1.500 mg,
dilanjutkan 4 X 500 mg selama 4 hari
Kotrimoksasol tablet 480 : 1 X 4 tablet selama 5 hari
Ceftriakson intramuskuler (melalui otot) suntikan tunggal
Bila ada komplikasi Kotrimoksasol, dapat diberikan Amoksisilin atau
Ampisilin : 3,5 gram oral dosis tunggal diteruskan 4 X 500 mg selama 10
hari. Pengamatan dan pemberian ulang dilakukan pada hari ke 3, 7 dan
14, sesudah itu setiap bulan selama 3 bulan.Terapi sebaiknya diberikan

juga kepada patner penderita (suami/istri) secara bersamaan. Selama


masa terapi sebaiknya Hubungan seks dihentikan.
Non-Farmako
Edukasi :
o Menjelaskan kepada pasien tentang IMS yang diderita dan
pengobatan yang diperlukan, termasuk nama obat, dosis, serta cara
penggunaannya. Bila perlu dituliskan secara rinci untuk panduan
pasien. Dan juga harus diingatkan untuk patuh dalam minum obat.
o Menjelaskan pilihan perilaku seksual yang aman :
Cara ABCD
A = Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual

untuk sementara )
B = Be faithful (setia pada pasangan)
C = Condom (gunakan kondom bila tidak mau
melaksanakan A dan B, termasuk menggunakan

kondom sebelum IMS yang dideritanya sembuh)


D = no Drugs (Tidak menggunakan obat psikotropik
atau zat adiktif lainnya)

H. Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah akibat dari penyakit ini pada bayi yang baru
lahir. Herpes genitalis pada trimester awal kehamilan dapat menyebabkan abortus atau
malformasi kongenital berupa mikroensefali. Pada bayi yang lahir dari ibu pengidap herpes
ditemukan berbagai kelainan seperti hepatitis, ensefalitis, keratokonjungtifitis bahkan
stillbirth.

BAB III
PERUMUSAN MASALAH, RENCANA PENATALAKSANAAN,
DAN INTERVENSI
STATUS PASIEN
Fasilitas Pelayanan Kesehatan

: Puskesmas Keranggan Tangerang Selatan

Tanggal

: 19 September 2016

Nama
Umur
Alamat

Pasien
Keterangan
Tn Kusmanto
34 th
Komp batan indah blok N no.42

Jenis Kelamin
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Status Perkawinan
Kedatangan yang ke
Telah diobati sebelumnya
Alergi obat
Sistem pembayaran

Tangerang selatan
Laki laki
Islam
SD
Swasta
Menikah
1
Belum
Tidak
Umum

Pasien datang sendiri

Data pelayanan
Anamnesis (dilakukan secara autoanamnesis)
A. Keluhan Utama
Keluar cairan berwarna kuning dari kemaluan
B. Keluhan Tambahan
susah buang air kecil, keluar darah setelah buang air kecil
C. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan cairan berwarna kuning sejak kurang lebih 5 hari yang
lalu. Sebelumnya pasien merasakan gatal pada daerah kemaluannya, tetapi pada awalnya
pasien tidak terlalu memperhatikan keluhannya dan dianggap sebagai gatal-gatal biasa.
Setelah lewat beberapa hari pasien melihat adanya bercak di celana dalamnya ketika akan
mandi pagi. Hal ini membuat pasien menjadi bingung, tetapi pasien belum merasa perlu
datang ke Puskesmas untuk memeriksakan diri. Ketika akan buang air kecil pada siang hari,
pasien melihat bahwa dari kemaluannya keluar cairan berwarna kuning. Lalu pasien
menduga bercak di celana dalamnya tadi pagi adalah akibat dari cairan yang keluar dari
kemaluannya. Untuk mengurangi keluhan yang dirasakan, pasien menjadi sering ganti celana
dalam. Hal ini dikarenakan pasien berpikiran bahwa dengan makin sering berganti celana
dalam maka keluhannya akan hilang.
Walaupun pasien sudah melakukan usaha untuk mengurangi keluhan yang dirasakan,
tetapi keluar cairan dari kemaluannya ini tidak hilang, malah semakin bertambah parah.
Karena Pasien menjadi merasakan susah buang air kecil dan setelah buang air kecil keluar
sedikit darah dari kemaluannya. Setelah menyadari keluhannya bertambah parah pasien
datang ke untuk memeriksakan keluhannya. Sebelum nya pasien belum meminum obat untuk
mengurangi keluhannya dan hanya menjadi lebih sering mengganti celana dalamnya.

