Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Perbanyakan Tanaman Puring Secara Vegetatif


dengan Okulasi

Disusun oleh :
Ajeng Mareta Astiyani
XI MIPA A

SMAN 1 KEDIRI
Tahun Pelajaran 2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Perkembangbiakan secara vegetatif merupakan cara perkembangbiakan
tanpa melalui proses peleburan dua gamet, artinya satu induk tumbuhan dapat
memperbanyak diri menghasilkan keturunan yang memiliki sifat identik dengan
induknya. Perkembangbiakan ini dapat terjadi secara alami atau buatan
Perkembangbiakan secara vegetatif alami dilakukan tumbuhan tanpa
melibatkan bantuan manusia. Sedangkan perkembangbiakan secara vegetatif
buatan merupakan cara perkembangbiakan tumbuhan yang sengaja dilakukan oleh
manusia. Manusia sengaja memanfaatkan kemampuan meristematis tumbuhan
untuk menghasilkan lebih banyak keturunan. Cara perkembangbiakan ini
tergolong cara yang sangat efektif karena dilakukan dalam waktu yang relatif
lebih singkat dibandingkan dengan perkembangbiakan secara vegetatif alami.
Okulasi atau Penempelan Mata Tunas (Budding) merupakan salah satu
teknik perbanyakan tanaman yang dilakukan secara vegetatif. Pada teknik
perbanyakan secara budding perlu disediakan bagian tanaman sebagai calon
batang atas dan bagian tanaman sebagai calon batang bawah (dari tanaman
sejenis). Umumnya calon batang atas adalah tanaman yang produksinya
diutamakan sedangkan batang bawah adalah batang yang memiliki ketahanan
terhadap faktor lingkungan seperti kekeringan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu
laporan ini disusun untuk mengetahui teknik perbanyakan vegetatif dengan cara
okulasi dan hasil okulasi tanaman puring dari praktikum yang telah dilaksanakan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan percobaan praktikum pembiakan vegetatif
tentang okulasi tanaman puring adalah untuk mempelajari cara melakukan
berbagai perbanyakan vegetatif dengan okulasi pada berbagai tanaman.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Puring
Puring (Codiaeum variegatum), puding, atau kroton adalah tanaman hias
pekarangan populer berbentuk perdu dengan bentuk dan warna daun yang sangat
bervariasi. Beragam kultivar telah dikembangkan dengan variasi warna dari hijau,
kuning, jingga, merah, ungu, serta campurannya. Bentuk daun pun bermacammacam: memanjang, oval, tepi bergelombang, helainya "terputus-putus", dan
sebagainya. Secara botani, puring adalah kerabat jauh singkong serta kastuba. Ciri
yang sama adalah batangnya menghasilkan lateks berwarna putih pekat dan
lengket, yang merupakan ciri khas suku Euphorbiaceae. Puring berasal dari
Kepulauan Nusantara namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropika dan
subtropika, serta menjadi salah satu simbol turisme.
Klasifikasi Tanaman Puring
Kingdom

