Anda di halaman 1dari 20

Diana : Gejala Skizofrenia - Paranoid

Skizofrenia adalah gangguan mental, yang memiliki efek jangka panjang dan cukup parah
pada kesehatan mental dan stabilitas seseorang. Kondisi ini memiliki 5 sub-klasifikasi, dan
skizofrenia paranoid merupakan yang paling umum.
Penyakit mental dapat membuat seseorang berbahaya bagi dirinya sendiri dan juga
masyarakat. Salah satu gangguan mental yang paling melemahkan dan menakutkan adalah
skizofrenia. Kemampuan untuk memecahkan dan memutuskan apa yang nyata dan apa yang
tidak, terganggu atau tidak berfungsi baik pada orang yang skizofrenia. Mereka terganggu
oleh halusinasi dan delusi, dan kehilangan sentuhan dengan realitas. Penderita skizofrenia
memiliki proses berpikir yang terganggu, di mana pikiran mereka berulang kali memainkan
trik pada diri mereka, dengan mengaburkan fantasi menjadi kenyataan. perasaan dan emosi
mereka diredam, karena mereka tidak bisa menanggapi situasi emosional. Ada berbagai jenis
skizofrenia, berdasarkan bagaimana gejala mereka nampak.
Skizofrenia Paranoid
"Apakah Anda merasa seolah-olah ada skenario rahasia mengenai Anda? Seakan-akan
seluruh dunia bersatu di dalamnya. Mengawasi Anda diam-diam, berbicara tentang Anda dan
mencoba untuk menyakiti Anda. Mereka memeriksa sampah Anda, pepohonan di sekitar
Anda, mengawasi Anda, apa pun untuk mengumpulkan informasi lebih banyak untuk
menghancurkan Anda Untuk itu adalah tujuan utama mereka.. Mereka tidak akan ragu-ragu
untuk menyakiti keluarga Anda. Mereka bahkan akan membuat mereka melawan Anda,
sehingga Anda sendirian. Dan rentan. Dan tidak mempercayai apapun. "
Paragraf di atas hanyalah sekilas kecil dan kasar dari pikiran seseorang yang menderita
skizofrenia paranoid. Delusi dapat mengambil banyak bentuk dan paranoia merupakan hal
yang menyedihkan dan merupakan salah satu jenis skizofrenia. Seseorang yang menderita
skizofrenia jenis ini berpikir bahwa ia sedang dianiaya dan diikuti terus-menerus. Tidak
seperti bentuk skizofrenia lainnya, dimana proses berpikir terhambat dan kemampuan mental
menurun, penderita paranoid skizofrenia bisa bersikap normal dan sebenarnya cerdas dan
sangat sadar akan sekitarnya. Mereka tidak memiliki masalah berbicara atau
ketidakmampuan untuk menunjukkan emosi.
Masalahnya adalah mereka berhadapan dengan musuh-musuh imajiner mereka, yang selalu
keluar untuk mendapatkan mereka. seseorang yang hari ini adalah teman dekat dan
kepercayaannya, besok dia dapat berubah menjadi musuh yang menusuk dari belakang.
Konsekuensi dari pemikiran berulang seperti itu menghancurkan bukan hanya individu
tersebut, tapi untuk keluarganya juga. Ini mempengaruhi harga diri dan percaya diri, belum
lagi ketegangannya. Untuk keluarganya, perilakunya mengambil bentuk emosional yo-yo,
satu menit tenang dan ramah, menit berikutnya ia mendesak mereka untuk tidak berbicara
dengan para tetangga. penderita skizofrenia tersebut juga terobsesi tentang cara-cara untuk
mempertahankan diri mereka sendiri dan bagaimana untuk mengalahkan "musuh".
Penyebab Skizofrenia Paranoid
Sulit untuk memprediksi apa yang bertanggung jawab menjadi penyebab dari setiap
gangguan mental tapi di sini ada beberapa faktor kemungkinan yang dapat menyebabkan
kepribadian skizofrenia paranoid:
* Apakah skizofrenia dipengaruhi oleh faktor keturunan atau tidak, adalah masalah yang

diperdebatkan, terutama di kalangan psikiater. Riwayat keluarga menderita skizofrenia


