Anda di halaman 1dari 32

KELOMPOK 6

1. Paradigma good governance (Ernie Nur Afiffah 155030101111013)


Konsep Good governance (pemerintahan yang baik) merupakan sebuah
paradigma baru yang merupakan pergeseran dari konsep Government . Paradigma ini
muncul sekitar awal tahun 1900 an yang dipelopori oleh World Bank dimana pada
awalnya

sebagai syarat untuk memberi bantuan bagi negara-negara yang

membutuhkan bantuan termasuk ke negara berkembang. Hal ini dimaksudkan agar


bantuan asing yang diberikan

disertai dengan kondisionalitas dan menciptakan

efektivitas pada pemerintahan di negara berkembang karena pada awalnya bantuan


yang diberikan oleh world bank kepada negara yang berkembang banyak yang tidak
efektif dikarenakan praktek pemerintahan yang buruk( bad governance) dalam negara
tersebut. Dengan adanya konsep good governance (pemerintahan yang baik) maka
nantinya bantuan yang diberikan oleh world bank dapat digunakan dengan efektif dan
efisien sehingga dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi pada negara tersebut.
Organisasi lain menyebutkan bahwa Konsep good governance itu sendiri
menekankan pada hak asasi manusia dan negara hukum, mengenai konsep tentang
HAM dan hukum ada 2 ahli yang berpendapat yaitu A.V Dicey yang mengemukakan
mengenai kesamaan kedududukan di hadapan hukum, penundukan terhadap hukum
dan peradilan dan peradilan yang bebas, sedangkan konsep HAM dikemukakan oleh
J.stahl yang menekankan bahwa penyelenggara negara harus berdasar konstitusi
tertulis dan pembagian kekuasaaan negara1. Jadi pemerintahan yang baik harus
adanya kedudukan yang sama dihadapan hukum dan tunduk pada hukum tersebut
serta menjamin adanya hak asasi manunisa dengan penyelenggaraan negara berdasar
konstitusi dan pembagian kekuasaan negara yang jelas.

Mohammad Ryan Bakry,2010, Implementasi hak asasi manusia dalam konsep good governance di
indonesia Jakarta : Universitas Indonesia hal 66

Melihat perbedaan konsep itu

Jan Wouters dan Cedric Ryngaert memberikan

pendapatnya mengenai Perbedaan konsep mengenai good governance2 :


The broadening of its fields of application is attributable to the fact that the
good governance discourse has moved beyond its stricly macro-economic
core.
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa tata pemerintahan yang baik telah bergerak
lebih dari sekedar mengenai ekonomi makro sehingga konsep konsep good
governance itu sendiri memiliki cakupan yang cukup luas. Sehingga dapat dikatakan
bahwa good governance bukan hanya berbicara mengenai ekonomi makro tetapi juga
tetap mempertimbangkan aspek hak asasi manusia dan ketaatan pada hukum yang
berlaku.
Pierre Landell-Mills & Ismael Seregeldin dalam Pandji Santosa : 2008
mendefinisikan good governance sebagai penggunaan otoritas politik dan kekuasaan
untuk mengelola sumber daya demi pembangunan sosial ekonomi.
Sedangkan menurut Robert Charlick dalam buku yang sama3

mengartikan

governance sebagai pengelolaan segala macam urusan public secara efektif melalui
pembuatan kebijakan dan peratura guna mempromosikan nilai yang terkandung
dalam masyarakat
Mohammad Mahfud MD mengartikan good governance secara etimologi
diterjemahkan menjadi pengelolaan yang baik atau penyelenggaraan yang baik,
sedangkan Miftah Toha member pendapatnya menekankan bahwa good governance
merupakan tata pemerintahan yang baik dan berwibawa.4
Melihat beberapa pengertian tersebut good governance dapat diartikan
sebagai penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan berwibawa dalam
menggunakan otoritas politik dan kekuasaannya untuk mengelola sumber daya guna
2

Mohammad Ryan Bakry,2010, Implementasi hak asasi manusia dalam konsep good governance di
indonesia, Jakarta : Universitas Indonesia hal 66
3
Padji Santosa, Administrasi Publik,Teori dan Aplikasi Good Governance,(Bandung : Refika
Aditama) hal 130
4

Mohammad Ryan Bakry,2010, Implementasi hak asasi manusia dalam konsep good governance di
indonesia, Jakarta : Universitas Indonesia hal 66

[Type here]

[Type here]

[Type here]

mencapai pertumbuhan ekonomi, sosial, politik yang tetap mengedepankan aspek


hak asasi kemanusiaan dan ketaatan pada hukum dengan melalui kebikan dan
keputusan yang diambil.
Konsep good governance itu sendiri masuk kedalam suatu bentuk manajemen
pembangunan yang menekankan pada kondisi

keselarasan antara pemerintah-

masyarakat dan sektor swasta dalam menjalankan roda pemerintahan. Dimana good
governance harus mensinergikan antara sektor pemerintah sebagai penyedia aturan
dan kebijakan, sektor bisnis sebagai penggerak roda perekonomian suatu negara dan
masyarakat untuk mengembangkan produktivitas ekonomi, efektivitas dan efisiensi.
Hal itu sependapat dengan Sarfraz Khawaja(2011) dalam bukunya yang berjudul
Good Governance and Result Based Monitoring.
Good governance is based on the pedestal of a knowledge society
engineered through human resource development. The private and
public sector, civil and political, individual and institutional agents
of the proposed social change will also have to be groomed for their
future roles and responsibilities by a systemic process of moral
transformation and ethical evolution to focus on the collective national
and human interests. The concept of governance is concerned
directly with the management of the development process, involving
both the public and the private sectors. It encompasses the
functioning and capability of the public sector, as well as the rules and
institutions that create the framework for the conduct of both
public and private business, including accountability for economic
and financial performance, and regulatory frameworks relating to
companies, corporations, and partnerships
Sarfraz khawaja menjelaskan bahwa tata pemerintahan yang baik didasarkan
pada pengembangan sumber daya manusia dan semua sektor harus di integrasikan
untuk dipersiapkan guna menjalankan peran dan tanggung jawab terhadap proses
transmormasi sosial dan evolusi etika yang berfokus pada kepentingan nasional dan
manusia. Tata pengelolaan good Governance iu sendiri langsung merujuk pada
manajemen dari proses pembangunan yang melibatkan masyarakat dan sektor swasta
yang meliputi fungsi dan kemampuan dari sektor public serta aturan-aturan dan
lembaga yang membuat kerangka untuk pelaksanaan baik bisnis,public adan swasta,
termasuk juga akuntabilitas kinerja ekonomi keuangan dan kerangka peraturan yang
berkaitan dengan perusahaan, perusahaan dan kemitraan
[Type here]

[Type here]

[Type here]

Sedangkan menurut kemendagri good governance merupakan suatu bentuk


manajemen pembangunan yang disebut sebagai administrasi pembangunan yang
mana menempatkan pemerintah sebagai agent of change dan agent of development.
Jadi pemerintah merupakan sentral sebagai agen perubahan yang berupa pembuatan
perencanaan atas perubahan sehingga dapat diartikan sebagai pendorong proses
pembangunan, hal tersebut dilakukan melalui kebijakan, program dan proyek bahkan
industry yang menstimulasi investasi sektor swasta namun kebijakan dan persetujuan
tetap berada di tangan pemerintah. Sehingga good governance tidak lagi berbicara
mengenai pemerintah tetapi juga masyarakat dan sektor swasta. Hal ini menandakan
adanya perubahan paradigma yang semula pemerintah berperan sebagai regulator dan
pelaku pasar kini berganti menjadi pemerintah yang harus mampu meciptakan iklim
yang kondusif dan membuka investasi bagi pelaku usaha dan atau pihak swasta.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa konsep good governance
itu sendiri merupakan sebuah bentuk manajemen pembangunan untuk menciptakan
pemerintahan yang baik melalui pengembangan sumber daya manusia dan
mengintegrasikan segala sektor yang ada yaitu sektor public, masyarakat dan swasta
untuk menciptkan iklim pemerintahan yang kondusif. Dimana meletakkan pemerintah
sebagai agen dari perubahan tesebut karena kewenangan dan dengan melalui
kebijakan, program dan peraturan yang ditetapkan, yang mana peraturan, kebijakan
dan program yang diambil dengan keselarasan kerja antara pemerintah-masyaraat dan
swasta. Sehingga masyararakat dan pihak swasta dapat mejadi agen perubahan suatu
masyarakat dan patner bagi pemerintah.
Good goveranance yang diartikan sebagai penyelengaraan pemerintahan yang
baik dimana pemerintah harus dapat mengintegrasikan segala sektor yaitu sektor
pemerintah, masyarakat dan swasta agar bersinergi untuk mewujudkan pemerintahan
yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Karena kata good governance itu
sendiri tidak lepas dari kata governance, UNESCAP mengartikan konsep Goverannce
yaitu :
the process of decision-making and the process by which decisions are
implemented
(or not implemented)
[Type here]