Plantae

Sub Kingdom

Viridiplantae

Infra Kingdom

Streptophyta

Super Divisi

Embryophyta

Divisi

Tracheophyta

Sub Divisi

Spermatophytina

Kelas

Magnoliopsida

Super Ordo

Rosanae

Ordo

Malpighiales

Famili

Euphorbiaceace

Genus

Codiaeum Juss

2.2 Teknik Okulasi


Teknik okulasi merupakan teknik penempelan mata tunas dari tanaman
batang atas ke batang bawah yang keduanya bersifat unggul. Dalam okulasi
batang bawah disebut rootstoc dan batang atas disebut entres. Dengan cara ini
akan terjadi penggabungan sifat-sifat baik dari dua tanaman dalam waktu yang
relatif pendek dan memperlihatkan pertumbuhan yang seragam. Tujuan utama
membuat bibit okulasi adalah agar produksi bisa lebih tinggi.
Pada proses pengokulasian ini terdapat dua bagian yang penting yaitu
batang atas dan batang bawah. Kriteria batang bawah untuk dijadikan sebagai
bahan okulasi adalah merupakan induk yang diperoleh dari pembiakan generatif
yang masih muda. Sedangkan untuk batang atas bagian tanaman yang diambil
adalah yang sudah tua. Tanaman batang atas harus diketahui asalnya untuk
mempermudah menentukan hasil akhir okulasi serta bagian atas yang diambil
memiliki empat payung,pucuk tanaman dalam keadaan tua (Parto Rahardja dan
Wahyu Wiryanta, 2003).
Mengetahui jenis-jenis mata okulasi adalah sangat penting agar okulasi
yang dilaksanakan tidak sia-sia dan tingkat keberhasilannya tinggi. Jenis-jenis
mata okulasi, yaitu :
a) Mata sisik : terdapat pada ujung internodia, pertumbuhannya paling lambat.
Kurang baik untuk okulasi.
b) Mata prima : mata tunas yang terletak diketiak daun. Mata inilah yang terbaik
untuk okulasi. Letaknya dibagian tengah internodia. Jumlahnya tiap meter
kayu entres terdapat 15-20 mata okulasi.
c) Mata palsu : mata tunas yang tidak pada ketiak daun, berada dibagian paling
bawah internodia, jumlahnya antara 3-5 mata. Bila mata ini digunakan untuk
okulasi tidak akan tumbuh.
Prinsip dari okulasi adalah melekatnya kambium suatu jenis tanaman
dengan jenis tanaman lain agar berpadu satu dan hidup. Okulasi sebaiknya
dilakukan pada awal musim hujan. Karena pada saat ini kambium dapat
mempertahankan diri tidak segera menjadi kering, demikian pula dengan mata

tunas yang ditempelkan. Sedangkan pada musim kemarau, mata tunas yang
dikerat harus segera ditempelkan ke batang yang sebelumnya sudah dibuat pada
pola keratannya. Untuk okulasi yang dilakukan pada batang bawah, biasanya
dipilih dari jenis tanaman varietas lokal yang sudah berumur sekitar 1 tahun, dan
yang memiliki pertumbuhan baik, sehat serta memiliki kulit batang yang mudah
dikelupas. (Zainal Abidin, 2001).
Syarat tanaman dapat diokulasi yaitu : tanaman tidak sedang Flush (sedang
tumbuh daun baru) antara batang atas dan batang bawah harus memiliki umur
yang sama. Tanaman harus masih dalam satu family atau satu genus. Umur
tanaman antara batang atas dan batang bawah sama. Pada klon yang dijadikan
batang bawah memiliki perakaran yang kuat/kokoh, tidak mudah terserang
penyakit terutama penyakit akar, memiliki biji/buah yang banyak yang nantinya
disemai untuk dijadikan batang bawah, umur tanaman induk pohon batang bawah
yang biji/buahnya akan dijadikan benih untuk batang bawah minimal 15 tahun,
memiliki pertumbuhan yang cepat Pada klon yang akan dijadika batang atas atau
entres tanaman harus memiliki produksi yang unggul, dan memiliki pertumbuha
yang cepat, dan tahan terhadap penyakit (Anonim, 2013).
Keuntungan dari mengenten ataupun okulasi diantaranya tanaman dapat
berproduksi lebih cepat, hasil produksi dapat sesuai dengan keinginan tergantung
batang atas yang digunakan.
Kelemahan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara okulasi
yaitu terkadang suatu tanaman hasil okulasi ada yang kurang normal terjadi
karena tidak adanya keserasian antara batang bawah dengan batang atas (entres)
Bila salah satu syarat dalam kegiatan pengokulasian tidak terpenuhi kemngkinan
gagal atau mata entres tidak tumbuh sangat besar (Anonim, 2009).

