Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PERLINDUNGAN TANAMAN (GULMA)

Kompetisi antara Gulma Axonopus compressus dan Tanaman


Kacang Merah

Disusun Oleh :
Widi Elsa Nursuci Lestari
Kelas H-Gulma
Nomor Pokok Mahasiswa :
150510150095

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN

Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
ilmiah tentang laporan praktikum kompetisi gulma dan tanaman budidaya.
Adapun makalah ilmiah ini telah diusahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah.
Untuk itu saya tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan
baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan
lapang dada dan tangan terbuka saya membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang
ingin memberi saran dan kritik sehingga saya dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ilmiah ini dapat diambil
hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Bandung, Desember 2016

Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 4


1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan 6
BAB II DASAR TEORI

BAB III METODE PRAKTIKUM 10


3.1 Metode Praktikum

10

3.2 Alat dan Bahan 10


3.2 Cara Kerja

10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

11

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

15

DAFTAR PUSTAKA

16

LAMPIRAN 17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di alam organisme tidak hidup sendiri tetapi berdampingan dan saling berinteraksi
dengan organisme yang lainnya. Begitupun yang terjadi terhadap tumbuhan, interaksi ini
bisa terjadi antara tumbuhan yang sejenis ataupun tidak sejenis. Interaksi yang terjadi
antara organisme-organisme tersebut dapat bersifat positif-positif, positif-netral, positifnegatif, netral-netral, dan negatif- negatif. Namun dalam praktikum ini yang diteliti
adalah kompetisi yang terjadi antara tanaman jagung dan kacang hijau. Kompetisi
tersebut dapat berbentuk perebutan sumber daya yang terbatas (resource competition)
atau saling menyakiti antar indifidu yang sejenis dengan kekuatan fisik (interference
competition). Kompetisi yang terjadi antara individu sejenis disebut sebagai kompetisi
intraspesifik sedangakan interaksi antara individu yang tidak sejenis disebut interaksi
interspesifik (Naughhton, 1973).
Interaksi spesies anggota populasi merupakan suatu kejadian yang wajar di dalam suatu
komunitas, dan kejadian tersebut mudah dipelajari (Irwan, 1992). Interaksi yang terjadi
antarspesies anggota populasi akan memengaruhi terhadap kondisi populasi karena
tindakan individu dapat memengaruhi kecepatan pertumbuhan ataupun kehidupan
populasi. Menurut Odum (1971), setiap anggota populasi dapat memakan anggotaanggota populasi lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang
merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun
dua arah atau timbal balik. Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan
populasi, interaksi antarspesies anggota populasi dapat berupa interaksi yang positif,
negatif dan nol.
Kompetisi berasal dari kata competere yang berarti mencari atau mengejar sesuatu yang
secara bersamaan dibutuhkan oleh lebih dari satu pencari. Persaingan (kompetisi) pada
tanaman menerangkan kejadian yang menjurus pada hambatan pertumbuhan tanaman
yang timbul dari asosiasi lebih dari satu tanaman dan tumbuhan lain. Persaingan terjadi
bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan
lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan
ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat
(Wirakusumah, 2003).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan sesama tanaman yaitu
adanya kompetisi yang disebabkan kekurangan sumber energy atau sumber daya lainnya
4

