Anda di halaman 1dari 16

Usada Netra

Secara etimologis, kata usada berasal dari


kata ausadhi (Sansekerta) yang artinya tumbuhtumbuhan yang mengandung khasiat obat-obatan.
Dewasa ini Usada diberi pengertian sebagai
traktat tentang obat-obatan atau treatise on
medicine. Usada adalah kitab atau lontar yang
berisi petunjuk mengenai diagnosis, prognosis,
kausa dan terapi penyakit. Menurut masyarakat
tradisional Bali, penyakit tidak cukup ditangani
secara biologis menurut ilmu kedokteran modern
semata-mata. Aspek aspek sosio-kultural dan
spiritual perlu melengkapi diagnose dan terapi
yang komprehensif, bahkan dalam banyak kasus,
aspek-aspek non medis, seperti unsur-unsur
kepercayaan mengenai kekuatan-kekuatan tak
tampak, seringkali amat menentukan. Masyarakat
Bali percaya bahwa ada dua penyebab penyakit:
kausa Sekala (penyebab yang tampak, natural,
bias diindrai) dan kausa Niskala (penyebab yang
tidak tampak, supra-natural, tidak bisa dihindari).
Usada Netra membahas berbagai penyakit
yang dapat terjadi pada manusia dan
pengobatannya.
Pengobatan
Usada
Netra
didasarkan atas pengalaman, sabda atau wahyu
dengan memanfaatkan tanaman-tanaman, mantra
serta rajahan atau lukisan untuk mengobati
berbagai penyakit. Ditinjau dari namanya, Usada
Netra merupakan ilmu pengobatan untuk penyakit
mata. Namun, pada kenyataannya dalam Usada
Netra tidak hanya penyakit mata yang
dicantumkan, melainkan terdapat pengobatan pada
penyakit perut, penyakit kepala, penyakit dengan
gejala panas/dingin, penyakit menggigil, penyakit
dalam dengan gejala letih, penyakit luka, gatalgatal, dan koreng, penyakit pada bayi, bahkan
untuk pengobatan untuk gigitan binatang
berbisa(1).
Pada Usada Netra, tidak hanya membahas
tentang tanaman, cara pengolahan serta
penggunaan dari obat-obatan tersebut, melainkan
juga menjelaskan
tentang
mantra-mantra,
rajahan/simbol, dan sesajen yang digunakan untuk
mendukung jalannya pengobatan. Disini juga
menjelaskan tentang penanganan bayi sejak baru
lahir hingga perawatannya, serta pengetahuan
tentang ilmu tenung atau ramal
Pegagan
Nama Daerah : Paiduh, gagan-gagan,
ganggagan(Bali), kolotidi manora (Ternate),wisuwisu
(Makasar),
Dogauke,
gogauke,
sandanan(Papua)
Nama Indonesia : Pegagan
Nama Dagang : -

Klasifikasi
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Subkelas : Polypetale
Ordo : Umbellales
Famili : Umbelliferae (Apiaceae)
Genus : Centella
Spesies : Centella asiatica L.
Deskripsi
Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.)
merupakan tanaman kosmopolit yang dapat
ditemukan di dataran rendah hingga dataran
tinggi, pada tanah lembab maupun berpasir,
ternaungi maupun di lahan terbuka, sehingga
terbentuk genotip yang memperkaya keragaman
genetik pegagan di alam. Pegagan (Centella
asiatica (L.) Urban.) merupakan tanaman herba
tahunan yang tumbuh di daerah tropis dan
berbunga sepanjang tahun. Bentuk daunnya bulat
seperti ginjal manusia, batangnya lunak dan
beruas, serta menjalar hingga mencapai satu
meter. Pada tiap ruas tumbuh akar dan daun
dengan tangkai daun panjang sekitar 5 15 cm dan
akar berwarna putih, dengan rimpang pendek dan
stolon yang merayap dengan panjang 1080 cm.
Tinggi berkisar antara 5,3913,3 cm, dengan
jumlah daun berkisar antara induk dan 25 daun
pada anakannya.
Bagian Tanaman yang Digunakan : Daun
(Folium)
Kandungan Kimia
Triterpenoid:asiatikosida, asam asiatat, asam
madekasat, asam indosentoat, bayogenin, asam
euskapat, asam terminolat. Flavanoid: kaempferol,
kuersetin.
Saponin:
santelasapogenol
A,
sentelasaponin A, B dan D. Poliasetilen:
kadiyenol, sentelin, asiatisin dan sentelisin. Dalam
100 g pegagan terdapat 34 kalori; 8,3 g air; 1,6 g
protein; 0,6 g lemak; 6,9 g karbohidrat; 1,6 g abu;
170 mg kalsium; 30 mg fosfor; 3,1 mg zat besi;
414 mg kalium; 6580 ug betakaroten; 0,15 g
tiamin; 0,14 mg riboflavin; 1,2 mg niasin; 4 mg
askorbat dan 2,0 g serat. Kandungan kimia
pegagan terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu
asam amino, flavonoid, terpenoid, dan minyak
atsiri. Asam amino terdiri atas sejumlah besar
alanin flavonoid terdiri atas quercetin, kaempferol,
dan bermacam-macam glikosida
Kegunaan Secara Empiris Berdasarkan Usada
Netra
Penyakit mata merah dan mata bengkak
Kegunaan Empiris dalam Masyarakat

Belum diketemukan kegunaan dalam masyarakat


karena belum banyak digunakan secara empiris
oleh masyarakat
Pengolahan dalam Usada Netra
Daun paiduh (pegagan) dilumatkan dan diteteskan
ke mata 3-4 kali seharI
Efek Farmakologi
a a. Efek Farmakologi Berdasarkan Hasil
Penelitian Ilmiah yang Sesuai dengan
Khasiat pada Usada Netra
1. Antiinflamasi
Luka merupakan kerusakan kontinyuitas kulit,
membran mukosa dan tulang atau organ tubuh
lain. Salah satu jenisnya adalah luka
terkontaminasi yaitu luka yang terpapar oleh
lingkungan sekitar yang dapat. Pada umunya luka
terkontaminasi dirawat menggunakan povidone
iodine 10% yang memiliki efek samping iritasi,
alergi, residu, toksik pada sel dan rasa panas pada
kulit. Daun pegagan dapat digunakan sebagai
alternatif perawatan luka terkontaminasi karena
mengandung triterpene yang berfungsi sebagai
antiinflamasi,
antibakteri
dan
mendorong
pembentukan kolagen tipe I serta mengandung
minyak esensial yang berfungsi sebagai
antibakteri. Pada penelitian ini digunakan Tikus
Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar yang
berumur 2 2,5 bulan. Sampel yang digunakan
adalah dua puluh ekor tikus putih jantan yang
dipilih dengan simple random sampling dan
dibagi menjadi lima kelompok yaitu kelompok
ekstrak daun pegagan 25%, 50% dan 75%, serta
kelompok povidone iodine 10% dan aquades
sebagai kontrol.
Luka insisi dibuat pada punggung tikus tanpa
menggunakan teknik steril yaitu scapel yang
digunakan dipaparkan dengan udara terbuka
selama 24 jam dan tidak disterilkan. Panjang luka
+ 2,5 cm, kedalaman sampai area subkutan, luka
dibiarkan terlebih dahulu selama 3 jam sampai
terjadi kontaminasi minimal. Perawatan luka
dilakukan 1 kali sehari pada waktu yang sama.
Perawatan luka dievaluasi sampai terlihat tandatanda penyembuhan luka yang ditandai dengan
beberapa indikator yaitu: hilangnya eritema,
hilangnya edema, hilangnya pus, dan tepi luka
menutup. Pengambilan data setiap 24 jam selama
12 hari.
KEMIRI (Aleurites moluccana (L.) Willd)
Nama Daerah:
Sumatera: Kereh (Aceh), Hambiri (Batak), Buah
koreh (Minangkabau), Kemiri (Melayu)
Jawa : Muncang (Sunda), Kemiri (Jawa), Komere
(Madura)

Bali : Kameri (Bali)


Sulawesi : Sapiri (Makasar), Ampiri (Bugis),
Bintalo dudulaa (Gorontalo).
Maluku : Sakete (Ternate), Hagi (Buru) (29)
Nama Indonesia : Kemiri(29)
Nama dagang : Kemiri(29)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Sub-kingdom : Tracheobionta
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Aleurites
Species : Aleurites moluccana (L.) Wild
Deskripsi
Habitus : Pohon, tinggi 25-30 m.
Batang : Tegak, berkayu, permukaan banyak
lentisel, percabangan simpodial, pada batang
sebelah atas terdapat tonjolan bekas melekatnya
tangkai daun, cokelat.
Daun : Tunggal, berseling, lonjong, tepi rata,
bergelombang, ujung runcing, pangkal tumpul,
pertulangan menyirip, permukaan atas licin,
bawah halus, panjang 18-25 cm, lebar 7-11 cm,
tangkai silindris.
Bunga : Majemuk, bentuk malai, berkelamin dua,
tangkai silindris, hijau kecokelatan, benang sari
jumlah 5-9, tangkai sari bulat, merah.
Buah : Kotak, bulat telur, beruas-ruas, panjang
kuran lebih 7 cm, lebar 6,5 cm, masih muda hilau,
setelah tua cokelat, berkeriput.
Biji : bulat berkulit keras, bersukatau beralur,
diameter kurang lebih 3,5 cm, berdaging,
berminyak, putih kecokelatan.
Akar : Tunggang, cokelat
Bagian Tanaman yang Digunakan : Biji, daun
dan kulit batang
Kandungan Kimia
Kandungan kimia yang terdapat pada kemiri
adalah sterol/terpen, palmitin, stearin, miristinin,
minyak lemak, protein, gliserol, asam fosfor,
vitamin B1. Pada daunnya terdapat juga flavonoid
and triterpen
Kegunaan Secara Empiris dalam Usada Netra
Untuk sakit mata yang bergejala sebagai berikut:
sakit tumbuhan pada mata yang sudah tampak
membengkak (infeksi) dan mengatasi demam
Kegunaan secara Empiris dalam Masyarakat
Untuk mengatasi demam dan digunakan sebagai
minyak penumbuh rambut.
Pengolahan dan Penggunaan dalam Usada
Netra

