Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

SEDIMENTOLOGI & STRATIGRAFI

Oleh :
Nama

: Eka Susetyana Saputra

NIM

: 410015006

Kelas

: km.3.1

LABORATORIUM SOFT ROCK


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2016

DAFTAR ISI

Halaman judul..
Daftar isi..
Kata pengantar.
BAB I Pendahuluan.
1.1 Latar belakang ..
1.2 Maksud dan tujuan
a. Analisa Granulometri..
b. Analisa bentuk kerakal.
c. Analisa komposisi butir sedimen.
BAB II Lokasi (Letak & kesampaian)
2.1 Lokasi (data utama ditambah data pendukung).
2.2 Kesampaian (data utama ditambah data pendukung)
BAB III Dasar Teori
3.1 Analisa Granulometri
3.2 Analisa bentuk kerakal..
3.3 Analisa komposisi butir sedimen..
BAB IV Hasil dan Pembahasan.
4.1 Keadaan Lokasi utama dan pendukung ( Foto, arah sungai, keadaan
system DAS sungai) visual & narasi
4.2 Hasil Granulometri.

Hasil (perhitungan dan grafik dari data utama dan data pendukung)
Interpetasi data utama dan data pendukung

4.3 Hasil analisa bentuk butir kerakal.


Hasil (perhitungan dan grafik dari data utama dan data pendukung)
Interpetasi data utama dan data pendukung

4.4 Hasil analisa komposisi butir sedimen

Hasil (perhitungan dan grafik dari data utama dan data pendukung)
Interpetasi data utama dan data pendukung

4.5 Interpetasi mekanisme sedimentasi pada system sungai data utama dan
data pendukung
BAB V Penutup..
5.1 Kesimpulan..
5.2 Kritik & Saran..
Daftar Pustaka

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga laporan ini dapat di
pergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca

dalam pemahaman mahasiswa tentang praktikum Sedimentologi & Stratigrafi


dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas pratikum
sedimentologi dan stratigrafi.
Harapan saya semoga laporan ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi laporan ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Laporan ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya
miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
laporan ini.

Yogyakarta, 12 November 2016

Eka Susetyana Saputra

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tujuh puluh persen batuan yang menutupi permukaan bumi ini terdiri dari
batuan sedimen. Yaitu batupasir, batugamping, lanau, lempung, breksi,
konglomerat, dan batuan sedimen lainnya.
Batuan tersebut terbentuk secara proses fisika, kimia, dan biologi yang
terendapkan secara alamiah di berbagai lingkungan pengendapan dan terus
berjalan hingga saat ini. Pembelajaran tentang batuan sedimen sangat besar
kontribusinya terhadap penentuan dan pembelajaran batuan batuan sedimen purba
atau yang berumur tua dalam skala waktu geologi.
Banyak batuan sedimen purba yang diperkirakan sistem dan lingkungan
pengendapannya dianalogikan dengan proses proses sedimentasi yang terjadi pada
saat ini. Proses proses sedimentasi (fisika, kimia, biologi) sangat berhubungan erat
dengan kompaksi, sementasi, rekristalisasi.
Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang
terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi
tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu)
diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada,
baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya diterapkan
untuk semua jenis batuan sedimen karena ada beberapa jenis endapan yang telah
disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari udara
sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya material
fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan
yang relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam.
Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari sedimen atau endapan
(Wadell, 1932). Sedangkan sedimen atau endapan pada umumnya diartikan
sebagai hasil dari proses pelapukan terhadap suatu tubuh batuan, yang kemudian
mengalami erosi, tertansportasi oleh air, angin, dll, dan pada akhirnya terendapkan
atau tersedimentasikan.
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh
media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Sedangkan batuan sedimen

adalah suatu batuan yang terbentuk dari hasil proses sedimentasi, baik secara
mekanik maupun secara kimia dan organik.

a. Secara mekanik
Terbentuk dari akumulasi mineral-mineral dan fragmen-fragmen batuan. Faktorfaktor yang penting antara lain :
Sumber material batuan sedimen :
Sifat dan komposisi batuan sedimen sangat dipengaruhi oleh material-material
asalnya. Komposisi mineral-mineral batuan sedimen dapat menentukan waktu dan
jarak transportasi, tergantung dari prosentasi mineral-mineral stabil dan nonstabil.
Lingkungan pengendapan :
Secara umum lingkungan pengendapan dibedakan dalam tiga bagian yaitu:
Lingkungan Pengendapan Darat, Transisi dan Laut. Ketiga lingkungan
pengendapan ini, dimana batuan yang dibedakannya masing-masing mempunyai
sifat dan ciri-ciri tertentu.
Pengangkutan (transportasi) :
Media transportasi dapat berupa air, angin maupun es, namun yang memiliki
peranan yang paling besar dalam sedimentasi adalah media air. Selama
transportasi berlangsung, terjadi perubahan terutama sifat fisik material-material
sedimen seperti ukuran bentuk dan roundness. Dengan adanya pemilahan dan
pengikisan terhadap butir-butir sedimen akan memberi berbagai macam bentuk
dan sifat terhadap batuam sedimen.
Pengendapan :
Pengendapan terjadi bilamana arus/gaya mulai menurun hingga berada di bawah
titik daya angkutnya. Ini biasa terjadi pada cekungan-cekungan, laut, muara
sungai, dll.

