Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN EKSPERIMEN FISIKA II

SERAPAN SINAR RADIOAKTIF

Oleh :
Kelompok III
Nining Aprila (F1B1 14 014)
Nisa Ul Muminin (F1B1 14 015)
Nurjanna Bolu (F1B1 14 016)
Pande Putu Ardiani (F1B1 14 017)
Rian Julianto (F1B1 14 018)
Sri Rahayu (F1B1 14 019)
Sri Sutriani (F1B1 14 020)

PROGRAM STUDI FISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

EKSPERIMEN V
SERAPAN SINAR RADIOAKTIF
A. TUJUAN
Tujuan dari eksperimen Serapan Sinar Radioaktif adalah sebagai
berikut :
1. Praktikan dapat menjelaskan prinsip kerja Geiger Muller Counter (GM).
2. Praktikan dapat menentukan daerah Plateau Geiger Muller
3. Praktikan dapat menentukan konstanta serapan sinar radioaktif suatu
bahan.
B. LANDASAN TEORI
Unsur atau zat radioaktif adalah unsur atau zat yang inti atomnya tidak
stabil. Inti atom yang tidak stabil disebut radionuklida. Suatu unsur dikatakan
tidak stabil jika jumlah proton tidak sama dengan jumlah elektronnya. Menurut
Ernest Rutherford, inti atom yang tidak stabil akan cenderung mengalami
peluruhan radioaktif. Seiring dengan proses peluruhan, dari inti atom akan
terpancar cahaya dan partikel-partikel kecil dengan kecepatan tinggi yang
menyebar ke segala arah. Penelitian yang dilakukan dengan memanfaatkan
medan magnet berhasil menunjukkan adanya tiga jenis radiasi nuklir yaitu sinar
alfa, beta, dan gamma. Semua inti atom yang tidak stabil akan memancarkan
salah satu atau lebih dari ketiga jenis radiasi yang ada. Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan, diketahui bahwa sinar alfa merupakan inti Helium, sinar
beta merupakan elektron, dan sinar gamma adalah radiasi elektromagnetik
dengan

frekuensi

lebih

tinggi

dari

sinar

X.

(http://bahanbelajarsekolah.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-dan-sifat-radiasizat-radioaktif.html)
Sinar radioaktif yang dipancarkan oleh unsur radioaktif ada tiga jenis, yaitu
sebagai berikut :
1. Sinar Alfa () Sinar alfa merupakan sinar radiasi yang terdiri dari partikelpartikel bermuatan positif +2 dan massa atomnya 4. Karena muatan dan

massa atom yang sama, sinar alfa disamakan dengan inti Helium. Massa
partikel alfa adalah 6,643 x 10-27 kg.
2. Sinar Beta () Sinar beta adalah berkas sinar yang terdiri dari dari partikelpartikel yang bermuatan negatif yang identik dengan elektron. Partikel beta
memiliki massa sebesar 9,1 x 10-31 kg .
3. Sinar gamma merupakan radiasi elektromagnetik tidak bermuatan yang
dipancarkan oleh inti yang berada dalam kondisi energetik. Kecepatan sinar
gamma sama dengan kecepatan cahaya
(http://fredrico-mangatas.blogspot.co.id/2012/06/unsur-radioaktif.html).
Koefisien serapan sinar gamma merupakan suatu konstanta pembanding
yang menghubungkan antara besarnya intensitas sumber radioaktif yang terserap
dengan ketebalan suatu bahan penyerap. Besarnya koefisien serapan sinar gamma
dapat

ditentukan

dengan

mencacah

intensitas

sumber

radioaktif

yang

memancarkan sinar gamma dengan detektor Geiger-Muller. Untuk mendapat


cacahan yang murni dari sinar gamma, maka dalam percobaan perlu dicari cacah
latar terlebih dahulu. Setelah cacahan latar ini diperoleh maka cacahan latar ini
nantinya digunakan untuk mengurangi dari jumlah cacahan atau intensitas yang
diperoleh,