Kemiri, pulasari, sindrong wayah, ketumbah


bolong, ketumbar dan garam, diolah menjadi
bentuk urap. Sebelum digunakan dihangatkan
terlebih dahulu, untuk urap pada kelopak matanya
Efek Farmakologis
a a. Efek Farmakologi Berdasarkan Hasil
Penelitian Ilmiah yang Sesuai dengan
Khasiat pada Usada Netra.
1. Anti-Inflamasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak
metanol daun kemiri secara signifikan dapat
mengurangi bengkak (edema) pada tikus.
Mekanisme kerjanya menghambat sintesis
histamin, serotonin atau prostaglandin. Efek
antiinflamasi
dari
ekstrak
metanol
ini
kemungkinan karena adanya kandungan alkaloid,
sterol dan flavonoid(30).
Biasanya obat antiinflamasi dan analgesik
memiliki aktivitas antipiretik. Secara umum, obatobatan antiinflamasi non-steroid menghasilkan
aktivitas antipiretik mereka melalui penghambatan
sintesis prostaglandin dalam hipotalamus. Oleh
karena itu, aktivitas antiimflamasi dari ekstrak
methanol Aleurites moluccana kemungkinan dari
penghambatan sintesis prostaglandin dalam
hipotalamus. Ini disebabkan karena adanya
alkaloid, sterol dan flavonoid dalam ekstrak
methanol Aleurites moluccana.
Penelitian Cesca, et all (2012) dilakukan
menggunakan tikus swiss dengan berat 25-30
gram dan tikus wistar dengan berat 180-250 gram.
Penelitian ini menggunakan dexametason dan
placebo sebagai pembanding dari ekstrak A.
moluccana. Ekstrak A. moluccana dibuat dalam
suatu bentuk sedian semisolid yang ditujukan
untuk pemakaian topical(31). Penelitian ini
menguji efek antiinflamasi pada tanaman A.
moluccana dengan cara mengoleskan croton oil
pada telinga kanan dari masing-masing tikus.
Croton oil menyebabkan munculnya edema pada
telinga kanan dari tikus. Ketebalan dari telinga
kanan tikus diukur baik sebelum maupun sesudah
dioleskan dengan croton oil. Setelah munculnya
peradangan selanjutnya masing-masing tikus
dioleskan secara berturut-turut dengan ekstrak A.
moluccana (0,1 dan 0,5%), dexametason (0,5%),
dan placebo (Hostacerin CGs, 12%). Selanjutnya
dilihat aktifitas antiinflamasi dari masing-masing
zat
Pembanding yang digunakan pada penelitian
ini adalah cictrenes dengan kandungan neomycin
sulfat dan seng bacitracin. Tikus diberikan luka
sayatan terlebih dahulu, kemudian dioleskan
dengan ekstrak A. moluccana selama 1 hingga 15
hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak

A. moluccana mampu secara signifikan sebagai


antiinflamasi pada edema telinga. Penelitian ini
menunjukan bahwa aktifitas inflamasi dari ekstrak
A. moluccana lebih baik dari pada placebo dan
dexametason. Efek antiinflamasi dari ekstrak A.
molucanna diakibatkan karena adanya kandungan
alkaloid, sterol dan flavonoid pada A. molucanna.
USADA RARE
Salah satu peninggalan naskah lontar
usada adalah usada rare.Usada rare terdiri dari dua
kata, yaitu usada dan rare. Usada yang berarti
tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai
obat-obatan dan rare yang berarti anak-anak. Jadi,
usada rare merupakan lontar yang memuat
mengenai tumbuhan yang memiliki khasiat
sebagai obat-obatan untuk anak-anak dari usia
bayi sampai anak-anak. Pengobatan pada anakanak memerlukan perhatian karena metabolisme
dalam tubuhnya belum terbentuk sempurna seperti
orang dewasa. Pada usada rare banyak ditelaah
mengenai pengobatan untuk anak-anak. Penyakit
yang umum terjadi pada anak-anak, yang dalam
usada rare disebut dengan tiwang antara lain step
(kejang), tangan dan kaki kaku, lidah keputihputihan, demam, sakit perut, sariawan, gelisah,
perut kembung, bengkak ulu hati, mual, diare,
mimisan, batuk, sesak nafas, mata merah, bisul,
sakit telinga, sulit buang air besar dan buang air
kecil, cacingan, panas dalam, tidak nafsu makan,
dan penyakit kulit. Di dalam lontar usada rare
memuat tentang penyakit, bagian tanaman yang
digunakan, serta cara pengolahan atau pembuatan
ramuan tanaman. Pendekatan yang dilakukan
untuk pengobatan adalah secara empiris,
berdasarkan
pengalaman
nenek
moyang.Sedangkan, khasiat tanaman serta efek
toksik dari tanaman secara ilmiah belum
dicantumkan di dalam lontar tersebut. Tanaman
yang digunakan pada lontar usada rare adalah
sekitar 150 tanaman.
Kunyit (Curcuma domestica Val.)
Nama Daerah
Jawa : Kunir, Koneng dan Koneng Temen
(Sunda), Kuning, Unik (Batak), Koneng
(Madura), Kunir, Kunir Betis, Temu Kuning
(Jawa);
Sumatra : Kunyit (Aceh), Kuning (Gayo), Kunyit
(Melayu), Kunyir (Lampung);
Lombok : Konye, Temu Kunyik (Sasak);
Kalimantan : Cahang (Dayak), Kunyit, Janar
(Banjar);
Bima : Huni;
Sulawesi : Unyi (Bugis), Kunidi (Sulawesi Utara);

Maluku : Kumino, Unin, Unine, Uninum


(Ambon);
Papua : Rame, Kandeifu, Nikwai, Mingguai, Jaw
(Irian)(63).
B. Nama Indonesia :Kunyit(63)
C. Nama Ilmiah :Curcuma domestica Val.(63)
D. Nama Usada :Kunir(2)
E. Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma domestica Val.(64)
F. Deskripsi Tanaman
Tanaman kunyit adalah tanaman berumur
panjang dengan daun besar berbentuk elips, 3-8
buah, panjang sampai 85 cm, lebar sampai 25 cm,
pangkal daun meruncing, berwarna hijau seragam.
Batang semu berwarna hijau atau agak keunguan,
tinggi sampai 1,60 meter. Perbungaan muncul
langsung dari rimpang, terletak di tengah-tengah
batang, ibu tangkai bunga berambut kasar dan
rapat, saat kering tebalnya 2-5 mm, panjang 16-40
cm, daun kelopak berambut berbentuk lanset
panjang 4-8 cm, lebar 2-3,5 cm, yang paling
bawah berwarna hijau, berbentuk bulat telur,
makin ke atas makin menyempit dan memanjang,
warna putih atau putih keunguan, bagian ujung
berbelah-belah, warna putih atau merah jambu.
Bentuk bunga majemuk bulir silindris. Mahkota
bunga berwarna putih. Bagian di dalam tanah
berupa rimpang yang mempunyai struktur berbeda
dengan Zingiber (yaitu berupa induk rimpang
tebal berdaging, yang membentuk anakan,
rimpang lebih panjang dan langsing) warna bagian
dalam kuning jingga atau pusatnya lebih pucat.
Kandungan Kimia Kunyit
Kandungan kimiayang terdapat dalam
Curcuma domestica Val. Rhizome adalah
curcumin yaitu diarilhatanoid yang memberi
warna kuning. Selain itu kandungan kimianya
adalah tumeron, zingiberen. Dalam Curcuma
domestica Val. Rhizome juga mengandung zat
aktif seperti minyak atsiri, alkaloid, flavonoid,
tanin, kurkuminoid dan terpenoid. Komposisi
kimia kunyit kadar air 6,0%, protein 8,0%,
karbohidrat 57,0%, serat kasar 7,0%, bahan
mineral 6,8%, minyak volatil 3,0%, kurkuma
3,2%, bahan non volatil 9,0%. Kandungan kunyit
yaitu minyak atsiri (3-5%) terdiri dari senyawa
dialfapelandren 1%, disabeneli 0,6%, cineol 1%,

borneol 0,5%, zingiberen 25% tirmeron


58%,seskuiterpen alcohol 5,8%, alfatlanton dan
gamma atlanton, pati berkisar 40-50%, kurkumin
2,5-6%
Kegunaan
- Kegunaan secara Empiris Berdasarkan
Usada Rare
Rimpang kunyit dapat digunakan dalam
mengobati penyakit perut yang terasa panas dan
muntah-muntah pada anak(3).
- Kegunaan secara Empiris dalam Masyarakat
Rimpang kunyit dapat digunakan sebgai
obat untuk keputihan, diare, obat jerawat dan
gatal-gatal(62).
I. Cara Penggunaan
Rimpang kunyit yang digunakan sebagai
obat penyakit perut yang terasa panas dan muntahmuntah pada anak dilakukan dengan cara
pengolahan yaitukunir (kunyit) , kencur, adas,
majakeling, garam, tumbar dibakar di dalam abu
panas, kemudian diminum (Loloh).
Efek Farmakologis
- Efek Farmakologis Berdasarkan Hasil
Penelitian Ilmiah sesuai Khasiat pada Usada
Rare
Belum ditemukan kajian ilmiah mengenai efek
farmakologi yang terdapat dalam Usada Rare
- Efek Farmakologi Berdasarkan Hasil
Penelitian Ilmiah Lain
1. Antiinflamasi
Aktivitas kurkumin dalam kunyit yang
banyak diteliti dalam satu dekade terakhir ini
adalah aktivitasnya sebagai obat anti inflamasi.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rustam
dkk. (2007) menyatakan bahwa pemberian kunyit
dengan dosis 1000 mg/kg BB pada tikus yang di
injeksi dengan karagenin 1% menunjukkan efek
anti-inflamasi dengan terjadinya menekan atau
menghambat udema sebesar 78,3 %. Laporan lain
tentang efek anti inflamasi kurkumin disampaikan
oleh Jurenka (2009) yang menyatakan efek anti
inflamasi kurkumin dengan dosis 50-200 mg/kg
BB dan pengurangan ukuran udema sebanyak
50% bisa dicapai dengan dosis 48 mg/kg.
Anti-inflamasi kunyit karena kunyit
mampu menghambat biosintesis prostaglandin.
Hambatan biosintesis prostaglandin ini dengan
jalan
menghambat
aktivitas
protein
Cyclooxygenase-2. Protein ini berperan sebagai
katalisator biosintesis prostaglandin dari asam
arakidonat
Antibakteri

