Anda di halaman 1dari 30

PELAKSANAAN PROGRAM DAN

PENGELOLAAN
MASALAHGIZIMASYARAKAT DI
PUSKESMAS

Oleh :
Rahmani Welan
07120032

Preseptor :
DR. dr. Delmi Sulastri, MS

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2011

DAFTAR ISI

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

1.3 Batasan Masalah

1.4 Metode Penulisan

BAB II Analisis Situasi

2.1 Sejarah Puskesmas

2.2 Kondisi Geografis

.
2.3 Kondisi Demografi

2.4 Sarana dan Prasana

2.5 Kondisi Budaya, social dan Ekonomi Penduduk

BAB III Tinjauan Pustaka

.
3.1 Gizi Masyarakat

3.2 Pengelolaan Masalah Gizi Masyarakat Di


Puskesmas

3.3 Program
Gizi

BAB III Pelaksanaan Program dan Pengelolaan Masalah Gizi Masyarakat di


Puskesmas .
BAB IV Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

...
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Gambaran pembangunan kesehatan ditingkat kabupaten dapat


dilihat dari tiga komponen utama yang saling kait mengakit dan saling
berhubungan, ketiga komponen tersebut adalah status perkembangan
dan kelangsungan hidup, status kesehatan dan status pelayanan
kesehatan.
Status pelayanan kesehatan terdiri dari cakupan pengelolaan
pelayanan program kesehatan dan sarana-prasarana kesehatan.Salah
satu pengelolaan program kesehatan adalah pengelolaan program
perbaikan gizi.
Pada tingkat kecamatan atau Puskesmas program perbaikan gizi
merupakan salah program dasar puskesmas dari 7 (tujuh) program
dasar yang ada, yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Program
Perbaikan Gizi, Program Kesehatan Lingkungan, Program Promosi
Kesehatan, Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P),
Program Pengobatan dan Program Spesifik Lokal. Berhasil tidaknya
pelaksanaan ke tujuh program ini, semua tergantung dari pengelolaan
atau penyelenggaraannya termasuk pengelolaan program perbaikan
gizi.
1.2 Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Mengetahui pelaksanaan program dan pengelolaan masalah gizi
masyarakat di puskesmas secara umum.
b. Tujuan Khusus

Mengetahui tentang program gizi di puskesmas dan pengelolaan

masalah gizi di puskesmas lubuk kilangan


Sebagai salah satu dalam menjalankan kepanitraan klinik di bagian
Ilmu Kesehatan Masyarakat

1.2

Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang pelaksanaan program dan


pengelolaan masalah gizi di puskesmas lubuk kilangan secara khusus.
1. 4 Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang
merujuk dari berbagai literature.

BAB II
ANALISIS SITUASI

2.1

SEJARAH PUSKESMAS

Puskesmas Lubuk Kilangan ini didirikan diatas tanah wakaf yang


diberikan KAN yang pada tahun 1981 dengan Luas tanah 270 M2dan
GedungPuskesmas sendiri didirikan pada tahun 1983 dengan luas
bangunan 140 M2dimana saat itu Pimpinan Puskesmas yang pertama
adalah dr.Meiti Frida dan pada tahun itu juga Puskesmas mempunyai 1
buah Pustu Baringin.
Saat sekarang kondisi bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan
sudah permanen terdiri dari beberapa ruangan kantor seperti: BP, KIA,
Gigi, Labor, KB, Apotik, Imunisasi dengan jumlah pegawai yang ada
sebanyak 52 orang termasuk Pustu. Walaupun demikian bangunan

Puskesmas Lubuk Kilangan saat sekarang masih belum mempunyai


gudang obat dan gudang gizi (PMT), ruangan khusus Pelayanan
Lansia.
Pelayanan Puskesmas Lubuk Kilangan yang diberikan saat ini
adalah 6 pelayanan dasar yaitu: promosi kesehatan, kesehatan
lingkungan, KIA, gizi masyarakat, P2M, pengobatan.
2.2

KONDISI GEOGRAFIS
Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan meliputi seluruh Wilayah
Kecamatan Lubuk Kilangan dengan luas daerah 85,99 Km2 yang terdiri
dari 7 kelurahan dengan luas:

2.3

a. Kelurahan Batu Gadang

: 19.29 Km2

b. Kelurahan Indarung

: 52.1 Km2

c. Kelurahan Padang Besi

: 4.91 Km2

d. Kelurahan Bandar Buat

: 2.87 Km2

e. Kelurahan Koto Lalang

: 3.32 Km2

f. Kelurahan Baringin

: 1.65 Km2

g. Kelurahan Tarantang

: 1.85 Km2

KONDISI DEMOGRAFI
Jumlah Penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan adalah 43.532 Jiwa
yang terdiri dari 10.707 KK dengan perincian sebagai berikut:

a. Kelurahan Bandar Buat

: 11.172 jiwa dan 2.743 KK

b. Kelurahan Padang Besi

: 6.211 jiwa dan 1.610 KK

c. Kelurahan Indarung

: 10.669 jiwa dan 2.632 KK

d. Kelurahan Koto Lalang

: 6.378 jiwa dan 1.550 KK

e. KelurahanBatuGadang

: 5.828 jiwa dan 1.489 KK

f. Kelurahan Baringin

: 1.226 jiwa dan 244 KK

g. Kelurahan Tarantang

: 2.048 jiwa dan 439 KK

Di lubuk kilangan terdapat 42RW dan 161 RT dengan perincian


sebagai berikut:
a. Kelurahan Batu Gadang

: 4 RW/ 18 RT

b. Kelurahan Indarung

: 12 RW/ 44 RT

c. Kelurahan Padang Besi

: 4 RW/ 20RT

d. Kelurahan Bandar Buat

: 11 RW/ 40 RT

e. Kelurahan Koto Lalang

: 7 RW/ 27 RT

f. Kelurahan Baringin

: 2 RW/ 5 RT

g. Kelurahan Tarantang

: 2 RW/ 7 RT

SASARAN PUSKESMAS
Jumlah penduduk

: 43.532 Jiwa

Bayi (0-11 Bulan)

: 904

Bayi (6-11 Bulan)

: 542

Anak Balita (24-60 Bulan)

: 3506

Balita (0-60 Bulan)

: 4410

Ibu Hamil (Bumil)

: 995

Ibu Nifas (Bufas)

: 949

Ibu Bersalin

: 949

Ibu meneteki (Buteki)

: 1808

Lansia

: 3138

WUS

: 9287

2.4

SARANA DAN PRASARANA

a.

Sarana Pendidikan
SMU/SMK

: 3 Unit

SLTP

: 4 Unit

SD: 23 Unit
TK : 15 Unit

b.

Sarana Kesehatan
Puskesmas Lubuk Kilangan memiliki sarana:
PuskesmasInduk

: 1 Unit

PuskesmasPembantu

: 3 Unit

Pustu Indarung

Pustu Batu Gadang

Pustu Baringin

Rumah Sakit PT Semen Padang : 1 Unit


Mobil Puskesmas Keliling

: 1 Unit

Motor Dinas

: 4 Unit

Komputer

: 2 Unit

MesinTik

: 2 Unit

Laptop

: 1 Unit

LCD/Infocus

: 1 Unit

c.

Prasarana Kesehatan
Posyandu Balita

: 41 Buah

PosyanduLansia

: 11 Buah

KaderKesehatan

: 164 Orang

PraktekDokterSwasta

: 5 orang

PraktekBidanSwasta

: 21 orang

Pos UKK : 3 Pos


PengobatanTradisional
Toga
2.5

: 38 Buah

: 27 Buah

Ketenagaan

a.

Dokter Umum

b. Dokter Gigi

: 2 Orang

c. Sarjana Kesehatan Masyarakat : 3 Orang


d. Akper

: 6 Orang

: 4 Orang

e. SPK

: 6 Orang

f. Akbid

: 6 Orang

g. Bidan (D I)

: 13 Orang

h. Asisten Apoteker

: 2 Orang

i. AKL

: 1 Orang

j. AAK

: 1 Orang

j. Perawat Gigi

: 2 Orang

k. Pekarya Kesehatan

: 3 Orang

l. SMA

: 2 Orang

m. SMP

: 1 Orang

2.6

Kondisi Sosial, Budaya dan Ekonomi Penduduk

a. Kondisi Sosial dan Budaya


Suku terbesar yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan adalah
Suku Minang, juga ada beberapa suku lainnya yaitu Jawa dan Batak.
Mayoritas agama yang dianut masyarakatnya adalah :

