Anda di halaman 1dari 21

TUGAS PKPA

KESESUAIAN FORMULARIUM RSUD RA KARTINI JEPARA DENGAN


DAFTAR OBAT ESSENSIAL NASIONAL DAN FORMULARIUM NASIONAL

PRESEPTOR :
PRIDA KRISMAWATI, S.Farm., Apt

Disusunoleh:
Chadratun Na'imah
(155020062)
DhiyaulHasyimi
(155020095)
Dewi Pramesti
(155020104)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Undang - Undang No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan

Sosial

(BPJS)

menyatakan

bahwa

BPJS

Kesehatan

mulai

menyelenggarakan program JKN pada tanggal 1 Januari 2014. Selain itu,


Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan
pada JKN menyatakan bahwa pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai yang diberikan kepada peserta berpedoman pada daftar yang
ditetapkan oleh Menteri yang dituangkan dalam Formularium Nasional dan
Kompendium Alat Kesehatan sehingga diperlukan pemantauan kesesuaian obat
yang diresepkan dengan daftar obat dalam Formularium Nasional sebagai
kendali mutu dan kendali biaya pada fasilitas pelayanan kesehatan.
Untuk mendukung terlaksananya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
yang mengacu pada penggunaan obat yang rasional, maka diperlukan suatu
sistem formularium yang bersifat nasional. Apoteker sebagai tenaga penunjang
kesehatan harus dapat menunjang informasi terkait obat yang akan masuk dalam
formularium nasional. Salah satu pendekatan medik yang digunakan untuk
penelusuran bukti ilmiah terkait obat-obatan maupun hal lain yang berhubungan
dengan

kepentingan

pelayanan

kesehatan

adalah Evidance

Based

Medicine (EBM). Telaah kritis terhadap literatur yang berkaitan dengan suatu
obat dilakukan untuk mempermudah pengambilan keputusan dalam menyusun
formularium nasional.
Formularium Nasional (Fornas) adalah daftar obat yang disusun
berdasarkan bukti ilmiah mutakhir oleh Komite Nasional Penyusunan Fornas.
Obat yang masuk dalam daftar obat Fornas adalah obat yang paling berkhasiat,
aman, dan dengan harga terjangkau yang disediakan serta digunakan sebagai
acuan untuk penulisan resep dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Selain itu, Fornas adalah bagian dari SJSN. Oleh karena itu, perlu disusun suatu
daftar obat yang digunakan sebagai acuan nasional penggunaan obat dalam

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

pelayanan kesehatan SJSN untuk menjamin aksesibilitas keterjangkauan dan


penggunaan obat secara nasional dalam Formularium Nasional.
Formularium rumah sakit ditentukan oleh Panitia Farmasi dan Terapi
(PFT). Dalam penyusunan formularium rumah sakit ada banyak kriteria yang
dipenuhi untuk pemilihan obat esensial maupun penambahan obat. Salah satunya
adalah memiliki rasio manfaat-resiko (benefit-risk ratio) yang paling
menguntungkan penderita atau manfaat-biaya (benefit-cost ratio) atau paling
tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung dari penderita, yang
sebelumnya berdasarkan kriteria tersebut telah disusun dalam bentuk Fornas
untuk menyeragamkan terapi pengobatan di Indonesia. Identifikasi formularium
rumah sakit perlu dilakukan untuk menilai kepatuhan rumah sakit terhadap
Fornas.
B. Tujuan
Tujuan dari identifikasi ini untuk menilai kepatuhan formularium RSU RA
Kartini Jepara terhadap Formularium Nasional (Fornas) dan kesesuain
formularium RSU RA Kartini Jepara dengan Daftar Obat Essensial Nasional
(DOEN).
C. Manfaat
Mengetahui daftar obat didalam Fornas dan DOEN yang belum tercantum
di formularium RSU RA Kartini yang kemudian bisa menjadi usulan untuk
penambahan obat dalam formularium RSU RA Kartini.

D. Bahan

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

Bahan pada diskusi ini adalah formularium RSU RA Kartini tahun 2016
yang telah diberikan oleh Kepala Instalasi Farmasi RSU RA Kartini.
E. Deskripsi Kasus
Mengidentifikasi daftar obat didalam Fornas dan DOEN yang tercantum
pada formularium RSU RA Kartini, serta mendata obat Fornas dan DOEN yang
tidak tercantum pada formularium RSU RA Kartini.