Kompaksi :
Kompaksi terjadi karena adanya gaya berat/grafitasi dari material-material
sedimen sendiri, sehingga volume menjadi berkurang dan cairan yang mengisi
pori-pori akan bermigrasi ke atas.
Lithifikasi dan Sementasi :
Bila kompaksi meningkat terus menerus akan terjadi pengerasan terhadap
material-material sedimen. Sehingga meningkat ke proses pembatuan (lithifikasi),
yang disertai dengan sementasi dimana material-material semen terikat oleh
unsur-unsur/mineral yang mengisi pori-pori antara butir sedimen.

Replacement dan Rekristalisasi :


Proses replacement adalah proses penggantian mineral oleh pelarutan-pelarutan
kimia hingga terjadi mineral baru. Rekristalisasi adalah perubahan atau
pengkristalan kembali mineral-mineral dalam batuan sedimen, akibat pengaruh
temperatur dan tekanan yang relatif rendah.

Diagenesis :
Diagenesis adalah perubahan yang terjadi setelah pengendapan berlangsung, baik
tekstur maupun komposisi mineral sedimen yang disebabkan oleh kimia dan
fisika.
b. Secara Kimia dan Organik
Terbentuk oleh proses-proses kimia dan kegiatan organisme atau akumulasi dari
sisa skeleton organisme. Sedimen kimia dan organik dapat terjadi pada kondisi
darat, transisi, dan lautan, seperti halnya dengan sedimen mekanik.

Masing-masing lingkungan sedimen dicirikan oleh paket tertentu fisik, kimia, dan
biologis parameter yang beroperasi untuk menghasilkan tubuh tertentu sedimemen
dicirikan oleh tekstur, struktur, dan komposisi properti. Kita mengacu kepada
badan-badan khusus seperti endapan dari batuan sedimen sebagai bentuk. Istilah
bentuk mengacu pada unit stratigrafik dibedakan oleh lithologic, struktural, dan
karakteristik organik terdeteksi di lapangan. Sebuah bentuk sedimen dengan
demikian unit batu itu, karena deposisi dalam lingkungan tertentu, memiliki
pengaturan karakteristik properti. Lithofacies dibedakan oleh ciri-ciri fisik seperti
warna, lithology, tekstur, dan struktur sedimen. Biogfacies didefinisikan pada
karakteristik palentologi dasar. Inti penekanannya adalah bahwa lingkungan
depositional menghasilkan bentuk sedimen. Karakteristik properti dari bentuk
sedimen yang pada gilirannya merupakan refleksi dari kondisi lingkungan
deposional.
Stratigrafi adalah studi batuan untuk menentukan urutan dan waktu
kejadian dalam sejarah bumi. Dua subjek yang dapat dibahas untuk membentuk
rangkaian kesatuan skala pengamatan dan interpretasi. Studi proses dan produk
sedimen memperkenankan kita menginterpretasi dinamika lingkungan
pengendapan. Rekaman-rekaman proses ini di dalam batuan sedimen
memperkenankan kita menginterpretasikan batuan ke dalam lingkungan tertentu.
Untuk menentukan perubahan lateral dan temporer di dalam lingkungan masa
lampau ini, diperlukan kerangka kerja kronologi.
Ilmu bumi secara tradisional telah dibagi kedalam sub-disiplin ilmu yang terfokus
pada aspek-aspek geologi seperti paleontologi, geofisika, mineralogi, petrologi,
geokimia, dan sebagainya. Di dalam tiap sub-disiplin ilmu ini, ilmu pengetahuan
telah dikembangkan sebagai teknik analitik baru yang telah diaplikasikan dan
dikembangkannya teori-teori inovatif. Diwaktu yang sama karena kemajuankemajuan di lapangan, maka diperkenalkannya integrasi kombinasi ide-ide dan
keahlian dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda. Geologi adalah ilmu
multidisiplin yang sangat baik dipahami jika aspek-aspek berbeda terlihat
berhubungan antara satu dengan lainnya. Sedimentologi perhatiannya tertuju pada
pembentukan batuan sedimen. Kemudian batuan sedimen dibahas hubungan

waktu dan ruangnya dalam rangkaian stratigrafi di dalam cekungan-cekungan


sedimen. Tektonik lempeng, petrologi dan paleontologi adalah topik tambahan.