Islam

Katolik

Kristen

43.451 Jiwa

39 Jiwa

41 Jiwa
b. KondisiEkonomi
Mata Pencaharian Penduduk:
a. Pegawai Negeri
b. Swasta

c. Buruh
d. Tani

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Gizi Masyarakat


Dilihat dari segi sifatnya, ilmu gizi dibedakan menjadi dua, yakni gizi
yang berkaitan dengan kesehatan perorangan yang disebut gizi kesehatan
perorangan dan gizi yang erkaitan dengan kesehatan masyarakat yang
disebut gizi kesehatan masyarakat (public helath nutrition).Kedua sifat
keilmuan ini akhirnya masing-masing berkembang menjadi cabang ilmu
sendiri, yakni cabang ilmu gizi kesehatan perorangan atau disebut gizi
klinik (clinical nutrition) dan cabang ilmu gizi kesehatan masyarakat
(community nutrition).
Gizi masyarakat berkaiatan dengan gangguan gizi pada kelompok
masyarakat, oleh sebab itu, sifat dari gizi masyarakat lebih ditekankan
pada pencegahan (prevensi) dan peningkatan (promosi).
Penanganan gizi masyarakat tidak cukup dengan upaya terapi para
penderita saja karena apabila setelah mereka sembuh akan kembali ke
masyarakat. Oleh karena itu, terapi penderita gangguan gizi tidak saja
ditunjukkan kepada penderitanya saja, tetapi seluruh masyarakat
tersebut.
Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan saja,
melainkan aspek-aspek terkait yang lain, seperti ekonomi, sosial-budaya,
pendidikan, kependudukan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, penanganan
atau perhatian giziz sebagai upaya terapi tidak hanya diarahkan pada
gangguan gizi atau kesehatan saja, melainkan juga ke arah bidang-bidang
yang lain. Misalnya, penyakit gizi KKP (kekurangan kalori dan protein)
pada anak-anak balita, tidak cukup dengan hanya pemberian makanan
tambahan saja (PMT), tetapi juga dilakukan perbaikan ekonomi keluarga,
peningkatan pengetahuan dan sebagainya.

3.2 Pengelolaan Masalah Gizi Masyarakat Di Puskesmas

Ada lima langkah yang harus di perhatikan dalam pengelolaan


program perbaikan gizi pada tingkat puskesmas yaitu Identifikasi Masalah,
Analisis masalah, Menentukan

kegiatan perbaikan gizi, melaksanakan

program perbaikan gizi, dan pemantauan-evaluasi.

Lima Langkah Pengelolaan Program Gizi Puskesmas


Pengelolaan program gizi di Puskesmas, sebenarnya telah diatur
oleh program gizi ditingkat Kabupaten (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota),
namun demikian agar program perbaikan gizi di Kecamatan dapat
langsung memberikan dampak pada tingkat kabupaten, seyogyanya
harus di kelola dengan baik.
Lima langkah pengelolaan program perbaikan gizi di Puskesmas
pada dasarnya sama dengan langkah-langkah pada pedoman
pengelolaann gizi yang dilakukan di Tingkat Kabupaten yang dikeluarkan
Direktorat Bina Gizi Depkes RI, dimulai dari langkah pertama yaitu
Identifikasi Masalah, kemudian langkah kedua analisis masalah. Langkah
pertama dan kedua biasa dikenal dengan perencanaan (planing). Langkah
Ketiga adalah Menentukan kegiatan perbaikan gizi, langkah ini biasa juga
dikenal atau disebut juga dengan pengorganisasian (organising). Langkah
Keempat adalah melaksanakan program perbaikan

gizi, langkah ini

disebut juga dengan Pelaksanaan (actuating). Dan yang terakhir adalah


Langkah Kelima yaitu pantauan dan evaluasi, langkah ini disebut juga
dengan (controlling and evaluation).
Langkah Pertama Identifikasi Masalah
Dalam identifikasi masalah gizi, langkah-langkah yang
perludiperhatikan adalah mempelajari data berupa angka
atauketerangan-keterangan yang berhubungan dengan

identifikasi

masalah gizi. Kemudian melakukan validasi terhadap data yang tersedia,


maksudnya melihat kembali data, apakah sudah sesuaidengan data yang
seharusnya dikumpulkan dan dipelajari. Selanjutnya mempelajari besaran

dan sebaran masalah gizi, membandingkan dengan ambang batas dan


atau target program gizi, setelah itu rumuskan masalah gizi dengan
menggunakan ukuran prevalensi dan atau cakupan.
Langkah Kedua : Analisis Masalah
Analisis masalah didasarkan pada penelaahan hasil identifikasi
dengan menganalisis

factor penyebab terjadinya masalahsebagaimana

yang disebutkan diatas, tujuannya

untuk dapatmemahami masalah

secara jelas dan spesifik serta terukur, sehingga mempermudah


penentuan alternatif masalah.
Langkah ini didasarkan pada analisis masalah di kecamatan
yangsecara langsung maupuntidak langsung yang berkaitan dengan
upaya peningkatan status gizi masyarakat. Langkah ketiga pengelolaan
program perbaikan gizi ini dimulai dengan penetapan tujuan yaitu upayaupaya penetapan kegiatan yang dapat mempercepat penanggulangan
masalah gizi yang ada. Dalam menyusun tujuan di kenal dengan istilah
SMART yang singkatan dari Spesific (khusus), Measurable (dapat diukur),
Achievable (dapat dicapai), Realistic (sesuai fakta real), Timebound (ada
waktu untuk mencapaianya).
Langkah Keempat : Melaksanakan program perbaikan gizi
Setelah kegiatan perbaikan gizi tersusun, kemudian dilakukan
langkah-langkah

