Anda di halaman 1dari 4

APBN 2017, SIAPKAH DESA?

Pemerintah pusat merencanakan menambah alokasi anggaran dana desa


untuk tahun 2017 menjadi Rp 60 triliun. Nominal Rp 60 triliun ini naik 3 kali lipat
dibandingkan di tahun 2015 sebesar 20 triliun, dan naik 28% dibandingkan
tahun

2016 yang sebesar Rp 46,96 triliun. Situasi ini unik, karena secara

keseluruhan dana transfer untuk daerah turun di APBN 2017 menjadi Rp 760
triliun, dari sebelumnya sebesar Rp 729 triliun di APBN P 2016. Dana desa
merupakan salah satu program pemerintah untuk menyejahterakan rakyat dan
pembangunan daerah. Menurut PP 60 Tahun 2014, dana desa diprioritaskan
untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Dana desa digunakan
untuk

membiayai

penyelenggaraan

pemerintahan,

pembangunan,

pemberdayaan masyarakat dan kemasyarakatan.


Banyak masyarakat yang memiliki pendapat berbeda-beda akan adanya
kenaikan dana desa. Beberapa masyarakat berpendapat bahwa kenaikan dana
desa

akan

meningkatkan

tendensi

korupsi

di

lingkup

pemegang

kuasa

pengelolaan dana desa. Di sisi lain masyarakat berpendapat bahwa desa harus
diberi kesempatan untuk mengelola dana setelah sekian lama hanya menjadi
penonton. Dengan adanya UU Desa, ada kepastian dana yang dikelola oleh Desa,
sehingga

Desa

memiliki

kesempatan

untuk

membangun

dalam

rangka

mensejahterakan warganya.
Dalam realitas, pengelolaan dana desa yang diatur dalam Permendagri
Nomor 113 Tahun 2015 banyak dimensi kelemahan. Kelemahan ini membuat
efektivitas pengelolaan dana desa tidak sesuai harapan. Dana desa yang
diperuntukkan bagi 74.000 desa, di mana masing-masing mendapatkan "jatah"
rata-rata Rp 550 juta-Rp 750 juta, tidak mampu untuk memfasilitasi program
pembangunan

desa,

pemberdayaan

masyarakat,

dan

penanggulangan

kemiskinan. Kelemahan dalam pengelolaan dana desa selama periode 2015 dan
2016 adalah sebagai berikut:
1. Egosentrisme

kepala

desa

selaku

pemegang

pengelolaan keuangan desa (PKPKD).


Kepala desa lebih banyak berperan

dan

kekuasaan

bermain

dalam

perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pengelolaan keuangan


desa, kepala desa kurang mampu mengefektifkan kerja sama tim
(team building) dalam memformulasikan Rencana Kerja Pemerintah
Desa (RKPDes) dan melaksanakan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Desa

(APBDes)

dengan

berdasarkan

prinsip

akuntabilitas

dan

transparansi.
2. Ketidakpahaman regulasi dan kebijakan kelola dana desa.
Banyak desapemerintah desayang tidak paham tentang
substansi dan imperatif teknikalitas tentang aturan hukum dan
panduan komprehensif dalam pengelolaan dana desa, sehingga
pemahaman pengelolaan dana desa terbatas hanya seputar pengajuan
pencairan dana desa, perumusan alokasi kegunaan dana desa, dan
pelaporan administratif. Tidak memahami substansi dana desa sebagai
media

penguatan

fungsi

dan

kinerja

pemerintahan

desa

dan

serangkaian program pemberdayaan masyarakat.


3. Lemahnya pengawasan publik.
Dalam eksekusi dana desa selama 2015 dan 2016, banyak
ditemukan praktik kecurangan dan tendensi penyimpangan. Hal ini
akibat lemahnya pengawasan publik. Masyarakat desa, terutama
pelbagai organisasi sektoral dan organisasi masyarakat sipil, belum
memiliki kesadaran pengawasan anggaran. Standar melek anggaran
masyarakat desa masih rendah sehingga tidak mengerti bahwa desa
mereka memiliki alokasi dana yang besar yang seharusnya cukup
untuk

menjalankan

masyarakat.