1.2 Maksud dan Tujuan


a. Analisa granulometri
- Memisahkan fraksi butiran pasir pada ukuran (diameter) butir tertentu.
- Menentukan harga-harga median diameter, koefisien sortasi, skewness
dan kurtosis.
b. Analisa bentuk krakal
- Menentukan dan mengukur panjang sumbu a, b, dan c.
`

- Menentukan volume fragmen.


- Identifikasi bentuk fragmen.
- Menentukan harga sphrericity dan roundness.
- Mengetahui tingkat abrasi.
- Mengetahui jarak dan lamanya transportasi.
- Mengetahui mekanisme pengangkutan dan media pengangkut.
- Mengetahui tingkat resistensi.

c. Analisa komposisi butir sedimen

- Melakukan identifikasi partikel penyusun sedimen silisiklastik berukuran


pasir.
- Mengetahui tipe batuan , interpretasi batuan sumber, tingkat kedewasaan,
proses-proses geologi yang berperan terhadap pembentukan dan deposisi sedimen
berdasarkan komposisi penyusunnya.

BAB II
LOKASI (LETAK DAN KESAMPAIAN)

2.1 Lokasi (data utama ditambah data pendukung)

2.2 Kesampaian (data utama ditambah data pendukung)

BAB III
DASAR TEORI

3.1 Analisa granulometri


Ukuran butir pada partikel sedimen penting dala beberapa hal. Ukuran
butir mencerminkan :

Resistensi partikel terhadap pelapukan, erosi dan abrasi. Partikel-partikel


yang lunak seperti batu gamping dan frgamen-fragmen batuan makin lam
makin mengecil, bahkan partikel kuarsa yang besar dan resisten akan

terabrasi dan berubah ukurannya.


Proses transportasi dan deposisi seperti kemampuan air dingin untuk
menggerakan dan mengendapkan partikel.

Material-material yang diangkut oleh media pengangkut (air,angina) akan


terdistribusi menjadi berbagai macam ukuran butir seperti gravel (boulder, couble,
pebble), pasir dan mud (lanau, lempung). Distribusi ukuran butir ini menunjukan:

Terdapatnya bermcam-macam ukuran butir dari batuan asalnya.


Proses yang terjadi selama sedimentasi terutama kompetensi aliran
(kemampuan arus untuk membawa suatu beban sesuai ukurannya. Jika ada
beban yang lebih berat dari kemampuan arus membawa maka beban
tersebut akan diendapkan).

Dengan banyaknya variasi ukuran butir tersebut maka perlu diadakan klasifikasi
ukuran butir. Dikenal beberapa klasifikasi ukuran butir yang dibuat oleh beberapa
ahli. Diantara beberapa klasifikasi ukuran butir yang ada, skala penentuan ukuran
butir yang diajukan oleh J.A Udden dan C.K Wentworth yang sering digunakan,
selanjutnya disebut skala Udden-Wentworth sebagai skala geometri (1,2,4,8.)
sebagai unit phi oleh W.C Krumbein, dimana phi merupakan transformasi
logaritma dari skala Udden-Wentworth, yaitu phi=-log2 d, dengan d adalh ukuran
butir dalam mm. (Tabel 1.1)

Tabel 1.1 Skala dan Konversi Ukuran Butir (modifikasi Wentworth, 1922 dalam
Boggs, 2006)

Dalam acara ini dilakukan pemisahan ukuran butir dari suatu contoh pasir lepas.
Seperti diketahui analisis ini untuk mengetahui koefisiensi sortasi, skewness dan
kurtosis. Untuk mengetahui harga-harga tersebut dapat dilakukan secara grafis dan
matematis. Pada praktikum ini yang di pergunakan adalah cara grafis.

Cara Grafis
Untuk melakukan perhitungan secara grafis, maka yang
harus dilakukan terlebih dahulu adalah melakukan plotting data,
sebagai histogram dan kurva distribusi frekuensi sehingga didapat
gambaran

visual

data.

Kemudian

melakukan

perhitungan

parameter statistik yang berupa rata-rata, standar deviasi, kurtosis,


sortasi, skewness, dll, secara deskriptif dari grafik.
Perhitungan parameter secara grafis pada prinsipnya
adalah menggunakan kurva frekuensi atau frekuensi kumulatif
untuk menentukan nilai phi pada presentil tertentu. Rumu
perhitungan yang sering dipakai adalah yang diusulkan oleh Folk
& Ward (1957, lihat Friedman &

Sanders, 1978; Lewis &

McConchie, 1994), yaitu:


a. Median
Merupakan nilai tengah dari populasi total. Dapat dilihat
langsung dari kurva kumulatif, yaitu nilai phi pada titik dimana
kurva kumulatif memotong nilai 50%.
b. Mode
Merupakan

ukuran

butir

sedimen

yang

frekuensi

kemunculannya paling tinggi.


c. Mean
Merupakan nilai rata-rata ukuran butir.

