Anda di halaman 1dari 38

TOPIK KHUSUS FISIKA SEKOLAH

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


FISIKA SMA KELAS XI
KESETIMBANGAN DAN DINAMIKA ROTASI

HAPSARI PRADA KENCANA

3215141710

PENDIDIKAN FISIKA REGULER 2014


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)


Satuan Pendidikan
Kelas/Semester
Mata Pelajaran
Topik
Alokasi Waktu
I.

: Sekolah Menengah Atas


: XI MIPA / 1 (Satu)
: Fisika
: Kesetimbangan dan Dinamika Rotasi
: 1 x 45 JP

KOMPETENSI INTI

KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.


KI-2: Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI-3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasar-kan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta menerap-kan pengetahuan prose-dural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minat-nya untuk memecahkan
masalah.
KI 4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkrit dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri,
bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai
kaidah keilmuan.
II.

KOMPETENSI DASAR

1.1 Menambah keimanan dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas


alam terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya
1.2 Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan mengatur karakteristik fenomena
gerak, fluida, dan kalor
II.1.
Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti;
cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan
peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap
dalam melakukan percobaan dan diskusi
II.2.
Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari-hari sebagai
wujud implementasi melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan
3.1 Menerapkan konsep torsi, momen inersia, titik berat, dan momentum sudut pada
benda tegar (statis dan dinamis) dalam kehidupan sehari-hari
4.1 Membuat karya yang menerapkan konsep titik berat dan keseimbangan benda tegar

III.

INDIKATOR

INDIKATOR KD 3.6
3.6.1. Menyebutkan syarat-syarat dinamika rotasi partikel dan dinamika rotasi benda
tegar
3.6.2. Menyebutkan pengertian benda tegar
3.6.3. Menyebutkan pengertian dinamika rotasi benda tegar
3.6.4. Mengidentifikasi komponen-komponen gaya yang bekeja terhadap titik poros dan
hubungan jarak tegak lurus antara garis kerja sebuah gaya dengan sumbu rotasi.
3.6.5. Memformulasikan hubungan momen gaya dengan percepatan sudut.
3.6.6. Menghitung besar percepatan sudut rotasi katrol.
3.6.7. Menentukan energi kinetik total silinder pejal, nyatakan dalam m dan v.
3.6.8. Memformulasikan pengaruh torsi pada sebuah benda dalam kaitannya dengan
gerak rotasi benda tersebut.
3.6.9. Menentukan besar momen gaya total dan arah momen gaya pada titik tengah suatu
persegi panjang.
3.6.10. Menghitung besar lengan momen gaya suatu benda jika diketahui besar nilai
momen gaya dan gaya yang digunakan pada benda tersebut.
3.6.11. Menguraikan persamaan-persamaan momen inersia berbagai benda tegar.
3.6.12. Menghitung besar momen inersia sistem partikel terhadap pusat lingkaran.
3.6.13. Menghitung besar percepatan sudut roda pada hubungan momen gaya dengan
momen inersia.
3.6.14. Menentukan gaya-gaya yang terdapat pada gerak menggelinding di bidang
horizontal.
3.6.15. Menentukan gaya-gaya yang terdapat pada gerak menggelinding di bidang miring.
3.6.16. Membandingkan dua bola pejal identik menuruni puncak bidang miring saat
bersamaan (berdasarkan hukum kekekalan energi.)
3.6.17. Menentukan besar momentum sudut total dan arahnya pada sebuah batang yang
porosnya terletak disalah satu pinggir batang tersebut.
3.6.18. Menguraikan persamaan pada hubungan momentum sudut dengan momen gaya.
3.6.19. Menyebutkan syarat kesetimbangan statis benda tegar dari resultan gaya pada
komponen sumbu x dan sumbu y.
3.6.20. Menentukan momen kopel yang bekerja pada sistem benda.
3.6.21. Menentukan koordinat titik berat benda yang berbentuk tidak teratur
3.6.22. Menentukan koordinat titik berat benda homogen yang berbentuk garis
3.6.23. Menentukan koordinat titik berat benda homogen yang berbentuk bidang
gabungan.
3.6.24. Menentukan koordinat titik berat benda homogen yang berbentuk ruang antara
silinder pejal dan bola pejal.
INDIKATOR KD 4.6
4.6.1 Menentukan tujuan, hipotesis, dan rumusan masalah dari percobaan titik berat
pada benda yang berbentuk tidak teratur dengan anggota kelompok.

4.6.2 Memilih alat dan bahan yang akan digunakan pada percobaan titik berat pada
benda yang berbentuk tidak teratur.
4.6.3 Mengoperasikan alat dan bahan berdasarkan gambaran sistem titik berat yang
telah ditentukan serta mencatat data-data yang didapatkan.
4.6.4 Melaksanakan percobaan titik berat pada benda yang berbentuk tidak teratur
berdasarkan langkah kerja yang sudah didiskusikan oleh kelompok.
4.6.5 Memprediksi hasil data percobaan titik berat pada benda yang berbentuk tidak
teratur dalam bentuk koordinat titik.
4.6.6 Menganalisis hasil data percobaan tersebut dan sajikan dalam bentuk grafik.
4.6.7 Menentukan tujuan, hipotesis, rumus yang akan digunakan dari percobaan titik
berat pada benda homogen dengan anggota kelompok.
4.6.8 Menggambarkan benda homogen yang berbentuk garis lurus, dua dimensi dan
tiga dimensi berdasarkan perintah yang diberikan oleh guru.
4.6.9 Menentukan letak koordinat titik berat benda tersebut berdasarkan konsep
koordinat titik berat yang ada.
4.6.10 Menganalisis hasil letak koordinat titik berat benda tersebut dan laporkan hasil
analisis tersebut di depan kelas.
4.6.11 Menentukan tujuan, hipotesis, dan rumusan masalah dari percobaan momen
gaya dan momen kopel.
4.6.12 Memilih alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan momen gaya
dan momen kopel.
4.6.13 Mengoperasikan alat dan bahan berdasarkan percobaan momen gaya dan
momen kopel.
4.6.14 Melaksanakan percobaan momen gaya dan momel kopel dengan bimbingan
guru.
4.6.15 Mengambil data-data dari percobaan momen gaya dan momen kopel dan
mentabulasi data-data percobaan tersebut ke dalam tabel pengamatan.
4.6.16 Menganalisis hasil data percobaan tersebut dan sajikan dalam bentuk grafik.
IV.