[Type here]

[Type here]

Dimana governance merupakan proses dalam membuat keputusan dan


mengimplementasikan keputusan tersebut. Sarfraz khawaja dalam bukunya menutip
dari The world Bank menjelaskan ada beberapa bidang intervensi utama untuk
mewujudkan pemerintahan yang baik yaitu meliputi manajemen sektor public,
Akuntabilitas , kerangka hukum dan pembangunan dan transparansi dan informasi.
Sedangkan menurut Institute of Governance (1996) dikutip dari (Nisjar:1997 dalam
Pandji Santosa 2008) mengemukaan ada beberapa hal yang perlu diciptakan untuk
mewujudkan good governance :
1. Kerangka kerja tim (team work) antarorganisasi,departemen, dan wilayah
2. Hubungan kemitraan antara pemerintah dengan setiap unsure dalam
masyarakat di negara yang bersangkutan
3. Pemahaman dan komitmen terhadap manfaat dan arti pentinya tanggung
jawab untuk mencapai tujuan
4. Adanya dukungan dan sistem imbalan yang memadai untuk mendorong
terciptanya kemampuan dan keberanian menanggung resiko dan berinisiatif
dalam hal yang dapat dikembangkan
5. Adanya pelayanan administrasi publik yang berorientasi pada masyarakat,
mudah dijangkau, dan bersahabat berdasarkan kepada asas pemerataan dan
keadilan dalam setiap tindakan dan pelayann yang diberikan berorientasi pada
kepentingan masyarakat, bersikap prosefional, dan tidak memihak
Melihat beberapa hal tersebut dalam penerapan good governance ada
beberapa hal penting untuk dilakukan yaitu dengan manajemen public yang baik yang
berorientasi kepada masyarakat, koordinasi yang baik diantara ketiga sektor yang
menjadi focus good governance itu sendiri, adanya komitmen dan akuntabilitas dari
berbagai sektor tersebut untuk mewujudkan good governance , kerangka hukum yang
baik dan adanya transparansi informasi kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Mohammad Ryan Bakry.2010. Implementasi hak asasi manusia dalam konsep good
governance

di

Indonesia.Dapat

diakses

pada

ejournal.ip.fisip-

unmul.ac.id/site/wp.../2016/.../JURNAL %20(01-25-16-11-41-42).pdf . Diakses


pada 26-11-2016 06:00 WIB.
http://www.unescap.org/resources/what-good-governance
http://www.kemendagri.go.id/article/2014/06/12/perkembangan-paradigma-good-governance

Santosa,Pandji., Administrasi Publik,Teori dan Aplikasi Good Governance,Bandung,


Refika Aditama:2008
Khawaja,Sarfraz., Good Governance and Result Based Monitoring,Pakistan, Poorab
Academy, Islamabad, Pakistan:2011
Prof.

Bintoro

Tjokroamidjojo.,

GOOD

GOVERNANCE

(Paradigma

Baru

Manajemen Pembangunan) . dapat diakses di directory.umm.ac.id/... /2Good


%20Governance%20 Paradigma%20Baru%20Manajemen.pdf.Diakses pada
26-11-2016 09:00 WIB

2. ASAS-ASAS GOVERNANCE (Malia Diah Wijayanti 155030107111011)


[Type here]

[Type here]

[Type here]

Pada dasarnya Governance beorientasi pada 3 elemen utama yaitu, pemerintah,


swasta dan masyarakat. Dari ketiga elemen tersebut memiliki fungsi yang tidak bisa
dipisahkan satu sama lainya ,baik dibidang sosial , ekonomi maupun politik. UNDP
merumuskan asas pemerintahan yang baik (good governance) sebagaimana diikuti
oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN), yang meliputi:
1) Partisipasi (participation)
Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil bagian
dalam proses bernegara, berpemerintahan serta bermasyarakat, baik secara
langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi yang mewakili
kepentingannya. Partisipasi warga negara ini dilakukan tidak hanya pada
tahapan implementasi, akan tetapi secara menyeluruh mulai dari tahapan
penyusunan kebijakan, pelaksanaan, evakuasi, serta hasil-hasilnya:
2) Penegakan hukum (Rule of Law)
Good governance dilaksanakan dalam rangka demokratisasi kehidupan
berbangsa dan bernegara. Salah satu syarat kehidupan demokrasi adalah
adanya penegakan hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
Oleh karena itu langkah awal penciptaan good governance adalah
membangun sistem hukum yang sehat, baik perangkat lunak (software),
perangkat kerasnya (hardware), maupun sumber daya manusia yang
menjalankan sistemnya (human ware).
3) Transparansi (Transparancy)
Keterbukaan adalah merupakan salah satu karakteristik good governance
terutama adanya semangat zaman terbuka dan akibat adanya revolusi
informasi. Keterbukaan mencakup semua aspek aktivitas yang menyangkut
semua kepentingan publik.
4) Daya tanggap (Responsiveness)
Responsiveness sebagai konsekuensi logis dari keterbukaan, maka setiap
komponen yang terlibat dalam proses pembangunan good governance perlu
memiliki daya tanggap terhadap keinginan maupun keluhan setiap
stakeholders.
5) Consensus orientation
Good governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk
memperoleh pilihan yang terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, baik
dalam hal kebijakan maupun prosedur.
6) Keadilan
Semua warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh
kesejahteraan.
7) Effectiveness and efficienty
Proses dan lembaga menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan
dengan menggunakan sumber yang tersedia sebaik mungkin.
8) Akuntabilitas (Accountability)
Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat
sipil bertanggungjawab kepada publik dan lembaga stakeholder. Akuntabilitas

[Type here]

[Type here]

[Type here]

ini tergantung pada organisasi tersebut untuk kepentingan internal atau


eksternal organisasi.
9) Visi Strategis
Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektifgood governance dan
pengembangan manusia yang luasserta jauh kedepan sejalan dengan apa yang
diperlukan untuk pembangunan semacam ini.5
Dari beberapa asas yang disampaikan UNDP, good governance dapat tercapai
dengan baik akan terwujud, apabila penyelenggaraan pemerintahan dijalankan dengan
efektif dan efisien, bertanggung jawab pada publik, menjaga hubungan yang
seimbang antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat, dan menjaga soliditas
pemerintah.
Kemudian G.H. Addink menyampaikan asas-asas good governace yang
meliputi :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Larangan bertindak sewenang-wenang


Asas keadilan atau kewajaran
Asas kepastian hukum
Asas kepercayaan dan asas kesamaan
Asas proposionalitas atau asas keseimbangan
Asas kehati-hatian dan asas pertimbagan.6