Minyak curcuma juga telah diuji terhadap


kultur Staphylococcus albus, S.aureus dan
Bacillus typhosus, dan mampu menghambat
pertumbuhan bakteri S. albus dan S. aureus pada
konsentrasi IC50 di atas 1 g dalam 5000.
Shankar dan Murthy (1979), menyelidiki aktivitas
fraksi turmerik terhadap beberapa bakteri usus
secara in vitro. Hasilnya menunjukkan bahwa
daya hambat pertumbuhan total Lactobacilli
adalah 4,5-90 L/100 L. Fraksi lain dari ekstrak
alkohol, juga efektif (10-200 g/mL), tetapi
penghambatannya tidak sama bila menggunakan
turmerik secara langsung yang mempunyai daya
hambat pertumbuhan bakteri S. aureus sebesar
2,5-50 g/Ml
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Nama Daerah
Jawa : Jeruk mipis (Sunda), Jeruk Purut (Jawa),
Jeruk Dhurga (Madura);
Bali : Juwuk nipis;
Sumatra : Limau Kapang (Sumatra), Kelangsa
(Aceh);
Nusa Tenggara : Jeruk Alit, Keputungan,
Dongacet (Bima), Mudutelong (Flores), Jeru
(Sawu), Mudakenelo (Solor), Delomakii (Roti);
Maluku :Puhatemnepi (Buru), Ahusihinsi,
Aupsifis (Seram), Inta, Lemonepis, Ausinepis,
Usinepese (Ambon), Wanabeudu (Halmahera)
(78).
B. Nama Indonesia : Jeruk Nipis(78)
C. Nama Ilmiah :Citrus aurantifolia(78)
D. Nama Usada : Juwuk nipis, juuk alit(2)(3)
E. Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rutales
Family : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus aurantifolia(78)
F. Deskripsi Tanaman
Jeruk Nipis merupakan perdu yang memiliki
dahan dan ranting dan berakar tunggang.
Batangnya berkayu ulet dan keras, sedangkan
permukaan kulit luarnya berwarna tua dan kusam.
Jeruk nipis berdaun majemuk, berbentuk elips
dengan pangkal membulat, ujung tumpul, dan tepi
beringgit. Panjang daunnya mencapai 2,5-9 cm
dan lebarnya 2-5 cm. Tulang daunnya menyirip
dengan tangkai bersayap, hijau dan lebar 5-25
mm. Buah jeruk nipis berbentuk bulat dengan
diameter 3,5-5 cm. Kulitnya berwarna hijau atau
kekuning-kuningan dan daging buahnya berwarna
kuning kehijauan(79).

G. Kandungan Kimia Jeruk Nipis


Jeruk nipis mengandung asam sitrat, asam amino
triptofan, lisin dan vitamin B. Selain itu juga
mengandung minyak atsiri yang terdiri dari sitral,
limonen, felandren, timol dan kamfer. Sementara
kandungan glikosidanya tersusun atas hisperidin,
iso hesperisin, auratiamarin. Mengandung
kalsium, fosfor, vitamin C, linalin asetat, geranil
asetat(78). Pada daun jeruk nipis mempunyai
kandungan kimia antara lain: Monoterpene
hidrokarbon (-Camphene, Sabinene, -Pinene,
Myrcene, Limonene, Z--Ocimene, -Terpinene,
Terpinolene,
Isocamphene),
Oxygenated
monoterpenes
(Linalool,
E-pinocarveol,
Citronellol, Nerol, Neral, Geraniol, Geranial,
Neryl acetate, Geranyl acetate), Sesquiterpenes
hydrocarbons (-elemene, -caryophyllene, humulene,
germacrene
D,
-bisabolene),
Oxygenated sesquiterpenes (Caryophyllene oxide,
- eudesmol)
Kegunaan
- Kegunaan secara Empiris Berdasarkan
Usada Rare
Dalam Usada Rare, jeruk nipis digunakan untuk
mengobati batuk pada bayi atau anak-anak,obat
panas, obat bengkak ulu hati obat bayi sakit perut
melilit-lilit dan mengobati bayi kurus
Kegunaan secara Empiris dalam Masyarakat
Jeruk nipis biasanya digunakan sebagai obat batuk
Cara Penggunaan
Untuk obat batuk pada bayi atau anak-anak,
pengolahan jeruk nipis yaitu daun jeruk nipis,
daun jambu putih, dan beras dikunyah. Kemudian
disemburkan (simbuh) di daerah dada di bawah
ketiak(2). Untuk obat panas, cara pengolahannya
yaitu kelapa, adas diisi jeruk nipis kemudian
dioleskan di mulut bagian atas. Untuk obat
bengkak ulu hati, cara pengolahannya yaitu
lengkuas, cendana, bubuk sadidik diisi jeruk nipis,
bunut bulu, berangbang, adas kemudian diminum
(Loloh). Pada pengobatan bayi sakit perut melilitlilit, cara pengolahannya yaitu panida bubuk, air
jeruk
nipis,
minyak
tanusan
kemudian
ditempelkan pada pusarnya. Untuk mengobati
bayi kurus cara pengolahannya yaitu telor lipas,
santen kane, air jeruk nipis, berangbang digoreng,
garam kemudian diminum.
Efek Farmakologis
- Efek Farmakologis Berdasarkan Hasil
Penelitian Ilmiah sesuai Khasiat pada Usada
Rare
1. Antimikroba
Bedasarkan usada rare, jeruk nipis
memiliki khasiat megobati bayi sakit perut melilitlilit seperti diare, dimana diare merupakan kondisi

ketidakseimbangan absorbsi dan ekskresi air dan


elekrolit(82). Diare dapat disebabkan oleh bakteri
Escherichia coli akibat sanitasi yang buruksebagai
penyebab banyaknya kontaminasi bakteri
Escherichia coli dalam air bersih yang dikonsumsi
masyarakat.
Bakteri
Escherichia
coli
mengindikasikan adanya pencemaran tinja
manusia(83).
Jeruk nipis memiliki efek sebagai
antimikroba. Penelitian ini dilakukan secara in
vitro dengan cara meletakkan cakram kertas saring
yang telah direndam dalam air jeruk nipis pada
media agar yang telah ditanami bakteri yang akan
diuji aktivitasnya. Percobaan ini menunjukkan
bahwa air jeruk nipis memberikan zona hambat
dengan diameter 17 mm untuk bakteri Bacillus sp.
dan Staphylococcus aureus, sedangkan untuk
bakteri Escherichia coli memberikan zona hambat
dengan diameter 11 mm dan 13 mm untuk bakteri
Salmonella sp. Sehingga air jeruk nipis memiliki
aktivitas mikroba.
Dari jurnal yang berbeda, ekstrak etil
asetat dari kulit segar jeruk nipis memiliki
aktivitas antibakteri yang lebih besar terhadap
Staphylococcus aureus dibandingkan ekstrak etil
asetat dari daun kering(85).
Senyawa yang memiliki aktivitas sebagai
antimikroba adalah minyak atsiri jeruk nipis yakni
limonene yang merupakan senyawa mayor dalam
jeruk nipis.
Usada Rukmini Tatwa
Nenek moyang kita telah memanfaatkan
berbagai jenis tumbuhan untuk dijadikan jamu,
termasuk jamu untuk kecantikan dan kejantanan
bagi perempuan maupun laki-laki. Hal ini
dibuktikan dengan ditemukannya lontar Rukmini
Tatwa. Rukmini Tatwa merupakan naskah lontar
pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan untuk
menjaga kebugaran. Lontar Rukmini Tatwa
mengatakan bahwa Suci memberikan wejangan
bermacam macam obat-obatan (jamu tradisional)
yang berkaitan dengan masalah sanggama
(coitus), penggunaan lelepan (boreh, pupur), jamu
untuk mempercantik tubuh dan muka, bedak
untuk kelamin perempuan, obat penyakit
peputihan (keputihan), obat penyakit kelamin
laki-laki, obat menghidupkan kama (kama adalah
nama dewa asmara yang juga berarti cinta, air
mani, nafsu), memperkuat kelamin laki-laki,
panglanang (menjadikan laki-laki lebih jantan),
jamu untuk orang yang tidak bisa mempunyai
anak. Untuk menambah kemanjuran obat-obatan
tersebut masyarakat zaman dahulu juga

menambahkan mantra-mantra tertentu pada saat


ramuan tersebut digunakan
Pada lontar Rukmini Tatwa itu disebutkan:
Awighnam astu. Sang Rukmini matakwan ri
bha ri Saci, prastawaniran kinsihan de
sanghyang Indra, sumahur bhari Saci,
lingnira: nDakwarah kita Sang Rukmini,
matangyan cara ring kendran. Hanung tang
mahala ring anakbi, tan wuruh ring lepana,
matangyan tan kinasihan dening lakinya, nihan
pamahayuna ari.
Artinya :
Sentausalah senantiasa. Sang Rukmini bertanya
kepada Bhtari Saci, sebabnya dikasihi oleh
Sanghyang Indra. Menjawablah Bhtari Saci, Aku
nasihati engkau Sang Rukmini, mengapa aku
diterima dan berjalan tiada halangan menuju
sorga. Ada suatu hal yang tiada pantas yang
merupakan kekurangan seorang perempuan, yakni
jika mereka tidak mengetahui cara penggunaan
lepana (obat boreh, pupur, bedak, dan lain-lain).
Karena itu, mereka tidak dicintai oleh suaminya.
Padahal, itulah cara mempercantik, Adikku.
Teks di atas secara jelas menunjukkan isi
pembicaraan antara (19) Rukmini dan (19) Saci
tentang pentingnya jamu. Dalam kitab Kyana,
Rukmini adalah istri Krsna. Disebutkan di situ
suatu hari ia bertanya kepada (19) Saci ((19)
Indrani) yaitu sakti (istri) Dewa Indra. Apakah
rahasianya sehingga (19) Saci sangat dikasihi oleh
Dewa Indra? (19) Saci menjawab bahwa
kelemahan seorang perempuan hingga tidak
dicintai oleh laki-laki atau suami itu karena
perempuan tidak mengetahui bagaimana cara
menggunakan lepana, yaitu obat-obatan
termasuk bedak, tapal, pupur, param, boreh dan
sebagainya yang digosokkan ke tubuh seluruhnya,
lebih-lebih bagian kelamin(70).
Untuk menambah kemanjuran dan keampuhan
obat-obatan tadi, masyarakat zaman dahulu lalu
menambahkan pengucapan mantra-mantra tertentu
saat ramuan jamu tersebut digunakan Berikut ini
merupakan contoh-contoh ramuan dalam lontar
Rukmini Tatwa:
1. Madu, pangkal buaya (pangkal buwaya) sama
takarannya dipipis sampai halus, dikumpulkan,
dan dituang, dipipis lagi sampai lumat, kemudian
dioleskan pada yoni dan tidak melakukan
sanggama pada waktu itu. Maka apabila seorang
perempuan telah menjadi tua, setengah baya, akan
kembali menjadi gadis lagi (yan hatuha kang stri,
tngah tuwuh, maluy kanya).
2. Hatal, galuga (sejenis rempah-rempah, tumbuhtumbuhan: troussonetia), teratai merah (padma),
babakan kepundung putih, pipis semuanya dan