yang terencana untuk setiap kegiatan. Jenis kegiatan

yang akan dilakukan meliputi

Advokasi, Sosialiasi,Capacity Buiding,

Pemberdayaan Masyarakat dan keluarga, Penyiapan sarana dan


prasarana, Penyuluhan Gizi dan Pelayanan Gizi di Puskesmas maupun di
Posyandu. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. ADVOKASI adalah proses mempengaruhi perilaku, opini dari pimpinan
atau seseorang melalui penyampaian informasi. Dalam Advokasi yang
perlu diperhatikan adalah penyajian besar dan luasnya masalah, siapa,
dimana, konsekwensi, bagaimana menanggulangi, sarana yang diperlukan
dan biaya yang diperlukan.

2. SOSIALISASI yaitu memasyarakatkan suatu informasi atau kegiatan


dengan tujuan guna

memperoleh pemahaman yang baik sehingga

dapat berperan aktif dalam menunjang

pelaksanaan kegiatan.

Program yang telah ditetapkan perlu disosialisasikan kepada stakeholder.


3. CAPACITY BUILDING yaitu Untuk mempersiapkan pelaksanaan
program perlupeningkatan kemampuan petugas yang antara lain dapat
dilakukan melalui mini lokakarya puskesmas, pelatihan teknis maupun
manajerial sesuai kebutuhan. Misalnya Pelatihan kader, Pelatihan
permberdayaan keluarga sadar gizi dan lain-lain.
4. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT dan PEMBERDAYAAN KELUARGA
yaitu kegiatan-kegiatan yang diarahkan pada pemecahan masalah gizi
berdasarkan potensi yangdimiliki oleh masyarakat dan keluarga
sendiri.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui revitalisasi
posyandu, sedangkan pemberdayaan keluarga dapat dilakukan melalui
revitalisasi UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga) dan Pemberdayaan
institusi.
5. PENYIAPAN SARANA DAN PRASARANA misalnya KMS (kartu
menujuh sehat), MateriKIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi), ATK (Alat
Tulis Kertas) dan lain-lain
Langkah Kelima : Pemantauan dan Evaluasi
Kegiatan Pemantauan yang baik selalu dimulai sejak langkah
awalperencanaan dibuat sampai dengan suatu kegiatan telah
selesaidilaksanakan, sedangkan evaluasi hanya melihat bagian-bagian
tertentu dari kegiatan yang dilaksanakan.
PEMANTAUAN adalah Pengawasan secara periodic terhadap
pelaksanaan kegiatan program perbaikan gizi dalam menentukan
besarnya INPUT yang diberikan, PROSES yang berjalan

maupun OUTPUT

yang dicapai.Tujuannya untuk menindak lanjuti kegiatan program selama


pelaksanaan kegiatan, dilakukan untuk menjamin bahwa PROSES
pelaksanaan sesuai Action Plan dan jadwal.

EVALUASI adalah Suatu proses untuk mengukur keterkaitan,


efektivitas, efisiensi dan dampak suatu program, dilakukan dengan
tujuan memperbaiki rancangan, menentukan suatu bentuk kegiatan yang
tepat, memperoleh masukan untuk digunakan dalam PROSES
perencanaan yang akan datang dan mengukur keberhasilan suatu
program.
3.3 Program Gizi
Kegiatan Pokok Program Gizi
1. Penyuluhan Gizi Masyarakat
2. Penanggulangan KEP &Gizi Buruk
3. Penanggulangan GAKY
4. Penanggulangan Anemia Gizi
5. Penanggulangan Kurang Vitamin A
6. Penanggulangan Kurang Gizi Mikro
7. Penanggulangan Gizi Lebih& Penyakit Degeneratif
8. ProgramGizi Institusi & Gizi Darurat
9. SistemKewaspadaan Pangan & Gizi
10. Pengembangan Tenaga Gizi
11. Penelitian & Pengembangan Gizi

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA

Balita Terpantau Pertumbuhannya


Balita yang Baik Pertumbuhannya
Balita yang Gagal Pertumbuhannya
Balita yang Mengalami PerbaikanPertumbuhannya
Balita yang Berat Badannya diBawah Garis Merah (BGM)
Pemberian Suplemen Gizi