Khusus untuk asas larangan bertindak sewenang-wenang yang juga dapat


dimaknai sebagai asas spesialitas, hakekatnya bahwa setiap kewenangan memiliki
tujuan tertentu, yakni tujuan diberikannya kewenangan yang dalam hukum
administrasi dikenal dengan ketajaman arah atau tujuan. Sehingga didalam
penyelenggaraan pemerintahan harus selaras dan seimbang dengan tujuan
kewenangan yang diberikan. Dengan demikan apabila wewenang dijalankan tidak
sesuai atau bertentangan dengan tujuan, maka akan terjadi penyalahgunaan
wewenang.
Kemudian A.M. Donner dan Wiarda yang dikutip oleh Sadjijono juga
merumuskan tentang asas-asas Good governance menjadi lima rumusan, yakni:
1. Asas kejujuran (fair play)
Mohammad Ryan Bakry, 2010, IMPLEMENTASI HAK ASASI MANUSIA DALAM
KONSEP GOOD GOVERNANCE DI INDONESIA(tesis), Jakarta: Universitas Indonesia,
h,75-77
6
Ibid., h.78
5

[Type here]

[Type here]

[Type here]

2. Asas kecermatan
3. Asas kemurnian dalam tujuan
4. Asas keseimbangan
5. Asas kepastian hukum.7
Dalam penyelenggaraan pemerintahan yang telah diatur dalam Undang-Undang
tentang Pemerintahan Daerah. dan juga berpedoman pada asas-asas umum
penyelenggaraan negara sebagaimana diatur dalam Pasal 20 Undang-Undang tentang
Pemerintahan Daerah: Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada asas-asas
umum penyelenggaraan negara yang terdiri atas:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Asas Kepastian hukum


Asas tertib penyelenggraan
Asas Kepentingan Umum
Asas Keterbukaan
Asas Proporsionalitas
Asas profesionalitas
Asas Akuntabilits
Asas Efisiensi dan Asas Efektivitas8

A.D. Belinfante merumuskan hampir sama dengan A.M. Donner dan


Wiarda,yakni asas larangan bertindak tidak sewengan-wenang;asas larangan
detournement depovoir,asas kepastian hukum; asas keseksamaanm dan asas
persamaan. Sedangkan J.J. Veld dan N.S.J. Koemen merumuskan kembali menjadi
delapan butir antara lain:
1. Asas larangan detournement de povoir
2. Larangan untuk bertindak sewenang-wenang
3. Asas persamaan
4. Asas kepastian hukum
5. Asas harapan-harapan yang ditumbuhkan
6. Asas kejujuran (fair play)
7. Asas kecermatan.
8.Asas pemberian perimbangan 9
Rumusan yang lebih luas adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Crince Le
Roy, bahwa asas-asas yang perlu diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan
untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, meliputi:
1.Asas kepastian hukum (principle of legal security)
2.Asas keseimbangan (principle of proporsionally)
3.Asas bertindak cepat (principle of carefullness)
7

Mohammad Ryan Bakry, op. Cit., h 82-83

Endang
Retno,KETERBUKAAN
INFORMASI
PUBLIK
DAN
GOOD
GOVERNANCE,Ejournal Perspektif, Volume XVII No. 1 ,2012 Edisi Januari:h.55
9

Mohammad Ryan Bakry, loc. Cit.

[Type here]

[Type here]

[Type here]

4.Asas motivasi untuk setiap badan pemerintahan(principle of motivation)


5.Asas tidak boleh mencampur adukkan kewenangan (principle of non misuse
of competence)
6.Asas kesamaan dalam mengambil keputusan (principle of equality)
7.Asas permainan yang layak (principle of fair play)
8.Asas keadilan atau kewajaran (principle of reasonableness of prohibition of
arbritrariness)
9. Asas menanggapi pengharapan yang wajar (principle of meeting raised
expectation)
10. Asas meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal (principle of
undoing the consequences of unnulled decision)
11. Asas perlindungan atas pandangan hidup (principle of protecting the
personal way of life)10
Rumusan yang dikemukakan oleh R. Crince Le Roy dikutip dan ditambahkan oleh
Koentjoro Purbopranoto tersebut asalnya adalaah hand out kuliah pada penataran
lanjutan hukun tata negara-hukum tata pemerintahan di fakultas hukum universitas
Airlangga Surabaya pada tahun 1978.
Asas-asas yang diuraikan dimaksud sebanyak 11 asas, kemudian ditambah 2
asas dari Koentjoro Purbopranoto, dan pada saat asas-asas dimaksud diuraikan oleh
R. Crince Le Roy masih berdasarkan yurisprupensi/keputusan hakim pengadilan
pengadilan biasa bukan dari AROB (Peradilan Administrasi Belanda), karena pada
waktu itu Wet AROB baru mulai berperan.Kemudian setelah adanya yurisprudensi/
keputusan hakim AROB (Peradilan Administrasi Belanda) asas-asas yang dikenal,
adalah:
1. Asas pertimbangan
2. Asas kecermatan
3. Asas kepastian hukum
4. Asas kepercayaan atau asas menanggapi harapan yang telah ditimbulkan
5. Asas persamaan
6. Asas keseimbangan
7. Asas kewenangan
8. Asas fair play
9. Larangan detournement de pourvoir
10. Larangan bertindak sewenang-wenang.

10

Mohammad Ryan Bakry, op. Cit., h 83-84

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Berdasarkan UNDP, G.H. Addink, A.M. Donner dan Wiarda yang dikutip oleh
Sadjijono, Undang- Undang Pasal 20, A.D. Belinfante, J.J. Veld dan N.S.J. Koemen,
Crince Le Roy,asas yang terpenting dalam penerapan good governance, dimana dari
asas asas yang diuraikan diatas dapat diambil kesimpulan yaitu:
1.Asas penegakan hukum / kepastian hukum
2. Larangan bertindak sewenang wenang
3. Asas kejujuran
4. Asas Kecermatan
5.Asas Keseimbangan
6.Asas Keadilan dan Kewajaran
Dari beberapa asas diatas, sekiranya menjadi pedoman bagi para birokrat untuk bisa
mengimplementasikan asas-asas tersebut dalam penerapan good governance. Untuk
itu, Asas Asas tersebut harus ada dan digunakan dengan baik. Agar pemerintahan
yang dijalankan sesuai dengan tujuan negara ,bukan hanya salah satu saja, sebab dari
asas asas tersebut saling terkait dan menjadi pendukung tercapainya pemerintahan
yang baik , sehat menjadi pemerintah yang bersih dari KKN.

Daftar Pustaka
[Type here]

[Type here]

[Type here]

Bakry, Ryan Muhammad.2010.Implementasi Hak Asasi Manusia Dalam Konsep


Good Governance Di Indonesia.Jakarta: Universitas Indonesia.Diakses Pada
tanggal 22 November 2016.
Retno,Endang. Keterbukaan Informasi Publik Dan Good Governance.Ejournal
Perspektif. Volume XVII No. 1. 2012 Edisi Januari. Diakses pada tanggal 22
November 2016.

3. Etika Penerapan Governance (Dinda Indah Asmara 155030100111005)


[Type here]

[Type here]

[Type here]