dioleskan pada yoni. Maka pada waktu bersetubuh


suaminya akan dikuasai bagaikan seorang hamba
(sdengnyan macumbana, kakawasang swaminya
kadi dasa denya).
3. Minyak yang menyebabkan kembali menjadi
gadis atau Sadana minyak, phala maluy rara
denya. Ramuannya:
a. Batang teratai merah (witning padma), susu
kambing (pehan kambing), setelah dipipis lalu
dimasak sampai kental dengan kelopak jantung
pisang selama lima hari (pipis hindel hantuk
kalupakan pusuh byuh, limang welawasnya) dan
dioleskan pada yoni. Akhirnya akan menjadi gadis
kembali.
b. Minyak (lemak) tikus (muluk bikul), minyak
kelapa (lengis), minyak wijen (lenga) sama
takarannya dioleskan pada yoni maka akan
kembali menjadi gadis dan merasa bahagia
(subhaga maluy rara denya). Khasiat campuran
minyak tersebut menurut lontar Indrani-sastra
adalah : liang sanggama akan menjadi bersih,
nyaman dan rapat, serta tidak terasa sakit.
(dwaraning yoni maho denya, lawan tan wyadi).
c. Inggu, mrica (mica), teratai merah (padma),
babakan kepundung putih, kayu manis, bunga
sidawayah (sepet-sepet, pohon delima dengan
buah kecil-kecil), jahe, buah pala, kamaloko
(kamalaka: nama pohon Phyllanthus emblica L.),
klapu, ara beras (aha bahas), tapak liman, pisang
bunga (bitu bunga), pangkal buaya, semua itu
dicampur dengan minyak (kinla ring lenga),
kelopak jantung pisang (klupakan pusuh byu)
dimasukkan ke dalam liang yoni, maka seorang
perempuan akan kembali menjadi gadis dengan
obat tersebut, meskipun umurnya telah mencapai
seratus tahun (maluya kanya wang wala denya,
yadyan satus tahun yusanya).
d. Cara lain supaya menjadi gadis kembali (nyan
muwah kanya hetu) yaitu menggunakan lemak
(minyak) kura-kura (muluk badawang) san
minyak wijen (minyak lenga) dioleskan pada yoni
maka kekurangan pada yoni akan hilang
(panglaning yoni) dan seseorang akan merasa
sebagai gadis kembali (kanya muwah). Untuk para
perempuan manfaat campuran minyak itu adalah :
meskipun liang yongi (liang sanggama) menjadi
lebar, akan kembali menjadi seperti gadis lagi
(yadyana lwa ikanang yoni wiwara, maluya kanya
muwah) dan suami akan terkuasai olehnya serta
merasa senang (lawan ta kakawasang suami
denika).
4. Mempercantik tubuh dan roman mukan dengan
pupur (Pamahayu hawak mwang muka, pupur).
Demikianlah isi sebagian kecil lontar Rukmini
Tatwa yang berisi wejangan (19) Saci (Indrani)

kepada (19) Rukmini, yaitu mengenai masalah


kehidupan seksual dan juga obat-obatan. Kitab itu
disebut juga Indrani-prawala yang menunjukkan
maksud bahwa wejangan tersebut diucapkan
dengan tulus hati, jujur, dan sungguh-sungguh.
Prawela berarti jujur, lurus hati. Selain berisi obatobatan, japa mantra, kitab tersebut lebih-lebih
juga bermaksud agar seorang perempuan dikasihi
oleh suaminya atau agar terjalin keserasian hidup
berumah tangga
Pare (Momordica charantia L.)
Nama Tanaman
Nama Daerah
Jawa : Paria, Pare, Pare Pahit, Pepareh
Sumatera : Prieu, Fori, Pepare, Kambeh, Paria
Nusa Tenggara : Paya, Truwuk, Paitap, Pariak,
Pania, dan Pepule
Sulawesi : Poya, Pudu, Pentu, Paria Belenggede,
Sertapalia
Bali : Paye
Maluku : Papariane, Pariane, Papari, Kakariano,
Taparipong,
Pepare(55).
Nama Indonesia : Pare, Paria(55).
Nama Dagang Internasional : Bitter melon,
Balsam pear, Kerala, African cucumber(55).
Nama Ilmiah : Momordica charantia L.(55).
Nama Usada : Terong pahit(31).
3.2.2 Taksonomi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Violales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Momordica
Spesies : Momordica charantia L.
Deskripsi
Batang : Batang berusuk lima, panjang 2-5 m,
yang muda berambut rapat. Bertangkai yang
panjangnya 1,5-5,3 cm, letak berseling, bentuknya
bulat panjang, dengan panjang 3,5-8,5 cm, lebar 4
cm, berbagi menjari 5-7, pangkal berbentuk
jantung, warnanya hijau tua, yang muda berambut
cukup rapat
Daun : Daun tunggal bertangkai yang panjangnya
3,5-8,5 cm, lebar 4cm,berbagi menjari 57, pangkal berbentuk jantung, garis tengah 417cm berbintik-bintik tembus cahaya, taju bergigi
kasar hingga berlekuk menyirip, warnanya hijau
tua
Bunga : Bunga tunggal, berkelamin dua dalam
satu pohon, bertangkai panjang, berwarna

kuning
Buah : Buah bulat memanjang berbentuk seperti
cylindris dengan 8-10 rusuk memanjang,
permukaan buahnya bintil-bintil tidak beraturan
dengan panjang 8-30 cm. Warna buah hijau dan
jika sudah masak jika dipecah akan berwarna
orange dengan 3 katup, rasa pahit
Biji : Biji banyak, berwarna coklat kekuningan
pucat, bentuknya pipih memanjang dan
keras. Jika buah masih mentah maka biji akan
berwarna putih(55).
3.2.4 Kandungan Kimia
Daun
pare
mengandung
momordisina,
momordina, karantina, resin, asam trikosanik,
asam resinat, saponin, vitamin A, dan C serta
minyak lemak yang terdiri dari asam oleat, asam
linoleat, asam stearat dan L.oleostearat. Biji pare
mengandung saponin, alkanoid, triterpenoid, asam
momordial dan momordisin. Buah mengandung
fixed oil, insulin-like peptide, glycosides
(momordin
dan
charantin),
alkaloid
(momordicine), hydroxytryptamine, vitamin A, B,
dan C (55).
3.2.5 Kegunaan
Kegunaan secara Empiris Berdasarkan Usada
Rukmini Tatwa
Dalam Usada Rukmini Tatwa pare (terong
pahit) digunakan untuk menimbulkan rasa gairah
(libido) serta meningkatkan kenikmatan saat
melakukan hubungan seksual(55). Pare (terong
pahit) juga dapat digunakan untuk membuat
kelamin laki-laki menjadi tegang
Kegunaan secara Empiris dalam Masyarakat
Daun pare digunakan untuk obat cacingan,
bisul, demam, melancarkan ASI. Buah pare
digunakan untuk mengatasi batuk, sakit
tenggorokan, demam, malaria(55).
3.2.6 Cara Pembuatan dan Penggunaan
Cara penggunaan dalam Usada Rukmini Tatwa
untuk membuat kelamin laki-laki menjadi tegang.
Ramuan : Daun sidhakaki, jeruk hitam, pala,
kembang sepatu, jeruk purut, terong pahit semua
dilumatkan,
diteteskan
minyak
kemudian
diusapkan pada kelamin. Hasilnya besar dan tahan
lama(31).
3.2.7 Efek Farmakologis
Efek
Farmakologi
Berdasarkan
Hasil
Penelitian Ilmiah Sesuai Khasiat Pada Usada
Rukmini Tatwa
Berdasarkan
penelitian
buah
pare
mengandung senyawa afrodisiak yang merupakan
zat
yang
mampu
meningkatkan
gairah
seksual(77).
Efek
Farmakologi
Berdasarkan
Hasil
Penelitian Ilmiah Lain

1. Antikanker
Berdasarkan penelitian secara in vitro dengan
pemberian infusa buah pare pada kelenjar prostat
mencit, kandungan buah pare dapat menghambat
pertumbuhan sel-sel kanker prostat. Pengaruh
infusa buah pare terhadap berat kelenjar prostat
melalui pemberian infusa dengan dosis yang
bervariasi memperlihatkan hasil berkurangnya
berat kelenjar prostat, dimana menurut penelitian
Naseem bahwa biji dan buah pare memiliki efek
androgenik, yaitu dapat menurunkan berat
epididimis, vesica seminalis, levator aini sera
kelenjar prostat. Pengaruh pemberian infus buah
pare terhadap sel epitel kelenjar prostat berupa
penipisan ukuran sel epitel(81).
Efek Samping
Jika terlalu banyak mengkonsumsi jus pare
maka akan menyebabkan i(49)s saluran
pencernaan, seperti diare(68).
Toksisitas
Biji pare sebaiknya tidak dikonsumsi oleh
anak-anak karena beracun. Selain itu buah dan
daun pare aman untuk dikonsumsi
Jahe (Zingiber officinale Rosc.)
Nama Tanaman
Nama Daerah
Jawa : Jahe (Sunda), Jhai (Madura)(29).
Bali : Jae, Jahya, Cipakan(21)(29).
Sumatera : Sipodeh (Minang)(29).
Sulawesi : Melito (Gorontalo) (29), Pese (Bugis)
(21).
Nusa Tenggara : Lia (Flores), Late (Timor)(29).
Maluku : Goraka (Ternate)(29).
Nama Indonesia : Jahe
Nama Dagang Internasional : Ginger(24).
Nama Ilmiah : Zingiber officinale Rosc.(29).
Nama Usada : Jae(31).
3.4.2 Taksonomi
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Sub Famili : Zingiberoidae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber officinale Rosc.(50).
3.4.3 Deskripsi
Habitus : Semak semusim, tinggi 0,5 m.
Batang : Semu, beralur, pangkal membentuk
rimpang, hijau.
Daun : Tunggal, lanset, tepi rata, ujung runcing,
pangkal tumpul, hijau.
Bunga : Majemuk, bentuk bulir.

