Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. ISOLASI SOSIAL
1. Pengertian
Isolasi sosial adalah kondisi ketika individu atau kelompok
mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk lebih
terlibat dalam aktivitas bersama orang lain tetapi tidak mampu
mewujudkannya. Isolasi sosial merupakan kondisi yang subjektif
seluruh kesimpulan yang dibuat berkaitan dengan perasaan sunyi yang
dirasakan

individu

bermacam-macam

harus
dan

divalidasi

cara

individu

karena

penyebabnya

menunjukannya

bisa

beragam

(Carpenito, 2009). Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang


individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya (Damayanti, 2008).
Isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan
orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak
mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan.
Pasien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan
orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada
perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman (Yosep, 2007).
Seseorang dengan isolasi sosial akan menghindari interaksi
dengan orang lain, Ia mengalami kesulitan untuk berhubungan akrab
dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan
prestasi atau kegagalan, ia mengalami kesulitan untuk berhubungan
secara spontan dengan orang lain, yang dimanifastasikan dengan sikap
memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi
pengalaman dengan orang lain. Isolasi sosial adalah mekanisme
perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia
menarik diri dari pergaulan lingkungannya (Sunaryo, 2004). Isolasi
sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan

atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, diterima, kesepian dan
tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain
(Keliat, 2010).
Jadi penulis menarik kesimpulan bahwa isolasi sosial adalah
dimana suatu keadaan seseorang tidak mampu untuk berinteraksi
dengan orang lain, dan lebih cendrung untuk menarik diri serta tidak
mau untuk mengenal orang lain.
2. Etiologi
Berbagai faktor dapat menimbulkan respon yang mal-adaptif.
Menurut Stuart dan Sundeen (2007), belum ada suatu kesimpulan yang
spesifik tentang penyebab gangguan yang mempengaruhi hubungan
interpersonal. Faktor yang mungkin mempengaruhi isolasi sosial adalah
faktor predisposisi dan faktor presipitasi.
a.

Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial.
1) Faktor perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang
harus didahului individu dengan sukses, karena apabila
tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi, akan
menghambat masa perkembangan selanjutnya. Keluarga
adalah tempat pertama yang memberikan pengalaman bagi
individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dan
kehangatan dari ibu atau pengasuh pada bayi akan
memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat
terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan
tersebut dapat mengembangkan tingkah laku curiga pada
orang lain maupun lingkungan di kemudian hari.
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan
faktor pendukung untuk terjadinya gangguan hubungan
sosial, seperti adanya komunikasi yang tidak jelas (double
2

bind) yaitu suatu keadaan dimana individu menerima


pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan,
dan ekspresi emosi yang tinggi di setiap berkomunikasi.
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari
lingkungan merupakan faktor pendukung terjadinya
gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan oleh
karena norma-norma yang salah yang dianut oleh satu
keluarga, seperti anggota tidak produktif diasingkan dari
lingkungan sosial.
4) Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung
gangguan jiwa. Insiden tertinggi skizofrenia ditemukan
pada keluarga yang anggota keluarganya ada yang
menderita skizofrenia. Berdasarkan hasil penelitian pada
kembar monozigot apabila salah diantaranya menderita
skizofrenia adalah 58%, sedangkan bagi kembar dizigot
persentasenya 8%.
b.

Faktor Presipitasi
Stressor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan
oleh faktor internal maupun eksternal.
1) Stressor sosial budaya
Stressor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam
berhubungan, terjadinya penurunan stabilitas keluarga
seperti perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai,
kehilangan pasangan pada usia tua, dipenjara, Semua ini
dapat menimbulkan isolasi sosial.
2) Stressor biokimia
a) Teori dopamine
Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan mesolimbik
serta tractus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya
skizofrenia yang mengarah ke gangguan isolasi sosial.
b) Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi)

Di dalam darah akan meningkatkan dopamine dalam


otak. Karena salah satu kegiatan MAO adalah sebagai
enzim yang menurunkan dopamine, maka menurunnya
MAO juga dapat merupakan indikasi terjadinya
skizofrenia.
c) Faktor endokrin
Jumlah FSH dan LH yang rendah ditemukan pada klien
skizofrenia.