Pasien mengatakan bahwa tidak mengetahui bagaimana awal mula dari keluhannya.
Pasien hanya mengetahui pada awalnya pasien merasakan gatal-gatal disekitar kemaluannya,
lalu tiba tiba setelah beberapa hari muncul bercak di celana dalamnya. Hanya saja sebelum
mengalami keluhan ini pasien mengatakan bahwa pasien datang ke lokalisasi, dan
mengatakan bahwa baru pertama kali itu datang ke tempat lokalisasi. Dan pasien datang
karena diajak oleh temannya.
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien merupakan anak ke 7 dari 7 bersaudara. Dan di dalam keluarga pasien, tidak
ada anggota keluarga yang mengalami penyakit keturunan seperti Hipertensi, Diabetes
Mellitus, dan Kanker. Tetapi pasien mengatakan bahwa keponakannya ada yang pernah
mengalami batu ginjal. Pasien memiliki seorang istri dan mempunyai 1 orang anak
perempuan.
GENOGRAM

: laki-laki
: perempuan
: tinggal serumah
: Pasien ( laki-laki )
E. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat alergi makanan, obat, udara maupun debu disangkal. Pasien baru pertama kali
mempunyai keluhan seperti ini. Tidak ada riwayat penyakit darah tinggi, kencing manis,
maupun penyakit kronik lainnya. Tidak ada riwayat rawat inap karena sakit berat ataupun
kecelakaan.
F. Riwayat Perilaku dan Kebiasaan Pribadi

Pasien mengaku memiliki kebiasaan makan makanan yang manis. Pasien gemar berolah
raga, pasien juga memiliki kebiasaan merokok. Pasien selalu makan pagi dan sore
dirumahnya, tetapi untuk makan siang pasien sering kali lupa hal ini dikarenakan aktivitas
pasien yang selalu sibuk pada siang hari untuk mengatar pulang anak sekolah. Pasien
biasanya makan-makanan yang diberikan oleh bos istrinya, berupa nasi sop dan daging ayam.
Setiap sore hari pasien berkeliling di daerah kostnya, untuk melakukan olah raga ringan,
selain itu juga pasien gemar bermain sepak bola dan voli.
G. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan seorang duda beranak satu, dan telah baru menikah lagi bulan Oktober
tahun 2014. Saat ini Pasien tinggal bersama dengan istri, anak Pasien berada di Tegal. Pasien
memenuhi kebutuhan sehari hari dengan bekerja sebagai antar jemput anak sekolah, dan
ketika hari libur sekolah, pasien memancing di dekat tempat tinggalnya untuk mencari ikan
kemudian di jual. Istri dari pasien juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga di
lingkungan perumahan di dekat tempat tinggal pasien. Tempat tinggal yang saat ini ditempati
oleh pasien saat ini adalah Kost-kostan. Luas dari tempat tinggal pasien adalah 3x3 m,
dengan kamar mandi di luar. Di dalamnya hanya terdapat satu ruangan, dimana menjadi
tempat menerima tamu, tempat tidur, sekaligus dapur. Atap rumah tertutup oleh genteng
,langit langit dalam rumah pasien cukup terawatt dan tertutup dengan eternity, lantai rumah
pasien terbuat dari keramik. Ventilasi ruangan hanya terdiri dari 1 Jendela, dan satu celah
diatas pintu yang sudah ditutup menggunakan kardus untuk menghindari nyamuk masuk
kedalam ruangan. Hal ini mengakibatkan suasana didalam ruangan menjadi cukup lembab.
Baju pasien biasa di cuci 3 kali dalam seminggu, untuk baju kotor dimasukan kedalam ember
khusus baju kotor yang diletakkan di teras kostan. Sumber air yang digunakan adalah air
PAM. Sampah keluarga pasien diangkut oleh truk sampah tiap 2 hari sekali hubungan sosial
pasien dengan keluarga baik pasien juga memiliki hubungan social yang baik dengan
lingkungan sekitar pasien aktif dalam kegiatan gotong royong yang diadakan setiap bulan.
Penghasilan Pasien rata rata Rp 1.500.000,- tiap bulannya, ditambah dengan gaji Istri dari
pasien menjadi Rp 2.400.000,-. Untuk pengeluaran sendiri, untuk Sewa kost Rp 400.000,-,
untuk biaya Kredit motor Rp 650.000,-. Jadi pasien setiap bulannya masih memiliki kurang
lebih Rp 1.350.000,- untuk keperluan selama sebulan.