Menurut Parrow11, manusia sudah masuk ke dalam suatu organisasi masyarakat


bahkan sudah sejak mereka dilahirkan hingga mati. Manusia sudah menjadi bagian
dalam sebuah organisasi. Organisasi ini sendiri menurut Ricard H. Hall12 diperlukan
karena manusia perlu untuk memenuhi kebutuhan dan manusia tidak dapat memenuhi
semua kebutuhannya seorang diri, karena itu manusia membutuhkan bantuan orang
lain. Karena itulah pembagian kerja kemudian dilakukan.
Kebutuhan manusia kemudian semakin lama semakin bertambah dan semakin
kompleks

sehingga

membutuhkan

organisasi

yang

lebih

kompleks

untuk

memenuhinya, yaitu negara. Negara menurut Haibur Rahman 13 adalah sebuah


organisasi raksasa (massive) yang memiliki persyaratan khusus dalam pendiriannya
yang membedakanya dengan organisasi lainnnya, yaitu : rakyat, pemerintah, wilayah
kekuasaan, dan kedaulatan. Negara adalah kesatuan semua elemen tersebut, sehingga
hilangnya salah satu elemen tersebut akan menghilangkan arti negara yang
sebenarnya.
Salah satu elemen dalam sebuah negara adalah pemerintahan. Pemerrinyah awalnya
diperlukan untuk menjaga dan mengendalikan keadaan sehingga senantiasa tercipta
keadaan yang tertib dan damai. Pemerintahan ini sendiri dipegang oleh sekelompok
orang terpilih dalam suatu negara. Namun dengan perkembangan zaman di era yang
modern ini, tugas pemerintahan berkembagang menjadi untuk melayani masyarakat.
Dikutip

dari

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19940/4/Chapter%20II.pd,

Osborn dan Gaebler mengungkapkan bahwa pemerintahan yang demokratis lahir


untuk melayani masyarakat, karena itulah pemerintah bertugas untuk mencari cara
agar masyarakatnya bisa bahagia. Sealain itu, dikutip dari sumber yang sama,
pemerintah modern bertugas untuk melayani warganya. Pemerintahan dikatakan
dibuat bukan untuk mementingkan kepentingannya sendiri melainkan untuk melayani
11

Bakry, Ryan Mohammad. 2010. Implementasi Hak Asasi Manusia dalam Konsep
Good Governance. Diunduh dari : lib.ui.ac.id/file?file=digital/135608-T%2027944Implementasi%20hak-HA.pdf. Diakses pada 28-11-2016, pukul 11.00 WIB
12
Bakry, Ryan Mohammad. 2010. Implementasi Hak Asasi Manusia dalam Konsep
Good Governance. Diunduh dari : lib.ui.ac.id/file?file=digital/135608-T%2027944Implementasi%20hak-HA.pdf. Diakses pada 28-11-2016, pukul 11.00 WIB
13
Bakry, Ryan Mohammad. 2010. Implementasi Hak Asasi Manusia dalam Konsep
Good Governance. Diunduh dari : lib.ui.ac.id/file?file=digital/135608-T%2027944Implementasi%20hak-HA.pdf. Diakses pada 28-11-2016, pukul 11.00 WIB

[Type here]

[Type here]

[Type here]

kepentingan masyarakat. Dari sudah jelas apa itu tugas dari pemerintahan, yaitu
melayani masyarakat utntuk mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera.
Sayangnya, jalannya pemerintahan tidak selalu mulus. Sering terjadi kendala-kendala
diantaranya yaitu melencengnya para aparatur pemerintahan dari tugas seharunsya,
yaitu untuk melayani masyarakat. Hal ini karena perkembangan zaman yang juga
menyebabkan kebutuhan manusia yang semakin meningkat menyebabkan birokrasi
juga menjadi semakin komples. Inilah yang menyebabkan perkembangan birokrasi.
Hal ini menuurut Edward C Page14 menyebabkan birokrasi menjadi tidak efisien. Hal
serupa juga diamini oleh Guy Benvanste 15. Menurut Gunvaste, semakin besar sebuah
birokrasi maka akan cenderung semakin tidak berdasarkan aturan atau melanggar
aturan-aturan yang ada. Hal seperti ini dalam administrasi public dapat dikatakan
sebagai maladministrasi. Dikutip dari jurnal berjudul Implementasi Hak Asasi
Manusia dalam Konsep Good Governance oleh Mohammad Ryan Bakry pada
halaman 63, K.C Wheare menjelaskan pengertian maladministrasi adalah:
Administration action (or inaction) based on influenced by improper,
considerations or conduct Arbitariness malice, or bias, including discrimation,
are example of improper considerations. Neglect, unjustifiable delay, failure to
take relevant consideration into account, failure to established or review
procedures where there is a duty or obligation in a body to do so, are ekample
of improper conduct.
Sementara menurut Ombudsman, secara umum dapat diartikan sebagai suatu
perbuatan yang melawan hukum dan etika dalam proses penyelenggaraan
administrasi pubilk, seperti penyalahgunaan wewenang, kelalaian dalam penambilan
keputusan, dan pengabaian hukum.
Dua pengertian diatas dapat disingkat sebagai penyelenggaraan administrasi publik
yang berjalan tidak seperti seharusnya. Karena itulah maldministrasi ini harus
dipotong. Salah satunya melalui prinsip good governance.
Good governance mulai ramai dibicarakan pada awal tahun 90-an. Pada saat itu,
organisasi internasional terutama yang bergerak di bidang pembangunan mulai

14

Bakry, Ryan Mohammad. 2010. Implementasi Hak Asasi Manusia dalam Konsep
Good Governance. Diunduh dari : lib.ui.ac.id/file?file=digital/135608-T%2027944Implementasi%20hak-HA.pdf. Diakses pada 28-11-2016, pukul 11.00 WIB
15
Bakry, Ryan Mohammad. 2010. Implementasi Hak Asasi Manusia dalam Konsep
Good Governance. Diunduh dari : lib.ui.ac.id/file?file=digital/135608-T%2027944Implementasi%20hak-HA.pdf. Diakses pada 28-11-2016, pukul 11.00 WIB

[Type here]

[Type here]

[Type here]

menerapkan sebuah konsep sebagai syarat untuk mendapatkan bantuan. Konsep


tersebut adalah Good Governance. Ada beberapa pengertian mengenai governance:
-Menurt World Bank, governance adalah the way power is excercised through a
countrys economic, sosial, and social institution16, artinya governance adalah
bagaikaman kekuasaan dijalankan dalam lembaga ekonomi, politik, dan sosial
sebuah negara.
- Sementara menurut Kaufman et al, governance adalah The traditions and
institution by wihich authority ini a country exercised 17, tradisi dan lembagalembaga dimana sebuah otoritas dalam sebuah negara dijalankan.
Dari dua pengertian diatas, maka kemudian governance dapat disimpulkan sebagai
bagaimana sebuah kekuasaan dan otoritas dijalankan dalam sebuah intitusi dalam
suatu negara.
Good Governance sendiri dapat diartikan sebagai tata kepemerintahan yang baik.
Good Governance memiliki azas tata kepemerintahan yang baik, diantaranya:
1)

Pastisipasi

Setiap warga negara memiliki suara dalam pengambilan keputusan, baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui mediasi institusi legitimatif yang
mewakilinya.
2)

Rule of Law

Kerangka hukum harus adil tanpa pandang bulu, terutama yang terkait dengan
hak asasi manusia.
3)

Transparency

Dibangun atas dasar kebebasan untuk mengakses berbagai arus informasi,


proses-proses, lembaga-lembaga secara lansgung dan mudah bagi mereka yang
membutuhkannya.
4)

Responsives

Lembaga-lembaga dan proses harus dapat cepat dan tanggap dalam melayani
stakeholders.

16

The World Bank Grup. 2013. What is Governance. Diunduh dari


web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/MENAEXT/EXTMNAREGTOPGO
VERNANCE/0,,contentMDK:20513159~pagePK:34004173~piPK:34003707~theSit
ePK:497024,00.html. Diunduh pada 28-11-2016, pukul 11.23 WIB
17

The World Bank Grup. 2013. What is Governance. Diunduh dari


web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/MENAEXT/EXTMNAREGTOPGO
VERNANCE/0,,contentMDK:20513159~pagePK:34004173~piPK:34003707~theSit
ePK:497024,00.html. Diunduh pada 28-11-2016, pukul 11.23 WIB

[Type here]

[Type here]

[Type here]

5)

Consensus Orientation

Good Governance dikatakan menjadi perantara dalam berbagai perbedaan


kepentingan untuk menghasilkan kebijakan yang paling sesuai untuk semua
pihak.
6)

Equity

Semua warga negara baik laki-laki atau perempuan dikatakan memiliki


kesempatan yang sama untuk meningkatkan kesejahteraannya.
7)

Effectiveness ad efficiency

Proses-proses dan lembaga lembaga menghasilkan sesuai apa yang


direncanakan dengan sumber daya yang yang tersedia sebaik mungkin.
8)

Accountability

Para pembuat keputusan bertanggung jawab kepada para stakeholders dan


masyarakat.
9)

Strategic Vision

Para pemimpin dan publik harus memiliki perspektif good governance untuk
pengembagan manusia secara luas.
Jika prinsisp-prinsip good governance diatas mampu dijalankan dengan baik, maka
kepemerintahan akan berlangsung dengan baik, bersih, tidak cacat, dipercaya, dan
berwibawa. Namun, sebenarnya, prinsip-prinsip good governance ini berdasarkan
pada etika. Sehingga, terlaksananya pemerintahan yang bersih sebenarnya berkaitan
erat dengan etika aparat. Menurut Miftah Toha untuk menemukan pemerintahan yang
baik dan bersih bergantung pada hal-hal sevagai berikut :
-

Kualitas daripada pelaku-pelaku pemerintahan


Kelembagaan yang digunakan pelaku pemerintahan dalam mewujudkan

kinerjanya
Pembatasan kekuasaan, dengan memberlakukan kekuasaan yang berimbang
Kepemimpinan birokratis yang berakhlak, demokratis, berwawasan, dan
responsive.