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

BAB II
ISI
A. Formularium Nasional
Formularium Nasional (Fornas) adalah daftar obat yang disusun
berdasarkan bukti ilmiah mutakhir oleh Komite Nasional Penyusunan Fornas.
Obat yang masuk dalam daftar obat Fornas adalah obat yang paling berkhasiat,
aman, dan dengan harga terjangkau yang disediakan serta digunakan sebagai
acuan untuk penulisan resep dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Selain itu, Fornas adalah bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Oleh karena itu, perlu disusun suatu daftar obat yang digunakan sebagai acuan
nasional penggunaan obat dalam pelayanan kesehatan SJSN untuk menjamin
aksesibilitas keterjangkauan dan penggunaan obat secara nasional dalam
Formularium Nasional.
Pelayanan

Kesehatan

yang

diberikan

kepada

masyarakat

dalam

pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencakup pelayanan promotif,


preventif, kuratif dan rehabilitative termasuk pelayanan obat sesuai dengan
kebutuhan medis. Dalam mendukung pelaksanaan tersebut, Kementerian
Kesehatan, khususnya Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
berupaya untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan dan aksesibilitas obat
dengan menyusun Formularium Nasional (Fornas) yang akan digunakan sebagai
acuan dalam pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan, baik fasilitas
kesehatan tingkat pertama, maupun fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan.
Fornas merupakan daftar obat terpilih yang dibutuhkan dan tersedia di fasilitas
pelayanan kesehatan sebagai acuan dalam pelaksanaan JKN. Untuk mendapatkan
hasil yang optimal, maka disusunlah Pedoman Penerapan Fornas. Tujuan utama
pengaturan obat dalam Fornas adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan,
melalui peningkatan efektifitas dan efisiensi pengobatan sehingga tercapai
penggunaan obat rasional. Bagi tenaga kesehatan, Fornas bermanfaat sebagai
acuan bagi penulis resep, mengoptimalkan pelayanan kepada pasien,

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

memudahkan perencanaan, dan penyediaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan.


Dengan adanya Fornas maka pasien akan mendapatkan obat terpilih yang tepat,
berkhasiat, bermutu, aman dan terjangkau, sehingga akan tercapai derajat 2
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu obat yang
tercantum dalam Fornas harus dijamin ketersediaan dan keterjangkauannya.
B. Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN)
Konsep Obat Esensial di Indonesia mulai diperkenalkan dengan
dikeluarkannya Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang pertama pada tahun
1980, dan dengan terbitnya Kebijakan Obat Nasional pada tahun 1983.
Selanjutnya untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang kedokteran dan farmasi, serta perubahan pola penyakit, DOEN direvisi
secara berkala sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, maka DOEN akan direvisi setiap 2 (dua) tahun sekali. DOEN yang
terbit pada tahun 2013 ini merupakan revisi dari DOEN 2011.
Pada tanggal 21 Agustus 2008, Menteri Kesehatan Republik Indonesia
telah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 791/Menkes/SK/VIII/2008 tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2008.
Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) merupakan daftar yang berisikan obat
terpilih yang paling dibutuhkan dan diupayakan tersedia di unit pelayanan
kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya. DOEN merupakan dasar untuk
pedoman perencanaan dan pengadaan obat di berbagai fasilitas pelayanan
kesehatan pemerintah seperti puskesmas, rumah sakit , dan fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya baik di tingkat pusat maupun daerah (kabupaten/kota). DOEN
direvisi dan disempurnakan secara berkala setiap 3 tahun untuk menyesuaikan
dengan

kemajuan

ilmu

pengetahuan

juga

untuk

kepraktisan

dalam

penggunaannya.
Mengingat beberapa hal tersebut, maka sejak tahun 2008 revisi DOEN
mulai dirintis ke arah perbaikan tersebut. Beberapa perbaikan yang telah
dilakukan dalam proses penyusunan DOEN 2011 dan 2013, antara lain:

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

1. Pemilihan tim ahli dan konsultan telah melalui proses seleksi yang cukup
ketat, termasuk penilaian terhadap kemungkinan konflik kepentingan.
Anggota Tim Ahli dan Konsultan harus menandatangani pernyataan bebas
konflik kepentingan (conflict of interest). Hasil rapat pembahasan teknis tidak
akan dibicarakan kembali di luar forum dengan pihak manapun (confidential).
2. Dalam proses penyusunan DOEN ini pengelola program di lingkungan
Kementerian Kesehatan telah terlibat secara aktif, mengingat pentingnya
peran DOEN dalam penyediaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan untuk
mendukung pelaksanaan program. Untuk itu obat yang digunakan dalam
program yang telah memenuhi kriteria obat esensial dicantumkan dalam
DOEN.
3. Selain pendapat dan pengalaman para ahli, pemanfaatan data bukti ilmiah
terkini (evidence based medicine) sangat diutamakan.
4. Revisi bersifat menyeluruh dalam arti mengkaji seluruh obat dan bentuk
formulasinya dalam DOEN sebelumnya, termasuk catatancatatan yang sudah
tidak sesuai lagi.
5. Adanya transparansi dalam keseluruhan proses penyusunan, termasuk
prosedur pelaksanaan dan kriteria pemilihan obat. Bentuk transparansi juga
ditunjukkan dengan adanya penjelasan tentang beberapa alasan mengapa
suatu obat perlu dikeluarkan dan ditambahkan, ataupun adanya perubahan
bentuk sediaan dan kekuatan.
6. Daftar obat esensial WHO edisi terakhir juga dijadikan sebagai acuan
pertimbangan dalam proses pemilihan obat. Tidak semua obat yang tercantum
dalam WHO Essential Medicines List (EML) dimasukkan dalam DOEN.
7. Ketersediaan obat menjadi kendala utama dalam penerapan DOEN di fasilitas
kesehatan. Sehingga dalam proses pembahasan, ketersediaan obat di pasaran
menjadi salah satu pertimbangan suatu obat dimasukkan dalam DOEN. Untuk
selanjutnya draft akhir DOEN 2013 dilakukan pengecekan ulang ke data obat
yang terdaftar di BPOM.
C. Formularium Rumah Sakit

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

Formularium Rumah Sakit merupakan daftar obat yang disepakati beserta


informasinya yang harus diterapkan di rumah sakit. Formularium Rumah Sakit
disusun oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)/Komite Farmasi dan Terapi (KFT)
rumah sakit berdasarkan DOEN dan disempurnakan dengan mempertimbangkan
obat lain yang terbukti secara ilmiah dibutuhkan untuk pelayanan di rumah sakit
tersebut. Penyusunan Formularium Rumah Sakit juga mengacu pada pedoman
pengobatan yang berlaku. Penerapan Formularium Rumah Sakit harus selalu
dipantau. Hasil pemantauan dipakai untuk pelaksanaan evaluasi dan revisi agar
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

BAB III
PEMBAHASAN
Formularium Rumah Sakit disusun oleh Panitia Farmasi dan Terapi
(PFT)/Komite Farmasi dan Terapi (KFT) rumah sakit berdasarkan DOEN dan
disempurnakan dengan mempertimbangkan obat lain yang terbukti secara ilmiah
dibutuhkan untuk pelayanan di rumah sakit tersebut. PFT adalah organisasi yang
mewakili hubungan komunikasi antara para staf medik dengan staf farmasi, sehingga
anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi yang ada di rumah sakit dan
apoteker wakil dari farmasi rumah sakit, serta tenaga kesehatan lainnya.
a. Susunan kepanitiaan Panitia Farmasi dan Terapi RSUD RA Kartini menurut
Keputusan Direktur RSUD RA Kartini No. No.800/525 Tahun 2016 tanggal 2
Juli 2016 tentang pembentukan Komite Medis RSU RA. Kartini Jepara
periode 2016-2019, yaitu :
1. dr. Tri Iriantiwi (ketua)
2. Sandi Purbaningsih, M.Sc, Apt (sekretaris)
3. dr. Enny Puji Astuti, Sp.THT
4. dra. Sri Hariningsih,Apt.
5. Prida Krismawati,S.Farm, Apt.
6. Eva Dwi Wijayantie,S.Farm,Apt.
7. Endang Ratnawati,S.Kep.
b. Fungsi dan Ruang Lingkup PFT RSUD RA Kartini adalah :
1) Mengembangkan Formularium di rumah sakit dan merevisinya.
Pemilihan obat untuk dimasukkan dalam Formularium harus didasarkan
pada evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga
obat, dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok
dan produk obat yang sama
2) PFT harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru
atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medik
3) Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang
termasuk dalam kategori khusus
4) Membantu Instalasi Farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap
kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat
di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku secara nasional

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

5) Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat


6) Menyebar luaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf
c.

medik dan perawat.