PEMBERIAN SUPLEMEN GIZI


Balita yang Mendapatkan Kapsul Vitamin A
Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Tambah Darah
Ibu Nifas yang Mendapat Kapsul Vitamin A

Ibu Hamil yang Mendapat Kapsul Yodium


PELAYANAN GIZI
Balita KEP & BGM yang Mendapat PMT-MPASI
Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan
PENYULUHAN GIZI SEIMBANG
Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif
Desa Dengan Konsumsi Garam Beryodium yang Baik
SISTEM KEWASPADAAN GIZI
Penanganan Desa dengan KLB Gizi< 24 Jam
Desa Bebas Rawan Gizi

BAB III
Pelaksanaan Program dan Pengelolaan Masalah Gizi
Masyarakat di Puskesmas
Rekapan Pencapaian
Program Gizi
N
Kegiatan
o
1 Penimbangan
a. Bayi
> D/S
> N/D
> BGM/D
b. Balita
> D/S
> N/D
> BGM/D
Distribusi
2 Vitamin A

Sasar
an

924
739

3600
2880

Target

Pencapaian
ABS
%

61,5%
80%
<
14,9%

531
339

57,5
75,14

16

2,96

61,5%
80%
<
14,9%

2035
1322

56,6
65,31

52

2,6

5
6

a. Bulan Februari
> Bayi
> Anak Balita
b. Bulan Agustus
> Bayi
> Anak Balita
c. Ibu Nifas
Distribusi Tablet
Fe
a. Fe 1
b. Fe 3
c. Ibu Nifas
Kasus Gizi Buruk
a. Indeks BB/U
> Kurang
> Buruk
b. Indeks BB/TB
> Kurus
> Sangat Kurus
Konseling
Kadarzi
a. Kel. Indarung
Pojok Gizi (POZI)
A. Balita Gizi
Buruk
b. Diabetes
c. Hipertensi
d. Lain-lain
Jumlah
Bumil KEK

552
3600

91,2%
90%

480
3124

92,66
93,93

552
3600
970

91,2%
90%
80%

478
3062
821

92,27
91,53
90,52

915
865
777

90%
85%
80%

888
831
821

93,47
87,47
90,52

4524
4524

< 14%
2,9%

135
45

2,9
0,9

4524
4524

3,6%
1,3%

27
12

0,59
0,26

20 KK

70%

35

100%

142
105
24
7
278
43

4,52

1070

17,6%

Kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2010


1. Kegiatan Penimbangan
Kegiatan penimbangan dilakukan setiap bulan di posyandu
dan di puskesmas. Hasil penimbangan kemudian di rekap dalam
buku register penimbangan, sehingga jumlah balita yang ditimbang
baru dan lama, balita yang naik berat badannya, turun atau tetap
dapat diketahui dan dilaporkan dalam bentuk laporan SKDN. Jumlah
balita yang ditimbang tahun ini belum mencapai target.
Data D/S, N/D, BGM/D Balita Tahun 2010

80
70
60
50
40
30

% D/S

% N/D

% BGM/D

20
10
0

2. Kegiatan Penyuluhan
Penyuluhan gizi dilaksanakan minimal 1 kali dalam
seminggu.Penyuluhan dapat dilakukan di dalam dan luar gedung.Di
dalam gedung penyuluhan di berikan kepada masyarakat atau
pasien yang dating ke puskesmas sedangkan di luar gedung bias
dilaksanakan di posyandu atau di sekolah.
3. Distribusi Vitamin A
Distribusi kapsul vitamin A dilaksanakan 2 kali dalam setahun
yaitu bulan februari dan bulan agustus. Sasaran
distribusi/pemberian kapsul vitamin A adalah bayi umur 6-11 bulan
diberikan kapsul A biru (dosis 100.000 IU), anak balita umur 24-60
bulan diberikan kapsul A merah (dosis 200.000 IU). Selain bayi dan
anak balita, vitamin A juga diberikan pada ibu nifas dan anak yang
menderita gizi buruk, diare berat, campak dan cacar (kasus).
Distribusi Vitamin A Bulan Februari
2010
A. Bayi
N
Kelurahan
o
Bandar
1
Buat

