Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN INDERAJA KELAUTAN

IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI VISUAL OBJEK LIPUTAN


LAHAN PANTAI PADA CITRA GOOGLE EARTH DENGAN
KETINGGIAN MATA 750 1000MM DAN 4500 7000M

JESSICO H SERMATANG
NIM 2014-64-023

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA

DESEMBER 2016

AMBON

IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI VISUAL OBJEK LIPUTAN


LAHAN PANTAI PADA CITRA GOOGLE EARTH DENGAN
KETINGGIAN MATA 750 1000MM DAN 4500 7000M
TUJUAN PRAKTIKUM

Mengetahui penggunaan unsur dan teknik interpretasi obyek / fenomena pada citra penginderaan
jauh secara visual

Mengetahui kenampakan objek yang terekam pada citra (foto udara) khususnya penutup lahan
dan penggunaan lahan

Identifikasi jenis dan macam objek dengan teknik interpretasi visual

Mampu membedakan kenampakan dan karakteristik masing-masing objek

Mengklasifikasi objek-objek sesuai dengan kenampakan karakteristiknya dan level ketinggian


mata/resolusi spasial di mata

Alat dan Bahan

2 foto citra Google earth : 750 1000mm dan 4500 7000m

Dasar Teori
1.1 Dasar Interpretasi Citra Penginderaan Jauh.
a. interpretasi secara manual
Interpretasi citra merupakan pekerjaan yang menjawab pertanyaan bagaimana cara
mempergunakan atau cara menganalisi data pengindraan jauh, agar dapat digunakan untuk
keperluan daerah. Interpretasi citra telah diungkapkan dalam batasan merupakankegiatan
mengidentifikasi obyek melalui citra pengindraan jauh. Kegiatan ini merupakan bagian
terpenting bagian terpenting didalam pengindraan jauh karena tanpa diknali obyek yang
tergambar pada citra pengindraan jauh, maka kita tidak dapat melakukan kegiatan apa-apa
terhadap citra tersebut. Interpretasi citra pengindraan jauh dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
interpretasi secara manual dan digital.
Interpretasi citra secara manual Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk
menentukan bentuk dan sifat obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya.interpretasi
citra dan fotogrametri berhubungan erat, meskipun keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri
berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan manfaat,

penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of the Mapping
Science, 1994).
Lillesand dan Kiefer (1994) dan juga Sutanto (1986) menyebutkan 8 unsur interpretasi
yang di gunakan secara konvergen untuk dapat mengenali suatu obyek yang ada pada citra,
kedelapan unsur tersebut ialah warna/rona, bentuk, ukuran, bayangan, tekstur, pola, situs dan
asosiasi. Diantara ke delapan unsur tersebut, warna/rona merupakan hal yang paling dominan
dan langsung mempengaruhi pengguna citra dalam memulai interpretasi. Sebenarnya seluruh
unsur interpretasi ini dapat di kelompokkan ke dalam 3 jenjang dalam piramida unsur-unsur
interpretasi. Pada jenjang paling bawah terdapat unsur-unsur elementer yang dengan mudah
dapat dikenali pada citra, yaitu warna/rona, bentuk, dan bayangan. Pada jenjang berikutnya
terletak ukuran, tekstur dan pola, yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam tentang
konfigurasi obyek dalam ruang. Pada jenjang paling atas terdapat situs dan asosiasi, yang
merupakan unsur-unsur pengenal utama dan seringkali menjadi faktor kunci dalam interpretasi,
namun sekaligus paling sulit untuk dideskripsikan.
Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat obyek
yang tampak pada citra, berikut deskripsinya. Interpretasi citra dapat dilakukan secara manual
atau visual, dan dapat pula secara digital. Interpretasi citra secara visual sering di sebut dengan
interpretasi fotografik, sekalipun citra yang di gunakan bukan citra foto, melainkan citra non foto
yang telah tercetak (hard copy). Sebutan interpretasi fotografik sering di berikan pada
Interpretasi visual citra non foto, karena banyak produk tercetak citra non foto di masa lalu
(bahkan sampai sekarang) di wujudkan dalam bentuk film ataupun citra tercetak di atas kertas
foto, dengan proses reproduksi fotografik. Hal ini dapat dilakukan karena proses pencetakan oleh
komputer pengolahan citra non foto dilakukan dengan printer khusus yang disebut film writer,
dan hasil cetakanya menyerupai slide (diapositif) berukuran besar (lebih kurang hingga ukuran
karto). Istilah Interpretasi fotografik juga diberikan pada berbagai kegiatan interpretasi visual
citra-citra non foto, karena prinsip-prinsip interpretasi yang digunakan tidak jauh berbeda dari
prinsip-prinsip interpretasi foto udara.
b. interpretasi citra secara digital.
Interpretasi secara digital adalah evaluasi kuantitatif tentang informasi spektral yang
disajikan pada citra. Dasar interpretasi citra digital berupa klasifikasi citra pixel berdasarkan nilai
spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik. Dalam pengklasifikasian citra secara