yang terbatas seperti sinar matahari, unsur hara, dan air. Kompetisi ini disebut juga
alelospoli. Tumbuhan tertentu baik masih hidup atau sudah mati menghasilkan senyawa
kimia yang dapat mempengaruhi tumbuhan lain. Senyawa kimia tersebut disebut
allelopati. Adanya pengaruh baik fisik maupun maupun biologis lingkungan yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jenis-jenis tumbuhan yang bertindak
sebagai tuan rumah atau inang (Irwan, 1992).
Kompetisi adalah interaksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan
akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan
(survival), pertumbuhan dan reproduksi individu kompettisi didefinisikan sebagai
interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka.
Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies
yang sama atau interspesifik. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk
interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia
terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap
pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut,
contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Elfidasari, 2007).
Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama
(intraspesific competition), dan dapat pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda
(interspesific competition). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan
menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar
jenis yang berbeda. Sarana pertumbuhan yang sering menjadi pembatas dan
menyebabkan terjadinya persaingan diantaranya air, nutrisi, cahaya, karbon dioksida, dan
ruang. Persaingan terhadap air dan nutrisi umumnya lebih berat karena terjadi pada waktu
yang lebih awal. Faktor utama yang mempengaruh persaingan antar jenis tanaman yang
sama diantaranya kerapatan. Pengaruh persaingan dapat terlihat pada laju pertumbuhan
(misalnya tinggi tanaman dan diameter batang), warna daun atau kandungan klorofil,
serta komponen dan daya hasil (Clapham, 1973).
1.2 Rumusan Masalah
1. Adakah pengaruh keberadaan gulma rumput terhadap tanaman kacang merah?
2. Bagaimana pengaruh populasi gulma dalam kompetisi dengan tanaman kacang
merah?
1.3 Tujuan
Tujuan pratikum ini adalah agar mahasiswa mampu mengevaluasi sejauh mana terjadi
kompetisi antar tanaman Axonopus compressus dan kacang merah serta interaksi yang
terjadi diantara keduanya.
1.4
5

BAB II
DASAR TEORI

Kompetisi adalah interaksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan
akan sumber daya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan
(survival), pertumbuhan dan reproduksi individu kompetisi didefinisikan sebagai interaksi
antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat
terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau
interspesifik. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar
tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan
dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah
satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2,
dan ruang tumbuh (Odum, 1983).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai
sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2)
kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih
banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber
yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati
tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk
hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Naughhton,1973).
Secara teoritis apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan
terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah
satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua
organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan
suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya
dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam.
Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies
yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian
kompetitif (competitive exclusion principles). Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi
menjadi dua, yaitu kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau
(exploitative competition), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama
sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu
usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun
6

sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan
pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain
(Gardner, 1990)
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik
pada tumbuhan, yaitu yang pertama jenis tanaman. Faktor ini meliputi sifat biologi
tumbuhan, sistem perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya adalah pada
tanaman ilalang yang memiliki sistem perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan
persaingan dalam memperebutkan unsure hara. Kedua kepadatan tumbuhan, jarak yang
sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap zat-zat
makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman
(Harter, 1961).
Ketiga penyebaran tanaman, untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan
penyebaran biji atau melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji
mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan
rimpang. Waktu, lamanya periode tanaman sejenis hidup bersama dapat memberikan
tanggapan tertentu yang mempengaruhi kegiatan fisiologis tanaman. Periode 25-30 %
pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang
disebabkan oleh kompetisi (Harter, 1961).
Konsep yang menyatakan bahwa suatu tanaman dapat menimbulkan pengaruh buruk
atau keracunan atau hambatan pada tanaman dikenal dengan allelopati. Allelopati ini
ditemukan oleh Candolle sejak tahun 1832. Setelah itu menyusul ahli-ahli seperti Pickering,
pada tahun 1917, Molisch pada tahun 1937, Bonner pada tahun 1950, Grummer pada tahun
1957, Evenari pada tahun 1949 dan lain-lainnya (Wirakusumah, 2003).
Allelopati merupakan interaksi antara tanaman yang ditimbulkan oleh hasil metabolism
tanaman. Muller mengemukakan bahwa allelopati adalah pengaruh buruk atau merusak yang
ditimbulkan oleh dapa satu tanaman pada tanaman lain melalui prodiksi senyawa-senyawa
kimia penghambat yang lepas ke lingkungan hidup tanaman itu. Sedangkan Moral dab Gates
menyatakan bahwa allelopati hambatan pada perkecambahan, pertumbuhan atau pada
metabolisme suatu tanaman yang disebabkan pelepasan senyawa-senyawa organik oleh
tumbuhan lain (Fuller, 1964).

