Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
ASUHAN INTRANATAL BERDASARKAN EVIDENCE BASED. Penulisan
makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Asuhan
Kebidanan di STIKes MEGA REZKY MAKASSAR.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
penulis miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan
makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan
petunjuk kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.

Makassar, Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG...........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. DUKUNGAN PERSALINAN BERDASARKAN EVIDENCE BASED
MIDWIFERY.......................................................................................................
B. PERUBAHAN
FISIOLOGIS
DAN
PSIKOLOGIS
SELAMA
PERSALINAN...................................................................................................
C. POSISI DAN GERAKAN YANG AMAN DAN NYAMAN SELAMA
PERSALINAN...................................................................................................
D. PEMENUHAN NUTRISI DAN HIDRASI DALAM PERSALINAN..............
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN..................................................................................................
B. SARAN...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian ibu dan bayi merupakan tolak ukur dalam menilai derajat
kesehatan suatu bangsa. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
menunjukkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi.
Menurut SDKI terdapat sebanyak 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup
(SDKI, 2013). Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, seperti halnya di
negara lain adalah perdarahan, infeksi, dan eklampsia (Saifuddin, 2009). Selain itu
faktor penting lainnya yang berpengaruh terhadap kematian ibu melahirkan antara
lain pemberdayaan perempuan yang tidak begitu baik, latar belakang pendidikan,
sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik. Tingginya angka
kematian ibu di Indonesia salah satunya juga dikarenakan kurangnya perhatian
dari laki laki terhadap ibu hamil dan melahirkan (Depkes RI, 2007).
Berdasarkan tingginya angka kematian ibu dan perinatal yang dialami
sebagian besar negara berkembang, maka WHO menetapkan salah satu usaha
yang sangat penting untuk dapat mencapai peningkatan pelayanan kebidanan yang
menyeluruh dan bermutu yaitu dilaksanakannnya praktek berdasar pada evidence
based. Dimana bukti secara ilmiah telah dibuktikan dan dapat digunakan sebagai
dasar praktek terbaru yang lebih aman dan diharapkan dapat mengendalikan
asuhan kebidanan sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih bermutu
dan menyeluruh dengan tujuan menurunkan angka kematian ibu dan angka
kematian perinatal.

Persalinan merupakan masa yang cukup berat bagi ibu, dimana proses
melahirkan layaknya sebuah pertaruhan hidup dan mati seorang ibu, terutama
pada ibu primipara, dimana mereka belum memiliki pengalaman melahirkan. Rasa
cemas dapat timbul akibat kekhawatiran akan proses kelahiran yang aman untuk
dirinya dan bayinya (Bobak, Jensen & Lowdermilk, 2004).
Dukungan sosial sangatlah penting diberikan kepada ibu dalam proses
persalinan. Dukungan yang diberikan dapat dilakukan oleh suami, keluarga,
teman dekat, atau tenaga profesional kesehatan. Salah satu prinsip asuhan sayang
ibu yaitu mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan
kelahiran bayi (Depkes RI, 2004). Pemerintah Indonesia melalui Departemen
Kesehatan mengkampanyekan program Suami Siaga pada tahun 1999 2000
dalam rangka meningkatkan peran suami dalam program Making Pregnancy
Safer. Tujuan dari program ini untuk meningkatkan pengetahuan, keterlibatan,
dan partisipasi suami terhadap pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir
(Depkes RI, 2001). Dukungan yang terus menerus dari seorang pendamping
persalinan kepada ibu selama proses persalinan dan melahirkan dapat
mempermudah proses persalinan dan melahirkan, memberikan rasa nyaman,
semangat, membesarkan hati ibu dan meningkatkan rasa percaya diri ibu, serta
mengurangi kebutuhan tindakan medis (Nakita, 2004). Di negara berkembang,
beberapa RS besar terlalu dipadati oleh persalinan resiko rendah sehingga
dukungan personal dan privasi tidak dapat diberikan. Di Indonesia, tidak semua
RS mengizinkan suami atau anggota keluarga lainnya menemani ibu di ruang
bersalin. Hampir seluruh persalinan berlangsung tanpa didamping oleh suami atau

anggota keluarga lainnya. Pendamping persalinan hanya dapat dihadirkan jika ibu
bersalin di beberapa RS swasta, rumah dokter praktik swasta atau bidan praktik
swasta.
Banyak penelitian yang mendukung kehadiran orang kedua saat persalinan
berlangsung. Penelitian oleh Hodnett, 1994 ; Simpkin, 1992 ; Hofmeyr, Nikodem
& Wolmann, 1991; Hemminki, Virta & Koponen, 1990 yang dikutip dari Depkes
tahun 2001 menunjukkan bahwa ibu merasakan kehadiran orang kedua sebagai
pendamping dalam persalinan akan memberikan kenyamanan pada saat
persalinan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kehadiran seorang
pendamping pada saat persalinan dapat menimbulkan efek positif terhadap hasil
persalinan, dapat menurunkan rasa sakit, persalinan berlangsung lebih singkat dan
menurunkan persalinan dengan operasi termasuk bedah caesar (Astuti, 2006).
Penelitian lain tentang pendamping atau kehadiran orang kedua dalam proses
persalinan, yaitu oleh Dr. Roberto Sosa (2001) yang dikutip dari Musbikin dalam
bukunya yang berjudul Panduan Bagi Ibu Hamil dan Melahirkan menemukan
bahwa para ibu yang didampingi seorang sahabat atau keluarga dekat (khususnya
suami) selama proses persalinan berlangsung, memiliki resiko lebih kecil
mengalami komplikasi yang memerlukan tindakan medis daripada mereka yang
tanpa pendampingan. Ibu ibu dengan pendamping dalam menjalani persalinan,
berlangsung lebih cepat dan lebih mudah. Dalam penelitian tersebut, ditemukan
pula bahwa kehadiran suami atau kerabat dekat akan membawa ketenangan dan
menjauhkan sang ibu dari stress dan kecemasan yang dapat mempersulit proses
kelahiran dan persalinan, kehadiran suami akan membawa pengaruh positif secara

psikologis, dan berdampak positif pula pada kesiapan ibu secara fisik (Musbikin,
2005)

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dukungan Persalinan Berdasarkan Evidence Based Midwifery (EBM)