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Intinya, penyelenggaraan kepemerintahan yang bersih dapat teruwujud jika aparat


birokrasi mampu bersikap secara professional. Profesionalisme ini tidak hanya
terbatas pada kepandaian, keahlian, dan kepintaran saja. Namun profesioanalisme ini
juga merujuk pada kemampuan daya piker, rasionalitas, analitis-kritis yang haruis
diimbangi juga ngan moralitas agama yang tinggi pula (Soebandi, 2004, Hal 72)18

Daftar Pustaka
Bakry, Ryan Mohammad. 2010. Implementasi Hak Asasi Manusia dalam
Konsep Good Governance. Diunduh dari : lib.ui.ac.id/file?
file=digital/135608-T%2027944-Implementasi%20hak-HA.pdf.
Diakses pada 28-11-2016, pukul 11.00 WIB

18

Syukri, Ahmad. 2008. Good Governance: Profesionalisme dan Etika Birokrasi


Diunduh dari : Good Governance: Profesionalisme dan Etika Birokrasi - eprint UIN
Raden Fatah Palembang. Diunduh pada : 28-11-2016, pukul; 12.00 WIB

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Syukri, Ahmad. 2008. Good Governance: Profesionalisme dan Etika


Birokrasi Diunduh dari : Good Governance: Profesionalisme dan
Etika Birokrasi - eprint UIN Raden Fatah Palembang. Diunduh pada :
28-11-2016, pukul; 12.00 WIB
The World Bank Grup. 2013. What is Governance. Diunduh dari
web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/MENAEXT/EXTM
NAREGTOPGOVERNANCE/0,,contentMDK:20513159~pagePK:34004
173~piPK:34003707~theSitePK:497024,00.html. Diunduh pada 2811-2016, pukul 11.23 WIB

4. PRINSIP-PRINSIP GOVERNANCE (Aditya Purnomo 155030101111009)

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Pada dasarnya good governance adalah suatu konsep yang mengacu pada
proses pengambilan keputusan yang pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan
bersama yang menggabungkan tiga pilar pokok yaitu pemerintah, sektor swasta dan
masyarakat bagi penyelenggaraan pemerintahan dalam suatu negara. penerapan dari
good governance itu sendiri merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi seluruh
stakeholder untuk dapat menciptakan suatu sistem pemerintahan yang berpihak
kepada kepentingan rakyat sesuai dengan prinsip pemerintahan demokrasi. Kunci
utama agar dapat memahami tentang penerapan good governance adalah dengan
memahami prinsip-prinsip good governance. Karena prinsip good governance
merupakan tolak ukur dari keberhasilan suatu pemerintahan, keberhasilan kinerja
suatu pemerintahan dapat dilihat baik atau buruknya setelah bersinggungan dengan
prinsip-prinsip dari good governance. Menurut LAN (Lembaga Administrasi Negara)
pada tahun 2003, prinsip dari good governance meliputi 12 hal yaitu: akuntabilitas,
profesionalitas, partisipasi, transparansi, kesetaraan, supremasi hukum, keadilan,
desentralisasi, kebersamaan, cepat tanggap, efektif dan efisien, dan berdaya saing
(Idup Suhady, 2005: 50).
Sedangkan dalam peraturan pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 yang
disebutkan dalam jurnal yang berjudul Prinsip-Prinsip Good Governance prinsipprinsip dari good governance terdiri dari 7 prinsip yaitu :
a. Profesionalitas, meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan
agar mampu memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang
terjangkau.
b. Akuntabilitas, meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala
bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat.
c. Transparansi, menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan
masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam
memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
d. Pelayanan prima, penyelenggaraan pelayanan publik yang mencakup prosedur
yang baik, kejelasan tarif, kepastian waktu, kemudahan akses, kelengkapan sarana
dan prasarana serta pelayanan yang ramah dan disiplin.
[Type here]

[Type here]

[Type here]

e. Demokrasi dan Partisipasi, mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak


dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang
menyangkut kepentingan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung
f. Efisiensi dan Efektifitas, menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat
dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung
jawab.
g. Supremasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat, mewujudkan
adanya penegakkan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa pengecualian,19
Berdasarkan sumber-sumber mengenai prinsip dari good governance dari para
ahli tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa prinsip-prinsip good governance terdiri
7 prinsip yaitu: 1. partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan, 2.
responsivitas pemerintah terhadap harapan serta aspirasi masyarakat, 3. keadilan
pemerintah terhadap masyarakat baik itu dari golongan atas atau bawah, 4. efisiensi
pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya, 5. transparansi pemerintah dalam
menjalankan pemerintahannya terhadap masyarakat, 6. akuntabilitas atau kewajiban
bertanggung jawab, 7. efektivitas pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya,
serta 8. konsensus atau penyatuan perbedaan kepentingan dalam struktur organisasi
menjadi sebuah kesepakatan.
a) PARTISIPASI
Dalam penerapan good governance dikenal prinsip partisipasi, kata partisipasi
itu sendiri berasal dari bahasa inggris participate yang berarti mengikutsertakan, atau
ikut mengambil bagian. Partisipasi itu sendiri memiliki banyak pengertian yang
disimpulkan oleh para ahli, namun pada hakekatnya masih memiliki makna yang
sama. pengertian mengenai prinsip partisipasi itu sendiri menurut Pretty, et al. (1995)
dalam jurnal yang berjudul Partisipasi Masyarakat dalam Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri di Kelurahan Karang Anyar Samarinda Ulu
menyatakan bahwa partisipasi adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga
mampu menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya. Pengertian partisipasi
19

Yenny. 2013. Prinsip-Prinsip Good Governance. Dapat diakses pada


http://ejournal.an.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/03/EJOURNAL
%20YENNY%20(03-02-13-06-48-29).pdf Diakses pada 27-11-2016 20:21 WIB. Hal
198

[Type here]

[Type here]

[Type here]

adalah pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Dengan demikian, pengertian


partisipatif adalah pengambilan bagian/pengikutsertaan atau masyarakat terlibat
langsung dalam setiap tahapan proses pembangunan mulai dari perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) sampai pada
monitoring dan evaluasi20
Menurut Juliantara (2004:84) dalam jurnal yang berjudul Studi Tentang
Partisipasi

Masyarakat

dalam

Pembangunan

partisipasi

diartikan

sebagai

keterlibatan setiap warga negara yang mempunyai hak dalam pembuatan keputusan,
baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi yang mewakili
kepentingannya, partisipasi masyarakat merupakan kebebasan dan berbicara dan
berpartisipasi secara konstruktif21
Isbandi