Sasar
an

Pnecapai
an

Persenta
se

170

162

95,29

2
3
4
5
6
7

Padang
Besi
Indarung
Koto
Lalalng
Koto
Gadang
Baringin
Tarantang
Total

B. Balita
N
Kelurahan
o
Bandar
1
Buat
Padang
2
Besi
3 Indarung
Koto
4
Lalalng
Koto
5
Gadang
6 Baringin
7 Tarantang
Total

75

69

92,00

129

116

89,92

71

70

98,59

70

65

92,86

17
20
552

16
19
517

94,12
95,00
93,66

Sasar
an

Pencapai
an

Persenta
se

1115

807

72,38

489

423

86,50

846

754

89,13

474

418

88,19

457

420

1,90

103
116
3600

103
102
3027

100,00
87,93
84,04

Distribuasi Vitamin A Bulan Agustus


2010
A. Bayi
N
Kelurahan
o
Bandar
1
Buat
Padang
2
Besi
3 Indarung
Koto
4
Lalalng
Koto
5
Gadang
6 Baringin
7 Tarantang
Total
B. Balita

Sasar
an

Pencapai
an

Persenta
se

170

168

98,82

75

71

94,67

129

123

95,35

71

70

98,59

70

66

94,29

17
20
552

16
19
533

94,12
95,00
96,56

N
o
1
2
3
4
5
6
7

Kelurahan
Bandar
Buat
Padang
Besi
Indarung
Koto
Lalalng
Koto
Gadang
Baringin
Tarantang
Total

Sasar
an

Pencapai
an

Persenta
se

1115

987

88,52

489

453

92,64

846

772

91,25

474

456

96,20

457

431

94,31

103
116
3600

103
102
3304

100,00
87,93
91,78

4. Distribusi Tablet FE
Sasaran pemberian tablet F e adalah ibu hamil dan ibu nifas.
Pda hamil pemberian tablet Fe yang dihitung adalah Fe 1 dan Fe 3.
Fe 1 diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil dan Fe 3 diberikan
pada kehamilan trimester III, sementara remaja putri diberikan
selama 16 kali. Pemberian tablet Fe ini diberikan pada ibu hamil
yang dating ke puskesmas, pustu, posyandu atau bidan praktek
swasta dan juga pada muid SMA.
Grafik FE 1, FE 3 FE Bufas dan Vit. A Bufas Tahun 2010
400
350
300
250

Vit. A Bufas
FE Bufas

200

FE3
150

FE1

100
50
0
Jan

Feb Mar Apr Mai

Jun

Jul

5. Kegiatan Pojok Gizi (POZI)

Agt Sept Okt Nov Des

Kegiatan pojok gizi adalah berupa konsultasi secara


perorangan dengan ahli gizi yang dilakukan di puskesmas.Pasien
yang dating bisa berasal dari rujukan BP, KIA dan dari
posyandu.Pasien yang dating biasanya penderita penyakit diabetes
mellitus, hipertensi, ibu hamil anemia, KEK (kurang energi kronik)
pada ibu hamil, balita gizi buruk, kurang dan lain-lain.
Grafik Kunjungan POZI Tahun 2010
300
250
200
150
100
50
0
Gizi Buruk

Diabetes

Hipertensi

Dll

Total

6. Pemberian PMT Pemulihan


PMT pemulihan adalah pemberian bantuan berupa makanan
selama 3 bulan yang diberikan pada balita gizi buruk dengan indeks
BB/TB adalah kurus dan sangat kurus. Pada tahun 2010 pemberian
PMT pemulihan berupa susu. Susu diberikan kepada anak yang
menderita gizi buruk sebanyak 16 kotak selama 3 bulan.Jumlah
anak gizi buruk yang mendapat PMT pemulihan sebanyak 23 anak.
7. Distribusi MP-ASI
MP-ASI yang diberikan adalah bubur susu untuk bayi 6-11
bulan dan biskuit untuk balita umur 12-24 bulan yang berasal dari
keluarga miskin. Jumlah sasaran yang diberikan bubur susu
sebanyak 546.

Distribusi MP-ASI

Tahun 2010

N
o

Kelurahan

Bandar
1 Buat
Padang
2 Besi
3 Indarung
Koto
4 Lalang
Batu
5 Gadang
6 Baringin
7 Tarantang
Total

MP-ASI Biskuit (1224 Bulan)


Sasar Distrib
an
usi
(%)

MP-ASI Bubur Susu (611 Bulan)


Sasa Distrib
ran
usi
(%)

140

140

100

12

12

100

70
126

70
126

100
100

8
11

8
11

100
100

84

84

100

100

70
28
28

70
28
28

100
100
100

9
6
6

9
6
6

100
100
100

546

546

100

61

61

100

8. Pemantauan Balita Gizi Buruk


Pemantauan balita gizi buruk dilakukan minimal satu kali
dalam satu bulan.Perekembangan berat badan status gizi balita di
catat dan dilaporkan setiap bulannya.Pemantauan ini dilakukan
sampai balita tersebut keluar dari status gizi buruknya. Balita gizi
buruk dari kelurga miskin mendapat bantuan berupa PMT-pemulihan
yang diberikan selama 3 bulan
Grafik Balita Gizi Buruk Tahun 2010

1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
Kurang

Buruk

Kurus

S. Kurus

9. Kegiatan TBABS
TBABS adalah kegiatan penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi berat anak baru masuk sekolah.Sasaran kegiatan
ini adalah murid kelas satu SD (sekolah dasar). Kegiatan ini bekerja
sama dengan program UKS. Pelaksanaan TBABS dilakukan pada 23
sekolah dasar.
10.

