Anda di halaman 1dari 6

UJIAN COMPOUNDING DAN DISPENSING

PENANGANAN RESEP DALAM PRAKTEK PENGOBATAN YANG RASIONAL

Oleh :
A.A. Ketut Sri Trisna Dewi Widhiani
NIM: 1308515011

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

I.

Resep
1.1 Hasil Pembacaan Resep
SpPD
Dr Mitra, Sp.PD
SIP : 129/DIKES/2009
Jl. Raya Sesetan no. 98
0361 7787788
R/ Zycin 500
S 1 dd I

Denpasar, 15-1-2014
No III

R/ Disudrin
mg 30
Mucos
mg 15
Hexilon
mg 4
Vit B1
mg 50
m.f. pulv dtd XV da in caps
S 3 dd I
Pro
Umur
Alamat

: Tuan Ali
: 15 th
: Sesetan

Apoteker pertama-tama akan menyapa pasien yang datang ke apotek dan memperkenalkan diri
sebagai apoteker di apotek tersebut. Selanjutnya apoteker akan menanyakan tujuan pasien tersebut
datang ke apotek. Pasien akan menyatakan bahwa tujuannya datang ke apotek adalah untuk menebus
resep sambil menyerahkan resep yang akan ditebus. Apoteker akan menganalisis kelengkapan resep
yang dibawa pasien dan memeriksa apakah obat-obat yang diresepkan oleh dokter tersedia di apotek
tersebut atau tidak.
Skrining Farmakologi (Indikasi)
Sebelum melakukan analisis resep lebih lanjut, maka dilakukan analisis terhadap spesifikasi jenis obat
dan indikasi masing-masing obat yang diresepkan dokter kepada pasien. Pada resep ini, pasien
diresepkan secara umum dilakukan berdasarkan analisis terhadap spesifikasi jenis obat dan indikasi
masing-masing obat yang diresepkan dokter kepada pasien. Pada resep ini, pasien diresepkan Zycin 500
yang mengandung azithromycin, serbuk dalam kapsul yang berisikan Disudrin yang mengandung
pseudoefedrin-HCl 30 mg, Mucos yang mengandung ambroxol 15 mg, Hexilon yang mengandung
metilprednisolon 4 mg, dan vit B1 50 mg. Adapun obat-obatan yang diberikan kepada pasien serta
indikasi dan dugaan tujuan pemberiannya tercantum dalam tabel berikut.
Tabel. Obat dalam Resep, Komposisi, Kelas Farmakologi, dan Indikasinya.
Nama
sediaan

Kandungan

Zycin

Azithromycin
500 mg

Disudrin
Mucos
Hexilon
Vit B1

Pseudoefedrin
-HCl 30 mg
Ambroxol 15
mg
Metil
prednisolon 4
mg
Vitamin B1 50
mg

Kategori
Farmakologi
Antibiotik
Macrolida
(Lacy et al., 2012)
Agonis alfa/beta
(Lacy et al, 2012)
Mukolitik (Lacy et
al., 2012)

Indikasi
Pengobatan otitis media akut; pengobatan infeksi saluran pernafasan
atas dan bawah; infeksi kulit; faringitis (Lacy et al., 2012).
Alergi pernafasan atas; pengobatan simptomatis congesti nasal (Lacy
et al., 2012).
Pengobatan penyakit saluran pernafasan akut dan kronik yang
berhubungan dengan mucus (Lacy et al., 2012).

Kortikosteroid
(Lacy et al., 2012)

Antiinflamasi pada pnegobatan alergi, atau peradangan (Lacy et al.,


2012).

Vitamin, larut air


(Lacy et al., 2012)

Pengobatan defisiensi tiamin seperti pada beri-beri (Lacy et al., 2012).