paranoid dapat meningkatkan risiko gangguan tersebut muncul pada generasi berikutnya.
* Pekerjaan atau situasi yang sangat stres dapat menyebabkan seorang individu untuk terkena
skizofrenia paranoid. Sebagai contoh, agen pengawal atau keamanan yang digunakan untuk
mencari potensi bahaya di mana-mana, bisa menjadi terkena skizofrenia dan terobsesi atas
musuh-musuh yang tersembunyi.
* Penyalahgunaan Zat, melalui obat-obatan dan alkohol dapat menyebabkan
ketidakseimbangan dalam fungsi otak. zat tersebut diketahui menyebabkan delusi, sehingga
mereka dapat menyebabkan paranoia.
* Infeksi Virus dan kesehatan yang buruk pada anak yang belum lahir dapat menyebabkan
disfungsi otak, yang dapat mengakibatkan skizofrenia paranoid di kemudian hari.
Gejala Skizofrenia Paranoid
Jenis skizofrenia adalah jenis yang paling umum. Diperkirakan 40% dari semua kasus
skizofrenia paranoid di alam. Berikut adalah beberapa gejala kunci skizofrenia paranoid:
* Mendengar suara dan bunyi imajiner
* Selalu curiga terhadap niat orang lain
* Sangat merendahkan dan bersikap sombong
* Cenderung untuk berdebat dan melawan keluar dari banyak situasi
* Memiliki perasaan dan ide-ide bunuh diri
* Memiliki musuh dan lawan imajiner
* Delusi akan kemegahan dan ketenaran
* Delusi menjadi target bahaya dan dibunuh
* Merasa sendirian dan melawan dunia
* Sikap menarik diri dan tertutup
* Mencurigai orang sebagai potensi ancaman
* Bersikap dan kecendrungan bertindak kekerasan dan berpikir defensif
tanda-tanda tersebut dapat kronis atau pernah hadir, atau berfluktuasi dengan episode
paranoia diikuti dengan periode tenang. Gejala-gejala skizofrenia paranoid yang paling
menonjol dalam individu terjadi antara usia 25 - 30 tahun. Pada anak-anak muda, tanda-tanda
seperti ini sulit untuk didiagnosa. Remaja biasanya tidak konsisten dengan pola perilaku, dan
bisa jadi jika penyakit tersebut hadir bisa diabaikan.
Diagnosis dilakukan berdasarkan prevalensi dan kejadian paling sedikit 3 - 4 gejala
skizofrenia paranoid dan durasi hal tersebut terjadi. Tanda kunci di sini adalah metode
berpikir paranoid. Hal ini dapat disadari oleh seseorang yang dekat, teman atau anggota
keluarga untuk benar-benar mencari bantuan medis bagi individu yang terkena kondisi ini,
dikarenakan sifat mencurigai mereka membuat penderita skizofrenia paranoid alami pendiam
dan sulit. Mencari seorang ahli kesehatan mental apabila mengalami kasus tersebut adalah
yang terbaik. skizofrenia Paranoid dapat mengubah seorang pria pasif menjadi berbahaya dan
bersikap agresif, jika individu tidak mendapatkan bantuan yang tepat pada waktunya. Bunuh
diri, perilaku tak menentu, melakukan tindakan fisik dan sebagainya adalah beberapa metode,
seorang penderita skizofrenia paranoid mungkin butuh mengekspresikan kesedihannya. Jika
Anda tahu seseorang yang menunjukkan beberapa atau semua gejala di atas, maka silakan
membantu mereka dalam mencari bantuan profesional. Dalam keadaan mereka saat ini,
bantuan dan dukungan mungkin penyelamat mereka dari kondisi paranoia.

Menangani Gangguan Jiwa Skizofrenia Paranoid


Labels: kedokteran | author: Khairunnisa Ast
Skizofrenia Paranoid adalah gangguan jiwa yang oleh orang awam biasa disebut orang gila.
Walau pun begitu, dalam kedokteran tidak ada istilah orang gila, yang ada adalah orang
dengan gangguan jiwa. Untuk menegakkan skizofrenia paranoid harus memenuhi kriteria
seperti yang ada dalam PPDGJ. Sebelum memaparkan penanganan Skizofrenia Paranoid,
saya akan mengemukakan sebuah contoh kasus.
Pasien bernama Dr. Minor (1834-1920 M), kebangsaan Amerika (sebenarnya dalam
kedokteran tidak dibenarkan untuk menjelaskan identitas pasien, namun di sini saya
memberikan contoh seorang pasien yang memang sudah terkenal untuk memudahkan
pemaparan).
Ia dirawat di rumah sakit jiwa penjara Broadmoor karena membunuh seseorang saat jiwanya
terganggu. Gejala yang dialaminya adalah halusinasi berupa sekelompok orang yang
mendatanginya pada malam hari, menyiksanya, memaksanya melakukan hal-hal yang tidak
senonoh, dan merusak barang-barangnya. Ia memiliki waham bahwa sekelompok orang ingin
menghancurkannya.
Penyebab gangguan yang dialaminya diduga adalah pengalaman menjadi asisten dokter saat
perang saudara di Amerika.
Yang membuat Dr. Minor cukup terkenal adalah ia merupakan voluntir yang cukup berjasa
dalam pembuatan Oxford English Dictionary.
Menangani pasien dengan gangguan jiwa bukan hanya tugas dokter. Orang terdekat biasanya
orang yang akan tahu lebih dulu jika ada sesuatu yang ganjil. Pasien dengan gangguan jiwa
biasanya akan menceritakan keluhan yang ia alami, seperti Dr. Minor yang bercerita kepada
keluarganya tentang sekelompok orang yang ingin menghancurkannya dan sering
mendatanginya pada malam hari.
Jika yang bersangkutan adalah orang yang tidak pernah bohong, biasanya keluarga akan
menanggapi dengan serius. Namun seiring berjalannya waktu keluarga akan sadar bahwa ini
hanya keluhan tidak beralasan. Kebanyakan orang tidak akan mengacuhkan keluhan ini dan
membiarkannya begitu saja. Jika gejala bertambah parah atau sampai mengamuk, baru
keluarga membawa yang bersangkutan ke dokter.
Ketika seseorang mengatakan bahwa ia melihat bayangan hitam yang mendatanginya dan
menyiksanya pada malam hari, ada tiga kemungkinan yang terjadi. Pertama, orang tersebut
hanya mengada-ada dan ingin mencari perhatian. Kedua, ia memang melihat makhluk halus.
Ketiga, itu hanya halusinasinya saja. Orang dengan gangguan jiwa mengalami hal yang
ketiga.
Perlu diingat, walau pun hanya halusinasi yang dialami oleh yang bersangkutan, dimana
orang lain tidak bisa melihat, mendengar dan merasakannya, tapi apa yang dirasakan oleh
pasien adalah nyata. Ketakutannya adalah nyata walau pun pada sesuatu yang tidak nyata.
Dan pasien sangat terganggu dengan hal ini sehingga ia akan mengeluhkannya kepada orang
lain.