TUJUAN PEMBELAJARAN

TUJUAN KD 3.6
1. Setelah siswa diberi penjelasan oleh guru, dan diberi demonstrasi dalam
bentuk gambar tentang dinamika rotasi, siswa dapat menyebutkan pengertian
benda tegar, dinamika rotasi partikel dan dinamika rotasi benda tegar,
mengidentifikasi syarat-syarat dinamika rotasi benda tegar dan hubungan jarak
tegak lurus antara garis kerja sebuah gaya dengan sumbu rotasi,
memformulasikan hubungan momen gaya dengan percepatan sudut.
2. Setelah siswa diberi contoh soal, serta diberi tugas untuk mengerjakan soalsoal, siswa dapat menghitung percepatan sudut rotasi katrol yang dinyatakan
dalam percepatan gravitasi.
3. Setelah siswa diberi penjelasan oleh guru, proses pencarian informasi, diskusi
kelompok, dan tanya jawab, siswa dapat menentukan energy kinetik total
silinder pejal dalam bentuk m dan v.

4. Setelah siswa melalui proses pencarian informasi, dan diskusi kelompok,


siswa dapat memformulasikan pengaruh torsi pada sebuah benda dalam
kaitannya dengan gerak rotasi benda tersebut, menentukan besar momen gaya
total, dan arah momen gaya pada titik di suatu persegi panjang.
5. Setelah siswa diberi penjelasan oleh guru, dan diberikan contoh soal beserta
penyelesaiannya, siswa dapat menghitung besar lengan momen gaya suatu
benda dan menghitung besar momen inersia partikel terhadap pusat lingkaran.
6. Setelah siswa diberi penjelasan oleh guru, proses pencarian informasi, tanya
jawab, dan pemberian contoh soal mengenai momen inersia, siswa dapat
menguraikan persamaan serta menghitung percepatan sudut roda pada
hubungan momen gaya dengan momen inersia.
7. Setelah siswa diberi penjelasan oleh guru dan diberi gambaran ilustrasi, dan
contoh soal tentang gerak menggelinding, siswa dapat menentukan gaya-gaya
yang terdapat pada gerak menggelinding di bidang horizontal dan bidang
miring, dan siswa dapat membandingkan dua bola pejal identik menuruni
puncak bidang miring saat bersamaan (berdasarkan hukum kekekalan energi.)
8. Setelah melalui proses pencarian informasi, kegiatan diskusi, dan tanya jawab
dengan guru, siswa dapat menentukan besar momentum sudut total dan
arahnya pada sebuah batang yang porosnya terletak di salah satu pinggi batang
serta dapat menguraikan persamaan pada hubungan momentum sudut dengan
momen gaya.
9. Setelah siswa diberi penjelasan mengenai materi kesetimbangan benda tegar
oleh guru, siswa dapat menyebutkan syarat kesetimbangan statis benda tegar
dari resultan gaya pada komponen sumbu x dan sumbu y.
10. Setelah siswa melalui proses pencarian informasi, dan diskusi kelompok,
siswa dapat menentukan momen kopel, besar momen gaya total, dan arah
momen gaya pada titik di suatu persegi panjang.
11. Setelah diberikan penjelasan, diberikan contoh soal, dan gambaran ilustrasi,
siswa dapat :
a.Menentukan koordinat titik berat benda yang berbentuk tidak teratur
b. Menentukan koordinat titik berat benda homogen yang berbentuk garis
c.Menentukan koordinat titik berat benda homogen yang berbentuk bidang
gabungan.
d. Menentukan koordinat titik berat benda homogen yang berbentuk
ruang antara silinder pejal dan bola pejal.
TUJUAN KD 4.6
1. Setelah siswa diberi arahan dan penjelasan oleh guru, siswa dapat menentukan
tujuan, hipotesis, dan rumusan masalah dari percobaan titik berat pada benda
yang berbentuk tidak teratur dan benda homogen dengan anggota
kelompoknya.
2. Setelah merumuskan percobaan yang akan dilakukan, serta diberi panduan
percobaan, siswa dapat memilih alat dan bahan dalam percobaan titik berat