DATA ANGGOTA KELUARGA YANG TINGGAL SERUMAH

NO

NAMA

UMUR STATUS

JENIS

PEKERJA

RIWAYAT

KELAMIN

AN

PENYAKIT

Laki laki

Antar

PMS ( Penyakit

Jemput

Menular

rumah

Anak

Seksual )

tangga

Sekolah

C. Kusmanto / 34
tahun
1 Kepala

D. Ike Nurul / 23
tahun
2 Istri

Menikah

Menikah

Perempuan

Pembantu

Suspect

Rumah

Tangga

Menular

Penyakit

Seksual )

PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum dan Tanda-tanda vital termasuk status gizi
Kesadaran
: Compos mentis
Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Tinggi badan
: 165 cm
Berat Badan
: 63 Kg
IMT
:
BB/ (TB2) = 63/(1,65x1,65) = 22,7
Kriteria:
Kurang
: < 18,5
Normal
: 18,5-22,9
Lebih
: >23
Pra obes
: 23-24,9
Obese kelas I : 25-29,9
Obese kelas II : >30
Status Gizi
: Normal
Tanda Vital
:
Tekanan Darah: 130/80 mmHg
Nadi
: 86 x / menit
Pernafasan
: 22 x / menit
Suhu
: 36,7 C
B. Status Generalis

PMS

a. Kepala

: Normocephali, rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah

dicabut
b. Mata : Tidak cekung, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, ukuran pupil 3
mm/3 mm, isokor, lensa jernih/jernih
c. Telinga: Liang telinga lapang/ lapang, tidak ada serumen, sekret -/d. Hidung
: Tidak ada deformitas, liang hidung lapang/ lapang, sekret -/e. Tenggorokan : Uvula ditengah, arkus faring simetris, arkus faring tidak
hiperemis, tonsil tidak hiperemis, T1-T1
f. Gigi dan mulut: Oral higienis kesan cukup, mukosa bibir tidak tampak kering
g. Leher

: JVP 5 2 cm
Kelenjar tiroid: teraba tidak membesar
h. KGB
: Suprasternal
: Kanan dan kiri tidak teraba membesar
Colli anterior
: Kanan dan kiri tidak teraba membesar
Colli posterior
: Kanan dan kiri tidak teraba membesar
i. Paru
j. Jantung
-

Inspeksi
: Gerakan dinding dada simetris
Palpasi
: Vokal fremitus teraba simetris
Perkusi
: Paru kiri dan kanan sonor
Auskultasi : Vesikuler kanan dan kiri, Rh -/-, Wh -/-