Persaingan merupakan pemindahan atau pengurangan satu atau beberapa faktor


lingkungan seperti air, hara lingkungan, dan cahaya yang diperlikan suatu tanamanoleh
tanaman lain, sedangkan allelopati merupakan pengaruh merugikanyang disebabkan oleh
senyawa-senyawa kimia. Menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri tertentu. Mekanisme allelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antar tumbuhan,
antar mikroorganisme atau antar tumbuhan dan mikroorganisme (Fuller, 1964).
Rumput (Axonopus compressus) merupakan tanaman yang biasanya tumbuh secara
liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari. seperti di tanah kosong,
tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan atau lahan pertanian dan tumbuh sebagai gulma.
Rumput teki mempunyai batang segitiga hidup sepanjang tahun karena ketinggian 1075 cm
bunganya berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helaian
benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok
menjadi satu payung. Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi
umbi berwarna coklat atau hitam dalamnya berwarna putih kemerahan. Umbinya berumpun
dan bentuknya bulat telur sebesar kacang tanah sampai beberapa cm. Rasanya sepat kepahitpahitan dan baunya wangi (Risyanti, 2009)
Di alam beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan
perkembangan tanaman antara lain cahaya, tunjangan mekanik, suhu udara, air dan unsur
hara. Jumlah bahan organik yang dapat dihasilkan oleh lahan itu tetap walaupun kompetisi
tumbuhannya berbeda. Apabila ketersediaan air dan hara telah cukup dan pertumbuhan
berbagai tumbuhan subur, maka faktor pembatas berikutnyaa adalah cahaya matahari yang
redup di musim penghujan berbagai pertanaman berebut untuk memperoleh cahaya matahari.
Tumbuhan yang berhasil bersaing mendapatkan cahaya adalah yang tumbuh lebih dahulu,
oleh karena itu tumbuhan itu lebih tua, lebih tinggi dan lebih rimbun tajuknya (Wirakusumah,
2003).
Untuk mendapatkan faktor lingkungan yang optimal, sehingga memungkinkan
tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik, dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanaman.
Pengaturan jarak tanam berkaitan erat dengan radiasi, pengaturan tanaman maupun kerapatan
populasi memegang peranan penting, sehingga persaingan terhadap radiasi surya dapat
dikurangi dan tanaman dapat menggunakan radiasi surya secara efisien. Di samping itu
kerapatan populasi jufa mempengaruhi persaingan di antara tanaman dalam menggunakan
lenggas tanah dan unsur hara (Naughhton,1973).
8

BAB III
METODE DAN PROSEDUR KERJA
3.1 Metode
Praktikum ini dilaksanakan di samping rumah kaca Ciparanje, pengamatan dilakukan
satu kali seminggu selama 4 minggu di dalam rumah kaca Ciparanje.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan utnuk membantu praktikum ini adalah polybag besar,
label tempel, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah tanah, benih kacang
merah dan 16 gulma Axonopus compressus.
3.3 Langkah Kerja :
Disiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kelancaran praktikum.
Diambil 5 polybag kemudian di isi dengan tanah. Disiapkan benih kacang merah yang
akan ditanam. Perlakuan yang diberikan ada 5 yaitu benih kacang merah saja untuk
perlakuan kontrol (A), benih kacang merah dengan 1 Axonopus compressus (B), benih
kacang merah dengan 3 Axonopus compressus (C), benih kacang merah dengan 5
Axonopus compressus (D), dan benih kacang merah dengan 7 Axonopus compressus (E).
Kemudian dilakukan pengamatan sekali seminggu selama 4 minggu pengamatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Rata-rata Tinggi Tanaman Kacang Merah
Populasi

Rata-rata tinggi tanaman

Gulma

kacang merah (cm)


2
3

Axonopus
compressus
0
1
3
5
7

1 MST
22,3
18,7
0
20,3
10,8

MST
38,7
35,2
0
23,3
19,6

MST
48,3
42
0
34
30

4
MST
56,5
47
0
43
39,5

Tabel 4.2 Pengamatan Rata-rata Jumlah Daun Tanaman Kacang Merah


Populasi

Rata-rata jumlah daun tanaman

Gulma

kacang merah
2
3

Axonopus
compressus
0
1
3
5
7

1 MST
2
2
0
2
2

MST
4
4
0
4
3

MST
8
6
0
7
7

4
MST
8
8
0
7
10

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa terjadi kompetisi intraspesies dan
interspesies. Dari hasil yang diperoleh, yang terlihat sekali adalah persaingan interspesies
dimana Axonopus compressus sebagai tumbuhan gulma lebih cepat tumbuh dibandingkan
benih kacang merah.