digital, mempunyai tujuan khusus untuk mengkategorikan secara otomatis setiap pixel yang
mempunyai informasi spektral yang sama dengan mengikutkan pengenalan pola spektral,
pengenalan pola spasial dan pengenalan pola temporal yang akhirnya membentuk kelas atau
tema keruangan (spasial) tertentu.
2.2 Unsur Unsur Interpretasi Citra
Pengenalan obyek merupakan bagian paling vital dalam interpretasi citra. Foto udara
sebagai citra tertua di dalam penginderaan jauh memiliki unsur interpretasi yang paling lengkap
dibandingkan unsur interpretaasi pada citra lainnya. (Sutanto, 1994:121). Unsur-unsur tersebut
jika disusun secara hirarki menurut tingkat kesulitan interpretasi.
Unsur interpretasi citra :
1.Rona dan Warna
Rona ialah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan obyek pada citra, sedangkan
warna ialah wujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit
dari spektrum tampak.
Pada foto hitam putih rona yang ada biasanya adalah hitam, putih atau kelabu . Tingkat
kecerahannya tergantung pada keadaan cuaca saat pengambilan objek, arah datangnya sinar
matahari, waktu pengambilan gambar (pagi, siang atau sore) dan sebagainya.
Pada foto udara berwarna, rona sangat dipengaruhi oleh spektrum gelombang elektromagnetik
yang digunakan, misalnya menggunakan spektrum ultra violet, spektrum tampak, spektrum infra
merah dan sebagainya. Perbedaan penggunaan spektrum gelombang tersebut mengakibatkan
rona yang berbeda-beda. Selain itu karakter pemantulan objek terhadap spektrum gelombang
yang digunakan juga mempengaruhi warna dan rona pada foto udara berwarna
2. bentuk
Bentuk-bentuk atau gambar yang terdapat pada foto udara merupakan konfigurasi atau
kerangka suatu objek. Bentuk merupakan ciri yang jelas, sehingga banyak objek yang dapat
dikenali hanya berdasarkan bentuknya saja.Contoh: 1) Gedung sekolah pada umumnya
berbentuk huruf I, L, U atau empat persegi panjang.2) Gunung api, biasanya berbentuk kerucut.
3.Ukuran
merupakan ciri objek yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi lereng dan volume.
Ukuran objek pada citra berupa skala, karena itu dalam memanfaatkan ukuran sebagai

interpretasi citra, harus selalu diingat skalanya.Contoh: Lapangan olah raga sepakbola dicirikan
oleh bentuk (segi empat) dan ukuran yang tetap, yakni sekitar (80 m 100 m).
4.Tekstur
Tekstur adalah frekwensi perubahan rona pada citra. Ada juga yang mengatakan bahwa
tekstur adalah pengulangan pada rona kelompok objek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara
individual. Tekstur dinyatakan dengan: kasar, halus, dan sedang. Misalnya: Hutan bertekstur
kasar, belukar bertekstur sedang dan semak bertekstur halus.
5.Pola
Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak objek bentukan
manusia dan bagi beberapa objek alamiah.
Contoh: Pola aliran sungai menandai struktur geologis. Pola aliran trelis menandai
struktur lipatan. Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu ukuran rumah
dan jaraknya seragam, dan selalu menghadap ke jalan. Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi
mudah dibedakan dari hutan atau vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola
serta jarak tanamnya
6.Bayangan
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau objek yang berada di daerah gelap.
Meskipun demikian, bayangan juga dapat merupakan kunci pengenalan yang penting bagi
beberapa objek yang justru dengan adanya bayangan menjadi lebih jelas.
Contoh: Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan, begitu juga cerobong
asap dan menara, tampak lebih jelas dengan adanya bayangan. Foto-foto yang sangat condong
biasanya memperlihatkan bayangan objek yang tergambar dengan jelas, sedangkan pada foto
tegak hal ini tidak terlalu mencolok, terutama jika pengambilan gambarnya dilakukan pada
tengah hari.
7.Situs
Situs adalah letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya. Misalnya permukiman
pada umumnya memanjang pada pinggir beting pantai, tanggul alam atau sepanjang tepi jalan.
Juga persawahan, banyak terdapat di daerah dataran rendah, dan sebagainya.
8.Asosiasi