Demikian

pula

prolactin

mengalami

penurunan karena dihambat.

3. Manifestasi klinis
Observasi yang dilakukan pada klien dengan isolasi sosial akan
ditemukan data obyektif yaitu kurang spontan terhadap masalah yang
ada, apatis (acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri
(ekspresi bersedih), efek tumpul, menghindar dari orang lain, tidak
ada kontak mata atau kontak mata kurang, klien lebih sering
menunduk, berdiam diri dalam kamar, tidak mampu merawat dan
memperhatikan kebersihan diri (Dalami, suliswati dan rochima, 2009).
Perilaku ini biasanya disebabkan karena seseorang menilai dirinya
rendah, sehingga timbul perasaan malu untuk berinteraksi dengan
orang lain. Bila tidak diberikan intervensi lebih lanjut, maka akan
menyebabkan perubahan persepsi sensori: halusinasi dan resiko tinggi
menciderai diri sendiri, orang lain bahkan lingkungan. Perilaku yang
tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi aktivitas
yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap ketidakmampuan untuk
melakukan perawatan secara mandiri. Seseorang yang mempunyai
harga diri rendah awalnya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk
menyelesaikan masalah dalam hidupnya, sehingga orang tersebut
berperilaku tidak normal (koping individu tidak aktif).
4. Rentang Respon
Respon Adaptif

Menyendiri
Otonomi
Kebersamaan
Saling
ketergantungan

Respon Maladaptif

Kesepian
Menarik diri
ketergantungan

Manipulasi
Impulsif 4
Narkisisme

Bagan 2.1 Rentang respon klien isolasi sosial (Stuart, 2007).


Berdasarkan bagan 2.1 dapat dilihat rentang respon sosial dari
respon adaptif sampai dengan maladaptif menurut, Stuart (2007):
a. Menyendiri
seseorang

(Solitude)
untuk

merupakan respon yang

merenungkan

apa

yang

telah

dibutuhkan
dilakukan

dilingkungan sosialnya dan cara mengevaluasi diri untuk


menentukan langkah selanjutnya.
b. Otonomi merupakan kemampuan individu menentukan dan
menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
c. Bekerjasama

(mutualisme),

suatu

kondisi dalam hubungan

interpersonal dimana individu mampu untuk saling memberi dan


menerima pengalaman.
d. Saling ketergantungan (interdependen), suatu kondisi saling
tergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina
hubungan interpersonal.
e. Kesepian kondisi dimana individu merasa sendiri dan terasing.
f. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseorang
menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka
dengan orang lain.
g. Ketergantung

(depanden),

terjadi

bila

seseorang

gagal

mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuan untuk


berfungsi secara sukses.

h. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial terdapat pada


individu yang menganggap orang lain sebagai objek dan individu
tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
i. Impulsif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar
dari pengalaman, tidak dapat diandalkan, dan penilaian yang buruk.
j. Narkisisme merupakan harga diri yang rapuh, secara terus menerus
berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egosentrik,
pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.
5. Mekanisme Koping
Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi
kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam
dirinya. Kecemasan koping yang sering digunakan adalah regresi,
represi dan isolasi. Sedangkan contoh sumber koping yang dapat
digunakan misalnya keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam
keluarga

dan

teman,

hubungan

dengan

hewan

peliharaan,

menggunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal


seperti kesenian, musik, atau tulisan, (Stuart and sundeen, 2007)

6. Penatalaksanaan
a. Terapi Psikofarmaka
Mengatasi sindrom psikis

yaitu

berdaya

berat dalam

kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya ingat


norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsifungsi mental: faham, halusinasi. Gangguan perasaan dan perilaku
yang aneh atau tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi
kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, berhubungan sosial
dan melakukan kegiatan rutin. Mempunyai efek samping gangguan
otonomi (hypotensi). Antikolinergik /parasimpatik, mulut kering,
kesulitan dalam miksi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra

okuler meninggi, gangguan irama jantung. Gangguan ekstra


pyramidal (distonia akut, akathsia sindrom parkinson). Gangguan
endoktrin

(amenorhe).

agranulosis.

Biasanya

Metabolic
untuk

(Soundie).

pemakaian

Hematologik,

jangka

panjang.

