Anda di halaman 1dari 6

Bab I

Akta Otentik dan Akta Notaris


1.

Pencantuman nama Notaris pada awal akta, dan pencantuman nama dan tanda
tangan Notaris pada akhir akta merupakan perintah UUJN (Pasal 38 ayat (2) huruf d
dan Pasal 44 ayat (1)). Jadi tidak dapat ditafsirkan bahwa Notaris sebagai pihak dalam
akta.

2.

Isi akta merupakan kehendak atau keinginan para penghadap sendiri, bukan
keinginan atau kehendak Notaris, tapi Notaris hanya membingkainya dalam bentuk akta
Notaris sesuai UUJN (Pasal 38 ayat (3) huruf c). Oleh karena itu, jika isi akta
dipermasalahkan oleh para pihak atau pihak lain yang berkepentingan, maka hal
tersebut, yang berkaitan dengan isi akta, merupakan permasalahan mereka sendiri.
A. Akta Otentik

1.

Otentik atau Authentiek dapat diartikan: bersifat umum, bersifat jabatan, memberi
pembuktian yang sempurna (dari surat-surat).

2.

Arti kata otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna bahwa siapa pun
terikat dengan akta tersebut, sepanjang tidak bisa dibuktikan bukti sebaliknya
berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

3.

Akta otentik merupakan sebutan yang diberikan kepada pejabat tertentu yang
dikualifikasikan sebagai Pejabat Umum, seperti akta otentik yang dibuat oleh Notaris,
PPAT, Pejabat Lelang dan Pegawai Kantor Catatan Sipil.
B. Akta Notaris

1.

Kesempurnaan akta Notaris sebagai alat bukti harus dilihat apa adanya, tidak perlu
dinilai atau ditafsirkan lain, selain yang tertulis dalam akta tersebut.

2.

Bahwa disebut akta Notaris, karena akta tersebut sebagai akta otentik yang dibuat di
hadapan atau oleh Notaris yang memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam UUJN.
C. Syarat Akta Notaris Sebagai Akta Otentik (Pasal 1868 KUHPerdata):

1.

Akta yang dibuat oleh (door) atau di hadapan (ten overstaan) seorang Pejabat Umum
1. Pembuatan akta Notaris baik akta relaas maupun akta pihak, yaitu harus ada
keinginan atau kehendak (wilsvorming) dan permintaan dari para pihak, jika tidak ada,
maka Notaris tidak akan membuat akta yang dimaksud.

2. Saran atau pendapat Notaris yang diikuti oleh para pihak dan dituangkan dalam akta
Notaris, dianggap merupakan keinginan dan permintaan para pihak, bukan perbuatan
atau tindakan Notaris.
3. Jika suatu akta Notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka:
i.
ii.

para pihak datang lagi ke Notaris untuk membuat akta pembatalan


jika para pihak tidak sepakat untuk membatalkan, maka salah satu pihak

dapat menggugat pihak lainnya, dengan gugatan untuk mendegradasikan akta Notaris
menjadi akta di bawah tangan.
2.

Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang (Pasal 38
UUJN)

3.

Pejabat Umum oleh atau di hadapan siapa akta itu dibuat, harus mempunyai
wewenang untuk membuat akta itu.
D. Nilai Pembuktian Akta Otentik

1.

Lahiriah (uitwendige bewijskracht)


Akta Notaris dengan sendirinya membuktikan keabsahannya sebagai akta otentik (acta
publica probant sese ipsa).

2.

Formal (formele bewijskracht)


Akta Notaris dibuat sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan dalam pembuatan
akta (Pasal 38 UUJN).

3.

Materiil (materiele bewijskracht)


Apa yang tersebut dalam akta merupakan pembuktian yang sah terhadap pihak-pihak
yang membuat akta atau mereka yang mendapat hak dan berlaku untuk umum, kecuali
ada pembuktian sebaliknya (tegenbewijs).
E. Nilai Pembuktian Akta Otentik Dalam Putusan Pengadilan
Berdasarkan Putusan MA RI nomor 702 K/Sip/1973, tanggal 5 September 1973, dapat
disimpulkan bahwa:

1.

Akta Notaris tidak dapat dibatalkan

2.

Fungsi Notaris hanya mencatatkan (menuliskan) apa-apa yang dikehendaki dan


dikemukakan oleh para pihak yang menghadap Notaris tersebut.

3.