Asosiasi adalah keterkaitan antara objek yang satu dengan objek yang lainnya. Contoh:
Stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api yang jumlahnya lebih dari satu
(bercabang).
9.Konvergensi Bukti
Konvergensi bukti ialah penggunaan beberapa unsur interpretasi citra sehingga
lingkupnya menjadi semakin menyempit ke arah satu kesimpulan tertentu.
1.3 Teknik Interpretasi Citra
Teknik adalah alat khusus untuk melaksanakan metode. Teknik dapat pula diartikan
sebagai cara melakukan sesuatu secara ilmiah. Teknik interpretasi citra dimaksudkan sebagai alat
atau cara khusus untuk melaksanakan metode penginderaan jauh. Teknik juga merupakan cara
untuk melaksanakan sesuatu secara ilmiah. Sesuatu itu tidak lain ialah interpretasi citra. Bahwa
interpretasi citra dilakukan secara ilmiah, kiranya tidak perlu diragukan lagi. Interpretasi citra
dilakukan dengan metode dan teknik tertentu, berlandaskan teori tertentu pula. Mungkin kadangkadang ada orang yang menyebutnya sebagai dugaan, akan tetapi berupa dugaan ilmiah
(scientificguess)
Teknik interprestasi citra antara lain :
1.data acuan
2.kunci interprestasi citra
3.penangan data
4.penangan streoskopik
5.metode pengkajian
6.penerapan konsep multi
Berikut penjelasannya:
1.data acuan
Citra menyajikan gambaran lengkap yang mirip wujud dan letak sebenarnya. Kemiripan
ujud ini memudahkan pengenalannya pada citra, sedang kelengkapan gambarannya
memungkinkan penggunaannya oleh beragam pakar untuk beragam keperluan. Meskipun
demikian, masih diperlukan data lain untuk lebih meyakinkan hasil interpretasi dan untuk
menambah data yang diperlukan, tetapi tidak diperoleh dari citra. Data ini disebut data acuan

yang dapat berupa pustaka, pengkuran, analisis laboratorium, peta, kerja lapangan, foto terrestrial
maupun foto udara selain citra yang digunakan. Data acuan dapat berupa tabel statistik tentang
meteorologi atau tentang penggunaan lahan yang dikumpulkan oleh perorangan maupun oleh
instansi pemerintah.
Penggunaan data acuan yang ada akan meningkatkan ketelitian hasil interpretasi yang akan
memperjelas lingkup, tujuan, dan masalah sehubungan dengan proyek tertentu.Meskipun citra
menyajikan gambaran lengkap, pada umumnya masih diperlukan pekerjaan medan yang
dimaksudkan untuk menguji atau meyakinkan kebenaran hasil interpretasi citra bagi obyek yang
perlu diuji. Pekerjaan ini disebut uji medan (field check) yang terutama digunakan di beberapa
tempat yang interpretasinya meragukan.
Pada umumnya dipilih sampling multitingkat untuk perkiraan tepat terhadap parameter
lingkungan.Seperti pekerjaan medan yang dimaksudkan untuk maksud ganda, data acuan pun
bermanfaat ganda pula yaitu untuk
membantu proses interpretasi dan analisis, dan
verifikasi hasil interpretasi dan analisis.
Van der Meer (1965; dalam Sutanto, 1992) menyatakan pentingnya uji medan. Pekerjaan
pemetaan tanah memerlukan penentuan jenis tanah di tiap tempat dan delineasi batasnya.
Penentuan jenis tanah meliputi 15% - 20% volume pekerjaan, sedang delineasi jenis tanah
meliputi 80% - 85% volume pekerjaan. Penentuan jenis tanah tetap dilakukan di medan dan di
laboratorium, tetapi delineasi batas jenis tanahnya dapat dilakukan pada foto udara berdasarkan
pada agihan lereng, vegetasi, dan perujudan lain yang sering erat kaitannya dengan pola agihan
jenis tanah.
2.kunci interprestasi citra
Kunci interpretasi citra pada umumnya berupa potongan citra yang telah diinterpretasi
serta diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan seperlunya. Keterangan ini meliputi jenis
obyek yang digambarkan, unsur interpretasinya, dan keterangan tentang citra yang menyangkut
jenis, skala, saat perekaman, dan lokasi daerahnya. Kunci interpretasi citra dimaksudkan sebagai
pedoman dalam melaksanakan interpretasi citra, dapat berupa kunci interpretasi citra secara
individual maupun berupa kumpulannya. Kunci interpretasi citra dibedakan atas dasar ruang
lingkupnya dan atas dasar lainnya.

