Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

Amputasi pada ekstremitas bawah adalah salah satu prosedur pembedahan tertua yang
diketahui.1,2 Resiko utama pada riwayat dari pembedahan amputasi adalah perdarahan, syok,
dan sepsis. Sebelum ditemukan anestesia, prosedur ini sangat sulit dilakukan. Pasien harus
dipegangi oleh beberapa asisten dan diberikan alkohol (biasanya rum). Pasien akan bangun
dan sadar selama proses berjalan.
Di Amerika Serikat, sekitar 30.000-40.000 amputasi dilakukan setiap tahunnya. Pada
tahun 2005, telah ada sekitar 1,6 juta jiwa hidup dengan kehilangan anggota gerak. Pada tahun
2050, diperkirakan angka ini akan meningkat hingga mencapai 3,6 juta jiwa.3
Amputasi masih sering dilihat sebagai kegagalan pengobatan, walaupun seharusnya
tidak. Amputasi bisa menjadi pilihan pengobatan untuk trauma berat, penyakit vaskular, dan
tumor. Pasien dan keluarga harus sadar terhadap pilihan mereka dan berekspektasi realistik
terhadap hasil pembedahan setelah memutuskan untuk diamputasi.4,5
Salah satu penyulit pada orang yang akan diamputasi adalah stigma psikologis dari
masyarakat dimana orang yang diamputasi dipandang sebagai manusia yang tidak lengkap.
Padahal, setelah menghilangkan anggota gerak yang bermasalah dan mengaplikasikan
prostesis yang sesuai, pasien bisa kembali menjadi anggota masyarakat aktif dan hidup bebas.6
Karena kompleksitas dari isu ini, tim pengobatan tidak hanya melibatkan ahli bedah,
tapi juga fisioterapis, ahli prostetis, dan pekerja sosial.7,8 Tinjauan pustaka berikut akan
membahas mengenai amputasi pada tungkai bawah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 INDIKASI
Amputasi adalah pilihan pengobatan untuk penyakit anggota gerak dan sangat efektif
untuk cedera ekstremitas bawah dalam upaya penyelamatan dan rekonstruksi yang mungkin
lama, emosional, dan mahal serta memiliki hasil yang kurang memuaskan. 1,2
1. Peripheral Vascular Disease (PVD).
2. Trauma.
3. Tumor.
4. Infeksi.
5. Penyakit kongenital anggota gerak.
Apapun indikasinya, tujuan amputasi adalah mempertahankan dan merekonstruksi
bagian anggota gerak paling fungsional sepanjang mungkin.

Gambar 2. Kompartemen ekstremitas bawah6

Gambar 3. Kompartemen kaki7


Di anggota gerak bawah, terdapat : tiga kompartemen ditungkai atas (kompartemen
anterior, medial, dan kompartemen posterior), empat ditungkai bawah (kompartemen anterior,
lateral, posterior superfisial, posterior profundus). Sindrom kompartemen yang paling sering
di daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan
posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal). Bagian kaki terdapat 9
kompartemen, dibagian tengah (3), interosseous (4), lateral (1) dan medial (1).5,7
2.2 KONTRAINDIKASI
Keputusan untuk melakukan amputasi sering datang setelah opsi lain telah habis. Ini
adalah keputusan akhir yang tidak dapat diulang sekali dilakukan. Satu-satunya kontraindikasi
3

pada amputasi adalah kesehatan yang buruk sehingga mengganggu ketahanan pasien dalam
mentoleransi anestesi dan pembedahan. Bagaimanapun, penyakit pada anggota gerak inilah
yang sering membahayakan status medis pasien. Menghilangkan penyakit pada anggota gerak
perlu untuk mengeliminasi toksin sistemik dan menyelamatkan hidup pasien.
2.3 ETIOLOGI