(2007:27)

adalah

keikutsertaan

masyarakat

dalam

proses

pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan


pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah,
pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses
mengevaluasi perubahan yang terjadi.
Partisipasi adalah suatu bentuk dari kepedulian masyarakat terhadap
perkembangan demokrasi yang diwujudkan melalui keikutsertaan masyarakat
didalam perencanaan serta pelaksanaan dari pemerintahan. Partisipasi itu sendiri
memiliki beberapa macam, seperti yang diungkapkan oleh Sundariningrum (Sugiyah
2010:38)

mengklasifikasikan

partisipasi

menjadi

dua

berdasarkan

cara

keterlibatannya, yaitu: a. Partisipsai langsung Partisipasi yang terjadi apabila individu


menampilkan kegiatan tertentu dalam proses partisipasi. Partisipasi ini terjadi apabila
setiap orang dapat mengajukan pandangan, membahas pokok permasalahan,
20

Ningrum, Harni Abrianti. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Program Nasional


Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM MANDIRI) di Kelurahan Karang Anyar
Samarinda Ulu. Dapat diakses pada http://ejournal.sos.fisip-unmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2014/09/19.JOURNAL%20GANJIL%20(09-02-14-02-49-28).pdf
diakses pada 28-11-2016 10:13 WIB. hal.4
21
Deviyanti, Dea. 2013. Studi Tentang Partisipasi Masyarakat dalam
Pembangunan di Kelurahan Karang Jati Kecamatan Balikpapan Tengah. Dapat
diakses pada http://ejournal.an.fisip-unmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2013/05/JURNAL%20DEA%20(05-24-13-09-02-30).pdf diakses
pada 28-11-2016 09:55 WIB. Hal 382

[Type here]

[Type here]

[Type here]

mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap ucapannya. b.


Partisipasi tidak langsung Partisipasi yang terjadi apabila individu mendelegasikan
hak partisipasinya pada orang lain.
b)

Responsivitas
pengertian responsivitas menurut Tangkilisan (2005;177) dalam jurnal yang

berjudul Responsivitas PDAM Kabupaten Lamongan dalam Menangani Keluhan


Pelanggan merupakan kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan dari
masyarakat, menyusun agenda dan kemudian memberikan pelayanan terhadap
kebutuhan masyarakat tersebut, serta mengembangkan program-program pelayanan
publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa responsivitas ini mengukur daya tanggap birokrasi terhadap
harapan, keinginan dan aspirasi, serta tuntutan masyarakat22.
Sedangkan pengertian Responsivitas menurut Dwiyanto (2006:62) dalam
jurnal yang berjudul Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Tirta
Khatulistiwa Kantor Pelayanan Wilayah II dalam Menangani Keluhan Pelanggan
Kelurahan Sungai Jawi Dalam di Kota Pontianak adalah kemampuan birokrasi
pemerintah untuk mengenali kebutuhan dari masyarakat, menyusun agenda dan
prioritas pelayanan, serta mengembangkan program-program pelayanan sesuai
dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat dapat dikatakan bahwa
responsivitas ini mengukur daya tanggap birokrasi terhadap harapan, dan aspirasi
serta tuntutan pengguna jasa 23

22

Aniza, Dewi Elya Nur. 2013. Responsivitas PDAM Kabupaten Lamongan dalam Menangani

Keluhan Pelanggan. Dapat diakses pada http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-Dewi%20Elya


%20Nur%20Aniza.pdf diakses pada 28-11-2016 10:07 WIB. hal 2.
23

Fauzi, Muhammad. 2014. Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Khatulistiwa Kantor

Pelayanan Wilayah II dalam Menangani Keluhan Pelanggan Kelurahan Sungai Jawi Dalam di Kota
Pontianak. Dapat diakses pada http://jurmafis.untan.ac.id/index.php/publika/article/viewFile/517/pdf
diakses pada 28-11-2016 09:50 WIB. Hal 4

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Dari pengertian responsivitas tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa


responsivitas memiliki makna yaitu kemampuan suatu organisasi untuk mengenali
kebutuhan dari masyarakat untuk kemudian diberikan respon yang sesuai dengan
harapan serta aspirasi masyarakat, serta kemudian
Menurut

Agus

Dwiyanto

(2008:63)

dalam

jurnal

yang

berjudul

Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Khatulistiwa Kantor Pelayanan


Wilayah II dalam Menangani Keluhan Pelanggan Kelurahan Sungai Jawi Dalam di
Kota Pontianak, bahwa responsivitas pelayanan publik dijabarkan menjadi beberapa
indikator yaitu terdapat tidaknya pengaduan konsumen selama satu tahun terakhir,
sikap aparat birokrasi dalam merespon pengaduan dari konsumen, penggunaan
pengaduan dari konsumen sebagai referensi bagi perbaikan penyelenggaraan
pelayanan pada masa mendatang, berbagai tindakan aparat birokrasi dalam sistem
pelayanan yang berlaku
c) Equity
Menurut Aristoteles dalam jurnal yang berjudul Konsep Keadilan Menurut
Pandangan Aristoteles mengemukakan bahwa terdapat beberapa konsep keadilan.
Kata keadilan yang dalam bahasa Inggris justice yang berasal dari bahasa latin
iustitia memiliki tiga macam makna yang berbeda yaitu; 1. secara atributif berarti
suatu kualitas yang adil atau fair, 2. sebagai tindakan berarti tindakan menjalankan
hukum atau tindakan yang menentukan hak dan ganjaran atau hukuman, dan 3. orang,
yaitu pejabat publik yang berhak menentukan persyaratan sebelum suatu perkara di
bawa ke pengadilan
Kemudian beberapa ahli (Miceli dkk., 1991; Minton dkk., 1994)
mengemukakan bahwa keadilan harus diformulasikan pada tiga tingkatan yaitu
outcome, prosedur, dan sistem. Disini penilaian keadilan tidak hanya tergantung pada
besar kecilnya sesuatu yang didapat (outcome), tetapi juga pada cara menentukannya
dan sistem atau kebijakan di balik itu. Keadilan yang berkaitan dengan outcome
sering disebut sebagai keadilan distributif, namun sesungguhnya kedua hal tersebut
tidak sama. Kajian psikologi tentang keadilan pemberian upah hampir selalu

[Type here]

[Type here]

[Type here]

memasukkannya dalam lingkup keadilan distributif. Bila dicermati, pemberian upah


dapat dilihat dari dua sisi, yaitu distribusi dan pertukaran (Subakti, 1993).
Berdasarkan data diatas, pengertian dari keadilan adalah dalam prinsip good
governance adalah segala hal yang berkenaan dengan sikap atau tindakan manusia
yang berisi tuntutan agar setiap manusia mendapatkan perlakuan sesuai dengan hak
dan kewajiban masing-masing.
d) Efisiensi
Pengertian dari efisiensi telah dijelaskan oleh beberapa ahli, salah satunya
adalah Yuto Paulus dan Nugent (2005) yang menjelaskan pengertian efisiensi dalam
jurnal yang berjudul Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha
Tani Cabai Kabupaten Temanggung sebagai pencapaian output maksimum dari
penggunaan sumber daya tertentu. Jika output yang dihasilkan lebih besar dari
sumber daya yang digunakan maka semakin tinggi pula tingkat efisisensi yang
dicapai.24
Selanjutnya pengertian efisiensi juga dijelaskan oleh Deddi dan Ayuningtyas
(2010: 161) dalam jurnal yang berjudul Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran
Pendapatan dan Belanja pada Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara
efisiensi adalah hubungan antara barang dan jasa yang dihasilkan sebuah kegiatan
atau aktifitas dengan sumber daya yang digunakan. Suatu organisasi, kegiatan atau
program dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan output tertentu dengan input
serendah-rendahnya, atau dengan input tertentu mampu menghasilkan output sebesarbesarnya (spending well). 25
Kemudian pengertian efisiensi juga dijelaskan oleh Nicholson (2002) dalam
jurnal yang berjudul Analisis Efisiensi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Produksi Industri Kecil Kabupaten Kendal Efisiensi adalah kemampuan untuk
mencapai suatu hasil yang diharapkan (output) dengan mengorbankan input yang
24

Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha Tani
Cabai Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf
diakses pada 28-11-2016 10:09 WIB. Hal.7
25
Julita,SE,M.Si. 2013. Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja pada
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara. Dapat diakses pada file:///C:/Users/Aditya
%20Purnomo/Downloads/290-342-1-PB%20(2).pdf diakses pada 28-11-2016 10:34 WIB. Hal 4

[Type here]

[Type here]

[Type here]

minimal. Suatu kegiatan telah dikerjakan secara efisien jika pelaksanaan kegiatan
telah mencapai sasaran (output) dengan pengorbanan (input) terendah, sehingga
efisiensi dapat diartikan sebagai tidak adanya pemborosan 26
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa efisiensi adalah
suatu usaha atau kemampuan untuk mencapai hasil kerja (output) sesuai dengan yang
diharapkan dengan memanfaatkan menggunakan usaha (input) yang serendahrendahnya
Kemudian konsep dari efisiensi diperjelas lagi oleh Roger Lee Rey Miller dan
Rojer E Meiners (2000) yang membagi efisiensi menjadi 2 jenis yaitu; 1. Efisiensi
teknis mengharuskan adanya proses produksi yang dapat memanfaatkan input yang
lebih sedikit demi menghasilkan output dalam jumlah yang sama. 2. Efisiensi
Ekonomis Konsep yang digunakan dalam efisiensi ekonomi adalah meminimalkan
biaya artinya suatu proses produksi akan efisien serta ekonomis pada suatu tingkatan
output apabila tidak ada proses lain yang dapat dihasilkan output serupa dengan biaya
yang lebih murah 27

DAFTAR PUSTAKA

26

Panca Kurniasari, Dr. Dwisetia Poerwono, MSc 2011 . Analisis Efisiensi dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Produksi Industri Kecil Kabupaten Kendal. Dapat diakses pada
http://eprints.undip.ac.id/26754/1/jurnal_skripsi_2.pdf diakses pada 28-11-2016 11:37 WIB. hal 11
27
Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usaha Tani
Cabai Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf
diakses pada 28-11-2016 10:09 WIB. Hal.7

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Yenny. 2013. Prinsip-Prinsip Good Governance. Dapat diakses pada


http://ejournal.an.fisip-unmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2013/03/EJOURNAL%20YENNY%20(03-02-13-06-4829).pdf Diakses pada 27-11-2016 20:21 WIB. Hal 198
Ningrum, Harni Abrianti. 2014. Partisipasi Masyarakat dalam Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM MANDIRI) di Kelurahan Karang
Anyar Samarinda Ulu. Dapat diakses pada http://ejournal.sos.fisipunmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/09/19. JOURNAL%20GANJIL
%20(09-02-14-02-49-28).pdf diakses pada 28-11-2016 10:13 WIB. hal.4
Deviyanti, Dea. 2013. Studi Tentang Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan di
Kelurahan Karang Jati Kecamatan Balikpapan Tengah. Dapat diakses pada
http://ejournal.an.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/05/JURNAL
%20DEA%20(05-24-13-09-02-30).pdf diakses pada 28-11-2016 09:55 WIB.
Hal 382
Aniza, Dewi Elya Nur. 2013. Responsivitas PDAM Kabupaten Lamongan dalam
Menangani

Keluhan

Pelanggan.

Dapat

diakses

pada

http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-Dewi%20Elya%20Nur
%20Aniza.pdf diakses pada 28-11-2016 10:07 WIB. hal 2.
Fauzi, Muhammad. 2014. Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Tirta
Khatulistiwa Kantor Pelayanan Wilayah II dalam Menangani Keluhan
Pelanggan Kelurahan Sungai Jawi Dalam di Kota Pontianak. Dapat diakses
pada

http://jurmafis.untan.ac.id/index.php/publika/article/

viewFile/517/pdf

diakses pada 28-11-2016 09:50 WIB. Hal 4


Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi
Usaha Tani Cabai Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada
http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf diakses pada 28-11-2016 10:09
WIB. Hal.7
Julita,SE,M.Si. 2013. Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Pendapatan dan
Belanja pada Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara. Dapat diakses
pada file:///C:/Users/Aditya%20Purnomo/Downloads/290-342-1-PB%20(2).pdf
diakses pada 28-11-2016 10:34 WIB. Hal 4
[Type here]

[Type here]

[Type here]

Panca Kurniasari, Dr. Dwisetia Poerwono, MSc 2011 . Analisis Efisiensi dan Faktorfaktor yang Mempengaruhi Produksi Industri Kecil Kabupaten Kendal. Dapat
diakses pada http://eprints.undip.ac.id/26754/1/jurnal_skripsi_2.pdf diakses
pada 28-11-2016 11:37 WIB. hal 11
Khazanani, Annora. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi
Usaha Tani Cabai Kabupaten Temanggung. Dapat diakses pada
http://eprints.undip.ac.id/29420/1/Jurnal.pdf diakses pada 28-11-2016 10:09
WIB. Hal.7

e) Transparansi (Yogi Wahyu Pratama 155030101111010)


Andrianto (2007:21) dalam jurnal berjudul Akuntabilitas dan Transparansi
Anggaran Melalui E-Government mengungkapkan bahwa transparansi publik adalah
suatu keterbukaan secara sungguh-sungguh, menyeluruh, dan memberi tempat dari
seluruh lapisan masyarakat dalam proses pengelolaan sumber daya publik.[1]
Kemudian Santoso (2008:131) dalam jurnal berjudul Penerapan PrinsipPrinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai menjelaskan bahwa
[Type here]

[Type here]

[Type here]

transparansi adalah adanya ruang kebebasan untuk memperoleh informasi publik bagi
warga yang membutuhkan (diatur oleh undang-undang). Ada ketegasan antara rahasia
negara dengan informasi negara yang terbuka untuk publik.[2]
Selanjutnya

Kurniawan

(2003) dalam

jurnal

berjudul

Akuntabilitas,

Transparansi, Dan Anggaran Berbasis Kinerja Pada Satuan Kerja Perangkat


Daerah Kota Denpasar mengemukakan, bahwa transparansi terwujud apabila
pemerintah bersedia untuk menginformasikan kepada masyarakat/DPRD bagaiamana
dana publik digunakan/dikelola dalam kegiatan dan program pemerintah.[3]
Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa transparansi
sebagai salah satu prinsip governance adalah keterbukaan informasi yang
menyangkut segala proses pemerintahan yang masyarakat bisa mengakses dan
berpartisipasi didalam proses tersebut. Namun, yang dimaksud keterbukaan informasi
publik tersebut juga mempunyai batas-batas tertentu yang tidak mungkin dilanggar
seperti dokumen-dokumen rahasia, informasi intelejen, dan segala informasi yang
menyangkut keamanan negara tersebut.
1

Saadah, Binti. 2015. Akuntabilitas Dan Transparansi Anggaran Melalui E-Government. Dapat diakses pada
http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-kmpe71fe22566full.pdf Diakses pada 22-11-2016 08:32 WIB. hal.
6.
2

Rahayu, Bunga Dwi. 2013. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai.
Dapat diakses pada https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/view/1179/1134 Diakses pada 22-11-2016 08:42 WIB.
hal. 3.
3

Adiwirya, Muhammad Firdiansyah dan Sudana. I Putu. 2015. Akuntabilitas, Transparansi, Dan Anggaran
Berbasis Kinerja Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Denpasar. Dapat diakses pada
http://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/article/viewFile/11371/8990 Diakses pada 22-11-2016 08:40 WIB. hal.
616.

f) Akuntabilitas
Dwiyanto (2008 : 98) dalam jurnal berjudul Akuntabilitas dan Transparansi
Anggaran Melalui E-Government menjelaskan bahwa akuntabilitas sebagai suatu
derajat yang menunjukkan besarnya tanggungjawab aparat atas kebijakan maupun
proses pelayanan publik yang dilaksanakan oleh birokrasi pemerintah.[4]
Kemudian menurut Santoso (2008:131) dalam jurnal berjudul Penerapan
Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai menjelaskan
[Type here]

