Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PRAKTIKUM BIOKIMIA

PENENTUAN KADAR PROTEIN TOTAL, ALBUMIN,


GLOBULIN SERUM (CARA KINGSLEY)

Disusun oleh :
Fadhilah Eka Pratiwi
( 2015.043.0031)

PRODI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
1

Makalah Praktikum Biokimia Penentuan Kadar Protein Total, Albumin, Globulin


Serum (Cara Kingsley) dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Dan juga kami berterima kasih pada Liza Yudistira Yusan, S.Farm., M.Farm-Klin.,
Apt. selaku dosen mata kuliah Praktikum Biokimia Universitas Hang Tuah
Surabaya yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenaiPenentuan Kadar Protein Total,
Albumin, Globulin Serum (Cara Kingsley). Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Surabaya,

Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. 1

KATA PENGANTAR ...... 2


DAFTAR ISI .3
BAB I PENDAHULUAN ............ 5
1.1 Latar Belakang .....5
1.2 Rumusan Masalah ....... 5
1.3 Tujuan Makalah... .6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7
2.1 Definisi Protein................ 7
2.2 Ciri Makromolekul Protein.............. 7
2.3 Komposisi Kimia Protein...... 9
2.4 Penggolongan, Struktur dan Denaturasi Protein9
2.5 Asam Amino Protein..13
2.6 Fungsi Protein........ 13
2.7 Metabolisme Protein ..... 14
2.8 Sumber Protein.. 18
2.9 Akibat kekurangan dan kelebihan protein......... 18
2.10 Penentuan kadar protein...... 19
BAB III PEMBAHASAN..20
BAB IV KESIMPULAN....26
DAFTAR PUSTAKA.. ..28

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah protein berasal dari kata Yunani Proteos, yang berarti yang utama
atau yang didahulukan. Kata ini diperkenalkan oleh seorang ahli kimia belanda,
Gerardus Mulder (1802-1880), karena ia berpendapat bahwa protein adalah zat
yang paling penting dalam setiap organisme. Protein adalah senyawa organik yang
molekulnya sangat besar dan susunannya sangat kompleks serta merupakan
polimer dari alfa asam-asam amino. Jadi, sebenarnya protein bukan merupakan

zat tunggal, serta molekulnya sederhana, tetapi masih merupakan asam amino.
Oleh karena

protein tersusun atas asam-asam amino, maka susunan kimia

mengandung unsur-unsur seperti terdapat pada asam-asam amino penyusunnya


yaitu C, H, O, N dan kadang-kadang mengandung unsur-unsur lain, seperti
misalnya S, P, Fe, atau Mg.
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar
tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein, separuhnya ada didalam
otot, seperlima didalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh didalam kulit, dan
selebihnya didalam jaringan lain dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai
hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks interseluler dan sebagainya
protein. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai
prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul
yang esensial untuk kehidupan. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat
digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan
jaringan tubuh. Protein adalah salah satu bio-makromolekul yang penting
perananya dalam makhluk hidup. Fungsi dari protein itu sendiri secara garis besar
dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu sebagai bahan struktural dan
sebagai mesin yang bekerja pada tingkat molekular
1.2 Rumusan masalah :
1. Apa defenisi protein ?
2. Apa ciri molekul protein ?
3. Bagaimana Komposisi kimia protein ?
4. Jelaskan penggolongan, struktur dan denaturasi protein ?
5. Apa itu asam amino protein ?
6. Apa saja fungsi protein ?
7. Bagaimana metabolisme protein ?
8. Apa saja sumber-sumber protein?
9. Apa saja akibat jika kekurangan dan kelebihan protein ?
10. Apa saja metode penentuan kadar protein ?
1.3 Tujuan makalah :
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan
tentang protein, menambah wawasan tentang penentuan kadar protein total,

albumin, dan globulin serum dengan cara kingsley dan bermanfaat bagi yang
membacanya. .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Protein
Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti yang paling
utama) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu
sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting
dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan
protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam
fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang
6

dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai
antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan
(dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi,
protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu
membentuk asam amino tersebut (heterotrof). Protein merupakan salah satu dari
biomolekul raksasa, selain

polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang

merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah
satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh
Jans Jakob Berzelius pada tahun 1838.
2.2 Ciri Makromolekul Protein
Protein adalah makromolekul polipeptida yang tersusundari sejumlah Lasam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptide, bobot molekul tinggi. Suatu
molekul protein disusun oleh sejumlah asam amino dengan susunan tertentu dan
bersifat turunan. Rantai polipeptida sebuah molekul protein mempunyai satu
konformasi yang sudah tertentu pada suhu dan pH normal. Konformasi ini disebut
konformasi asli, sangat stabil sehingga memungkinkan protein dapat diisolasi
dalam keadaan konformasi aslinya itu. Kebanyakan protein merupakan enzim atau
subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis,
seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein
terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam
bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam
transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber
asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut
(heterotrof).
Semua jenis protein terdiri dari rangkaian dan kombinasi dari 20 asam
amino. Setiap jenis protein mempunyai jumlah dan urutan asam amino yang khas.
Di dalam sel, protein terdapat baik pada membran plasma maupun membran
internal yang menyusun organel sel seperti mitokondria, retikulum endoplasma,