Kontraindikasi terhadap penyakit hati, penyakit darah, epilepsy,


kelainan jantung (Andrey, 2010).
b. Terapi Individu
Terapi individu pada pasien dengan masalah isolasi sosial
dapat diberikan strategi pertemuan (SP) yang terdiri dari tiga SP
dengan masing-masing strategi pertemuan yang berbeda-beda.
Pada SP satu, perawat mengidentifikasi penyebab isolasi sosial,
berdiskusi dengan pasien mengenai keuntungan dan kerugian
apabila berinteraksi dan tidak berinteraksi dengan orang lain,
mengajarkan cara berkenalan, dan memasukkan kegiatan latihan
berbiincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan harian.
Pada SP dua, perawat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien,
memberi kesempatan pada pasien mempraktekkan cara berkenalan
dengan satu orang, dan membantu pasien memasukkan kegiatan
berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan
harian. Pada SP tiga, perawat mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien, memberi kesempatan untuk berkenalan dengan dua orang
atau lebih dan menganjurkan pasien memasukkan ke dalam jadwal
kegiatan hariannya (Purba, dkk. 2008).
c. Terapi kelompok
Menurut (Purba, 2009), aktivitas pasien yang mengalami
ketidakmampuan bersosialisasi secara garis besar dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu:
1) Activity Daily Living (ADL)
Adalah

tingkah

laku

yang

berhubungan

dengan

pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang meliputi:


a) Bangun tidur yaitu semua tingkah laku/perbuatan pasien
sewaktu bangun tidur.

b) Buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK), yaitu
semua bentuk tingkah laku/perbuatan yang berhubungan
dengan BAB dan BAK.
c) Waktu mandi, yaitu tingkah laku sewaktu akan mandi,
dalam kegiatan mandi dan sesudah mandi.
d) Ganti pakaian, yaitu tingkah laku yang berhubungan
dengan keperluan berganti pakaian.
e) Makan dan minum, yaitu tingkah laku yang dilakukan
pada waktu, sedang dan setelah makan dan minum.
f) Menjaga kebersihan diri, yaitu perbuatan

yang

berhubungan dengan kebutuhan kebersihan diri, baik yang


berhubungan dengan kebersihan pakaian, badan, rambut,
kuku dan lain-lain.
g) Menjaga keselamatan diri, yaitu sejauhmana pasien
mengerti dan dapat menjaga keselamatan dirinya sendiri,
seperti,

tidak

menggunakan/menaruh

benda

tajam

sembarangan, tidak merokok sambil tiduran, memanjat


ditempat yang berbahaya tanpa tujuan yang positif.
h) Pergi tidur, yaitu perbuatan yang mengiringi seorang
pasien untuk pergi tidur. Pada pasien gangguan jiwa
tingkah laku pergi tidur ini perlu diperhatikan karena
sering merupakan gejala primer yang muncul pada
gangguan jiwa. Dalam hal ini yang dinilai bukan gejala
insomnia (gangguan tidur) tetapi bagaimana pasien mau
mengawali tidurnya.
2) Tingkah laku sosial
Tingkah laku sosial adalah tingkah laku yang berhubungan
dengan kebutuhan

sosial pasien dalam

kehidupan

bermasyarakat yang meliputi:


a) Kontak sosial terhadap teman, yaitu tingkah laku pasien
untuk melakukan hubungan sosial dengan sesama pasien,
misalnya

menegur

kawannya,

berbicara

dengan

kawannya dan sebagainya.

b) Kontak sosial terhadap petugas, yaitu tingkah laku pasien


untuk melakukan hubungan sosial dengan petugas seperti
tegur sapa, menjawab pertanyaan waktu ditanya, bertanya
jika ada kesulitan dan sebagainya.
c) Kontak mata waktu berbicara, yaitu sikap pasien sewaktu
berbicara dengan orang lain seperti memperhatikan dan
saling menatap sebagai tanda adanya kesungguhan dalam
berkomunikasi.
d) Bergaul, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan
kemampuan bergaul dengan orang lain secara kelompok
(lebih dari dua orang).
e) Mematuhi tata tertib, yaitu tingkah laku yang berhubungan
dengan ketertiban yang harus dipatuhi dalam perawatan
rumah sakit.
f) Sopan santun, yaitu tingkah laku yang berhubungan
dengan tata krama atau sopan santun terhadap kawannya
dan petugas maupun orang lain.
g) Menjaga kebersihan lingkungan, yaitu tingkah laku pasien
yang bersifat mengendalikan diri untuk tidak mengotori
lingkungannya, seperti tidak meludah sembarangan, tidak
membuang puntung rokok sembarangan dan sebagainya.