[Type here]

[Type here]

bahwa akuntabilitas adalah suatu perwujudan kewajiban dari suatu instansi


pemerintahan untuk mempertanggung jawabkan keberhasilan dan kegagalan
pelaksanaan misinya.[5]
Selanjutnya Mardiasmo (2002:21) dalam jurnal berjudul Akuntabilitas,
Transparansi, Dan Anggaran Berbasis Kinerja Pada Satuan Kerja Perangkat
Daerah Kota Denpasar menjelaskan bahwa akuntabilitas menunjukkan bagaimana
kemampuan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait pelayananpelayanan yang dibuat oleh pemerintah.[6]
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas adalah
perwujudan segala tugas-tugas pelayanan publik oleh pemerintah. Disamping sebagai
perwujudan tugas-tugas, pemerintah harus mampu menjelaskan dampak/pengaruh
pelayanan publik tersebut kepada masyarakat.
4

Saadah, Binti. 2015. Akuntabilitas Dan Transparansi Anggaran Melalui E-Government. Dapat diakses pada
http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-kmpe71fe22566full.pdf Diakses pada 22-11-2016 08:32 WIB. hal.
5.
5

Rahayu, Bunga Dwi. 2013. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai.
Dapat diakses pada https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/view/1179/1134 Diakses pada 22-11-2016 08:42 WIB.
hal. 3.
6

Adiwirya, Muhammad Firdiansyah dan Sudana. I Putu. 2015. Akuntabilitas, Transparansi, Dan Anggaran
Berbasis Kinerja Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Denpasar. Dapat diakses pada
http://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/article/viewFile/11371/8990 Diakses pada 22-11-2016 08:40 WIB.
hal.616.

g) Efektivitas
Widjaja (1993:32) dalam jurnal berjudul Penerapan Prinsip-Prinsip Good
Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai

mengemukakan: "Efektifitas

adalah hasil membuat keputusan yang mengarahkan, melakukan sesuatu dengan


benar, yang membantu memenuhi misi suatu perusahaan atau pencapaian tujuan".
Selanjutnya oleh John Suprihanto et al. (2003:15) dalam jurnal berjudul Penerapan

[Type here]

[Type here]

[Type here]

Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai efektifitas


diartikan sebagai prestasi (performance) individu, kelompok, dan organisasi.[7]
Kemudian Sarwoto (1990:126) dalam jurnal berjudul Penerapan PrinsipPrinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai mengistilahkan
efektifitas dengan "berhasil guna", yaitu pelayanan yang baik corak dan mutunya dan
benar-benar sesuai dengan kebutuhan dalam pencapaian tujuan organisasi.[8]
Selanjutnya Siagian (1996:19) dalam jurnal berjudul Penerapan PrinsipPrinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai yaitu "penyelesaian
pekerjaan tepat pada waktu yang ditentukan, artinya apabila pelaksanaan tugas dinilai
baik atau tidak adalah sangat tergantung pada bilamana tugas tersebut diselesaikan
dan bukan terutama menjawab tentang bagaimana melaksanakan serta berapa biaya
yang dikeluarkan untuk pekerjaan tersebut".[9]
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah
keberhasilan pencapaian tujuan secara tepat dan output dari organisasi mampu
berdaya guna.
7

Rahayu, Bunga Dwi. 2013. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai.
Dapat diakses pada https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/view/1179/1134 Diakses pada 22-11-2016 08:42 WIB.
hal. 4.
8

Rahayu, Bunga Dwi. 2013. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai.
Dapat diakses pada https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/view/1179/1134 Diakses pada 22-11-2016 08:42 WIB.
hal. 4.
9

Rahayu, Bunga Dwi. 2013. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai.
Dapat diakses pada https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/view/1179/1134 Diakses pada 22-11-2016 08:42 WIB.
hal. 4.

h) Konsensus
LAN dan BPKP (sosialisasi LAN dan BPKP, 2000) dalam jurnal berjudul
Konsesnsus Sebagai Pilar Utama Good Governance Dalam Penyelesaian Konflik
Tanah Ulayat Kabupaten Kampar Provinsi Riau menjelaskan bahwa melalui
karakteristik consensus orientation, good governance dapat menjadi mekanisme

[Type here]

[Type here]

[Type here]

intermediasi kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi


kepentingan yang lebih luas baik dalam hal kebijakan maupun prosedur.[10]
Kemudian Santoso (2008:131) dalam jurnal berjudul Penerapan PrinsipPrinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai menjelaskan bahwa
konsensus adalah jika ada perbedaan kepentingan yang mendasar di dalam
masyarakat, penyelesaian harus mengutamakan cara dialog atau musyawarah menjadi
konsensus.[11]
Selanjutnya Ryaas Rasyid (1997) dalam jurnal berjudul Konsesnsus Sebagai
Pilar Utama Good Governance Dalam Penyelesaian Konflik Tanah Ulayat
Kabupaten Kampar Provinsi Riau mengemukakan penyelenggaraan pemerintah
sebagai suatu governing process memerlukan seni pemerintah yang menemukan cara
pendekatan yang sesuai, yang bisa disebut sebagai governing, yaitu suatu proses
pengelolaan kekuasaan dimana pemerintah dijalankan berdasarkan konsensuskonsensus antara mereka yang duduk dalam struktur pemerintahan dengan warga
masyarakat.[12]
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa konsensus
adalah penyatuan atau peleburan perbedaan-perbedaan kepentingan dalam organisasi
menjadi sebuah kesepakatan.
10

Fitra, Yuza Ahmad. 2014. Konsesnsus Sebagai Pilar Utama Good Governance Dalam Penyelesaian Konflik
Tanah
Ulayat
Kabupaten
Kampar
Provinsi
Riau.
Dapat
diakses
pada
http://jurnal.uir.ac.id/index.php/JKP/article/view/429/366 Diakses pada 22-11-2016 08:35 WIB. hal. 64.
11

Rahayu, Bunga Dwi. 2013. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai.
Dapat diakses pada https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/view/1179/1134 Diakses pada 22-11-2016 08:42 WIB.
hal. 3.
12

Fitra, Yuza Ahmad. 2014. Konsesnsus Sebagai Pilar Utama Good Governance DalamPenyelesaian Konflik
Tanah
Ulayat
Kabupaten
Kampar
Provinsi
Riau.
Dapat
diakses
pada
http://jurnal.uir.ac.id/index.php/JKP/article/view/429/366 Diakses pada 22-11-2016 08:35 WIB. hal. 64.

DAFTAR PUSTAKA
Adiwirya, Muhammad Firdiansyah dan Sudana. I Putu. 2015. Akuntabilitas,
Transparansi, Dan Anggaran Berbasis Kinerja Pada Satuan Kerja Perangkat
Daerah
Kota
Denpasar.
Dapat
diakses
pada
http://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/article/viewFile/11371/8990 Diakses
pada 22-11-2016 08:40 WIB.
[Type here]

[Type here]

[Type here]

Fitra, Yuza Ahmad. 2014. Konsesnsus Sebagai Pilar Utama Good Governance
DalamPenyelesaian Konflik Tanah Ulayat Kabupaten Kampar Provinsi Riau.
Dapat diakses pada http://jurnal.uir.ac.id/index.php/JKP/article/view/429/366
Diakses pada 22-11-2016 08:35 WIB.
Rahayu, Bunga Dwi. 2013. Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap
Efektifitas
Kerja
Pegawai.
Dapat
diakses
pada
https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/view/1179/1134 Diakses pada 22-112016 08:42 WIB.
Saadah, Binti. 2015. Akuntabilitas Dan Transparansi Anggaran Melalui EGovernment. Dapat diakses pada http://journal.unair.ac.id/download-fullpaperskmpe71fe22566full.pdf Diakses pada 22-11-2016 08:32 WIB.

[Type here]

[Type here]

[Type here]