Anda di halaman 1dari 2

PENGELOLAAN TERPADU DI KAWASAN PESISIR DAN LAUT

Oleh Hana Zahira Syarif, 1306363872


Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau yang mencapai 17.508 dan
panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km (DKP, 2001). Secara umum, wilayah pesisir dapat
didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara daratan dan lauatan ( Dahuri et al, 2001). Hal
tersebut mendorong adanya sumberdaya alam yang beragama di wilayah pesisir. Sumberdaya
alam tersebut dapt dibagi menjadi dua, yaitu sumberdaya alam yang dapat dipebaharui dan
sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui. Sumberdaya alam yang dapat diperbaharui
contohnya ialah sumberdaya perikanan, mangrove, dan terumbu karang. Sedangkan sumberdaya
alam yang tidak dapat diperbaharui ialah minya bumi, gas, dan barang tambang. Disamping itu,
terdapat pula fungs dari wilayah pesisir seperti, tempat pelabuhan, jasa lingkungan, sarana
rekreasi dan pariwisata, dan kawasan permukiman. Keadaan ini menyebabkan kawasan pesisir
menjadi andalan sumber pendapatan masyarakat Indonesia.
Secara alamiah potensi wilayah pesisir dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat
yang bermukim di daerah tersebut. Pada umumnya pemanfaatan usaha ekononomi dikelola oleh
pemerintah daerah sebagai bentuk usaha disektor pariwisata. Adapun tujuan pemanfaatannya
ialah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat. Namun,
pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir yang dilakukan oleh masyarakat maupun daerah
sebagian belum memenuhi ketentuan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan
berkelanjutan. Sehingga dibutuhkan adanya pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu.
Pengelolaan secara terpadu adalah pengelolaan sumberdaya alam dan jasa lingkungan
pada wilayah pesisir yang dilakukan melalui penilaian secara menyeluruh. Mekanisme yang
dilakukan secara menyeluruh dapat diartikan dengan pengelolaan semua sektor secara seimbang.
Hal ini yang membedakan dengan pengelolaan sektoral, yang mana pengelolaan tersebut
berkaitan dengan satu jenis pengelolaan sumberdaya atau ekosistem hanya untuk memenuhi
tujuan tertentu (sektoral). Adapun tahapan dalam pengelolaan sumberdaya terpadu ialah sebagai
berikut: (1) identifikasi isu; (2) persiapan program; (3) adopsi program atau persetujuan
pendanaan; (4) implementasi atau pelaksanaan; (5) pemantauan dan evaluasi.
Keterpaduan perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu ini mencakup
empat aspek, yaitu: (1) keterpaduan wilayah/ekologis; (2) keterpaduan sektor; (3) keterpaduan
disiplin ilmu dan (4) keterpaduan stakeholder. Keterpaduan wilayah/ekologis menjelaskan secara
keruangan dan ekologis wilayah pesisir yang memiliki keterkaitan antara lahan atas dan laut
lepas. Hal ini menyebabkan adanya pengelolaan lingkungan yang dilakukan pada kedua kawasan
tersebut. Disamping itu terdapat pula keterpaduan sektor yang muncul sebagai konsekuensi dari
besar dan beragamnya sumberdaya alam di kawasan pesisir dan laut. Agar pengelolaan
sumberdaya alam di kawasan pesisir dapat dilakukan secara optimal dan berkesinambungan,
maka dalam perencanaan pengelolaan harus mengintegrasikan semua kepentingan sektoral.

Adapun keterpaduan disiplin ilmu menjelaskan mengenai sifat dan karakteristik sosial budaya
masyarakat pesisir. Sehingga dibutuhkan berbagai disiplin ilmu yang menunjang sesuai dengan
karakteristik pesisir dan lauatan. Secara umum keterpaduan disiplinn ilmu dalam pengelolaan
sumberdaya pesisir dan laut ialah ilmu ekologi, oseanografi, keteknikan, ekonomi, hukum, dan
sosiaologi. Selain itu terdapat pula keterpaduan stakeholder yang disebabkan karena adanya
kepentingan pelaku pembangunan sumberdaya pesisir dan laut. Pelaku pembangunan dan
pengelolaan sumberdaya alam wilayah pesisir antara lain terdiri atas pemerintah (pusat dan
daerah), masyarakat pesisir, swasata/investor, dan lembaga swadaya masyarakat. Menurut
Darajati (2004) keunggulan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu (PWPLT)
ialah sebagai berikut :
1. PWPLT memberikan kesempatan kepada masyarakat pesisir atau para pengguna
sumberdaya pesisir dan lautan untuk membangun sumberdaya pesisir dan lautan
secara berkelanjutan. Hal ini dapat tercermin ketika adanya penyelesaian konflik
ruang.
2. PWPLT melibatkan masyarakat pesisir untuk memberikan aspirasi berupa masukan
terhadap perencanaan pengelolaan kasawasan pesisir dan laut baik sekarang maupun
masa depan.
3. PWPLT menyediakan kerangka yang dapat merespon segenap fluktuasi maupun
ketidak menentuan yang merupaka ciri khas pesisir dan lautan
4. PWPLT membantu pemerintah daerah maupun pusan dengan suatu proses yang dapat
menumbuhkembangkan pembangunan ekonomi lokal berbasis sumberdaya lokal
5. Meskipun PWPLT memerlukan pengumpulan data dan analisis data serta
perencanaan yang lebih panjang daripada pendekatan sektoral, tetapi secara
keseluruhan akhirnya PWPLT lebih murah ketimbang pendekatan sektoral.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa wilayah pesisir memiliki nilai strategis bagi
pengembangan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingga
dibutuhkan adanya pengelolaan yang bijaksana dengan menempatkan kepentingan ekonomi
secara proporsional dengan kepentingan lingkungan. Konsep pengelolaan secara berekelanjutan
tersebut disebut dengan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu atau PWPLT.
Daftar Pustaka
Departemen Kelauatan dan Perikanan RI. 2001. Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil
yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Ditjen Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen
Kelauatan dan Perikanan: Jakarta
Dahuri, R., Rais, J., Ginting. S.P., & Sitepu, M.J. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan
Lautan Secara Terpadu. Padya Paramita. Jakarta
Darajati, Wahyuningsih. 2004. Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu
dan Berkelanjutan. Makalah Sosialisasi Nasional MFCDP