Angka

program

pembangunan

kemiskinan

dan

meningkat

pemberdayaan
Ketidakefektifan

pengelolaan dana desa tecermin dari hadirnya realitas sosiologis


berupa meningkatnya angka kemiskinan di desa. Angka kemiskinan di
desa meningkat karena ketidakmampuan desa dalam mendorong
peningkatan aktivitas ekonomi produktif bagi masyarakat miskin. Desa
tidak mampu memfasilitasi program jaminan pendidikan dan kesehatan
bagi masyarakat miskin yang idealnya dianggarkan dalam skema dana
desa (APBDes).
Untuk itu diperlukan adanya akuntabilitas pengelolaan dana desa pada tahun
2017 mendatang. Akuntabilitas pengelolaan keuangan desa adalah satu hal yang
wajib untuk diupayakan karena hanya dengan pengelolaan keuangan desa yang
akuntabel visi dari UU Desa akan tercapai. Agar pengelolaan dana desa yang
akuntabel dapat dilakukan, perlu dilakukan hal sebagai berikut:
1. Integritas kepala desa dan pengelola dana desa
Integritas adalah hal pertama yang harus dimiliki oleh kepala desa dan
perangkat desa. Jika memiliki integritas yang baik, maka kepala desa dan
perangkat desa akan memandang keuangan desa sebagai amanah yang
harus dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan warga desa.

Selain integritas, satu posisi penting di dalam pengelolaan keuangan desa,


yaitu bendahara desa juga harus memiliki keberanian untuk menolak
perintah

atasan

(kepala

desa)

jika

diminta

untuk

melakukan

penyimpangan anggaran.
2. Tata kelola
Tata kelola sistem pengelolaan keuangan yang sederhana tapi kuat dan
adanya transparansi pengelolaan keuangan di tingkat desa. Terkait sistem
keuangan, dapat digunakan sistem pengelolaan keuangan yang telah
disusun oleh pemerintah di dalam Permendagri No 113 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Keuangan Desa yang lebih sederhana dibandingkan
sistem sebelumnya (Permendagri No 37 tahun 2007). Sistem pengendalian
intern,

yaitu

mekanisme check

and

balances di

dalam

keuangan dimana ada pemisahan peran antara

pengelolaan

yang menyetujui,

membayarkan dan mencatat.


Selain sistem keuangan, hal lain yang penting untuk dilaksanakan
adalah transparansi pengelolaan keuangan desa oleh pengelola. Pengelola
secara reguler perlu menginformasikan kepada warga terkait APBDesa,
berapa dana yang sudah diterima, berapa realisasi belanja, dan lain
sebagainya.

Transparansi

akan

meminimalisir

peluang

terjadinya

penyimpangan dana.
3. Kapasitas SDM
Agar pengelolaan keuangan desa dapat akuntabel, maka dibutuhkan
pengelola yang kompeten. Dalam hal ini, pelatihan dan pendampingan
kepada kepala desa dan perangkat desa menjadi hal yang wajib untuk
dilakukan, khususnya oleh tim kecamatan dan tim kabupaten. Jika
memang kapasitas SDM yang dimiliki belum memadai, maka lebih baik
dana yang dicairkan dibawah nilai yang menjadi hak desa sembari
kabupaten memberikan pemahaman kepada desa yang bersangkutan
mengapa dana tidak bisa cair. cara ini dipandang lebih aman untuk
mencegah masalah-masalah penyimpangan dana yang bisa terjadi yang
tentunya akan menghabiskan energi untuk memperbaiknya. Selain itu,
kabupaten juga perlu terus memberikan pendampingan sehingga jika
kapasitas SDM desa tersebut meningkat maka secara otomatis dana yang
bisa dicairkan juga akan meningkat. Di sisi lain, Kabupaten jangan sampai
menahan hak desa dengan alasan SDM tidak kompeten.
4. Pengawasan warga

Salah satu katup pengaman untuk mencegah penyimpangan dana adalah


pengawasan oleh warga. Oleh karena itu, jika kondisi warga cenderung
cuek dan belum memiliki sikap peduli dan kritis mengawasi pengelolaan
APBDes ini, maka Kabupaten perlu memiliki kegiatan khusus untuk
meningkatkan

partisipasi

warga

di

dalam

melakukan

pengawasan.

Program pengawasan terpadu kelola dana desa juga perlu dibuatkan


landasan regulasi yang tegas dan jelas sehingga komunitas pendamping
desa, organisasi masyarakat sipil di desa, dan representasi masyarakat
desa bisa melaksanakan pengawasan tata kelola dana desa. Inovasi
pengawasan dana desa ini dapat dilaksanakan lewat program sistem
informasi keuangan desa (Siskeudes), E-budgeting dana desa (APBDes),
ataupun penguatan sistem informasi desa, sehingga tata kelola desa bisa
terakses dan termonitor oleh masyarakat desa.

Artikel oleh Gea Feroza A


3614100021
Jurusan Perencanaan Wilayah Kota, ITS