Tidak ada kewajiban bagi Notaris untuk menyelidiki secara materiil apa-apa (hal-hal)
yang dikemukakan oleh penghadap tersebut.

Berdasarkan Putusan MA RI nomor 1440 K/Pdt/1996, tanggal 30 Juni 1998 dan nomor
1462 K/Pdt/1989, tanggal 29 Nopember 1993, bahwa akta Notaris tidak mempunyai
kekuatan eksekusi dan batal demi hukum jika:
1.

memuat lebih dari 1 (satu) perbuatan atau tindakan hukum.

2.

materi akta bertentangan dengan hukum yang mengatur perbuatan atau tindakan
hukum tersebut.
F. Tindakan Hukum Yang Wajib Dibuat Oleh/Di Hadapan Pejabat Tertentu (Notaris)
Peraturan perundang-undangan menentukan ada beberapa perjanjian yang wajib
dibuat oleh atau di hadapan Notaris, yaitu:

1.

Berbagai izin kawin, baik dari orang tua atau kakek/nenek (Pasal 71)

2.

Pencabutan pencegahan perkawinan (Pasal 70).

3.

Berbagai perjanjian kawin berikut perubahannya (Pasal 147, 148)

4.

Kuasa melangsungkan perkawinan (Pasal 79).

5.

Hibah berhubung dengan perkawinan dan penerimaannya (Pasal 176, 177).

6.

Pembagian harta perkawinan setelah adanya putusan pengadilan tentang


pemisahan harta (Pasal 191).

7.

Pemulihan kembali harta campur yang telah dipisah (Pasal 196).

8.

Syarat-syarat untuk mengadakan perjanjian pisah meja dan ranjang (Pasal 237).

9.

Pengakuan anak luar kawin (Pasal 281).

10.

Pengangkatan wali (Pasal 355).

11.

Berbagai macam/jenis surat wasiat, termasuk/di antaranya penyimpanan wasiat


umum,

wasiat

pendirian

peninggalan, fideicomis,

yayasan,

wasiat

pengangkatan

pemisahan

pelaksana

dan

wasiat

dan

pembagian

harta

pengurus

harta

peninggalan dan pencabutannya (Bab Ketigabelas Tentang Surat Wasiat).


12.

Berbagai

akta

pemisahan

dan

pembagian

harta

peninggalan/warisan

(Bab

Ketujuhbelas Tentang Pemisahan Harta Peninggalan).


13.

Berbagai Hibahan (Bab Kesepuluh Tentang Hibah).

14.

Protes nonpembayaran/akseptasi (Pasal 132 dan 143 KUHD).


Akta yang wajib dibuat di hadapan PPAT (Pasal 95 PMNA/KBPN No. 3 Th. 1997), yaitu:

1.

Jual Beli

2.

Tukar Menukar

3.

Hibah

4.

Pemasukan ke dalam Perusahaan

5.

Pembagian Hak Bersama

6.

Pemberian Hak Tanggungan

7.

Pemberian Hak Guna Bangunan/Hak Pakai Atas Tanah Hak Milik

8.

Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan


Di samping itu, PPAT juga berwenang membuat perjanjian tentang pemilikan rumah
tempat tinggal atau hunian oleh orang asing yang berkedudukan di indonesia (Pasal 3
ayat (22) PP No. 41 Th. 1996).
G. Substansi Isi Akta Yang Dilarang
Notaris harus mengetahui perjanjian-perjanjian yang dilarang menurut undang-undang,
contohnya dalam UU No. 5 Tahun 1999.
H. Apakah Bertentangan Dengan Asas Kebebasan Berkontrak Dengan Adanya
Tindakan Hukum Yang Harus Dibuat Secara Tertentu Tersebut?

1.

Menurut Johannes Gunawan, bahwa kebebasan yang tanpa batas (absolute) tidak
dikenal dalam pembuatan suatu perjanjian atau kontrak, melainkan justru di dalam
kebebasan tersebut terkandung batas-batas (limits) yang tidak boleh dilampaui dalam
pembuatan kontrak.

2.

Pasal 1338 KUHPerdata adalah pilar utama asas kebebasan berkontrak, artinya
bebas tidak dalam arti sebenarnya, tapi bebas ada pembatasan atau perkecualian.
I. Satu Akta Satu Perbuatan Hukum
Satu perbuatan hukum wajib dibuat dalam satu kontrak saja.
Bab II
Anatomi Akta Notaris

1.

