Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

SKOLIOSIS
(Ruang rawat inap no. 20 RSUD dr. Saiful Anwar Malang)

Oleh

: Rian Arisyandi

N. I. M: 16.30.02

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN


PROGRAM STUDI NERS KEPERAWATAN
MALANG
2015

A. PENGERTIAN
Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi
pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan.Kelainan skoliosis ini
sepintas terlihat sangat sederhana.Namun apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi
perubahan yang luar biasa pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang
secara tiga dimensi, yaitu perubahan sturktur penyokong tulang belakang seperti jaringan
lunak sekitarnya dan struktur lainnya (Rahayussalim, 2007).Skoliosis ini biasanya
membentuk kurva C atau kurva S.
Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan, mengandung arti kondisi
patologik.
Skoliosis merupakan masalah ortopedik yang sering terjadi adalah pelengkungan
lateral dari medulla spinalis yang dapat terjadi di sepanjang spinal tersebut. Pelengkungan
pada area toraks merupakan scoliosis yang paling sering terjadi, meskipun pelengkungan
pada area servikal dan area lumbal adalah scoliosis yang paling parah.
Kesimpulan, skoliosis mengandung arti kondisi patologik yaitu kelengkungan tulang
belakang yang abnormal ke arah samping (kiri atau kanan ).
B. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya skoliosis belum diketahui secara pasti, tapi dapat diduga
dipengaruhi oleh diantaranya kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang, penyakit
arthritis, dan infeksi.Scoliosis tidak hanya disebabkan oleh sikap duduk yang salah..
Menurut penelitian di Amerika Serikat, memanggul beban yang berat seperti tas
punggung, bisa menjadi salah satu pemicu scoliosis.
Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
1. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan
tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu
2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan
akibat penyakit berikut :Cerebral palsy, Distrofi otot, Polio, Osteoporosis juvenile
3. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.

C. PATOFISIOLOGI

D. KLASIFIKASI
Skoliosis dibagi dalam dua jenis yaitu struktural dan bukan struktural.
1. Skoliosis struktural
Skoliosis tipe ini bersifat irreversibel ( tidak dapat di perbaiki ) dan dengan rotasi
dari tulang punggung Komponen penting dari deformitas itu adalah rotasi vertebra,
processus spinosus memutar kearah konkavitas kurva.
Tiga bentuk skosiliosis struktural yaitu :
a. Skosiliosis Idiopatik. adalah bentuk yang paling umum terjadi dan diklasifikasikan
menjadi 3 kelompok :
1) Infantile : dari lahir-3 tahun.
2) Anak-anak : 3 tahun 10 tahun

3) Remaja : Muncul setelah usia 10 tahun ( usia yangpaling umum )


2. Skoliosis Kongenital adalah skoliosis yang menyebabkan malformasi satu atau lebih
badan vertebra.
3. Skoliosis Neuromuskuler, anak yang menderita penyakit neuromuskuler (seperti
paralisis otak, spina bifida, atau distrofi muskuler) yang secara langsung menyebabkan
deformitas.
4. Skoliosis nonstruktural ( Postural )
Skoliosis tipe ini bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk semula), dan
tanpa perputaran (rotasi) dari tulang punggung..Pada skoliosis postural, deformitas
bersifat sekunder atau sebagai kompensasi terhadap beberapa keadaan diluar tulang
belakang, misalnya dengan kaki yang pendek, atau kemiringan pelvis akibat kontraktur
pinggul, bila pasien duduk atau dalam keadaan fleksi maka kurva tersebut menghilang.
Ada tiga tipe-tipe utama lain dari scoliosis :
a. Functional: Pada tipe scoliosis ini, spine adalah normal, namun suatu lekukan
abnormal berkembang karena suatu persoalan ditempat lain didalam
tubuh. Ini dapat disebabkan oleh satu kaki adalah lebih pendek daripada
yang lainnya atau oleh kekejangan-kekejangan di punggung.
b. Neuromuscular: Pada tipe scoliosis ini, ada suatu persoalan ketika tulang-tulang dari
spine terbentuk. Baik tulang-tulang dari spine gagal untuk membentuk
sepenuhnya, atau mereka gagal untuk berpisah satu dari lainnya.Tipe
scoliosis ini berkembang pada orang-orang dengan kelainn-kelainan lain
termasuk kerusakan-kerusakan kelahiran, penyakit otot (muscular
dystrophy), cerebral palsy, atau penyakit Marfan. Jika lekukan hadir waktu
dilahirkan, ia disebut congenital. Tipe scoliosis ini seringkali adalah jauh
lebih parah dan memerlukan perawatan yang lebih agresif daripada
bentuk-bentuk lain dari scoliosis.
c. Degenerative: Tidak seperti bentuk-bentuk lain dari scoliosis yang ditemukan pada
anak-anak dan remaja-remaja, degenerative scoliosis terjadi pada dewasadewasa yang lebih tua. Ia disebabkan oleh perubahan-perubahan pada
spine yang disebabkan oleh arthritis. Pelemahan dari ligamen-ligamen dan
jaringan-jaringan lunak lain yang normal dari spine digabungkan dengan
spur-spur tulang yang abnormal dapat menjurus pada suatu lekukan dari
spine yang abnormal.