B. TAK SOSIALISASI : MENARIK DIRI


Terapi Aktivitas Kelompok (TAK): Sosialisasi (TAKS) adalah upaya
memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan dengan masalah
hubungan sosial.
1. Definisi Tak (Terapi Aktivitas Kelompok)
Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat
kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
Aktivitas yang digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai
target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling
bergantung, saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien
berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang
maladaptive.
2. PERSIAPAN LINGKUNGAN
1. Ventilasi baik
2. Penerangan cukup
10

3. Suasana tenang
4. Pengaturan posisi tempat duduk (setting)
3. AKTIVITAS DAN INDIKASI
Aktivitas TAKS dilakukan 2 sesi yang melatih kemampuan sosialisasi
klien. Klien yang mempunyai indikasi TAKS adalah klien dengan gangguan
hubungan sosial berikut :
a. Klien harga diri rendah yang cukup kooperatif
b. Klien yang yang sulit mengungkapkan perasaannya melalui komunikasi
verbal
c. Klien dengan gangguan harga diri rendah yang telah dapat berinteraksi
dengan orang lain.
d. Klien dengan kondisi fisik yang dalam keadaan sehat (tidak sedang
mengidap penyakit fisik tertentu seperti diare, thypid, dan lain-lain)
4. SETTING
1. Klien dan terapis duduk bersama dalam satu lingkaran.
2. Ruangan yang nyaman dan tenang.
Keterangan :
L : Leader
Co : Co Leader
F : Fasilitator
O : Observer
K : Klien
Petunjuk Klien duduk melingkar bersama perawat.
5. PERAN DAN FUNGSI TERAPIS
1. Leader
Tugas :
a)

Memimpin jalannya terapi aktifitas kelompok.

b)

Merencanakan, mengontrol, dan mengatur jalannya terapi.

c)

Menyampaikan materi sesuai tujuan TAK.

d) Menyampaikan Tata tertib TAK


e)

Memimpin diskusi kelompok.

f)

Menutup acara diskusi.


11

2. Co Leader
Tugas :
a)

Membuka acara

b)

Mendampingi Leader

c)

Mengambil alih posisi Leader jika Leader blocking

d)

Menyerahkan kembali posisi kepada leader

3. Fasilitator
Tugas :
a)

Ikut serta dalam kegiatan kelompok

b)

Memberikan stimulus dan motivator pada anggota kelompok


untuk aktif mengikuti jalannya terapi.

4. Observer
Tugas :
a)
Mencatat serta mengamati respon klien (dicatat pada format yang
b)

tersedia)
Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan,

proses, hingga penutupan.


5. Operator
Tugas :
a)
Mengatur alur permainan (Menghidupkan dan mematikan musik)
b)
Timer (Mengatur waktu).
6. METODE TAKS
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran atau stimulasi
7. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Terapi Aktifitas Kelompok ini dilaksanakan pada :
Hari, Tanggal