1. Definisi
Dukungan persalinan adalah asuhan yang sifatnya mendukung yaitu
asuhan yang bersifat aktif dan ikut serta dalam kegiatan selama persalinan
merupakan suatu standar pelayanan kebidanan, dimana ibu dibebaskan untuk
memilih pendamping persalinan sesuai keinginannya, misalnya suami,
keluarga atau teman yang mengerti tentang dirinya.
2. Macam macam Dukungan Persalinan
a. Dukungan fisik
Dukungan fisik adalah dukungan langsung berupa pertolongan
langsung yang diberikan oleh keluarga atau suami kepada ibu bersalin.
b. Dukungan emosional
Dukungan emosional adalah dukungan berupa kehangatan, kepedulian
maupun ungkapan empati yang akan menimbulkan keyakinan bahwa
ibu merasa dicintai dan diperhatikan oleh suami, yang pada akhirnya
dapat berpengaruh kepada keberhasilan.
Persalinan adalah saat menegangkan dan menggugah emosi bagi ibu dan
keluarga. Persalinan menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi
ibu, karena itu pastikan bahwa setiap ibu mendapatkan asuhan sayang ibu
selama persalinan dan kelahiran. Asuhan ibu yang dimaksud berupa
dukungan emosional dari suami dan anggota keluarga lain untuk berada di
samping ibu selama proses persalinan dan kelahiran.
Suami dianjurkan untuk melakukan peran aktif dalam mendukung ibu dan
mengidentifikasi langkah langkah yang mungkin untuk kenyamanan ibu.
Hargai keinginan ibu untuk menghadirkan teman atau saudara untuk

menemaninya (Depkes RI, 2002). Dukungan suami dalam proses persalinan


akan memberi efek pada sistem limbic ibu yaitu dalam hal emosi, emosi ibu
yang tenang akan menyebabkan sel sel neuronnya mensekresi hormon
oksitosin yang reaksinya akan menyebabkan kontraktilitas uterus pada akhir
kehamilan untuk mengeluarkan bayi (Guyton, 1997).
3. Faktor faktor yang Mempengaruhi Peran Pendamping Persalinan
Menurut Hamilton (1995) faktor faktor yang mempengaruhi peran
pendamping persalinan antara lain :
a. Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi keluarga akan mempengaruhi proses
pendampingan suami ketika istri melahirkan, suami yang mempunyai
tingkat sosial ekonomi yang mapan akan lebih cenderung memperhatikan
dan mendampingi istrinya pada saat melahirkan, hal ini berbeda dengan
suami yang mempunyai status sosial ekonomi yang kurang mampu, suami
lebih cenderung untuk kurang memperhatikan istri pada saat bersalin,
suami lebih sibuk untuk mencari biaya persiapan persalinan bagi istrinya.

b. Budaya
Keadaan budaya mempengaruhi psoses pendampingan suami pada saat
istri melahirkan, ada beberapa budaya dan sistem religi yang tidak
memperbolehkan suami melihat istri melahirkan karena bertentangan
dengan nilai budaya dan sistem religi yang dianut oleh individu.

c. Lingkungan
Keadaan lingkungan mempengaruhi psoses pendampingan suami pada
saat istri melahirkan, individu yang berada pada lingkungan pedesaan,
kebiasaannya suami tidak mau untuk mendampingi istri pada saat
persalinan, suami merasa takut dan tidak tega melihat istrinya melahirkan.
d. Pengetahuan
Pengetahuan individu akan mempengaruhi pelaksanaan pendampingan
suami terhadap istri pada saat melahirkan, suami yang mempunyai
pengetahuan yang baik akan berusaha semaksimal mungkin memberikan
dukungan pendampingan pada saat istrinya melahirkan, hal ini
dikarenakan dukungan pendampingan akan memberikan motivasi yang
besar kepada istri pada saat melahirkan, begitu pula sebaliknya suami yang
mempunyai pengetahuan yang kurang, biasanya tidak mendampingi pada
saat istrinya melahirkan, hal ini dikarenakan ketidaktahuan akan manfaat
pendampingan suami terhadap istri pada saat melahirkan
e. Umur
Suami yang mempunyai usia yang muda, biasanya tidak mendampingi
pada saat istrinya melahirkan, hal ini dikarenakan suami merasa takut dan
tidak tega melihat istrinya melahirkan. Kategori umur suami dalam
pendampingan persalinan < 20 tahun dikategorikan dalam usia muda,
diatas 20 tahun atau kurang dari 35 tahun dapat dikategorikan dalam usia
dewasa dan suami yang memiliki usia > 35 tahun dikategorikan dalam usia
matang/ tua yang akan mempengaruhi pelaksanaan pendampingan suami

terhadap istri pada saat melahirkan, suami yang mempunyai usia matang
(dewasa) akan berusaha semaksimal mungkin memberikan dukungan
pendampingan pada saat istrinya melahirkan, hal ini dikarenakan
kematangan usia untuk berusaha mengerti tentang psikologis istri pada
saat persalinan.
f. Pendidikan
Pendidikan juga dapat dikatakan sebagai proses pendewasaan pribadi.
Pendidikan kesehatan merupakan proses yang mencakup dimensi dan
kegiatan intelektual, psikologi dan social yang diperlukan untuk
meningkatkan kemampuan individu dalam pengambilan keputusan secara
sadar dan yang mempengaruhi kesejahteraan diri, keluarga, masyarakat.
Individu yang berpendidikan akan mempunyai pengetahuan tentang
pentinganya pendampingan pada saat persalinan dan mereka cenderung
melakukan pendampingan pada saat persalinan, sebaliknya individu yang
tidak berpendidikan pengetahuannya akan kurang dan mereka cenderung
tidak melakukan pendampingan saat persalinan.

4. Bentuk Dukungan Persalinan


a. Dukungan Bidan
1) Memanggil ibu sesuai namanya, menghargai dan memperlakukannya
dengan baik.
2) Menjelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
3) Mengajurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau
khawatir.
4) Mendengarkan dan menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.

10

5)
6)
7)
8)
9)

Mengatur posisi yang nyaman bagi ibu


Memenuhi asupan cairan dan nutrisi ibu
Keleluasaan untuk mobilisasi, termasuk ke kamar kecil
Penerapan prinsip pencegahan infeksi yang sesuai
Pendampingan anggota keluarga selama proses persalinan sampai

kelahiran bayinya.
10) Menghargai keinginan ibu untuk memilih pendamping selama
persalinan.
11) Penjelasan mengenai proses/ kemajuan/ prosedur yang akan
dilakukan
12) Mengajarkan
memperhatikan

suami
dan

dan

anggota

mendukung

keluarga
ibu

mengenai

cara

selama persalinan dan

kelahiran bayinya seperti :


a) Mengucapkan kata kata yang membesarkan hati dan memuji ibu.
b) Membantu ibu bernafas dengan benar saat kontraksi.
c) Melakukan massage pada tubuh ibu dengan lembut.
d) Menyeka wajah ibu dengan lembut menggunakan kain.
e) Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
b. Dukungan Keluarga
Salah satu yang dapat mempengaruhi psikis ibu adalah dukungan dari
suami atau keluarga. Dukungan minimal berupa sentuhan dan kata kata
pujian yang membuat nyaman serta memberi penguatan pada saat proses
menuju persalinan berlangsung hasilnya akan mengurangi durasi
kelahiran.
1)

Pendampingan
Pendamping merupakan keberadaan seseorang yang mendampingi atau

terlibat langsung sebagai pemandu persalinan, dimana yang terpenting adalah


dukungan yang diberikan pendamping persalinan selama kehamilan, persalinan,
dan nifas, agar proses persalinan yang dilaluinya berjalan dengan lancar dan
memberi kenyamanan bagi ibu bersalin (Sherly, 2009).