Gambar 5. Penyebab sindroma kompartemen9


4

Penyebab umum terjadinya sindrom kompartemen akut adalah fraktur, trauma jaringan
lunak, kerusakan pada arteri dan luka bakar. Sedangkan sindrom kompartemen kronik biasa
terjadi akibat melakukan aktivitas yang berulang-ulang, misalnya pelari jarak jauh, pemain
basket, pemain sepak bola dan militer.5
Sindrom kompartemen bisa disebabkan oleh:6
1. Penurunan volume kompartemen :
- Penutupan defek fascia yang ketat
- Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas
- Casts, dressing atau splint
- Pakian militer antishock
- Kompresi eksternal dalam waktu lama pada anggota tubuh selama tidur atau
intoksikasi
- Posisi litotomi yang lama
2. Peningkatan tekanan struktur kompartemen:
- Pendarahan atau pembentukan hematoma akibat trauma vaskuler atau koagulopati
-

(baik kongenital maupun didapsat seperti penggunaan terapi antikoagulan)


Peningkatan permeabilitas kapiler
Trauma akibat fraktur atau kerusakan jaringan
Penggunaan otot yang berlebihan akibat olahraga yang intensif, kejang, tetanus

atau eklampsi
Luka bakar
Operasi ortopaedi
Gigitan ular
Penurunan osmolaritas plasma akibat sindrom nefrotik
Injeksi obat intraarteri
Hipertrofi otot

2.4 KLASIFIKASI
Sindrom kompartemen dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologinya yaitu penurunan
volume kompartemen dan peningkatan tekanan struktur kompartemen. Berdasarkan lamanya
gejala dibagi atas akut dan kronik.5

Pada sindrom kompartemen akut, peningkatan tekanan disebabkan oleh perdarahan


atau bengkak akibat trauma jaringan. Sindroma kompartemen kronik akibat penekanan
ekstensif yang berulang menyebabkan peningkatan tekanan intrakompartemen yang diikuti
dengan edema sehingga terjadi penurunan gradient tekanan arteriovena dan perfusi otot.
Bentuk kronik sering disebabkan oleh olahraga yang intensif terutama pada atlet lari.10
2.5 PATOFISIOLOGI

Gambar 6. Peningkatan tekanan pada sindroma kompartemen 11

Gambar 7. Edem dan tekanan pada sindroma kompartmen 12

Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal normal yang


menyebabkan peningkatan tekanan jaringan, penurunan aliran darah kapiler, dan nekrosis
jaringan lokal yang disebabkan hipoksia. Teori yang paling popular yaitu gradient tekanan
arteriovenosus. Iskemia dimulai dari terhentinya aliran darah kapiler ke jaringan. Peningkatan
tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. Peningkatan
tekanan terus meningkat hingga tekanan arteriolar intramuskuler bawah meninggi. Pada titik
ini, tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler, menyebabkan kebocoran ke dalam
kompartemen, sehingga tekanan (pressure) dalam kompartemen makin meningkat. Penekanan
saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat.3,5
7

Gambar 8. Edem pada sindroma kompartemen13


Metsen menpelihatkan bahwa bila terjadi peningkatan intrakompartemen, tekanan vena
meningkat. Setelah itu, aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini
penghantaran oksigen juga akan terhenti, Sehingga terjadi hipoksia jaringan. Jika hal ini terus
berlanjut, maka terjadi iskemia otot dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel
komponen tersebut.2,3,5
Patogenesis dari sindroma kompartemen kronik telah digambarkan oleh Reneman.
Otot dapat membesar sekitar 20% selama latihan dan akan menambah peningkatan sementara
dalam tekanan intra kompartemen. Kontraksi otot berulang dapat meningkatkan tekanan
intamuskular pada batas dimana dapat terjadi iskemia berulang. Sindroma kompartemen
kronik terjadi ketika tekanan antara kontraksi yang terus - menerus tetap tinggi dan
mengganggu aliran darah. Sebagaimana terjadinya kenaikan tekanan, aliran arteri selama
relaksasi otot semakin menurun, dan pasien akan mengalami kram otot. Tekanan jaringan yang
tinggi menyebabkan gangguan mikrosirkulasi otot sehingga terjadi iskemia padahal ketika
latihan kebutuhan metabolik meningkat. Biasanya yang terkena bagian anterior dan lateral dari
tungkai bagian bawah.5,14
8

