Anda di halaman 1dari 7

PACARAN DAN KONSEP DIRI

(Studi pada remaja yang belum berpacaran dan sudah berpacaran)

Kelompok 11:
1. Sonza Rahmanirwana F
2. Muhammad Dani Kusuma
3. Riski Yulianto
Kelas : X IIS 2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Setiap

manusia

dalam kehidupannya

pasti melalui tahap-tahap

perkembangan dari konsepsi sampai kematian. Diantara tahapan-tahapan


tersebut, ada masa remaja yang merupakan suatu periode transisi dari masa awal
anak anak hingga masa awal dewasa. Batasan usia remaja yang umum
digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Monks, Knoers, dan
Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa praremaja 10 12 tahun, masa remaja awal 12 15 tahun, masa remaja
pertengahan 15 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 21 tahun (Deswita,
2006:192) Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah
Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa
peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara
12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu
pematangan fisik, maupun psikologis.
Perkembangan fisik pada masa

remaja

awal

sangat

terlihat.

Perkembangan yang terjadi dikenal dengan istilah pubertas. Yang terjadi saat
perkembangan sosial-emosional adalah remaja mulai berusaha menunjukkan
identitas dirinya, mucul perasaan canggung saat bertemu seseorang, konflik
dengan orangtua meningkat, pengaruh teman sebaya sangat besar, memiliki
perasaan bebas dan tidak mau diatur. Pada masa remaja pertengahan inilah
perkembangan fisik sudah sempurna, sehingga pertumbuhan fisik pada
perempuan melambat, akan tetapi pertumbuhan pada laki-laki terus berlanjut.
Kemampuan berfikir pada masa remaja pertengahan terus meningkat oleh
karena itu, remaja sudah mampu menetapkan sebuah tujuan, tertarik pada hal-hal
yang lebih rasional dan mulai berfikir tentang makna sebuah kehidupan. Di masa
ini, rmaja mulai melibatkan secara intens dalam sebuah kegiatan yang ia
senangi. Body image (cara melihat diri senidri dan membayangkan bagaimana
dirinya terlihat) juga terus berlanjut, remaja semakin ingin jauh dan merasa

bebas dari orangtua, pengaruh dari teman sebaya semakin kuat, selain itu
perasaan cinta dan gairah pada lawan jenis meningkat.
Pada setiap tahap perkembangan remaja selalu ada tugas-tugas atau
sejumlah perilaku yang harus dipenuhi, yang merupakan harapan atau tuntutan
dari orang sekitar. Tugas-tuga sini disebut tugas perkembangan. Salah satu tugas
perkembangan remaja adalah adanya perubahan dari homosocial interest
menjadi heterosocial concern, dimana remaja mulai tertarik dan menaruh
perhatian terhadap lawan jenis (Rice, 1990). Remaja mulai mengalami jatuh
cinta, yang biasa disebut puppy love atau cinta monyet. Puppy love ini biasanya
ditujukan kepada satu orang saja, tetapi sifatnya hanya sementara. Perasaan
tertarik dengan lawan jenis tersebut muncul dalam perilaku berpacaran. Suatu
penelitian tentang remaja di Jakarta, menyebutkan bahwa remaja pria mulai
berpacaran pada usia 15 tahu, sedangkan remaja putri mulai berpacaran pada
usia 15 tahun.
Tertarik dengan lawan jenis pernah dialami oleh hampir setiap orang
merupakan kodrat manusiawi. Untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis,
pasangan remaja akan berusaha lebih mengenal dan terlibat kegiatan bersama
seperti menonton di bioskop, atau sekedar jalan-jalan. Diawal hubungan,
pasangan remaja masih membicarakan hal yang umum dan belum terlalu
pribadi. Selanjutnya jika merasa cocok, pembicaraannya akan berubah ke hal
yang lebih pribadi dan menjalin hubungan yang lebih serius. Menurut Erickson
(dalam Santrock, 2003) pengalaman romantis pada masa remaja dipercaya
memainkan peran yang penting dalam perkembangan identitas dan keakraban.
Dalam hubungan berpacaran pasangan akan berusaha untuk menghabiskan
waktu bersama, saling mempercayai dan keintiman semakin meningkat (Delora,
dalam

Grinder,

1978).

Dalam

pacaran

yang

serius,

masing-masing

membandingkan kebiasaan dan pengharapannya, mencari kesesuaian dalam


kepribadiannya, kesamaan dalam kepercayaan (belief) dan penilaian (value),
meningkatkan rasa saling percaya, menunjukkan kesetiaan, penerimaan dan
pernghargaan, serta saling memberi dorongan (Sterling, 1992, dalam
Benokraitis, 1996).
Ada beberapa alasan yang mendorong remaja berpacaran seperti untuk
bersenang-senang, mencari status, belajar bersosialisasi, memilih pasangan

hidup, mendapatkan persahabatan, memperoleh keintiman atau kedekatan.


