Anda di halaman 1dari 12

SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

Disusun Oleh :

ISMAIL
(D121 13 020)

PRGORAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015

A. KOAGULASI
Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel koloid,
suspended solid halus dengan penambahan koagulan disertai dengan pengadukan
cepat untuk mendispersikan bahan kimia secara merata. Dalam suatu suspensi,
koloid tidak mengendap (bersifat stabil) dan terpelihara dalam keadaan
terdispersi, karena mempunyai gaya elektrostatis yang diperolehnya dari ionisasi
bagian permukaan serta adsorpsi ion-ion dari larutan sekitar. Pada dasarnya
koloid terbagi dua, yakni koloid hidrofilik yang bersifat mudah larut dalam air
(soluble) dan koloid hidrofobik yang bersifat sukar larut dalam air (insoluble).
Bila koagulan ditambahkan ke dalam air, reaksi yang terjadi antara lain adalah:
-

Pengurangan zeta potensial (potensial elektrostatis) hingga suatu titik di


mana gaya van der walls dan agitasi yang diberikan menyebabkan partikel

yang tidak stabil bergabung serta membentuk flok;


Agregasi partikel melalui rangkaian inter partikulat antara grup-grup

reaktif pada koloid;


Penangkapan partikel koloid negatif oleh flok-flok hidroksida yang
mengendap.
Untuk suspensi encer laju koagulasi rendah karena konsentrasi koloid

yang rendah sehingga kontak antar partikel tidak memadai, bila digunakan dosis
koagulan yang terlalu besar akan mengakibatkan restabilisasi koloid. Untuk
mengatasi hal ini, agar konsentrasi koloid berada pada titik dimana flok-flok
dapat terbentuk dengan baik, maka dilakukan proses recycle sejumlah settled
sludge sebelum atau sesudah rapid mixing dilakukan. Tindakan ini sudah umum
dilakukan pada banyak instalasi untuk meningkatkan efektifitas pengolahan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi antara lain:
1. Kualitas air meliputi gas-gas terlarut, warna, kekeruhan, rasa, bau, dan
2.
3.
4.
5.

kesadahan;
Jumlah dan karakteristik koloid;
Derajat keasaman air (pH);
Pengadukan cepat, dan kecepatan paddle;
Temperatur air;

6. Alkalinitas air, bila terlalu rendah ditambah dengan pembubuhan kapur;


7. Karakteristik ion-ion dalam air.
8.
Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek di lapangan adalah
alumunium sulfat [Al2(SO4)3], karena mudah diperoleh dan harganya relatif lebih
murah dibandingk dengan jenis koagulan lain. Sedangkan kapur untuk pengontrol
pH air yang paling lazim dipakai adalah kapur tohor (CaCO3). Agar proses
pencampuran koagulan berlangsung efektif dibutuhkan derajat pengadukan >
500/detik, nilai ini disebut dengan gradien kecepatan (G).
Untuk mencapai derajat pengadukan yang memadai, berbagai cara
pengadukan dapat dilakukan, diantaranya:
1. Pengadukan Mekanis
Dapat dilakukan menggunakan turbine impeller, propeller, atau paddle
impeller.
2. Pengadukan Pneumatis
Sistem ini menggunakan penginjeksian udara dengan kompresor pada
bagian bawah bak koagulasi. Gradien kecepatan diperoleh dengan
pengaturan flow rate udara yang diinjeksikan.
3. Pengadukan hidrolis
Pengadukan cepat menggunakan sistem hidrolis dilakukan dengan
berbagai cara, diantaranya melalui terjunan air, aliran air dalam pipa, dan
aliran dalam saluran. Nilai gradien kecepatan dihitung berdasarkan
persamaan sebelumnya. Sementara besar headloss masing-masing tipe
pengadukan hidrolis berbeda-beda tergantung pada sistem hidrolis yang
dipakai. Untuk pengadukan secara hidrolis, besar nilai headloss yang
digunakan sangat mempengaruhi efektifitas pengadukan. Nilai headloss
ditentukan menurut tipe pengadukan yang digunakan, yaitu terjunan air,
aliran dalam pipa, atau aliran dalam saluran (baffle).
a. Terjunan hidrolis
Metode pengadukan terjunan air merupakan metode pengadukan
hidrolis yang simple dalam operasional. Besar headloss selama
pengadukan dipengaruhi oleh tinggi jarak terjunan yang dirancang.
Metode ini tidak membutuhkan peralatan yang bergerak dan semua
peralatan yang digunakan berupa peralatan diam/statis.

b. Aliran dalam pipa


Salah satu metoda pengadukan cepat yang paling ekonomis dan simple
adalah pengadukan melalui aliran dalam pipa. Metoda ini sangat
banyak digunakan pada instalasi-instalasi berukuran kecil dengan
tujuan menghemat biaya operasional dan pemeliharaan alat. Efektivitas
pengadukan dipengaruhi oleh debit, jenis dan diameter pipa, dan
panjang pipa pengaduk yang digunakan.
c. Aliran dalam saluran (baffle)
Bentuk aliran dalam saluran baffle ada dua macam, yang paling umum
digunakan yaitu pola aliran mendatar (round end baffle channel) dan
pola aliran vertikal (over and under baffle).
Operasional dan Pemeliharaan.
-