nukleus dan badan golgi dengan fungsi yang berbeda-beda tergantung pada
tempatnya.
1. Berat molekulnya besar, ribuan sampai jutaan, sehingga merupakan suatu
makromolekul.
2. Susunan kimia yang khas, Setiap protein individual merupakan senyawa
murni
3. Umumnya terdiri atas 20 macam asam amino. Asam amino berikatan (secara
kovalen) satu dengan yang lain dalam variasi urutan yang bermacam-macam,
membentuk suatu rantai polipeptida. Ikatan peptide merupakan ikatan antara
gugus -karboksil dari asam amino yang satu dengan gugus -amino dari
asam amino yang lainnya.
4. Terdapatnya ikatan kimia lain, yang menyebabkan terbentuknya lengkunganlengkungan rantai polipeptida menjadi struktur tiga dimensi protein. Sebagai
contoh misalnya ikatan hidrogen, ikatan hidrofob (ikatan apolar), ikatan ion
atau elektrostatik dan ikatan Van Der Waals.
5. Strukturnya tidak stabil terhadap beberapa faktor seperti ph, radiasi,
temperatur, medium pelarut organik, dan deterjen.
6. Umumya reaktif dan sangat spesifik, disebabkan terdapatnya gugus samping
yang reaktif dan susunan khas struktur makromolekulnya.
2.3 Komposisi Kimia Protein
Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima
ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino
yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Asam amino terdiri atas unsurunsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Beberapa asam amino disamping
itu mengandung unsur-unsur fosfor, besi, sulfur, iodiom, dan kobalt. Unsur
nitrogen adalah unsur utama protein, karena terdapat didalam semua protein akan
tetapi tidak terdapat didalam karbohidrat dan lemak. Unsur nitrogen merupakan
16% dari berat protein. Molekul protein lebih kompleks dari pada karbohidrat dan
lemak dalam hal berat molekul dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang
membentuknya. Berat molekul protein bisa mencapai 40 juta. Bandingkan dengan
berat glukosa yang besarnya 180. Ada 20 jenis asam amino yang diketahui terdiri

atas 9 asam amino esensial (asam amino yang tidak dapat dibuat tubuh dan harus
didatangkan dari makanan) dan 11 asam amino nonesensial.
2.4 Penggolongan, Struktur dan Denaturasi Protein
A. Penggolongan Protein Berdasarkan Bentuk dan sifat fisik
Berdasarkan bentuknya protein dibedakan atas :
1. Protein globular,
Protein Globular berbentuk bola terdapat dalam cairan jaringan tubuh.
Protein ini larut dalam air, berdifusi cepat dan bersifat dinamis, mudah
berubah dibawah pengaruh suhu, konsentrasi garam serta mudah
mengalami denaturasi. Contohnya meliputi enzim, hormon dan protein
darah, insulin, albumin, globulin plasma, kasein dan banyak ensim..
2. Protein serabut (fibrous),
Terdiri atas beberapa rantai peptida berbentuk spiral yang terjalin satu
sama lain sehingga menyerupai batang yang kaku. Protein fibrous
mempunyai bentuk molekul panjang seperti serat atau serabut, tidak larut
dalam air. mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi dan tahan terhadap
enzim pencernaan. Protein ini terdapat dalam unsur-unsur struktur tubuh.
Contohnya meliputi kolagen, miosin, fibrin, gluten, elastin dan keratin
pada rambut, kuku, dan kulit.
B. Penggolongan protein berdasarkan kelarutannya :
1. Albumin : Larut dalam air dan larutan garam. Tidak mempunyai asam
amino khusus, misalnya albumin telur dan albumin serum.
2. Globulin : Sedikit larut dalam air tetapi larut dalam larutan garam. Tidak
mempunyai asam amino Khusus misalnya, Glutenin (gandum), orizenin
(padi).
3. Prolamin : Larut dalam 70 80 % etanol tetapi tidak larut dlm air dan
etanol absolut. Kaya akan arginin, misalnya Gliadin/gandum, zein/jagung.
4. Histon : Larut dalam larutan garam, tidak larut air. Bersifat basa,
cenderung berikatan dengan asam nukleat di dalam sel. Globin bereaksi
dengan heme (senyawa asam menjadi hemoglobin). Misalnya globulin
serum dan globulin telur.

5. Skleroprotein : Tidak larut dalam air atau larutan garam. Kaya akan
glisine, alanine dan pro.
6. Protamin : Larut dalam air dan tidak terkoagulasi oleh panas. Contoh
Salmin dalam ikan salmon.
C. Penggolongan protein berdasarkan kandungan senyawa bukan hanya
protein :
a. Fosfoprotein: Protein yang mengandung fosfor, misalnya kasein pada susu,
vitelin pada kuning telur.
b. Kromoprotein: Protein berpigmen, misalnya asam askorbat oksidase
mengandung Cu.
c. Fosfoprotein: Protein yang mengandung fosfor, misalnya kasein pada susu,
vitelin pada kuning telur.
d. Kromoprotein: Protein berpigmen, misalnya asam askorbat oksidase
mengandung Cu
e. Protein Koenzim: Misalnya NAD+, FMN, FAD dan NADP+
f. Lipoprotein: Mengandung asam lemak, lesitin.
g. Metaloprotein: Mengandung unsur anorganik (Fe, Co, Mn, Zn, Cu, Mg).
h. Glikoprotein: Gugus prostetik karbohidrat, misalnya musin (pada air liur),
oskomukoid (pada tulang).
i. Nukleoprotein Protein dan asam nukleat berhubungan (berikatan valensi
sekunder) misalnya pada jasad renik.
D. Penggolongan protein berdasarkan fungsi biologi
1. Enzim (ribonukease, tripsin)
2. Protein transport (hemoglobin, mioglobin, serum, albumin)
3. Protein nutrien dan penyimpan (gliadin/gandum, ovalbumin/telur,
4.
5.
6.
7.