a.Atas dasar ruang lingkupnya Berdasarkan ruang lingkupnya, kunci interpretasi citra dibedakan
menjadi empat jenis, yaitu:
Kunci individual (item key), yaitu kunci interpretasi citra yang digunakan untuk obyek atau
kondisi individual. Misalnya kunci interpretasi untuk tanaman karet.
Kunci subyek (subject key), yaitu himpunan kunci individual yang digunakan untuk identifikasi
obyek-obyek atau kondisi penting dalam suatu subyek atau kategori tertentu.Misalnya kunci
interpretasi untuk tanaman perkebunan.
Kunci regional (regional key), yaitu himpunan kunci individual atau kunci subyek untuk
identifikasi obyek-obyek atau kondisi suatu wilayah tertentu. Wilayah ini dapat berupa daerah
aliran sungai, wilayah administratif atau wilayah lainnya.
Kunci analog (anlogues key) ialah kunci subyek atau kunci regional untuk daerah yang
terjangkau secara terrestrial tetapi dipersiapkan untuk daerah lain yang tak terjangkau secara
terrestrial. Misalnya digunakan kunci interpretasi hutan Kalimantan untuk interpretasi hutandi
Irian Jaya. Cara ini tidak dianjurkan, kecuali di dalam keadaan darurat.
b. Atas Dasar Lainnya Di samping berdasarkan linmgkupnya, kunci interpretasi citra sering
dibedakan dengan beraneka dasar. Salah satu dasar pembeda lainnya ialah pada karaktedasar atau
karakter intrinsiknya. Berdasarkan karakter intrinsiknya ini maka kunci interpretasi citra
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
Kunci langsung (direct key), yaitu kunci interpretasi citra yang disiapkan untuk obyek atau
kondisi yang tampak langsung pada citra, misalnya bentuk lahan dan pola aliran permukaan.
Kunci asosiatif (associative key), yaitu kunci interpretasi citra yang terutama digunakan untuk
deduksi informasi yang tidak tampak langsung pada citra, misalnya tingkat erosi dan kepadatan
penduduk.Kunci interpretasi citra sebaiknya digunakan untuk daerah tertentu saja, yaitu yang
dibuat untuk daerah A tidak seyogyanya diterapkan begitu saja untuk daerah B kecuali untuk
kunci analog.
3.penanganan data
Citra dapat berbentuk kertas cetakan atau transparansi yang juga semakin banyak
digunakan. Transparansi dapat berujud lembaran tunggal maupun gulungan. Dalam
menanganinya perlu berhati-hati jangan sampai menimbulkan goresan atau bahkan penghapusan
padanya. Untuk transparansi gulungan lebih mudah penanganannya, akan tetapi terhadap yang
lembaran perlu lebih berhati-hati, baik lembaran transparansi maupun lembaran kertas cetak.

Banyak citra beragam jenis, skala, atau saat perekaman digunakan secara bersamaan
untuk meningkatkan hasil interpretasinya. Dengan demikian sering banyak citra yang dihadapi
oleh penafsir citra. Penafsir citra yang berpengalaman pun belum tentu memperhatikan cara
penanganan data, karena ia mungkin lebih tertarik pada interpretasinya. Hal demikian tentu saja
tidak baik untuk kemudahan dalam menyimpan dan mencari kembali, dan untuk keawetan
citra.Cara sederhana untuk mengatur citra dengan baik ialah
a)

menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik dan menghadap ke atas,

b)

mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan dilaksanakan dan
meletakkan kertas penyekat di antaranya,

c) meletakkan tumpukan citra sedemikian sehingga jalur terbang membentang dari kiri ke kanan
terhadap arah pengamat, sedapat mungkin dengan arah bayangan mengarah ke pengamat,
d)

meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding sebelah-menyebelah dengan yang
akan diinterpretasi, dan (5) pada saat citra dikaji, tumpukan menghadap ke bawah dalam
urutannya (Sutanto, 1992).
4.penanganan streoskop
Pengamatan stereoskopik pada pasangan citra yang bertampalan dapat menimbulkan
gambaran tiga dimensional bagi jenis citra tertentu. Citra yang telah lama dikembangkan untuk
pengamatan stereoskopik ialah foto udara. Citra jenis ini dapat digunakan untuk mengukur beda
tinggi dan tinggi obyek bila diketahui tinggi salah satu titik yang tergambar pada foto. Disamping
itu juga dapat diukur lerengnya. Perujudan tiga dimensional ini memungkinkan penggunaan foto
udara untuk membuat peta kontur. Disamping foto udara, dari pasangan citra radar atau citra lain
yang bertampalan juga dapat ditimbulkan perujudan tiga dimensional bila diamati dengan
stereoskop.
Syarat pengamatan stereoskopik antara lain adanya daerah yang bertampalan dan adanya
paralaks pada daerah yang bertampalan. Paralaks ialah perubahan letak obyek pada citra
terhadap titik atau sistem acuan. Pada umumnya disebabkan oleh perubahan letak titik
pengamatan (Wolf, 1983). Titik pengmatan ini berupa tempat pemotretan. Pertampalan pada foto
udara berupa pertampalan depan (endlap) dan pertampalan samping (sidelap). Paralaks yang
terjadi karena titik pengamatan 1 dan 2 disebut paralaks x, yaitu paralaks sejajar jalur terbang.