Tugas apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) RSUD RA Kartini
berdasarkan Keputusan Direktur RSUD RA Kartini Nomor 445/19/XI/2013
tentang Pembentukan Panitia Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit Umum
Daerah RA Kartini, tugas PFT RSUD RA Kartini adalah :
1) Mencari data untuk pembuatan Formularium atas dasar sebagai berikut:
a) Menetapkan 10 (sepuluh) penyakit terbesar yang terbanyak di RSUD
RA Kartini
b) Menetapkan obat-obatan yang masuk dalam Formularium atas dasar
standar terapi, 10 (sepuluh) penyakit terbesar dan Formularium
Nasional
c) Dalam hal obat-obatan emergensi yang tidak terdapat generiknya dapat
diusulkan dalam Formularium
d) Mengevaluasi, memilih produk obat yang paling bermanfaat untuk
perawatan
e) Mengevaluasi, menyetujui atau menolak obat-obat yang diusulkan oleh
staf medik.
2) Mengusulkan penggunaan Formularium di rumah sakit kepada komite
medik
3) Mencetak Formularium yang telah disahkan dan membagikan pada setiap
dokter
4) Melakukan revisi Formularium sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali
5) Revisi Formularium diutamakan didasarkan pada penilaian objektif
tentang manfaat, keamanan dan biaya pengobatan
6) Membantu Instalasi Farmasi dalam mengembangkan dan meninjau
kebijaksanaan, tata tertib dan peraturan penggunaan obat-obatan di rumah
sakit sesuai dengan peraturan lokal, regional dan nasional
7) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap Formularium rumah sakit
dalam hal usulan obat baru, obat slow moving, kesesuaian Formularium

dengan standar terapi yang ada.


Formularium Rumah Sakit Umum Daerah RA Kartini

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

Formularium rumah sakit adalah daftar obat-obat terpilih yang digunakan di


rumah sakit. Formularium harus diterima atau disetujui oleh direktur rumah sakit dan
Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) untuk digunakan di rumah sakit.
Formularium disusun oleh PFT dengan usulan dari staf medik dan direvisi
setiap tahunnya, sehingga ada obat yang baru dan ada obat yang dikeluarkan dari
daftar formularium. Formularium baru minimal dicetak setiap tiga tahun sekali.
Sistem yang dipakai adalah suatu sistem dimana prosesnya tetap berjalan terus, dalam
arti bahwa sementara formularium itu digunakan oleh staf medik, dipihak lain PFT
mengadakan evaluasi dan menentukan pilihan terhadap produk obat yang ada di
pasaran, dengan lebih mempertimbangkan kesejahteraan pasien.
a. Prosedur pembuatan Formularium di RSUD RA Kartini adalah :
1) Usulan Obat dan Alkes oleh Staf Medik Fungsional (SMF) yang akan
digunakan dalam terapi diusulkan kepada Panitia Farmasi dan Terapi
(PFT)
2) Format usulan Obat dan Alkes tersebut berdasar kelas terapi yang
selanjutnya direkap oleh PFT
3) Hasil rekapan dirapatkan di PFT sebagai rencana obat yang masuk
Formularium
4) Untuk mendapatkan umpan balik, hasil rapat dikembalikan ke masingmasing SMF
5) Pengembalian dari SMF dibahas di PFT untuk ditetapkan sebagai obat
yang masuk dalam Formularium
6) Penetapan dan masa berlakunya Formularium ditetapkan oleh Direktur.
7) PFT mengadakan rapat untuk menyusun kebijakan untuk implementasinya
8) Penyusunan dan revisi Formularium dibantu aktif oleh Kepala IFRS.
Formularium di RSUD RA Kartini terakhir dibuat pada Januari 2016, dan
dijadikan sebagai pedoman pengobatan oleh semua unit di RSUD RA Kartini.
Evaluasi Formularium dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan rumah sakit untuk
mendapatkan Formularium yang mutakhir berdasarkan pertimbangan terapetik dan
ekonomi penggunaan obat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengobatan yang
rasional.

