Anda di halaman 1dari 37

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Sistem Plambing


Menurut Babbit (1960), plambing adalah sistem perpipaan beserta
peralatannya, perlengkapan, dan asesorisnya yang dipasang di dalam gedung,
bangunan atau halaman, yang membawa air atau cairan lainnya yang berasal dari
sumber menuju ke titik tertentu di dalam gedung. Plambing juga berhubungan
dengan jenis material yang digunakan, perawatan yang dilakukan, dan
pengendalian terhadap air buangan yang berlimpah, sampai penyaluran air
buangan menuju ke tempat pembuangan akhir terdekat.
Menurut Alfred Steele (1984), plambing adalah sistem perpipaan yang
mencakup sistem distribusi penyedian air bersih dan peralatannya, perangkap,
limbah, dan pipa ven, saluran pembuangan rumah, sistem air hujan beserta
peralatannya serta hubungan antara struktur dan bangunannya.
Fungsi dari peralatan plambing adalah, untuk menyediakan air bersih ke
tempat tempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup, dan membuang
air kotor dari tempat tertentu tanpa mencemarkan bagian penting lainnya.
Dalam sistem plambing memerlukan peralatan yang mendukung agar
terbentuk sistem plambing yang baik. Jenis peralatan plambing dalam artian
khusus meliputi :
a. Peralatan untuk penyediaan air bersih / air minum.
b. Peralatan untuk penyediaan air panas.
c. Peralatan untuk pembuangan dan ventilasi.
d. Peralatan Plambing
Dalam artian yang lebih luas, selain peralatan-peralatan tersebut diatas,
istilah Peralatan plambing seringkali digunakan untuk mencakup :
a. Peralatan pemadaman kebakaran.

15

16

b. Peralatan pengolahan air kotor ( tangki septik).


c. Peralatan penyediaan gas.
d. Peralatan dapur.
e. Peralatan untuk mencuci (laundry).
f. Peralatan pengolahan sampah.
g. Berbagai instalasi pipa lainnya.

3.2 Peralatan Saniter (Sanitary Fixtures)


Peralatan saniter seperti kloset, peturasan, dan bak cuci tangan umumnya
dibuat dari bahan porselen atau keramik. Bahan ini sangat populer karena biaya
dalam hal pembuatanya cukup murah, dan ditinjau dari segi sanitasi sangat baik.
Jenis peralatan saniter antara lain :
1. Kloset
Dibagi dalam beberapa golongan menurut kontruksinya, antara lain :
a. Type Wash-Out
Tipe ini adalah yang paling tua dari jenis kloset duduk. Tipe ini sekarang
dilarang di Indonesia karena kontruksinya berdampak pada timbulnya bau
yang tidak sedap akibat penggelontoran yang tidak sempurna.
b. TypeWash-Down
Tipe ini lebih baik daripada wash-out , bau yang timbul akibat sisa kotoran
lebih sedikit jika dibandingkan dengan tipe wash-out.
c. Type Siphon
Tipe ini mempunyai kontruksi jalannya air buangan yang lebih rumit
dibandingkan dengan tipe wash-down, untuk sedikit menunda aliran air
buangan tersebut sehingga timbul efek siphon. Bau yang dihasilkan lebih
berkurang lagi pada tipe ini.
d. Type Siphon-jet
Tipe ini dibuat agar menimbulkan efek siphon yang lebih kuat,dengan
memancarkan air dalam sekat melalui suatu lubang kecil searah aliran air
buangan. Tipe siphon-jet ini menggunakan air penggelontor lebih banyak.

17

e. Type Blow-Out
Tipe ini sebenarnya dirancang untuk menggelontor air kotor dengan cepat,
tapi akibatnya membutuhkan air dengan tekanan sampai 1kg/cm2, dan
menimbulkan suara berbisik.
2. Peturasan
Ditinjau dari kontruksinya, peturasan dapat dibagi seperti kloset, dimana
yang paling banyak digunakan adalah tipe wash-down. Untuk tempat-tempat
umum, sering dipasang peturasan berbentuk mirip talang terbuat dari porselen,
plastik, atau baja tahan karat, dan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Dalamnya talang 15 cm atau lebih.
b. Pipa pembuangan ukuran 40 mm atau lebih dan dilengkapi dengansaringan.
c. Pipa penggelontor harus diberi lubang-lubang untuk menyirambidang
belakang talang dengan lapisan air.
d. Laju aliran air penggelontor dapat ditentukan dengan menganggapsetiap
45 cm panjang talang ekivalen dengan satu peturasan biasa.
3. Bak Cuci Piring (Sink)
Bak cuci dapur (sink) memiliki fungsi untuk mencuci peralatan yang
mengandung lemak. Bak cuci dapur dibuat dari bermacam macam bahan,
seperti stailess, fiber, da nada yang terbuat dari susunan batu yang di plester bahan
kedap air atau dilapisi porselen.
4. Fitting Saniter
Beberapa jenis fitting saniter antara lain :
a. Kran air, ada beberapa macam yaitu :
1. Kran air yang dapat dibuka dan ditutup dengan mudah.
2. Kran air yang dapat dibuka tetapi akan menutup sendiri,misalnya
untuk cuci tangan.
3. Kran air yang laju alirannya diatur oleh ketinggian muka air,yaitu kran
atau katup pelampung.
b. Katup gelontor dan tangki gelontor
1. Katup

gelontor

berfungsi

untuk kloset dan peturasan.

mengatur

aliran

air

penggelontor,

18

2. Tangki gelontor, dibuat dari plastik, ada yang otomatis dan ada juga
yang harus dijalankan oleh orang.

3.3 Jenis Pipa


Dalam perencanaan plambing, perlengkapan utama yang dibutuhkan
adalah pipa. Jenis-jenis pipa yang biasa digunakan dalam sistem plumbing, secara
garis besar ada dua kelompok, yaitu :
1. Pipa logam
Pipa logam sangat kuat,tebal dan tahan terhadap panas. Namun jenis pipa ini
mempunyai kelemahan yaitu dapat berkarat sehingga air menjadi kotor dan bau.
Jenis pipa logam antara lain yaitu :
a. pipa besi (cast iron)
Pipa besi biasa digunakan untuk menyalurkan air buangan. Pipa jenis ini tahan
terhadap korosi.
b. pipa galvanis
Pipa galvanis umumnya digunakan sebagai penyalur air dingin atau bagian
dari suatu tower air yang menjadi penghubung dari mesin air ke tendon di atas
tower.
c. Pipa tembaga.
Pipa tembaga umumnya digunakan sebagai penyalur air panas pada suatu
gedung. Pipa ini dipilih untuk menyalurkan air panas karena sifat
konduktornya yang sangat baik dan tahan terhadap korosi.
2. Pipa plastik
Pipa plastik terdidi dari pipa PVC (Polyvinyl Chloride), pipa PE (Polyethylene),
dan pipa PP (Polyprophylene).
a. Pipa PVC (Polyvinyl Chloride)
Biasanya digunakan sebagai sarana utama instalasi air dalam gedung. Pipa
PVC

bersifat

ringan,

berkekuatan

tinggi,

dan

reaktivitas

rendah,

menjadikannya cocok untuk berbagai keperluan. Pipa PVC dibagi dalam 4


kelas yaitu :

19

Kelas AW (VP) dengan tekanan kerja 10 kg/cm2.

Kelas AZ dengan tekanan kerja 8 kg/cm2.