Keluarga hendaknya bisa berempati terhadap apa yang dialami pasien dan jangan
menyalahkan pasien, karena tidak ada pasien yang mau mengalami hal tersebut. Jika hal ini
sudah cukup mengganggu bawalah pasien berobat.
Dokter jiwa atau psikiater menegakkan diagnosis dengan wawancara, mencakup riwayat
yang mungkin jadi pemicu gangguan jiwa. Setelah diagnosis ditegakkan biasanya akan diberi
obat. Untuk pasien skizofrenia paranoid biasanya diberi obat anti psikosis. Pada kasus Dr.
Minor, ia tidak mendapatkan anti psikosis karena waktu itu belum ditemukan (bahkan nama
skizofrenia paranoid waktu itu belum dikenal). Obat anti psikosis seperti Haloperidol baru
ditemukan sekitar 1950-an, dan sekarang sudah ada anti psikosis atipikal dengan efek
samping yang lebih rendah.
Obat antipsikosis terbukti dapat mengurangi dan menghilangkan halusinasi yang dialami
pasien. Saya melakukan wawancara dengan pasien di Rumah Sakit Mazuki Mahdi (RSMM)
Bogor dan pasien mengatakan halusinasinya berkurang sejak dirawat dan minum obat.
Karena halusinasi merupakan sesuatu yang mengganggu pasien, maka dengan berkurangnya
halusinasi, maka pasien pun menjadi lebih tenang dan nyaman.
Walau begitu perlu diketahui bahwa obat anti psikosis memiliki efek samping seperti efek
piramidal. Perlu penjelasan kepada pasien dan keluarga mengenai efek samping tersebut.
Biasanya dokter akan memberikan obat tambahan untuk mencegah efek samping.
Penggunaan antipsikosis harus dilakukan terus-menerus. Pengurangan dosis harus
berdasarkan resep dokter. Saya menemui banyak kasus dimana pasien kambuh karena putus
obat. Hal ini juga memerlukan pemahaman dari pasien dan keluarga.
Penanganan skizofrenia paranoid tidak hanya dengan obat, faktor lain yang cukup berperan
adalah sosial lingkungan. Pasien yang menikah, memiliki pekerjaan, maupun bersekolah
mempunyai prognosis yang baik. Kegiatan yang bermanfaat bisa mengalihkan perhatian
pasien dari gangguan yang ia alami. Dr. Minor menghabiskan kurang lebih 20 tahun dari
umurnya di penjara Broadmoor sebagai voluntir dalam pembuatan Oxford English Dictionary
(OED). Walau pun pada malam hari ia dihantui oleh halusinasi yang sangat mengganggunya.
Pada siang hari ia adalah seseorang dengan intelektual yang tinggi dengan kecintaannya yang
besar terhadap bahasa. Ia menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku dan membuat
kutipan untuk OED. Menurut para perawat, waktu itu keadaan jiwa Dr. Minor tampak lebih
stabil.
Berikutnya yang tidak kalah penting adalah agama. Dalam agama Islam, orang gila bebas
dari tuntutan agama. Dengan perkembangan ilmu psikiatri sekarang, gangguan jiwa seperti
apa yang dimaksud orang gila yang bebas dari tuntutan agama? Jika semua yang ada dalam
PPDGJ merupakan orang gila yang bebas dari tuntutan agama, maka mungkin saya pun bebas
dari tuntutan agama. Sayangnya ilmu saya belum sampai ke sana sehingga saya tidak akan
memberikan batasan di sini.
Yang ingin saya bahas adalah menerapkan nilai-nilai agama sedapat mungkin. Pada kasus Dr.
Minor (sayang dia non muslim), walau pun diganggu oleh halusinasi yang cukup menyiksa
pada malam hari, pada siang hari ketika kondisinya sedang baik, ia bisa berkomunikasi,
bergaul, dan bisa membedakan baik dan buruk. Orang seperti ini tidak ada salahnya diajak
menjalankan ibadah seperti shalat dan mengaji jika dia adalah muslim. Walaupun sekali lagi
orang gila bebas dari tuntutan agama, namun mendekatkan diri kepada Allah baik untuk

semua orang. Masalah ibadahnya diterima atau tidak adalah urusan Allah.
Dengan berbagai pendekatan yang dilakukan, semoga bisa mengubah pandangan masyarakat
terhadap orang dengan gangguan jiwa. Mereka adalah orang yang sakit dan memerlukan
bantuan, bukan untuk dicemooh dan dihindari. Semoga bermanfaat