Paralaks lainnya ialah paralaks y, yaitu paralaks yang tegak lurus paralaks x dan disebabkan oleh
perubahan tempat kedudukan pada jalur terbang yang berdampingan.
Pada citra radar mulai dikembangkan pengamatan stereoskopik yang mendasarkan pada
paralaks y. Pada citra Landsat juga terjadi pertampalan samping dan oleh karenanya terjadi
paralaks y. Pertampalan samping ini besarnya beraneka, sesuai dengan letak lintangnya. Pada
ekuator maka pertampalan sampingnya 14%, sedangkan pada lintang 80 U dan 80 S meningkat
menjadi 85% (Paine, 1981). Pertampalan ini belum dikembangkan untuk pengamatan
stereoskopik. Pada citra SPOT yang satelitnya diorbitkan tahun 1986, dikembangkan
pengamatan stereoskopik berdasarkan paralaks y.
Karena obyek tampak dengan perujudan tiga dimensional, pengenalannya pada citra lebih
mudah dilaksanakan. Di samping itu, pengenalan obyek juga dipermudah oleh dua hal, yaitu:
a. pembesaran tegak yang memperjelas relief, dan
b.pembesaran (tegak dan mendatar) bila digunakan binokuler dalam pengamatannya.
Tanpa binokuler, seluruh daerah pertampalan dapat diamati secara stereoskopik.Dengan
menggunakan binokuler, obyek diperbesar, tetapi luas daerah pengamatan menyusut. Luas
daerah pengamatan berbanding terbalik terhadap kuadrat pembesarannya. Bagi pembesaran tiga
kali luas daerah pengamatannya menyusut menjadi sepersembilan luas daerah pertampalan.
5.metode pengkajian
Pekerjaan interpretasi citra dimulai dari pengakajian terhadap semua obyek yang sesuai
dengan tujuannya. Meskipun demikian, banyak penafsir citra yang lebih suka mulai dengan
menyiam seluruh atau sebagian besar daerah yang dikaji, kemudian dilakukan seleksi dan kajian
terhadap obyek yang dikehendaki.
Para penafsir citra umumnya sependapat bahwa interpretasi citra sebaiknya mengikuti
metodik tertentu, yaitu mulai dari pertimbangan umum yang dilanjutkan ke arah obyek khusus
atau dari yang diketahui ke arah yang belum diketahui. Pekerjaan metodik dan interpretasi dari
perujudan yang diketahui atau mudah diketahui ke perujudan baru yang belum diketahui atau
sukar diketahui merupakan aksioma dalam kegiatan ilmiah. Perujudan umum dapat pula
diartikan perujudan regional, sedang perujudan khusus dapat diartikan perujudan lokal.
Pengkajian dari umum ke arah khusus dapat dilakukan bila tak ada bias antara perujudan umum
dan perujudan khusus.
Pada dasarnya ada dua metode pengkajian secara umum, yaitu:

a.Fishing expedition
Citra menyajikan gambaran lengkap obyek di permukaan bumi. Sebagai akibatnya maka
bagi penafsir citra yang kurang berpengalaman sering mengambil data yang lebih banyak dari
yang diperlukan. Hal ini disebabkan karena penafsir citra mengamati seluruh citra dan
mengambil datanya seperti orang mencari ikan di dalam air, yaitu menjelajah seluruh daerah.
Penggunaan metode ini berarti pengamatan seluruh obyek yang tergambar pada seluruh citra.
b.Logical search
Penafsir citra mengamati citra secara menyeluruh tetapi secara selektif hanya mengambil
data yang relevan terhadap tujuan interpretasinya. Dengan kata lain diartikan bahwa penafsir
citra hanya mengkaji obyek atau daerah secara selektif. Contoh, eksplorasi deposit minyak bumi
hanya dicari di daerah endapan marin, khususnya yang berupa daerah berstruktur lipatan.
6.Penerapan konsep Multi
Konsep multi ialah cara perolehan dan analisis data penginderaan jauh yang meliputi:
1. Mulitispektral
Ada tiga manfaat citra multispektral yaitu:
a.