Kelas D (VU) dengan tekanan kerja 5 kg/cm2.

Kelas C untuk saluran kabel listrik.

b. Pipa PE (Polyethylene)
c. Pipa PP (Polyprophylene)

3.4 Sistem Peyediaan Air Bersih


Menurut Morimura dan Noerbambang (1985), sistem penyediaan air
bersih yang saat ini banyak digunakan dapat dikelompokan menjadi :
1. Sistem Sambungan Langsung
Dalam sistem ini pipa distribusi dalam gedung disambung langsung
dengan pipa utama penyediaan air bersih (misalnya pipa utama di bawah jalan
dari Perusahaan Air Minum). Karena terbatasnya tekanan dalam pipa utama
dan dibatasinya ukuran pipa cabang dari pipa utama tersebut, maka sistem ini
terutama dapat diterapkan untuk perumahan dan gedung gedung kecil dan
rendah. Ukuran pipa cabang biasanya diatur atau ditetapkan oleh Perusahaan
Air Minum.
2. Sistem Tangki Atap
Apabila sistem sambungan langsung karena berbagai alasan tidak dapat
diterapkan, sebagai gantinya banyak yang menggunakan sistem tangki atap.
Dalam sistem ini, air ditampung lebih dahulu di dalam tangki bawah (dipasang
pada lantai terendah bangunan atau dibawah muka tanah), kemudian
dipompakan ke suatu tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau
lantai tertinggi bangunan. Dari tangki ini air didistribusikan ke suluruh
bangunan.

20

Sistem tangki atap ini diterapkan karena alasan alasan berikut :


1) Selama airnya digunakan, perubahan tekanan yang terjadi pada alat
plambing hampir tidak berarti. Perubahan tekanan ini hanyalah akibat
perubahan muka air dalam tangi atap.
2) Sistem pompa yang menaikan air ke tangki atap bekerja secara
otomatis dengan cara yang sangat sederhana sehingga kecil sekali
kemungkinan timbulnya kesulitan. Pompa biasanya dijalankan dan
dmatikan oleh alat yang mendeteksi muka dalam tangki atap.
3) Perawatan tangi atap sangat sederhana dibandingkan dengan sistem
lain, misalnya tagki tekan.
3. Sistem Tangki Tekan
Sistem tangki tekan diterapkan dalam keadaan dimana oleh karena suatu
alasan tidak dapat digunakan sistem sambungan langsung. Prinsip kerja sistem
ini adalah air yang telah ditampung dalam tangki bawah (seperti sistem tangki
atap), dipompakan ke dalam suatu bejana (tangki) tertutup sehingga udara
didalamnya terkompresi. Air dari tangki tersebut dialirkan ke dalam sistem
distribusi bangunan. Pompa bekerja secara otomatis yang diatur oleh suatu
detector tekanan, yang menutup atau membuka saklar motor listrik penggerak
pompa. Pompa berhenti bekerja kalau tekanan tangki telah mencapai suatu
batas minimum yang ditetapkan.
Kelebihan dari sistem tangki tekan anatar lain :
1) Lebih menguntungkan dari segi estetika karenatidak terlalu menyolok
dibandingkan dengan tangki atap.
2) Mudah perawatannya karena dapat dipasang dalam ruang mesin
bersama pompa lainnya.
3) Harga awal lebih rendah dibandingkan dengan tangki yang harus
dipasang di atas menara.

21

Sedangkan kekurangan dari sistem tangki tekan antara lain :


1) Daerah

fluktuasi

tekanan

sebesar

1,0

kg/cm2

sangat

besar

dibandingkan dengan sistem tangki atap yang hampir tidak ada


fluktuasi tekanannya. Fluktuasi yang besar ini dapat menimbulkan
fluktuasi aliran air yang cukup berarti pada alat plambing, dan pada
alat pemanas gas dapat dihasilkan air dengan temperature yang
berubah.
2) Dengan berkurangnya udara dalam tangki tekan, maka setiap beberapa
hari sekali hars ditambahkan udara kempa dengan kompresor atau
dengan menguras seluruh air dalam tangki .
3) Sistem tangki tekandapat dianggap sebagai suatu sistem pengaturan
otomatik pompa penyediaan air saja dan bukan sebagai sistem
penyimpanan air seperti tangki atap.
4) Karena jumlah air yang efektif tersimpan dalam tangki tekan relative
sedikit, maka pmpa akan sering bekerja dan hal ini akan menyebabkan
keausan pada saklar lebih cepat.
4. Sistem Tanpa Tangki
Dalam sistem ini tidak menggunakan tangki apapun, baik tangki bawah,
tangki tekan atau tangki atap. Air dipompakan langsung ke sistem distribusi
bangunan dan pompa menghisap air langsung dari pipa utama (misalnya pipa
utama Perusahaan Air Minum). Sistem ini sebenarnya dilarang di Indonesia,
baik oleh Perusahaan Air Minum maupun pipa pipa utama dalam
pemukiman khusus (untuk umum).

3.4.1 Persyaratan Penyediaan Air Bersih


Dalam penyediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, ada
beberapa syarat yang harus diperhatikan agar air bersih dapat disalurkan dengan
baik dan berkesinambungan. Syarat-syarat tersebut antara lain:

22

a. Persyaratan Kualitas
Air bersih yang masuk kedalam bangunan atau masuk ke dalam sistem
plambing air bersih harus memenuhi syarat kualitas air bersih, yaitu syarat
fisik, kimiawi, dan bakteriologi, yang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 907/MENKES/SK/VII /2002.
b. Persyaratan Kuantitas
Air bersih yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem
plambing air bersih harus memenuhi syarat kuantitas air bersih yaitu
kapasitas air bersih harus mencukupi berbagai kebutuhan air bersih
bangunan gedung tersebut. Untuk menghitung besarnya kebutuhan air
bersih dalam bangunan gedung didasarkan pada pendekatan sebagai
berikut :
a. Jumlah penghuni gedung, baik yang permanen maupun vang tidak
permanen,
b. Unit beban alat plambing,
c. Luas lantai bangunan.
c. Persyaratan Kontinuitas
Persyaratan kontinuitas untuk penyediaan air bersih erat hubungannya
dengan kuantitas air yang tersedia, yaitu air baku. Arti kontinuitas disini
adalah bahwa air baku untuk air bersih yang digunakan dapat diambil terus
menerus dengan fluktuasi debit yang relatife tetap, baik pada saat musim
kemarau maupun musim hujan.

3.4.2 Tekanan Air dan Kecepatan Aliran


Tekanan air yang kurang mencukupi akan menimbulkan kesulitan dalam
pemakaian air. Tekanan yang berlebihan dapat menimbulkan rasa sakit terkena
pancaran air serta mempercepar kerusakan peralatan plambing, dan menambah
kemungkinan timbulnya pukulan air.