Berdasarkan obat yang diresepkan dokter dan indikasinya yang dilihat dari literatur, diduga
pasien mengalami permasalahan pada sistem pernafasan infeksi saluran pernafasan, yaitu faringitis
atas dan mengalami hidung tersumbat.
Namun yang menjadi eprhatian adalah penggunaan vitamin B1 dalam pengobatan ini. Vitamin
B1 diindikasikan pengobatan defisiensi tiamin seperti pada beri-beri. Sehingga untuk memastikan
hal ini, perlu ditanyakan kembali kepada pasien dan dokter.
II. Metode SOAP
Berdasarkan analisis indikasi di atas, maka dapat dikatakan indikasi sementara pada pasien
adalah infeksi saluran pernafasan atas dan ketepatan indikasi lainnya harus digali kembali
ketepatannya melalui metode SOAP.
4.1 Subjektif
Untuk meyakinkan dugaan bahwa pasien mengalami infeksi saluran pernafasan, yaitu faringitis
atas dan mengalami hidung tersumbat, maka apoteker melakukan penilaian secara subjektif dengan
bertanya kepada pasien langsung terkait dengan kondisinya menggunakan metode Three Prime
Questions dan menanyakan lebih lanjut mengenai keluhan pasien, yaitu:
Apoteker
: Apakah ibu sedang terburu- buru? Boleh saya minta waktunya sebentar Bu?
Pembawa resep : Tidak dik, boleh saja. Ada apa ya?
Apoteker
: Saya ingin menanyakan beberapa hal untuk data pengobatan pasien di apotek kami.
Pembawa resep : oh begitu, iya silahkan.
Apoteker
: Baiklah bu, maaf sebelumnya, kalau saya boleh tahu, keluhan apa yang tadi ibu
sampaikan ke dokter mengenai anak ibu?
Pembawa resep : Begini dik, sejak 3 hari anak saya mengeluhkan ada dahak di tenggorokannya, tetapi
anak saya tidak batuk. Anak saya juga jadi susah sekali kalau disuruh makan. Katanya
pahit dan sakit. Kata dokter itu karena radang di tenggorokannya. Anak saya juga
sering bersin-bersin dan sering mengeluhkan kalau hidungnya mampet.
Apoteker
: Apakah dokter memberikan penjelasan mengenai obat yang diresepkan ini?
Pembawa resep : Tadi dokter mengatakan anak saya diberikan antibiotik, obat untuk radang,
pengencer dahak, dan obat untuk hidung tersumbat dan bersin-bersin.
Apoteker
: Apakah anak ibu memiliki riwayat alergi?
Pembawa resep : ada dik, anak saya alergi penicilin, selain itu anak saya kalau kedinginan sering
muncul gejala seperti ini.
Apoteker
: apakah anak ibu sering merasa kesemutan, atau tungkai kakinya lemas? Nafsu
makannya bagaimana bu?
Pembawa resep : tidak mbak. Anak saya masih bisa berjalan dan tidak pernah mengeluh kesemutan,
nafsu makannya sebenarnya masih normal, tapi karena sakit tenggorokan anak saya jadi susah makan.
Apoteker
: Oh begitu, kemudian apa yang dokter sampaikan mengenai cara pemakaian obat
anak ibu?
Pembawa resep : Katanya antibiotiknya digunakan selama 5 hari. Itu saja dik
Apoteker
: Kemudian apa yang dokter katakan/harapkan tentang obat anak ibu?
Pembawa resep : Dokter mengatakan semoga anak saya lekas sembuh dan jangan lupa meminum
obatnya. Itu saja seingat saya dik.
Apoteker
: Baiklah bu, terima kasih atas informasi dan waktunya. Resep ini akan segera kami
siapkan. Silahkan menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan.
Berdasarkan percakapan yang dilakukan dengan pasien, pasien mengeluh sakit tenggrorokan,
seperti ada dahak, kemudian hidung tersumbat. Terkait dengan keraguan terhadap indikasi beri-beri
yang diperoleh secara subjektif, maka diperoleh informasi bahwa pasien tidak mengalami beri-beri.
Namun, masih harus disesuaikan kembali dengan penilaian objektif meliputi tata laksana terapi
masing-masing indikasi dan dikonsultasikan dengan dokter.

4.2 Objektif
Setelah mendapatkan penilaian secara subjektif, maka perlu dilihat secara objektif kondisi pasien
dengan melihat data laboratorium pasien. Pada kasus ini, tidak terdapat data laboratorium yang
dibawa oleh pasien. Tidak terdapat hasil laboratorium yang menunjukkan bahwa pasien mengalami
defisiensi vitamin B1.
4.3 Penegakan Anamnese Kefarmasian
Berdasarkan analisa indikasi dan efek farmakologi obat serta data subjektif dan objektif yang
telah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami faringitis dan hidung tersumbat bersinbersin. Pada penatalaksanaan faringitis, golongan penicillin merupakan lini pertama. Akan tetapi, untuk
pasien dengan alergi penicillin dapat diberikan antibiotik lain seperti erythromycin dan golongan
cephalosporin seperti cefadroxil, cephalexin, azithromycin. Obat ini dapat digunakan untuk pengobatan
infeksi bakteri, termasuk yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolytic grup A (Lacy et al, 2010).
Saat ini, hanya azythromycin, cefadroxil, cefixime, dan cefdinir yang disetujui oleh FDA untuk terapi
satu kali sehari dalam pengobatan faringitis steptococcal pada anak-anak (Bisno dkk, 2002).
Berikut adalah obat-obatan yang disetujui untuk pengobatan faringitis yang disebabkan oleh bakteri
(Feld et al, 2009):