11

Menurut Lutfiatus Sholihah (2004) selama masa kehamilan, suami juga


sudah harus diajak menyiapkan diri menyambut kedatangan sikecil, karena tidak
semua suami siap mental untuk menunggui istrinya yang sedang kesakitan.
Pendampingan persalinan yang tepat harus memahami peran apa yang
dilakukan dalam proses persalinan nanti. Peran suami yang ideal diharapkan dapat
menjadi pendamping secara aktif dalam proses persalinan. Harapan terhadap
peran suami ini tidak terjadi pada semua suami, tergantung dari tingkat kesiapan
suami menghadapi proses kelahiran secara langsung. Ada tiga jenis peran yang
dapat dilakukan oleh suami selama proses persalinan yaitu peran sebagai pelatih,
teman satu tim, dan peran sebagai saksi (Bobak, Lowdermilk dan Perry, 2004).
Peran sebagai pelatih diperlihatkan suami secara aktif dalam membantu
proses persalinan istri, pada saat kontraksi hingga selesai persalinan. Ibu
menunjukkan keinginan yang kuat agar ayah terlibat secara fisik dalam proses
persalinan (Smith, 1999; Kainz dan Eliasson, 2010). Peran sebagai pelatih
ditunjukkan dengan keinginan yang kuat dari suami untuk mengendalikan diri dan
ikut mengontrol proses persalinan. Beberapa dukungan yang diberikan suami
dalam perannya sebagai pelatih antara lain memberikan bantuan teknik pernafasan
yang efektif dan memberikan pijatan di daerah punggung. Suami juga memiliki
inisiatif untuk lebih peka dalam merespon nyeri yang dialami oleh ibu, dalam hal
ini ikut membantu memantau atau mengontrol peningkatan nyeri. Selain itu
suami juga dapat memberikan dorongan spiritual dengan ikut berdoa.
Hasil penelitian Kainz & Eliasson 2010 terhadap 67 ibu primipara di
Swedia menunjukkan bahwa peran aktif suami yaitu membantu bidan untuk

12

memantau peningkatan rasa nyeri, mengontrol adanya pengurangan nyeri, dan


mengontrol kontraksi. Selain peran tersebut, para suami juga memberikan bantuan
untuk menjadi advokat ketika ibu ingin berkomunikasi dengan bidan selama
proses persalinan. Pada persalinan tahap satu dan tahap dua, sering kali fokus
bidan ditujukan kepada bayi, sehingga ibu merasa kesulitan untuk berbicara
dengan bidan. Dalam kondisi ini, kehadiran suami akan sangat membantu jika
suami peka dengan apa yang ingin dikatakan istrinya dan berusaha
menyampaikannya kepada bidan.
Tingkatan peran yang kedua adalah peran sebagai teman satu tim,
ditunjukkan dengan tindakan suami yang membantu memenuhi permintaan ibu
selama proses persalinan dan melahirkan. Dalam peran ini suami akan berespon
terhadap permintaan ibu untuk mendapat dukungan fisik, dukungan emosi, atau
keduanya (Bobak, Lowdermilk, & Perry, 2004). Peran suami sebagai teman satu
tim biasanya sebagai pembantu dan pendamping ibu, dan biasanya suami
dingatkan atau diberitahukan tentang perannya oleh bidan. Smith (1999) dan
Kainz Eliasson (2010) menjelaskan bentuk dukungan fisik yang dapat diberikan
yaitu dukungan secara umum seperti memberi posisi yang nyaman, memberikan
minum, menemani ibu ketika pergi ke kamar kecil, memegang tangan dan kaki,
atau menyeka keringat yang ada di dahi ibu, dan membantu ibu dalam pemilihan
posisi yang nyaman saat persalinan. Bentuk dukungan fisik yang menggunakan
sentuhan, menunjukkan ekspresi psikologis dan emosional suami yaitu rasa
peduli, empati, dan simpati terhadap kondisi ibu yang sedang merasakan nyeri
hebat dalam proses persalinan (Smith, 1999).

13

Sementara itu, dukungan emosional yang dapat diberikan oleh suami


antara lain membantu menenangkan ibu dengan kata kata yang memberikan
penguatan (reinforcement) positif seperti memberi dorongan semangat mengedan
saat kontraksi serta memberikan pujian atas kemampuan ibu saat mengedan. Ibu
dapat merasakan ketenangan dan mendapat kekuatan yang hebat ketika suaminya
menggenggam tangannya (Kainz & Eliasson, 2010). Pengaruh psikologis inilah
yang menjadi salah satu nilai lebih yang mampu diberikan oleh suami kepada
istrinya. Oleh karena itu, kehadiran suami dalam proses persalinan perlu diberikan
penghargaan yang tinggi dan perlu mendapat dukungan dari bidan yang menolong
persalinan.
Suami yang hanya berperan sebagai saksi menunjukkan keterlibatan yang
kurang dibandingkan peran sebagai pelatih atau teman satu tim. Dalam berperan
sebagai saksi, suami hanya memberi dukungan emosi dan moral saja (Bobak,
Lowdermilk, & Perry, 2004). Biasanya suami tetap memperhatikan kondisi ibu
bersalin, tetapi sering kali suami hanya menunggu istri di luar ruang persalinan,
dan melakukan aktivitas lain seperti tertidur, menonton tv, atau meninggalkan
ruangan dalam waktu yang agak lama. Perilaku ini ditunjukkan suami karena
mereka yakin tidak banyak yang dapat mereka lakukan, sehinga menyerahkan
sepenuhnya pada penolong persalinan. Alasan suami memilih peran hanya sebagai
saksi karena kurangnya kepercayaan diri atau memang kehadirannya kurang
diinginkan oleh istri.
Ketiga peran suami dalam proses persalinan dapat diidentifikasi dari
keinginan dan pengetahuan suami tentang peran utamanya sebagai pendamping

14

persalinan. Sikap suami untuk menjadi pendamping persalinan dapat ditunjukkan


dengan tindakannya dalam antisipasi persalinan. Suami dapat mempersiapkan
sendiri sebelum hari persalinan, seperti mempersiapkan segala kebutuhan selama
mendampingi istri di rumah sakit atau tempat bersalin. Suami dapat meminta
informasi atau mengajukan pertanyaan kepada dokter, bidan, atau perawat untuk
mengatahui apa yang dapat diterima, dipertimbangkan atau ditolak.
2)