23

Secara umum dapat dikatakan besarnya tekanan standar adalah 1,0 kg/cm2,
sedang tekanan static sebaiknya diusahakan antara 4,0 5,0 kg/cm2 untuk
perkantoran dan antara 2,5 3,5 kg/cm2 untuk hotel dan perkantoran. Disamping
itu, beberapa macam peralatan plambing tidak dapat berfungsi dengan baik kalau
tekanan airnya kurang dari suatu batas minimum. Besarnya tekanan minimum ini
dicantumkan pada tabel dibawah.
Tabel 3.1 Tekanan yang dibutuhkan alat plambing
No

Nama Alat Plambing

1
2
3
4

Katup gelontor kloset


Katup gelontor peturasan
Kran yang menutup otomatik
Pancuran mandi, dengan panacaran
air halus
Pancuran mandi biasa
Kran biasa

5
6

Tekanan yang
diperlukan
(Kg/cm2)
0.7
0.4
0.7
0.7
0.35
0.3

(Sumber : SNI 03 7065 - 2005)

Kecepatan aliran air yang terlampau tinggi akan dapat menambah


kemungkinan terjadinya pukulan air, dan menimbulkan suara berisik dan kadang
menyebabkan ausnya permukaan air dalam pipa. Biasanya digunakan standar
kecepatan sebesar 0,9 1,2 m/detik, dan batas maksimumnya berkisar antara 1,5
2,0 m/detik. Batas kecepatan 2,0 m/detik sebaiknya diterapkan dalam penentuan
pendahuluan ukuran pipa. Dilain pihak, kecepatan yang terlampau rendah ternyata
dapat menimbulkan efek kurang baik dari segi korosi, pengendapan kotoran
ataupun kualitas air.

3.4.3 Penaksiran Laju Aliran Air (water flow rate)


Ada beberapa metode yang digunakan untuk menaksir besarnya laju aliran
air, diantaranya :

24

1) Berdasarkan jumlah pemakai (penghuni)


Metode ini didasarkan pada pemakaian air rata rata sehari dari setiap
penghuni, dan perkiraan jumlah penghuni. Dengan demikian jumlah pemakaian
air sehari dapat diperkirakan, walaupun jenis atau jumlah alat plambing belum
ditentukan. Metode ini praktis untuk tahap perencanaan atau prarancangan.
Angka pemakaian air yang diperoleh dengan metode ini biasanya digunakan
untuk menetapkan volume tangki bawah, tangki atap, dan pompa. Sedangkan
ukuran pipa yang diperoleh dengan metode ini hanya pipa penyediaan air (pipa
dinas) dan bukan untuk menentukan ukuran pipa dalam seluruh jaringan.
Tabel 3.2 Pemakaian air rata rata per orang setiap hari
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Penggunaan gedung
Rumah tinggal
Rumah susun
Asrama
Rumah sakit
Sekolah dasar
SLTP
SMU/SMK dan lebih tinggi
Ruko atau rukan
Kantor atau pabrik
Toserba, toko pengecer
Restoran
Hotel berbintang
Hotel melati atau penginapan
Gedung pertunjukan, bioskop
Gedung serba guna
Stasiun, terminal
Tempat peribadatan

Pemakaian air
120
100
120
500
40
50
80
100
50
5
15
250
150
10
25
3
5

Satuan
liter/penghuni/hari
liter/penghuni/hari
liter/penghuni/hari
liter/tempat tidur pasie/hari
liter/siswa/hari
liter/siswa/hari
liter/siswa/hari
Liter/penghuni dan pegawai/hari
liter/pegawai/hari
liter/m2
liter/kursi
liter/tempat tidur/hari
liter/tempat tidur/hari
liter/kursi
liter/kursi
liter/penumpang tiba dan pergi
liter/orang (belum dengan air wudhu)

(Sumber : SNI 03 7065 - 2005)

2) Berdasarkan jenis dan jumlah alat plambing


Metode ini digunakan apabila kondisi pemakaian alat plambing dapat
diketahui, missal untuk perumahan atau gedung kecil. Juga harus diketahui jumlah
dari setiap jenis alat plambing dalam gedung tersebut.

25

3) Berdasarkan unit beban alat plambing


Dalam metode ini untuk setiap alat plambing ditetapkan suatu unit beban
(fixture unit).Metoda inilah yang dipilih untuk perhitungan penaksiran debit.
(Soufyan dan Morimura, 1988 : 64).
Untuk perhitungannya maka digunakan gambar gambar serta tabel tabel
sebagai berikut :
Tabel 3.3 menunjukkan besarnya unit beban alat plambing dan Tabel 3.4
menunjukkan pemakaian air tiap alat plambing, laju aliran serta ukuran pipa
cabang pipa air.
Gambar 3.1 menunjukkan kurva yang memberikan hubungan antara jumlah unit
beban alat plambing dengan laju aliran air, Gambar 3.2 menunjukkan nomogram
kerugian gesek dalam pipa PVC kaku.
Tabel 3.3 Unit beban alat plambing
No

Jenis Alat Plambing

1
2
3
4

Bak mandi
Bedpan washer
Bidet
Gabungan bak cuci dan dulang cuci
pakaian
Unit dental atau peludahan
Bak cuci tangan untuk dokter gigi
Pancaran air minum
Bak cuci tangan
Bak cuci dapur
Bak cuci pakaian (1 atau 2
kompartemen)
Dus, setiap kepala
Service sink
Peturasan pedestal berkaki
Peturasan, wall lip
Peturasan,palung
Peturasan dengan tangki penggelontor
Bak cuci bulat atau jamak
Kloset dengan katup gelontor
Kloset dengan tangki gelontor

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

(Sumber : SNI 03-7065-2005)

UBAP
Pribadi
2
23

UBAP
Umum
4
10
4
-

1
1
1
2
2

1
1
2
2
2
4

2
2
6
3

4
4
10
5
5
3
2
10
5

26

Tabel 3.4 Pemakaian air tiap alat plambing, laju airan airnya, dan ukuran pipa cabang pipa air
Nama alat plambing

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Kloset
(dengan katup gelontor)
Kloset
(dengan tangki gelontor)
Peturasan
(dengan katup gelontor)
Peturasan, 2-4 orang
(dengan tangki gelontor)
Peturasan, 5-7 orang
(dengan tangki gelontor)
Bak cuci tangan kecil
Bak cuci tangan biasa
(lavatory)
Bak cuci dapur (sink)
dengan keran 13 mm
Bak cuci dapur (sink)
dengan keran 20 mm
Bak mandi rendam
(bath tub)
Pancuran mandi
(shower)
Bak mandi gaya Jepang

Pemakaian air
untuk penggunaan
satu kali (liter)
13,5-16,5')

Penggunaan
per jam
6-12

13-15

(liter/min)
110-180

Waktu untuk
Pengisian
(detik)
8,2-10

Pipa sambungan
alat plambing
(mm)
24

6-12

15

60

13

20

13

12-20

30

10

13

203)

13

9-18
(@4,5)
22,5-31,5
(@ 4,5)
3
10

12

1,8-3,6

300

13

20

13

12

4,5-6,3

300

13

20

13

12-20
6-12

10
15

18
40

13
13

20
20

13
13

15

6-12

15

60

13

20

13

25

6-12

25

60

20

20

20

125

30

250

20

20

20

24-60

12

120-300

13-20

20

13-20

20

20

20

Tergantung
tikurannya

Laju aliran

30

Pipa cabang air bersih


ke alat plambing (mm)
Pipa baja
Tembaga
2
32
25

(Sumber : Soufyan,Mourimura : 49)


Catatan:
1) Standar pemakaian air untuk kloset dengan katup gelontor untuk satu kali penggunaan adalah 15 liter selama 10 detik.
2) Pipa sambungan ke katup gelontor untuk kloset biasanya adalah 25 mm, tetapi untuk mengurangi kerugian akibat gesekan dianjurkan memasang pipa
ukuran 32 mm.
3) Pipa sambungan ke katup gelontor untuk peturasan biasanya adalah 13 mm, tetapi untuk mengurangi kerugian akibat gesekan dianjurkan memasang pipa
ukuran 20 mm.
4) Karena pipa tembaga kurang cenderung berkerak dibandingkan dengan pipa baja, maka ukurannya bisa lebih kecil. Pipa PVC bisa juga dipasang dengan
ukuran yang sama dengan pipa tembaga.