Kegiatan Kadarzi
Kegiatan kadarzi tahun 2010 dilaksanakan di 7 kelurahan

dengan hasil 70% keluarga yang sudah kadarzi, ini berarti taget
kadarzi yang tidak tercapai yaitu 30% dengan mempergunakan alat
kuesioner sebanyak 300 kuesioner untuk 1 kecamatan.
11.

Kegiatan Penimbangan Massal


Sasaran penimbangan missal adalh semua balita (0-60 bulan)

di wilayah kerja puskesmas lubuk kilangan dengan target 100%.


Kegiatan ini berupa penimbangan berat badan dan pengukuran
tinggi badan.Pelasanaan kegiatan ini dilakukan pada bulan januari.
Hasil penimbangan balita yang dilakukan oleh petugas akan
divalidasi oleh petugas gizi. Data penimbangan missal dikumpulkan
dan diolah oleh pertugas gizi dan pembina wilayah untuk ditentukan
status gizinya dengan indeks BB/U, BB/TB, dan BB/U.

12.

Kegiatan Pemeriksaan Garam Beryodium


Pemeriksaan garam beryodium dilakukan 1 kali dalam setahun

yang dilaksanakan di 41 posyandu yaitu bulan juni


2010.Pemeriksaan garam dilakukan pada 32 rumah tangga dengan
memeriksa garam yang digunakan di rumah.Kegiatan ini bertujuan
untuk mengetahui apakah garam yang dikonsumsi di rumah
beryodium atau tidak.Pemeriksaan garam dilakukan di 7 kelurahan.
13.

Kegiatan Pemantauan Status Gizi


Kegiatan pemantauan status gizi berupa kegiatan

penimbangan dan pengukuran tinggi badan.Sasaran kegiatan ini


adalah balita umur 0-5 tahun.Jumlah sampel kegiatan ini adalah
dilaksanakan sekaligus dengan penyebaran kuesioner kadarzi di 7
kelurahan sebanyak 300 kuesioner.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Beberapa masalah gizi yang masih ada dikarenakan belum memcapai
target antara lain :

Belum
Belum
Belum
Belum

tercapainya D/S bayi dan balita sesuai target


tercapainya N/D bayi dan balita sesuai target
tercapainya program kadarzi sesuai target
ditetapkannya target untuk pelaksanaan program pojok gizi

sehingga belum bisa melihat persentase pencapaiannya


5.2 Saran

Perlunya upaya maksimal dari pihak puskesmas maupun kader


utntuk bisa memotivasi ibu-ibu agar mau membawa bayi dan

balitanya ke posyandu
Memaksimalkan peran serta kader dan Pembina wilayah setempat
untuk mempromosikan program kadarzi bagi setiap rumah tangga
di kelurahan masing-masing

Perlunya penetapan target untuk setiap program agar bisa


dilakukan evaluasi peningkatan mutu untuk pelaksanaan program
tersebut selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Notoadmojo, Soekidjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ribeka
Cipta, Jakarta
2. Laporan Tahunan Program Gizi Puskesmas Lubuk Kilangan Tahun
2010
3. Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan 2010
4. Pedoman Pengelolaan Gizi di Puskesmas, di unduh tanggal 15
0ktober 2011
5. Pengelolaan Program Gizi di Puskesmas, di unduh tanggal 15
Oktober 2011
6. Kebijakan Dasar Puskesmas (Kepmenkes No.128 Tahun 2004), di
unduh tanggal 15 Oktober 2011
7. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan
Perbaikan Gizi Masyarakat, di unduh tanggal 15 Oktober 2011

Rekapan Pencapaian
Program Gizi
N
Kegiatan
o
1 Penimbangan
a. Bayi
> D/S
> N/D
> BGM/D
b. Balita
> D/S
> N/D
> BGM/D
Distribusi
2 Vitamin A
a. Bulan Februari
> Bayi