Manfaat Pendampingan
Bagi suami yang siap mental mendampingi istrinya selama proses

persalinan dapat memberikan manfaat seperti :


a) Ikut bertanggung jawab mempersiapkan kekuatan mental istri dalam
menghadapi persalinan
b) Memberi rasa tenang dan penguat psikis pada istri
Suami adalah orang terdekat yang dapat memberikan rasa aman dan
tenang yang diharapkan istri selama proses persalinan. Ditengah kondisi
yang tidak nyaman, istri memerlukan pegangan, dukungan dan semangat
untuk mengurangi kecemasan dan ketakutannya.
c) Selalu ada bila dibutuhkan
Dengan berada di samping istri, suami siap membantu apa saja yang
dibutuhkan istri.
d) Kedekatan emosi suami istri bertambah
Suami akan melihat sendiri perjuangan hidup dan mati sang istri saat
melahirkan anak sehingga membuatnya semakin sayang kepada istrinya.
e) Menumbuhkan naluri kebapakan
f) Suami akan lebih menghargai istri
Melihat pengorbanan istri saat persalinan suami akan dapat lebih
menghargai istrinya dan menjaga perilakunya. Karena dia akan
mengingat bagaimana besarnya pengorbanan istrinya.
g) Membantu keberhasilan IMD

15

IMD merupakan Inisiasi Menyusui Dini yang akan digalakkan oleh


pemerintah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. IMD akan
tercapai dengan adanya dukungan dari suami terhadap istrinya.
h) Pemenuhan nutisi
Nutrisi ibu saat melahirkan akan terpenuhi karena tugas pendamping
adalah memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan tubuh ibu yaitu dengan
cara pemberian makan dan minum saat kontraksi rahim ibu mulai
melemah.
i) Membantu mengurangi rasa nyeri saat persalinan
Dengan adanya pendamping maka akan memberikan rasa nyaman dan
aman bagi ibu yang sedang mengalami persalinan karena adanya
dukungan dari orang yang paling di sayang sehingga mampu mengurangi
rasa sakit dan nyeri yang dialami.
j) Ibu yang memperoleh dukungan emosional selama persalinan akan
mengalami waktu persalinan yang lebih singkat, intervensi yang lebih
sedikit, sehingga hasil persalinan akan lebih baik.
5. Faktor Penghambat Peran Pendamping
Bila suami tidak bersedia mendampingi saat proses persalinan, ibu sebaiknya
jangan berkecil hati, mungkin suami tidak tega melihat istrinya kesakitan, jadi
jangan paksa suami karena hal ini berakibat fatal. Kehadiran suami tanpa tekanan
dari luar, pada proses persalinan akan sangat penting dalam membantu istri
terutama jika suami tahu banyak tentang proses melahirkan. Para suami sering
mengeluh betapa tertekannya mereka karena sama sekali tidak tahu apa yang
harus dikerjakan untuk menolong istrinya. (Lutfiatus Sholilah, 2004).Situasi atau
kondisi dimana suami tidak bisa mendampingi selama proses persalinan seperti:
a.

Suami tidak siap mental

16

Umumnya suami tidak tega, lekas panik, saat melihat istrinya kesakitan atau
tidak tahan bila harus melihat darah yang keluar saat persalinan. Tipe suami
seperti ini bukanlah orang yang tepat menjadi pendamping diruang bersalin.
Faktor penyebab ketakutan dan kecemasan suami terhadap proses persalinan
menurut Martin, 2008; Sapkota, Kobayashi & Takase, 2010) diantaranya :
1)
2)
3)
4)
b.

Takut dengan ancaman kematian istri dan bayinya


Cemas dengan proses persalinan yang penuh tekanan
Kurang keyakinan dan percaya diri menjadi pendamping persalinan
Kurangnya dukungan sosial

Tidak diizinkan pihak RS

Beberapa RS tidak mengizinkan kehadiran pendamping selain petugas medis


bagi ibu yang menjalani proses persalinan, baik normal maupun caesar. Beberapa
alasan yang diajukan adalah kehadiran pendamping dapat mengganggu
konsentrasi etugas medis yang telah membantu proses persalinan, tempat yang
tidak luas dan kesterilan ruang operasi menjadi berkurang dengan hadirnya orang
luar.
c.

Suami sedang dinas

Apabila suami sedang dinas ketempat yang jauh sehingga tidak memungkinkan
untuk pulang untuk menemani istri bersalin tentu istri harus memahami kondisi
ini. Walaupun tidak ada suami masih ada anggota keluarga lain seperti ibu yang
dapat menemani. Momen persalinan pun dapat di filmkan dalam kamera video,
sehingga saat kembali dari dinas suami dapat melihat kelahiran buah hatinya.

B. Perubahan Fisiologis dan Psikologis Selama Persalinan


A. Perubahan Fisiologis

17

1) Sifat kontraksi otot rahim


Setelah kontraksi, otot rahim tidak berelaksasi kembali seperti
keadaan sebelum kontraksi, tetapi menjadi sedikit lebih pendek walaupun
tonusnya seperti sebelum kontraksi, yang disebut retraksi. Dengan
retraksi, ukuran rongga rahim akan mengecil dan janin secara perlahan
akan berangsur didorong kebawah dan tidak naik lagi keatas setelah his
hilang. Retraksi ini mengakibatkan SAR makin tebal dengan majunya
persalinan terutama setelah bayi lahir.
Kontraksi tidak sama kuatnya, tetapi paling kuat di daerah fundus
uteri dan berangsur berkurang ke bawah dan paling lemah pada segmen
bawah rahim. Sebagian dari isi rahim yang keluar dari SAR diterima oleh
SBR sehingga SAR makin mengecil, sedangkan SBR makin teregang
dan makin tipis, dan isi rahim pindah ke SBR sedikit demi sedikit.
2) Perubahan bentuk rahim
Adanya kontraksi mengakibatkan sumbu panjang rahim bertambah
panjang, sedangkan ukuran melintang maupun ukuran muka belakang
berkurang. Pengaruh bentuk rahim yaitu ukuran melintang berkurang,
rahim bertambah panjang. Hal ini merupakan salah satu sebab dari
pembukaan serviks.
3) Ligamentum rotundum
Mengandung otot-otot polos dan jika uterus berkontraksi, otot-otot
ini ikut berkontraksi sehingga ligamentum rotundum menjadi pendek.
4) Perubahan pada serviks
Agar janin dapat keluar dari rahim, maka perlu terjadi pembukaan
dari serviks. Pembukaan serviks biasanya didahului oleh pendataran dari
serviks.