Mz =

a. Sortasi
Merupakan

nilai

standar

deviasi

tingkat keseragaman butir.

1 =

yang

menunjukkan

Klasifikasi sortasi (1):


Nilai

Kategori

< 0.35

Very well sorted

0.35 0.50

0.50 0.71

0.71 1.00

1.00 2.00

2.00 4.00

> 4.00

Well sorted
Moderately well
sorted
Moderately sorted
Poorly sorted
Very poorly sorted
Extremely poorly
sorted

b. Skewness

Merupakan nilai kesimetrisan kurva frekuensi

Sk 1 =

Klasifikasi skewness (Sk1):


Nilai

Kategori

> +0.3

Very fine-skewed

+0.3 - +0.1

Fine-skewed

+0.1 - -0.1

Near-symmetrical

-0.1 - -0.3

Coarse-skewed

< -0.3

Very coarse-skewed

c. Kurtosis
Merupakan nilai yang menunjukkan kepuncakan
kurva

Klasifikasi kurtosis (KG):

Nilai

Kategori

< 0.67

Very platykurtic

0.67 0.90

Platykurtic

0.90 1.11

Mesokurtic

1.11 1.50

Leptokurtic

1.50 3.00

Very leptokurtic

> 3.00

Extremely leptokurtic

3.2 Analisa bentuk kerakal


Tekstur sedimen mencakup ukuran butir, bentuk butir morfologi butir dan
hubungan antar butirnya. Dari parameter ukuran butir akan diketahui bagaimana
koefisiensi sortasi, distribusi dan variasi ukuran butir (kurtosis dan skewness).
Berdasar hubungan antar butir diketahui tingkat kompaksi, kemas, kontak antar
butir dan porositasnya. Sedangkan dari bentuk butir dapat diketahui bagaimana
proses yang telah berlangsung sehingga merubah bentuk morfologi butirnya.
Bentuk butir merupakan fungsi dari litologi, ukuran partikel mekanisme dan
waktu atau durasi dari transportasi, energy dari media yang mentransport
(contohnya; air,angin) serta sejarah transportasi dan deposisi.
Bentuk
Butir
Bentuk butir (form atau shape) merupakan keseluruhan kenampakan
partikel secara tiga dimensi yang berkaitan dengan perbandingan antara
ukuran panjang sumbu panjang, menengah dan pendeknya. Ada berbagai
cara untuk mendefinisikan bentuk butir. Cara yang paling sederhana
dikenalkan oleh Zingg (1935) dengan cara menggunakan perbandingan
b/a dan c/b untuk mengelaskan butir dalam empat bentuk yaitu oblate,
prolate, bladed clan equant (Gambar II.1, Tabel II.1). Dalam hal ini, a :
panjang (sumbu terpanjang), b : lebar (sumbu menengah) dan c :
tebal/tinggi (sumbu terpendek). Sejauh ini penamaan butir dalam bahasa
Indonesia belum dibakukan sehingga seringkali penggunaan istilah asal
tersebut masih dikekalkan. Pengkelasan bentuk butir ini biasanya
diperuntukkan pada butiran yang berukuran kerakal sampai berangkal
(pebble) karena kisaran ukuran tersebut memungkinkan untuk dilakukan
pengukuran secara tig dimensi karena keterbatasan alat dan cara yang
harus dilakukan, terutama pads bongkah dengan diameter yang mencapai
puluhan sampai ratusan centimeter. Pada butir pasir yang bisa diamati
secara tiga dimensi, pendekatan secara kualitatif (misalnya dengan metode
visual comparison) bisa juga dilakukan untuk mendefinisikan bentuk butir
meskipun tingkat akurasinya rendah.