: skizofrenia hebefrenik
<a
href='http://a.tribalfusion.com/h.click/atmRwQUVY55b2smtetXTex3HQFPcfC2mBIpWAtV
WJdXFQ8YFYh0qZanRb3ZcUUB2VWn2nFBxQb7mYqvq3TZbe4ajYnaFGXrjfWWBXnmf
ImV7mmHnE3qU73Wim5PFGnFbKXVYT1VJV0svvnab43rMWTFfZcWPrYPEQ4PGYsSd
ftYpeXmq6WvRTxOmEfPF7TwrqFmFElwCZbOVa3xh20kcS/http://ads.planet49.com/www/
delivery/ck.php?n=a5fa0d04' target='_blank'><img
src='http://ads.planet49.com/www/delivery/avw.php?
zoneid=1724&amp;n=a5fa0d04&amp;ct0=http://a.tribalfusion.com/h.click/atmRwQUVY55b
2smtetXTex3HQFPcfC2mBIpWAtVWJdXFQ8YFYh0qZanRb3ZcUUB2VWn2nFBxQb7mY
qvq3TZbe4ajYnaFGXrjfWWBXnmfImV7mmHnE3qU73Wim5PFGnFbKXVYT1VJV0svvn
ab43rMWTFfZcWPrYPEQ4PGYsSdftYpeXmq6WvRTxOmEfPF7TwrqFmFElwCZbOVa3xh
20kcS/' border='0' alt='' /></a>
Untuk yang masih belum mengetahui apa itu Skizofrenia, silahkan cek artikel sebelumnya
Jenis Jenis Skizofrenia
1. Skizofrenia Paranoid
Ini adalah jenis skizofrenia yang paling sering dijumpai di Negara manapun. Gambaran
Klinis didominasi oleh waham waham yang secara relative stabil, sering kali bersifat
paranoid, biasanya disertai oleh halusinasi-halusinasi, terutama halusinasi pendengaran dan
gangguan persepsi. Gangguan afektif, dorongan kehendakdan pembicaraan serta gejala gejala
katatonik tidak menonjol
2. Skizofrenia Hebefrenik
Suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas dan secara umum juga
dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat mengambang serta terputus putus, perilaku
yang tak bertanggung jawab da tak dapat diramalkan, serta umumnya mannerism. Suasana
perasaan pasien dangkal dan tidak wajar, sering disertai cekikikan atau perasaan puas diri,
senyum sendiri, atau oleh sikap yang angkuh/ agung; menyeringai, mengibuli secara bersenda
gurau, keluhan hipokondrik, dan ungkapan kata yang diulang ulang. Proses pikir mengalami
disoranisasi dan pembicaraan tak menentu serta inkoheren, Ada kecenderungan untuk tetap
menyendiri, dan perilaku tampak hampa tujuan dan hampa perasaan.
3. Skizofrenia Katatonik

Gangguan psikomotor yang menonjol merupakan gambarab yang esensial dan dominan dan
dapat bervariasi antara kondisi ekstrem seperti hiperkinesis dan stupor, atau antara sifat
penurut yang otomativs da negativism. Sikap dan posisi tubuh yang dipaksakan (constrained)
dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama. Episode kegelisahan disertai kekerasan
(violent) mungkin merupakan gambaran keadaan ini yang mencolok.
4. Skizofrenia Residual
Suatu stadium kronis dalam perkembangan suatu gangguan skizofrenik dimana telah terjadi
progresi yang jelas dari stadium awal (terdiri dari satu atau lebih episode dengan gejala
psikotik yang memenuhi criteria umum untuk skizofrenia di atas) ke stadium leih lanjut yang
ditandai secara khas oleh gejala gejala negatif jangka panjang, walalupun belum tentu
ireversibel.
5. Skizofrenia Simpleks
Suatu kelainan yang tidak lazim dmana ada perkembangan yang bersifat perlahan tetapi
progresif mengenai keanehan tingkah laku, ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan
masyarakat dan penurunan kinerja secara menyeluruh. Tidak terdapat waham dan halusinasi,
serta gangguan ini bersifat kurang nyata psikotik jika dibandingkan dengan skizofrenia
subtype hebefrenik, paranoid dan katatonik. Ciri ciri negatif yang khas dari skizofrenia
residual tmbul tanpa didahului oleh gejala gejala psikotik yang overt. Bersama dengan
bertambahnya kemunduran sosial, maka pasien dapat berkembang lebih lanjut menjadi
gelandangan (psikotik), pendiam, malas, dan tanpa tujuan.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2215636-tipe-skizofreniappdgj/#ixzz27eyNplyV

Psikosa (Sakit Jiwa)


disusun oleh Muhammad Akbar

Pengertian Psikosa
Dengan meninjau sistem kepribadian (dinamika jiwa):

1. Menurut Freud, bahwa kepribadian terdiri atas tiga sistem/lapis id, ego, super-ego.
Susunan teratur, kerjasamanya harmonis. Pada psikosa: susunan tidak teratur,
bahkan antara ego dan super-ego jadi jenuh, sehingga orang tak dapat menghayati
realita.

2. Pada penciptaan manusia, di mana disebutkan diciptakan berjiwa tauhid dan


berkepribadian iman dan takwa. Pada manusia dewasa (umur 20/25 tahun 35/40
tahun), iman dan takwa (kepribadian) harus sudah mantap/masak. Kalau belum
maka diulang, kalau pengulangan dimulai dari bawah 7 tahun, orang itu disebut
menderita sakit jiwa.
Pada penderita psikosa (sakit jiwa) pada umumnya dan pada penderita skizofrenia
khususnya, terjadi tak kekompakkan dalam aspek-aspek:

1. Kontak psikis (hubungan antara penderita dengan orang lain). Misalnya: Autisme, isolasi diri
dan lain-lain.

2. Perhatian dan inisiatif. Misalnya: ide paranoid.


3. Daya menghayati realitas. Misalnya: waham, halusinasi dan lain-lain.
4. Proses berpikir. Misalnya: logorea, inkoherensi dan lain-lain.
5. Keadaan afek dan kehidupan emosi. Misalnya: afek datar, ketidak sesuaian afek dan lain-lain.
6. Dorongan dan perbuatan instinctual. Misalnya: hipoaktivitas, hiperaktivitas dan lain-lain.
Di mana kekompakkan aspek-aspek tersebut merupakan syarat mutlak bagi individu dalam
kehidupan/pergaulan dalam masyarakat:

Sebagai manusia berke-Tuhanan

Sebagai manusia individual

Sebagai manusia sosial

Sebagai manusia lingkungan

Karenanya penderita sakit jiwa (psikosa) mengalami gangguan/kemunduran dalam sosialisasinya,


kepandaiannya dan lain-lain, maka timbullah/terbentuklah gejala-gejala gangguan jiwa, (Prayitno,
2004).