Menyusun sebuah akta Notaris harus mempunyai alur sistematika yang mengalir,
untuk itu mempunyai anatomi tersendiri.

2.

Beberapa bagian anatomi akta Notaris yang perlu diberikan penjelasan:


i.

Judul Akta

Judul akta harus merupakan cerminan dari substansi akta, tidak multitafsir.

Judul jangan terlalu pendek

Hindari judul yang multitafsir

Hindari memberi judul dengan diawali kata Perjanjian/Kontrak


ii.

Komparisi
Komparisi : tindakan/kedudukan para pihak dalam/untuk membuat/menandatangani

akta.
-

Dalam komparisi, syarat subyektif Pasal 1320 KUHPerdata harus dipenuhi.


iii.

Premis
Praemisse/praemitto (bahasa latin) : keterangan atau pernyataan awal dari sebuah

akta atau juga merupakan alasan atau latar belakang akta dibuat.
-

Premis harus berbentuk statement of facts (penyajian fakta), bukan opoini atau hasil
analisa, atau juga bukan berisi hal yang akan atau diperkirakan terjadi, tapi harus
sesuatu fakta yang telah ada saat sekarang dan terukur yang dimiliki oleh para pihak.
iv.

Isi akta
Merupakan formulasi keinginan para pihak yang membuat akta yang diuraikan

dalam kata dan kalimat atau bahasa hukum yang dapat dimengerti oleh para pihak
sendiri atau pihak lain suatu ketika membaca akta tersebut.
-

Dalam isi akta, syarat obyektif Pasal 1320 KUHPerdata harus dipenuhi.

Ada 4 (empat) hal secara umum yang tercantum dalam isi akta: klausula definisi,
klausula transaksi, klausula spesifik, klausula ketentuan umum.
Bab III
Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris

1.

Kebatalan atau pembatalan akta Notaris diatur dalam Pasal 84 UUJN.

2.

Jika Notaris secara tegas melanggar pasal-pasal tertentu yang menegaskan secara
langsung pelanggaran, maka akta tersebut termasuk mempunyai kekuatan pembuktian
sebagai akta di bawah tangan. Jika tidak disebutkan dengan tegas dalam pasal lainnya
menurut Pasal 84 UUJN, maka termasuk ke dalam akta batal demi hukum..
Kebatalan akta Notaris meliputi:
A. Akta Notaris Dapat Dibatalkan
Syarat-syarat para pihak dalam akta yang tidak memenuhi syarat subyektif Pasal 1320
KUHPerdata, maka atas permintaan orang tertentu akta tersebut dapat dibatalkan.
B. Akta Notaris Batal Demi Hukum

Ketentuan-ketentuan yang tidak disebutkan dengan tegas akta Notaris mempunyai


kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan, maka termasuk ke dalam akta
Notaris yang batal demi hukum.
C. Akta Notaris Yang Mempunyai Kekuatan Pembuktian Sebagai Akta Di Bawah
Tangan
1.

Akta Notaris yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 1869 KUHPerdata

2.

Pasal-pasal tertentu dalam UUJN yang menyebutkan secara tegas jika dilanggar
maka akta Notaris mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.
Pembatalan akta Notaris meliputi:
D. Akta Notaris Dibatalkan Oleh Para Pihak Sendiri
Yang dibatalkan oleh para pihak, baik karena sepakat atau melalui putusan pengadilan ,
adalah isi akta, karena isi akta merupakan kehendak para pihak.
E. Penilaian Akta Notaris Dengan Asas Praduga Sah

1.

Penilaian terhadap akta Notaris harus dilakukan dengan Asas Praduga Sah
(Vermoeden van Rechtmatigheid) atau Presumptio lustae Causa, yaitu akta Notaris
harus dianggap sah sampai ada pihak yang menyatakan akta tersebut tidak sah.

2.

Untuk menyatakan atau menilai akta tersebut tidak sah harus dengan gugatan ke
pengadilan umum atau pengadilan agama jika berkaitan dengan penerapan hukum
Islam, dan harus dibuktikan ketidakabsahan dari aspek lahiriah, formal dan materiil akta
Notaris.

3.

Selama gugatan berjalan sampai dengan ada keputusan pengadilan yang


mempunyai kekuatan hukum tetap, maka akta Notaris tetap sah dan mengikat para
pihak atau siapa saja yang berkepentingan dengan akta tersebut.