Gambar III. 2. 1 Klasifikasi butiran pebel (kerakal berangkal)


berdasarkan perbandingan antar sumbu (Zingg, 1935, diambil
dari Pettijohn, 1975 dengan modifikasi)

Tabel III. 2. 1. Klasifikasi bentuk butir menurut Zingg


(1935)
No. Kelas

b/a

c/b

Kelas

>2/3

< 2/3

Oblate (discoidal)

II

> 2/3

> 2/3

Equant (Equiaxial/spherical)

III

< 2/3

< 2/3

Bladed (Triaxial)

IV

< 2/3

> 2/3

Prolate (Rod-shaped)

Sphericity
Sphericity () didefinisikan secara sederhana sebagai ukuran
bagaimana suatu butiran mendekati bentuk bola. Dengan demikian,

semakin

butiran berbentuk menyerupai bola maka mempunyai nilai

sphericity yang semakin tinggi. Wadell (1932) mendefinisikan sphericity


yang sebenarnya (true sphericity) sebagai luas permukaan butir dibagi
dengan luas permukaan sebuah bola yang keduanya mempunyai volume
sama. Namun demikian, Lewis & McConchie (1994) mengatakan bahwa
rumusan ini sangat sulit untuk dipraktekkan. sebagai pendekatan,
perbandingan luas permukaan tersebut dianggap sebanding dengan
perbandingan volume, sehingga rumus sphericity menurut Wadell (1932)
adalah :

Dimana Vp: volume butiran yang diukur dan Vcs: volume terkecil
suatu bola yang melingkupi partikel tersebut (circumscribing sphere).
Krumbein (1941) kemudian menyempurnakan persamaan tersebut
3
dengan memberikan nilai volume bola dengan /6D , dimana D adalah
diameter bola. Dengan menggunakan asumsi bahwa butiran secara tiga
dimensi dapat diukur panjang sumbu-sumbunya, maka diameter butiran
dijabarkan dalam bentuk DL, DI, dan DS, dimana L, I, S menunjukkan
sumbu panjang, menengah, dan pendek. Setelah memasukkan niali pada
perhitungan Wadell, maka sphericity dapat dirumuskan sebagai berikut:

Rumus yang diajukan Krumbein (1941) ini disebut dengan intercept


sphericity (1) yang dapat dihitung dengan mengukur sumbu-sumbu
panjang, menengah dan pendek suatu partikel dan memasukkan pada
rumus tersebut. Sneed & Folk (1958) menganggap bahwa intercept

sphericity tidak dapat secara tepat menggambarkan perilaku butiran ketika


diendapkan. Butiran yang dapat diproyeksikan secara maksimum mestinya
diendapkan lebih cepat, misalnya bentuk prolate seharusnya lebih cepat
mengendap dibandingkan oblate, tetapi dengan rumus W, justru didapatkan
nilai yang terbalik. Untuk itu mereka mengusulkan rumusan tersendiri pada
sphericity yang dikenal dengan maximum projection sphericity (Vp) atau
sphericity proyeksi maksimum. Secara matematis Wp dirumuskan sebagai
perbandingan antara area proyeksi maksimum bola dengan proyeksi
maksimum partikel yang mempunyai volume sama, atau secara ringkas
dapat ditulis dengan:

Dalam hal ini L, I dan S adalah sumbu-sumbu panjang, menengah clan


pendek sebagaimana dalam rumus Krumbein (1941). Menurut Boggs
(1987), pada prinsipnya rumus yang diajukan oleh Sneed & Folk (1958)
ini tidak lebih

valid dibandingkan dengan intercept sphericity, terutama

kalau diaplikasikan pada sedimen yang diendapkan oleh aliran gravitasi


dan es.
Dengan tanpa mempertimbangkan bagaimana sphericity dihitung,
Boggs (1987) menyatakan bahwa hasil perhitungan sphericity yang sama
terkadang dapat diperoleh pada semua bentuk butir. Partikel dengan bentuk
yang berbeda bisa mempunyai nilai sphericity yang sama. Untuk
mendefinisikan

sphericity

dari

hitungan

matematis,

Folk

(1968)

mengelaskan sphericity dalam 7 kelas sebagaimana ditunjukkan dalam


Tabel II.2.
Bentuk butir ukuran kerakal atau yang lebih besar dipengaruhi oleh
bentuk asalnya dari batuan cumber, namun demikian butiran dengan
ukuran ini akan lebih banyak mengalami perubahan bentuk karena abrasi
dan pemecahan selama transportasi dibandingkan dengan butiran yang
berukuran pasir. Untuk butiran sedimen yang berukuran pasir atau lebih
kecil, bentuk butir juga lebih banyak dipengaruhi oleh bentuk asal

mineralnya. Pada prakteknya, analisis bentuk butir pada sedimen yang


berukuran pasir biasanya dilakukan pada mineral kuarsa. Hal ini
disebabkan sifat mineral kuarsa yang keras, tahan terhadap pelapukan, clan
jumlahnya yang melimpah pada batuan sedimen. Namun demikian, untuk
membuat perbandingan bentuk butiran setelah mengalami transportasi,
pengamatan bentuk butir pada mineral lain maupun fragmen batuan
(lithic) boleh juga dilakukan.