Skizofrenia
Pengertian skizofrenia

Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai di mana-mana sejak dahulu kala.
Sebelum Kraepelin tidak ada kesatuan pendapat mengenai berbagai gangguan jiwa yang sekarang
dinamakan skizofrenia, (Kaplan dan Sadock, 2003).
Kraepelin ialah seorang ahli kedokteran jiwa di kota Munich dan ia mengumpulkan gejala-gejala dan
sindroma itu dan menggolongkannya ke dalam satu kesatuan yang dinamakannya demensia precox.
Menurut Kreapelin pada penyakit ini terjadi kemunduran intelegensi sebelum waktunya; sebab itu
dinamakannya demensia (kemunduran intelegensi) precox (muda, sebelum waktunya), (Kaplan dan
Sadock, 2003).
New Haven (Kaplan dan Sadock, 2003), memberikan indeks untuk merumuskan pengertian
skizofrenia, sebagai berikut :

1. a. Waham: tidak ditentukan atau selain dari deperesif


1. Halusinasi dengar
2. Halusinasi lihat
3. Halusinasi lain
2. a. Pikiran aneh
b. Automatisme atau pikiran pribadi yang jelas tidak realistik
c. Pengenduran asosiasi, pikiran tidak logis, overindusion.
d. Penghambatan
e. Kekonkretan
f. Derealisasi
g. Depersonalisasi

3. Afek yang tidak sesuai


4. Konfusi
5. Ide paranoid (pikiran merujuk pada diri sendiri, kecurigaan)

6. Perilaku katatonik (kegembiraan, stupor, flesibilitas lilin, negativisme, mutisme, ekolalia,


aktivitas motorik stereotipik).
Untuk dapat dianggap sebagai skizofrenia, pasien harus memiliki nilai pada butir 1 atau butir 2a, atau
2c. dan harus mendapatkan skor total sekurangnya 4 poin.

3. Gambaran klinis
Perjalanan penyakit skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase
residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala-gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu,
bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi :
hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri.
Perubahan-perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman,
mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin
buruk prognosisnya. Pada fase aktif gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku
katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang
berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala-gejala tersebut dapat hilang spontan
suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual di
mana gejala-gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif/psikotiknya sudah
berkurang. Di samping gejala-gejala yang terjadi pada ketiga fase di atas, pendenta skizofrenia juga
mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa,
kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial), (Luana, 2007).

4. Jenis-jenis skizofrenia
Skizofrenia simpleks
Skizofrenia simpleks, sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama ialah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir biasanya sukar
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbul secara perlahan. Pada
permulaan mungkin penderita kurang memperhatikan keluarganya atau menarik diri dari
pergaulan. Makin lama ia semakin mundur dalam kerjaan atau pelajaran dan pada akhirnya
menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang menolongnya ia akan mungkin akan
menjadi pengemis, pelacur atau penjahat (Maramis, 2004).
Skizofrenia hebefrenik
Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia, menurut Maramis (2004) permulaannya
perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 1525 tahun. Gejala yang

menyolok adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.
Gangguan psikomotor seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini. Waham
dan halusinasi banyak sekali.

3. Skizofrenia katatonik
Menurut Maramis (2004) skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia, timbulnya
pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres
emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
Stupor katatonik
Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap
lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Secara tiba-tiba atau perlahan-lahan penderita
keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.
Gaduh gelisah katatonik
Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik, tapi tidak disertai dengan
emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar.

4. Paranoid
Jenis ini berbeda dari jenis-jenis lainnya dalam perjalanan penyakit. Hebefrenia dan
katatonia sering lama-kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplek atau gejala
campuran hebefrenia dan katatonia. Tidak demikian halnya dengan skizofrenia paranoid yang
jalannya agak konstan, (Maramis, 2004).

5. Episode skizofrenia akut


Gejala skizofrenia ini timbul mendadak sekali dan pasien seperti keadaan mimpi.
Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar dan
dirinya sendiri berubah. Semuanya seakan-akan mempunyai arti yang khusus baginya.
Prognosisnya baik dalam waktu beberapa minggu atau biasanya kurang dari enam bulan
penderita sudah baik. Kadang-kadang bila kesadaran yang berkabut tadi hilang, maka timbul
gejala-gejala salah satu jenis skizofrenia yang lainnya, (Maramis, 2004).

6. Skizofrenia residual

Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primernya


Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa
kali serangan skizofrenia, (Maramis, 2004).

