Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN UMUM INSTANSI

A. KEADAAN UMUM
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (disingkat
Kemkominfo RI) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi
urusan komunikasi dan informatika. Kementerian Komunikasi dan Informatika
sebelumnya bernama "Departemen Penerangan" (1945-1999), "Kementerian Negara
Komunikasi dan Informasi" (2001-2005), dan Departemen Komunikasi, dan
Informatika (2005-2009). Kementerian Komunikasi dan Informatika dipimpin oleh
seorang Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) yang sejak tanggal 27
Oktober 2014 dijabat oleh Rudiantara.
Kementerian
Komunikasi
menyelenggarakan

urusan

di

dan

bidang

Informatika
komunikasi,

dan

mempunyai
informatika

tugas
dalam

pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan


negara. Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Komunikasi dan Informatika
menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang komunikasi, dan
informatika.
2. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab
Kementerian Komunikasi, dan Informatika.
3. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Komunikasi, dan
Informatika.
4. Pelaksanaan bimbingan teknis, dan supervisi atas pelaksanaan urusan
Kementerian Komunikasi, dan Informatika di daerah.
5. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.
Kebijakan Presiden Republik Indonesia keempat KH.Abdurrahman Wahid
yang melikuidasi Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, melahirkan Badan
Informasi dan Komunikasi Nasional (BIKN) yang kemudian diganti dengan Lembaga
Informasi Nasional (LIN), yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang

informasi dan komunikasi. Melalui Surat Keputusan Kepala Lembaga Informasi


Nasional Nomor 33/SK/KA.LIN/2002, dilakukan perubahan nomenklatur, tugas dan
fungsi BP3U menjadi Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi (BP2I).
B. SEJARAH KEMKOMINFO RI
Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia pada awalnya bernama
Departemen Penerangan. Pembentukan Departemen Penerangan ditandai dengan
penetapan Mr. Amir Sjarifuddin sebagai Menteri Penerangan oleh PPKI pada tanggal
19 Agustus 1945.
Saat Orde Lama dan Orde Baru, Departemen Penerangan banyak mengatur
dan membina pers, media massa. televisi, film, radio, grafika, percetakan dan
penerangan umum. Departemen Penerangan sendiri terdiri atas Direktorat Jenderal
Penerangan Umum, Direktorat Jenderal Radio, Televisi, Film, Direktorat Jenderal
Urusan Penyiaran dan Media Massa, Direktorat Jenderal Pembinaan Pers dan
Grafika, serta memiliki instansi vertikal (Kantor Wilayah dan Kantor Dinas) sampai
daerah dan memegang kendali TVRI, RRI, dan Kantor Berita Antara.
Ketika Reformasi meletus pada tahun 1998, dan salah satu tuntutannya yaitu
kebebasan pers, Presiden B.J. Habibie membuat UU no. 40 tahun 1999 mengenai
Pers yang menghilangkan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) yang selama ini
menjadi 'momok' perusahaan pers selama Orde Baru. UU ini juga memperkuat
Dewan Pers yang tadinya diketuai langsung ex-officio oleh Menteri Penerangan
menjadi lembaga yang murni independen dari pemerintah dan berfungsi menjaga
independensi pers. Pada tahun ini juga UU no. 36 tahun 1999 mengenai
Telekomunikasi yang menjadi dasar telekomunikasi dan internet Indonesia
diundangkan dan dibentuk Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang
masih menjadi wewenang Departemen Perhubungan saat itu.
Ketika Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI pada tahun 1999,
Departemen Penerangan dan Departemen Sosial dibubarkan. Dalam penjelasan yang
diberikan secara terbuka pada sidang paripurna DPR, pada pertengahan November