: Sabtu, 24 Desember 2016

Waktu

: Pukul 10.30 WIB s.d Selesai

Tempat

: Ruang MURAI B

8. NAMA KLIEN DAN RUANGAN

12

Klien yang mengikuti kegiatan berjumlah 5 (Lima) orang, sedangkan


sisanya sebagai cadangan jika klien yang ditunjuk berhalangan. Adapun
nama-nama klien yang akan mengikuti TAK yaitu :
Klien peserta TAK :
1. Tn. K
2. Tn. H
3. Tn. J
4. Tn.
5. Tn.
9. MEDIA DAN ALAT
1. Botol/pena
2. Laptop (MP3)
3. Speaker
10. SUSUNAN PELAKSANA
Susunan TAKS sebagai berikut :
1. Leader
: Uli Astika Sinaga
2. Co. Leader
: Febrianto Kurnia Harmas
3. Fasilitator 1 : Doyoba Rusito
4. Fasilitator 2 : Dori Angres Putra
5. Observer
: Fenti Sinaga
11. LANGKAH KEGIATAN
a. Persiapan
1) Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu isolasi sosial: menarik
diri
2) Membuat kontrak dengan klien
3) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
b. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
1) Memberikan salam terapeutik: salam dari terapis
2) Evaluasi / validasi: menanyakan perasaan klien saat ini
3) Kontrak:
a) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu memperkenalkan diri
b) Menjelaskan aturan main sebagai berikut :
Pasien wajib datang 10 menit sebelum acara dimulai
Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus

meminta izin kepada terapis.


Tidak boleh makan, minum atau merokok saat TAK
Jika ada yang membuat gaduh akan dikeluarkan dari TAK
13

Setiap pasien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai


Jika ingin Bicara acungkan tangan dan berbicara setelah

dipersilahkan oleh leader


Jika peserta ingin ketoilet beri kesempatan sebelum acara
dimulai

c. Tahap Kerja
1) Jelaskan kegiatan yaitu musik pada Laptop akan di hidupkan, serta
Botol diedarkan berlawanan arah jarum jam. Dan pada saat Musik di
matikan,

maka

anggota

kelompok

yang

memegang

botol

memperkenalkan diri.
2) Hidupkan musik pada laptop dan edarkan botol berlawanan jarum
jam.
3) Pada saat music di hentikan, anggota kelompok yang memegang
botol mendapat giliran untuk menyebutkan: salam, nama lengkap,
nama panggilan, hoby, dan asal di mulai dari terapis sebagai contoh.
4) Tulis nama panggilan pada kertas atau papan nama dan temple atau
pakai.
5) Ulangi sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.
6) Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan
memberi tepuk tangan.
d. Tahap Terminasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok.
3) Rencana tindak lanjut.
4) Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih memperkenalkan diri
kepada orang lain di kehidupan sehari-hari.
5) Masukkan kegiatan memperkenalkan diri pada jadwal kegiatan harian
klien.
6) Kontrak yang akan datang.
7) Menyepakati kegiatan berikut yaitu berkenalan dengan anggota
kelompok.
8) Menyiapkan waktu dan tempat

12. KRITERIA EVALUASI


14

a. Evaluasi Input
1) Tim berjumlah 5 orang yang terdiri atas 1 leader, 1 co2)
3)
4)
5)

leader/operator, 2 fasilitator, 1 observer.


Lingkungan memiliki syarat luas dan sirkulasi baik.
Peralatan mp3 sound system berfungsi dengan baik.
Tersedia botol/pena
Klien, tidak ada kesulitan memilih klien yang sesuai dengan
kriteria dan karakteristik klien untuk melakukan terapi aktivitas
kelompok sosialisasi.

b. Evaluasi Proses
1) Leader menjelaskan aturan main dengan jelas.
2) Fasilitator menempatkan diri di tengah-tengah klien.
3) Observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan untuk
dapat mengawasi jalannya permainan.
4) 100% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan
dengan aktif dari awal sampai selesai.
c. Evaluasi Output
Setelah mengadakan terapi aktivitas kelompok sosialisasi dengan 3 klien
yang diamati, hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut;
1) 100% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan dengan
aktif dari awal sampai selesai.
2) 100% klien dapat meningkatkan komunkasi non verbal: bergerak
mengikuti instruksi, ekspresi wajah cerah, berani kontak mata.
3) 100% klien dapat meningkatkan komunikasi verbal (menyapa klien lain
atau perawat, mengungkapkan perasaan dengan perawat).
4) 100% klien dapat meningkatkan kemampuan akan kegiatan kelompok
(mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai).
5) 100% klien mampu melakukan hubungan sosial dengan lingkungannya
(mau berinteraksi dengan perawat / klien lain)

15

DAFTAR PUSTAKA
Herawaty, Netty. 1999. Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta : EGC.
Stuart, Gail Wiscart & Sandra J. Sundeen. 1995. Buku Saku Keperawatan
Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC

16