4.4 Assesment (Drug Related Problem)


Setelah diketahui indikasi yang diderita oleh pasien dan melihat tata laksana terapi, maka
selanjutnya ditentukan rasionalitas pengobatan yang salah satunya dapat dilakukan melalui analisis
DRP. Drug Related Problem (DRP) memiliki 8 kategori, yaitu unnecessary drug therapy, wrong drug,
dosage too low, adverse drug reaction, dosage too high, drug interaction, inappropriate
compliance, needs additional drug therapy. Pada kasus ini, dapat ditentukan DRP yang terjadi yang
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel. Analisis DRP pada Pasien
Problem Medik
Terapi
DRP
Faringitis + bersin- bersin
hidung tersumbat
-

Azuthromycin
Pseudoefedrin HCl
Ambroxol
Metilprednisolon
Vit B1

Dosis Terlalu rendah


Pseudoefedrin-HCl pada resep diberikan
sebanyak 30 mg 3x sehari, seharusnya
diberikan 60 mg tiap 6 jam
Dosis terlalu tinggi
Dosis metilprednisolon yang diberikan sehari
terlalu tinggi, yaitu 12 mg/hari, sedangkan

1.
2.
3.
4.
a.

seharusnya 8 mg/hari
Terapi Tanpa Indikasi
Vitamin B1 tidak tepat indikasi

Pengatasan:
Dosis:
Zycin 500 mengandung azithromycin 500 mg sudah tepat dosis (dosis maksismum 500 mg/hari, hari
pertama diberikan 500 mg, hari berikutnya diberikan 250 mg (Lacy, et al., 2012).
Disudrin mengandung Pseudoefedrin-HCl 30 mg sekali 90 mg sehari terlalu rendah,seharusnya 240
mg tiap hari (Lacy, et al., 2012).
Ambroxol 15 mg sekali, 45 mg sehari sudah tepat dosis, dosis diberikan 60-120 mg/ hari dalam 2
dosis terbagi (lacy, et al., 2012).
Hexilon dalam tiap tablet mengandung metilprednisolon diberikan 12 mg sehari, seharsunya 8 mg
sehari (lacy, et al., 2012).
Dosis Terlalu Rendah (Dosage Too Low)
a. Pseudoefedrin HCl
b. Dosis Lazim
Dosis lazim dewasa 60 mg untuk sekali pakai.
Dosis maksimum dewasa yaitu 240 mg/hari (lacy, et al., 2012)
c. Dosis dalam resep
Dosis disudrin 30 mg sekali pakai, diberikan 3x sehari, sehingga sehari pasien
mendapatkan hanya 90 mg.
Pengatasan: Disudrin dinaikkan menjadi 67,5 mg sekali pakai. Maka sehari pasien
mendapatkan 202,5 mg.
Disudrin dalam tiap tablet mengandung Pseudoephedrine HCl 7,5 mg.

b. Dosis Terlalu Tinggi


metilprednisolon
Dosis dewasa pada awal pemberian 4-8 mg/hari. Dosis pemeliharaan 4-8 mg/hari dan
ditingkatkan menjadi 16 mg/hari (Lacy, 2009).
Dosis yang diberikan pada resep adalah 4 mg 3 x sehari.
Dosis yang digunakan pada resep di atas rentang terapetik.
Pengatasan: Diturunkan menjadi dosis 2 mg.
c. Tidak tepat indikasi
Penggunaan vitamin B1 dikonsultasikan kembali dengan dokter.
4.5 Plan
Berdasarkan hasil analisis ketepatan pengobatan dan pengatasan DRP, maka apoteker dapat
membuat perencanaan sebagai berikut:
a. Diskusi dengan Dokter
Setelah menemukan permasalahan, maka terdapat beberapa hal yang harus didiskusikan dengan
dokter dengan melihat pertimbangan tata laksana terapi. Pada kasus ini, pasien tidak mengalami
gejala beri-beri, untuk dapat memastikan dengan tepat indikasi vitamin B1 dalam resep maka perlu
ditanyakan pada dokter penulis resep. Dan dari hasil diskusi dengan dokter, maka vitamin B1 tidak
perlu diberikan.
b. Kesimpulan Akhir
Berdasarkan hasil penegakan anamnese di atas, maka dapat disimpulkan bahwa indikasi yang
dialami pasien adalah faringitis. Dari indikasi tersebut, diperoleh drug related problem dari resep yang
diterima pasien, yaitu dosis disudrin yang terlalu rendah, dosis hexilon yang terlalu tinggi, dan
pemberian vitamin B1 tanpa indikasi. Untuk menyelesaikan permasalahan pada pengobatan pasien,