Buah : Majemuk, bentuk kotak.


Biji : Bulat, hitam.
Rimpang : Agak pipih sampai kegemukan, putih
kekuningan hingga kuning
kemerahan(21).
3.4.4 Kandungan Kimia
Rimpang jahe mengandung minyak
menguap (volatile), minyak tidak menguap (non
volatile) dan pati. Kandungan minyak menguap
pada rimpang jahe biasa disebut minyak atsiri.
Minyak atsiri tersebut merupakan salah satu
komponen pemberi aroma atau bau khas pada
jahe, kandungan minyak menguap ini terdapat
dalam kadar 1,5% - 3,0%. Minyak atsiri pada
rimpang jahe tersusun dari beberapa komponen
diantaranya
kamfen,
sineol,
bornewol,
geraniol(45), zingiberen (C12H24) dan zingiberol
(C12M26O2). Minyak tidak menguap atau
oleoresin (faxed oil) merupakan senyawa yang
menyebabkan rimpang jahe berasa pedas dan agak
pahit. Senyawa oleoresin yang terdapat dalam
rimpang jahe adalah sebanyak 3% - 4%.
Komponen utama oleoresin berupa senyawa
gingerol (C14H26O4, C18H2805), shogaol
(C7H24O3) dan resin. Selain kandungan tersebut
diatas, rimpang jahe
juga mengandung senyawa pinen, felandren,
metil-heptenon, sitrali, dan zingiber,
kurkumen, farnesen, sekuisterpen, alkohol, C10
dan C9 aldehid(50).
3.4.5 Kegunaan
Kegunaan secara Empiris Berdasarkan Usada
Rukmini Tatwa
Dalam Usada Rukmini Tatwa jahe
digunakan untuk obat kelamin pria dan pembesar
kelamin pria(31).
Kegunaan secara Empiris dalam Masyarakat
Rimpang jahe berkhasiat sebagai stimulan
tubuh dan obat untuk perut kembung(29).
3.4.6 Cara Pembuatan dan Penggunaan
Untuk obat kelamin pria beberapa
campuran bahan selain jahe seperti jahe hitam, 7
potong, pucuk pandan dip(5)i diatas api,
kemudian diremas dan dicampur air tajin, lalu
diminum. Untuk memperbesar kelamin pria
beberapa campuran bahan selain jahe seperti
kencur, bangle, temu hitam, laos, temu kunci,
temulawak dan daringao masing-masing diambil
tunasnya, kemudian ditambahkan merica, cengkeh
3 biji, dilumatkan semua hingga halus, diberi
madu, jika sudah matang dioleskan pada kelamin
pria(31).
3.4.7 Efek Farmakologis

Efek Farmakologi Berdasarkan Hasil


Penelitian Ilmiah Sesuai Khasiat Pada Usada
Rukmini Tatwa
Menurut penelitian (Anandita dkk., 2012),
minyak atsiri yang terkandung pada jahe
khususnya jahe merah dapat meningkatkan libido,
juga mampu meningkatkan kemampuan hubungan
seksual. Dimana kandungan oleoresin yang
terdapat di dalam jahe merah dilaporkan memiliki
efek sebagai aprodisiaka. Penelitian dilakukan
dengan cara, minyak atsiri jahe merah diambil
dengan cara destilasi sementara simplisia bebas
minyak atsiri diekstraksi dengan etanol 70%.
Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok
yang dipejani suspensi ekstrak etanolik jahe
merah (140 mg/kg BB), emulsi minyak atsiri (15
l/kg BB), kontrol positif suspensi ekstrak pasak
bumi (500 mg/kg BB), kontrol positif suspensi
serbuk jahe merah (2,5 g/kg BB), dan kontrol
negatif suspensi CMC Na 1%. Pemejanan
dilakukan secara oral setiap hari selama 32 hari.
Parameter yang diamati adalah frekuensi
introduction, climbing, dan coitus. Dari hasil yang
didapatkan, minyak atsiri jahe merah terbukti
dapat meningkatkan libido dan kemampuan
hubungan seksual dengan mekanisme dimana
minyak atsiri jahe bekerja dalam proses ereksi
manusia dimana proses tersebut dimediasi oleh
pelepasan nitrogen oksida dari ujung saraf yang
dekat ke pembuluh darah penis. Relaksasi
pembuluh darah ini menyebabkan darah
menumpuk dalam penis sehingga dapat terjadinya
proses ereksi.
Efek Samping
Belum ditemukan adanya efek samping pada
penggunaan jahe.
Toksisitas
Belum ditemukan adanya efek toksik pada
penggunaan jahe.
Usada Taru Premana
Usada Taru Pramana merupakan pengetahuan
mengenai pengobatan tradisional masyarakat Bali.
Taru Pramana berarti kekuatan, dengan asal kata
pramana yang berarti khasiat dan taru yang
berarti
tumbuhan
(Suryadharma,
tt).
Keterpaduannya
menggambarkan
bahwa
penyebab
penyakit
dan
penyembuhannya
berdimensi fisik (skala) dan bukan fisik (niskala),
berhubungan dengan penataan ruang dan
momentum waktu. Lontar Usada Taru Pramana
berisikan penjelasan bahan bahan obat yang
berasal dari tumbuh tumbuhan. Di dalam usada
ini secara mitologi tumbuh-tumbuhan dikatakan
dapat berbicara serta menceritakan khasiatnya.

Karakteristik informasinya merupakan tonggak


pengetahuan tumbuhan obat yang memiliki
beberapa keunikan (Suryadharma, 2007). Lontar
Usada Taru Pramana berisikan penjelasan bahan
bahan obat yang berasal dari tumbuh tumbuhan.
Di dalam usada ini secara mitologi tumbuhtumbuhan dikatakan dapat berbicara serta
menceritakan khasiatnya
Terjemahan lontar Taru Pramana ditulis
menjadi sebuah buku oleh Putra (1999), dimana di
dalam lontar tersebut menceritakan mengenai asal
mula diketahuinya khasiat tanaman sebagai obat.
Cara pengobatan yang tertuang dalam lontar
Usada Taru Pramana merupakan salah satu cara
pengobatan yang dikembangkan menjadi sistem
pengobatan lokal dimana masyarakat ikut
merancang dan mengetahui cara-cara dasar
pengobatan yang dapat diperoleh atau disediakan
di lingkungannya. Ketersediaan jenis tumbuhan
obat di lingkungannya merupakan bagian dari
pengetahuan pengobatan tradisional masyarakat
Bali yang didalamnya terkandung hubungan erat
antara manusia dengan lingkungan dan manusia
dengan sang penciptanya. Sedangkan cara
penyembuhannya merupakan perpaduan antara
pendekatan kepercayaan dan khasiat dari jenis
tumbuhan yang digunakannya. Sistem pengobatan
usada
dapat
dimantapkan
dengan
jasa
pengetahuan pengobatan modern melalui kajiankajian ilmiah sebagai salah satu upaya
pemberdayaan diri masyarakat untuk tidak
terjebak ke dalam satu ketergantungan dalam
pengobatan modern sebagai pilihan utama
Cara pengobatan yang tertuang dalam lontar
Usada Taru Pramana merupakan salah satu cara
pengobatan yang dikembangkan menjadi sistem
pengobatan lokal dimana masyarakat pemakai ikut
merancang dan/atau mengetahui cara-cara dasar
pengobatan yang dapat diperoleh atau disediakan
di lingkungannya. Ketersediaan jenis tumbuhan
obat di lingkungannya merupakan bagian dari
pengetahuan pengobatan tradisional masyarakat
Bali yang didalamnya terkandung hubungan erat
antara manusia dengan lingkungan dan manusia
dengan sang penciptanya. Sedangkan cara
penyembuhannya merupakan perpaduan antara
pendekatan kepercayaan dan khasiat dari jenis
tumbuhan
yang
digunakannya.
Teknik
pengobatannya didasarkan pada pengalaman
masyarakat. Dalam proses penyembuhannya,
pelaku usada dan masyarakat umum dapat
melakukan penyembuhan melalui subsidi silang
sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya,
sehingga tumbuh kebersamaan diantara anggota
masyarakat sebagai satu sistem sosial masyarakat

Bali dalam pengobatan tradisional (Suryadarma,


tt).Dalam tulisan ini akan dijabarkan beberapa
tanaman obat dengan khasiat dan penggunaannya
yang termuat dalam Usada Taru Pramana.
Usada Taru Pramana berkaitan dengan
cerita zaman dahulu kala ada seorang raja
bernama Mpu Kuturan. Beliau adalah seorang
dukun Sidi Wakia yang selalu dingin tangan jika
beliau mengobati orang sakit. Beberapa hari
beliau dapat mengobati serta menyembuhkan
segala penyakit. Beliau belum pernah gagal
selama menangani orang sakit dan selalu berhasil
walaupun dalam keadaan sakit parah. Namun
suatu hari, beliau sangat kecewa karena setiap
pasien yang diobatinya kebanyakan menemui
ajalnya. Beliau menanggung malu yang tak
terhingga dan kemudian pergi ke kuburan dan
bersemadi di atas tempat pembakaran mayat. Tak
lama kemudian beliau mendengar Sabda dari
Batari Kahyangan dan akhirnya beliau mengetahui
nama pepohonan sebagai obat (Putra, 1999).
Usada Taru Pramana terdiri dari 202 tanaman
dengan khasiat dan cara penggunaan yang
beraneka ragam. Berikut adalah data tanaman
beserta cara penggunaan dan khasiatnya
berdasarkan
usada Taru Pramana
KENCUR
A. Nama tanaman
Kencur
B. Nama ilmiah
Kaempferia galanga L.
C. Nama daerah Di Indonesia, kencur dikenal
dengan beberapa nama daerah diantaranya adalah:
Cikur (Sunda); Kencur (Jawa); Kencor (Madura);
Cekuk (Bali);Cakue (Minang Kabau); Cekur
(Lampung); Kaciwer (Karo); Ceuko (Aceh) dan
Bataka (Ternate,Tidore)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingeberales
Family : Zingeberacea
Subfamily : Zingiberoideae
Genus : Kaempferia
Species : Kaempferia galangaL.
E. Kandungan kimia
Etil p-metoksisinamat merupakan komponen
utama dari kencur (Afriastini,1990). Tanaman
kencur mempunyai kandungan kimia antara lain
minyak atsiri 2,4-2,9% yang terjadi atas etil