serta mengoperasikannya berdasarkan gambaran sistem titik berat yang telah


ditentukan.
3. Setelah siswa diberi arahan serta tanya jawab dengan guru,siswa dapat
melaksanakan percobaan titik berat pada benda yang berbentuk tidak
teraturdan benda homogen yang berbentuk garis lurus, dua dimensi dan tiga
dimensi secara berurutan berdasarkan langkah kerja yang sudah didiskusikan,
serta mencatat data-data yang didapatkan.
4. Setelah melakukan percobaan, melalui proses pencarian informasi, dan
membaca modul percobaan, siswa dapat menentukan pengolahan dan
perhitungan hasil data percobaan titik berat.
5. Setelah siswa diberi arahan oleh guru, melalui proses pencarian informasi dan
tanya jawab, siswa dapat menganalisis hasil perhitungan letak koordinat titik
berat benda tersebut dan melaporkan hasil analisis tersebut di depan kelas.
6. Setelah siswa diberi arahan dan penjelasan oleh guru, siswa dapat menentukan
tujuan, hipotesis, dan rumusan masalah dari percobaan momen gaya dan
momen kopel
7. Setelah siswa diberi panduan percobaan, siswa dapat memilih alat dan bahan
yang akan digunakan dalam percobaan momen gaya dan momen kopel
8. Setelah siswa diberi arahan oleh guru mengenai percobaan, siswa dapat
mengoperasikan alat dan bahan berdasarkan percobaan momen gaya dan
momen kopel.
9. Setelah siswa diberi demonstrasi percobaan oleh guru dan siswa dapat
mengoperasikan alat, siswa dapat langsung melaksanakan percobaan momen
gaya dan momen kopel dengan bimbingan guru.
10. Setelah siswa melaksanakan percobaan, dan mendapat data, siswa dapat
mentabulasikan hasil data tersebut ke dalam tabel pengamatan.
11. Setelah siswa mentabulasikan data hasil percobaan, diberi penjelasan oleh
guru dan melalui proses pencarian informasi, siswa dapat menentukan
pengolahan dan perhitungan hasil data percobaan berdasarkan rumus yang
telah ada.
12. Setelah siswa melakukan pengolahan dan perhitungan pada data hasil
percobaan, siswa dapat menganalisis hasil data tersebut ke dalam bentuk
grafik.
V.

MATERI AJAR

Benda tegar didefinisikan sebagai benda yang tidak berubah bentuknya bila
diberi gaya luar. Momen gaya didefinisikan sebagai kecenderungan suatu gaya
untuk memutar suatu benda terhadap suatu sumbu. Jika sebuah benda diletakkan di
atas bidang datar licin diberi gaya (F) maka benda
tersebut akan mengalami gerak
translasi.

Bagaimana jika sebuah batang dengan panjang meter, salah satu ujungnya
( titik O) di
buat poros dan ujung lainnya di beri gaya F maka batang akan
mengalami gerak rotasi.

Besaran fisika yang menyebabkan benda mengalami rotasi di sebut momen


gaya (Torsi). Momen gaya didefinisikan sebagai perkalian silang antara lengan
gaya dan lengan gaya.

Secara matematika dituliskan:


=
||=.sin
Keterangan :
= Momen gaya ( N.m)
= Lengan gaya (m)
F = Gaya (N)
teta = sudut antara gaya dan lengan gaya
Catatan:
Momen gaya bertanda (+) jika putaran searah putaran jarum jam
Momen gaya bertanda (-) jika putaran berlawanan arah putaran jarum jam
Momen Kopel
Kopel adalah dua buah gaya yang sejajar, sama besar dan berlawanan arah. Kopel yang
bekerja pada sebuah benda akan menghasilkan momen kopel yang mengakibatkan
benda berotasi.
Jika pada sebuah benda bekerja beberapa kopel, maka resultan momen kopelnya adalah
jumlah aljabar dar masing-masing momen kopelnya, yaitu :
M = M1 + M2 + M3 + +Mn
Momen kopel (dilambangkan M) adalah perkalian antara gaya dengan harak antara
kedua gaya tersebut.

MOMEN INERSIA
Massa dalam gerak linier adalah ukuran kelembaman suatu benda, yaitu
kecenderungan untuk tidak mengalami perubahan gerak. Untuk gerak rotasi,
kecenderungan untuk tidak mengalami perubahan gerak, selain ditentukan oleh
massa, juga dipengaruhi oleh distribusi massa terhadap sumbu putar yang disebut
momen inersia.
Momen inersia dari sebuah partikel bermassa m terhadap poros yang terletak sejauh r
dari massa partikel didefinisikan sebagai hasil kali massa partikel tersebut terhadap
kuadrat jarak dari titik poros, ditulis:
=2
Keterangan:
I = momen inersia ( kg.m2)
m = massa benda (kg)
r = jarak antara benda dan sumbu putar (m)
Jika terdapat banyak partikel masing-masing m1, m2, m3, ., dan mempunyai jarak
r1, r2, r3, , terhadap poros, maka momen inersia total adalah penjumlahan momen
inersia setiap partikel, yaitu:
I = mi.ri2 = m1.r1 + m2.r2 + m3.r3 + .
Momen inersia benda tegar.
Untuk benda tegar yang memiliki massa berbagai partikel (titik materi), momen
inersia diperoleh dengan cara menjumlahkannya momen inersia setiap partikel. Untuk
benda tegar yang memiliki massa yang terdistribusi kontinu, momen inersia diperoleh
dengan cara mengintegralkan momen inersia dari elemen massa dm yang berjarak r
dari poros, yaitu:
I = r2 d
Hasil perhitungan momen inersia dari berbagai bentuk benda tegar dapat dilihat
pada gambar berikut:

Kaitan momen gaya dengan percepatan sudut. Perhatikan gaya tangensial F bekerja
pada sebuah partikel bermassa m, sehingga bergerak melingkar dengan jari-jari r dan
menimbulkan percepatan tangensial aT, seperti tampak
pada gambar di bawah ini.
Hukum II Newton dapat ditulis: F = m.aT Karena
percepatan tangensial aT = r, maka
F = m.r, sehingga momen gaya dapat ditulis:
F.r = m.r2 .
dengan I = m.r 2 , yaitu momen inersia partikel m
terhadap poros berjarak r.
Contoh Soal:
Perhatikan sistem pada gambar di atas, tugas sobat adalah menentukan berapa
besarnya nilai T1 dan T2.