18

Pendataran dari serviks. Pemendekan dari canalis, yang semula


berupa saluran yang panjangnya 1-2 cm menjadi satu lubang dengan
pinggir yang tipis.
Pembukaan dari serviks. Pembesaran dari ostium externum yang
pada awalnya hanya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa
milimeter menjadi lubang yang berdiameter kira-kira 10 cm, sehingga
dapat dilalui janin.
Faktor faktor yang menyebabkan pembukaan serviks :
a) Otot-otot serviks menarik pada pinggir ostium
b) Waktu kontraksi semen bawah rahim dan serviks teregang oleh isi
rahim terutama oleh air ketuban dan ini menyebabkan tarikan pada
serviks
c) Waktu kontraksi, bagian dari selaput yang terdapat di atas canalis
cervicalis ialah yang disebut ketuban
5) Perubahan pada vagina dan dasar panggul
Pada kala I. Ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina. Setelah
ketuban pecah, segala perubahan terutama pada dasar panggul
ditimbulkan oleh bagian depan anak. Oleh bagian depan yang maju
tersebut, dasar panggul teregang menjadi saluran dengan dinding-dinding
yang tipis. Pada saat kepala sampai di vulva, lubang vulva menghadap ke
depan atas. Dari luar, peregangan oleh bagian depan tampak pada
perineum yang menonjol dan menjadi tipis, sedangkan anus menjadi
terbuka.
B. Perubahan Psikologis
Lancar atau tidaknya proses persalinan banyak bergantung pada
kondisi biologis, khususnya kondisi wanita yang bersangkutan. Namun,
perlu juga untuk diketahui bahwa hampir tidak ada tingkah laku manusia

19

(yang diasadari) dan proses biologisnya yang tidak dipengaruhi oleh


proses psikis. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa membesarnya
janin dalam kandungan mengakibatkan ibu bersangkutan mudah lelah,
badan tidak nyaman, tidak nyenyak tidur, sering kesulitan dalam bernapas,
dan beban jasmaniah lainnya saat menjalani proses kehamilannya.
Pada ibu bersalin trjadi beberapa perubahan psikologis diantaranya :
1) Rasa cemas pada bayinya yang akan lahir
2) Kesakitan saat kontraksi dan nyeri
3) Ketakutan saat melihat darah
Rasa takut dan cemas yang dialami ibu akan berpengaruh pada
lamanya persalinan, his kurang baik, dan pembukaan yang kurang lancar.
Menurut Pitchard, dkk. perasaan takut dan cemas merupakan faktor utama
yang menyebabkan rasa sakit dalam persalinan dan berpengaruh terhadap
kontraksi rahim dan dilatasi serviks sehingga persalinannya lama. Apabila
perasaan takut dan cemas yang dialami ibu berlebihan, maka akan
berujung pada stres. Beberapa hal yang dapat memengaruhi psikologi ibu
meliputi :
1) Melibatkan psikologi ibu, emosi, dan persiapan intelektual
2) Pengalaman bayi sebelumnya
3) Kebiasaan adat
4) Hubungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu
Sikap negatif yang mungkin muncul pada ibu menjelang proses
persalinan adalah sebagai berikut :
1) Persalinan sebagai ancaman terhadap keamanan
2) Persalinan sebagai ancaman terhadap self-image
3) Medikasi persalinan
4) Nyeri persalinan dan kelahiran
Oleh karena banyak sekali perubahan yang dialami ibu bersalin, maka
penlong persalinan seperti bidan dituntut untuk melakukan asuhan sayang

20

ibu. Pada asuhan sayang ibu, penolong persalinan harus memberikan


dukungan psikologis dengan cara meyakinkan ibu bahwa persalinan
merupakan proses yang normal, dan yakinkan bahwa ibu dapat
melaluinya.
Penolong persalinan dapat mengikutsertakan suami dan keluarga
selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Hal tersebut dapat
menunjukkan bahwa ibu mendapat perhatian lebih dan diberi dukungan
selama persalinan dan kelahiran bayi oleh suami dan keluarga.
C. Posisi dan Gerakan yang Aman dan Nyaman Selama Persalinan
1.

Posisi Berbaring Miring


Posisi ini mengharuskan ibu berbaring kekiri atau kekanan. Salah satu kaki

diangkat, sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Posisi yang akrab
disebut posisi lateral ini, umumnya dilakukan bila posisi kepala bayi belum
tepat.
Normalnya, posisi ubun ubun bayi berada didepan jalan lahir. Posisi
kepala bayi dikatakan tidak normal jika posisi ubun ubunnya berada
dibelakang atau disamping. Dalam kondisi tersebut biasanya dokter akan
mengarahkan ibu untuk mengambil posisi miring. Kearah mana posisi ibu
tergantung pada dimana letak ubun ubun bayi. Jika berada dikiri, maka ibu
dianjurkan mengambil posisi miring kekiri sehingga bayi diharapkan bisa
memutar. Demikian pula sebaliknya.
Keuntungan dari posisi ini adalah

21

a. Peredaran darah balik ibu bisa berjalan lancar. Pengiriman oksigen dalam
darah dari ibu kejanin melalui plasenta juga tidak terganggu.
b. Kontraksi uterus akan lebih efektif
c. Memudahkan bidan dalam memberikan pertolongan persalinan
d. Karena tidak terlalu menekan, proses pembukaan akan berlangsung
secara perlahan lahan sehingga persalinan berlangsung lebih nyaman.
Kerugiannya :
a. Memerlukan bantuan untuk memegangi paha kanan ibu.
2. Jongkok
Posisi ini sudah dikenal sebagai posisi bersalin yang alami.
Keuntungannya :
a. Memperluas rongga panggul, diameter transversa bertambah 1 cm dan
diameter antero posterior bertambah 2cm.
b. Proses persalinan lebih mudah
c. Posisi ini menggunakan gaya gravitasi untuk membantu turunnya bayi
d. Mengurangi trauma pada perineum
Kekurangannya :
Berpeluang kepala bayi cedera. Soalnya tubuh bayi yang berada dijalan
lahir bisa meluncur sedemikian cepat. Untuk menghindari cedera, biasanya
ibu berjongkok diatas bantalan empuk yang berguna menahan kepala bayi.
3. Merangkak
Pada posisi ini Ibu merebahkan badan dengan posisi merangkak, kedua
tangan menyanggah tubuh, kedua kaki ditekuk dan dibuka.
Keuntungannya :
a. Posisi merangkak seringkali merupakan posisi yang paling baik bagi ibu
yang mengalami nyeri punggung saat persalinan.
b. Dapat mengurangi rasa sakit
c. Mengurangi keluhan haemorid

22

4. Semi duduk
Posisi ini merupakan posisi yang paling umum diterapkan di RS / RSB
disegenap penjuru tanah air. Pada posisi ini. Pasien duduk dengan punggung
bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka kearah samping.Posisi ini
cukup membuat ibu nyaman.
Keuntungannya :
Memudahkan melahirkan kepala bayi.
Kekurangannya :
Titik berat pada tulang sakrum sehingga tulang koksigis akan terdorong
kedepan yang akan menyebabkan rongga menjadi lebih sempit
5. Duduk
Pada posisi ini duduklah diatas tempat tidur disangga beberapa bantal atau
bersandarlah pada tubuh suami. Kedua kaki ibu ditekuk dan dibuka, tangan
ibu memegang lutut, tangan suami membantu memegang perut ibu.
Keuntungannya :
a. Posisi ini memanfaatkan gaya gravitasi untuk membantu turunnya
bayi.
b. Memberi kesempatan untuk istirahat diantara dua kontraksi.
c. Memudahkan melahirkan kepala bayi
Posisi Persalinan Kala I Posisi Meneran Kala II
Persalinan merupakan suatu peristiwa fisiologis tanpa disadari dan terus
berlangsung/progresif. Bidan dapat membantu ibu agar tetap tenang dan rileks,
maka bidan sebaiknya tidak mengatur posisi meneran ibu. Bidan harus

23

memfasilitasi ibu dalam memilih sendiri posisi meneran dan menjelaskan


alternatif-alternatif posisi meneran bila posisi yang dipilih ibu tidak efektif.
Bidan harus memahami posisi-posisi melahirkan, bertujuan untuk menjaga agar
proses kelahiran bayi dapat berjalan senormal mungkin, menghindari intervensi>
meningkatkan persalinan normal (semakin normal proses kelahiran, semakin
aman kelahiran bayi itu sendiri).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan posisi melahirkan :
1.