1999, Abdurrahman Wahid menegaskan bahwa pembubaran itu dilakukan sematamata untuk efisiensi dan perampingan kabinet pemerintahan, sekaligus dalam rangka
implementasi sepenuhnya UU No. 22/1999 tentang otonomi daerah. Selain itu juga
pada tahun tersebut, Lembaga Sensor Film yang tadinya dikelola oleh Departemen
Penerangan dialihkan ke lingkungan Departemen Pendidikan, yang nantinya setahun
kemudian dialihkan kembali ke Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Abdurrahman Wahid pun membentuk Badan Informasi Komunikasi Nasional
(BIKN) sebagai lembaga pengganti Departemen Penerangan (Keppres 153 tahun
1999), dengan Kepala BIKN setara Eselon 1a. Dengan ditetapkannya Keputusan
Presiden tersebut, seluruh aset dan personil eks Dep. Penerangan Tingkat Pusat
dialihkan kepada Badan Informasi dan Komunikasi Nasional; kecuali aset dan
personil Direktorat Televisi, TVRI Stasiun Pusat Jakarta, Balai Pendidikan dan
Pelatihan Televisi Jakarta, Direktorat Radio, Stasiun Radio Republik Indonesia
Nasional Jakarta, Balai Pendidikan dan Pelatihan Radio Jakarta, Balai Elektronika
dan Laboratorium Radio Jakarta, dan Maintenance Center Jakarta. Dalam rangka
pelaksanaan Undang-undang No. 22 Tahun 199 tentang Pemerintahan Daerah, eks
instansi vertikal Dep. Penerangan termasuk seluruh aset dan personilnya dialihkan
menjadi Perangkat/Dinas Daerah Propinsi, Kabupaten/Kota, kecuali TVRI Stasiun
Daerah, TVRI Stasiun Produksi, TVRI Sektor dan Satuan Transmisi, Stasiun Radio
RI Regional I dan II, Multimedia Training Center Yogyakarta, serta Maintenance
Center Medan dan Ujung Pandang.
Pada masa kepemimpinan Presiden Megawati, dibentuk Kementerian Negara
Komunikasi dan Informasi pada tahun 2001. Saat itu yang ditunjuk sebagai Menteri
Negara adalah Syamsul Mu'arif. Selain itu juga dibentuklah Lembaga Informasi
Nasional (LIN). LIN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang
pelayanan informasi nasional. Selain itu, saat itu wewenang Kominfo dalam hal
konten penyiaran dialihkan ke lembaga independen baru bernama Komisi Penyiaran
Indonesia yang didirikan melalui UU no. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
Berdasarkan UU tersebut juga, status TVRI serta RRI diubah menjadi Lembaga

Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral, tidak komersial dan melayani
masyarakat. Kantor Berita Antara diubah juga menjadi Perusahaan Umum (Perum).
Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat pertama kali sebagai
Presiden, ia menggabungkan Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi,
Lembaga Informasi Nasional, dan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi yang
berasal dari Departemen Perhubungan dan ditambahkannya direktorat jenderal baru
yaitu Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika. Lembaga Informasi Nasional
dipecahnya menjadi dua yaitu Ditjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi
dan Badan Informasi Publik. Hasil seluruh penggabungan ini bernama Departemen
Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Pada tahun 2008 juga dibentuk mitra
baru Kominfo yaitu Komisi Informasi yang dibentuk berdasarkan UU no. 14 tahun
2008 mengenai Keterbukaan Informasi Publik. Undang Undang baru untuk Internet
yaitu UU no. 11 tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik juga
mewarnai Depkominfo tahun-tahun ini.
Pada tahun 2009 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin
Kabinet Indonesia Bersatu II, Depkominfo diubah menjadi Kementerian Komunikasi
dan Informatika, dengan dipecahnya Ditjen Pos dan Telekomunikasi menjadi Ditjen
Penyelenggaraan Pos dan Informatika serta Ditjen Sumber Daya Perangkat Pos dan
Informatika. Ditjen Aplikasi Telematika berubah nama menjadi Ditjen Aplikasi
Informatika. Sedangkan Ditjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi dan
Badan Informasi Publik dilebur kembali menjadi Direktorat Jenderal Informasi
Komunikasi Publik. Struktur ini masih berlaku sampai saat ini.