27

a) Kurva Unit Alat Plambing sampai beban 3000

b) Kurva Unit Alat Plambing sampai beban 240


Gambar 3.1 Hubungan antara unit beban alat plambing dengan laju aliran
Kurva (1) untuk sistem yang sebagian besar dengan katup
gelontor
Kurva (2) untuk sistem yang sebagian dengan tangki gelontor

28

Gambar 3.2 Nomogran Hazen & Willianm

29

3.4.4 Rumus Memperkirakan Laju Aliran Air


Sebagai akibat adanya gesekan air terhadap dinding pipa, maka timbul
tekanan terhadap aliran, yang biasanya disebut kerugian gesek. Kerugian gesek ini
dinyatakan dengan rumus Darcy Weisbach sebagai berikut :
h = () (l/d) (v2/2g)
dimana : h : Kerugian gesek pipa lurus (m)
: Koefesien gesekan
l : Panjang pipa lurus (m)
d : Diameter (m)
v : Kecepatan (m/detik)
g : Percepatan gravitasi (m/detik2)
Kerugian gesek untuk setiap satuan panjang pipa (h/l) disebut gradient
hidrolik, dinyatakan dengan i, dan jika laju aliran dinyatakan dengan Q, maka
diperoleh hubungan berikut ini yang dikenal dengan rumus Hazen Williams :
Q = (1,67) (c) (d2,63) (i0,54)
dimana :

Q : Laju aliran air (m/detik3)


c

: Koefisien kecepatan aliran

: Diameter pipa (m)

: Gradien hidrolik

30

Tabel 3.5 Faktor kecepatan untuk berbagai jenis pipa


C
140

130

110

Jenis Pipa
Pipa baru: kuningan, tembaga, timah hitam, besi tuang, baja (dilas atau ditarik),
baja atau besi dilapis semen.
Pipa asbes-semen (selalu "licin" dan sangat lurus)
Pipa baja baru (lurus tanpa perlengkapan, dilas atau ditarik), pipa besi tuang baru
(biasanya angka ini yang dipakai), pipa tua: kuning, tembaga, timah hitam
Pipa PVC-keras
Pipa dengan lapisan semen yang sudah tua, pipa keramik yang masih baik

100 Pipa besi tuang atau pipa baja yang sudah tua.
(Sumber : Soufyan M Noerbambang & Takeo Morimura ; 1985)

3.4.5 Penentuan Ukuran Pipa


Ukuran pipa ditentukan berdasarkan laju aliran puncak. Disamping itu ada
tambahan pertimbangan-pertimbangan lain yang didasarkan pada pengalaman
perancang/kontraktor pelaksana.
Pada waktu air mengalir dalam pipa, akan timbul gesekan-gesekan antar
air dengan dinding pipa, hal ini mengakibatkan timbulnya kehilangan tekanan
(head loss) pada waktu air mengalir didalam pipa. Besarnya kehilangan tekan
dalam pipa tergantung dari :
a) Kekasaran dinding pipa, makin kasar dinding pipa makin besar kehilangan
tekanannya
b) Panjang pipa, makin panjang pipa, makin besar kehilangan tekanaanya.
c) Kecepatan air dalam pipa, makin cepat air mengalir dalam pipa makin
bcsar kehilangan tekanannya.
d) Banyaknya perlengkapan (assesories) pipa, makin banyak perlengkapan
pipa makin besar kehilangan tekanannya.

31

Tabel 3.6 Panjang ekivalen untuk katup dan perlengkapan lainnya


Diameter
nominal
(mm)
15
20
25
32
40
50
65
80
100
125
150
200
250

Belokan
90o
0.60
0.75
0.90
1.2
1.5
2.1
2.4
3.0
4.2
5.1
6.0
6.5
8.0

Belokan
45o
0.36
0.45
0.54
0.72
0.90
1.2
1.5
1.8
2.4
3
3.6
3.7
4.2

T-90o
aliran cabang
0.90
1.5
1.5
1.8
2.1
3.0
3.6
4.5
6.3
7.5
9
14.0
20.0

Panjang ekivalen (m)


T-90o
Katup sorong
aliran lurus
(gate valve)
0.18
0.12
0.24
0.15
0.27
0.18
0.36
0.24
0.45
0.30
0.60
0.39
0.75
0.48
0.90
0.63
1.2
0.81
1.5
0.99
1.8
1.2
4.0
1.4
5.0
1.7

Katup bola
(ball valve)
4.5
6.0
7.5
10.5
13.5
16.5
19.5
24.0
37.5
42.0
49.5
70.0
90.0

Katup sudut
(angle valve)
2.4
3.6
4.5
5.4
6.6
8.4
10.2
12.0
16.5
21.0
24.0
33.0
43.0

Katup
satu arah
1.2
1.6
2.0
2.5
3.1
4.0
4.6
5.7
7.6
10.0
12.0
15.0
19.0

(Sumber : Soufyan M Noerbambang & Takeo Morimura ; 1985)

3.5 Sistem Peyediaan Air Buangan dan Ven


3.5.1 Sistem Peyediaan Air Buangan
Air buangan atau sering juga disebut air limbah adalah semua cairan yang
dibuang baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuhtumbuhan maupun yang mengandung sisa-sisa proses industri. Air buangan dapat
dibedakan menjadi empat golongan yaitu :
1) Air kotor : Air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet dan air
buangan mengandung kotoran manusia yang berasal dari alat plambing
lainnya.
2) Air bekas : Air buangan yang berasal dari alat-alat plambing lainnya,
seperti: bak mandi (bath tub), bak cuci tangan, bak dapur, dan lain-lain.
3) Air hujan : Air hujan yang jatuh pada atap bangunan.
4) Air buangan khusus : Air buangan ini mengandung gas, racun atau bahanbahan berbahaya, seperti: yang berasal dari pabrik, air buangan dari
laboratorium, tempat pengobatan, rumah sakit, tempat pemotongan hewan,

32

air buangan yang bersifat radioaktif atau mengandung bahan radioaktif,


dan air buangan yang mengandung lemak.

3.5.2 Klasifikasi Sistem Air Buangan


Menurut Morimura dan Noerbambang (1985), sistem pembuangan air
umumnya dibagi dalam beberapa klasifikasi menurut jenis air buangan, cara
membuang air, dan sifat sifat lain dari lokasi dimana saluran itu akan dipasang.
1) Klasifikasi menurut jenis air buangan
a. Sistem pembuangan air kotor, adalah sistem pembuanagan melalui kloset,
peturasan dan lain lain dalam gedung yang dikumpulkan dan dialirkan
keluar.
b. Sistem pembuangan air bekas, adalah sistem pembunagan dimana air
bekas dalam gedung dikumpulkan dan dialirkan ke luar.
c. Sistem pembuangan air hujan, adalah sistem pembuangan dimana hanya
air hujan dari atap gedung dan tempat lainnya dikumpulkan dan dialirkan
ke luar.
d. Sistem air buangan khusus, dimana air buangan khusus sebelum
dimasukan ke riol umum, harus melewati pengolahan pengamanan terlebih
dahulu.
e. Sistem pembuangan dari dapur, yaitu air buangan yang berasal dari bak
cuci dapur, dan bila air buangan banyak mengandung lemak maka harus
dilengkapi dengan perangkap lemak, walaupun masih ada kemungkinan
lemak yang tersisa dan dapat memperkecil penampang saluran.
2) Klasifikasi menurut cara pembuangan air
a. Sistem pembuangan air campuran, yaitu sistem pembuangan dimana
segala macam air buangan dikumpulkan ke dalam satu saluran dan
dialirkan ke luar gedung, tanpa memperhatikan jenis air buangan.