Inspeksi
: Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi
: Iktus kordis teraba di ICS V kiri
Perkusi
:
1. Batas Paru hati: ICS 6 garis mid klavikuladextra
2. Batas Paru Lambung: ICS 5 garis axilaris anterior sinistra
3. Batas Jantung kanan: ICS 5 garis parasternalis dextra
4. Batas Jantung kiri: ICS 6 garis 2 jari medial mid clavicularis dextra
Kesan : Tidak ada pembesaran jantung
- Auskultasi : Normal, gallop (-), murmur (-)

k. Abdomen
- Inspeksi
: tampak datar
- Auskultasi : Bising usus (+), normal 8x/menit, bruits (-)
- Palpasi
: Hepar dan limpa tidak teraba membesar, nyeri
tekan (-), defence muscular (-).
- Perkusi
: Timpani diseluruh lapang abdomen
l. Ekstremitas :
- Atas : Akral hangat, capilarry refill time < 2 detik, edema (-), pulsasi,
-

a.radialis teraba kanan dan kiri


Bawah
: Akral hangat, capilarry refill time < 2 detik, edema (-),
pulsasi

m. Status Neurologis
:
- Refleks fisiologis:
1. Biseps : kanan ++ (Normal)/kiri ++ (Normal)
2. Triseps : kanan ++ (Normal)/kiri ++ (Normal)
3. APR
: kanan ++ (Normal)/kiri ++ (Normal)
4. KPR
: kanan ++ (Normal)/kiri ++ (Normal)

n. Status Lokalis:
- Tractus Urinari :
1. Inspeksi :
tidak ada pembengkakan di bagian pinggang, suprasimfisis, dan Skrotum pasien.
tidak ada fimosis dan parafimosis
tidak terlihat adanya lesi pada genetalia eksterna
2. Palpasi :
Balotemen -/ Nyeri ketok CVA -/ Tidak ada massa pada skrotum
3. Perkusi :
Timpani pada bagian suprasimfisis, nyeri ketok -/C. Pemeriksaan Penunjang (yang dianjurkan)
- Pemeriksaan Darah Lengkap
- Pemeriksaan Kultur Bakteri

PERUMUSAN MASALAH KESEHATAN PASIEN


DIAGNOSTIK HOLISTIK
A.

ASPEK PERSONAL
Keluhan utama : Keluar cairan berwarna kuning dari kemaluan sejak kurang lebih 5
hari sebelum memeriksakan diri ke Puskesmas
Kekhawatiran : Pasien khawatir keluhannya yang dirasakan akan semakin berat.
Dan pasien sangat cemas bahwa keluhan pasien dapat menganggu kehidupan rumah

B.

C.

D.

tangga pasien
Harapan : Pasien berharap agar keluhannya segera hilang
ASPEK KLINIS
Diagnosa kerja : Penyakit Menular Seksual (PMS) Gonorrhea
Diagnosa Gizi : Cukup ( IMT Pak Kusmanto= 22,9 IMT Ibu Ike = 47/2.3716 =
19,8)
ASPEK RESIKO INTERNAL
Pasien kurang mengerti tentang PMS ( Penyakit menular Seksual )
Gaya Hidup Pasien
ASPEK PSIKOSOSIAL KELUARGA DAN LINGKUNGAN

Pasien tidak memiliki masalah yang sedang dihadapi dalam keluarga


Hubungan sosial pasien dengan keluarga harmonis dan baik, begitu juga dengan
E.

tetangga rumah pasien.


DERAJAT FUNGSIONAL
Derajat satu : pasien tidak memiliki keterbatasan beraktifitas dan masih dapat
melakukan pekerjaan sendiri.

RENCANA PENATALAKSANAAN PASIEN


Sasara

Wak

Sasaran yang

Evaluasi :

n
Pasien

tu
1

diharapkan
- Keluhan

-Keluhan, kekhawatiran dan

dan

hari

harapan pasien.