kasein/susu, feritin/jaringan hewan)


Protein kontraktil (aktin dan tubulin)
Protein Struktural (kolagen, keratin, fibrion)
Protein Pertahanan (antibodi, fibrinogen dan trombin, bisa ular)
Protein Pengatur (hormon insulin dan hormon paratiroid)

E. Struktur Protein
Ada 4 struktur protein antara lain:
1. Struktur Primer
10

Struktur primer adalah rantai polipeptida. Struktur primer protein di


tentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan
yang membentuk ikatan peptida. Struktur primer dapat di gambarkan
sebagai rumus bangun yang biasa di tulis untuk senyawa organik.
2. Struktur Sekunder
Struktur sekunder ditentukan oleh bentuk rantai asam amino : lurus,
lipatan, atau gulungan yang mempengaruhi sifat dan kemungkinan jumlah
protein yang dapat dibentuk. Struktur ini terjadi karena ikatan hydrogen
antara atom O dari gugus karbonil ( C=O) dengan atom H dari gugus
amino ( N-H ) dalam satu rantai peptida, memungkinkan terbentuknya
konfirasi spiral yang disebut struktur helix.
3. Struktur tersier
Struktur tersier ditentukan oleh ikatan tambahan antara gugus R pada
asam-asam amino yang memberi bentuk tiga dimensi sehingga
membentuk struktur kompak dan padat suatu protein.
4. Struktur kuartener
Struktur kuartener adaalah susunan kompleks yang terdiri dari dua rantai
polipeptida atau lebih, yang setiap rantainya bersama dengan struktur
primer, sekunder, tersier membentuk satu molekul protein yang besar dan
aktif secara biologis
F. Denaturasi Protein
Protein dapat mempertahankan kesesuaian bentuknya asalkan lingkungan
fisik dan kimianya dipertahankan. Jika lingkungan berubah maka, protein dapat
terurai atau mengalami perubahan sifat ( denaturasi ); mereka dapat kehilangan
struktur sekunder, tersier, dan kuarternya sehingga aktivitas biologisnya juga
hilang.
a. Kesesuaian bentuk protein bergantung pada ikatan hidrogen, yang lemah
dan sangat senitif terhadap perubahan PH dan suhu.
b. Paparan singkat pada suhu yang tinggi ( diatas 60C ) atau paparan pada
asam atau basa kuat dalam periode waktu yang lama akan menyebabkan
denaturasi karena ikatan hidrogen ruptur.

11

c. Sebagian protein dapat dikembalikan kebentuk aslinya, jika terdenaturasi


tanpa harus menjadi insoluble.
d. Perbedaan panas yang besar dapat menyebabkan denaturasi yang menetap.
Putih telur akan memadat dan menjadi insoluble jika dipanaskan. - Suhu
tubuh yang sangat tinggi dapat menyebabkan koagulasi protein selular.
Jika suhu tubuh naik sampai diatas 41C atau 42C maka akan
mengakibatkan denaturasi protein.
2.5 Asam Amino Protein
Asam amino terdiri atas atom karbon yang terikat pada suatu gugus
karboksil ( - COOH ) satu gugus amino ( - NH2), satu atom hidrogen ( - H ) dan
satu gugus radikal ( - R ), atau rantai cabang. Sebagaimana tampak pada gambar
struktur asam amino dibawah ini ; COOH (gugus karboksil) H C R (gugus
radikal) NH 2 (gugus amino)
a. Klasifikasi Asam Amino
1) Asam amino mengandung sedikitnya satu gugus asam Karboksil (-COOH) dan
sedikitnya satu gugus amino (-NH2) kedua gugus tersebut tersebut terikat pada
atom karbon yang sama. Setiap asam amino mempunyai anak rantai yang
disebut sebagai satu gugus R.
a. Asam-asam amino memiliki perbedaan dalam gugus R-nya yang
memberi ciri khas dan mempengaruhi sifat protein tempat asam amino
tersebut bergabung.
b. Gugus R nonpolar menyebabkan asam amino relatif tidak larut dalam
air. Gugus R yang polar atau bermuatan listrik menyebabkan asam
amino larut dalam air.
2) Asam-asam amino bergabung untuk membentuk protein melalui reaksi
kondensasi (dehidrasi) antara gugus karboksil dari salah satu asam amino dan
gugus amino dari asam amino lain.