33

b. Sistem pembuangan terpisah, yaitu sistem pembuangan dimana jeis air


buangan dikumpulkan dan dialirkan ke luar gedung secara terpisah.
c. Sistem pembuangan tak langsung, yaitu sistem pembuangan dimana air
buangan dari beberapa lantai gedung bertingkat digabungkan dalam satu
kelompok. Pada setiap akhir gabungan perlu dipasang pemecah aliran.
3) Klasifikasi menurut cara pengaliran
a. Sistem gravitasi , yaitu air buangan mengalir dari tempat tinggi secara
gravitasi kes saluran umum yang letaknya lebih rendah.
b. Sistem bertekanan, yaitu air buangan dikumpulkan dalam bak penampung
dan kemudian dipompakan ke luar ke dalam riol umum.
4) Klasifikasi menurut letaknya
a. Sistem pembuangan gedung, yaitu sistem pembuangan yang terletak di
dalam gedung sampai jarak satu meter dari dinding paling luar gedung
tersebut.
b. Sistem pembuangan diluar gedung sampai ke roil umum, yaitu sistem
pembuangan di luar gedung, di halaman, mulai satu meter dari dinding
paling lar gedung sampai ke roil umum.

3.5.3 Kemiringan Pipa dan Kecepatan Aliran


Sistem pembuangan harus mampu mengalirkan dengan cepat air buangan
yang biasanya mengandung bagian-bagian padat. Untuk maksud tersebuut, pipa
buangan harus mempunyai ukuran dan kemiringan yang cukup, sesuai dengan
banyaknya dan jenis air buangan yang harus dialirkan.
Biasanya pipa dianggap tidak penuh berisi air buangan, melainkan hanya
tidak lebih dari 2/3 terhadap penampang pipa, sehingga bagian atas yang
kosong" cukup untuk mengalirkan udara.
Kemiringan pipa dapat dibuat sama atau lebih besar dari satu per diameter
pipanya (mm). Tabel 3.7 memuat standar untuk penggunaan umum. Kecepatan
terbaik pipa berkisar antara 0,6 1,2 m/detik. Kemiringan pipa pembuangan

34

gedung dan roil gedung dapat dibuat lebih landai dari pada tang dinyatakan pada
tabel . , asal kecepatan tidak krang dari 0,6 mdetik. Jika kurang maka kotoran
dalam air buangan dapat mengendap yang pada akhirnya akan menimbulkan
penyumbatan pipa. Sebaliknya jika terlalu cepat akan menimbulkan turbulensi
aliran, yang dapat menimbulkan gejolakan gejolakan tekanan dalam pipa, yang
akan merusak fungsi penutup air dalam perangkap alat plambing. Disamping itu,
kemiringan yang lebih curam dari 1/50 cenderung menimbulkan efek sifon yang
akan menyedot air penutup dalam perangkap alat plambing.
Tabel 3.7 Kemiringan pipa pembuangan horizontal
Diameter pipa (mm)

Kemiringan minimum

75 atau kurang

1/50

100 atau kurang

1/100

(Sumber: Noerbambang, & Moimura:1985)

3.5.4 Penentuan Nilai UBAP dan Ukuran Pipa


Nilai unit alat plambing untuk berbagai jenis alat plambing dapat dilihat
pada Tabel 3.8. Apabila jenis alat plambing yang direncanakan sesuai dengan
yang ada dalam tabel tersebut, ukuran pipa pembuangan dapat ditentukan
berdasarkan jumlah nilai unit alat plambing yang dilayani pipa yang
bersangkutan, sebagaimana dicantumkan dalam Tabel 3.9.

35

Tabel 3.8 Unit beban alat plambing untuk air buangan


No

Alat plambing atau kelompok alat plambing

Kelompok alat plambing di kamar mandi yang terdiri dari bak cuci tangan,
bak mandi/dus dan kloset dengan katup penggelontor langsung
Kelompok alat plambing di dalam kamar mandi yang terdiri dari bak cuci
tangan,
bak mandi/dus dan kloset dengan katup penggelontor
Bak mandi dengan perangkap 40 mm
Bak mandi dengan perangkap 50 mm
Bidet dengan perangkap 40 mm
Gabungan bak cuci dan bak cuci pakaian dengan perangkap 40 m
Gabungan bak cuci dan bak cuci pakaian yang menggunakan penggerus sisa
makanan (perangkap 40 mm terpisah untuk tiap unit)
Unit dental atau peludahan
Bak cuci tangan untuk dokter gigi
Pancuran air minum
Mesin cuci pring untuk rumah tangga
Lubang pengering lantai
Bak cuci dapur untuk rumah tangga
Bak cuci dapur ruamah tangga dengan unit penggerus sisa makanan
Bak cuci tangan dnegan lubang pengeluaran air kotor 40 mm
Bak cuci tangan dengan lubang pengeluaran air kotor 25 mm atau 32 mm
Bak cuci tangan pemangkas rambut, salon kecantikan, kamar bedah
Bak cuci tangan jenis majemuk seperti pancuran cuci atau bak cuci untuk tiap
bak cuci tangan setaraf
Bak cuci pakaian (1 atau 2 bagian)
Dus pada ruang dus
Dus pada kelompok untuk tiap dus
Bak cuci untuk kamar bedah
Bak cuci jenis penggelontor bibir untuk katup gelontor langsung
Bak cuci jenis umum dengan pengeluaran dan perangkap pada lantai
Bk cuci seperti pot, ruang cuci atau sejenis
Bak cuci jenis umum yang dengan pengeluaran dan perangkap
Peturasan dengan katup gelontor 25 mm
Peturasan dengan katup gelontor 20 mm
Peturasan dengan tangki gelontor
Kloset dengan katup gelontor
Kloset dengan tangki gelontor
Kolam renang untuk tiap volume, 50 m3
Alat plambing yang tidak tercantum disini dengan pengering atau
perangkap berukuran 32 mm
Alat plambing yang tidak tercantum disini dengan pengering atau
perangkap berukuran 40 mm

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

Alat plambing yang tidak tercantum disini dengan pengering atau


perangkap berukuran 50 mm
Alat plambing yang tidak tercantum disini dengan pengering atau
perangkap berukuran 63 mm
Alat plambing yang tidak tercantum disini dengan pengering atau
perangkap berukuran 90 mm
Alat plambing yang tidak tercantum disini dengan pengering atau
perangkap berukuran 1100 mm

Sumber: (SNI, 037065-2005 : 11)

Nilai unit
beban alat
plambing
8

6
2
3
3
3
4
1
1
0.5
2
1
2
3
2
1
2
2
2
2
3
3
8
3
4
2
8
4
4
8
4
1
1
2
3
4
5
6

36

Tabel 3.9 Ukuran minimum perangkap alat plambing


No

Alat Plambing

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Bak mandi (dengan atau tanpa dus)