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

10

Total perbekalan farmasi yang ada di formularium RSU RA Kartini adalah


sebanyak 1083 item. Berdasarkan Hasil identifikasi (terlampir) diketahui bahwa
terdapat 122 item perbekalan farmasi yang sesuai dengan DOEN tahun 2013 dengan
persentase kepatuhan 71,1% dan terdapat 191 item perbekalan farmasi dengan
persentase kepatuhan 59%. Hal ini perlu dilakukan evaluasi terkait kepatuhan
formularium RSU RA Kartini terhadap DOEN dan Fornas.
Langkah selanjutnya adalah mengenalkan item tambahan dari DOEN dan
Fornas kepada dokter-dokter di RSU RA Kartini dan memberi pengertian bahwa item
obat tersebut merupakan standar pedoman terapi pengobatan yang ada di Indonesia.
Hal ini perlu dilakukan dengan tujuan dokter akan meresepkan obat tersebut dan
menjadikan obat-obat DOEN dan Fornas sebagai fast moving terutama pada pasien
JKN.

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

11

BAB IV
KESIMPULAN

1. DOEN dan Fornas merupakan pedoman yang dibuat oleh Pemerintah untuk
dijadikan pedoman dalam terapi pengobatan
2. Formularium Rumah Sakit disusun oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)/Komite
Farmasi dan Terapi (KFT) rumah sakit berdasarkan DOEN dan disempurnakan
dengan mempertimbangkan obat lain yang terbukti secara ilmiah dibutuhkan
untuk pelayanan di rumah sakit tersebut.
3. Terdapat 122 item perbekalan farmasi dari DOEN tahun 2013 yang tidak masuk
kedalam formularium RSU RA Kartini dengan persentase kepatuhan 71,1%
4. Terdapat 146 item perbekalan farmasi dari Fornas yang tidak masuk kedalam
formularium RSU RA Kartini tahun 2013 dengan persentase kepatuhan 62,6%

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

12

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial, Jakarta
Depkes, 2014, Keputusan Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Nomor HK.02.03/III/1346/2014 tentang Pedoman Penerapan Formularium
Nasional, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Permenkes, 2013, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
312/MENKES/SK/IX/2013 Tentang Daftar Obat Esensial Nasional,
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Permenkes, 2013, Keputusan Kesehatan Republik Indonesia Nomor
89/Menkes/SK/II/2013 tentang Formularium Program Jaminan Kesehatan
Masyarakat, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Permenkes, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
58/Menkes/SK/X/2014 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit,
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Permenkes, 2015, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.02.02/MENKES/523/2015 tentang Formularium Nasional, Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.ONAL

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

13

No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

Fornas yang tidak masuk kedalam formularium RSU RA Kartini


Nama Perbekalan Farmasi No.
Nama Perbekalan Farmasi
petidin
sufentanil
probenesid
bupivakain heavy
etil klorida
halotan
tiopental
natrium tiosulfat
neostigmin
karbo adsorben
albendazol
dietilkarbamazin
benzatin penisilin
fenoksimetil penisilin
(penisilin V)
sefaleksin
sefazolin
sefepim
sefpodoksim proksetil
sefoperazon
seftazidim
sefuroksim
oksitetrasiklin HCl
klaritromisin
kanamisin
ofloksasin
dapson
klofazimin, micronized
asam pipemidat
metenamin mandelat
(heksamin mandelat)
nitrofurantoin
amfoterisin B
griseofulvin (micronized )
mikafungin Na

66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99

etoposid
fludarabin
fluorourasil
gefitinib
gemsitabin
hidroksi urea
ifosfamid
imatinib mesilat
irinotekan
kapesitabin
klorambusil
lapatinib
melfalan
merkaptopurin
mitomisin C (crystallin )
nilotinib
oksaliplatin
paklitaksel
rituksimab
setuksimab
siklofosfamid
sisplatin
sitarabin
temozolamid
vinblastin
vinkristin
vinorelbin
asam ibandronat
asam zoledronat
dinatrium klodronat
kalsium folinat (leukovorin, Ca)
mesna
pramipeksol

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

14

35
36
37
38
39
40
41
42

43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65

primakuin
valasiklovir
gansiklovir
adefovir dipivoksil
interferon alfa
pegylated interferon alfa-2a
pegylated interferon alfa-2b
ribavirin
Hanya digunakan untuk
hepatitis C bersama dengan
interferon alfa.
telbivudin
anastrozol
bikalutamid
eksemestan
goserelin asetat
letrozol
leuprorelin asetat
medroksi progesteron asetat
tamoksifen
azatioprin
everolimus
takrolimus
asparaginase
bevasizumab
bleomisin
busulfan
dakarbazin
daktinomisin
daunorubisin
doksorubisin
dosetaksel
epirubisin