Klien/ibu bebas memilih > dapat meningkatkan kepuasan, menimbulkan


perasaan sejahtera secara emosional, dan ibu dapat mengendalikan
persalinannya secara alamiah.

2.

Peran bidan adalah membantu/memfasilitasi ibu agar merasa nyaman.

3.

Secara umum, pilihan posisi melahirkan secara alami/naluri bukan posisi


berbaring.

4.

Sejarah > posisi berbaring diciptakan agar penolong lebih nyaman dalam
bekerja. Sedangkan posisi tegak, merupakan cara yang umum digunakan dari
sejarah penciptaan manusia sampai abad ke-18.

Macam-macam posisi meneran diantaranya :

24

1.

Duduk atau setengah duduk > posisi ini memudahkan bidan dalam
membantu kelahiran kepala janin dan memperhatikan keadaan perineum.

2.

Merangkak > posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan


rasa sakit pada punggung, mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta
peregangan pada perineum berkurang.

3.

Jongkok atau berdiri posisi jongkok atau berdiri memudahkan penurunan


kepala janin, memperluas panggul sebesar 28% lebih besar pada pintu bawah
panggul, dan memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini beresiko
memperbesar terjadinya laserasi (perlukaan) jalan lahir.

4.

Berbaring miring > posisi berbaring miring dapat mengurangi penekanan


pada vena cava inverior, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya
hipoksia janin karena suply oksigen tidak terganggu, dapat memberi suasana
rileks bagi ibu yang mengalami kecapekan, dan dapat mencegah terjadinya
robekan jalan lahir.

5.

Hindari posisi telentang (dorsal recumbent) > posisi ini dapat


mengakibatkan : hipotensi (beresiko terjadinya syok dan berkurangnya suplai
oksigen dalam sirkulasi uteroplacenter, sehingga mengakibatkan hipoksia bagi
janin), rasa nyeri yang bertambah, kemajuan persalinan bertambah lama, ibu
mangalami gangguan untuk bernafas, buang air kecil terganggu, mobilisasi
ibu kurang bebas, ibu kurang semangat, dan dapat mengakibatkan kerusakan
pada syaraf kaki dan punggung.

25

Berdasarkan posisi meneran di atas, maka secara umum posisi melahirkan dibagi
menjadi 2, yaitu posisi tegak lurus dan posisi berbaring.
Secara anatomi, posisi tegak lurus (berdiri, jongkok, duduk) merupakan posisi
yang paling sesuai untuk melahirkan, kerena sumbu panggul dan posisi janin
berada pada arah gravitasi. Adapun keuntungan dari posisi tegak lurus adalah :
a. Kekuatan daya tarik > meningkatkan efektivitas kontraksi dan tekanan pada
leher rahim, dan mengurangi lamanya proses persalinan.
Pada Kala 1
Kontraksi > dengan berdiri, uterus terangkat berdiri pada sumbu aksis pintu
masuk panggul dan kepala mendorong cerviks, sehingga intensitas kontraksi
meningkat.
Pada posisi tegak tidak ada hambatan dari gerakan uterus.
Sedangkan pada posisi berbaring > otot uterus lebih banyak bekerja dan proses
persalinan berlangsung lebih lama.
Pada Kala 2
Posisi tegak lurus mengakibatkan kepala menekan dengan kekuatan yang lebih
besar, sehingga keinginan untuk mendorong lebih kuat dan mempersingkat kala 2.
Posisi tegak lurus dengan berjongkok, mengakibatkan lebih banyak ruang di
sekitar otot dasar panggul untuk menarik syaraf penerima dasar panggul yang
ditekan, sehingga kadar oksitosin meningkat.

26

Posisi tegak lurus pada kala 2 dapat mendorong janin sesuai dengan anatomi dasar
panggul, sehingga mengurangi hambatan dalam meneran.
Sedangkan pada posisi berbaring, leher rahim menekuk ke atas, sehingga
meningkatkan hambatan dalam meneran.
b. Meningkatkan dimensi panggul
Perubahan hormone kehamilan > menjadikan struktur panggul dinamis/fleksibel
Pergantian posisi > meningkatkan derajat mobilitas panggul
Posisi jongkok > sudut arkus pubis melebar, mengakibatkan pintu atas panggul
sedikit melebar, sehingga memudahkan rotasi kepala janin.
Sendi sakroiliaka > meningkatkan fleksibilitas sacrum (bergerak ke belakang)
Pintu bawah panggul menjadi lentur maksimum
Pada posisi tegak, sacrum bergerak ke dapan, mangakibatkan tulang ekor tertarik
ke belakang
Sedangkan pada posisi berbaring, tulang ekor tidak bergerak ke belakang tetapi ke
depan (tekanan yang berlawanan).
c. Gambaran jantung janin abnormal lebih sedikit dengan kecilnya tekanan pada
pembuluh vena cava inferior
Pada posisi berbaring, berat uterus/ cairan amnion/ janin mengakibatkan adanya
tekanan pada vena cava inferior, dan dapat menurunkan tekanan darah ibu. Serta
perbaikan aliran darah berkurang setelah adanya kontraksi.

27

Pada posisi tegak, aliran darah tidak terganggu, sehingga aliran oksigen ke janin
lebih baik.
d. Kesejahteraan secara psikologis
Pada posisi berbaring > ibu/klien menjadi lebih pasif dan menjadi kurang
kooperatif, ibu lebih banyak mengeluarkan tenaga pada posisi ini.
Pada posisi tegak > ibu/klien secara fisik menjadi lebih aktif, meneran lebih
alami, menjadi lebih fleksibel untuk segera dilakukan bounding (setelah bayi
lahir dapat langsung dilihat, dipegang ibu, dan disusui).
Adapun kerugian dari persalinan dengan posisi tegak adalah :
1. Meningkatkan kehilangan darah
Gaya gravitasi mengakibatkan keluarnya darah sekaligus dari jalan lahir setelah
kelahiran janin, dan kontraksi meningkat sehingga placenta segera lahir.
Meningkatkan terjadinya odema vulva dapat dicegah dengan mengganti-ganti
posisi.
2. Meningkatkan terjadinya perlukaan/laserasi pada jalan lahir
Odema vulva > dapat dicegah dengan mengganti posisi (darah mengalir ke
bagian tubuh yang lebih rendah).
Luka kecil pada labia meningkat, tetapi luka akan cepat sembuh.
Berat janin mendorong ke arah simfisis, mengakibatkan tekanan pada perineum
meningkat, sehingga resiko rupture perineum meningkat.