Bidet
Unit dental atau peludahan
Bak cuci tangan untuk dokter
Pancaran air minum
Mesin cuci piring untuk rumah tangga
Mesin cucui piring untuk komersil
Lubang pengering lantai
Bak cuci dapur untuk rumah tangga
Bak cuci dapur untuk rumah tangga dng unit
penggerus sisa makanan
Bak cuci tangan umum
Bak cuci tangan utk pemangkas rambut, salon,
dan kamar bedah
Bak cuci tangan jenis majemuk (pancuran cuci
atau bak cuci)
Bak cuci pakaian (satu atau dua bagian)
Dus (ruang dus)
Bak cuci untuk kamar bedah
Bak cuci jenis bibir penggelontoran, katup
gelontor
Bak cuci jenis umum dipakai dengan
perangkap P
Bak cuci jenis umum dipakai dengan standar
perangkap pada lantai
Bak cuci komersil dengan unit penggerus
sisamakanan
Bak cuci komersil (pot, ruang cuci atau sejenis)
Peturasan jenis berkasi lengkap denga
perangkap integral
Perangkap(semua jenis lengkap dengan
perangkap integral kecuali jenis berkaki)
Peturasan jenis stall, washout, dengan
perangkap terpisah
Peturasan jenis yang digantung pada dinding
dengan perangkap terpisah
Kloset

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

(Sumber : SNI 03-7065-2005)

Ukuran
(mm)
40
40
32
32
32
40
50
80
40
40
32
40
40
40
50
40
80
50
80
50
50
80
50
50
40
80

37

Tabel 3.10 Beban maksimum yang diijinkan untuk perpipaan air buangan
(dinyatakan dalam unit beban alat plambing)
Ukuran
pipa
mm

401)
501)
631)
75
110
125
150
200
250
315
375

Pipa cabang
datar dari
plambing
(*)

Sebuah
pipa tegak
tiga interval
cabang atau
kurang

3
6
12
202)
160
360
620
1400
2500
3900
7000

4
10
20
302)
240
540
960
2200
3800
6000
-

Pipa tegak untuk


lebih dari tiga lantai
Jumlah untuk
Jumlah pada
pipa tiga
Satu lantai
lantai

8
24
42
603)
500
1100
1900
3600
5600
8400
-

2
6
9
163)
90
200
350
600
1000
1500
-

Saluran air buangan gedung


dan riol air limbah gedung
Kemiringan (%)

0.5

1400
2500
3900
7000

180
390
700
1600
2900
4600
8300

21
422)
216
480
840
1920
3500
5500
10000

26
502)
250
575
100
2300
4200
6700
12000

Keterangan
(*) Tidak termasuk pipa cabang yang berhubungan langsung dengan saluran pembuang gedung
1) Tidak boleh untuk kloset
2) Tidak boleh lebih dari 2 (dua) kloset
3) Tidak boleh lebih dari 6 (enam) kloset

(Sumber : SNI 03-7065-2005)

3.5.5 Sistem Ven


Sistem ven merupakan bagian penting dalam sistem suatu pembuangan,
sedangkan tujuan dari sistem ven ini antara lain:
1. Menjaga sekat perangkap dari efek sifon atau tekanan
2. Menjaga aliran yang lancar dalam pipa pembuangan
3. Mensirkulasi udara dalam pipa pembuangan.
Karena tujuan utama dari sistem ven ini adalah menjaga agar perangkap
tetap mempunyai sekat air, oleh karena itu pipa ven harus dipasang sedemikian
rupa agar mencegah hilangnya sekat air tersebut.
A. Jenis Sistem Ven
Sistem ven bagian dari sistem plambing yang terdiri dari pipa yang
dipasang untuk sirkulasi udara ke seluruh bagian dari sistem pembuangan dan

38

mencegah terjadinya kerja sifon dan tekanan balik pada perangkap. Ada beberapa
jenis pipa ven, yaitu
1. Ven basah yaitu ven yang juga bekerja sebagai pipa pembuangan. Ven
bersama yaitu pipa ven yang dipasang pada titik pertemuan dua
pengering alat

lambing dan bekerja sebagai ven untuk kedua alat

plambing tersebut.
2. Ven belakang yaitu bagian dari jalur ven yang menyambung langsung
dengan suatu perangkap, di bawah atau di belakang suatu alat plambing
dan yang membentang sampai pipa tegak air kotoran atau air buangan
pada setiap titik yang terletak lebih tinggi dari alat plambing atau
perangkap yang dilayaninya
3. Ven lup, ven cabang yang melayani dua perangkap atau lebih dan
berpangkal dari bagian depan penyambungan alat plambing terakhir
suatu cabang datar pipa pembuangan sampai ke ven pipa tegak.
4. Ven pelepas, pipa ven yang dipasang pada tempat

khusus untuk

menambah sirkulasi udara antara sistem pembuangan dan sistem ven


5. Ven pipa tegak yaitu perpanjangan pipa tegak air kotoran atau air
buangan diatas cabang pipa pembuangan teratas yang disambungkan
dengan pipa tegak tersebut.
6. Ven sirkit
Ven cabang yang melayani dua perangkap atau lebih dan berpangkal dari
bagian depan penyambungan alat plambung terakhir suatu cabang datar
pipa pembuangan sampai ke pipa tegak ven.
7. Ven sisi
Ven yang dihubungkan ke pipa pembuangan air kotor atau pipa air
kotoran melalui fitting dengan sudut tidak lebih dari 45 terhadap
vertikal.

39

B. Ketentuan Umum Ukuran Pipa Ven


Dalam membuat atau memasang pipa ven ada ketentuan yang harus
diperhatikan dalam membangun gedung tinggi. Menurut SNI 03-7065-2005,
ketentuan yang harus diperhatikan adalah :
1. Ukuran pipa ven lup dan ven sirkit
a. Ukuran pipa ven lup dan sirkit minimum 32 mm dan tidak boleh kurang

dari setengah kali diameter cabang mendatar pipa buangan atau pipa tegak
ven yang disambungkan.
b. Ukuran pipa ven lepas minimum 32 mm dan tidak boleh kurang dari

setengah kali diameter cabang mendatar pipa pembuangan yang


dilayaninya.
2. Ukuran ven pipa tegak
Ukuran ven pipa tegak, = tidak boleh kurang dari ukuran pipa tegak air
buangan yang dilayaninya dan selanjutnya tidak boleh diperkecil ukurannya
sampai ke ujung yang terbuka.
3. Ukuran ven pipa tunggal
Ukuran pipa ven tungga minimum 32 mm dan tidak boleh kurang dari
setengah diameter pipa pegering alat plambing yang dilayani.
4. Ukuran pipa ven offset
Ukuran pipaven pelepas untuk offset pipa pembuangan harus sama dengan
atau lebih besar dari pada diameter pipa tegak ven atau pipa tegak air buangan
(yang terkecil antara keduanya).
5. Ukuran pipa ven yoke
Ukuran pipa ven yoke harus sama dengan atau lebih besar dari pada diameter
pipa tegak vena tau pipa tegak air buangan (yang terkecil antara keduanya).
6. Pipa ven untuk bak penampung
Ukuran pipa ven untuk bak penampung air buangan minimum harus 50 mm.