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pembiakan Vegetatif dengan Cara Okulasi dilaksanakan pada
hari Sabtu-Minggu tanggal 29-30 Oktober 2016 pukul 15.00 WIB 16.30 WIB,
bertempat di Desa Tawangrejo, Kabupaten Blitar.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Polybag
Gembor
Plastik Pengikat
Plastik Pembungkus
Pisau Okulasi/Cutter

3.2.2 Bahan
1. Tanaman puring
2. Tanah top soil
3. Air
3.3 Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Sebagai batang bawah disiapkan tanaman puring lain yang tumbuh didalam
polybag setinggi 50 cm.
3. Tanaman puring yang akan dijadikan sebagai calon batang atas (entress)
juga disiapkan. Calon batang atas mata tunas dari tanaman puring yang lain.
4. Kulit batang bawah dikerat selebar 0,5 1 cm dengan panjang 2 cm
berbentuk persegi panjang atau jendela.
5. Kulit dibuka dari batang tetapi tidak sampai terlepas dari batang dan
sebagian lidah kupasan dibuang (2/3 bagian).
6. Masing-masing entris yang ada mata tunasnya diambil dari calon batang
atas.

7. Ujung bawah mata tunas diselipkan pada bagian ujung lidah yang tersisa
pada batang bawah dan kemudian diikat dengan tali plastik yang transparan.
Mata tunas diusahakan tidak ikut terbungkus.
8. Keberhasilan okulasi ditunggu selama tiga minggu dan selama itu dilakukan
penyiraman setiap hari.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Foto terlampir
4.2 Pembahasan
Praktikum pembiakan vegetatif yang telah dilaksanakan yaitu tentang
okulasi (budding), tanaman yang diokulasi adalah tanaman puring. Memilih dan
menentukan tanaman yang akan di sambung, harus memenuhi beberapa ciri
diantaranya tanaman harus satu varietas, tidak terlalu tua dan tidak terlalu mudah,
tanaman yang sehat, sehingga dipilih tanaman puring. Membuat jendela okulasi
pada batang bawah dengan mengerat bagian bawah tanaman puring, tinggi sisi
kanan dan kiri jendela teratas adalah 10 cm dari tanah sedang tinggi sisi kanan dan
kiri jendela terbawah adalah 4 cm dari tanah. Pembuatan jendela pada batang
bawah dapat dilakukan dengan bukaan ke atas dan bukaan ke bawah.
Mengambil mata okulasi dari kayu entres dilakukan dengan cara membuat
jendela pada batang bawah. Mata okulasi yang diambil adalah mata okulasi yang
dapat digunakan (mata okulasi hidup), Kesiapan batang bawah yang dapat
dilakukan okulasi adalah saat daun puring pada daun teratas sudah tua, jika daun
teratas masih muda, tanaman puring akan tumbuh kurang baik. Rata-rata tanaman
yang diokulasi baik batang bawah atau batang atas (entres) minimal mempunyai 2
payung. Sebelum membuat jendela untuk mengambil mata okulasi, getah yang
melekat pada pisau okulasi harus dibersihkan dahulu dengan lap bersih. Untuk
membuat jendela okulasi pada batang bawah dan membuat jendela pada kayu
entres untuk mengambil mata okulasi , diperlukan pisau okulasi yang tajam. Pisau
okulasi yang tidak tajam (majal) akan mengakibatkan mata okulasi yang diambil
menjadi sobek/ pecah dan akan mati jika disambungkan dengan batang bawah,
irisan menjadi berat dan keseluruhan pekerjaan okulasi menjadi lambat.