Pemeriksaan kualitas air baku di laboratorium instalasi sangat diperlukan


untuk menentukan dosis koagulan yang tepat, pemeriksaan yang perlu
dilakukan diantaranya mengukur kekeruhan air (turbidity) dan derajat
keasaman (pH) air baku. Dosis koagulan ditentukan berdasarkan
percobaan jar-test, sedangkan pH air baku ditentukan dengan komparator

pH;
Pengontrolan debit koagulan yang masuk ke splitter box dilakukan setiap

jam oleh operator instalasi;


Pemeriksaan clogging pada saluran/pipa feeding dan pompa pembubuh
larutan koagulan dilakukan setiap harinya oleh operator instalasi, dan
pemeriksaan clogging pada orifice diffuser.

JENIS-JENIS KOAGULAN
1. Alumunium sulfat ( Al 2 ( SO 4 3 .14 H 2 O )
Biasanya disebut tawas, bahan ini sering dipakai karena efektif untuk
menurunkan kadar karbonat. Tawas berbentuk kristal atau bubuk putih, larut
dalam air, tidak larut dalam alkohol, tidak mudah terbakar, ekonomis,

mudah didapat dan mudah disimpan. Penggunaan tawas memiliki


keuntungan yaitu harga relatif murah dan sudah dikenal luas oleh operator
water treatment. Namun Ada juga kerugiannya, yaitu umumnya dipasok
dalam bentuk padatan sehingga perlu waktu yang lama untuk proses
pelarutan.
2. Sodium aluminate ( NaAl O2 )
Digunakan dalam kondisi khusus karena harganya yang relatif mahal.
Biasanya digunakan sebagai koagulan sekunder untuk menghilangkan
warna dan dalam proses pelunakan air dengan lime soda ash.
3. Ferrous sulfate ( Fe SO 4 .7 H 2 O

Dikenal sebagai Copperas, bentuk umumnya adalah granular. Ferrous


Sulfate dan lime sangat efektif untuk proses penjernihan air dengan pH
tinggi (pH > 10).
4. Chlorinated copperas
Dibuat dengan menambahkan klorin untuk mengioksidasi Ferrous Sulfate.
Keuntungan penggunaan koagulan ini adalah dapat bekerja pada jangkauan
pH 4,8 hingga 11.
5. Ferrie sulfate ( Fe2( SO 4 )3)
Mampu untuk menghilangkan warna pada pH rendah dan tinggi serta dapat
menghilangkan Fe dan Mn.

6. Ferrie chloride ( Fe Cl3 .6 H 2 O

Dalam pengolahan air penggunaannya terbatas karena bersifat korosif dan


tidak tahan untuk penyimpanan yang terlalu lama.

PROSES KOAGULASI

Proses koagulasi yaitu partikel koloid yang bermuatan sama dinetralisir melalui
koagulan.
Tahap-tahap koagulasi:
1) Rapid mixing , yaitu adanya tumbukan menjadi netralisasi sempurna
distribusi koagulan merata.
2) Netralisasi muatan
3) Tumbukan partikel

DESAIN KOAGULASI
... (1)
... (2)

... (3)
... (4)
Keterangan:
td

= waktu detensi, detik

= volume reaktor, m3

= debit aliran air, m3

= gradien kecepatan, dt-1

= viskositas kinematik, N-m-dt/kg

= viskositas dinamik pada 30 C, 0.798 103 N-dt/m2

= percepatan gravitasi, 9.81 m/dt2

= massa jenis air pada suhu air di Indonesia, 995.7 kg/m3

= beda tinggi tekanan, m

= Kecepatan aliran, m/dt

= jari-jari hidrolik, m

B. FLOKULASI
Proses flokulasi dalam pengolahan air bertujuan untuk mempercepat
proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada proses koagulasi.
Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan serta
melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang ukurannya makin lama
makin besar serta mudah mengendap. Gradien kecepatan merupakan faktor
penting dalam desain bak flokulasi. Jika nilai gradien terlalu besar maka gaya
geser yang timbul akan mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradien
terlalu rendah/tidak memadai maka proses penggabungan antar partikulat tidak
akan terjadi dan flok besar serta mudah mengendap akan sulit dihasilkan. Untuk
itu nilai gradien kecepatan proses flokulasi dianjurkan berkisar antara 90/detik
hingga 30/detik. Untuk mendapatkan flok yang besar dan mudah mengendap
maka bak flokulasi dibagi atas tiga kompartemen, dimana pada kompertemen
pertama terjadi proses pendewasaan flok, pada kompartemen kedua terjadi proses
penggabungan flok, dan pada kompartemen ketiga terjadi pemadatan flok.
Pengadukan lambat (agitasi) pada proses flokulasi dapat dilakukan dengan
metoda yang sama dengan pengadukan cepat pada proses koagulasi,
perbedaannya terletak pada nilai gradien kecepatan di mana pada proses flokulasi
nilai gradien jauh lebih kecil dibanding gradien kecepatan koagulasi.
Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Flokulasi
1. Suhu
Suhu berkaitan dengan pH optimal cairan, di mana proses koagulasi
dinyatakan dapat berjalan baik jika pH air baku olahan (ABO) berkisar 810. Jika ABO tidak dalam kisaran tersebut maka penambahan koagulan ke
dalam ABO tidak ekonomis karena koagulan tidak bekerja optimal.
2. Bentuk koagulan
Secara ekonomis, laju pencampuran akan lebih efektif jika koagulan
diberikan pada keadaan cair dibandingkan dalam bentuk padat.
3. Tingkat kekeruhan