T1 = sin 120/ sin 90 x 10.10 = 503 N

T2 = sin 150/ sin 90 x 10.10 = 50 N

Teori Sumbu Sejajar


Sebuah batang homogen bermassa m panjangnya L berpusat massa di titik P.
Jika batang diputar di titik O yang berjarak d dari pusat massa, besar momen
inersia di titik O
adalah:
2
=+
Keterangan:
= Momen inersia batang di titik O
= Momen inersia di pusat massa
= massa batang (kg)
= jarak sumbu putar ke pusat massa (m)
HUBUNGAN MOMEN GAYA DAN MOMEN INERSIA
Dengan menggunakan Hukum II Newton kita dapat memperoleh hubungan antara
momen gaya dan momen inersia:
r
= = .. x r
.=2. karena = dan =2 sehingga diperoleh hubungan:
=.
Dengan demikian berlaku persamaan GMBB:
=
1
= 2 2
2= 22
MOMENTUM ANGULER DAN HUKUM KEKEKALAN MOMENTUM
ANGULER
Momentum anguler adalah ukuran tingkat kesukaran benda untuk dihentikan
bila
sedang berputar. Besarnya momentum anguler ditentukan oleh momen
inersianya dan kecepatan angulernya. Besar momentum anguler dihitung dengan
rumus:
=
mirip seperti momentum linier p= mv. Satuan momentum anguler adalah kgm2 rad s-1.
Bila tidak ada gaya yang bekerja pada benda, maka momentum anguler bersifat kekal,
secara matematis dinyatakan dengan :

1=2
11= 22
sehingga kecepatan anguler benda yang berpuar dapat diubah-ubah dengan mengubah
besarnya momen inersia benda. Inilah yang digunakan oleh penari ice skating sewaktu
memutar tubuhnya. Jika ia ingin putarrannya cepat maka ia akan merapatkan tangan
dan kakinya sehingga besar momen inersia tubuhnya berkuran, maka kecepatan
putarnya bertambah, sebaliknya ketika ia ingin menghentikan putarannya, maka ia
akan merentangkan tangan dan kakinya untuk menambah momen inersia tubuhnya,
sehingga kecepatan putarnya berkuran.
Contoh Soal:
Seseorang memikul beban dengan tongkat AB homogen dengan panjang 2 m. Beban
Diujung A = 100 N dan di B = 400 N. Jika batang AB setimbang, maka bahu orang
itu harus diletakkan sejauh.....
Jawab:
Dik : WB = 400N
WA = 100N
Dit : x?
Jawab:
Misalkan terlebih dahulu posisi tongkat dibahu orang lalu gambarkan gaya-gaya yang

bekerja pada sistem tersebut.


Maka dari syarat kesetimbangan statis
= 0
WB . x - WA . (2 - x) + N . 0 = 0 (torsi positif jika arah putaran searah jarum jam dan
sebaliknya)
400 N . x - 100 N (2 - x) = 0
400 N . x = 100 N (2 - x) = 0
4x = 2 x
4x + x = 2
5x = 2
x = 2/5 = 0,4 m
Jadi posisi bahu 0,4 m B atau 2 m - 0,4 m = 1,6 m dari A
ENERGI KINETIK ROTASI
Benda yang bergerak translasi memiliki energi kinetik :
1
= 2 2

Benda yang bergerak rotasi memiliki energi kinetik :


1
= 2 2
Benda yang menggelinding artinya benda tersebut selama berotasi juga mengalami
translasi, sehingga benda yang menggelinding memiliki energi kinetik translasi dan
energi kinetik rotasi yang besarnya :
1
1
+ = 2 2+ 2 2

Kesetimbangan Partikel
Partikel adalah benda yang ukurannya dapat diabaikan, sehingga dapat digambarkan
sebagai suatu titik materi. Jika gaya yang bekerja pada titik materi tersebut (partikel)
tak seimbang, maka benda hanya bergerak translasi dan tak mengalami gerak rotasi.
Syarat keseimbangan statik untuk benda yang dianggap sebagai partikel adalah
resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut sama dengan nol dan benda dalam
keadaan diam. F = 0 Jika benda dalam keadaan bergerak dan
F = 0, maka benda dikatakan seimbang dinamik.
Jika partikel terletak pada bidang XY dan gaya-gaya yang bekerja diuraikan pada
sumbu X dan Y, maka syarat keseimbangan statiknya adalah:
Fx = 0 dan Fy = 0
dengan:
Fx = resultan gaya pada komponen sumbu X
Fy = resultan gaya pada komponen sumbu Y
Contoh-contoh konstruksi kesetimbangan benda karena pengaruh 3 gaya:

Apabila pada sistem keseimbangan benda tegar terdapat sebuah titik tumpu tetap
maka ambillah titik tetap tersebut sebagi pusat momen gaya.
Contoh Soal:
Seorang penari balet berputar 3 putaran/sekon dengan kedua tangannya direntangkan.
Pada saat itu momen inersia penari 8 kg m2. Kemudian lengannya dirapatkan sehingga
momen
inersianya menjadi 2 kg m2. Frekuensi putaran sekarang menjadi......
Jawab:
Dik:
1 = 3 putaran/s
I1 = 8 kg m2
I2 = 2 kg m2
Dit : 2 =.....
Jawab :
Dengan kekekalan momentum sudut:

diperoleh frekuensi sudut atau kecepatan sudut yang baru:

Keseimbangan Stabil, Labil dan Indiferen ( Netral )


Pada benda yang diam ( Statis ) kita mengenal 3 macam keseimbangan benda statis,
yaitu :
a. Stabil ( mantap / tetap )
b. Labil ( goyah / tidak tetap )
c. Indiferen ( sebarang / netral )

1. Untuk benda yang digantung.


Keseimbangan stabil : apabila gaya yang diberikan padanya dihilangkan. Maka ia akan
kedudukan semula.
Sebuah papan empat persegi panjang digantungkan pada sebuah sumbu mendatar di P
( sumbu tegak lurus papan ). Titik berat Z dari papan terletak vertikal di bawah titik
gantung P, sehingga papan dalam keadaan ini setimbang stabil. Jika ujung A papan di
putar sedikit sehingga titik beratnya semula ( Z ), maka kalau papan dilepaskan ia akan
berputar kembali kekeseimbangannya semula.