2.6 MANIFESTASI KLINIS


Gejala klinisnya di kenal dengan 5 P, yaitu:3,5,15
1. Pain (nyeri)
Nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena, ketika ada trauma
langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Terutama jika munculnya
nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah
atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Otot yang tegang pada
kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering.
2. Pallor
3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )
4. Parestesia
Perubahan sensoris terjadi akibat kerusakan saraf terus menerus.
5. Paralisis
Tanda paling lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya
fungsi.
Pasien dengan sindroma kompartemen kronik mempunyai gejala yang khas. Gejala
utama berupa nyeri yang ditimbulkan akibat berolah raga. Biasanya hal ini muncul setelah
sekitar 20 menit berlari sebelum dirasakan semakin nyeri hingga dimana orang tersebut tidak
dapat melanjutkan aktivitasnya. Nyeri dirasakan seperti kram dimana akibat dari
vasokonstriksi pembuluh darah sehingga darah dan oksigen tidak dapat mencapai otot-otot
tersebut. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan. Biasanya, nyeri
bersifat sementara atau tidak menetap dan akan sembuh dengan beristirahat dalam waktu 1530 menit dari penghentian latihan. Dapat juga terjadi kelemahan dan atrofi otot. Regangan
pasif pada otot yang terkena setelah latihan dapat meningkatkan nyeri.5
2.7 DIAGNOSIS

Pada umumnya diagnosis dibuat dengan melihat tanda dan gejala sindrom
kompartemen dan pengukuran tekanan secara langsung. Diagnosis sindroma kompartemen
ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.5
Pada anamnesa, terutama riwayat trauma dan olahraga yang intensif sebagai penyebab
terjadinya sindroma kompartemen. Riwayat penggunaan terapi antikoagulan dapat
meningkatkan terjadinya sindroma kompartemen. Pada pemeriksaan fisik, cari tanda dan
gejala klinis pada sindroma kompartemen. Terutama pembengKakan dan otot yang tegang
ketika dipalpasi sering merupakan tanda awal sindroma kompartemen. Dapat dilakukan pulse
oksimetri untuk mengetahui hipoperfusi, akan tetapi teknik ini tidak sensitive terhadap
sindroma kompartemen.2,3,15
Pemeriksaan

penunjang

yang

dapat

dilakukan

berupa

pengukuran

tekanan

intrakompartemen dan MRI.3


Pengukuran tekanan secara langsung merupakan cara yang objektif untuk menegakkan
diagnosa sindroma kompartemen. Pengukuran intra kompartemen ini diperlukan pada pasienpasien yang tidak sadar, pasien yang tidak kooperatif, seperti anak-anak, pasien yang sulit
berkomunikasi dan pasien-pasien dengan multiple trauma seperti trauma kepala, medulla
spinalis atau trauma saraf perifer. Normalnya tekanan kompartemen adalah nol. Perfusi yang
tidak adekuat dan iskemia relatif ketika tekanan meningkat antara 10-30 mmHg dari tekanan
diastolik. Tidak ada perfusi yang efektif ketika tekanannya sama dengan tekanan diastolik.3,5
Tekanan arteri rata-rata yang normal pada kompartemen otot adalah 8,5+6 mmHg.
Selama tekanan pada salah satu kompartemen kurang dari 30 mmHg (tekanan pengisian
kapiler diastolik), kita tidak perlu khawatir tentang sindroma kompartemen. Tekanan lebih

10

dari 10 mmHg dalam kompartemen yang baru bisa menimbulkan sindroma kompartemen,
dan berarti memerlukan terapi yang segera.5
Terdapat 3 metode objektif pengukuran tekanan kompartemen, yaitu:3,6,16
a. Teknik pengukuran langsung dengan teknik injeksi