100
101
102
103
104
105
106
107

108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130

ropinirol
dabigatran eteksilat
enoksaparin sodium
fondaparinuks
nadroparin
rivaroksaban
deferasiroks
deferipron
deferoksamin mesilat

eritropoetin-alfa
eritropoetin-beta
filgrastim
lenograstim inj 263 mcg/vial
fraksi protein plasma inf 6%
hidroxyl ethyl starch inf 6%
iopromid
kalsium hipoklorit
paraformaldehid
amilorid tab 2,5 mg
doksazosin
dutasterid
finasterid
tamsulosin
estrogen terkonjugai
atenolol
gliseril nitrit
linestrenol
verapamil
carvedilol
lovastatin
pravastatin

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

15

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

DOEN yang tidak masuk kedalam formularium RSU RA Kartini


Nama Perbekalan Farmasi
Jenis Sediaan
Karbogliserin
tts telinga 10%
Sufentanil
inj i.v. 5 mcg/mL
Bupivakain
inj p.v. 5 mg/mL
bupivakain Heavy
inj 0,5% (HCl) + glukosa 8%
etil klorida
semprot 100 mL
Halotan
ih
Flufenazin
inj i.m. 25 mg/mL
Tiopental
serb inj i.v., bolus 500
mg/amp (garam Na)
natrium tiosulfat
inj i.v. 25%
karbon aktif
tab
serb
Karbamazepin
tab 200 mg
sir 100 mg/5 mL
Albendazol
tab 400 mg
Dietilkarbamazin
tab 100 mg
Prazikuantel
tab 600 mg
benzatin penisilin
inj i.m. 1,2 juta UI/mL
inj i.m. 2,4 juta UI/mL
fenoksimetil penisilin (penisilin V)
tab 250 mg
tab 500 mg
Sefazolin
serb inj 1 g/vial
Dapson
tab scored 100 mg
klofazimin, micronized
kaps dalam minyak 100 mg
metenamin mandelat (heksamin
tab salut enterik 500 mg
mandelat)
amfoterisin B
inj. i.v. 50 mg/10 mL
griseofulvin, micronized
tab 125 mg
tab scored 250 mg
Artesunat
inj i.v./i.m. 60 mg/mL
Primakuin
tab 15 mg
Oksitetrasiklin
inj i.m. 250 mg/3 mL (HCl)
inj i.m. 50 mg/mL (HCl)
Aminoglikosida
inj 10 mg/mL
inj 40 mg/mL
Anastrozol
tab 1 mg
medroksi progesterone asetat
tab 250 mg

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

16

29
30
31
32

Tamoksifen
Testosterone
Azatioprin
Siklosporin

33
34
35
36
37
38
39

Asparaginase
Bleomisin
Busulfan
Dakarbazin
Daktinomisin
Daunorubisin
Doksorubisin

40

Dosetaksel

41

Etoposid

42

Fluorourasil

43
44

hidroksi urea
Ifosfamid

45
46
47
48

Klorambusil
Melfalan
Merkaptopurin
Metotreksat

49
50

Paklitaksel
Siklofosfamid

51

Sisplatin

52

Sitarabin

53

Vinblastin

inj 200 mg/mL


tab 20 mg
kaps lunak 40 mg
tab 50 mg
kaps lunak 25 mg
inj 50 mg/mL
serb inj 10.000 UI/vial
serb inj 15 mg/amp
tab salut 2 mg
serb inj 100 mg/vial
inj i.v. 0,5 mg/vial
serb inj 20 mg/vial
serb inj i.v. 10 mg/vial
serb inj i.v. 50 mg/vial
inj 20 mg/0,5 mL
inj 80 mg/2 mL
kaps 100 mg
inj 20 mg/mL
inj 250 mg/mL
inj 500 mg/5 mL
kaps 500 mg
serb inj 500 mg
serb inj 1000 mg/vial
tab 2 mg
tab 2 mg
tab 50 mg
tab 2,5 mg
serb inj 50 mg/2 mL
serb inj i.v./i.m./i.t. 5 mg/vial
inj 30 mg/5 mL
tab salut 50 mg
serb inj i.v. 200 mg
serb inj i.v. 500 mg
serb inj i.v. 1000 mg
serb inj 10 mg
serb inj 50 mg
serb inj i.m./i.v./s.k. 100 mg
serb inj 500 mg/vial
serb inj 10 mg/mL