d. Lain-Lain: Ada penyebab-penyebab potensial lain dari scoliosis, termasuk tumortumor spine seperti osteoid osteoma. Ini adalah tumor jinak yang dapat
terjadi pada spine dan menyebabkan nyeri/sakit.Nyeri menyebabkan
orang-orang untuk bersandar pada sisi yang berlawanan untuk mengurangi
jumlah dari tekanan yang diterapkan pada tumor.Ini dapat menjurus pada
suatu kelainan bentuk spine.
E. MANIFESTASI KLINIK
Gejala yang ditimbulkan berupa:
1. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
2. Bahu dan atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
3. Nyeri punggung
4. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
5. Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60 ) bisa
menyebabkan gangguan pernafasan.
Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan
dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu
kanan lebih tinggi dari bahu kiri.Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul
kiri.
Awalnya penderita mungkin tidak menyadari atau merasakan sakit pada tubuhnya
karena memang skoliosis tidak selalu memberikan gejalagejala yang mudah
dikenali.Jika ada pun, gejala tersebut tidak terlalu dianggap serius karena kebanyakan
mereka hanya merasakan pegalpegal di daerah punggung dan pinggang mereka saja.
Menurut Dr Siow dalam artikel yang ditulis oleh Norlaila H. Jamaluddin
(Jamaluddin, 2007), skoliosis tidak menunjukkan gejala awal.Kesannya hanya dapat
dilihat apabila tulang belakang mulai bengkok.Jika keadaan bertambah buruk, skoliosis
menyebabkan tulang rusuk tertonjol keluar dan penderita mungkin mengalami masalah
sakit belakang serta sukar bernafas.
Derajat pembengkokan biasanya diukur dengan cara Cobb dan disebut sudut Cobb.
Dari besarnya sudut skoliosis dapat dibagi menjadi (Kawiyana dalam Soetjiningsih,
2004).
1 Skoliosis ringan : sudut Cobb kurang dari 20
2 Skoliosis sedang : sudut Cobb antara 21 40
3 Skoliosis berat : sudut Cobb lebih dari 41

Pada skoliosis derajat berat (lebih dari 40 derajat), hanya dapat diluruskan melalui
operasi.

F. PROGNOSIS
Prognosis tergantung kepada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan.Semakin
besar kelengkungan skoliosis, semakin tinggi resiko terjadinya progresivitas sesudah masa
pertumbuhan anak berlalu.
Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace memiliki prognosis yang baik dan
cenderung tidak menimbulkan masalah jangka panjang selain kemungkinan timbulnya
sakit punggung pada saat usia penderita semakin bertambah.
Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga memiliki prognosis
yang baik dan bisa hidup secara aktif dan sehat.
Penderita skoliosis neuromuskuler selalu memiliki penyakit lainnya yang serius
(misalnya cerebral palsy atau distrofi otot).Karena itu tujuan dari pembedahan biasanya
adalah memungkinkan anak bisa duduk tegak pada kursi roda.
G. KOMPLIKASI
Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, penderita perlu dirawat seawal
mungkin. Tanpa perawatan, tulang belakang menjadi semakin bengkok dan
menimbulkan berbagai komplikasi seperti :
1. Kerusakan paru-paru dan jantung.
Ini boleh berlaku jika tulang belakang membengkok melebihi 60 derajat. Tulang
rusuk akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar bernafas
dan cepat capai. Justru, jantung juga akan mengalami kesukaran memompa darah.
Dalam keadaan ini, penderita lebih mudah mengalami penyakit paru-paru dan
pneumonia.
2. Sakit tulang belakang.
Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami
masalah sakit tulang belakang kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akan
menghidap masalah sakit sendi. Tulang belakang juga mengalami lebih banyak
masalah apabila penderita berumur 50 atau 60 tahun.
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan fisik penderita biasanya diminta untuk membungkuk ke depan