Gambar 9. Pengukuran tekanan langsung2


Teknik adalah kriteria dignostik standar seharusnya menjadi prioritas utama jika
diagnosis masih penuh tanda tanya. Tonometer tekanan stryker banyak digunakan
untuk mengukur tekanan jaringan yang tidak membutuhkan alat khusus. Alat yang
dibutuhkan spoit 20 cc, three way tap, tabung intra vena, normal saline sterile,
manometer air raksa untuk mengukur tekanan darah. Pertama, atur spoit dengan
plunger pada posisi 15 cc. Tandai saline sampai mengisi setengah tabung , tutup
three way tap tahan normal saline dalam tabung. Kedua, anestesi lokal pada kulit,
tapi tidak sampai menginfiltrasi otot. Masukkan jarum 18 kedalam otot yang
diperiksa, hubungkan tabung dengan manometer air raksa dan buka three way tap.
Ketiga, Dorong plunger dan tekanan akan meningkat secara lambat. Baca
manometer air raksa. Saat tekanan kompartemen tinggi, tekanan air raksa akan naik.
b. Teknik Wick kateter

11

Gambar 10. Teknik wick kateter9


Teknik menggunakannya adalah:
1. Masukkan kateter dengan jarum ke dalam otot
2. Tarik jarum dan masukkan kateter wick melalui sarung plastik balut wick kateter
ke kulit, dan dorong sarung plastik kembali, isi sistem dengan normal saline
yang mengandung heparin dan ukur tekanan kompartemen dengan transducer
recorder. Periksa ulang patensi kateter dengan tangan menekan pada otot.
Hilangkan semua tekanan eksternal pada otot yang diperiksa dan ukur tekanan
kompartemen, jika tekanan mencapai 30 mmHg, indikasi fasciotomi.
Teknik pemasangan kateter slit merupakan metode yang paling akurat untuk
memonitor tekanan intrakompartemen selama lebih dari 24 jam.
c. Needle manometer seperti Stryker STIC Monitor

12

Gambar 11. Stryker STIC Monitor2


Gejala klinis yang muncul pada sindroma kompartemen sangat bervariasi. Akan tetapi
gejala klinis terutama rasa nyeri dapat tidak muncul apabila terjadi kerusakan saraf dan
sindroma kompartemen yang minimal di posterior dalam. Oleh karena itu diperlukan
monitoring tekanan terutama pada pasien dengan risiko tinggi. Berdasarkan penelitian M.M.
McQueen et al, disimpulkan bahwa apabila peralatan tersedia semua pasien dengan fraktur
tibia sebaiknya dilakukan monitoring tekanan kompartemen untuk meminimalisir insidensi
sindroma kompartemen akut. Terutama bila pasien usia muda.17
Terdapat 3 indikasi dilakukan monitoring tekanan kompartemen, yaitu pasien tidak
sadar, pasien dengan pemeriksaan yang sulit seperti pada anak-anak, dan pasien dengan gejala
sindrom kompartemen terutama kecelakaan multiple dengan kerusakan saraf.18
MRI merupakan pemeriksaan penunjang di dunia medis modern sekarang ini.
Beberapa penelitian menunjukkan MRI dapat membantu diagnosis sindroma kompartemen
akut maupun kronis.10

13

Gambar 12. MRI transaksial spin-echo pada ekstremitas bawah pasien dengan
sindroma kompartemen tibial anterior. a. saat pasien istirahat, b. post
latihan, gambar menunjukkan peningkatan intensitas pada kompartemen
tibia anterior (panah)10
2.8 PENATALAKSANAAN
Tujuan dari terapi sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis
dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, biasanya dengan bedah dekompresi.
Tindakan nonoperatif tertentu mungkin bisa berhasil, seperti menghilangkan selubung
eksternal. Jika hal tersebut tidak berhasil maka tindakan operasi dekompresi perlu
dipertimbangkan. Indikasi mutlak untuk operasi dekompresi sulit untuk ditentukan, tiap pasien
dan tiap sindrom kompartemen memiliki individualitas yang berpengaruh pada cara untuk
menindakinya.5
Berbeda dengan kompleksitas diagnosis, terapi kompartemen sindrom sederhana yaitu
fasciotomi kompartemen yang terlibat. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang
terbaik, namun beberapa hal, seperti waktu, masih diperdebatkan. Akan tetapi, adanya