parametoksi sinamat (30%). Kamfer, borneol,


sineol, penta dekana. Adanya kandungan etil para
metoksi sinamat dalam kencur yang merupakan
senyawa turunan sinamat (Inayatullah,1997).
F. Kegunaan secara empiris dalam usada
Kencur berkhasiat sebagai obat untuk batuk, gatalgatal pada tenggorokan, perut kembung, mual,
masuk
angin,
pegal-pegal,
pengompres
bengkak/radang, tetanus dan penambah nafsu
makan (Miranti, 2009).
G. Tanaman yang dipakai dalam usada
Daun (Putra, 1999).
H. Cara pengolahan dan pengunaan dalam
usada
Daun kencur
digiling halus, kemudian
ditambahkan
minyak
kelapa
secukupnya,
dibungkus dan dipanaskan. Digunakan sebagai
obat kompres pada bagian yang bengkak (Putra,
1999).
I. Efek farmakologi berdasarkan hasil
penelitian ilmiah sesuai khasiat usada Taru
Pramana Dimana menurut penelitian yang
dilakukan Sulaiman dkk. (2007) melaporkan
bahwa ekstrak air daun kencur mempunyai
aktivitas antiinflamasi yang diuji pada radang akut
yang diinduksi dengan karagenan.
Pada penelitian (Umar dkk., 2012), uji
antiinflamasi tanaman kencur dilakukan dengan
cara pemberian oral ekstrak rimpang kencur pada
dosis 2.000 mg/kg yang ditetapkan sebagai dosis
uji batas. Etil p-metoksisinamat yang merupakan
kandungan utama kencur aman diberikan pada
dosis 2.000 mg/kg dengan nilai LD50 Etil pmetoksisinamat yang lebih tinggi dari 2.000
mg/kg. Dosis etil p-metoksisinamat yang
memberikan efek adalah 800 mg/kg, dosis ini
tidak berbeda dari indometasin, ini menunjukkan
bahwa etil p-metoksisinamat bisa menjadi
konstituen antiinflamasi aktif dalam Kampheria
galanga dan dapat berbagi mekanisme yang sama
dengan
indometasin.
Awal
pengujian
antiinflamasi.
KAMBOJA
Nama Tanaman
Kamboja
B. Nama daerah
Kamboja merah (Jawa), Jepun (Bali), Champa
(India), Kalachuchi (Filipina), Jari mati
(Australia) (Farooque et al, 2012).
C. Bagian yang digunakan dalam usada
Bunga.
Klasifikasi Tanaman
Kingdom
: Plantae

Divisi
Subdevisi
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Spermatophyta
: Angiospermae
: Dicotyledonae
: Apocynales
: Apocynaceae
: Plumeria
: Plumeria
acuminate

Kandungan Kimia
Penelitian mengenai Plumeria rubra dihasilkan
senyawa triterpen taraxasteril asetat dan sikloart22-ena-3-25-diol, asam oleanolat dan 13-27dihidroksi-12-oleanene, asam 3-6-dihidroksi-3epi-oleanenoat. Senyawa-senyawa tersebut aktif
terhadap bakteri gram (+) dan bakteri gram (-)
diantaranya yaitu Bacillus anthracis,
Corynebacterium pseudodiphterium,
Pseudomonas aeroginosa dan Pseudomonas
pseudomalliae (Akhtar, 1992). Daun kamboja
mengandungan senyawa alkaloid, glikosida,
fenolik, flavonoid, terpenoid, tanin dan saponin,
stigmasterol-7-enol, lupeol asam karboksilat,
lupeol asetat dan asam ursolat (Farooque et al,
2012). Pada bagian akar mengandung
Fulvoplummierin, Plumericin, sisoplumericin, dihydroplumericin dan - asam
dihidroplumerikinik serta dapat menghasilkan
minyak atsiri (0,04-0,07%) yang terdiri dari
alkohol primer, geraniol, sitronelol, farnesol dan
feniletil alkohol dengan jumlah sedikit aldehida
dan keton (6,8%) (Farooque et al, 2012). Bunga
Kamboja mengandung senyawa bioaktif berupa
tannin, total fenol dan Vitamin C. Tannin adalah
senyawa tannin yang dapat dihidrolisis dengan
asam, alkali atau enzim menjadi senyawa
senyawa yang lebih sederhana seperti gula dan
asam tanat (asam galat dan egalat). Total Fenol
adalah senyawa kimia yang ditemukan sangat luas
pada tanaman. Senyawa ini memiliki ciri khas
yakni memiliki gugus fenol pada molekulnya, dan
berpran dalam memberi warna pada tumbuhan
seperti warna daun saat musim gugur. Vitamin C
adalah vitamin yang larut di dalam air dan sangat
banyak dijumpai pada tanaman sebagai L-asam
askorbat dan sumber vitamin C di alam adalah
buah-buahan dan sayur-sayuran (Luh Putu
Wrasiati, dkk. 2011). 47
Kegunaan Secara Empiris, Pengolahan dan
Penggunaan dalam Usada Taru Pramana
Dalam Usada Taru Pramana bunga kamboja
digunakan untuk mengobati beberapa penyakit
salah satunya adalah mengobati bisul. Cara
penggunaannya: bunga kamboja dipanggang di

atas api kemudian diisi minyak kelapa lalu


ditempelkan pada bisul.(Putra, 1999).
G. Efek Farmakologi Berdasarkan Hasil
Penelitian Ilmiah Sesuai dengan Khasiat pada
Usada Taru Pramana
Efek farmakologi berdasarkan hasil
penelitian ilmiah telah sesuai dengan khasiat
dalam Usada Taru Pramana sebagai antiinflamasi.
Di dalam usada disebutkan bahwa kamboja
digunakan sebagai obat bisul. Di dalam penilitian
yang diperoleh dari jurnal disebutkan bahwa
kamboja memiliki efek farmakologi sebagai
antiinflamasi. Inflamasi merupakan respons
protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera
atau kerusakan jaringan, yang berfungsi
menghancurkan, mengurangi, atau mengurung
(sekuestrasi) baik agen pencedera maupun
jaringan yang cedera itu (Dorland, 2002). Apabila
jaringan cedera misalnya karena terbakar, teriris
atau karena infeksi kuman, maka pada jaringan ini
akan terjadi rangkaian reaksi yang memusnahkan
agen yang membahayakan jaringan atau yang
mencegah agen menyebar lebih luas. Reaksireaksi ini kemudian juga menyebabkan jaringan
yang cedera diperbaiki atau diganti dengan
jaringan baru. Rangkaian reaksi ini disebut radang
(Rukmono, 1973). Aktivitas antiinflamasi dari
kamboja ialah dengan peningkatan sintesis
prostaglandin dalam jaringan yang rusak. Hasil
penelitianekstrak metanol dari Plumeria
acuminata dengan menggunakan hewan uji dapat
digunakan pada keadan akut maupun (Frooque et
al, 2012). Senyawa yang terdapat dalam pulmeria
acuminata adalah triterpenoid golongan terpenoid,
mekanisme kerja dari ekstrak pulmeria acuminata
cukup mirip dengan kontrol positif yang
digunakan yaitu indometacin yang merupakan
(NSID) Non Steroid Anti Inflamatory Drug
sebagai obat antiinflamasi yang bekerja selama 4
jam dalam metode induksi karagenan. Tahap awal
pada metode karagenan (1-2 jam) yang di mediasi
oleh histamin, serotonin dan sintesis peningkatan
prostaglandin di lingkungan jaringan yang rusak.
Terjadi aktivitas penghambatan yang ditunjukan
oleh ekstrak daun pulmeria acuminata selama 4
jam dalam metode karagenan tersebut
Usada Tenung Tanyalara
Usada Tenung Tanyalara merupakan salah
satu naskah yang memuat mengenai pengobatan
tradisional di Bali yang dapat digunakan sebagai
pedoman dalam pengobatan tradisional. Namun
informasi yang diberikan dalam Usada Tenung
Tanyalara masih terbatas pada nama penyakit,
bahan yang digunakan untuk mengobati penyakit,

cara pengolahan, serta cara penggunaan. Usada


Tenung Tanyalara belum menjelaskan mengenai
bagaimana
tanaman
tersebut
mampu
menghasilkan
efek
farmakologi
sehingga
pengobatan yang dimuat dalam Usada Tenung
Tanyalara belum dapat dijelaskan secara ilmiah
(Suwidja, 1991).
Usada Tenung Tanyalara digolongkan menjadi 4
penggolongan penyakit yaitu berbagai keadaan
demam, sakit pada uluhati, cekehan (batuk), dan
bengkak pada kulit. Namun dari hasil pendataan,
efek empiris tanaman obat yang terdapat dalam
lontar Usada Tenung Tanyalara tidak hanya
terbagi menjadi 4 golongan tetapi dapat dibagi
menjadi 6 penggolongan yaitu berbagai keadaan
demam, gangguan pada pernapasan, gangguan
pada sistem pencernaan, nyeri pada tubuh,
bengkak dan gatal pada kulit, serta penyakit
lainya. Jumlah keseluruhan efek empiris tanaman
obat yang terdapat dalam lontar Usada Tenung
Tanyalara adalah 79 jenis efek empiris.
Beragamnya golongan penyakit dan tanaman obat
yang didokumentasikan dalam Lontar Usada dapat
menjadi acuan untuk melaksakanan pengkajian
lebih lanjut terhadap efek farmakologis dari
tanaman yang terdapat di dalam Usada. Hal ini
dapat menjadi pengetahuan yang sangat penting
dalam penemuan dan pengembangan obat baru.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis
menyusun makalah tentang Tenung Tanyalara.
Makalah Usada Tenung Tanyalara ini merangkum
hasil kajian terhadap tanaman obat dalam Usada
Tenung Tanyalara yang bersumber dari jurnal dan
penelitian terkait. Makalah ini diharapkan mampu
memberikan gambaran dan menyimpulkan
kesesuaian antara khasiat yang tercantum pada
Lontar Usada dengan efek farmakologis secara
ilmiah.
Jarak (Jatropha curcas L)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Family : Euphorbiaceae
Genus : Jatropha
Species : Jatropha curcas L
Kandungan Kimia Tanaman
Beberapa penelitian membuktikan bahwa
daun jarak pagar mengandung senyawa
Flavonoid, apigenin, vitexin, isovitexin, sterol
stigmasterol, -D-sitosterol, -D-glukosa, sapogenin,
alkaloid, dan triterpen alcohol

