Anda di halaman 1dari 8

Strategi Penyusunan Indikasi Kegiatan

Penanganan Kawasan Kumuh Tahun 2017


Kota/Kabupaten
I Latar Belakang
Dokumen Perencanaan penanganan kumuh tingkat kabupaten/kota masih
dalam proses penyelesaian. Rencana anggaran pelaksanaan peningkatan
kualitas permukiman kumuh tahun 2017, segera dialokasikan untuk dibahas
dan disepakati setiap sektor secara terpadu. Keterpaduan program Kotaku,
NUSP, APBN (Keciptakaryaan), APBD Provinsi, APBD Kabupaten dan Sektor
PUPR untuk direncanakan segera selambat-lambatnya Oktober 2016.
Dipandang perlu dibuat Strategi penyusunan Indikasi Kegiatan
Penanganan Kawasan Kumuh Tahun 2017 kota/kabupaten, yang
memuat indikasi program serta kegiatan Skala Kota dan Kawasan secara
terpadu dalam kerangka pengurangan luas kawasan kumuh perkotaan.
Program dan kegiatan yang dimaksud antara lain untuk sektor Perumahan,
jalan dan drainase, air minum, pengolahan air limbah, pengelolaan sampah,
proteksi kebakaran dan sanitasi serta penyediaan ruang terbuka publik.
Penyusunan Indikasi program dan kegiatan tersebut dilakukan secara
bersamaan (paralel) dengan kegiatan penyusunan dokumen Perencanaan
RP2KPKP dan RPLP.
II Tujuan
Menyusun rancangan indikasi program, kegiatan dan estimasi kebutuhan
anggaran pelaksanaan peningkatan kualitas permukiman kumuh tahun
anggaran 2017 di kota prioritas Program Kotaku 2016.
II Output/Keluaran
Daftar indikasi kegiatan terkait peningkatan kualitas permukiman kumuh di
kota prioritas program KOTAKU 2016
III Strategi Implementasi
1. Penyusunan indikasi kegiatan penanganan kawasan kumuh tahun 2017
kota/kabupaten, dan dokumen perencanaan RP2KPKP dan RPLP
dilakukan bersamaan (paralel). Indikasi Kegiatan harus terakomodir
dalam dokumen perencanaan.
2. Data base line, profil permukiman dan hasil observasi di gunakan
sebagai dasar Penyusunan Indikasi Kegiatan Penanganan Kawasan Kumuh
Tahun 2017 Kota/ Kabupaten.

3. Mencermati dan memastikan sinkronisasi usulan kegiatan skala kota


dan kawasan
4. Rancangan usulan kegiatan prioritas dipastikan sesuai dengan skenario
pemerintah kota dalam menangani kawasan kumuh di wilayahnya.
Oleh karena itu, pastikan pokja PKP terlibat dalam penyusunan Indikasi
kegiatan.
5. Memastikan usulan kegiatan prioritas termasuk usulan alokasi
anggaran
pembangunan
sektoral
(indikator
kumuh)
dapat
diterjemahkan dalam dokumen RP2KPKP dan RPLP dan Matriks rencana
investasi tahun pertama.
IV Tahapan Pelaksanaan
4.1 Rencana kerja/Time line Penyusunan Indikasi Kegiatan
Penanganan Kumuh Tahun 2017 di Kota Prioritas Kotaku
Dalam penyusunan rencana kerja ini, tentunya mempertimbangkan lokasi
irisan NUSP, Direktif menteri PUPR, Reguler dan program lain termasuk
UDMA. Apabila lokasi kotaku beririsan dengan program NUSP, maka
program investasi skala Kota nya mengikuti kajian proses dan arahan
rencana yang ada dalam dokumen SIAP. Sedangkan program investasi
skala kelurahannya sesuai dengan kajian proses dan arahan rencana RPLP
dan NUAP. Pastikan dilakukan secara paralel dan pastikan sinkronisasi
rencana kegiatan skala kota dan kawasan.
Rencana kerja/time line penyusunan, seperti tersaji dibawah ini:
N
o
I

Output

Strategi

Time line

Sumber data
Informasi

Usulan
Indikasi
Kegiatan
1

Penyepakatan Kawasan
Prioritas 2017

10 Oktober
2016

Identifikasi Permasalahan
(Indikator permukiman
kumuh) Kota dan
Kelurahan

11 Oktober
2016

Profil Kota (Hasil


deliniasi dan
sebaran kawasan
kumuh kota
Skenario pemerintah
kota dalam
menangani
kawasan prioritas
permukiman
kumuh
Profil Kota dan
kelurahan (data
numerik dan peta
tematik)

N
o

Output

Strategi
3

II

Pola
Kolaborasi

Analisis pemastian usulan


kegiatan:
Analisis keterpaduan
sektor dalam kawasan
prioritas (perumahan,
jalan, drainase, air
minum, air limbah,
sampah, sanitasi, ruang
publik
Analisis
Keterpaduan/sinkronisasi
kegiatan skala kota dan
Kawasan (contoh:
interkoneksi antara
Jaringan Primer-SekunderTersier)
Analisis keterpaduan
sumber pembiayaan
(Kolaborasi)