40

C. Penentuan Ukuran Pipa Ven


Ukuran pipa ven didasarkan pada unit beban alat plambing dari
pembuangan yang dilayaninya, dan panjang ukuran pipa ven tersebut (lihat tabel
3.10 ). Bagian pipa ven mendatar, tidak termasuk bagian pipa ven di bawah
lantai, tidak boleh lebih dari 20% dari seluruh panjang ukurannya. Untuk lebih
jelas bias dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.11 Ukuran pipa tegak ven dan ven cabang
Ukuran pipa
air kotoran atau
air buangan
32
40
40
50
50
65
80
80
80
100
100
100
125
125
125
150
150
150
150
200
200
200
200
250
250
250
250

Unit alat
plambing yang
dihubungkan
2
8
10
12
20
42
10
30
60
100
200
500
200
500
1100
350
620
960
1900
600
1400
2200
3600
1000
2500
3800
5600

(Sumber : SNI 03-7063-2005)

32
9
15
9
9
7

40

45
30
20
15
9
9

Ukuran pipa ven yang disyaratkan


50 65
80
100
125
150
Panjang ukur maksimum pipa ven (m)

30
30
18
15
10
9
6

90
60
60
24
30
27
20
10
9
6
7
5

180
150
120
75
75
54
24
20
15
15
9
7
6

300
270
210
105
90
60
60
35
30
20
15
12
9
7

120
90
75
60
45
30
24
18
22
15
9
7

390
330
300
210
150
120
105
75
35
30
24
18

200

390
360
330
240
300
150
105
75

41

Sambungan ven harus dipasang sedemikian rupa, sehingga panjang ukur


saluran pembuangan alat plambing antara sambungan ven dan ambang perangkap
alat plambing tidak melebihi jarak yang tercantum dalam Tabel 3.12 Jarak
maksimum ven dari perangkap alat plambing (SNI-03-6481-2000).

Tabel 3.12 Jarak maksimum ven dari perangkap alat plambing


Ukuran saluran pembuangan alat

Jarak maksimum ven dari perangkap

plambing (mm)

alat plambing a (cm)

32

75

40

105

50

150

80

180

100

300

(Sumber : SNI 03-6481-2000)

3.6 Sistem Air Hujan


Menurut SNI 03-7065-2005, air hujan yang jatuh di atas gedung harus
disalurkan ke rembesan, sesuai dengan SNI 03-2459-1991 tentang sumur resapan
air hujan. Ukuran saluran pembuangan air hujan gedung di setiap pipa cabang
datarnya dengan kemiringan 4% atau lebih kecil harus didasarkan pada jumlah
daerah drainase yang dilayaninya dan sesuai dengan tabel 3.13. Untuk ukuran
pipa drainase bawah tanah yang dipasang di bawah lantai basement atau di
sekeliling tembok luar suatu gedung harus lebih besar atau sama dengan 100 mm.
Untuk talang tegak air hujan didasarkan luas atap yang dilayaninya dan sesuai
tabel 3.13. Apabila atap tersebut mendapat tambahan air hujan dari dinding yang
berdekatan, maka pada ukuran pipa tegak air hujan harus ditambah dengan
memperhitungkan 50% dinding terluas yang dianggap sebagai atap.

42

Tabel 3.13 Beban maksimum yang diijinkan untuk talang atap (dalam m2 untuk Curah Hujan 100mm/jam)
Ukuran

Pipa tegak

Pipa datar

Talang atap

pipa mm

air hujan

Pembuangan air hujan

datar terbuka

Kemiringan

Kemiringan

1%

2%

4%

1/2 %

1%

2%

4%

50

63

65

120

80

200

75

105

150

15

20

30

40

100

425

170

245

345

30

45

65

90

125

800

310

435

620

55

80

115

160

150

1290

490

700

990

85

125

175

250

200

2690

1065

1510

2135

180

260

365

520

250

1920

2710

3845

330

470

665

945

300

3090

4365

6185

350

5525

7800

11055

(Sumber : SNI 03-7065-2005)

3.6.1 Perencanaan Pipa, Kemiringan dan Perubahan Arah


Menurut SNI 03-7065-2005, dalam merencanakan pipa air hujan harus
memenuhi beberapa ketentuan, antara lain :
1. Pipa air hujan tidak boleh ditempatkan pada :
a. Dalam ruang tangga
b. Sumuran alat pengangkat
c. Di bawah lift atau di bawah beban imbangan lift
d. Langsung diatas tangki air minum tanpa tekanan
e. Di atas lubang pemeriksaan tangki air minum yang bertekanan
f. Di

atas

lantai

yang

digunakan

untuk

pembuatan

persiapan

pembungkusan penyimpanan atau peragaan makanan


2. Penempatan ujung buntu dilarang pada jaringan air hujan,kecuali bila
diperlukan untuk memperpanjang pipa lubang pembersih.

43

Kemiringan dan perubahan arah pipa air hujan memenuhi ketentuan


sebagai berikut :
1. Pipa air hujan datar yang berukuran sampai dengan 75 mm harus dipasang
dengan kemiringan minimal 2% dan untuk pipa yang berukuran lebih
besar minimal 1%. Kemiringan yang lebih kecil hanya diperbolehkan
apabila secara khusus dibenarkan oleh pejabat yang berwenang.
2. Perubahan arah pipa air hujan harus dibuat Y 450, belokan jari jari 900,
belokan 600, 450, 22,50 atau gabungan belokan tersebut atau gabngan
penyambungan ekivalen yang dibenarkan kecuali dinyatakan lain dalam
SNI 03-6481-2000 tentang sistem plambing.
3. Belokan jar jari pendek dan T saniter tunggal atau ganda hanya diijinkan
pemasanganya pada pipa air hujan.
Fitting dan penyambungan yang dilarang yaitu :
1. Ulir menerus, sambungan klem atau sadel tidak boleh dipergunakan pada
pipa air hujan.
2. Fitting, sambungan , peralatan dan cara penyambungannya tidak boeh
menghambat aliran air atau udara dalam pipa air hujan.
3. Soket ganda tidak boleh dipakai pada pemasangan pipa air hujan. Soket
harus dipasang berlawanan dengan arah aliran. Cabang T pipa air hujan
tidak boleh dipakai sebagai cabang masuk air buangan.
4. Tumit atau belokan 450 dengan lubang masuk samping tidak boleh
digunakan sebagai penyambungan ven pada pipa air hujan dan pipa air
buangan apabila tunit atau lubang masuk samping tersebut ditempatkan
mendatar.

3.6.2 Drainase Atap


Untuk membuat pipa air hujan diperlukan drainase atap yang baik dan
harus memenuhi ketentuan yang berlaku. Ketentuan tersebut adalah :

44

1. Drainase atap harus kedap air


2. Saringan harus dipasang pada lubang talang tegak. Saringan harus
menonjol sekurang kurangnya 10 cm di atas permukaan atap atau talang
dating diukur dari lubang masuk talang tegak. Jumlah luas luban saringan
tidak boleh lebih kecil dari 1,5 kali luas penampang talang tegak. Saringan
pada drainase atap atau geladak tempat menjemur, geladak parkir,atau
tempat sejenis itu yang dipelihara teratur dapat digunakan jenis saringan
rata yang dipasang rata dengan permukaan geladak, untuk jenis saringan
itu jumlah luas lubangnya tidak boleh kurang dari 2 kali luas penampang
talang tegak.