12

2.6 Fungsi Protein


1. Sebagai biokatalisator (enzim). Protein yang paling bervariasi dan mempunyai
kekhususan tinggi adalah protein yang mempunyai aktivitas katalis, yakni
enzim. Hampir semua reaksi kimia biomolekul organik didalam sel dikatalis
oleh enzim. Lebih dari 2000 jenis enzim , masing-masing dapat mengkatalisa
reaksi kimia yang berbeda, telah ditemukan dalam berbagai bentuk kehidupan
2. Sebagai protein transport contohnya hemoglobin mengangkut oksigen dalam
eritrosit, mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. Ion besi diangkut dalam
plasma darah oleh transferin dan disimpan dalam hati sebagai kompleks dengan
feritin.
3. Protein transport didalam plasma darah mengikat dan membawa molekul atau
ion spesifik dari satu organ ke organ lain. Hemoglobin pada sel darah merah mengikat
oksigen ketika darah melalui paru-paru, dan membawa oksigen ke jaringan
periferi. Plasma darah mengandung lipo protein. Yang membawa lipid dari
hati ke organ lain. Protein transport lain terdapat didalam membran sel dan
menyesuaikan strukturnya untuk mengikat dan membawa glukosa, asam
amino dan nutrien lain melalui membran menuju kedalam sel.
4. Sebagai pengatur pergerakan. Protein merupakan komponen utama daging. Gerakan otot
terjadi karena ada dua molekul (aktin dan miosin) protein yang saling
bergeseran.
5. Sebagai penunjang mekanis. Kekuatan dan daya tahan robek kulit dan tulang
disebabkan adanya kolagen. Pada persendian ada elastin. Pada kuku, bulu
rambut ada protein keratin.
6. Pertahanan tubuh dalam bentuk antibodi. Suatu protein khusus yang mengikat
benda asing yang masuk kedalam tubuh seperti virus, bakteri dan lain lain.
7. Sebagai media perambatan impuls saraf. Protein ini biasanya berbentuk
reseptor misalnya rodopsin suatu protein yang bertindak sebagai reseptor atau
penerima warna atau cahaya pada sel-sel mata.
8. Sebagai Pengatur. Beberapa protein membantu mengatur aktivitas seluler atau
fisiologi. Terdapat sejumlah hormon, seperti insulin, yang mengatur
metabolisme gula dan kekurangannya, hormon pertumbuhan dari pituitary dan
hormon paratiroid, yang mengatur transport Ca 2+ dan fosfat juga.

13

2.7 Metabolisme Protein


a. Absorpsi dan Transportasi
Hasil akhir pencernaan protein terutama berupa asam amino dan ini segera
diabsorpsi dalam waktu lima belas menit setelah makan. Absorpsi terutama terjadi
dalam usus halus berupa empat sistem absorpsi aktif yang membutuhkan energi.
Asam amino yang diabsorpsi memasuki sirkulasi darah melalui vena porta dan
dibawa ke hati. Sebagian asam amino digunakan oleh hati, dan sebagian lagi
melalui sirkulasi darah di bawa ke sel-sel jaringan. Kadang-kadang protein yang
belum dicerna dapat memasuki mukosa usus halus dan muncul dalam darah. Hal
ini sering terjadi pada protein susu dan protein telur yang dapat menimbulkan
gejala alergi (immunological sensitive protein ).
Sebagian besar asam amino telah diabsorpsi pada saat asam amino sampai
di ujung usus halus. Hanya 1% protein yang dimakan ditemukan dalam feses.
Protein endogen yang berasal sekresi saluran cerna dan sel-sel yang rusak juga
dicerna dan diabsorpsi.
b. Katabolisme protein
Katabolisme protein (penguraian asam amino untuk energi) berlangsung di
hati. Jika sel telah mendapatkan protein yang mencukupi kebutuhannya. Setiap
asam amino tambahan akan dipakai sebagai energi atau disimpan sebagai lemak.
1. Deaminasi Asam Amino
Deaminasi asam amino merupakan langkah pertama, melibatkan pelepasan
satu hidrogen dan satu gugus amino sehingga membentuk amonia (NH 3). Amonia
yang bersifat racun akan masuk ke peredaran darah dan dibawa ke hati. Hati akan
mengubah amonia menjadi ureum yang sifat racunnya lebih rendah, dan
mengembalikannya ke peredaran darah. Ureum dikeluarkan dari tubuh melalui
ginjal dan urine. Ureum diproduksi dari asam amino bebas didalam tubuh yang
tidak digunakan dan dari pemecahan protein jaringan tubuh.

14

2. Oksidasi asam amino terdeaminasi


Bagian asam amino nonitrogen yang tersisa disebut produk asam keto yang
teroksidasi menjadi energi melalui siklus asam nitrat. Beberapa jenis asam keto
dapat diubah menjadi glukosa (glukoneogenesis) atau lemak (lipogenesis) dan
disimpan didalam tubuh.
Karbohidrat dan lemak adalah cadangan protein dan dipakai tubuh
sebagai pengganti protein untuk energi. Sat kelaparan, tubuh menggunakan
karbohidrat dan lemak baru kemudian memulai mengkatabolis protein.
c. Anabolisme protein
1. Sintesis protein
Sintesis protein dari asam amino berlangsung disebagian sel tubuh. Asam
amino bergabung dengan ikatan peptida pada rangkaian tertentu yang ditentukan
berdasarkan pengaturan gen. Sintesis protein meliputi pembentukan rantai
panjang asam amino yang dinamakan rantai peptida. Ikatan kimia yang
mengaitkan dua asam amino satu sama lain dinamakan ikatan peptida. Ikatan ini
terjadi karena satu hidrogen (H) dari gugus amino suatu asam amino bersatu
dengan hidroksil (OH) dari gugus asam karboksil asam amino lain. Proses ini
menghasilkan satu molekul air, sedangkan CO dan NH yang tersisa akan
membentuk ikatan peptida . sebaliknya, ikatan peptida ini dapat dipecah menjadi
asam amino oleh asam atau enzim pencernaan dengan penambahan satu molekul
air, proses ini dinamakan hidrolisis. Dari makanan kita memperoleh Protein. Di
sistem pencernaan protein akan diuraikan menjadi peptid peptid yang strukturnya
lebih sederhana terdiri dari asam amino. Hal ini dilakukan dengan bantuan enzim.
Tubuh manusia memerlukan 9 asam amino. Artinya kesembilan asam amino ini
tidak dapat disintesa sendiri oleh tubuh esensiil, sedangkan sebagian asam amino
dapat disintesa sendiri atau tidak esensiil oleh tubuh. Keseluruhan berjumlah 21
asam amino. Setelah penyerapan di usus maka akan diberikan ke darah. Darah
membawa asam amino itu ke setiap sel tubuh. Kode untuk asam amino tidak
esensiil dapat disintesa oleh DNA. Ini disebut dengan DNA transkripsi. Kemudian
15