7. Skizofrenia skizoafektif
Pada skizofrenia skizoafektif, di samping gejala-gejala skizofrenia terdapat menonjol
secara bersamaan, juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. Jenis ini cenderung untuk
menjadi sembuh tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul lagi serangan (Maramis, 2004).
Diagnosis skizofrenia
Pedoman Diagnostik PPDGJ III

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

1. - thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda ; atau
- thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(withdrawal); dan
- thought broadcasting= isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umum mengetahuinya;

2. - delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan


tertentu dari luar; atau
- delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk
kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan
khusus);
- delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna
sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat;

3. Halusinasi auditorik:

suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku


pasien, atau

mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara


berbagai suara yang berbicara), atau

jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.

4. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap


tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu
mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain)

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

1. halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulanbulan terus menerus;

2. arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang
berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;

3. perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu


(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;

4. gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan
diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi oleh depresi atau medikasi
neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan
atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan

(overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (selfabsorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
Menurut Bleuler diagnosa skizofrenia sudah boleh dibuat bila terdapat ganguangangguan primer dan disharmoni pada unsur-unsur kepribadian serta diperkuat dengan adanya
gejala-gejala sekunder. Sedangkan Schneider berpendapat bahwa diagnosa sudah boleh dibuat

bila terdapat satu dari gejala-gejala halusinasi pendengaran dan satu gejala gangguan batas ego
dengan syarat bahwa kesadaran penderita tidak menurun (PPDGJ III).
Setionegoro (Maramis, 2004) membuat diagnosa skizofrenia dengan memperhatikan
gejala-gejala pada tiga buah koordinat. Koordinat pertama (organobiologik) yaitu, autisme,
gangguan afek dan emosi, gangguan asosiasi (proses berfikir), ambivalensi (gangguan kemauan)
serta gangguan aktifitas maupun gangguan konsentrasi. Koordinat kedua (psikologik) yaitu,
gangguan pada cara berfikir yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan keperibadian, dengan
memperhatikan perkembangan ego, sistematik motivasi dan psikodinamika dalam interaksi
dengan lingkungan. Koordinat ketiga (sosial) yaitu, gangguan pada kehidupan sosial penderita
yang diperhatikan secara fenomenologik.
Schneider (Kaplan dan Sadock, 2003) memberikan kriteria diagnosa berdasarkan urutan
gejala sebagai berikut:
Gejala urutan pertama:

1. Pikiran yang dapat digeser


2. Suara-suara yang berdebat atau berdiskusi atau keduanya
3. Suara-suara yang mengkomentari
4. Pengalaman pasivitas somatik
5. Penarikan pikiran dan pengalaman pikiran yang dipengaruhi lainnya
6. Siar pikiran
7. Persepsi bersifat waham
8. Semua pengalaman lain yang melibatkan kemauan, membuat afek dan membuat
impuls.
Gejala urutan kedua:

1. Gangguan persepsi lain


2. Gagasan bersifat waham yang tiba-tiba
3. Kebingungan

4. Perubahan mood disforik dan euforik


5. Perasaan kemiskinan emosional
6. dan beberapa lainya juga

Langfeldt (Kaplan dan Sadock, 2003) memberikan kriteria diagnosis sebagai berikut:
Kriteria gejala
Petunjuk penting ke arah diagnosis skizofrenia adalah (jika tidak ada tanda gangguan kongnitif,
infeksi, atau intoksikasi yang dapat ditunjukkan).

1. Perubahan keperibadian yang bermanifestasi sebagai penumpulan emosional dengan jenis


khusus diikuti oleh hilangnya inisiatif dan perilaku yang berubah dan seringkali aneh
(khususnya pada hebefrenik, perubahan adalah karakteristik dan petunjuk utama ke arah
diagnosis).

2. Pada tipe katatonik, riwayat penyakit dan tanda tipikal dalam periode kegelisahan dan stupor
(dengan negativisme, wajah berminyak, katalepsi, gejala vegetatif, dll).

3. Pada psikosis paranoid, gejala penting pembelahan keperibadian (atau gejala


depersonalisasi) dan hilangnya perasaan realitas (gejala derealisasi) atau waham primer.
Kriteria perjalanan penyakit
Keputusan akhir tentang diagnosis tidak dapat dibuat sebelum periode follow-up selama sekurangnya
lima tahun telah menunjukkan perjalanan penyakit yang jangka panjang.

6. Prognosis skizofrenia
Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang
mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh
sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum
ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi
ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : usia tua, faktor pencetus jelas, onset
akut, riwayat sosial / pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga

gangguan mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang
baik sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk,
autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala
negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat agresif
akan memberikan prognosis yang buruk, (Luana, 2007).

7. Pengobatan skizofrenia
I.

Psikofarmaka

Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada
dosis ekuivalen, perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping: sedasi, otonomik,
ekstrapiramidal). Pemilihan jenis anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan
dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekuivalen. Apabila obat antipsikosis
tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu
yang tepat, dapat diganti dengan obat anti psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak
sama) dengan dosis ekuivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis
sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali
untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah
obat anti psikosis atipikal. Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif
pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan
kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang beredar di pasaran dapat di kelompokkan menjadi
dua bagian yaitu anti psikotik generasi pertama (APG I) dan anti psikotik generasi ke dua (APG ll).
APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoin
fundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat
memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan
kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan
memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping anti
kolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguan miksi, defekasi dan hipotensi. APG I
dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10
mg di antaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini
digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri,
hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg di antaranya
adalah chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh
gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis
(SDA) atau anti psikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat
jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat

efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine,
olanzapine, quetiapine dan rispendon, (Luana, 2007).
Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:

1. Onset efek primer (efek klinis): 2-4 minggu. Onset efek sekunder (efek samping): 2-6
jam.

2. Waktu paruh: 12-24 jam (pemberian 1-2x per hari)


3. Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar) sehingga tidak
mengganggu kualitas hidup penderita.