Hal ini disebabkan karena adanya suatu koppel dengan gaya berat G dan gaya
tegangan tali T yang berputar kekanan. ( G = N ), sehingga papan tersebut kembali
kekeseimbangannya semula yaitu seimbang stabil.

Keseimbangan labil : Apabila gaya yang diberikan padanya dihilangkan, maka ia tidak
akan dapat kembali ke kedudukan semula.

Kalau titik gantung P tadi sekarang berada vertikal di bawah titik berat Z maka papan
dalam keadaan seimbang labil Kalau ujung A papan diputar sedikit naik kekiri
sehingga titik beratnya sekarang ( Z ) di bawah titik beratnya semula ( Z ), maka
kalau papan dilepaskan ia akan berputar turun ke bawah, sehingga akhirnya titik
beratnya akan berada vertikal di bawah titik gantung P. Hal ini disebabkan karena
adanya suatu koppel dengan gaya berat G dan gaya tekanan ( tegangan tali ) T yang
berputar kekiri ( G = T ), sehingga papan turun ke bawah dan tidak kembali lagi
kekeseimbangannya semula.
Keseimbangan indiferen : Apabila gaya yang diberikan padanya dihilangkan, maka ia
akan berada dalam keadaan keseimbangan, tetapi di tempat yang berlainan.

2.

Kalau titik gantung P tadi sekarang berimpit dengan titik berat Z, maka papan dalam
keadaan ini setimbang indiferen. Kalau ujung A papan di putar naik, maka gaya berat
G dan gaya tekanan T akan tetap pada satu garis lurus seperti semula ( tidak terjadi
koppel) sehingga papan di putar bagaimanapun juga ia akan tetap seimbang pada
kedudukannya yang baru.
Untuk benda yang berada di atas bidang datar.
Keseimbangan stabil : kesetimbangan yang dialami benda, dimana jika pada benda
diberikan gangguan yang mengakibatkan posisi benda berubah, setelah gangguan
tersebut dihilangkan, benda akan kembali ke posisi semula

Sebuah pararel epipedum siku-siku ( balok ) diletakkan di atas bidang


datar, maka ia dalam keadaan ini seimbang stabil, gaya berat G dan gaya tekanan N
yang masing-masing bertitik tangkap di Z ( titik berat balok ) dan di A terletak pada
satu garis lurus. Kalau balok tersebut diputar naik sedikit dengan rusuk B sebagai
sumbu perputarannya, maka gaya tekanan N akan pindah ke B, dan dalam keadaan ini
akan pindah ke B, dan dalam keadan ini akan timbul suatu koppel dengan gaya-gaya
G dan N yang berputar ke kanan ( G = N ) sehingga balok tersebut kembali
keseimbangannya semula yaitu seimbang stabil.
Keseimbangan labil : kesetimbangan yang dialami benda, di mana jika pada benda
diberikan ganguan yang mengakibatkan posisi benda berubah, dan setelah gangguan
tersebut dihilangkan maka benda tidak kembali ke posisi semula.
Sebuah pararel epipedum miring ( balok miring ) yang bidang diagonalnya AB
tegak lurus pada bidang alasnya diletakkan diatas bidang datar, maka ia dalam
keadaan ini setimbang labil, gaya berat G dan gaya tekanan N yang masing-masing
melalui rusuk B dari balok tersebut terletak pada satu garis lurus.

Titik tangkap gaya tekanan N ada pada rusuk N. Kalau balok tersebut diputar naik
sedikit dengan rusuk B sebagai sumbu putarnya, maka gaya tekanan N yang berputar
kekiri ( G = N ), sehingga balok tersebut akan turun kebawah dan tidak kembali lagi
kekesetimbangannya semula.
Keseimbangan indiferen : kesetimbangan yang dialami benda di mana jika pada
benda diberikan gangguan yang mengakibatkan posisi benda berubah, dan setelah
gangguan tersebut dihilangkan, benda tidak kembali ke posisi semula, namun tidak
mengubah kedudukan titik beratnya.
Sebuah bola diletakkan diatas bidang datar ia dalam keadaan ini seimbang indiferen.

Kalau bola dipindah / diputar, maka gaya berat G dan gaya tekanan N akan tetap pada
satu garis lurus seperti semula ( tidak terjadi koppel ), sehingga bola berpindah /
berputar bagaimanapun juga ia akan tetap seimbang pada kedudukan yang baru.
Pengertian pusat massa
Benda tegar dianggap tersusun dari banyak partikel dan massa sebuah benda
merupakan jumlah massa masing-masing partikel penyusun benda tersebut. Pusat
massa adalah sebuah titik pada benda di mana massa semua partikel penyusun benda
dianggap terpusat pada titik tersebut.
Rumus pusat massa
Setiap benda tegar dianggap tersusun dari banyak partikel di mana jarak antara setiap
partikel sama. Walaupun demikian, untuk mempermudah penurunan rumus
menentukan pusat massa, dibuat penyederhanaan dengan menganggap benda tegar
hanya terdiri dari dua partikel. Kedua partikel ini dapat disebut sistem benda tegar.

m1 = massa partikel 1, m2 = massa partikel 2. Kedua partikel berada pada sumbu x.