Sasa
ran

924
739

3600
2880

552

Target

Pencapaian
ABS
%

61,5%
80%
<
14,9%

531
339

57,5
75,14

16

2,96

61,5%
80%
<
14,9%

2035
1322

56,6
65,31

52

2,6

91,2%

480

92,66

5
6

> Anak Balita


b. Bulan Agustus
> Bayi
> Anak Balita
c. Ibu Nifas
Distribusi Tablet
Fe
a. Fe 1
b. Fe 3
c. Ibu Nifas
Kasus Gizi Buruk
a. Indeks BB/U
> Kurang
> Buruk
b. Indeks BB/TB
> Kurus
> Sangat Kurus
Konseling
Kadarzi
a. Kel. Indarung
Pojok Gizi (POZI)
A. Balita Gizi
Buruk
b. Diabetes
c. Hipertensi
d. Lain-lain
Jumlah
Bumil KEK

3600

90%

3124

93,93

552
3600
970

91,2%
90%
80%

478
3062
821

92,27
91,53
90,52

915
865
777

90%
85%
80%

888
831
821

93,47
87,47
90,52

4524
4524

< 14%
2,9%

135
45

2,9
0,9

4524
4524

3,6%
1,3%

27
12

0,59
0,26

20 KK

70%

35

100%

142
105
24
7
278
43

4,52

1070

17,6%

GAKY
Pertumbuhan dan perkembangan anak sudah dimulai sejak dalam
kandungan. Untuk keperluan tumbuh kembang itu dibutuhkan sejumalh
zat gizi, yaitu zat gizi makro seperti zat hidrat arang, protein, lemak dan
sejumlah mineral. Disamping itu tidak kalah pentingnya adalah zat gizi,
seperti mineral yodium, selenium, tembaga, zink, vitamin A, dan sejumlah
vitamin lainnya.
Yodium adalah salah satu mikromineral yang amat penting dan
dibutuhkan sejak dalam kandungan, sehingga kekurangan yodium akan
berakibat gangguan pertumbuhan dan kecerdasan anak, bahkan dapat
menyebabkan abortus, prematur, lahir mati, kretinisme, dan lain-lain.
Rendahnya Asupan sebagai akibat dari rendahnya yodium pada air
dan tanah mengakibatkan terjadinya pembesaran kelenjer gondok,
sehingga terjadi daerah endemik gondok di berbagai daerah di tanah air.
Program Penanggulangan GAKY di Indonesia
Untuk menanggulangi gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) di
Indonesia, sejak tahun 1976 secara nasional telah dilaksanakan berbagai

upaya seperti penyuntikan yodium dalam minyak (suntikan lipiodol),


forfikasi garam konsumsi dengan yodium, pendistribusian kapsul yodium
dalam minyak.
Mulai tahun 1990an diperkenalkan pemberian kapsul minyak beryodium
sekali setahun untuk kelompok rawan di daerah endemik berat dan
sedang, disamping itu dilakukan pula penyempurnaan monitoring dan
evaluasi yodisasi garam.
Prevalensi GAKY di ukur berdasarkan perhitungan pembesaran kelenjer
gondok :
1. Total goiter rate (TGR) adalah semua kasus dengan pembesaran
kelenjer gondok (grade 1 +2), dibagi dengan seluruh anak yang diperiksa
2. Visible goiter rate (VGR), adalah semua kasus dengan grade 2 dibagi
semua anak yang diperiksa.
Klasifikasi Endemisitas GAKY menurut % TGR
TGR
<5%
5-19,9 %
20-30 %
>30 %

Endemicity
Non Endemik
Endemik Ringan
Endemik Sedang
Endemik Berat

1. Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Yodium


TGR menurut kecamatan di kota Padang-Survey Pemetaan GAKY
tahun 2009
Kecamatan
Padang Barat
Nanggalo
Bungus Teluk
Kabung
Padang Utara
Koto Tangah
Padang Selatan
Kuranji
Padang Timur
Pauh
Lubuk Kilangan

Total Goiter
Rate
2006
2009
25.5
17.3
21.4
12.5
44.5
19.2
40.0
27.9
32.1
19.6
20.1
14.8

13.6
30.1
14.2
26.4
37.5
16.7
26.9
29.9

Lubuk Begalung
KOTA PADANG

25.2
26.4

23.8
21.4

2. Status Garam Konsumsi Masyarakat


Pemakaian Garam yang Mengandung Yodium dengan Yodina Test
Menurut Kecamatan di Kota Padang
Kecamatan
Padang Barat
Nanggalo
Bungus Teluk
Kabung
Padang Utara
Koto Tangah
Padang Selatan
Kuranji
Padang Timur
Pauh
Lubuk Kilangan
Lubuk Begalung
KOTA PADANG

Garam + Mengandung
Yodium (%)
92.2
84.3
90.3
84.0
87.7
91.9
93.8
96.5
94.5
87.1
90.9
81.9