Meningkatkan kemampuan interpretasi citra secara manual


Objek pada citra lebih mudah dikenali pada citra multispektral maupun multisaluran dengan
spektrum elektromagnetik yang dirinci menjadi spektrum sempit. Hal ini disebabkan karena pada
spektrum semput tertentumaka karakterristik objek sering lebih menonjol bedanya terhadap
karakteristik spektral objek pada saluran sempit lainnya maupun terhadap spektrum lebar.
Rincian spektrum ini dapat dilakukan pada spektrum tertentu seperti pada spektrum
ultraviolet, pada spektrum tampak pada spektrum unframerah, atau pada spektrum gelombang
mikro. Dan dapat pula berupa rincian lebih satu spektrum, misalkan spektrum tampak dan
spektrum inframerah pantulan atau spektrum tampak dan spektrum inframerah termal. Citra yang
dibuat berdasarkan rincian yang dibuat berdasarkan rincian lebih dari satu spektrum disebut citra

a.

multispektra (multispektral).
Di mungkinkannya pembuatan komposit warna atau padauan warna (color composit)
berdasarkan citra multispektral hitam putih, dan
Manfaat lain citra multispektral ialah

dilakukannya

penajaman

warna

(color

enhancedapment) dari tiga citra multispektral hitam putih yang semula belum dapat dikenali.
Kemudian dapat dikenali karena diujudkan dengan warna yang bedanya terhadap objek lain
dipertajam. Hasil akhirnya berupa citra paduan warna.

Penajaman warna dapat dilakukan dengan cara pemprosesan penajaman sebagi berikut
(Barrett dan Curtis 1976)
Memilih tiga negatif pada beda ronanya paling besar, misalnya dari empat negatif N1, N2, N3,
dan N4 dipilih N1, N2, dan N4
Mencetak tiga negatif tersebut menjadi film positif. Dengan demikian maka dari N1 dihasilkan
film positif P1 dan negatif duplikatnya yaitu N1. Sejalan dengan ini dihasilkan pula P2, P3, N2
dan N3
Mencetak hasil antara (intermediate) berdasarkan film positif dan negatif yang ditumpangtindihkan. Positif dan negatif ini harus berbeda panjang gelombang.
Tiap hasil antara kemudian dicetak secara aditif dengan menggunakan sebuah filter aditif
sehingga tiap citra hanya dilangsungkan ke satu lapis warna pada film berwarna yaitulapis
magenta, lapis kuning, atau lapisan cyan. Citra yang dihasilkan berupa transparansi dengan
warna derivatny. Transparansi ini digunakan untuk pengamatan.
Proses penajaman warna merupakan proses yang sederhana dan memperlukan waktu yang
banyak. Proses ini mahal dan tidak mudah untuk memilih paduan citra yang membuah
penajaman optimal dan memberikan hasil maksimum pada tahapan interpretasi. Dalam hal ini
akan lebih menguntungkan bila pembagian paduan citra dapat langsung diamati pada layar yaitu
dengan cara pengamatan warna aditif.
b. Di mungkinkan peragaan citra paduan warna dengan menggunakan alat pengamat warna aditif
(additive color viewer). Bila datanya berupa data digital multispektral maka:
Pengamatan warna aditif (additivdengae color viewer) dilakukan dengan alat yang
disebut pengamatan warna aditif (additivdengae color viewer). Warna aditif yaitu warna biru,
hijau, dan merah. Bila panduannya berdasarkan dua warna aditif maka yang terbentuk adalah
warnakomplementer yaitu warna kuning (merah+hijau). Warna cyan (hijau+biru), dan warna
magenta (biru+merah). Warna komplementer juga disebut dengan jalan substraksi satu warna
aditif terhadap sinar putih (Paine 1981)
Alat pengamatan warna aditif dirancang untuk interprentasi citra multispektral. Alat ini
pada dasarnya terdiri dari 4 proyektor yang masing-masing diarahkan. Bagi tiap citra (chip)
multispejtral yang diamati dengan alat pengamatan warna aditif ini tersedia dua sektrup
penggerak yaitu masing-masing untuk penggerak chip sepanjang x dan sepanjang sumbu y.
Dengan demikian maka semua chip yang diamati dapat disetel tumpang tindih secara tepat,
proses ini disebut regestrasi.

c.

Memungkinkan dilakukan pengenal yaitu warna pola (patternrecognition) sehingga kemampuan


interpretasinya meningkat sangat berarti.
Pada data digital, tiap pixel (unit terkecil yang terekam oleh sensor) mempunyai nilai digital
tertentu. Tiap objek memiliki nilai spektrum tertentu dan nilai spektrum tersebut berbeda pada
panjang gelombang yang berbeda. Bila nilai spektrum tiap objek digambarkan dengan dua
saluran sebagi absis ordinatnya misalkan saluran 5 MSS sebagai ordinat Landsat dan saluran 7
sebagai absisnya maka nilai spektral tiap objek cendrung untuk mengelompokkan pada bagian
kiri bawah karena nilai spektralnya yang sangat rendah pada saluran 7 dan rendah pada saluran
5. Vegetasi mengelompok pada bagian kanan bawah karena nilai spektralnya yang sangat tinggi

pada saluran 7 dan relatif rendah pada saluran 5.