maksudnya

bahwa

intensitas

sebenarnya

yang dapat

dipakai

dalam perhitungan adalah intensitas yang dihasilkan oleh isotop tanpa bahan
penyerap ataupun isotop dengan bahan penyerap dikurangi dengan intensitas dari
cacah latar. Hal ini dikarenakan bahwa di alam sekitar terdapat unsur-unsur
radioaktif yang dapat terdeteksi oleh detektor.Jika bahan penyerap yang berupa
lempengan timbal diletakkan diantara sumber sinar gamma dan detektor, maka
intensitas yang terbaca pada alat akan berkurang karena sebagian intensitas
terserap oleh lempeng timbal. Dapat dikatakan bahwa harga intensitas radiasi
menurun secara ekponensial terhadap ketebalan bahan penyerap sinar gamma
yang mempunyai tenaga tinggi akan menghasilkan pulsa yang tinggi sedangkan
sinar gamma bertenaga rendah akan menghasilkan pulsa yang rendah pula. Di lain
pihak intensitas sinar gamma yang terdeteksi mempengaruhi cacah elektron yang
dibebaskan.(http://www.slideshare.net/anniskenny/laporan-lengkap-geiger-mullerkelompok-1-15527659).

Detektor atau pencacah untuk mendeteksi radiasi

, dan

diciptakan oleh Geiger-Muller, peneliti dari Jerman Barat pada tahun 1928.
Detektor GM berbeda dengan detektor proporsional dalam beberapa hal. Proses
penggandaan ionisasi (avalanche) tidak hanya terjadi di dekat anoda saja
melainkan hampir di seluruh ruangan. Selain itu avalanche juga disebabkan oleh
Efek fotolistrik akibat eksitasi atom-atom molekul isian gas. Dengan demikian
penggandaan ionisasi cepat menjalar ke seluruh isi tabung detektor dan berkelanjutan. Hal ini mengakibatkan tinggi pulsa hanya dibatasi oleh pemadaman
mendadak (quenching), misalnya karena terjadinya awan ion yang menebal
sehingga kuat medan listrik turun drastis. Dengan demikian tinggi pulsa tidak lagi
bergantung pada tenaga radiasi partikel pengion, sehingga cocok untuk
pencacahan radiasi partikel beta ( ). Seperti terlihat dalam gambar 5.1,
detektor Geiger terdiri dari sebuah silinder logam dan sebuah kawat di sepanjang
sumbunya.

Gambar 5.1. Diagram skema detektor Geiger Muller.


(Arya, 2006).
Apabila ke dalam tabung masuk zarah radiasi maka radiasi akan
mengionisasi gas isian. Banyaknya pasangan eleklron-ion yang lerjadi pada
deleklor Geiger-Muller tidak sebanding dengan tenaga zarah radiasi yang datang.
Hasil ionisasi ini disebut elektron primer. Karena antara anode dan katode
diberikan beda tegangan maka akan timbul medan listrik di antara kedua eleklrode
tersebut. Ion positif akan bergerak ke arah dinding tabung (katoda) dengan
kecepatan yang relative lebih lambat bila dibandingkan dengan elektron-elektron
yang bergerak ke arah anoda (+) dengan cepat. Kecepatan geraknya tergantung

pada besarnya tegangan V. Sedangkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk


membentuk elektron dan ion tergantung pada macam gas yang digunakan. Dengan
tenaga yang relatif tinggi maka elektron akan mampu mengionisasi atom-atom
sekitarnya. sehingga menimbulkan pasangan elektron-ion sekunder. Pasangan
elektron-ion sekunder ini pun masih dapat menimbulkan pasangan elektron-ion
tersier dan seterusnya, sehingga akan terjadi lucutan yang terus-menerus
(avalence). Jika tegangan V dinaikkan lebih tinggi lagi maka peristiwa pelucutan
elektron sekunder atau avalanche makin besar dan elektron sekunder yang
terbentuk makin banyak. Akibatnya, anoda diselubungi serta dilindungi oleh
muatan negative elektron, sehingga peristiwa ionisasi akan terhenti. Karena gerak
ion positif ke dinding tabung (katoda) lambat, maka ion-ion ini dapat membentuk
semacam lapisan pelindung positif pada permukaan dinding tabung. Keadaan
yang demikian tersebut dinamakan efek muatan ruang atau space charge effect.
Tegangan yang menimbulkan efek muatan ruang adalah tegangan
maksimum yang membatasi berkumpulnya elektron-elektron pada anoda. Dalam
keadaan seperti ini detektor tidak peka lagi terhadap datangnya zarah radiasi. Oleh
karena itu efek muatan ruang harus dihindari dengan menambah tegangan V.
penambahan tegangan V dimaksudkan supaya terjadi pelepasan muatan pada
anoda sehingga detektor dapat bekerja normal kembali. Pelepasan muatan dapat
terjadi karena elektron mendapat tambahan tenaga kinetic akibat penambahan
tegangan V. Apabila tegangan dinaikkan terus menerus, pelucutan alektron yang
terjadi semakin banyak. Pada suatu tegangan tertentu peristiwa avalanche elektron
sekunder tidak bergantung lagi oleh jenis radiasi maupun energi (tenaga) radiasi
yang datang. Maka dari itu pulsa yang dihasilkan mempunyai tinggi yang sama
sehingga detektor Geiger muller tidak bisa digunakan untuk mengitung energi dari
zarah radiasi yang datang.
Tegangan diberikan antara anoda dan katoda diatur sesuai dengan jenis gas
dan aktivitas unsur yang diukur. Tegangan ini harus lebih tinggi daripada nilai
ambang, yang didasarkan pada gas dan geometri tabung. Partikel-partikel radiasi
akan menembus jendela tipis pada salah satu ujung detektor dan masuk ke

dalamnya. Partikel radioaktif ini lalu menumbuk atom-atom gas sehingga atomatom gas akan mengeluarkan elektron-elektron. Elektron yang terlepas saat
tumbukan itu ditarik ke anoda. Karena melepaskan elektron, atom-atom gas
berubah menjadi ion-ion positif. Ion-ion ini kemudian tertarik ke arah katoda.
Peristiwa ini berlangsung dalam waktu singkat. Jadi bila ada radiasi yang masuk
ke dalam tabung tersebut, maka terjadilah ionisasi atom-atom atau molekulmolekul gas dalam tabung itu. Ion positif akan bergerak ke katoda sedangkan ion
negatif akan bergerak ke anoda.

Detektor Geiger Muller hanya mendeteksi

partikel bermuatan, karena foton tidak bermuatan dan karena tidak menghasilkan
ion di dalam gas, maka tidak dideteksi. Efisiensi detektor Geiger sebesar 99%
untuk elektron (beta), tetapi kurang dari 1% untuk sinar X atau sinar gamma.
Bagaimanapun, efisiensi untuk mendeteksi sinar X dan gamma rendah (Azam,
2007).
Daerah tegangan operasi detektor Geiger Mueller disebut daerah plateau.
Pada daerah plateau ini kenaikan tegangan antara anoda dan katoda pada tabung
detektor hampir tidak mempengaruhi jumlah cacah yang dihasilkan. Panjang
daerah plateau detektor Geiger Mueller mulai dari tegangan ambang sampai pada
batas permulaan tegangan menyebabkan terjadinya lucutan yang terkendali.
Panjang daerah plateau detektor Geiger Mueller adalah antara 50 sampai 300 Volt
. Kurva daerah tegangan kerja (plateau) daridetektor Geiger Muller ditunjukkan
pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2. Kurva daerah tegangan kerja detektor GM


(Irianto, 2010)

Keterangan :
A = tegangan awal (starting Voltage),
B = tegangan ambang (threshold Voltage),
C = tegangan batas, dimana mulai timbul lucutan yang tak terkendali.
B-C = daerah tegangan kerja (plateau)
D = seting tegangan operasi detektor Geiger Muller
Berdasarkan kurva hubungan tegangan operasi terhadap jumlah cacah,
maka panjang
daerah tegangan kerja (plateau) dapat dihitungdengan persamaan :
Panjang plateau = V2 V1

(5.1)

dengan V1 adalah tegangan ambang (threshold Voltage),V2 tegangan ambang


mulai lucutan (break down discharge).Dalam pengoperasian detektor Geiger
Mueller diberi tegangan pada tengah daerah plateau. Kemiringan daerah plateau
juga perlu diketahui untuk melihat keandalan detektor Geiger Mueller disebut
slope. Detektor Geiger Mueller dikatakan baik bila mempunyai daerah plateau
yang panjangdan slope yang kecil. Besarnya slope dinyatakandalam % per 100
Volt yang dapat ditentukan dengan
persamaan.