karena hasil transkripsi di proses lebih lanjut di ribosom atau retikulum


endoplasma, disebut sebagai translasi. Protein digabungkan dari asam amino
menggunakan informasi dalam gen. Setiap protein memiliki urutan asam amino
unik yang ditetapkan oleh nukleotida. Dengan kode genetika maka kumpulan tiga
set nukleotida yang disebut kodon dan setiap kombinasi tiga nukleotida
membentuk asam amino, misalnya AUG (adenine urasil guanin) adalah kode
untuk methionine. Karena DNA berisi empat nukleotida, total jumlah
kemungkinan kodon adalah 64. Oleh karena itu, ada beberapa kelebihan dalam
kode genetik, dan beberapa asam amino dapat ditentukan oleh lebih dari satu
codon. Kode gen DNA yang pertama di transkripsi menjadi pra messenger
RNA (mRNA) oleh enzim seperti RNA polymerase. Sebagian besar organisme
maka proses pra-mRNA (juga dikenal sebagai dasar transkrip) menggunakan
berbagai bentuk pasca transcriptional modifikasi untuk membentuk mRNA
matang, yang kemudian digunakan sebagai template untuk sintesis protein oleh
ribosome. Dalam prokariotik mRNA yang dibuat bisa digunakan segera, atau
diikat oleh ribosome setelah dipindahkan dari inti sel. Sebaliknya, eukariotik
membuat mRNA di inti sel dan kemudian memindahkan ke sitoplasma, dimana
sintesis protein yang kemudian terjadi. Laju sintesis protein yang lebih tinggi
dapat terjadi di prokaryotes maupun eukariotik yang dapat mencapai hingga 20
asam amino per detik. Proses yang sintesis protein dari mRNA template dikenal
sebagai translasi/terjemahan. mRNA yang diambil ke ribosome kemudian
membaca tiga nukleotida dan mencocokan kodon dengan pasangan antikodonnya
yang terletak pada RNA transfer yang membawa asam amino sesuai dengan kode
kodon. Enzim aminoacyl tRNA synthetase menyusun molekul tRNA dengan asam
amino yang benar. Polipeptida berkembang yang sering disebut rantai peptida.
Protein selalu dibiosintesiskan dari N-terminal ke C-terminal. Ukuran panjang
sintesis protein dapat diukur dengan melihat jumlah asam amino yang berisi
dengan total massa molekul, yang biasanya dilaporkan dalam unit daltons (identik
dengan unit massa atom), atau turunan unit kilodalton (kDa). Yeast protein ratarata panjangnya adalah 466 asam amino dan 53 kDa di massa. Protein terbesar

16

adalah titins, komponen dari otot sarkomer, dengan massa molekular hampir
3.000 kDa, dan total panjang hampir 27.000 asam amino.

2.8 Sumber Protein


Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam
jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang.
Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe dan tahu,
serta kacang-kacangan lain. Kacang kedelai merupakan sumber protein nabati
yang mempunyai mutu atau nilai biologi tertinggi. Bahan makanan nabati yang
kaya akan protein adalah kacang-kacangan. Sumber protein untuk manusia ada 2,
yaitu :
1. Sumber protein hewani.
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam
jumlah maupun mutu. Sumber protein hewani dapat berbentuk daging dan alatalat dalam seperti hati, pankreas, ginjal, paru, jantung, jeroan, susu, telur dan ikan.
Ayam dan jenis burung lain merupakan sumber protein yang berkualitas baik.
2. Sumber protein nabati.
Sedangkan protein nabati terdapan dalam biji-bijian, kacang-kacangan dan
gandum. Satu gram protein mampu menghasilkan energi 4,1 kalori.
2.9 Akibat Kekurangan dan Kelebihan Protein
1. Akibat Kekurangan Protein
Kerontokan rambut (Rambut terdiri dari 97-100% dari Protein -Keratin)
Yang paling buruk ada yang disebut Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein.
Biasanya pada anak-anak kecil penderitanya, dapat dilihat dari yang
namanya busung lapar, yang disebabkan oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah
sehingga menimbulkan odema terutama pada perut, kaki dan tangan.

17

Kekurangan yang terus menerus menyebabkan marasmus dan berakibat kematian.


Meramus pada umumnya merupakan penyakit pada bayi (dua belas bulan
pertama). Meramus adalah penyakit kelaparan, gejalanya adalah
pertumbuhan terhambat, lemak dibawah kulit berkurang, serta otot-otot
berkurang dan melemah. Tidak ada edema tetapi, kadang-kadang terjadi
perubahan pada kulit, rambut dan pembesaran hati. Sering terjadi
gastroenteritis yang diikuti oleh dehidrasi, infeksi saluran pernapasan,
tuberkolosis, cacingan berat dan penyakit kronis lain. Meramus sering
mengalami defisiensi vitamin D dan vitamin A.
2. Akibat Kelebihan protein
Protein secara berlebihan tidak menguntungkan tubuh. Makanan yang tinggi protein
biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas. Kelebihan
protein akan menimbulkan asidosis, dehidrasi, diare, kenaikan amoniak
darah, kenaikan ureum darah, dan demam. Kelebihan dapat menimbulkan
masalah lain, terutama pada bayi. Ini dilihat pada bayi yang diberi susu
skim atau formula dengan konsentrasi tinggi, sehingga konsumsi protein
mencapai 6 g/kg BB. Batas yang dianjurkan untuk konsumsi protein
2.10

adalah dua kali angaka kecukupan gizi (AKG) untuk protein.