4. Obat anti psikosis long acting: fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau haloperidol
decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2-4ininggu. Berguna untuk pasien yang tidak/sulit
minum obat, dan untuk terapi pemeliharaan.
Cara atau lama pemberian
Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hari sampai mencapai
dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap 2 minggu bila pertu dinaikkan sampai dosis
optimal kemudian dipertahankan 8-12 minggu (stabilisasi). Diturunkan setiap 2 minggu (dosis
maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi drug holidaytapering off (dosis
diturunkan 2-4 minggu) lalu dihentikan..
Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multi episode, terapi pemeliharaan paling sedikit
5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian
obat anti psikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala
psikosis reda sama sekali. Pada penghentian mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound
gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan
pemberian antikolinergikt seperti injeksi sulfas atropin 0,25 mg (secara intra muskular), tablet
trihexyphenidyl 3x2 mg/hari, (Luana, 2007).

II.

1-2/hari/minggu) setelah itu

Psikososial
Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain:

Psikoterapi individual
o

Terapi suportif

Sosial skill training

Terapi okupasi

Terapi kognitif dan perilaku (CBT)

Psikoterapi kelompok

Psikoterapi keluarga

Manajemen kasus
Assertive Community Treatment (ACT)

8. Kekambuhan skizofrenia
Kekambuhan gangguan jiwa pisikotik adalah munculnya kembali gejala-gejala pisikotik
yang nyata. Angka kekambuhan secara positif hubungan dengan beberapa kali masuk Rumah
Sakit (RS), lamanya dan perjalanan penyakit. Penderita-penderita yang kambuh biasanya
sebelum keluar dari RS mempunyai karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan memiliki
sedikit keterampilan sosial, (Porkony dkk, 1993).
Porkony dkk (1993), melaporkan bahwa 49% penderita Skizofrenia mengalami rawat
ulang setelah follow up selama 1 tahun, sedangkan penderita-penderita non Skizofrenia hanya
28% . Solomon dkk (1994), melaporkan bahwa dalam waktu 6 bulan pasca rawat didapatkan
30%-40% penderita mengalami kekambuhan, sedangkan setelah 1 tahun pasca rawat 40%-50%
penderita mengalami kekambuhan, dari setelah 3-5 tahun pasca rawat didapatkan 65%-75%
penderita mengalami kekambuhan, (Porkony dkk, 1993).
Penderita dengan skizofrenia dapat mengalami remisi dan kekambuhan, mereka dapat
dalam waktu yang lama tidak muncul gejala, maka skizofrenia sering disebut dengan penyakit
kronik, karena itu perlu mendapatkan perhatian medis yang sama, seperti juga individu-individu
yang menderita penyakit kronik lainnya seperti hipertensi dan diabetes mellitus.
Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain tidak minum
obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari
dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan
yang berat yang membuat stress, (cybermed.cbn.net.id).
Empat faktor penyebab penderita kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit, menurut
Sullinger, 1988:

Penderita
Sudah umum diketahui bahwa penderita yang gagal memakan obat secara teratur mempunyai
kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 25% sampai 50% klien
yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara teratur (Appleton, 1982, dikutip oleh
Sullinger, 1988).
Dokter
Makan obat yang teratur dapat mengurangi kekambuhan, namun pemakaian obat neuroleptic
yang lama dapat menimbulkan efek samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu
hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol.
Penanggung jawab penderita
Setelah penderita pulang ke rumah maka pihak rumah sakit tetap bertanggung jawab atas
program adaptasi penderita di rumah.
Keluarga
Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi
(bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan), hasilnya 57%
kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan 17% kembali dirawat dari
keluarga dengan ekspresi emosi keluarga yang rendah. Selain itu penderita juga mudah
dipengaruhi oleh stres yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan
(kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga penderita dan keluarga dapat mengatasi dan
mengurangi stres. Cara terapi bisanya: mengumpulkan semua anggota keluarga dan memberi
kesempatan menyampaikan perasaan-perasaannya. Memberi kesempatan untuk menambah ilmu
dan wawasan baru kepada penderita ganguan jiwa, memfasilitasi untuk menemukan situasi dan
pengalaman baru bagi penderita.
Beberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan keluarganya yaitu:
menjadi ragu-ragu dan serba takut, tidak nafsu makan, sukar konsentrasi, sulit tidur, depresi,
tidak ada minat serta menarik diri, (Iyus, 2007).
Untuk dapat hidup dalam masyarakat, maka penderita skizofrenia perlu mempelajari
kembali keterampilan sosial. Penderita-penderita yang baru keluar dari RS memerlukan
pelayanan dari masyarakat agar mereka dapat menyesuaikan diri dan menyatu dalam
masyarakat. Tingginya angka rehospitalisasi merupakan tanda kegagalan dalam sistem
masyarakat. Penderita kronis di dalam masyarakat membutuhkan dukungan hidup yang dapat
dipertahankan untuk waktu yang lama. Beberapa penderita tetap dapat mengalami kekambuhan
meskipun mereka mendapatkan pelayanan pasca rawat (after care services) pada instansi-

instansi. Lin dkk (1982) melaporkan bahwa 36% dari penderita skizofrenia yang tinggal di panti
setelah perawatan di RS tetap mengalami kekambuhan, (Porkony dkk, 1993).

Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan


Kekambuhan Skizofrenia
Sullivan mengemukakan teori psikodinamika skizofrenia berdasarkan perjalanan-perjalanan
klinik, di mana pusat dari psikopatologinya adalah gangguan kemampuan untuk berhubungan dengan
orang lain. Lingkungan, terutama keluarga memegang peran penting dalam proses terjadinya
skizofrenia. Pernyataan ini juga berlaku sebaliknya, lingkungan, terutama keluarga memegang peran
penting dalam proses penyembuhan skizofrenia. Sebab, dikatakan oleh Sullivan bahwa skizofrenia
merupakan hasil dari kumpulan pengalaman-pengalaman traumatis dalam hubungannya dengan
lingkungan selama masa perkembangan individu (Kaplan dan Sadock, 2003).
Titik berat penelitian-penelitian tentang dukungan sosial keluarga dan gangguan psikotik
terutama skizofrenia adalah pada efek yang menghapuskan hubungan traumatik sendiri seperti
pernyataan emosi, rasa kebersamaan yang semu, mencari kambing hitam dan keterikatan ganda.
Aspek-aspek dukungan sosial keluarga terdiri dari empat aspek yaitu aspek informatif, aspek
emosional dan aspek penilaian atau penghargaan serta aspek instrumental, sebagaimana yang
dikatakan oleh House dan Kahn (1995) tersebut di atas di titik beratkan pada besar dan padatnya
jaringan kerja sosial, misalnya hubungan dengan keluarga dan sifat-sifat hubungan sebelumnya,
(Breier & Strauss, 1994).
Hal ini menunjukkan bahwa kuat lemahnya dukungan sosial keluarga terhadap penderita
berpengaruh terhadap tingkat kesembuhan skizofrenia. Semakin kuat dukungan sosial keluarga
terhadap penderita memungkinkan semakin cepat tingkat kesembuhan skizofrenia. Sebaliknya
semakin lemah dukungan sosial keluarga terhadap penderita memungkinkan semakin lama tingkat
kesembuhan skizofrenia. Demikian juga halnya dengan kekambuhan skizofrenia, terkait dengan kuat
lemahnya dukungan sosial keluarga.
Didapatkan 12 fungsi hubungan sosial dan 2 fase kebutuhan sosial yang penting selama
periode penyembuhan (Breier & Strauss, 1994). Fungsi-fungsi yang menolong dalam hubungan
sosial tersebut adalah 1) ventilasi, 2) tes realita, untuk menilai kemampuan penderita di dalam
membedakan realita, 3) macam dukungan sosial terutama keluarga, 4) persetujuan dan perpaduan
sosial terutama keluarga dan lingkungan dekatnya, di mana penderita ingin diterima kembali dalam
lingkungan sosialnya dan mengharapkan hubungan dengan orang-orang yang dikenalnya sebelum ia
masuk RS, 6) motivasi, 7) pembentukan, di mana penderita mencontoh tingkah laku orang lain untuk

meningkatkan fungsi sosialnya, 8) pengawasan gejala, 9) pemecahan masalah, 10) pengertian yang
empatik, 11) saling memberi dan menerima, 12) insight.
Fase kebutuhan sosial adalah 1) fase penyembuhan, penderita sangat membutuhkan
perhatian dari keluarganya karena tidak dapat mandiri, fungsi hubungan sosial yang digunakan di sini
adalah macam dukungan dan ventilasi, 2) fase pembentukan kembali, fungsi hubungan sosial yang
digunakan adalah motivasi, saling memberi dan menerima, pengawasan gejala. 12 fungsi hubungan
sosial dan 2 fase kebutuhan sosial yang penting selama periode penyembuhan (Breier dan Strauss,
1994) tersebut sangat erat kaitannya dengan dukungan sosial keluarga.
Pemberian obat antipsikotik dapat mengurangi resiko kekambuhan, tetapi obat-obatan
tersebut tidak dapat mengajarkan tentang kehidupan dan keterampilan meskipun dapat memperbaiki
kualitas hidup penderita melalui penekanan gejala-gejala. Pengajaran kehidupan dan keterampilan
sosial hanya mungkin didapat penderita melalui dukungan sosial keluarga. Dari penelitian didapat
bahwa 45% penderita skizofrenia yang mendapat pengobatan antipsikotik akan mengalami
kekambuhan dalam waktu 1 tahun pasca rawat, sedangkan penderita yang diberi plasebo 70%
kambuh, (Kaplan dan Sadock , 2003).
Hal ini berarti pengobatan skizofrenia harus dilakukan dengan cara interaksi
multidimensional. Gejala-gejala dan ketidakmampuan sosial serta ketidakmampuan individual yang di
tunjukkan merupakan hasil dari benturan-benturan yang dialami dalam kehidupan. Angka
kekambuhan dalam waktu 1 tahun pasca rawat pada penderita skizofrenia yang mendapat latihan
keterampilan sosial adalah 20%, penderita yang mendapat pengobatan antipsikotik 41% dan 19%
penderita yang pada keluarga diberikan psikoedukasi. Penderita yang mendapat latihan keterampilan
sosial, obat antipsikotik dan psikoedukasi keluarga dilaporkan tidak ada yang kambuh, (Kaplan dan
Sadock, 2003).