Time line
12 Oktober
2016

Sumber data
Informasi
Kajian super impose
peta tematik dan
peta rencana kota
(spatial dan
sektoral)
FGD Pokja PKP

Pemetaan Sumber
Pembiayaan
Penyusunan Indikasi
Kegiatan

14 Oktober
2016

Dokumen
perencanaan
pembangunan
Kota, terkait
penanganan
kumuh
hasil identifikasi
Potensi
kelembagaan dan
Stakeholder kota

Penyepakatan Usulan
Kegiatan Prioritas Skala
kota dan Skala Lingkungan
tahun 2017 (+ Berita
acara)

17 Oktober
2016

FGD bersama pkja


PKP dan
Bupati/Walikota

Pemetaan kolaborasi
(Siapa melakukan apa
termasuk pendanaan)

12-17
Oktober
2016

FGD

4.2
Langkah penyusunan Indikasi kegiatan Skala Kota dan
kawasan
1) Persiapan Dokumen yang sudah ada :
Melakukan pemeriksaan terhadap dokumen perencanaan yang sudah
ada (RP2KPKP/RKPKP/SIAP) mengenai :
a) Lokasi Kawasan Prioritas Penanganan kumuh tahun 2017.

b) Program dan Kegiatan di lokasi Prioritas penanganan kumuh tahun


2017.
c) Sinkronisasi dengan data profil permukiman kumuh, berdasarkan
peta peta hasil delineasi Kumuh berdasarkan SK dan non SK yang
telah disepakati Pemerintah Kabupaten/Kota dan peta tematik kota
dan kelurahan yang memuat persoalan permukiman (100 0 100).
2) Penyepakatan lokasi prioritas penanganan kumuh 2017, dengan
tahapan sebagai berikut :
a) Pokja melakukan FGD perumusan skenario umum penanganan
kawasan permukiman kumuh kota.
b) Penyepakatan lokasi prioritas penanganan kumuh yang akan
ditangani pada tahun 2017
c) Penyepakatan lokasi prioritas (poin b) mempertimbangkan
kesesuaian lokasi kawasan kumuh dengan RTRW dan Kejelasan
Lahan;
3) Identifikasi Permasalahan & Penanganan (Indikator permukiman
kumuh), dengan tahapan sebagai berikut :
a) Melakukan identifikasi persoalan permukiman (100 0 100 atau
indikator kumuh) di kawasan prioritas kota, 2017.
b) Melakukan identifikasi sarana dan prasarana dasar skala pelayanan
perkotaan (primer, sekunder, tersier dll) yang diduga
mempengaruhi persoalan kumuh di kawasan prioritas.
Dalam melakukan identifikasi tersebut, merujuk pada data numerik
dan peta tematik yang ada dalam profil Kelurahan dan kota, dengan
cara FGD untuk menyepakati persoalan/penyebab pesoalan, potensi
dan solusi penanganan, persoalan permukiman kumuh kota dan
kelurahan. Hasil kegiatan:
b.1 Persoalan dan Penanganan Skala kawasan

Keteraturan dan kepadatan bangunan dalam kawasan


Kondisi jalan setapak, jalan lingkungan, panjang dan lebar
jalan, hambatan aksesibilitas dan sirkulasi dalam kawasan;
Kondisi drainase kawasan, dimensi saluran, panjang saluran,
area genangan/banjir, ketinggian air, penyebab genangan dan
persoalan lain yang muncul dalam kawasan
Kondisi/persoalan pelayanan Air minum ( sumber air, kualitas
air, keterbatasan pelayanan jaringan distribusi/SR dalam
kawasan prioritas. Persoalan pelayanan sistem jaringan air
minum tingkat kota yang menyebabkan keterbatasan
pelayanan air minum dalam kawasan

Kondisi pengolahan air limbah (sistem pengelolaan air limbah


yang menyebabkan kekumuhan)
kondisi pengelolaan sampah: Kondisi pengelolaan sampah
kawasan (jenis sampah, sistem pengumpulan sampah,
ketersediaan bak sampah,sistem pengangkutan sampah,
persoalan sampah yang menyebabkan kekumuhan, dan
persoalan keterbatasan pelayanan pengelolaan sampah kota
ke kawasan prioritas;
Kondisi Proteksi kebakaran: kondisi ketersediaan sarana
prasarana proteksi kebakaran yang ada, area perumahan yang
paling rawan kebakaran;

b.2 Persoalan dan Penanganan skala kota

Kondisi jalan primer/sekunder (biasanya jalan utama kawasan,


status jalan kota/kabupaten), panjang dan lebar jalan,
hambatan aksesibilitas dan sirkulasi dalam kawasan;
Kondisi jaringan drainase primer (saluran alam
pengering/sungai) saluran sekunder perkotaan yang
mempengaruhi kekumuhan kawasan prioritas atau yang
menyebabkan munculnya daerah genangan/banjir, luas area
genangan, tinggi air, lama surut) dan titik ruas dan dimensi
saluran drainase yang menyebabkab banjir di kawasan
prioritas.
Persoalan keterbatasan pelayanan sistem jaringan primer,
sekunder dan pipa distribusi ke kawasan prioritas),
ketersediaan sumber air minum dalam dan disekitar kawasan
prioritas, jarak pelayanan sistem jaringan air minum perkotaan
ke dalam kawasan prioritas
Ketersediaan pelayanan IPAL Komunal yang melayani kawasan
prioritas
Ketersediaan TPST dan sistem pengangkutan dan ketersediaan
alat angkut sampah dari kawasan prioritas ke TPST atau TPA
Ketersediaan prasarana & sarana proteksi kebakaran yang
akan dilayani melalui jaringan perkotaan