Partikel 1 berjarak x1 dari sumbu y dan partikel 2 berjarak x2 dari sumbu y. Pusat
massa disingkat PM. Kedua partikel terletak pada sumbu x karenanya pusat massa
kedua partikel ditulis xPM.

m = m1 + m2 = massa total kedua partikel. Pusat massa terletak di antara kedua


partikel itu. Jika m1 + m2 = m maka pusat massa tepat berada di tengah-tengah kedua

partikel. Secara matematis, persamaannya dapat diubah menjadi :

Jika m1 > m2 maka letak pusat massa lebih dekat dengan m1. Sebaliknya jika m2 >
m1 maka letak pusat massa lebih dekat m2. Persamaan di atas hanya berlaku untuk
satu dimensi, di mana partikel berada pada salah satu sumbu koordinat (sumbu x).
Apabila kedua partikel berada dalam sebuah bidang (2 dimensi) maka kita dapat
menambahkan persamaan pusat massa untuk koordinat y.

Rumus di atas terbatas pada dua partikel. Jika terdapat banyak partikel maka
kita bisa memperluas rumusnya. Rumus untuk koordinat x :

Rumus untuk koordinat y :

Rumus untuk koordinat z :

Jika partikel-partikel terletak pada suatu bidang (dua dimensi) maka pusat massa
benda berada di antara xPM dan yPM. Sebaliknya jika partikel-partikel terletak dalam
suatu ruang (tiga dimensi) maka pusat massa benda berada di antara xPM, yPM dan zPM.
TITIK BERAT
Setiap partikel dalam suatu benda memiliki berat. Berat seluruh benda adalah resultan
dari semua gaya gravitasi berarah vertikal ke bawah dari semua partikel ini. Titik
berat merupakan titik di mana gaya berat bekerja secara efektif.Resultan ini bekerja
melalui suatu titik tunggal, yang disebut titik berat (Pusat gravitasi).

Koordinat titik berat dapat dihitung dengan rumus sbb :

tersebut

Bila benda berada pada medan gravitasi yang homogen, maka persamaan
dapat ditulis menjadi :

Untuk benda dalam satu dimensi rumus diatas dapat ditulis menjadi :

Untuk benda dalam dua dimensi rumus diatas dapat ditulis menjadi :

Untuk benda dalam tiga dimensi rumus diatas dapat ditulis menjadi :

Untuk bendasimetris letak titik beratnya dapat dilihat pada tabel berikut:

benda yang bentuknya

VI.
MODEL/PENDEKATAN/METODE/STRATEGI PEMBELAJARAN
Model
: Project base learning, dan jigsaw.
Metode
: Discovery learning, demonstrasi , eksperimen, dan diskusi kelompok.
Pendekatan
: Scientific approach.
Strategi
:
Mengamati demonstrasi mendorong benda dengan posisi gaya yang berbeda-beda
untuk mendefinisikan momen gaya.
Mendiskusikan penerapan keseimbangan benda titik, benda tegar dengan
menggunakan resultan gaya dan momen gaya, penerapan konsep momen inersia,
dinamika rotasi, dan penerapan hukum kekekalan momentum pada gerak rotasi.

Mengolah data hasil percobaan ke dalam grafik, menentukan persamaan grafik,


menginterpretasi data dan grafik untuk menentukan karakteristik keseimbangan
benda tegar
Mempresentasikan hasil percobaan tentang titik berat

VII. KEGIATAN PEMBELAJARAN


Tabel 1.1 Aktivitas Kegiatan Pembelajaran Pertemuan II
No
Aktivitas Pembelajaran
Waktu
A
Pendahuluan
10 menit
1
Berdoa dan mengabsensi.
2
Memberi motivasi kepada peserta didik.
3
Guru mengecek kemampuan prasyarat peserta didik berdasarkan pertemuan I
yaitu tentang torsi, momen inersia, titik berat, dan momentum sudut pada
benda tegar.
4
Guru menginformasikan tujuan yang akan dicapai pada pertemuan II.
B
1
2
3
4

5
6
7
8
9
10

11

C
12
13
14
15

Kegiatan Inti
70 menit
Guru melakukan demonstrasi/menampilkan vidio mengenai konsep titik berat.
Peserta didik setelah melihat demonstrasi/vidio dari guru, menanggapi hal
tersebut.
Siswa mengetahui tujuan, hipotesis, dan rumusan masalah percobaan konsep
titik berat pada benda homogen yang akan dilakukan.
Mempersiapkan lembar kerja, alat dan bahan untuk membuat karya yang
menerapkan konsep titik berat pada benda homogen (pada pertemuan I guru
meminta siswa untuk menyiapkan eksperimen). Menjelaskan alat dan bahan
yang digunakan.
Memberitahukan langkah kerja membuat karya yang menerapkan konsep titik
berat pada benda homogen.
Melakukan pembuatan karya yang menerapkan konsep titik berat pada benda
homogen
Peserta didik mengisi lembar kerja
Peserta didik setelah melakukan percobaan diarahkan oleh guru untuk
2
menganalisis berkelompok mengenai hasil percobaan.
Setelah selesai berdiskusi peserta didik perkelompok membacakan hasil
3
diskusi.
Memberi kesempatan kepada tiap kelompok untuk menanggapi hasil diskusi
kelompok yang telah membacakan hasil diskusi berupa pertanyaan, masukan
atau perbaikan
Guru memberikan klarifikasi dan memberikan penguatan pada materi yang
telah di diskusikan.
Penutup
Bersama-sama dengan peserta didik menyimpulkan hasil diskusi
Hasil diskusi dikumpulkan untuk di evaluasi
Guru memberikan evaluasi tertulis
Memotivasi siswa dan penutup