2. Multitingkat
Menggunakan wahana dengan ketinggian terbang diatas permukaan bumi atau
tinggiorbit

berbeda-beda.

Dalam

pelaksanaan

penginderaan

jauh

perlu

diperhatikan

,yaitu;keseragaman waktu perekaman dari satelit maupun dari pesawat.pemotretan dilakukan


pada saat satelit melewati dan merekam daerah yang dikaji dekat sebelumnya atau dekat
sesudahnya. Hanya dengan cara demikian dapat diharapkan perujudan yang serupa bagi banyak
objek yang sama.
Konsep multitingkat membuahkan kategori seperti skla besar,sedang dan kecil
dibatasi masing-masing oleh skala1:10.000 atau lebih besa antara1:10.000 hingga 1:30.000 dan
lebih kecil dari 1:30.000.Bagi citra satelit dibatasi oleh skala 1:50.000 atau lebih besar,antara
1:50.000 hingga 1:250.000 dan lebih kecil dari 1:250.000
3.Multitemporal
Data suatu daerah yang menggambarkan kondisi saat perekaman yang berbeda dengan
adanya data dengan frekuensi ulang yang pendek yaitu maka dimungkinkan untuk memantau
perubahan cepat seperti perkembangan kota. Dengan adanya data dengan frekuensi ulang yang
pendek itu maka dimungkinkan untuk memantau perubahan cepat seperti perkembangan kota,
pengurangan hutan, luas tanaman pertanian dan sebagainya. Pantauan ini akan lebih sulit bila
dilakukan dengan cara lain.
4.Multiarah
Sensor yang dapat diputar kearah yang berbeda dapat meningkatkan kemampuan
pengadaan data penginderaan jauh,terutama bagi daerah tropika yang banyak penutup

awan.Sensor dapat diarahkan bebas awan bila daerah dibawahnya tertutup awan.Dengan
bertambahnya kemungkinan data tersebut maka bertambah pula kemungkinan untuk
menginterpretasikan dan memanfaatkan.sebagai contonya sensor multiarah yaitu: Sensor pada
satelit SPO yang akan diluncurkan pada akhir tahun 1985, dan kenyataannya telah diluncurkan
pada awal tahun 1986.
5.Multipolarisasi
Konsep ini diterapkan pada citra radar,pulsa tenaga yang dipancarkan dari antena dapat
dipolarisasikan sehingga gerakannya mengikuti bidang datar (H)dan tegak(V).Dengan demikian
maka sekurang-kurangnya ada 4 jenis panduan polarisasi yaitu polarisasi paralel yang berupa HH
dan VV dan silang berupa HV dan VH.Polarisasi HH berarti pulsa tenaga yang dipancarkan
menurut bidang mendatar demikian pulan dengan tenaga baliknya.
Rona objek yang direkam dengan radar HH dan radar HV dapat berlainan ujudnya.
Sebagai contoh Jabins Jr. (1978) mengemukankan dua citra radar HH dan Hv saluran HV saluran
K bagi daerah Nikaragua Timur. Pada dua citra radar tersebut sama-sama tampak cerah dan air
danau sama-sama tampak gelap.
6.Multidisplin
Citra penginderaan jauh menyajikan gambaran lengkap sehingga ia merupakan sarana
yang baik sekali bagi pendekatan multidispliner.

Langkah Kerja :
-

Pilih lokasi yang mau diambil

Buka google earth, untuk memilih lokasi yang mau diambil citranya ( diambil menggunakan
ketinggian mata 750-1000m dan 4500-7000m)
Pilih file di google earth dan simpan gambar
Kemudian buka aplikasi pengedit foto atau Microsoft power point (Juga bisa)
Kemudian masukan foto yang mau diedit , dan tandai lokasi-lokasi misalnya : perumahan, laut,
pelabuhan dll sebagainya.