Pada tingkat kekeruhan rendah, destabilisasi sulit terjadi. Jadi akan lebih
mudah jika koagulasi dilakukan pada tingkat kekeruhan yang tinggi.

4. Kecepatan pengadukan
Pengadukan bertujuan untuk mempercepat kontak antara kandungan
suspensi (koloid) dalam ABO dengan koagulan yang ditambahkan. Jika
pengadukan lambat, pengikatan akan berlangsung tepat sasaran sehingga
flok yang terbentuk juga sedikit dan akibatnya proses penjernihan tidak
maksimal. Demikian halnya jika pengadukan berlangsung terlalu cepat,
maka kemungkinan flok yang terbentuk akan terurai kembali.
Operasional dan Pemeliharaan.
-

Penyisihan schum yang mengapung pada bak flokulasi dilakukan setiap


hari secara manual menggunakan alat sederhana (jala), biasanya dilakukan

pada pagi hari;


Pengontrolan ukuran flok yang terbentuk melalui pengamatan visual;
Pemeriksaan kemungkinan tumbuhnya algae pada dinding tangki dan

baffle;
Pengontrolan kecepatan mixer jika pengadukan dilakukan menggunakan
mechanical mixer. Pengoperasian mixer membutuhkan perawatan yang
lebih besar dari penggunaan flokulator baffle;

Jenis Jenis Flokulasi


-

Kopolimer dari akrilamida dan N,Ndimetil amino propilen akrilat


Sifat muatan elektrostatik : Ionik
Sifat : Kopolimer yang linier dan kationik kepadatan muatanelektrostatik
tergantung dari status kopolomerisasi (n/m + n) dan pH,membentuk jarak
yang sensitif terhadap hidrolisab.

Poli (Natriumakrilat)
Sifat muatan elektrostatik : Anionik
Sifat : Polimer yang paling pentinganionik dan segmen linier dalam
kopolimer dengan akril amida dan anionik.

Poli akrilamida
Sifat muatan elektrostatik : Nonionogen
Sifat : Mol ekul yang sangat panjang dan linier yang dikenal sebagai
flokulan pembantu yang ionogen. Zat polimer itu sangat cocok
berdasarkan struktur kimia untuk membantu dalam proses flokulasi dan
untuk mempengaruhi sifat flok. Pembubuhan koagulan/flokulan pembantu
dilakukan setelah pembubuhan koagulan.

PROSES FLOKULASI

Setelah proses koagulasi, partikelpartikel terdestabilisasi dapat saling


bertumbukan membentuk agregat sehingga terbentuk flok, tahap ini disebut
Flokulasi. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi ( penggumpalan ) partikelpartikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat
dipisahkan oleh proses sedimentasi dan filtrasi. Dengan kata lain proses flokulasi
adalah adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestablisasi atau mikroflok)
menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar ( makroflok ).
Flokulator berjalan dengan kecepatan lambat dengan maksud terjadi
pembentukan flok yang siap untuk diendapkan. Di dalam proses flokulasi ini
pengadukan dilakukan secara bertahap yaitu dari kekuatan besar kemudian
mengecil supaya flok yang sudah dibentuk tidak terpecah kembali.
Terdapat 2 perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
1. Flokulasi perikinetik
Adalah Aglomerasi

partikel-partikel

sampai

ukuran

dengan

mengandalkan gerakan Brownian, biasanya koagulan ditambahkan untuk


meningkatkan flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi ortokinetik
Adalah Aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran diatas 1 m, dimana
gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel,
tetapi memerlukan pengaduk buatan ( artificial mixing ). dapat dikurangi
dengan proses koagulasi (proses destabilisasi) melalui penambahan bahan
kimia dengan muatan berlawanan. Terjadinya muatan pada partikel
menyebabkan antar partikel yang berlawanan cenderung bergabung
membentuk inti flok. Proses koagulasi selalu diikuti oleh proses flokulasi,
yaitu penggabungan inti flok atau flok kecil menjadi flok yang berukuran
besar.

DESAIN FLOKULASI

(5)

.......

(6)

...........

(7)

Keterangan:
G

= gradient kecepatan, dt-1

= daya atau power, N-m/dt

= viskositas dinamik pada 30 C, 0.798 103 N-dt/m2

= volume reaktor, m3

NRe

= bilangan Reynolds

= diameterimpeller, m

= kecepatan impeller, rps

= massa jenis air pada suhu air di Indonesia, 995.7 kg/m3

Np

= nilai tenaga dari impeller