Tujuan Efek Empiris dalam Usada Tenung


Tanyalara
Berdasarkan Usada Tenung Tanyalara,
Jatropha curcas L digunakan untuk mengobati
penyakit Inja Kakul (Bengkak berupa bintil-bintil
besar pada anak yang pecah dalam waktu lama)
(70).
Cara Pembuatan dan Penggunaan
Berdasarkan Usada Tenung Tanyalara,
bagian tanaman Jatropha curcas L yang
digunakan yaitu daun muda dengan pengolahan
daun muda diolesi minyak kelapa kemudian
dipanasi pada bagian minyaknya sampai layu dan
langsung ditempelkan pada bagian yang bengkak
Hasil Penelitian Ilmiah
Uji anti-inflamasi yang dilakukan dengan
menggunakan tikus Albino Wister jantan (BB:
160-210 gr) dan mice Albino Swiss jantan (BB:
35-45 gr) sebagai subjek penelitian dimana dalam
penelitian tikus-tikus ini dibagi ke dalam 6
kelompok
dan
masing-masing
kelompok
diberikan perlakuan yang berbeda-beda. Dari
kelompok pertama hingga kelompok keenam
diberikan ekstrak metanol daun jarak pagar
dengan
dosis
10mg/kgBB,
20mg/kgBB,
40mg/kgBB,
80mg/kgBB,
piroxicam
0,5mg/kgBB, dan normal saline sebagai kontrol
0,5 mL/kgBB pada satu jam sebelum induksi
inflamasi. Kemudian diberikan induksi inflamasi
berupa albumin telur pada kaki kanan belakang
tikus(74).
Hasil yang diperoleh yaitu ekstrak metanol
jarak pagar pada konsentrasi 10-80mg / kg
menujukkan aktivitas penghabatan induksi
inflamasi yang signifikan secara statistik oleh
albumin telur pada kaki tikus. Persentase
penghambatan peradangan yang disebabkan oleh
ekstrak metanol Jatropha curcas (10-80mg / kg)
sebanding dengan yang diperoleh dengan
Piroksikam (0.5mg / kg) yang digunakan sebagai
standar(74).
Pada uji skrining fitokimia ekstrak metanol
daun jarak pagar diketahui mengandung senyawa
senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin,
dan tanin. Diantara senyawa-senyawa tersebut,
flavonoid dikenal memiliki aktivitas antiinflamasi, analgesik, dan antioksidan.
Kencur (Kaempferia galangal L.)
Nama Daerah
Sumatera : Ceuku (Aceh), tekur (Gayo), kaciwer
(Karo)
Jawa : Kencur (jawa), cikur (Sunda), kencor
(Madura)

Sulawesi : Batako (Manado), watan (Minahsa),


(Gorontalo)
Nusa Tenggara : Cekuh (Bali), cekur (Sasak),
cekur, (Sumba)
Maluku : Suha (Seram), assuli (Ambon), onegai
(Buru)
Irian : Ukap (Irian)
Nama Indonesia : Kencur (9).
Nama Dagang Internasional : Shan nai, Ban-ukon,
Kleiner Galgant, Sand ginger(43).
Nama Ilmiah : Kaempferia galanga L.(9).
Nama Usada : Kencur (71).
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.
Deskripsi Tanaman
Habitat : Tumbuh subur di daerah tropis, di daerah
yang banyak turun hujan, di dataran rendah
hingga pegunungan. Tumbuh subur pada tanah
yang berwarna hitam dan berpasir, dan banyak
dibudidayakan di Indonesia terutama di Pulau
Jawa. Selain itu, dapat dijumpai juga di wilayah
India, Malaysia, Taiwan, dan Cina
Batang : semu yang sangat pendek, terbentuk dari
pelepah-pelepah daun yang saling menutupi
Daun : tuggal, melebar dan mendatar hampir rata
dengan permukaan tanah. Jumlah daun bervariasi
antara 8-10 helai dan tumbuh secara berlawanan
satu sama lain. Bentuk daun elip melebar sampai
bundar, dengan panjang daun 7-12 cm, lebarnya
3-6 cm, serta berdaging agak tebal
Bunga : berbentuk buliran setengah duduk dari
ujung tanaman di sela-sela daun. Warnanya putih
ungu hingga lembayung; dan tiap tangkai bunga
berjumlah 4-12 kuntum bunga
Buah : buah kotak beruang 3 dengan bakal buah
yang letaknya tenggelam
Rimpang : sebagian terletak di atas tanah. Bentuk
rimpang umumnya bulat, bagian tengah berwarna
putih dan pinggirnya coklat-kekuningan dan
berbau harum.
Akar : tinggal yang bercabang halus dan
menempel pada umbi akar yang disebut rimpang
Kandungan Kimia
Kandungan kimia rimpang kencur (Kaempferia
galanga L.) seperti etil p-metoksisinamat, etil
sinamat, p-metoksistiren, karen, borneol, dan
parafin. Selain itu, kandungan kimia lain yang ada
dalam tanaman kencur yakni minyak atsiri -

pinena, kampena, -3-carene, -pelandrena,


limonene, p-simena, 4-isopropiltoluena, 7,8epoksitrisiklo dodekana, 5-metiltrisiklo undek-2en-4one, 2-asam propenoat, 3-(-4-metoksifenil)-,
etilester(63). Kencur juga memiliki kandungan
senyawa sineol, paraeumarin, asam anisic, gom,
pati (4,14%) dan mineral (13,73%)
Pengobatan Secara Tradisional
Kegunaan Empiris berdasarkan Usada Tenung
Tanyalara
Dalam usada Tenung Tanyalara Kencur dapat
digunakan untuk mengobati muka panas dan
terasa sakit seperti ditekan, badan lemah dan
pegal, panas, gelisah dan mata mendelik, sakit ulu
hati, kaki pegal, dan pingsan, napas sengal, mual,
dan batuk, pinggang terasa panas, dan bengkak di
bawah pusar (71).
B. Kegunaan Empiris dalam Masyarakat
Secara tradisional, rimpang kencur dimanfaatkan
sebagai penghangat badan, pelangsing, penyegar,
obat sakit kepala, penghilang rasa sakit
(analgesik), membantu mengeluarkan dahak
(ekspektoran). Daun muda sering dikonsumsi
sebagai lalap. Dengan rimpang yang direndam
(dimaserasi) menggunakan alkohol banyak
digunakan untuk mengurut kaki yang keseleo atau
salah urat
Cara Penggunaan
Di Sembar pada bagian perut dengan
menggunakan campuran bahan selain 3 biji
kencur, seperti : bangle, konci, merica, dan
musi(71).
Efek Farmakologis
a) Efek Farmakologi Berdasarkan Hasil Penelitian
Ilmiah Sesuai Khasiat Pada Usada
Tidak ada penelitian ilmiah yang sesuai dengan
khasiat pada Usada.
Efek Farmakologi Berdasarkan Hasil Penelitian
Ilmiah Lain
1. Antimikroba
Ekstrak metanol rimpang kencur dengan senyawa
etil p- metoksi transinamat yang sitotoksik untuk
Sel HeLa. Ekstrak rimpang ini berpotensi aktif
terhadap infeksi bakteri. Ekstrak metanol rimpang
tanaman kencur menjadi mikropropaganda yang
ditemukan dalam uji aktivitas antimikroba yang
memiliki zona bening yang signifikan untuk
menginhibisi dibandingkan dengan tumbuhan
alami terhadap dua gm (-) ve (E.coli, Salmonella
typhi) dan dua gm (+) ve organisme (Bacillus
subtilis, Staphylococcus aureus) kemudian
aktivitas antimikroba ini dapat dibandingkan
dengan penggunaan ciprofloxacin dan amoksisilin
sebagai kontrol positif. Ditemukan bahwa

kandungan senyawa flavonoid alami yakni


kaempferol yang diisolasi dari Kaempferia
galanga telah terbukti juga dalam mengurangi
faktor resiko pankreas dan kanker paru-paru
USADA UPAS
Salah satu jenis usada adalah Usada Upas.
Secara umum kata Upas diketahui memiliki arti
kulit ataupun racun. Namun menurut Usada Upas,
penyakit Upas dapat disebabkan oleh upas yang
berada di dalam tubuh disebabkan oleh gangguan
pada getah bening dengan gejala umum nyeri
perut, dan penyakit Upas yang berasal dari luar
tubuh manusia (seperti racun dari serangga atau
bisa ular)
Penjelasan yang mencakup pengobatan
Usada Upas awalnya terdapat dalam bentuk lontar
Usada, yang ditulis dengan bahasa Sansekerta dan
tersebar di pihak tertentu saja dari masyarakat
etnis Bali, seperti balian, pemuka adat, dan para
pelaksana upakara adat, serta tersimpan di
perpustakaan budaya (3). Menurut usada upas,
penyakit upas ini dapat disebabkan oleh upas yang
ada didalam badan dan dapat pula oleh upas yang
ada di luar badan (seperti racun atau bisa ular,
kalajengking, lipan, tawon, dan sebagainya).
Penyakit upas di dalam badan, ditimbulkan oleh
getah bening yang ada di limpa, yang mempunyai
aliran yang tidak menentu disamping juga adanya
banyu kuru dan sedikit angin yang dikeluarkan
oleh buah pinggang, pada waktu malam hari,
tatkala sedang tidur, yang dapat mengalir ke
seluruh bagian badan. Bila getah bening tadi
bercampur dengan angin yang keluar dari buah
pinggang 3 berada di usus besar, maka akan
menimbulkan penyakit sebagai akibat dari
beryoganya Betara Rutwangi, sehingga kedua
cairan tadi dapat bercampur di usus besar, dengan
tanda-tanda, perut merasa sakit seperti diiris-iris
seperti terpotong-potong rasanya, penyakit ini
disebut upas penangkang. Bila penyakit ini,
kejadiannya tidak di usus besar, tetapi di usus
halus disebut upas paritulus dengan tanda-tanda
hulu hati terasa sesak disertai mual-mual. Bila
penyakit ini kejadiannya di usus buntu, disertai
dengan cairan hitam, upas siger mangsi namanya,
dengam tanda-tanda perut terasa seperti ada
anginnya. Jika hal ini sampai terlambat
mengobati, lalu menjalar sampai ke kulit dengan
tanda-tanda kulit menjadi biru upas layon
namanya, dengan rasa sakit yang berpindahpindah dari perut bagian bawah sampai ke leher.
Semua jenis upas diadakan oleh Batara
Maruti geni yang berada di dalam tubuh manusia,
yang dapat menciptakan upas baik yang berasal