10 menit

VIII. MEDIA, ALAT DAN SUMBER PEMBELAJARAN

IX.
No
.
1.
2.
3.

Media
Alat

: Cetak dan elektronik (internet)


: Karton/kardus, Gunting /Cutter, Statip, Penggaris, Benang, Alat
pelubang, Beban, Jarum.
Sumber Belajar : Lembar kerja siswa, buku pegangan Fisika jilid 1, Buku Fisika
Penunjang Aktivitas Peserta didik, hands out, Panduan Praktikum
Fisika SMA, e-dukasi.net.
SUMBER PENILAIAN

Teknik Penilaian Bentuk Instrumen

Instrumen Penilaian

Observasi
Penugasan
Portofolio

Lembar pengamatan sikap dan psikomotorik


Soal Ujian Kompetensi
Lembar Percobaan

Checklist
Uraian/Pilihan Ganda
Laporan Percobaan

Jakarta,.
Guru Mata Pelajaran

(Pimpinan satuan pendidikan)


Fisika

NIP.

Lampiran 1

NIP.

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)


LEMBAR KERJA SISWA I

Namasiswa
Kelas
No. Absen

:
:
:

A Tujuan: Menentukan titik berat pada benda homogen melalui percobaan


B Alat dan bahan
1 Karton/kardus
2 Statip
3 Benang
4 Beban

5) Gunting /Cutter
6) Penggaris
7) Alat pelubang
8) Jarum

C Prosedur Percobaan
1 Siapkan statip, benang, jarum, dan beban serta karton dengan bentuk yang sudah
ditentukan. Rangkailah!

1
2
3

2 Buat tiga buah lubang pada pinggir potongan karton itu.


3 Gantungkan potongan karton dengan memasukkan lobang ke-1 ke dalam jarum yang
berada pada statip yang sudah disediakan.
4 Ikatkan benang yang sudah diberi beban pada jarum.
5 Jika sistem sudah setimbang, tanda 2 titik yang berimpit dengan benang dan buatlah
garis.
6 Ulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk lobang ke-2
7 Ulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk lobang ke-3
8 Ulangi langkah 2 sampai 7 untuk potongan karton yang lain.
D Data Percobaan
No
1

Benda

Titik Berat
Terhadap sb-X
Terhadap sb-Y
(cm)
(cm)

Rumus

Diskusi
1 Bandingkan dengan teori untuk titik berat bentuk L!

Buatlah persamaan umum untuk titik berat!

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

Namasiswa
Kelas
No. Absen

:
:
:

A Tujuan
Menentukan titik berat pada benda homogen melalui perhitungan
B Alat dan bahan
a Beban (w)
d. Gunting / Cutter
f. Penggaris
b Karton
e. Pensil/bolpoint
g. Benang
c Lidi
C Set-up percobaan

D Prosedur percobaan
1 Buatlah garis sembarang (DD) yang melewati titik berat (Z) !
2 Ukur jarak titik A terhadap garis DD (seperti pada gambar), lambangkan dengan xA.
Ulangi langkah tersebut untuk titik B dan C!
E Data pengamatan
Titik
X (terhadap garis
DD)
Z
Xz =
A
XA =
B
XB =
C
XC =
LEMBAR DISKUSI
Berdasarkan kegiatan 2.
1 Hitunglah jumlah momen gaya () benda terhadap titik Z!

2 Hitunglah jumlah momen gaya () oleh masing-masing berat partikel!

3 Pada sistem tersebut, berapa besar resultan gayanya? (dalam kasus ini, resultan
gayanya adalah resultan gaya tegang tali T dengan gaya berat w). Bagaimanakah
besar, arah dan garis kerja kedua gaya tersebut?

4 Dari jawaban no 1, 2, dan 3, bagaimana kesimpulanmu tentang hasil kegiatan 1?


Apakah posisi titik berat yang kalian temukan dari kegiatan 1 sudah sesuai dengan
penentuan titik berat dari kegiatan 2? Jelaskan jawabanmu!

F Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan menentukan titik berat melalui percobaan dan perhitungan, buatlah
kesimpulan tentang titik berat dan hubungannya dengan syarat kesetimbangan!

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

Namasiswa
Kelas
No. Absen

:
:
:

A. Tujuan
Menyelidiki syarat-syarat keseimbangan untuk sebuah benda tegar
B. Alat dan bahan
Batang kayu homogen (+ 20 cm), statif (2 buah), penjepit (4 buah), katrol (2 buah),
benang jahit, beban dan penggantung (3 set), jarum pentul berwarna, neraca pegas, papan
triplek, kertas grafik mm, paku payung/selotip.
C. Set-up percobaan

D. Prosedur percobaan
1 Susun alat-alat seperti gambar di atas.
2 Gantungkan batang AB atur beban m1, m2, dan m3 sedemikian sehingga posisi batang
AB seperti pada gambar
3 Tandailah titik-titik A, B, C, D, E dan F pada kertas grafik
4 Lepaskan kertas grafik dari papan triplek
5 Timbanglah berat batang AB (disebut Wo) berat beban m1 (disebut W1) dan berat
beban m2 (disebut W2) dan berat beban m3 (disebut w3)

E Data pengamatan
Wo = . N
W1 = . N
W2 = . N
W3 = ..... N

T1
T1
y

A
T1
C

L1

T2

L3

Ty

D
L2

Gambarkan vektor-vektor gaya T1, T2, W1 gambar B dengan panjang sesuai dengan
W0
berat gaya masing-masing!
T2

W3
x

Uraikan gaya itu masing-masing menjadi komponen horizontal dan komponen


vertical!
Uraian gaya
Uraian gaya
Momen gaya terhadap
Besarnya
Lengan
1
Momen
Gaya
pada sb.X (Fx) pada sb.Y (Fy)
gaya
(m)
(Nm)
(N)
(N)
T1
T2
W1
W3
Fx
=
Fy
=
FMomen
=
Sebutkan factor-faktor pengganggu apa saja yang dapat mempengaruhi hasil
eksperimen!