3.6.3 Sumur Resapan


Sumur resapan adalah prasarana untuk menampung dan meresapkan air
hujan ke dalam tanah. Kewajiban pembuatan sumur resapan bagi perorangan dan
badan hokum ditujukan kepada :
a. Setiap penanggung jawab bangunan yang menutup permukaan tanah
b. Setiap pemohon dari pengguna sumur dalam
c. Setiap

pemilik

bangunan

berkonstruksi

pancang

dan/atau

memanfaatkan air tanah dalam lebih dari 40m


d. Setiap usaha industri yang memanfaatkan air tanah permukaan
(Keputusan Gubernur DKI JAKARTA No.68 tahun 2005).
Persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam pembuatan sumur resapan
adalah :
a. Sumur resapan air hujan ditempatkan pada lahan yang relative datar
b. Air yang masuk ke dalam sumur resapan adalah air hujan yang tidak
tercemar
c. Penempatan sumur resapan air hujan harus mempertimbangkan
keamanan bangunan sekitarnya

45

d. Harus memperhatikan peraturan daerah setempat


e. Hal-hal yang tidak memenuhi ketentuan ini harus disetujui instansi
yang berwenang
Persyaratan teknis pembuatan sumur resapan adalah sebagai berikut :
a. Kedalaman air tanah minimum 1,5 m pada musim hujan
b. Permeabilitas tanah,
1. Permeabilitas tanah sedang (geluh kelanauan : 2,0 3,6 cm/jam
atau 0,48 0,86 m3/m2/hari )
2. Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus : 3,6 36 cm/jam atau
0,86 8,64 m3/m2/hari)
3. Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar : >36 cm/jam atau 8.64
m3/m2/hari)
c. Jarak terhadap bangunan
Jarak penempatan sumur resapan air hujan terhadap bangunan, dapat
dilihat pada Tabel

3.14 Jarak minimum sumur resapan air hujan

terhadap bangunan
Tabel 3.14 Jarak minimum sumur resapan air hujan terhadap bangunan

No

Jenis Bangunan

Jarak minimum dari


sumber resapan (m)

Sumur resapan air hujan/sumur air bersih

Pondasi bangunan

Bidang resapan/sumur resapan tangki septik

(Sumber : SNI 03-2453-2002)


Menurut SNI 03-2453-2002 tentang tata cara perencanaan sumur resapan
air hujan untuk lahan pekarangan, dalam perhitungan untuk sumur resapan air
hujan terbagi atas :

46

1. Volume andil banjir dapat digunakan rumus berikut :


Vab = 0,855 x Ctadah x Atadah x R
Keterangan
Vab

: Volume andil banjir yang ditampung sumur resapan (m3)

Ctadah : Koefisien limpasan dari bidah tadah


Atadah : Luas bidang tadah (m2)
R

: tinggi hujan harian rata-rata (L/m3/hari)

2. Volume air hujan yang meresap digunakan rumus berikut :


Vrsp =
Keterangan

Vrsp

: Volume air hujan yang meresap (m3)

te

: Durasi hujan (jam)


te = 0,9 x R0,92 / 60 (jam)

Atotal

: Luas dinding sumur + Luas alas sumur (m2)

: Koefisien permeabilitas tanah (m/hari)

3. Volume penampang (storasi) air hujan digunakan rumus berikut :


Vstorasi = Vab Vrsp

4. Penentuan jumlah sumur resapan air hujan, terlebih dahulu menghitung


Htotal sebagai berikut :

47

Htotal =
n=
Keterangan :
n

: jumlah sumur resapan

Htotal

: kedalaman total sumur resapan air hujan (m)

Hrencana

: kedalaman yang direncanakan < kedalaman air tanah (m)

48

Gambar 3.3 Contoh Sumur Resapan


(Sumber : Pergub no.68 tahun 2005)

49

3.7 Sistem Fire Hydrant


Hidran Kebakaran (Fire Hydrant) adalah suatu sistem atau rangkaian
instalasi atau jaringan perpipaan untuk menyalurkan air (tekanan tertentu) yang
digunakan sebagai sarana pemadaman kebakaran.
3.7.1 Macam Macam Sistem Fire Hydrant
Berdasarkan tempat/lokasinya sistem hidran kebakaran dapat dibagi
menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
1. Sistem Hidran Gedung
Sistem Hidran Gedung atau biasa disebut kotak hidran adalah hidran yang
terletak atau dipasang didalam bangunan dan sistem serta peralatannya
disediakan/dipasang oleh pihak pengelola bangunan/gedung tersebut.
Hidran perlu ditempatkan pada jarak 35 meter antara satu dan lainnya,
karena panjang selang kebakaran dalam kotak hidran adalah 30 meter, ditambah 5
meter jarak semprotan air. Hidran jenis ini, sesuai penggunannya di
klasifiikasikan ke dalam 3 kelompok sebagai berikut :
a. Hidran Kelas I
Ialah hidran yang dilengkapi dengan slang berdiameter 2 inci, yang
penggunannya diperuntukan secara khusus bagi petugas pemadam atau
orang yang terlatih.
b. Hidran Kelas II
Ialah hidran yang dilengkapi dengan slang berdiameter 1 inci, yang
penggunaanya diperuntukan penghuni gedung atau petugas yang belum
terlatih.
c. Hidran Kelas III
Iaalah hidran yang dilengkapi dengan selang berdiameter gabungan antara
Hidran kelas I dan II diatas.

50

Gambar 3.4 Kotak Hidran


(Sumber : Satpam.blogspot.com)

2. Sistem Hidran Halaman


Sistem Hidran Halaman adalah hidran yang terletak diluar/lingkungan
bangunan. Instalasi dan peralatan serta sumber air disediakan oleh pihak pemilik /
pengelola bangunan / gedung.
3. Sistem Hidran Kota
Sistem Hidran Kota adalah hidran yang terpasang ditepi/sepanjang jalan
pada daerah perkotaan yang dipersiapkan sebagai prasarana kota oleh Pemerintah
Daerah setempat guna menanggulangi bahaya kebakaran. Persediaan air untuk
hidran jenis ini dipasok oleh Perusahaan Air Minum setempat (PAM).

51

3.7.2 Sistem Pipa Tegak


Pipa tegak kebakaran adalah suatu rangkaian perpipaan, katup,
penyambung slang kebakaran, dan sistem penyediaan air yang digunakan untuk
menanggulangi kebakaran. Sistem dari pipa tegak mempunyai berbagai jenis
yaitu:

1. Wet Stand Pipe System, Yaitu pipa tegak dengan pipa yang selalu berisi air
dan tekanan air pada sistem di jaga tetap. Katup suplai air pada sistem ini
selalu dalam kondisi terbuka dan bila katup slang kebakaran dibuka maka air
akan mengalir keluar;
2. Dry Stand Pipe Syste, Suatu pipa tegak yang tidak berisi air, di mana peralatan
penyediaan air akan mengalirkan air ke sistem secara otomatis jika katup
slang kebakaran dibuka;
3. Sistem pipa tegak dengan pengadaan air ke sistem melalui operasi manual,
Yaitu dengan menggunakan kontrol jarak jauh yang terletak pada kotak slang
kebakaran untuk menghidupkan suplai air;
4. Sistem pipa tegak tanpa suplai air yang permanen, Jenis ini digunakan untuk
mengurangi waktu yang diperlukan petugas pemadam kebakaran untuk
membawa slang kebakaran ke lantai atas pada gedung tinggi dan suplai air
diperoleh dari mobil tangki pemadam kebakaran.