Hasil
a. Ketinggian mata 750-1000m
Lokasi Dermaga Feri Galala, Ambon-Maluku

Keterangan gambar :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
No

Garis hitam : Laut (Tabel no.1)


Garis 2 biru tua panjang : jalan raya(Tabel no.2)
Garis warna hijau : Tanaman campuran padat(Tabel no.3)
Garis warna orange : Tanaman Campuran Sedang(Tabel no.3)
Garis warna biru hamper membentuk kotak Tanaman campuran jarang(Tabel no.3)
Garis warna ungu : Rumput/ alang alang(Tabel no. Tabel no.4)
Garis warna orange tipis : Lahan kosong(Tabel no.5)
Disamping jalan raya 2 garis hampir membentuk kotak : Pabrik(Tabel no.6)
Garis warna merah semua : pemukiman warga(Tabel no.7)
Unsur-Unsur Interpretasi

Identifikasi
Objek

Rona

Bentuk

Ukuran

Pola

Bayangan

Situs

Asosiasi

Besar

Tekstu
r
Halus

Gelap

Gelap

Gelap

Terang

Terang

6
7

Putih
Terang

Tak
beraturan
Tak
beraturan
Tak
beraturan
Tak
beraturan
Tak
beraturan
Halus
Tak
beraturan

air

Kecil

Halus

Kapal,dan
kapal feri
Kendaraan

Jalan

Besar

Kasar

Pepohonan

Kecil

Halus

Kecil

Halus

Kecil
Kecil

Halus
Halus

Pemukiman

b. Ketinggian mata 4500-7000m


Lokasi Dermaga Feri Galala, Ambon-Maluku

keterangan gambar :
1. Garis hijau merpakan laut (Tabel no.1)
2. Garis orange merupakan Tanaman Campuran (Tabel no.2)
3. Garis Hitam merupakan Jembatan (Tabel no.3)
4. Garis Biru tua merupakan Pemukiman warga (Tabel no.4)
5. Garis merah merupakan batas darat dan lautan (Tabel no.5)

Laut

6. 1 garis biru muda merupakan jalan raya (Tabel no.6)


N
o

Unsur-Unsur Interpretasi
Rona

Bentuk

Gelap

Tak
beraturan

Gelap

Gelap

Terang

Gelap

Gelap

Tak
beraturan
Tak
beraturan
Tak
beraturan
Tak
beraturan
Tak
Beratura
n

Ukura
n
Besar

Tekstur

Identifikasi
Objek

Bayanga
n
-

Situs

Asosiasi

Halus

Pol
a
-

Laut

Besar

Kasar

pepohonan

Kapal,
spit,perah
u
-

Kecil

Halus

Jembatan

Jalan

Kecil

Halus

Besar

Halus

Pemukima
n
-

Daratan

Kecil

Halus

Pembahasan
- Karakteristik objek
a. Dari ketinggian mata 750-1000m identifikasi objek terdapat 3 objek yang dominan yaitu Jalan,
Daratan dan laut dan yang terbesar yaitu tanaman campuran dan laut.
b. Dari ketinggian mata 4500-7000m identifikasi objek terdapat 3 objek yang dominan yaitu Jalan,
Daratan dan laut dan yang terbesar yaitu tanaman campuran dan laut.
-

Pembandingan objek
a. Ketinggian mata semakin kecil maka tampilan citranya akan semakin jelas.
b. Ketinggian mata semakin besar maka tampilan citranya akan semakin kecil.
c. Dari tampilan citra google earth yang diambil misalkan dari ketinggian mata 4500-7000m
tidak terlihat daerah vegetasi padat, sedang, dan jarang. Tapi pada ketinggian mata 7501000m daerah vegetasi atau tanaman campuran dapat terlihat mana daerah tanaman yang
padat, sedang, dan jarang.

Kesimpulan :
Dasar dari interpretasi citra memiliki dua cara penggunannya diantaranya
a.

Interpretasi citra secara manual Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan
bentuk dan sifat obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya.interpretasi citra dan

fotogrametri berhubungan erat, meskipun keduanya tidak sama


b. Interpretasi secara digital adalah evaluasi kuantitatif tentang informasi spektral yang disajikan
pada citra.
Unsur interpretasi citra terdiri dari sembilan:
1. Rona atau warna
2. Ukuran
3. Bentuk
4. Tekstur
5. Pola
6. Tinggi
7. Bayangan
8. Situs
9. Asosiasi
Teknik interpretasi citra antara lain dengan:
1. Data acuan
2. Kunci Interpretasi Citra
3. Penanganan Data
4. Pengamatan Stereoskopik
5. Metode Pengkajian
6. Penerapan Konsep Multi

DAFTAR PUSTAKA

http://jurnal-geologi.blogspot.com/2010/01/teknik-interpretasi-citra.html
http://suryadarmayudistirapenginderaanjauh.blogspot.co.id/
Purwadhi, Sri Hardiyanti. 2007. Pengantar interpretasi citra pengindraan jauh. Semarang.
Universitas negeri malang.
Sutanto. 1996. Penginderaan jauh. Jogja. UGM.