sehingga pemeriksa dapat menentukan kelengkungan yang terjadi. Pemeriksaan
neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau refleks.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
1. Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai.
2. Rontgen tulang belakang
3. MRI ( jika di temukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen )
I. PENATALAKSANAAN
Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting :
1 Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan
2 Mempertahankan fungsi respirasi
3 Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis
4 Kosmetik
Adapun pilihan terapi yang dapat dipilih, dikenal sebagai The three Os adalah :
a. Observasi
Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu <25o pada
tulang yang masih tumbuh atau <50o pada tulang yang sudah berhenti
pertumbuhannya. Rata-rata tulang berhenti tumbuh pada saar usia 19 tahun. Pada
pemantauan ini, dilakukan kontrol foto polos tulang punggung pada waktu-waktu
tertentu.Foto kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke
dokter.Lalu sekitar 6-9 bulan berikutnya bagi yang derajat <20>20.
b. Orthosis
Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama
brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah :
1) Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 30-40 derajat
2) Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25 derajat.
Jenis dari alat orthosis ini antara lain :
1) Milwaukee
2) Boston
3) Charleston bending brace
Alat ini dapat memberikan hasil yang cukup signifikan jika digunakan secara
teratur 23 jamdalam sehari hingga 2 tahun setelah menarche.
c. Operasi

Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pada skoliosis
adalah :
1) Terdapat derajat pembengkokan >50 derajat pada orang dewasa
2) Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45 derajat pada anak
yang
3) sedang tumbuh
4) Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pemeriksaan fisik meliputi :
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran.Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor
tulang.Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam
kesejajaran anatomis.Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik
selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.
b. Mengkaji tulang belakang
Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)
c. Mengkaji sistem persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya
benjolan, adanya kekakuan sendi
d. Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masingmasing otot.Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri
otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu
ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang
berhubungan dengan caraberjalan abnormal (mis.cara berjalan spastic hemiparesis stroke, cara berjalan selangkah-selangkah penyakit lower motor neuron, cara
berjalan bergetar penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer

Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yanglebih panas atau lebih dingin dari
lainnya dan adanyaedema.Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut
perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
2. Analisa data
DS:
a. Pasien mengetakan nyeri punggung
b. Pasien mengatakan kelelahan di tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
c. Pasien mengatakan kesusahan bernafas
DO:
a. Bahu yang tampak tidak sama tinggi
b. Tampak tonjolan skapula yang tidak sama
c. Tampak pinggul yang tidak sama
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan nyeri
2. Nyeri punggung berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang
4. Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh miring
kelateral.
C. Rencana keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru
Tujuan : Pola nafas efektif
Rencana tindakan :
a. Kaji status pernafasan setiap 4 jam
b. Bantu dan ajarkan pasien melakukan nafas dalam setiap 1 jam
Rasional : Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi
c. Atur posisi tidur semi fowler untuk meningkatkan ekspansi paru
Rasional : Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan
d. Pantau tanda vital setiap 1 jam
Rasional : Indikator umum, status sirkulasi dan keadekuatan perfusi
2. Nyeri punggung berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
Rencana tindakan :
a. Kaji tipe, intensitas dan lokasi nyeri

Rasional : Mempengaruhi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi tingkat ansietas


dapat mempengaruhi terhadap nyeri
b. Ajarkan relaksasi dan tehnik distraksi
Rasional : Untuk mengalihkan perhatian sehingga mengurangi nyeri
c. Ajarkan dan anjurkan pemakaian brace
Rasional : Untuk mengurangi nyeri saat aktivitas
d. Kolaborasi dalam pemberian analgesi
Rasional : Untuk meredakan nyeri
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang
Tujuan : Meningkatkan mobilitas fisik
Rencana tindakan
a. Kaji tingkat mobilitas fisik
Rasional : Mempengaruhi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi
b. Tingkatkan aktivitas jika nyeri berkurang
Rasional : Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energy
c. Bantu dan ajarkan latihan rentang gerak sendi aktif
Rasional : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi
d. Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan diri
Rasional : Keluarga yang kooperatif dapat meringankan petugas, dan memberikan
kenyamanan pada pasien
4. Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh yang miring
ke lateral
Tujuan : Meningkatkan citra tubuh
Rencana tindakan:
a. Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan dan masalahnya
Rasional : Ekspresi emosi membantu pasien mulai menerima kenyataan
b. Beri harapan yang realistik dan buat sasaran jangka pendek untuk memudahkan
pencapaian
Rasional : Harapan yang tidak realistik menyebabkan pasien mengalami kegagalan dan
menguatkan perasaan-perasaan tidak berdaya
c. Beri penghargaan untuk tugas yang di lakukan
Rasional : Penguatan positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan
perilaku yang di harapkan

d. Beri dorongan untuk merawat dari sesuai toleransi


Rasional : Meningkatkan kemandirian