Sampai tahap 3) ini diperoleh rumusan indikasi kegiatan penanganan


kumuh sesuai permasalahan dan potensi penanganannya. Mohon
perhatikan bahwa nama indikasi kegiatan yang diusulkan sudah
spesifik, contoh: untuk Penyediaan Air Minum bentuk kegiatannya

dinyatakan seperti penyediaan AM perpipaan atau hidran atau sumur


BOR, dll.
4)Analisis pemastian Usulan kegiatan di kawasan prioritas Tahun
2017
Hasil Identifikasi permasalahan dan usulan kegiatan penanganan yang
diperoleh dari langkah (3) diatas, kemudian dianalis kelayakannya,
keterpaduan dan sinkronisasinya.
(a) Analisa Kelayakan Teknis/Biaya. Analisa kelayakan teknis-biaya ini
akan mengidentifikasi usulan kegiatan mana yang layak secara
teknis untuk diprioritaskan. Agar mendapatkan akurasi data
sebaiknya terlebih dahulu dilakukan survey pendahuluan guna
memastikan kesesuaian usulan kegiatan dengan lokasi dilapangan,
ketersediaan/legalitas lokasi dll, apakah dapat dibangun dengan
teknologi sederhana (oleh masyarakat) atau memerlukan teknologi
sedang/tinggi, melihat seberapa besar dampak/manfaatnya
terhadap gurangan kumuh, dll.
Setelah seluruh kegiatan terindentifikasi kelayakan teknisnya, kemudian
dilakukan estimasi anggaran untuk setiap kegiatan. Diperhatikan agar
estimasi biaya ini mengacu pada pengalaman pekerjaan sejenis yg pernah
dilakukan sebelumnya (apbn/apbd/plpbk/kolaborasi,dll), tidak over
estimasi (terlalu mahal) dan tidak kekurangan dana (terlalu murah).

(b)Analisis keterpaduan sektor dalam kawasan prioritas (perumahan,


jalan, drainase, air minum, air limbah, sampah, sanitasi, ruang
publik)
Analisis keterpaduan sektor ini dimaksudkan untuk melakukan
kajian keterpaduan program dan kegiatan sektoral dalam satu
kawasan prioritas, sesuai persoalan-persoalan kawasan prioritas
yang telah teridentifikasi dilingkup skala kawasan dan skala kota.
Analisis ini dilakukan dengan mencermati data base line/profil
permukiman dan peta -peta tematik serta mencermati peta
perencanaan spatial dan sektoral. Lakukan kajian dengan metoda
super impose.
(c) Analisis Keterpaduan/sinkronisasi kegiatan skala kota dan Kawasan
(contoh: interkoneksi antara Jaringan Primer-Sekunder-Tersier).
Analisis ini dilakukan dengan metode super impose peta tematik
dan peta perencanaan sektoral dan dipastikan dengan melakukan
observasi lapang (lengkapi dengan foto dokumentasi).
(d)Analisis keterpaduan sumber pembiayaan (Kolaborasi)

Analisis ini dilakukan dengan mencermati sumber pembiayaan yang


on going dari APBN, APBD dan sumber-sumber pembiayaan lainnya
yang dapat dikolaborasikan dalam pelaksanaan pembangunan
kawasan prioritas dan sekitarnya.
5)Penyepakatan usulan kegiatan prioritas 2017
Pokja PKP memfasilitasi penyepakatan usulan
kumuh tahun 2017 di lokasi prioritas.

kegiatan penanganan

Hasil kesepakatan prioritas penanganan kumuh di lokasi prioritas


tahun 2017, sesuai dengan format terlampir (lampiran 1). Daftar
kegiatan prioritas tersebut dituangkan pada Peta Rencana Kegiatan
Prioritas 2017 (Peta Kegiatan Prioritas mengacu Peta Siteplan kawasan
tersebut). Selanjutnya dibuat Berita Acara Prioritas 2017 yang
ditandatangani oleh Pokja Kota, pastikan dalam BA tersebut ada
klausul yang menyatakan bahwa seluruh usulan prioritas akan
dimasukan pada Daftar Prioritas Kegiatan tahun 2017 dalam dokumen
RP2KPKP/RPLP. Lampirkan Peta Rencana Kegiatan Prioritas 2017.
6)Pemetaan Kolaborasi
Pokja PKP memetakan potensi lembaga dan peluang terbangunnya
kolaborasi untuk kegiatan penanganan kumuh tahun 2017 di lokasi
prioritas.