28

29

Beberapa factor yang perlu diperhatikan dalam memilih posisi persalinan :


-

Keamanan

Posisi persalinan yang baik idealnya tidak menimbulkan cedera. Kalaupun ada
factor penyulit yang memungkinkan cedera pada ibu maupun bayinya, paling
tidak peluang tersebut diminimalkan. Cedera yang umumnya terjadi pada ibu
antara lain robeknya rahim, perdarahan hebat dan robekan jalan lahir. Sedangkan
trauma pada bayi diantaranya trauma kepala, patah kaki atau patah tangan.

30

Kenyamanan

Tak bisa dipungkiri, persalinan adalah kerja keras dan perjuangan bagi ibu
maupun tim medis yang menanganinya. Itulah sebabnya si ibu berhak mendapat
pelayanan terbaik, termasuk tempat bersalin yang nyaman. Tempat tidur dan
segala keperluannya haruslah memenuhi standar higienis guna meminimalkan
risiko bayi maupun ibu terkena infeksi.
-

Bantuan Medis

Apapun posisi persalinan yang dipilih, prosesnya haruslah dibantu oleh tim medis
yang ahli dan terlatih. Dokter, bidan, maupun dokter anak serta para suster yang
membantu harus benar benar memehami tugasnya memimpin dan mendampingi
ibu menjalani proses persalinan. Dengan demikian risiko terjadinya cedera bisa
diminimalkan.
Pengaturan
memerlukan

posisi
bantal

melibatkan
di

bawah

juga

penempatan

kepalanya,hal

ini

bantal,wanita
dapat

bersalin

meningkatkan

relaksasi,mengurangi tekanan otot dan mengeliminasi titik-titik takanan.bebera[pa


hal di bawah ini juga dapat mengurangi rasa nyeri pada ibu,diantaranya adalah ;
- Anjurkan ibu untuk mencoba posisi posisi yang nyaman bagi dirinya
- Ibu boleh berjalan,berdiri,duduk atau jongkok,berbaring miring atau merangkak.
a.

Jangan menempatkan ibu pada posisi terlentangsupine hypotensi sindrome


Relaksasi dan latihan pernapasan

Bernapas dalam dengan cara releks sewaktu ada his dengan cara meminta ibu
untuk menarik napas panjang,tahan napas sebentar kemudian dilepaskan dengan
cara meniup sewaktru ada his, tetapi hal tersebut sudah tidak dianjurkan lagi

31

sekarng ibu diajurkan untuk bernafas seperti biasa dan meneran pad saat ibu
merasakan dorongan.
b.

Usapan di punggung / abdominal

Jika ibu suka,lakukan pijatan / masase dipunggung atau mengusap perut dengan
lembut
Hal ini dapat memberikan dukungan dan kenyamanan pada ibu bersalin sehingga
akan mengurangi rasa sakit
c.

Pengosongan kandung kemih

Sarankan ibu untuk sesering mungkin untuk berkemih.Kandung kemih yang


kosong akan menyebabkan nyeri pada bagian abdominal juga menyebabkan sulit
turunnya bagian terendah dari janin
Metode pengendalian nyeri persalinan dengan farmakologis

Penggunaan sedativa misalnya golongan barbiturate.


Opioids misalnya morphin.

D. Pemenuhan Nutrisi dan Hidrasi dalam Persalinan


1. Cairan dan Makanan
Sayangnya, kebijakan nothing by month/NPO (Tidak memberikan apa
pun per oral) saat persalinan,dilaksanakan secara rutin banyak dirumah sakit.
Praktik ini dicanangkan pada tahun 1946 saat dijelaskan bahwa aspirasi isi
asam lambung merupakan penyebab moriditas dan mortalitas ibu. Walaupun
resiko aspirasi telah menurun drastis sejak tahun 1940-an,keharusan berpuasa

32

bagi ibu bersalin merupakan praktik yang terus berlangsung dibanyak rumah
sakit saat ini. Pertimbangkan hal-hal berikut ini.

Aspirasi saat anastesi umum pada pelahiran operatif secara langsung

terkait dengan intubasi yang sulit, terlepas dari asupan oral pasien.
Para ahli anastesi sepakat bahwa manajemen anastesi dibawah standar

merupakan penyebab utama aspirasi paru


Status NPO menyebabkan peningkatan keasaman lambung.
Anastesia regional memiliki pengaruh yang kecil terhadap waktu
pengosongan lambung dan sangat menurunkan resiko pneumonia

aspirasi.
Anastesia regional tepat digunakan pada sebagian besar pelahiran

sesaria darurat.
Pemberian cairan intravena (IV) rutin dapat menyebabkan kelebihan
cairan,hiperglikemia pada janin, dan hipoglikemia pada bayi baru lahir,

serta dapat mengubah kadar natrium plasma


Hidrasi dan kebutuhan energi pada ibu bersalin sama seperti kebutuhan
seorang atlet yang sedang berkompetensi. Kekurangan makanan dan
cairan dapat secara langsung mempengaruhi kemajuan persalinan dan

hasilnya.
Pada tahun 1999, American Society of anesthesiologists merevisi
rekomendasi mereka mengenai asupan oral pada persalinan. Cairan
bening yang direkomendasikan meliputi air putih, jus tanpa daging
buah, minuman berkarbonasi, teh dan kopi encer, gelatin bercita rasa,
es buah, es loli dan kaldu. Mereka merekomendasikan pembatasan
berdasarkan kasus demi kasus pada ibu yang mungkin mengalami
peningkatan resiko aspirasi.