Tabel III. 2. 2. Klasifikasi sphericity menurut Folk (1968)


Hitungan Matematis

Kelas

<0.75

Very Elongate

0.60-0.63

Elongate

0.63-0.66

Subelongate

0.66-0.69

Intermediete Shape

0.69-0.72

Subequent

0.72-0.75

Equent

>0.75

Very Equent

Bentuk butir akan berpengaruh pads kecepatan pengendapan


(settling velocity). Secara umum batuan yang bentuknya tidak spheris
(tidak menyerupai bola) mempunyai kecepatan pengendapan yang lebih
rendah. Dengan demikian bentuk butir akan mempengaruhi tingkat
transportasinya pads sistem suspensi (Boggs, 1987). Butiran yang tidak
spheris cenderung tertahan iebih lama pads media suspensi dibandingkan
yang spheris. Bentuk jugs berpengaruh pads transportasi sedimen secara
bedlood (traksi). Secara umum butiran yang spheris clan prolate lebih

mudah tertransport dibandingKan bentuk blade clan disc (oblate). Lebih


jauh analisis sedimen berdasarkan butiran saja sulit untuk dilakukan.
Sebagai contoh, Boggs (1987) menyatakan bahwa dari pengamatan bentuk
butir saja tidak aapat digunakan untuk menafsirkan suatu lingkungan
pengendapan.

Roundness
Roundness merupakan morfologi butir yang berkaitan dengan
ketajaman pinggir dan sudut suatu partikel sedimen klastik. Secara
matematis, Wadell (1932) mendefinisikan roundness Sebagai rata-rata
aritmetik roundness masing-masing sudut butiran pads bidang pengukuran.
Roundness masing-masing sudut diukur dengan membandingkan jari-jari
iengkungan sudut tersebut dengan jari-jari lingkaran maksimum yang
dapat dimasukkan pada butiran tersebut. Dengan demikian tingkat
roundness butiran menurut Wadell (1932) adalah:
r
R
w

R
N

(r)

RN

Dimana r adalah jari-jari kurva setiap sudut, R adalah jari-jari


maksimum bola yang dapat masuk dalam butir dan N adalah banyaknya
sudut yang diukur.

Gambar III. 2. 2. Ilustrasi pengukuran jari-jari lingkaran


maksimum pada butiran (Boggs, 1987
dengan modifikasi)
Menurut Folk (1968) pengukuran sudut-sudut tersebut hampir tidak
mungkin bisa dipraktekkan, sedangkan Boggs (1987) menegaskan banwa
cara tersebut memerlukan waktu yang banyak untuk kerja di laboratorium
dengan harus dibantu slat circular protractor atau electronic particle-size
analyzer. Untuk mengatasi hal tersebut, maka penentuan roundness
butiran adalah dengan membandingkan kenampakan (visual comparison)
antara kerakal atau butir pasir dengan tabel visual secara sketsa
(Krumbein, 1941) dan/atau tabel visual foto (Powers, 1953).

Gambar III. 2. 3. Tabel visual roundness secara sketsa.


(Krumbein, 1941 dengan
modifikasi)

Gambar III. 2. 4. Tabel visual foto roundness butiran.


(Power, 1953)

Tabel III. 2. 3. Hubungan antara roundness Wadell (1932) dan


kolerasinya pada visual
roundness Power (1953).
Interval kelas

Visual kelas

(Wadell, 1932)

(Power, 1953)

0.12 0.17

Very angular

0.17 0.25

Angular

0.25 0.35

Subangular

0.35 0.49

Subrounded

0.49 0.70

Rounded

0.70 1.00

Well rounded

Roundness butiran pada endapan sedimen ditentukan oleh


komposisi butiran, ukuran butir, proses transportasi clan jarak
transportnya (Boggs, 1987). Butiran dengan sifat fisik keras clan
resisten seperti kuarsa clan zircon lebih sulit membulat selama proses
transport dibandingkan butiran yang kurang keras seperti feldspar dar
piroksen. Butiran dengan ukuran kerikil sampai berangkal biasanya
lebih mudah membulat dibandingkan butiran pasir. Sementara itu
mineral yang resisten dengan ukuran butir lebih kecil 0.05-0.1 mm

tidak menunjukkan perubahan roundness oleh semua jenis transport


sedimen (Boggs, 1987). Berdasarkan hal tersebut, maka perlu
diperhatikan untuk melakukan pengamatan roundness pada batuan atau
mineral yang sama clan kisaran butir yang sama besar.