C. LOGO KOMINFO

Arti Visualisasi Logo Kementerian Komunikasi dan Informatika menurut


KEPMENKOMINFO No. 144/KEP/M.KOMINFO/4/2007 tentang Penetapan Logo
Kementerian Komunikasi dan Informatika adalah sebagai berikut:
a. Bentuk dasar mengambil dari unsur-unsur sebagai berikut :
1) Secara menyeluruh bentuk logo ini terbentuk dari susunan tiga huruf C yang
merupakan singkatan dari : Communication, Content and Computer, yang
merupakan bidang utama tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika.
2) Bentuk geometris yang membentuk tiga bidang yang secara optis bersumber
dari satu titik pusat memutar menyebar/melebar, mengandung pengertian
bahwa Kemkominfo mempunyai tugas untuk meningkatkan akses komunikasi
dan pos yang berkualitas, merata dan terjangkau, juga menggambarkan unsur
kegiatan penyiaran. Bentuk ini pun menyiratkan kesan berkembang, sesuai
dengan visi Kemkominfo dalam peningkatan litbang dan industri. Bentuk
inipun secara garis besar membentuk lingkaran, menyiratkan kemandirian.

3) Secara sepintas bentuk logo ini menyerupai sebuah kerang, terinspirasi oleh
Nafiri, alat komunikasi tradisional yang sering dipakai oleh leluhur bangsa
Indonesia untuk berkomunikasi.
b. Warna:
1) Merupakan kombinasi warna biru, yang mempunyai karakter, Lugas, Kokoh,
Teknologis, Dinamis, Optimis dan profesionalisme.
2) Aksen wama biru muda, selain menambah kesan estetis, juga menyiratkan
pengertian perlindungan terhadap kepentingan public (digambarkan dengan
bidang biru muda yang dipayungi oleh dua bidang biru).
c. Tipography: Logotype menggunakan tipe huruf Logotype menggunakan tipe
huruf FUTURA MD Bt, yang mempunyai karakter Lugas, Berwibawa dan
Modern

D. BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNIKASI


DAN INFORMATIKA (BBPPKI) MAKASSAR
Keberadaan Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika
(BBPPKI) di Makassar, melalui sejarah yang panjang. Kantor yang semula hanya merupakan
unit perpustakaan dari Lembaga Pers dan Pendapat Umum (LPPU) untuk kota Makassar,
seiring dengan perjalanan sejarah pemerintahan akhirnya berkembang menjadi satu lembaga
penelitian yang merupakan unit pelaksana teknis (UPT) dari Badan Penelitian dan
Pengembangan Sumber daya Manusia Departemen Komunikasi dan Informatika.
Lembaga Pers dan Pendapat Umum (LPPU) dibentuk pada tanggal 1 September
1952 di Jakarta yang sebelumnya merupakan salah satu bagian atau unit kerja dari
Departemen Penerangan.

LPPU memiliki tujuh cabang di daerah yakni: Bandung,

Yogyakarta, Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makassar dan Manado. Ketrujuh cabang ini

pada awalnya hanyalah merupakan unit perpustakaan umum. Pada tahun 1953 LPPU berubah
menjadi satu yayasan dengan nama Yayasan Lembaga Pers dan Pendapat Umum, yang
terpisah dari Departemen Penerangan, namun mendapat bantuan (material dan tenaga) dari
pemerintah berdasarkan keputusan Kementerian Penerangan.
Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, diangkat Van Goedoever seorang tenaga
ahli berkebangsaan Belanda sebagai Direktur dengan masa kontrak selama setahun. Pada
bulan Oktober 1954 Van Goedoever diganti oleh Drs. Marbangun, yang masa kontraknya
yang sudah selesai dan harus kembali ke negeri Belanda. Pada bulan Desember 1959
Direktur LPPU diserahkan kepada Khow Giok Po, seorang tenaga ahli dokumentasi tamatan
salah satu Universitas Eropa Barat. Drs, Marbangun selanjutnya ditugaskan pemerintah
sebagai Wakil Indonesia pada Panitia Khusus mengenai Kemerdekaan Penerangan dalam
Dewan Ekonomi dan Sosial PBB di New York.
Untuk masa-masa selanjutnya Direktur LPPU diangkat oleh Menteri Penerangan dari
kalangan yang memiliki ahli, seperti ahli di bidang jurnalistik, ahli di bidang public relations,
atau keahlian khusus lainnya sesuai kebutuhan.
Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum (BP3U). Dalam perkembangan
selanjutnya, dan sebagai implementasi dari Keputusan Presiden No. 44 dan 45 tahun 1975
yang dijabarkan dengan Keputusan Menteri Penerangan Nomor 55 B tahun 1975,
mengisyaratkan perlunya dibentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Badan Penelitian dan
Pengembangan Penerangan di daerah. Untuk itu melalu Surat Keputusan Menteri Penerangan
No.79E/1979 tanggal 7 Juni 1979 dibentuk Pusat Penelitian Pers dan Pendapat Umum
sebagai salah satu pusat dari Badan Penelitian dan Pengembangan Penerangan. Di daerah
dibentuk Balai Penelitian dan Pers dan Pendapat Umum disingkat BP3U di tujuh kota yakni
di: Medan, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Ujungpandang, Manado dan Banjarmasin.
Secara organisatoris, BP3U berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala
Pusat Penelitian Pers dan Pendapat Umum.
Melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan tersebut, LPPU yang semula berupa
yayasan dibubarkan dan fungsinya diambil alih Pusat Penelitian Pers dan Pendapat Umum.
Tugas pokok BP3U adalah mengikuti perkembangan pers di daerah dan mengadakan
penelitian pendapat umum. Sedangkan fungsi yang melekat pada BP3U ini meliputi
pelaksaan penelitian, dokumentasi, kepustakaan dan publikasi..