dari dalam tubuh manusia maupun upas yang


disebabkan dari luar tubuh manusia yang
disimpulkan dengan warna merah putih, kotor,
dan hijau. Upas yang ditimbulkan mempunyai
akibat pada hulu hati terasa sakit melilit-lilit kulit
terasa tebal, badan terasa kekurangan tenaga.
Upas yang ditimbulkan oleh Batara Maruti Geni
dapat dikalahkan oleh Sang Hyang Acintya manik
yang berada di tengah hati disimbulkan dengan
warna putih bersih. Oleh karena itu, agar melawan
upas yang diciptakan oleh Maruti Geni,
masyarakat harus mengerti dan meresapkan ajaran
Sang Acintya manik dan tahu kegunaan dari
Gandarwa Sanga yang ada di dalam badan, yang
akan dapat mengalahkan aji raya yang
menyebabkan upas semua. Sarana untuk
menyupati upas ialah banyu tuli, garam sejumput,
masukkan ke dalam sibuh.
Daun Nangka (Artocarpus heterophylla Lamk)
Nama Daerah
Jawa : Nongko/nangka
Gorontalo : Langge
Ambon : Anane
Lampung : Lumasa/malasa
Irian Jaya : Nanal atau krour
Sunda : Nangka
b. Nama Indonesia : Nangka
c. Nama Dagang Internasional : Jackfruit
d. Nama usada : Nangka (45).
e. Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledonae
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Artocarpus
Spesies : Artocarpus heterophylla Lamk.(47)
f. Deskripsi
Habitus : Memiliki tinggi 10-15 m.
Batang : Tegak, berkayu, bulat, kasar dan
berwarna hijau kotor.
Daun : Tunggal, berseling, lonjong, memiliki
tulang daun yang menyirip, daging daun tebal,
tepi rata, ujung runcing, panjang 5-15 cm, lebar 45 cm, tangkai panjang lebih kurang 2 cm dan
berwarna hijau.
Bunga : Bunga majemuk yang berbentuk bulir,
berada di ketiak daun dan berwarna kuning.
Bunga jantan dan betinanya terpisah dengan
tangkai yang memiliki cincin, bunga jantan ada di
batang baru di antara daun atau di atas bunga
betina.

Buah : Berwarna kuning ketika masak, oval, dan


berbiji coklat muda.
(45)
g. Kandungan Kimia
Daun nangka memiliki kandungan flavonoid,
saponin, tanin berfungsi sebagai antimikroba.
Kegunaan
Kegunaan secara Empiris dalam Usada Upas
Daun nangka yang kuning digunakan sebagai obat
tubuh gatal-gatal
Kegunaan secara Empiris dalam Masyarakat
Daun nangka yang kuning digunakan sebagai obat
jerawat
Cara Pembuatan dan Penggunaan dalam
Usada Upas
Untuk obat tubuh gatal: Daun nangka yang kuning
dan lengkuas ditumbuk lalu dibedakkan pada
bagian tubuh yang gatal
Hasil Penelitian Ilmiah
1. Jurnal terkait Efek Farmakologis pada Usada
Upas
Pada usada dikatakan bahwa daun nangka yang
kuning dapat digunakan sebagai obat tubuh gatalgatal, dimana setelah dilakukan pendekatan ilmiah
terdapat beberapa jurnal yang menunjukan efek
farmakologis serupa.
Nangka (Artocarpus heterophyllus) merupakan
tumbuhan lokal yang terdapat di berbagai daerah
di Indonesia. Pohon nangka ini biasanya
dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kandungan
kimia kayu nangka antara lain, morin,
sianomaklurin (zat samak), flavon, dan tannin.
Selain itu, di bagian kulit kayu nangka juga
terdapat senyawa flavonoid yang baru, yakni
morusin,
antokarpin,
artonin
E,
sikloartobilosanton, dan artonol B. Bioaktivitas
senyawa flavonoid tersebut terbukti secara
empirik sebagai antiinflamasi (44).
Daun nangka mengandung anti mikroba antara
lain flavonoid, tannin, saponin yang bisa larut
dalam air dan dapat bekerja merusak membran
sitoplasma dan mendenaturasi protein sel (47).
Saponin merupakan salah satu senyawa yang
dihasilkan tumbuhan berfungsi sebagai antivirus,
antibakteri, meningkatkan kekebalan tubuh (44).
Tanin merupakan senyawa fenol yang larut dalam
air dan tanin pada tanaman merupakan senyawa
fenolik yang memiliki daya antiseptik. Efek
antibakteri tanin melalui reaksi dengan membran
sel, inaktivasi enzim, dan inaktivasi fungsi materi
genetic (44).
j. Efek Samping
Belum ditemukan adanya efek samping pada
penggunaan daun nangka.
k. Toksisitas

Belum ditemukan adanya efek toksisitas pada


penggunaan daun nangka.
Beluntas (Pluchea indica Less.)
Nama Daerah
Sumatera : Beluntas (Sumatera)
Jawa : Beluntas (Sunda)
Luntas (Jawa Tengah)
Baluntas (Madura)
Sulawesi : Lamutasa (Makasar)
Nusa Tenggara : Lenabou (Timor)
(57)
b. Nama Indonesia : Beluntas
c. Nama Dagang Internasional : Indian
camphorweed, Indian fleabane, and Indian
pluchea (58).
d. Nama Ilmiah : Pluchea indica Less (57).
e. Nama Usada : Beluntas (57).
f. Taksonomi
Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Asterales Suku :
Asteraceae Marga : Pluchea Jenis : Pluchea
indica Less. (57)
g. Deskripsi
Habitus : Tumbuhan perdu, tinggi 1-1,5 m.
Batang : Berkayu, bulat, tegak, bercabang, masih
muda ungu setelah tua putih kotor.
Daun : Tunggal, bulat telur, tepi rata, ujung
runcing, pangkal tumpul, berbulu halus, panjang
3,8-6,4 cm, lebar 2-4 cm, permukaan menyirip,
hijau muda, hijau.
Bunga : Majemuk warna putih kekuningan,
bentuk malai rata, mahkota lepas, putik bentuk
jarum, panjang 6 mm, hitam kecoklatan, kepala
sari ungu, kepala putik dua berwarna putih.
Buah : Kecil, keras, coklat.
Biji : Kecil, coklat keputihputihan.
Akar : Tunggang, bercabang, putih kotor.
Kandungan Kimia Daun Beluntas
Daun
beluntas
(Pluchea
indica
Less.)
mengandung minyak atsiri yang terdiri dari
betlephenol,
kavikol,
seskuiterpen,
hidroksikavikol, cavibetol, estragol, eugenol, dan
karvakol (59). Daun beluntas juga mengandung
alkaloida, flavonoida, saponin, tanin, asam
chlorogenik, natrium, aluminium, kalsium,
magnesium dan fosfor (60).
i. Kegunaan Daun Beluntas dalam Pengobatan
Tradisional
Daun beluntas merupakan salah satu bahan alam
yang digunakan sebagai pengobatan tradisional
berdasarkan Usada Upas untuk mengobati
penyakit tuberculosis (4).
j. Cara Penggunaan Daun Beluntas dalam
Usada Upas sebagai Pengobatan Tradisional

Siapkan batang dan daun beluntas yang sudah


dicuci bersih, tambahkan rumput laut. Kemudian
dimasak dengan cara tim sampai menjadi lunak,
jadikan sebagai hidangan untuk dimakan
Efek Farmakologi Daun Beluntas
Efek
Farmakologi
Daun
Beluntas
Berdasarkan Hasil Penelitian Ilmiah Sesuai
Khasiat pada Usada Upas sebagai Pengobatan
Tradisional
Menurut Usada Upas, daun beluntas memiliki
manfaat dalam pengobatan tuberkulosis (TB).
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi
bakterial yang disebakan oleh mikroorganisme
Mycobacterium tuberculosis yang mengenai paruparu manusia tetapi dapat juga mengenai organ
maupun jaringan lain seperti kulit, mata, kelenjar
limfe, tulang, selaput otak dan organ lainnya
(insidensi sebesar 20%). Bakteri ini dikenal
sebagai bakteri Batang Tahan Asam (BTA).
Transmisi penyakit TBC terjadi di udara yaitu
melalui droplet yang dihasilkan oleh penderita
TBC paru yang infeksius (61).
Sesuai dengan penjelasan di atas efek yang
diberikan oleh daun beluntas untuk mengobati
penyakit TBC adalah efek anti bakteri terhadap
M. tuberculosis. Ekstrak etanol daun beluntas
mampu menghambat aktivitas tuberkulosis
dengan konsentrasi KHM (Konsentrasi Hambat
Minimal) sebesar 800 ug/L (62). Hasil uji aktivitas
antibakteri sari daun beluntas pada berbagai
konsentrasi
terhadap
M.
tuberculosis
membuktikan sari daun beluntas dapat digunakan
sebagai anti-TB. Kemampuan anti tuberkulosis
(TB) beluntas karena adanya flavonoid dan tanin
sebagai senyawa metabolit sekunder utama yang
dikandungnya (63).
Flavonoid berfungsi sebagai antibakteri
dengan cara membentuk senyawa kompleks
terhadap protein ekstraseluler yang mengganggu
integritas membran sel bakteri. Tanin dalam
konsentrasi
rendah
mampu
menghambat
pertumbuhan
bakteri,
sedangkan
dalam
konsentrasi tinggi tanin bekerja sebagai
antibakteri
dengan
mengkoagulasikan
protoplasma bekteri karena terbentuk ikatan yang
stabil dengan protein bakteri. Tanin juga berfungsi
sebagai antibakteri dengan cara mempresipitasi
protein. Selain itu, efek antibakteri tanin antara
lain melalui reaksi dengan membran sel,
inaktivitas enzim, dan destruksi materi genetik.
Dinding sel bakteri sangat tipis, tetapi dinding ini
memberikan perlindungan dan mengatur keluar
masuknya zat-zat kimia, jika dinding bakteri rusak
oleh zat antibakteri seperti flavonoid dan tanin
maka bakteri akan mati.