3.2 Analisa komposisi butir sedimen


Komposisi batuan seperti halnya tekstur dan struktur sedimen merupakan
property mendasar dari batuan sedimen. Pada umumnya dipergunakan istilah
mineralogy untuk merujuk dan mengidentifikasi seluruh partikel atau butiran
dalam batuan. Batuan atau sedimen silisiklastik adalah batuan yang tersusun oleh
detrital yang berasal dari batuan yang telah ada sebelumnya yang tertransportasi
dan terdeposisi melalui proses fisik. Jenis partikel rombakan (detrital) berasal dari
proses disitegrasi fisika-kimia dari batuan asal (parent rock). Sebagian besar
detrital tersebut adlah partikel terrigneous silisiklastik yang di hasilkan oleh
proses pelapukan yang tersusun oleh mineral resisten atau fragmen batuan atau
mineral sekunder seperti mineral lempung dan juga hasil vulkanisme yang
menghasilkan partikel piroklastik dari luar cekungan pengendapan. Beberapa
detrital dapat pula merupakan partikel nonklastik, seperti contohnya fragmen
cangkang atau klastika karbonat yang terbentuk dalam cekungan akibat adanya
gangguan pada masa terumbu oleh gelombang. Jenis partikel rombakan yang
umumnya terdapat pada batuan sedimen silisiklastik ditunjukan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 mineral dan fragmen batuan yang sering hadir pada batuan sedimen
(Boggs, 2006).
Mineral utama (kelimpahan >1-2%)
Mineral stabil (memiliki resistensi yang besar terhadap dekomposisi secara
kimiawi) :
Kuarsa-menyusun sekitar 65% dari keseluruhan butiran pada batupasir dan sekitar
30% pada serpih.
Mineral kurang stabil
Feldspar termasuk K-feldspar (orthoclase, micrroline, sanidine, anorthoclase )
dan plagioklas (albit, oligoklase, andesine, labradorite, bytownite, anorthite),
menyusun sekitar10-15% dari total butiran pada batu pasir dan sekitar 5% pada
serpih.
Mineral lempung dan mika halus mineral lempung termasuk grup kaolin, grup
illite, grup smectite dan grup klorit. Mika halus pada prinsipnya adalah muskovit
(serisit) dan biotit; kelimpahannya sedikit pada batupasir sebagai matrik, namun

menyusun >60% mineral penyusun serpih.


Mineral aksesori (kelimpahan <1-2%)
Mika kasar prinsipnya adalah muskovit dan biotit.
Mineral berat (berat jenis > -2.9)
Mineral stabil non opak zircon, tourmaline, rutile, anatase.
Mineral metastabil non opak amphiboles, pyroxene, chlorites, garnet,
apatite, staurolite, epidote, olivine, sphene, zoisite, clinozoite, topaz, monazite.
Mineral stabil opak hematite, limonite.
Mineral metastabil opak magnetite, ilminite, leucoxene.
Fragmen batuan (menyusun sekiitar 10-15% dari butiran silisiklastik pada
batupasir dan sebagian besar berukuran kerakal pada konglomerat, sedangkan
serpih hanya mengandung sedikit fragmen batuan).
Fragmen batuan beku butiran berbagai macam batuan beku sangat mungkin
dijumpai pada konglomerat, namun demikian fragmen dari batuan vulkanik
berbutir Kristal halus adalah yang paling sering dijumpai pada batuapsir.
Fragmen batuan metamorf dapat tersusun oleh berbagai macam batuan
metamorf, namun demikian klastika metaquarzite, schist, phylite, slate, dan
argillite merupakan yang paling sering hadir dalam batuapasir.
Fragmen batuan sedimen dapat tersusun oleh berbagai macam batuan sedimen
dalam konglomerat, klastika batupasir halus, batu lanau, serpih dan chert
merupakan yang paling umum dijumpai pada batupasir, sedangkan klastika
batugamping jarang dijumpai pada batupasir.
Mineral kimiawi (kelimpahan bervariasi, presipitasi dari larutan di dalam
cekungan).
Silica didominasi oleh kuarsa, dan termasuk didalamnya kuarsa mikro (chert),
opal.
Karbonat didominasi oleh kalsit, dolomite, aragonite, siderite.
Sulfate dan garam anhydrite, gypsum, barite, halit.
Oksida besi hematite, limonite, goethite.
Menurut Folk (1968) kelimpahan butiran (mineral) dalam batuan sedimen
dipengaruhi oleh :

Ketersediaan. Mineral halus hadir dalam jumlah yang melimpah pada


daerah sumber. Tidak aka nada arkose dari hasil erosi batu gamping atau
kerikil chert dari erosi granit. Demikian pula dengan ketidakhadiran
feldspar mungkin bukan karena batuan sesumber terletak pada iklim yang
lembab (tropis) namun dapat juga karena fakta bahwa batuan sesumbernya
merupakan batu pasir yang lebih tua, filit atau sekis.