14

disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi. Penanganan


sindroma kompartemen meliputi:2,5,6
1. Terapi Medikal/non operatif
Pemilihan secara medikal terapi digunakan apabila masih menduga suatu sindroma
-

kompartemen atau menunggu dilakukannya operasi, yaitu :


Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan

ketinggian

kompartemen yang minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran


-

darah dan akan lebih memperberat iskemia.


Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut

kontriksi dilepas.
Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat

perkembangan sindroma kompartemen.


Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah
Hidrasi intravena diperlukan untuk menghindari hipovolemi. Hipovolemi dapat

memperberat iskemia.
Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol dapat
mengurangi tekanan kompartemen. Manitol mereduksi edema seluler, dengan
memproduksi kembali energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang

nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas


2. Terapi pembedahan / operatif
Terapi operatif untuk sindroma kompartemen apabila tekanan intrakompartemen lebih
dari 30 mmHg memerlukan tindakan yang cepat dan segera dilakukan fasciotomi.
Tujuannya untuk menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot. Apabila
tekanannya kurang dari 30 mmHg, tungkai dapat diobservasi dengan cermat dan
diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi
klinik yang berulang-ulang dilanjutkan hingga bahaya telah terlewati. Kalau tidak ada

15

perbaikan, atau kalau tekanan kompartemen meningkat, fasiotomi harus segera


dilakukan. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam.
Ada dua teknik dalam fasciotomi, yaitu:
-

Teknik insisi tunggal

Gambar 13. Fasciotomi insisi tunggal2


Insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan
-

vena peroneal
Teknik insisi ganda

16

Gambar 14. Fasciotomi insisi ganda anterolateral2

17

Gambar 15. Fasciotomi insisi ganda posteromedial2


Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan
lebih efektif
Tidak ada keuntungan yang utama dari kedua teknik ini. Pada tungkai bawah,
fasiotomi dapat berarti membuka ke empat kompartemen. Kalau perlu dengan
mengeksisi satu segmen fibula. Luka harus dibiarkan terbuka. Bila nekrosis otot, dapat
dilakukan debridement. Kalau jaringan sehat, luka dapat di jahit ( tanpa regangan ),
atau dilakukan pencangkokan kulit.
Terapi untuk sindrom kompartemen akut maupun kronik biasanya adalah operasi.
Insisi panjang dibuat pada fascia untuk menghilangkan tekanan yang meningkat di dalamnya.
18

Luka tersebut dibiarkan terbuka (ditutup dengan pembalut steril) dan ditutup pada operasi
kedua, biasanya 5 hari kemudian. kalau terdapat nekrosis otot, dapat dilakukan debridemen,
kalau jaringan sehat, luka dapat di jahit (tanpa regangan ), atau skin graft mungkin diperlukan
untuk menutup luka ini. Indikasi untuk melakukan operasi dekompresi antara lain:
1. Adanya tanda-tanda sindrom kompartemen seperti nyeri hebat
2. Gambaran klinik yang meragukan dengan resiko tinggi (pasien koma, pasien dengan
masalah psikiatrik, dan dibawah pengaruh narkotik) dengan tekanan jaringan lebih dari
30 mmHg pada pasien yang diharapkan memiliki tekanan jaringan yang normal.
Bila ada indikasi, operasi dekompresi harus segera dilakukan karena penundaan akan
meningkatkan kemungkinan kerusakan jaringan intrakompartemen sebagaimana
terjadinya komplikasi
Beberapa teknik telah diterapkan untuk operasi dekompresi pada sindrom
kompartemen akut. Prosedur ini dilakukan tanpa torniket untuk mencegah terjadinya periode
iskemia yang berkepanjangan dan operator juga dapat memperkirakan derajat dari sirkulasi
lokal yang akan didekompresi. Setiap yang berpotensi membatasi ruang, termasuk kulit,
dibuka di sepanjang daerah kompartemen, semua kelompok otot harus lunak pada palpasi
setelah prosedur selesai. Debridemant otot harus seminimal mungkin selama operasi
dekompresi kecuali terdapat otot yang telah nekrosis.5