Bagaimana pendapatmu mengenai nilai-nilai Fx, Fy, FMomen dari hasil di atas?

Batang AB diam, berarti dalam keadaan.

F Kesimpulan

Seandainya factor-faktor pengganggu tersebut di atas dapat kita hilangkan, syarat-syarat


yang harus dipenuhi agar benda dalam keadaan seimbang
1 Fx
= .
2 Fy
= .
3 FMomen
= .
Ini dikenal sebagai syarat keseimbangan benda tegar.

Lampiran 2 ( Contoh instrument evaluasi)


1. Dua roda mempunyai pusat yang sama. Jika kecepatan roda pertama 3 kali dari roda
kedua, perbandingan jari jari roda pertama dan roda kedua adalah. . . .
a.
1:1
d. 3 : 1
b. 1: 3
e. 3 : 2

c.
2:3
2. Pada gambar di samping besar tegangan tali P adalah . . . .
a. 100 newton
b. 180 newton
c. 210 newton
d. 300 newton
e. 400 newton
C

B
beban

3.

Pada sistem kesetimbangan benda tegar seperti tampak pada


gambar. AB batang homogen panjang 80 cm, beratnya 18 N, berat beban = 30 N, BC
adalah tali. Jika jarak AC = 60 cm, tegangan pada tali adalah . . . .

a. 36 N
b. 48 N
c. 50N

d. 65 N
e. 80 N

Lampiran 3 (Lembar Pengamatan Sikap)


LEMBAR PENGAMATAN OBSERVASI/untuk sikap
Mata Pelajaran
Kelas/Bidang

: Fisika
: X /Kesetimbangan dan Dinamika Rotasi
Observasi

No

Nama Peserta didik

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Ak
t
(1)

Dis
l
(2)

Kinerja Presentasi
Kerjsm

Prnsrt

Visual Isi

(3)

(4)

(5)

(6)

Jml
Nilai
Skor

18.
19.
20.
Keterangan :

Nilaiakhir

4 = selalu
3 = sering
2 = Jarang
1 = Tidak pernah

jumlahskoryangdidapa t
x100%
jumlahskormaksimum

Lampiran 4 (Rubrik Penilaian Kinerja)


RUBRIK PENILAIAN KINERJA
Mata Pelajaran
Kelas/Bidang

: Fisika
: XI/Kesetimbangan Benda Tegar

Skor

Kemampuan/Ketera
mpilan yang dinilai
skor

Peserta
didik
mempunyai
pemahaman
yang
jelas tentang maksud
tugas yang diberikan

Peserta didik membutuhkan


sedikit
bantuan
untuk
memahami tujuan kegiatan,
tugas atau percobaan

Peserta didik banyak


bergantung pada bantuan

Kemampuan
mengorganisasi
Tugas, Kerja, atau
Kegiatan
Ia
mampu
mengorganisasikan tugas
dengan cara yang logis
sesuai dengan suruhan yang
diberikan
Ia mampu
mengikuti
instruksi, tapi mmbutuhkan
beberapa bantuan dalam
mengembangkan prosedur
kerja/kegiatan yang logis
Bantuan tetap dibutuhkan
walaupun dalam instruksi

Peran serta
dalam
diskusi
Peserta
didik
berperan aktif di
dalam
diskusi
kelompok,
menyumbangkan
pemikirannya
Ia berperan aktif
dalam
kelompok,
tetapi sebatas hanya
sebagai pengamat
Peserta didik hanya
menjadi pengamat,

dan
dukungan
agar
mampu memahami tujuan
tugas/kegiatan
yang
diberikan,
dan
melakukannya.
Tidak memahami tujuan
kegiatan,
tugas
atau
percobaan yang diberikan
serta
tidak
mampu
melaksanakan
walaupun
dengan bantuan

yang
sederhana.
Ketidaktepatan
dalam
pengamatan,
pengukuran
atau unsur unsur hasil
kerja
Peserta didik tidak mampu
mengikuti suruhan/instruksi
dari tugas yang diberikan

tanpa
berusaha
untuk
ikut
mengambil
peran
dalam
diskusi
kelompok
Peserta didik diam
membisu
seribu
bahasa
dan
cenderung pasif

Lampiran 5 (Lembar Penilaian Kinerja)


LEMBAR PENILAIAN KINERJA

Mata Pelajaran : Fisika


Kelas/Bidang
: XI/Kesetimbangan Benda Tegar
KELOMP
NO
NAMA
PESERTA KETER
OK
DIDIK
AMPIL
AN
1
2
1
3
4
5
1
2
2
3
4
5
1
2
3
3
4
5

KERJA
ILMIA
H

DISK
USI

JUMLAH
SKOR

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

Lampiran 6 (Lembar Penilaian Kognitif)


LEMBAR PENILAIAN KOGNITIF

Mata Pelajaran
Kelas/Bidang

: Fisika
: XI/Kesetimbangan Benda Tegar
NOMOR SOAL

Nilai
Akhir

NAMA

NO

1
1
2
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20