Selain alasan-alasan diatas, ternyata masih ada kemungkinan alasan yang lain
seperti konformitas, atau berpacaran karena konform dengan teman-teman.
Jersild et.al (1978) mengemukakan bahwa tingkah laku remaja dalam berpacaran
antara lain adalah mengobrol, mengunjungi tempat-tempat hiburan dan pada
umumnya melibatkan kontak fisik dari sekedar berpegangan tangan hingga
hubungan intim.
Roscoe, Diana dan Brooks (dalam Rodrigues, 1993), dari hasil
penelitiannya menemukan bahwa remaja pada tingkat perkembangan yang
berbeda (remaja awal, pertengahan dan remaja akhir) memiliki alasan yang
berbeda dalam berpacaran. Remaja awal dan pertengahan lebih berorientasi
egosentris dan kesenangan langsung, mereka berpacaran dengan tujuan untuk
mendapatkan kesenangan, keintiman dan terutama status.
Long, 1989 (dalam Rodrigues, 1993) mengatakan bahwa keterlibatan
dengan lawan jenis atau berpacaran, khususnya pada remaja putri, memberikan
kepuasan sosial. Kepuasan ini dapat meningkatkan self respect. Jadi adanya
keterlibatan dengan lawan jenis atau pacaran mempengaruhi evaluasi diri yang
favorable. Menurut Sprinthall (1995), meningkatnya kemampuan untuk
membina suatu hubungan menunjukkan kematangan kognitif remaja, dan
perubahan ini dapat mempengaruhi konsep diri mereka, meskipun hanya
sementara. Demikian sebaliknya, bila remaja tidak punya pacar hal ini dapat
menyebabkan hilangnya harga diri (self esteem) yang berdampak pada konsep
dirinya. menurut Burns (1993:vi), konsep diri adalah suatu gambaran campuran
dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita,
dan seperti apa diri kita yang kita inginkan.
Sesuai dengan tugas perkembangannya, usia remaja pertengahan
umumnya telah memiliki pacar. Pacaran merupakan suatu periode yang cukup
penting bagi remaja, salah satunya adalah sebagai usaha untuk menyeleksi atau
memilih pasangan hidup yang tepat. Pacaran juga dapat meningkatkan
kemampuan bergaul dengan lawan jenis. Hal ini menunjukkan kematangan
kognitif remaja yang mempengaruhi konsep dirinya. Konsep diri berperan
penting dalam mengarahkan interaksi seseorang dengan lingkungannya dan

secara timbal balik pengalaman seseorang dengan lingkungannya mempengaruhi


pembentukan konsep diri remaja tersebut.
Penulis memilih tema ini karena dengan melihat kemampuan remaja
untuk berinteraksi dengan lawan jenis yang mempengaruhi konsep dirinya,
penulis ingin mengetahui perbedaan konsep diri remaja yang sudah berpacaran
dengan remaja yang belum berpacaran.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, dari sini akan timbul pertanyaan:
1. Apakah perbedaan antara konsep diri remaja yang berpacaran dengan
yang belum berpacaran?
2. Pengaruh pacaran atau tidak berpacaran terhadap kepercayaan diri
remaja?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai adanya
perbedaan konsep diri (remaja pertengahan) yang sudah berpacaran dan yang
belum berpacaran.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian ini dikutip dari skripsi Pacaran dan Konsep Diri Remaja
(Studi pada remaja akhir yanng sudah berpacaran dengan yang belum
berpacaran) yang ditulis oleh Yulia Naelufara dari Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna
antara penilaian konsep diri remaja yang sudah berpacaran dengan yang belum
berpacaran. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Long (dalam
Rodrigues, 1993) yang mengatakan bahwa remaja memiliki pacar ditemukakan
memiliki konsep diri dan realisasi diri (self realization) yang tinggi, karena pacar
dapat berperan sebagai orang yang membantu pencapaian realisasi diri dan
meningkatkan konsep diri remaja.

BAB III
ISI
Dilihat dari wawancara terhadap beberapa remaja, alasan remaja
berpacaran adalah karena rasa puppy love dan rasa penasaran dengan kata
pacaran. Tetapi setelah bertambahnya umur, alasan remaja tersebut berpacaran
adalah untuk mencari seseorang yang bisa diajak berbagi, baik senang maupun
sedih.
Pertama pacaran itu kelas 8 SMP, awalnya karena nyoba-nyoba terus
juga karena emang perasaan suka sama suka. Kalo sekarang pacaran karena
pacar itu bisa dijadiin tempat curhat kalo lagi ada masalah. Pacaran juga
gamempengaruhi tingkat kepercayaan diri gue. Ya punya atau engga punya
pacar tingkat kepercayaan diri gue bakalan sama. Gue tetep pede di depan
publik
Pacaran buat gue itu ya kalo misalnya gue kesepian, gue jadi punya
temen baik yang bisa nemenin gue. Pacar juga bisa gue ajak sharing. Jujur aja
setelah pacaran, kepribadian gue ini jadi mulai teratur dan gue jadi mulai lebih
dewasa. Dan karena pacaran juga, gue merasa ada yang dukung gue buat
sesuatu hal yang lebih baik. Terus kalo masalah kepercayaan diri, tingkat
kepercayaan diri gue tetep stabil dan gadipengaruhi sama hubungan pacaran.