33

Ibu harus diberi tahu mengenai resiko aspirasi yang kecil tetapi serius
terkait dengan asupan oral saat persalinan. Harus dijelaskan bahwa resiko
aspirasi disebabkan anastesia dan bahwa jika persalinan menyimpang dari
normal, ibu mungkin diminta menahan diri untuk tidak menerima asupan oral
lebih lanjut.
Akan sangat baik jika menu harian Ibu di trimester akhir kehamilan,
diselingi makanan ringan setiap 1 jam sekali untuk menambah energi.
Ibu tetap di perbolehkan makan dan minum karenan berdasarkan EBM
diperoleh kesimpulan bahwa :
a. Pada saat bersalin ibu mebutuhkan energy yang besar, oleh karena itu
jika ibu tidak makan dan minum untuk beberapa waktu atau ibu yang
mengalami kekurangan gizi dalam proses persalinan akan cepat
mengalami kelelahan fisiologis, dehidrasi dan ketosis yang dapat
menyebabkan gawat janin.
b. Ibu bersalin kecil kemungkinan menjalani anastesi umum, jadi tidak
ada alasan untuk melarang makan dan minum.
c. Efek mengurangi/mencegah makan dan minum mengakibatkan
pembentukkan glukosa intravena yang telah dibuktikan dapat
berakibat negative terhadap janin dan bayi baru lahir oleh karena itu
ibu bersalin tetap boleh makan dan minum. Ha ini berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Larence 1982, Tamow-mordi Starw
dkk 1981, Ruter Spence dkk 1980, Lucas 1980
2. Makanan Penambah Eneregi
Menurut jurnal bertajuk "Restricting oral fluid and food intake during
labor" yang dirilis oleh Cochrane Database of Systematic Reviews. Berikut

34

adalah daftar makanan yang mampu menambah energi Ibu dengan optimal,
antara lain:

Roti
Kentang
Pasta
Buah kering
Pisang
Sereal
Sup
Yoghurt dengan kadar lemak rendah.

Berikut adalah makanan yang perlu Ibu hindari saat menjelang persalinan,
antara lain:
Buah yang asam seperti jeruk atau anggur
Makanan yang terlalu manis
3. Minuman Penambah Energi
Selain makanan yang mengandung kadar energi tinggi, saat menjelang
melahirkan Ibu juga membutuhkan minuman yang mampu menambah energi.
Pada masa ini Ibu juga akan cepat merasa haus, karena fase-fase
melahirkan akan membuat Ibu mengeluarkan banyak cairan.
Pastikan Ibu cukup mengonsumsi cairan, agar Ibu tidak. Ibu bisa
mengonsumsi jus buah seperti apel atau mangga yang segar atau meminum
secangkir teh herbal dengan madu juga bisa membuat Ibu tenang dan
mengembalikan energi yang hilang.
Hindari minuman bersoda, jus jeruk, atau anggur karena mengandung
asam yang akan dapat menggangu kesehatan Ibu. Konsultasikan pada dokter
makanan atau minuman apa yang aman untuk Ibu konsumsi. Apa yang Ibu

35

konsumsi juga akan menjadi asupan bagi janin di dalam kandungan Ibu.
Berikan nutrisi optimal untuk kesehatan dan perkembangan janin.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dukungan persalinan adalah asuhan yang sifatnya mendukung yaitu asuhan
yang bersifat aktif dan ikut serta dalam kegiatan selama persalinan merupakan
suatu standar pelayanan kebidanan, dimana ibu dibebaskan untuk memilih
pendamping persalinan sesuai keinginannya, misalnya suami, keluarga atau teman
yang mengerti tentang dirinya.

36

Perubahan Fisiologis
a.
b.
c.
d.
e.

Sifat kontraksi otot rahim


Perubahan bentuk rahim
Ligamentum rotundum
Perubahan pada serviks
Perubahan pada vagina dan dasar panggul

Perubahan Psikologis
Lancar atau tidaknya proses persalinan banyak bergantung pada kondisi
biologis, khususnya kondisi wanita yang bersangkutan. Namun, perlu juga untuk
diketahui bahwa hampir tidak ada tingkah laku manusia (yang diasadari) dan
proses biologisnya yang tidak dipengaruhi oleh proses psikis. Dengan demikian,
dapat dimengerti bahwa membesarnya janin dalam kandungan mengakibatkan ibu
bersangkutan mudah lelah, badan tidak nyaman, tidak nyenyak tidur, sering
kesulitan dalam bernapas, dan beban jasmaniah lainnya saat menjalani proses
kehamilannya.
Bidan harus memahami posisi-posisi melahirkan, bertujuan untuk menjaga
agar proses kelahiran bayi dapat berjalan senormal mungkin, menghindari
intervensi> meningkatkan persalinan normal (semakin normal proses kelahiran,
semakin aman kelahiran bayi itu sendiri).
Apa yang Ibu konsumsi juga akan menjadi asupan bagi janin di dalam
kandungan Ibu. Berikan nutrisi optimal untuk kesehatan dan perkembangan janin.
B. SARAN
Bagi pembaca semoga makalah ini dapat dijadikan sumber referensi dan
tambahan pengetahuan.
Bagi penulis untuk meningkatkan kualitas dalam penulisan makalah

37

DAFTAR PUSTAKA
Pusdiknakes. 2003. Asuhan Intrapartum. Jakarta. Hlm: 18-21
Sulistyawati, Ari. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta: Salemba
Medika. Hlm: 41-61
Priyanto A,. (2009). Komunikasi dan Konseling Aplikasi dalam Sarana
Pelayanan Kesehatan untuk Perawat dan Bidan. Jakarta: Salemba Medika.
Sumarah, dkk. (2008). Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan pada Ibu
Bersalin). Yogyakarta: Fitramaya.
Varney H, dkk. (2006). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 1. Jakarta:
EGC.
Wijayanti, Irfana Tri. -. Standar Asuhan Kebidanan Persalinan. Pati: BUP.
Wulandari, Diah (2009). Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan.
Jogjakarta: Mitra Cendikia Offiset.
Yanti. 2010. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Pustaka
rihama.
Depkes RI. (2007). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan
Indonesia.
Bobak, I, M., Lowdwermilk. D. L, & Perry, S. E. (2004). Buku Ajar Keperawatan
Maternitas. (Maria A. Wijayanti & Peter I. Anugerah, Alih Bahasa). Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. (buku asli diterbitkan tahun 2003).

38

Departemen Kesehatan RI. (2004). Asuhan Persalinan Normal. Edisi baru dengan
resusitasi. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Departemen Kesehatan RI. (2001). Rencana Strategis Nasional Making
Pregnancy Safer (MPS) Di Indonesia 2001 2010. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI.
Saifuddin, A. B, dkk. (2007). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal & Neonatal. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Ricci, S., & Kyle, T. (2009). Maternity & Pediatric Nursing. Philadelphia :
Lippincott William & Wilkins
Sholihah, Lutfiatus, 2004. Persiapan dan Strategi Menghadapi Persalinan Sehat
dan Alamiah. Jakarta : Diva Press.
Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku
Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi
14. EGC, Jakarta.
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal. JNPK-KR Depkes RI, Jakarta.
Mean. 2003. Video Pembelajaran : Proses Kelahiran dan Kekuatan Alami Melalui
Pelepasan Hormone dan Posisi Melahirkan, Disampaikan pada seminar Frisian
Flag-IBI di Jakarta.
Simkin, Ancheta. 2005. Buku Saku Persalinan. EGC, Jakarta.
Sumarah, Widyastuti, Wiyati. 2008. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan
pada Ibu Bersalin). Fitramaya, Yogyakarta.
Pendidikan Bidan. Jakarta, EGC; 1998 : 160.
Cunningham F. Gary dkk, Obstetri Williams,Edisi 21, Jakarta, EGC; 2006, Hal
108 109.

39