Daya tahan mekanik (durabilitas mekanik partikel) adalah ketahanan


terhadap abrasi. Ketahanan mekanik dipengaruhi oleh hadir tidaknya
belahan dan juga kekerasan. Abrasi dalam waktu yang panjang tidak akan

terjadi pada mineral yang lunak atau mudah terbelah.


Stabilitas kimiawi partikel. Stabilitas terhadap pelarutan dan pelapukan
selama proses transportasi, deposisi maupun diagenesa. Mineral yang
terbentuk akhir dalam pembentukan batuan beku atau terbentuk pada fase
kristalisasi akhir dimana kondisi suhunya lebih dingin dan lebih hydrous
akan menjadi mineral yang lebih stabil pada batuan sedimen contohnya
adalah mineral kuarsa. Kestabilan mineral tersebut disebabkan oleh
kondisi awal pembentukannya lebih dekat dengan kondisi lingkungan
pengendapan yang relative bersuhu dingin dan basah. Tingkat kestabilan
kimia pada mineral kurang lebih merupakan kebalikan dari seri
pembekuan pada seri reaksi Bowens (Bowens reaction series), namun
kondisi kimiawi secara local dapat mempengaruhi urutannya.

Selain itu factor lain yang dapat berpengaruh adalah :

Iklim : Pelarutan mineral lebih intensif pada daerah dengan iklim yang

bersifat panas dan lembab (humid) dibandingkan dengan daerah arid.


Relief daerah asal batuan sumber : Mineral yang tidak stabil akan tetap
ditemukan di daerah denagn relief tinggi karena selalu ada suplai mineral
dari batuan segar walaupun tingkat pelapukannya tinggi, sedangkan daerah
dengan relief rendah umumnya batuan segarnya sudah tertutup batuan
yang lapuk sehingga hanya mineral yang stabil yang masih tersisa

kemudian tertransport.
Proses sedimentasi : Seperti sistem arus yang membawa partikel, adanya
benturan saat transportasi dan factor hidrolik misalnya berat jenis mineral.

Pemanfaatan informasi komposisi partikel sedimen untuk mengetahui


pengaruh dari factor-faktor tersebut diatas dikenal sebagai studi provenance. Studi

ini adalah studi mengenai asal usul atau kemunculan sedimen (Pettijohn et
al.,1987). Untuk studi provenance umumnya digunakan analisa kehadiran mineral
berat dan mineral ringan. Pada praktikum ini untuk studi provenance
dipergunakan mineral ringan dalam hal ini adalah kuarsa, feldspar, dan fragmen
batuan.
Tipe batuan dan indek kematangan dapat diturunkan dari perbandingan (rasio)
kuarsa / feldspar dan kuarsa / (feldspar + fragmen batuan) atau Q/F dan Q/(F+L)
seperti yang diusulkan oleh Pettijohn (1957) pada table 3.2. serta dengan melihat
contoh aplikasi studi provenance dengan menggunakan rasio Q:F:L adalah seperti
pada gambar 3.1 dan 3.2.
Tabel 3.2. rasio Q/F dan Q/ (F+L) yang menunjukan tipe batuan dan indek
kematangan (Pettijohn, 1957).
Average
Rock Type

Q/F

Q (kuarsa + chert) /
(F+L)

Arkosic sandstone

1.1

1.1

Graywack

2.7

1.2

Lithic sandstone

9.8

2.3

Orthoquarzite
Sandstone

>10.0
5.8

9.6

Dalam menggunakan table rasio Q/F perlu dicatat bahwa rasio tersebut tidak
terlalu sesuai untuk pasir yang berasal dari daerah dengan batuan yang miskin
feldspar. Kurangnya kandungan feldspar akan mengakibatkan tingginya rasio Q/F.
Batuan dengan tingkat kematangan tinggi akan memiliki prosentase kuarsa yang
tinggi seperti pada orthoquarzite (quartzite arenite). Kematangan ini juga akan

berkaitan dengan nilai sortasi dan kebundaran dari partikel (roundness). Semakin
matang maka sortasi semakin baik dan semakin membundar.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Lokasi utama dan pendukung ( Foto, arah sungai, keadaan
system DAS sungai) visual & narasi

4.2 Hasil Granulometri

Hasil (perhitungan dan grafik dari data utama dan data pendukung)
Interpetasi data utama dan data pendukung

4.3 Hasil analisa bentuk butir kerakal

Hasil (perhitungan dan grafik dari data utama dan data pendukung)
Interpetasi data utama dan data pendukung

4.4 Hasil analisa komposisi butir sedimen

Hasil (perhitungan dan grafik dari data utama dan data pendukung)
Interpetasi data utama dan data pendukung

4.5 Interpetasi mekanisme sedimentasi pada system sungai data utama dan
data pendukung

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
5.2 Kritik & Saran

DAFTAR PUSTAKA