maka perlu dilakukan konsultasi ke dokter. Dan dari hasil konsultasi ini, diperoleh kesimpulan akhir dari
pengobatan pasien adalah penyesuaian dosis sesuai saran apoteker dan penggunaan vitamin B1 tidak
diberikan.
c. Compounding
Perhitungan bahan
a. Sediaan dalam bentuk pulv. yang terdiri dari pseudoefdrin-HCl, ambroxol, dan
metilprednisolon. Pseudoephedrine HCl dibuat dengan menggunakan 113 tablet Disudrin (@
tablet mengandung 7,5 mg pseudoefedrin), ambroxol dibuat dengan menggunakan 8 tablet
Mucos, metilprednisolon dibuat dengan menggunakan 30 tablet Hexilon (@2 mg). Masingmasing tablet kemudian digerus dalam mortir porselin yang berbeda sampai terbentuk serbuk
yang halus. Selanjutnya, dimasukkan hasil gerusan digerus hingga homogen (warnanya merata).
Lalu disiapkan kapsul dengan cangkang kapsul no.4 yang bobotnya 250 mg. Pemeriksaan akhir
dapat dilakukan dengan melihat kondisi kapsul yang telah diracik, serta dipastikan jumlah kapsul
yang diracik berjumlah 30 kapsul. Kapsul kemudian dimasukkan dalam kemasan/plastik klip.
b. Azithromicin yang dibutuhkan pada resep yaitu 5 kapsul tablet 500 mg.
Pelabelan
Etiket Azithromicin

Etiket Kapsul

Apotek
Apotek Sri
Sri Farma
Farma
Jl.
Jl. Teuku
Teuku Umar
Umar No.
No. 11,
11, Denpasar-Bali
Denpasar-Bali
APA
APA :: Sri
Sri Trisna
Trisna Dewi
Dewi S.Farm.,
S.Farm., Apt.
Apt.
SIPA
SIPA :: 50/19/2455/DB/DP/2012
50/19/2455/DB/DP/2012
No.
No. 11
11
Tuan
Tuan Ali
Ali (15
(15 tahun)
tahun)

Denpasar,
Denpasar, 15-01-2014
15-01-2014

Diminum
Diminum 11 kali
kali sehari
sehari 11 tablet
tablet (untuk
(untuk hari
hari keke1)
1) setelah
setelah makan
makan
Diminum
Diminum 11 kali
kali sehari
sehari 1/2
1/2 tablet
tablet (untuk
(untuk hari
hari
ke-2
hingga
hari
ke-5)
setelah
ke-2 hingga hari ke-5) setelah makan
makan
Ttd
Ttd apoteker
apoteker

Apotek
Apotek Sri
Sri Farma
Farma
Jl.
Jl. Teuku
Teuku Umar
Umar No.
No. 11,
11, Denpasar-Bali
Denpasar-Bali
APA
APA :: Sri
Sri Trisna
Trisna Dewi,
Dewi, S.Farm.,
S.Farm., Apt.
Apt.
SIPA
SIPA :: 50/19/2455/DB/DP/2012
50/19/2455/DB/DP/2012
No.
No. 11
11
Tuan
Tuan Ali
Ali (15
(15 tahun)
tahun)

..

Denpasar,
Denpasar, 15-01-2014
15-01-2014

Diminum
Diminum 33 kali
kali sehari
sehari 11 kapsul
kapsul
Setelah
Setelah makan
makan
Ttd
Ttd apoteker
apoteker

d. Dispensing dan KIE


Penyerahan obat-obat tersebut disertai dengan KIE mengenai cara penggunaan obat, aturan pakai
obat, waktu penggunaan obat, efek samping yang mungkin akan muncul. Dan pada kasus ini
kemungkinan obat ditebus oleh keluarga pasien sehingga harus dipastikan bahwa keluarga pasien telah
memahami penggunaan obat.
Penyerahan obat dan KIE:
Pasien disarankan untuk banyak beristirahat dan banyak minum air putih hangat.
Kapsul diminum 3 kali sehari 1 tablet setelah makan.
Azithromicin dimun 1x sehari setelah makan, hari pertama diminum 1 tablet, hari ke-2 hingga ke5 diminum setengah tablet.
Semua obat disimpan pada di tempat yang kering pada suhu ruangan, dalam wadah tertutup rapat
dan jauhkan dari sinar matahari.
Setelah 5 hari, pasien dianjurkan untuk kembali ke dokter untuk memeriksakan perkembangan
penyakit dan terutama apabila sakitnya belum menghilang.