Keluar

pasien

Edukasi :

ga

keluarga

-Memberikan informasi

Pasien

berkurang.
Pasien
dan

No Kegiatan

Rencana intervensi

Aspek Personal

kekhawatiran

mengenai penyakit yang

dan

keluarga

dialami pasien serta

dan
dapat

dapat

mengerti

gambaran komplikasi yang

tentang

mungkin didapat jika tidak

penyakit,

segera berobat

pencegahan dan
pengobatan atas
penyakit
2

Pasien

dialami pasien.
Pasien
benar

Aspek Klinis

Evaluasi :

Penyakit Menular

-pemeriksaan tanda vital dan

Seksual ( PMS )

fisik umum.

menjalankan

Terapi farmakologis

terapinya

Kanamycin 2 gram, IM

dengan baik dan

hari

yang

benar

sukses
Terapi non farmakologi
Menggunakan kondom jika
ingin melakukan hubungan
dengan istri

Edukasi :
Memberitahukan tentang cara
pemberian obat
Memberikan edukasi untuk
setia kepada pasangan
Memberikan edukasi untuk
tidak melakukan hubungan
badan yang mempunya resiko
tinggi
Memberitahukan
menggunakan kondom saat
melakukan hubungan badan

Aspek Resiko

Edukasi :

Pasien

Internal :

-Menjelaskan

Kurangnya

menerangkan kepada pasien keluar

pengetahuan

beserta istri bagaimana cara ga

Pasien mengenai

penularan

PMS

- Menjelaskan kepada pasien

melakukan.
- Pasien

Gaya Hidup

untuk selalu setia kepada

ke

pasien

pasangan

pada tangga 14

dan dan

2
hari

kesadaran

untuk

tidak mengabaikan
penyakitnya,
dan

penyakit pasien.

dan

- Pasien memiliki

tidak

datang

Puskesmas

melakukan hubungan badan

Januari

selain dengan istri pasien

untuk

2015

disuntikkan obat
Kanamycin
- Pasien memiliki
kesadaran

untuk

menjaga
kesehatannya
dengan gaya hidup
sehat

Aspek psikososial, Edukasi:

Pasien

Pasien beserta

keluarga dan

Tetap menjaga hubungan

dan

hari

keluarga serumah

lingkungan

yang baik antar sesama

keluar

dapat berhubungan

anggota keluarga.

ga

baik dengan sesama

pasien

dan anggota
keluarga dan tidak
menjadi beban

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kurangnya Pengetahuan tentang Kesehatan Organ Reproduksi di Masyarakat
Indonesia
2. Respond yang baik dari Tenaga Kesehatan dalam menanggapi dan menangani jika
ada Masyarakat yang terkena penyakit Gonorrhea
B. Saran
1. Memantapkan Pendidikan tentang kesehatan yang dapat dimulai dari tingkat
pendidikan SMP, dimana banyak dari Siswa/Siswi sudah masuk kedalam masa
Pubertas, dan juga Tenaga Kesehatan dapat memberikan penyuluhan kepada
Masyarakat sekitar, supaya masyarakat sekitar dapat lebih memahami tentang PMS
( Penyakit Menular Seksual )
2. Lebih memantapkan lagi respon dari Tenaga Kesehatan dalam menanggapi dan
menangani jika ada Masyarakat yang terkena penyakit Gonorrhea

Daftar Pustaka
http://spiritia.or.id/Dok/pedomanims2011.pdf
Lachlan, MC. 1987. Buku Pedoman Diagnosis dan Penyakit Kelamin. Ilmiah Kedokteran:
Yogyakarta.
Prof. DR. Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 3. Balai Penerbit FKUI:
Jakarta.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26065/4/Chapter%20II.pdf
http://repository.unand.ac.id/17659/1/Hubungan_Prilaku_Cara_Mendapatkan_Pengobatan_Pada
_Penderita_Uretritis_Gonore_Akuta_Non_Komplikata_Pria_Terhadap_Resistensi_Obat.pdf
Daili SF. Gonore. Dalam: Daili SF, Makes WI, Zubier F, editor. Infeksi menular seksual, edisi
ke-4, Jakarta: FKUI
Daili SF. Standardisasi diagnostik dan penatalaksanaan uretritis gonore akuta tanpa komplikasi.
Dalam standarisasi diagnostik dan penatalaksanaan beberapa penyakit menular seksual. Jakarta;
Balai penerbit FKUI