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

17

54
55

Vinkristin
kalsium folinat (leukovorin, Ca)

56
57

Mesna
Antiparkinson, kombinasi: benserazid
25 mg
levodopa 100 mg

58
59

Triheksifenidil
ferro sulfat

60
61
62
63
64

heparin, Na
protamin sulfat
Warfarin
deferoksamin mesilat
faktor VIII (konsentrat)

65

faktor IX kompleks

66
67
68

fraksi protein plasma


hydroxy ethyl starch
pengganti plasma kombinasi : poligelin
(ekivalen
dengan 0,63 g nitrogen) 17,5 g
natrium klorida 4,25 g kalium klorida
0,19 g kalsium (terikat pada polipeptida)
0,125 g

69
70

Amidotrizoat
barium sulfat

71
72
73
74
75

Gadodiamid
Ioheksol
Iopamidol
natrium aminohipurat
Fluoresein

serb inj i.v. 1 mg


tab 15 mg
inj 3 mg/mL
inj 100 mg/mL
tab

tab 2 mg
tab salut 300 mg
sir 15 mg/5 mL
inj i.v./s.k. 5000 UI/mL
inj 10 mg/mL
tab 2 mg
serb inj 500 mg
serb inj 250 UI/vial + pelarut
5 mL
serb inj 500 UI/vial + pelarut
10 mL
serb inj 1000 UI/vial + pelarut
25 mL
lar infus 5%
lar infus 6%
lar infus

370 mg/mL
serb 92 g/100 mL
susp 2,2%
susp 55%
susp 65%
inj 287 mg/10 mL
inj 140 350 I mg/mL
inj 200 370 I mg/mL
inj i.v. 200 mg/mL
tts mata 2,5 mg/mL
inj 10%

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

18

76

tuberkulin protein
purified derivative
kalsium hipoklorit
Paraformaldehid
Eugenol
Formokresol
gutta percha dan
paper points

inj i.k. 1:10

82
83
84
85
86
87

kalsium hidroksida
klorfenol kamfer mentol (CHKM)
Klorheksidin
natrium hipoklorit
pasta pengisi saluran akar
Fluor

88
89

bahan tumpatan sementara


glass ionomer ART (Atraumatic
Restorative Treatment)

90
91
92
93
94
95

komposit resin
articulating paper
pasta devitalisasi (non arsen)
surgical ginggival pack
Amilorid
Desmopresin

96
97
98
99
100
101
102
103
104

Vasopresin
Glipizid
insulin intermediate
insulin regular
estrogen terkonjugasi
hidroksi progesteron
medroksi progesteron asetat
copper T
Levonorgestrel

105
106

klomifen sitrat
Levotiroksin

bubuk, pasta
cairan
lar 0,2%
cairan konsentrat 5%
pasta
kapl 1 mg
sediaan topikal
lar, serb
serb
lar
cocoa butter 5 g
set
kertas warna penanda oklusi
pasta
pasta
tab 5 mg
tab 0,1 mg
tab 0,2 mg
inj i.m./s.k. 20 UI/mL
tab 5 mg
inj 100 UI/mL
inj 100 UI/mL
tab 0,625 mg
inj 125 mg/mL
inj depo 150 mg
set/buah
implan 2 rods 75 mg (3-4
tahun)
tab 50 mg
tab 50 mcg

77
78
79
80
81

serb
lar buffer 10 %
cairan
cairan
15 mm 40 mm
45 mm 80 mm

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

19

107
108
109

Lugol
gliseril trinitrat
Amiodaron

110

Verapamil

111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121

Streptokinase
Kalamin
mometason furoat
Podofilin
coal tar
Urea
darrow glukosa ana (DG ana)
darrow glukosa half strength
asetazolamid
pilokarpin
lorazepam

122

Oksimetazolin

tab 100 mcg


lar
tab sublingual 0,5 mg
tab 200 mg
inj 150 mg/3 mL
tab 80 mg
inj 2,5 mg/mL
inj 1,5 juta UI/vial
lotio
krim 0,1 %
tingtur 25%
lar 5 %
krim 10 %
lar infus
lar infus
tab 250 mg
tts mata 2%
tab 0,5 mg
tab 1 mg
tab 2 mg
0,025%
0,050%

PraktekKerjaProfesiApoteker di RSU R.A KartiniJepara


PSPA angkatan IX Periode 1 november 31 Desember 2016

20