Penentuan kadar protein
Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara

kualitatif dan secara kuantitatif. Analisis protein secara kualitatif terdiri atas
reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprusida,
reaksi Sakaguchi dan metode Biuret.
Sedangkan analisis protein secara kuantitatif terdiri dari metode Kjeldahl,
metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret),
dan metode spektrofotometri UV.

18

BAB III
PEMBAHASAN
Pada praktikum penentuan kadar protein total, albumin dan globulin serum
ini menggunakan cara Kingsley. Pada metode ini total protein dan albumin
ditentukan secara kolorimetrik dengan mereaksikan dengan reagen biuret. Kadar
albumin ditentukan sesudah globulin dipisahkan dengan mengendapkannya
memakai larutan Na2SO4 23% dan selanjutnya digumpalkan dengan dietil eter.
Pemberian dietil eter juga dimaksudkan untuk menghilangkan kekeruhan yang
mungkin terjadi oleh karena adanya lipid di dalam serum. Kekeruhan akan
mempengaruhi pembacaan.
Penentuan kadar protein sangatlah penting untuk menentukan kondisi
kesehatan seorang pasien, karena minimnya jumlah protein dalam tubuh
seseorang dapat menjadi indicator dari penyakit-penyakit, seperti penyakit hati.
Dan juga penting untuk keperluan pelabelan gizi, mengetahui sifat fungsional dan
penentuan sifat biologis protein. Analisis protein juga perlu dilakukan untuk
mengetahui kandungan total protein dari suatu bahan pangan, jumlah protein
tertentu dalam suatu campuran, kandungan protein hasil dari suatu isolasi dan
purifikasi protein, kandungan non-protein nitrogen, komposisi asam amino dan
nilai gizi protein.
Dalam cara Kingsley ini menggunakan beberapa alat yaitu tabung reaksi,
rak tabung reaksi, tabung pemusing, kertas saring, blue tip, pipet ukur dan spet,
sentrifuge, vortex, spektrofotometer, kuvet, dan pipet tetes. Dan 3 reagen yaitu :
1. Na2SO4 23% : larutkan 230 g Na 2SO4 anhydr. dalam aquadest panas.
Kemudian tambahkan H2O (aquadest) 1 L. Simpan dalam botol yang tertutup
rapat dalam suhu kamar.
2. Reagens biuret : masukkan ke dalam Erlenmeyer 500 ml sebanyak 300 ml
NaOH 5,7 N (95 ml NaOH jenuh diencerkan sampai 300 ml) dengan 100 ml
CuSO4 1%. Campur dengan baik, simpan didalam botol dengan tutup karet.

19

3. Larutan standard protein yang diketahui kadarnya (ditentukan dengan cara


Kjehldahl). Sebaiknya larutan standard ini mengandung kira-kira 6 g protein
per 100 ml larutan.
Dan juga ada bahan penunjang praktikum ini adalah serum, aquadest.
Untuk pemeriksaan total protein langkah pertama yang dilakukan adalah
memipet 0,25 ml serum dan memasukkan ke dalam tabung pemusing (15 ml),
kemudian menambahkan 4 ml larutan Na2SO4 23% yang berfungsi sebagai
pemisah fraksi albumin dan globulin. Kemudian mencampur baik-baik lalu
mengambil 2 ml dari campuran tersebut dengan menggunakan pipet. Kemudian
dibersihkan ujung pipet dengan kertas saring dan memasukkan campuran ini
kedalam tabung reaksi dengan tanda TP (Total Protein).
Untuk pemeriksaan albumin langkah pertama yang dilakukan adalah pada
sisa campuran (dalam tabung pemusing), menambahkan 1,5 ml dietil eter yang
bermaksud untuk menggumpalkan albumin dan mengilangkan kekeruhan karena
adanya kandungan lipid dalam serum yang akan mempengaruhi pembacaan
spektrofotometer dan sumbat baik-baik. Dikocok agak kuat dengan sekali-sekali
membuka tutupnya untuk mengurangi tekanan yang terdapat dalam tabung
tersebut. Kemudian pusingkan selama 10 menit dengan menggunakan sentrifuge.
Setelah dipusingkan, harus terlihat 3 fase yang berbatasan dari masing-masing
campuran yang terdapat dalam tabung pemusing tersebut yaitu fase teratas adalah
eter yang mengandung lipid, fase yang ditengah merupakan cincin endapan
globulin, dan fase yang terbawah merupakan larutan jernih dari albumin.
Kemudian mirngkan dengan hati-hati tabung pemusing tersebut sehingga cincin
globulin terlepas dari dinding tabung. Setelah itu memasukkan hati-hati sebuah
pipet 1 ml dengan ujung atas pipet ditutup dengan jari waktu pipet menembus
lapisan eter. Kemudian isap larutan albumin dengan pipet tersebut sampai
melampaui tanda garis pada pipet. Lalu bersihkan ujung pipet yang basah dengan
kertas pembersih dan turunkan permukaan larutan sampai pada garis tanda dari
pipet. Kemudian memasukkan larutan albumin ke dalam tabung reaksi dengan
tanda A (Albumin).
Untuk pemeriksaan blanko memakai aquadest sebanyak 0,25 ml dan
meambahkannya 4 ml larutan Na2SO4 23 %. Kemudian campur baik-baik, lalu