19

Gambar 16. Tekanan kompartemen selama operasi menggunakan wick kateter15


Penelitian Mubarak et al menunjukkan tekanan kompartemen selama operasi
dekompresi menggunakan wick kateter. Penelitian menunjukkan bahwa fasciotomi dapat
menurunkan tekanan kembali normal kecuali pada kompartemen gluteus dan deltoid.
Diperlukan epimysiotomi untuk mendukung tindakan fasciotomi.15
20

Fasciotomi untuk sindrom kompartemen akut


Fasciotomi ekstremitas bawah

Gambar 17. Fasciotomi ekstremitas bawah19


Fasciotomi tungkai atas menggunakan Teknik Tarlow, yaitu insisi lateral dibuat mulai
dari distal garis intertrocanterik sampai ke epikondilus lateral. disesksi subkutaneus digunakan
untuk mengekspos daerah iliotibial dan dibuat insisi lurus sejajar dengan insisi kulit sepanjang
21

fascia iliotibial. Perlahan-lahan dibuka sampai vastus lateralis dan septum intermuskular
terlihat. Perdarahan ditangani bila ada. Insisi 1-5 cm dibuat pada septum intermuskular lateral,
perpanjang ke proksimal dan distal. Setelah kompartemen anterior dan posterior terbuka,
tekanan kompartemen medial diukur. Jika meningkat, dibuat insisi setengah medial untuk
membebaskan kompartemen adductor.5
Ada 3 pendekatan fasciotomi untuk kompartemen tungkai bawah: fibulektomy,
fasciotomi insisi tunggal perifibular, dan fasciotomi insisi ganda. Fibulektomi adalah prosedur
radikal dan jarang dilakukan dan jika ada termasuk indikasi pada sindrom kompartemen akut.
Insisi tunggal dapat digunakan untuk jaringan lunak pada ektremitas. Teknik insisi ganda lebih
aman dan efektif. 5
Fasciotomi insisi tunggal (davey, Rorabeck, dan Fowler) : 5
Dibuat insisi lateral, longitudinal pada garis fibula, sepanjang mulai dari distal caput
fibula sampai 3-4 cm proksimal malleolus lateralis. Kulit dibuka pada bagian anterior dan
jangan sampai melukai nervus peroneal superficial. Dibuat fasciotomy longitudinal pada
kompartemen anterior dan lateral. Berikutnya kulit dibuka ke bagian posterior dan dilakukan
fasciotomi kompartemen posterior superficial. Batas antara kompartemen superficial dan
lateral dan interval ini diperluas ke atas dengan memotong soleus dari fibula. Otot dan
pembuluh darah peroneal ditarik ke belakang. Kemudian diidentifikasi fascia otot tibialis
posterior ke fibula dan dilakukan inisisi secara longitudinal.
Insisi sepanjang 20-25 cm dibuat pada kompartemen anterior, setengah antara fibula
dan caput tibia. Diseksi subkutaneus digunakan untuk mengekspos fascia kompartemen. Insisi
tranversal dibuat pada septum intermuskular lateral dan identifikasi nervus peroneal
superficial pada bagian posterior septum. Buka kompartemen anterior kearah proksimal dan
22

distal pada garis tibialis anterior. Kemudian dilakukan fasciotomi pada kompartemen lateral ke
arah proksimal dan distal pada garis tubulus fibula.
Insisi kedua dibuat secara longiotudinal 1 cm dibelakang garis posterior tibia.
Digunakan diseksi subkutaneus yang luas untuk mengidentifikasi fascia. Vena dan nervus
saphenus ditarik ke anterior. Dibuat insisi tranversal untuk mengidentifikasi septum antara
kompartemen posterior profunda dan superficial. Kemudian dibuka fascia gastrocsoleus
sepanjang kompartemen. Dibuat insisi lain pada otot fleksor digitorum longus dan dibebaskan
seluruh kompartemen posterior profunda. Setelah kompartemen posterior dibuka, identifikasi
kompartemen otot tibialis posterior. Jika terjadi peningkatan tekanan pada kompartemen ini,
segera dibuka.
Fasciotomi Ekstremitas Atas (sindroma kopart)
Fasciotomi pada lengan bawah
Pendekatan volar (Henry)