Pada

tahun

1988,

melalui

Surat

Keputusan

Menteri

Penerangan

No.41/kep/Menpen/1988 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Pers dan
Pendapat Umum (BP3U) yang intinya mencabut Keputusan Menteri Penerangan
No.79E/1979, Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum bertanggung jawab langsung
kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Penerangan.
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi (BP2I). Kebijakan Presiden
Republik Indonesia keempat KH.Abdurrahman Wahid yang melikuidasi Departemen
Penerangan dan Departemen Sosial, melahirkan Badan Informasi dan Komunikasi Nasional
(BIKN) yang kemudian diganti dengan Lembaga Informasi Nasional (LIN), yang
melaksanakan tugas pemerintahan di bidang informasi dan komunikasi. Melalui Surat
Keputusan Kepala Lembaga Informasi Nasional Nomor 33/SK/KA.LIN/2002, dilakukan
perubahan nomenklatur, tugas dan fungsi BP3U menjadi Balai Pengkajian dan
Pengembangan Informasi (BP2I).
Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Makassar, sebagai
salah satu dari delapan BPPI di Indonesia, pada tahun 2004 s/d 2008, telah melaksanakan
kegiatan pengkajian dan pengembangan serta publikasi antara lain:

TAHUN 2004

1. Aksi Demonstrasi Mahasiswa Dan Upaya Penanganannya di Kota Makassar, palu dan
Kendari
2. Harapan Masyarakat Terhadap Presiden RI Periode 2004-2009 di Wilayah Kerja BPPI
Makassar
3. Tanggapan Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2004
di Wilyah Kerja BPPI Makassar

TAHUN 2005

1. Apresiasi Masyarakat Terhadap Kinerja Pemerintah (Bidang Polhukam, Ekuin,dan


Kesra) di Wilyah Kerja BPPI Makassar
2. Peran Bakohumas Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam Melancarkan Arus
Informasi Publik
3. Penyaluran dan Komvensasi Kenaikan BBM di Wilyah Kerja BPPI Makassar

TAHUN 2006

1.
2.
3.
4.

Sebaran Informasi Kinerja DPRD Kota Makassar.


Study Kasus Pengelolaan Informasi Publik Lembaga Infokom Daerah Di Sulsel
Pendapat Masyarakat terhadap Tayangan Pornografi dan Pornoaksi di TV
Pemanfaatan Fasilitas Telekomunikasi Pedesaan Berbasis Internet Protokol Kabupaten
Barru.

5. Pola Komunikasi Masyarakat Primitif (Studi Kasus Masyarakat Bentong Desa Bulo-Bulo
Kabupaten Barru)

6. Perilaku Komunikasi Masyarakat di Daerah Konflik (Studi Kasus Kabupaten Poso)


7. Tanggapan Pihak Media dan Pejabat Publik Daerah Terhadap Kebebasan Pers
TAHUN 2007

1.

Kesiapan Masyarakat Menyongsong Era Masyarakat Informasi di Wilayah Kerja BPPI

2.
3.
4.