20

mengambil 1 ml dari campuran terserbut dan memasukkan ke dalam tabung


dengan tanda B (Blanko)
Sedangkan untuk larutan standard memakai larutan standard sebanyak
0,25 ml dan menambahkannya dengan 4 ml Na2SO4 23 %. Kemudian campur
baik-baik, lalu menngambil 1 ml dari campuran terserbut dan memasukkan ke
dalam tabung dengan tanda S (Standard)
Setelah itu tindakan selanjutnya adalah menambahkan reagen biuret
sebanyak 2 ml ke dalam tabung A, TP, S, dan B. Kemudian biarkan selama 10
menit pada suhu kamar. Jika terjadi kekeruhan harus menambahkan 2-2,5 ml eter.
Kocok dan pusingkan dengan alat vortex. Kemudian membaca masing-masing
tabung dengan alat Spektrofotometer 555 nm.
Setelah itu dihitung dengan menggunakan rumus :
TP = RTP RB X CS (gr%)
RS RB
ALB = RA RB X CS (gr%)
RS RB
GLOB = TP ALB
Keterangan : RTP = Reading TP
RS
= Reading Standard
RB
= Reading Blanko
CS
= Kadar protein standard dalam g/100 ml
Jika dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengukuran
dengan spektrofotometer yaitu Abs A = 0,457 nm, Abs TP = 0,675 nm, Abs B =
0,231 nm, dan Abs S = 0,679 nm. Sehingga didapatkan kadar dengan cara rumus
diatas yaitu kadar TP adalah 5,95 gr/dL, kadar ALB adalah 3,03 gr/dL, dan kadar
GLOB adalah 2,92 gr/dL.
Standart harga normal:
Total Protein = 5 8 gr/dL
Albumin

= 3.8 5,5 gr/dL

Globulin = 1,5 3 gr/dL


Pada kadar total protein larutan tersebut bernilai 5,95 gr/dl. Nilai tersebut
berada di bawah normal.
Pada kadar albumin larutan tersebut bernilai 3,03 gr/dl. Nilai tersebut
berada di bawah normal.

21

Pada kadar globulin yang merupakan 40% dari kadar total protein dapat
diperoleh dengan cara mengurangi kadar total protein dengan kadar albumin.
Sehingga dapat diperoleh nilai sebesar 2,92 gr/dL. Hasil pengukuran ini
menujukkan bahwa kadar globulin pada probandus dalam rentang normal.
Hasil penentuan kedua uji kadar total protein dan albumin dari probandus
berada di bawah normal, padahal probandus dalam keadaan sehat. Hal ini terjadi
karena pembersihan tabung kuvet kurang bersih, sehingga terjadi kesalahan dalam
pembacaan spektrofotometer dan apabila tersentuh oleh jari tangan maka
lipid/minyak pada permukaan kulit jari akan menempel pada tabung kuvet yang
mempengaruhi pambacaan. Sedangkan untuk kadar globulin probandus berada
dalam rentang normal yang didapatkan dari kadar total protein dikurangi kadar
albumin.
Pada uji penentuan kadar protein total, albumin, dan globulin serum ini
juga menggunakan bebrapa reagen yaitu raegen natrium sulfat dan reagen biuret.
Uji Biuret digunakan untuk mengetahui adanya ikatan peptida pada suatu bahan.
Terbentuknya warna ungu pada larutan sampel karena terbentuk senyawa
kompleks antara Cu2+ dan N dari molekul ikatan peptida yaitu gugus peptida (
-CO-NH-). Makin banyak atau makin panjang ikatan peptida dalam protein maka
warna ungu akan makin kuat intensitasnya. reaksi biuret merupakan reaksi warna
yang umum untuk gugus peptida (-CO-NH-) dan protein.
Reaksi positif bila ditandai dengan terbentuknya warna ungu karena
terbentuk senyawa kompleks antara Cu2+ dan N dari molekul ikatan peptida.
Banyaknya asam amino yang terikat pada ikatan peptida mempengaruhi warna
reaksi ini. Senyawa dengan dipeptida memberikan warna biru, tripeptida ungu dan
tetrapeptida serta peptida kompleks memberikan warna merah.
Biuret dihasilkan dengan memanaskan urea kira-kira pada suhu 180 oC
dalam larutan basa. Biuret memberikan warna violet dengan CuSO4. Reaksi ini
disebut dengan reaksi biuret, kemungkinan terbentuknya Cu2+ dengan gugus CO
dan NH dari rantai peptida dalam suasana basa. Dipeptida dan asam-asam amino