Gambar 18. Insisi volar pada fasciotomi20

23

Gambar 19. Fasciotomi pendekatan volar2


Dekompresi kompartemen fleksor volar profunda dan superficial dapat dilakukan
dengan insisi tunggal. Insisi kulit dimulai dari proksimal ke fossa antecubiti sampai ke palmar
pada daerah tunnel carpal. Tekanan kompartemen dapat diukur selama operasi untuk
mengkonfirmasi dekompresi. Tidak ada penggunaan torniket. Insisi kulit mulai dari medial ke
tendon bicep, bersebelahan dengan siku kemudian ke sisi radial tangan dan diperpanjang kea
rah distal sepenjang brachioradialis, dilanjutkan ke palmar. Kemudian kompartemen fleksor
superficial diinsisi, mulai pada titik 1 atau 2 cm di atas siku kearah bawah sampai di
pergelangan. Kemudian nervus radialis diidentifikasi dibawah brachioradialis, keduanya
kemudian ditarik ke arah radial, kemudian fleksor carpi radialis dan arteri radialis ditarik ke
sisi ulnar yang akan mengekspos fleksor digitorum profundus fleksor pollicis longus, pronatus
24

quadratus, dan pronatus teres. Karena sindrom kompartemen biasanya melibatkan


kompartemen fleksor profunda, harus dilakukan dekompresi fascia disekitar otot tersebut
untuk memastikan bahwa dekompresi yang adekuat telah dilakukan.5
Pendekatan Volar Ulnar
Pendekatan volar ulnar dilakukan dengan cara yang sama dengan pendekatan Henry.
Lengan disupinasikan dan insisi mulai dari medial bagian atas tendon bisep, melewati lipat
siku, terus ke bawah melewati garis ulnar lengan bawah, dan sampai ke carpal tunnel
sepanjang lipat thenar. Fascia superficial pada fleksor carpi ulnaris diinsisi ke atas sampai ke
aponeurosis siku dan ke carpal tunnel ke arah distal. Kemudian dicari batas antara fleksor
carpi ulnaris dan fleksor digitorum sublimis. Pada dasar fleksor digitorum sublimis terdapat
arteri dan nervus ulnaris, yang harus dicari dan dilindungi. Fascia pada kompartemen fleksor
profunda kemudian diinsisi.5
Pendekatan Dorsal

Gambar 20. Fasciotomi pendekatan dorsal20


Setelah kompartemen superficial dan fleksor profunda lengan bawah didekompresi,
harus diputuskan apakah perlu dilakukan fasciotomi dorsal (ekstensor). Hal ini lebih baik
ditentukan dengan pengukuran tekanan kompartemen intraoperatif setelah dilakukan
fasciotomi kompartemen fleksor. Jika terjadi peningktan tekanan pada kompartemen dorsal
yang terus meningkat, fasciotomi harus dilakukan dengan posisi lengan bawah pronasi. Insisi
25