Ruang merupakan faktor yang penting dalam persaingan antar spesies karena ruang
sebagai tempat hidup dan sumber nutrisi bagi tumbuhan. Ruang yang besar dapat
menyebabkan tingginya tingkat persaingan. Faktor utama yang memengaruhi persaingan
antar jenis tanaman yang sama diantaranya adalah kerapatan. Pengaruh kerapatan tanaman

10

terhadap diameter dan tinggi tanaman yaitu semakin besar kerapatan tanaman maka semakin
kecil diameter dan tinggi tanaman dan semakin kecil kerapatan tanaman maka semakin besar
diameter dan tinggi tanaman yang ada. Hal ini disebabkan karena kerapatan yang besar
berarti jumlah tanaman sejenis banyak tumbuh di ruang sempit, saling berkompetisi untuk
mendapatkan air, dan nutrisi yang jumlahnya terbatas (Budi, 2009). Teori ini sesuai dengan
hasil pengamatan yang diperoleh pada beberapa minggu menjelang minggu ke-6 sampai ke-8
bahwa semakin tinggi kerapatan tanaman maka semakin besar maka jumlah jumlah tanaman
yang sejenis dan semakin tinggi tingkat kompetisi untuk mendapatkan air, nutrisi yang
jumlahnya terbatas.
Kemudian kompetisi interspesies juga terjadi antara tanaman kacang merah dengan
Axonopus compressus. Pada pengamatan awal dapat dilihat bahwa yang tumbuh subur adalah
perlakuan kontrol yang tidak terdapat Axonopus compressus. Sedangkan perlakuan yang
diberi gulma tidak begitu subur. Dari hasil tersebut dapat dibuktikan telah terjadi kompetisi
interspesies untuk memperebutkan nutrisi dan hara yang terdapat di dalam tanah.
Faktor- faktor lingkungan yang mungkin diperebutkan oleh tumbuhan tumbuhan dalam
kompetisi atau persaingan diantaranya adalah cahaya, air, tanah, oksigen, unsur hara dan
karbon dioksida. Selain faktor yang diperebutkan terdapat pula faktor eksternal yang
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dari tanaman tersebut. Adapun faktor eksternal
tersebut diantaranya adalah keberadaan hewan penyerbuk, agen dispersal biji, kondisi tanah,
kelembaban tanah dan udara serta angin. Adanya gangguan dari spesies-spesies tertentu di
suatu habitat juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tumbuhan (Setiadi, 1989).
Pada umumnya kecepatan perkecambahan dan pertumbuhan suatu biji tumbuhan
merupakan faktor penentu untuk menghadapi dan menanggulangi persaingan. Biji yang
tumbuh terlebih dahulu akan menyebabkan tumbuhan tersebut mencapai tinggi yang lebih
besar, mendapatkan intensitas cahaya matahari, air dan unsur hara tanah lebih besar
tumbuhnya (Indriyanti, 2006). Biji suatu tanaman dapat mengakhiri masa dormansinya
apabila terdapat faktor-faktor yang mengukung hal tersebut terjadi. Beberapa hal yang
berpengaruh terhadap pemutusan dormansi biji adalah struktur biji itu sendiri, sedangkan
faktor lingkungan yang berpengaruh adalah kadar air, kelembaban tanah, suhu tanah,
intensitas cahaya dan faktor fisik lainnya (Budi, 2009).
Menurut

Indriyanti (2006) mengatakan bahwa adanya persaingan gulma dapat

mengurangi kemampuan tanaman untuk berproduksi. Persaingan atau kompetisi antar sesama
11