22

(kecuali histidina, serina dan treonina) tidak memberikan uji ini. Beberapa protein
yang mempunyai gugus CS-NH-, -CH-NH- dalam molekulnya juga memberikan
tes warna positif dengan biuret.
Pemberian natrium sulfat pada larutan uji menggunakan prinsip metode
salting out. Salting out merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan
protein yang didasarkan pada prinsip bahwa protein kurang terlarut ketika berada
pada daerah yang konsentrasi kadar garamnya tinggi. Konsentrasi garam
diibutuhkan oleh protein untuk mempercepat keluarnya larutan yang berbeda dari
protein satu ke protein yang lainnya.
Albumin (69 kDa) adalah protein utama dalam plasma manusia (3,4-4,7
g/dL) dan membentuk sekitar 60% protein plasma total. Sekitar 40% albumin
terdapat dalam plasma, dan 60% sisanya terdapat di ruang ekstrasel. Hati
menghasilkan sekitar 12 g albumin per hari, yaitu sekitar 25% dari semua sintesis
protin oleh hati dan separuh jumlah protein yang disekresikannya.
Albumin manusia terdiri dari satu rantai polipeptida dengan 585 asam
amino dan mengandung 17 ikatan disulfide. Albumin berbentuk elips yang berarti
bahwa albumin tidak meningkatkan viskositas plasma sebanyak peningkatan yang
dilakukan oleh molekul panjang seperti fibrinogen. Karena massa molekulnya
yang relative rendah dan konsentrasinya yang tinggi, albumin diperkirakan
menentukan sekitar 75-80% tekanan osmotic plasma manusia.
Ada beberapa orang yang dalam plasma nya tidak terdapat albumin
disebut analbuminemia. Penyebab nya adalah mutasi yang mempengaruhi
penggabungan ( splicing ). Orang dengan albuminemia memperlihatkan edema
sedang.
Fungsi penting albumin lainnya adalah: kemampuannya mengikat
berbagai ligan. Ligan-ligan tersebut mencakup asam lemak bebas (FFA), kalsium,
hormone steroid tertentu,bilirubin, dan sebagian triptofan plasma. Selain itu,
albumin juga nampaknya berperan penting dalam mengangkut tembaga dalam
tubuh manusia
23

Sintesis albumin baru berkurang pada saat sakit, terutama penyakit liver.
Plasma protein dengan penyakit liver sering memperlihatkan penurunan rasio
albumin terhadap globulin. Pembentukan albumin mengalami penurunan relative
dini pada kondisi-kondisi malnutrisi protein, misalnya kwashiorkor.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima
ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam
amino yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptide.
2. Penggolongan protein berdasarkan bentuknya yaitu 1) protein globular, 2)
protein serabut (fibrous). Dan struktur protein terdiri ; protein primer,
protein sekunder, protein tersier, dan protein kuartener.
3. Fungsi protein antara lain ; Sebagai biokatalisator (enzim, Sebagai protein
transport, Sebagai pengatur pergerakan, Sebagai penunjang mekanis,
Pertahanan tubuh dalam bentuk antibodi, Sebagai media perambatan
impuls saraf, Sebagai pengendalian pertumbuhan. Dan pencernaan protein,
yaitu dari mulut, lambung, dan usus halus. Metabolisme protein terdiri dari
24

absorpsi dan transportasi protein, katabolisme protein, dan anabolisme


protein.
4. Kekurangan protein menyebabkan ; Kerontokan rambut), Kwasiorkor,
Hipotonus, gangguan pertumbuhan, hati lemak, marasmus dan berkibat
kematian. Dan kelebihan protein menyebabkan ; akan memberatkan ginjal
dan hati yang harus memetabolisme dan mengeluarkan kelebihan nitrogen.
Kelebihan protein akan menimbulkan asidosis, obesitas, dehidrasi, diare,
kenaikan amoniak darah, kenaikan ureum darah, dan demam
5. Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara
kualitatif dan secara kuantitatif. Analisis protein secara kualitatif terdiri
atas reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi
Nitroprusida, reaksi Sakaguchi dan metode Biuret. Sedangkan analisis
protein secara kuantitatif terdiri dari metode Kjeldahl, metode titrasi
formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret), dan
metode spektrofotometri UV.
6. Pada metode kingsley ini total protein dan albumin ditentukan secara
kolorimetrik dengan mereaksikan dengan reagen biuret. Kadar albumin
ditentukan sesudah globulin dipisahkan dengan mengendapkannya
memakai larutan Na2SO4 23% dan selanjutnya digumpalkan dengan dietil
eter. Pemberian dietil eter juga dimaksudkan untuk menghilangkan
kekeruhan yang mungkin terjadi oleh karena adanya lipid di dalam serum
7. Pada percobaan ini menggunakan metode Kingsley, dan hasil yang
didapatkan adalah kurang akurat untuk kedua percobaan. Hal ini dapat
disebabkan oleh kesalahan pengambilan serum, penambahan reagen,
maupun kesalahan pada pembacaan spektrofotometer.
8. Kadar normal untuk total protein adalah 5-9 gr%, albumin 3,8-5,5 gr%,
dan globulin 1,5-3 gr%, sementara hasil yang didapatkan pada percobaan
kali ini sedikit di bawah normal.
9. Kadar protein pada diri seseorang dapat dipengaruhi oleh asupan makanan
dan karena protein disintesis di liver, kondisi liver seseorang dapat sangat
mempengaruhi kadar protein dalam darah. Minimnya kadar protein dapat
menandakan kerusakan atau malfungsi dari liver seseorang, sehingga

25

pengukuran kadar protein merupakan hal yang sangat penting untuk


diketahui.

DAFTAR PUSTAKA
Sloane, Ethel. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran (EGC), 2003. Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2009. Murray, Robert K. Daryl K. Granner. Victor W.
Radwell. Biokimia Harper Edisi 27.Jakarta: Penerbit Buku Kedokeran (EGC),
2009

26

Anda mungkin juga menyukai