Makassar.
Tanggapan Masyarakat terhadap Upaya Penyelesaian Konflik Poso Sulawesi Tengah.
Analisis Website Pemda Di Wilayah BPPI Makassar
Tanggapan Masyarakat Terhadap Registrasi Kartu SIM (Sim Card) Telepon Seluler di

5.

Wilayah BPPI Makassar.


Strategi Pengembangan ICT untuk Mendukung Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik di

6.
7.

Wilayah kerja BPPI Makassar


Potensi Teknologi Informasi Pemda dalam Menunjang E- Government
Kesiapan Pemerintah dalam Pemanfaatan dan Pengembangan Teknologi Informasi di

8.

Wiayah Kerja BPPI Makassar


Tanggapan Masyarakat Terhadap Tayangan Iklan TV di Wilayah Kerja BPPI Makassar

TAHUN 2008

Penguasaan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi di Kalangan Aparatur


Pemerintah Daerah di Wilayah Kerja BPPI Makassar

PUBLIKASI
1.

Jurnal PEKOMMAS (Penelitian Komunikasi dan Media Massa)

2.

Majalah Ilmiah Semi Populer PUBLIK

3.

Buletin ACTA DIURNA

4.

Website BBPPKI Makassar: http://bbppki-mks.blogspot.co.id

Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Komunikasi Dan Informatika. Memenuhi


tuntutan informasi global dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
(Information and Communication Technology) serta peningkatan kinerja bidang pengkajian
dan pengembangan komunikasi dan informatika, Departemen Komunikasi dan Informatika
melakukan evaluasi atas kelembagaan yang ada termasuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) di
lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Depkominfo.
Hasil dari evaluasi dimaksud, dari delapan Balai Pengkajian dan Pengembangan
Informasi (BPPI) di Indonesia, dua diantaranya ditingkatkan menjadi Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) setingkat
eselon II B, yaitu BPPI Medan dan BPPI Makassar. Hal itu diwujudkan melalui Peraturan
Menteri Komunikasi dan Informatika RI Nomor: 22/PER/M.KOMINFO/6/2008 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Pengkajian dan Pengembangan
Komunikasi dan Informatika, yang sekaligus mencabut Peraturan Menkominfo Nomor:
84/KEP/M.KOMINFO/10/2005.
Visi dan Misi BBPPKI Makassar

VISI
Terwujudnya hasil pengkajian dan pengembangan komunikasi dan informatika yang
lebih berkualitas serta meningkatnya kapasitas dan akses informasi serta pengetahuan
masyarakat di wilayah perbatasan menuju terciptanya masyarakat informasi
Indonesia
MISI

Meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pengkajian dan pengembangan


komunikasi dan informatika yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan
perumusan kebijakan dan referensi ilmiah

Meningkatnya kapasitas dan akses informasi dan pengetahuan masyarakat di


wilayah perbatasan

Meningkatkan penyebarluasan hasil-hasil pengkajian dan pengembangan


komunikasi dan informatika menuju terwujudnya masyarakat yang berbasis
ilmu pengetahuan

Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia di bidang pengkajian


dan pengembangan komunikasi dan informatika

Tugas dan Fungsi BBPPKI Makassar


TUGAS
Melaksanakan pengkajian dan pengembangan komunikasi dan Informatika serta
pengembangan kapasitas dan peningkatan akses masyarakat dibidang informasi dan
pengetahuan di wilayah perbatasan. (Pasal 3 ayat 1)
FUNGSI
Dalam

melaksanakan

tugas

sebagaimana

dimaksud

di

atas,

BBPPKI

menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan rencana program dan anggaran dan pelaksanaan evaluasi serta
laporan di bidang pengkajian dan pengembangan komunikasi dan informatika ;
b. Pelaksanaan pengkajian dan pengembangan di bidang komunikasi dan
informatika;
c. Pelaksanaan pengembangan kapasitas dan peningkatan akses masyarakat di
bidang informasi dan pengetahuan di wilayah perbatasan ;
d. Pelaksanaan publikasi dan dokumentasi hasil pengkajian dan pengembangan
komunikasi dan informatika serta pengembangan kapasitas dan peningkatan akses
masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan di wilayah perbatasan ;
e. Pelaksanaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan rumah
tangga BBPPKI

STRUKTUR ORGANISASI