gulma di dalam menyerap unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah, dan penerimaan cahaya
matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam jumlah
(kuantitas).
Kelompok gulma rumput teki memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian
mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan- bulan.
Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien
dalam menguasai areal pertanian secara cepat. Hal ini sangat berbeda dengan kelompok
gulma bayam-bayaman yang paling rentan terhadap pH tanah dan air (Setiadi, 1989).
Semakin cepat salah satu jenis gulma tumbuh (rumput), semakin hebat persaingannya.
Pertumbuhan dari jenis gulma lain semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun.
Semakin rapat salah satu gulmanya, maka persaingan yang terjadi antara kedua jenis gulma
akan semakin hebat, pertumbuhan salah satu jenis gulma semakin terhambat, dan hasilnya
semakin menurun. Hubungan antara kerapatan salah satu jenis gulma dengan pertumbuhan
dari jenis gulma lain merupakan suatu korelasi negatif. Hal ini dapat dilihat dari persaingan
kedua jenis gulma yaitu antara tumbuhan bayam liar dengan rumput teki yang berada di suatu
lahan yang sudah tidak ditanami tanaman budidaya lagi. Gulma dari rumput teki terlihat
sangat rapat sekali pertumbuhannya dan juga ketebalan tajuknya (Budi, 2009).
Sebagaimana dengan tumbuhan lainnya rumput dan kacang merah, persaingan antara
keduanya juga membutuhkan banyak air untuk hidupnya. Jika ketersediaan air dalam suatu
lahan menjadi terbatas, maka persaingan air menjadi parah. Air diserap dari dalam tanah
kemudiaan sebagian besar diuapkan (transpirasi) dan hanya sekitar satu persen saja yang
dipakai untuk proses fotosintesis. Persaingan memperebutkan air terjadi serius pada pertanian
lahan kering atau tegalan dalam hal ini tempat kedua jenis gulma. Disini, tanaman kacang
merah lebih membutuhkan banyak air daripada rumput. Walaupun dalam perebutan air
tanaman kacang merah lebih dominan, tetapi untuk daya tahan terhadap lingkungan yang
ekstrem ternyata rumput lebih mampu beradaptasi (Risyanti, 2009).
Gersani et.al.,(2001) yang menyatakan bahwa Kompetisi tanaman juga terjadi di akar.
Hal tersebut terjadi karena tanaman satu dengan yang lainnya sering memperebutkan tempat
untuk tumbuh. Keadaan untuk berbagi tempat tumbuh kepada tanaman lainnya mendorong
tanaman untuk secara maksimal mungkin memperebutkannya. Jika salah satu tanaman kalah
dalam kompetisi maka akan terjadi penurunan pertumbuhan akar sehingga sulit tumbuh dan
akan menghasilkan akar tanaman yang lebih kecil dibandingkan yang lain.
12

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat ditari kesimpulan sebagai berikut,
1. Kompetisi intraspesies terjadi pada tanaman kacang merah dan Axonopus
compressus dimana terjadi kompetisi dari dua species yang berbeda.

13

2. Kompetisi interspecies terjadi antar sesama tanaman kacang merah. Hasil akhir
kompetisi interspecies adalah tanaman kacang merah yang berkompetisi samasama mati.
5.2 Saran
Sebaiknya praktikan untuk melakukan penyiraman secara teratur selama
pengamatan dan membuang semua gulma penganggu yang tidak termasuk ke dalam
perlakuan selama praktikum. Sehingga hasil yang didapatkan lebih efektif dan akurat.

14

DAFTAR PUSTAKA
Budi, G.P. dan O.D. Hajoenitijas. 2009. Kemampuan kompetisi beberapa varietas kedelai
(Glicyne max) terhadap gulma alang-alang (Imperata cylindrica) dan teki (Cyperus
rotundus). Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah 7: 127-129. (Diakses 11 Desember
2016)
Elfidasari, D. 2007. Jenis interaksi intraspesifik dan interspesifik pada tiga jenis kuntul saat
mencari makan di sekitar cagar alam Pulau Serang Dua, Provinsi Banten. Jurnal
Biodiversitas 8: 266-269. (Diakses 12 Desember 2016)
Irwan, Z. O.1992. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem, Komunitas, Dan
Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta : Bumi Aksara

15

LAMPIRAN DOKUMENTASI

Kontrol

Perlakuan 1 Gulma Perlakuan 3 Gulma

Perlakuan 5 Gulma

Perlakuan 7 Gulma

Gambar 2 Pengamatan Tanaman pada 1 Minggu Setelah Tanam

Kontrol

Perlakuan 1 Gulma Perlakuan 3 Gulma Perlakuan 5 Gulma Perlakuan 7 Gulma

Gambar 3 Pengamatan Tanaman pada 2 Minggu Setelah Tanam

Kontrol

Perlakuan 1 Gulma Perlakuan 3 Gulma

Perlakuan 5 Gulma Perlakuan 7 Gulma

Gambar 4 Pengamatan Tanaman pada 3 Minggu Setelah Tanam

16