lurus dari epikondilus lateral sampai garis tengah pergelangan.Batas antara ekstensor carpi
radialis brevis dan ekstensor digitorum komunis diidentifikasi kemudian dilakukan
fasciotomi.5
Fasciotomi untuk sindrom kompartemen kronik
Fasciotomi insisi tunggal
Teknik Fronek
Dibuat sebuah insisi 5 cm pada pertengahan fibula dan kaput tibia atau melalui defek
fascia jika terdapat hernia muskuler pada daerah keluarnya nervus peroneal. Nervus peroneal
segera dicari dan lewatkan fasciotom ke kompartemen anterior pada garis otot tibialis anterior.
Pada kompartemen lateral, fasciotome diarahkan ke posterior nervus peroneal superficial pada
garis fibular. Tutup kulit dengan cara biasa dan pasang pembalut steril.5
Fasciotomi insisi ganda
Teknik Rorebeck
Dibuat 2 insisi pada tungkai bawah 1 cm dibelakang garis posteromedial tibia.
Kemudian dicari vena saphenus pada insisi proksimal dan tarik ke anterior bersama dengan
saraf. Masuk dan dibuka kompartemen superficial. Fascia profunda kemudian diinsisi.
Kompartemen profunda diekspos, termasuk otot digitorum longus dan tibialis posterior
dangan merobek sambungan soleus. Kumparan neurovaskuler dan tendo tibialis posterior
kemudian diinsisi ke proksimal dan distal fascia pada terdon tersebut. Tibialis posterior adalah
kunci dekompresi kompartemen posterior dan biasanya berkontraksi ke proksimal antara
fleksor hallucis longus, lebarkan batas antaranya untuk memeriksa kontraksinya. Tutup luka
diatas drain untuk meminimalkan pembentukan hematom.5

26

Perawatan pasca operasi yaitu luka harus dibiarkan terbuka selama 5 hari, kalau
terdapat nekrosis otot, dapat dilakukan debridemen, kalau jaringan itu sehat, luka dapat dijahit
(tanpa tegangan), atau dilakukan pencangkokan kulit atau dibiarkan sembuh dengan intensi
sekunder.5
2.9 KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi, yaitu:2
-

Kerusakan saraf permanen


Infeksi
Kehilangan anggota tubuh
Kematian
Deformitas kosmetik akibat tindakan fasciotomi
Komplikasi terjadi akibat trauma permanen yang mengenai otot dan syaraf yang dapat

mengurangi fungsinya. Apabila sindrom kompartemen lebih dari 8 jam dapat mengakibatkan
nekrosis dari saraf dan otot dalam kompartemen. Saraf dapat beregenerasi sedangkan otot
tidak sehingga jika terjadi infark tidak dapat pulih kembali dan digantikan dengan jaringan
fibrosa yang tidak elastis yaitu kontraktur iskemik Volkmann. Pada kasus berat, dapat terjadi
amputasi. Kontraktur Volkmann adalah deformitas pada tangan, jari, dan pergelangan tangan
karena adanya trauma pada lengan bawah. Disebabkan oleh iskemia yang biasanya disebabkan
oleh peningkatan tekanan. Trauma vaskuler menyebabkan infark otot dan kematian serat otot,
kemudian otot digantikan oleh jaringan ikat.1,5,21
Komplikasi sistemik yang dapat timbul dari sindroma kompartemen meliputi gagal
ginjal akut, sepsis dan acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang fatal jika terjadi
sepsis kegagalan organ secara multi sistem.5
2.10 PROGNOSIS
27

Sindroma kompartemen akut cenderung memiliki hasil akhir yang jelek, toleransi otot
untuk terjadinya iskemia adalah 4 jam. Kerusakan irreversible terjadi bila lebih dari 8 jam.
Prognosis tergantung dari kecepatan diagnosis dan tindakan.2,5

BAB III
PENUTUP
28

Sindrom kompartemen merupakan kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan


intertisial di dalam ruangan yang terbatas, yaitu di dalam kompartemen osteofasial yan
tertutup sehingga mengganggu sirkulasi dan fungsi jaringan didaerah tersebut. Dapat terjadi
akut maupun kronis. Kecepatan diagnosis sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya
komplikasi yang dapat mengancam anggota tubuh maupun jiwa. Tindakan fasciotomi harus
segera dilakukan apabila terdapat indikasi. Penundaan tindakan fasciotomi dapat
menyebabkan nekrosis saraf dan otot dalam kompartemen.2,3

29