Membuka jendela pada batang bawah, menempelkan mata okulasi dan


membalut jendela pada batang bawah. Sebelum membuka jendela pada batang
bawah getah yang keluar dari irisan pembuatan jendela harus dibersihkan dahulu
dengan kain atau tissue. Teknik pengambilan mata okulasi dan menempelkannya
pada batang bawah yaitu:
1. Setelah membuat jendela pada kayu entres dan mengirisnya, pangkal irisan
dipotong dengan pisau okulasi.
2. Langkah selanjutnya adalah memotong ujung irisan dan langsung mengambil
mata okulasi untuk ditempelkan pada batang bawah.
3. Batang atas dan bawah yang sudah di potong tersebut ditempelkan dengan
pas kemudian pada sambungan tersebut di ikat dengan plastik transparan
dengan kencang dan rapat, kemudian setelah di ikat pada tanaman bagian atas
di buang daun yang tidak perlu, tinggalkan daun hanya dua helai dan pada
perlakuan tanaman yang satu memotong semua daun yang tumbuh, sehabis
semua daunnya dibuang tanaman tersebut dibungkus dengan plastik yang
transparan, tujuannya adalah untuk mengurangi daya transpirasi dan
menaungi dari cahaya matahari secara langsung, plastik pembungkus
(sungkup plastik) ini boleh dilepas setelah tanaman hasil sambungan
mencapai umur 14 hari atau dua minggu.
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, kulasi berhasil jika entress yang
disambung pada batang puring terlihat segar dan berwarna hijau. Hal ini
dikarenakan oleh beberapa faktor misalnya,
1. pada saat pengeratan batang puring dilakukan terlalu dalam sehingga
kambium menjadi rusak dan entress tidak dapat tersambung
2. Pisau okulasi yang digunakan sudah berkarat ataupun terkontaminasi oleh
mikroba
3. Pada saat penyungkupan atau pengikatan dengan plastik transparan tidak
terlalu kuat yang menyebabkan bagian tanaman puring yang diokulasi kontak
langsung dengan udara luar seperti terkena air, ditumbuhi jamur dan hasilnya
bagian yang diokulasi jadi hitam.
4. Kurangnya penyiraman pada polybag

BAB V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari hasil Percobaan praktikum pembiakan vegetatif
tentang okulasi tanaman puring (Codiaeum variegatum) yang telah dilaksanakan
diantaranya,
1. Syarat tanaman dapat diokulasi yaitu tanaman tidak sedang Flush (sedang
tumbuh daun baru) antara batang atas dan batang bawah harus memiliki umur
yang sama.
2. Tanaman harus masih dalam satu family atau satu genus. Umur tanaman
antara batang atas dan batang bawah sama.
3. Pada klon yang dijadikan batang bawah memiliki perakaran yang kuat/kokoh,
tidak mudah terserang penyakit terutama penyakit akar, mimiliki biji/buah
yang banyak.
4. Umur tanaman induk pohon batang bawah yang biji/buahnya akan dijadikan
benih untuk batang bawah minimal 15 tahun, memiliki pertumbuhan yang
cepat
5. Pada klon yang akan dijadikan batang atas atau entres tanaman harus
memiliki produksi yang unggul, dan memiliki pertumbuha yang cepat, dan
tahan terhadap penyakit.
6. Waktu yang tepat untuk melakukan okulasi adalah jam 06.00 10.00 pagi
dan jam 15.00 17.00 sore.
7. Faktor yang menyebabkan okulasi berhasil atau tidak secara teknis dapat
diketahui dari cara pengeratan batang, kesterilan pisau okulasi, cara mengikat
plastik transparan pada batang yang diokulasi dan penyiraman tanah tanaman
induk.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2016. https://id.wikipedia.org/wiki/Puring, diakses pada hari Sabtu, 29


Oktober 2016
Anonim, 2016. http://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-morfologitanaman-puring/, diakses pada hari Sabtu, 29 Oktober 2016
Abidin, Zainal. 2001. Dasar dasar tentang Pembiakan Vegetatif. Angkasa
Pustaka. Bandung.
Anonim. 2009. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman. Gramedia. Jakarta
Anonim, 2010. Pembiakan Vegetatif. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian
IPB. Bogor.

LAMPIRAN