( N 2N 1 )
N1
X 100
V 2V 1

100
slope=

(5.2)

dengan N1 adalah jumlah cacah per satuan waktu pada tegangan V1, N2 jumlah
cacah per satuan waktu pada tegangan V2, V1 besar tegangan 1, V2 besar
tegangan 2 (Irianto, 2010).

D. ANALISIS DATA
1. Hubungan antara V (beda potensial) dan pencacahan Geiger Muller (GM)
Grafik Hubungan antara V (Beda Potensial) dan GM (Pencacahan Geiger Muller)
1.2

f(x) = 0x - 0.38
Hubungan antara
R = 0.53
V(volt) dan cacahan
f(x) = 0x + 0.92 GM (count)
R = 0.19
Linear (Hubungan
antara V(volt) dan
cacahan GM (count))

1
0.8
Cacahan (Count)

0.6
0.4

Daerah Plateau

0.2
0
200300400500600700

Linear (Daerah
Plateau)

Tegangan (volt)

Grafik. 5.1Hubungan antara V (Beda Potensial) dan GM (Pencacahan


Geiger Muller)
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat daerah plateau diperoleh pada
tegangan 440 volt sampai 560 volt.
V 1 + V2
V = 2
440 + 560
= 2
= 500 Volt

R2 - R 1
R1
Slope Plateau =
(V2 - V 1 )
100

100 %

0,95-0,94
0,94
100 %
(560-440 )

100
=

100
120

0,01
0,94

100 %

100 0,010638298 100

= 120 (100 V)
100
`

106,3829800 1

= 120
100 V 100
= 0,8865248 / 100 V
= 0,00008865248
= 8,865248 10-5

Grafik Daerah Plateau


1
0.8

f(x) = 0x + 0.92
R = 0.19

0.6
Cacahan (Count) 0.4
0.2
0
400450500550600
Tegangan (Volt)

Grafik 5.2 Daerah Plateau

2. Perhitungan Konstanta Serapan


a. Bahan keramik/Tegel
Ketebalan bahan penyerap (x) = 0,5 cm = 5 mm
Cacahan Latar = 0,1 S-1
No = 1,2 S-1
N O ' = No Cl
= 1,2 0,1
= 1,1

Slope Plateau
Linear (Slope Plateau)

N'

= NN Cl

= 0,4 0,1
= 0,3
N / t N CL
=
=ex
N 0 / t N 0CL
ln
ln

ln

N'
=x
N 0'

0,3
=1,29928298
1,1

N'
=x
N0 '
ln

0,3
=1,29928298
1,1

Dengan cara yang sama untuk data selanjutnya dapat dilihat pada tabel
berikut:
No X (mm) N'
Ln (N'/No')
1
5
0,3
-1,29928298
2
10
0,28
-1,36827586
3
15
0,26
-1,44238383

-Ln(N/N0)
1,299282984
1,368275856
1,442383828

b. Bahan Kardus
Ketebalan bahan penyerap (x) = 0,5 cm = 5 mm
Cacahan Latar = 0,1 S-1
No = 1,2 S-1
N O ' = No Cl
= 1,2 0,1
= 1,1
'
N = NN Cl
= 0,62 0,1
= 0,52
N / t N CL
=
=ex
N 0 / t N 0CL
ln

N'
=x
N 0'

ln

0,52
=0,749236647
1,1

ln

N'
=x
N0 '

ln

0,52
=0,749236647
1,1

Dengan cara yang sama untuk data selanjutnya dapat dilihat pada tabel
berikut:
N
o

X (mm)

10

15

N'
0,5
2
0,4
4
0,1
8

Ln (N/N0)

- Ln (N/N0)

-0,74923665

0,749236647

-0,91629073

0,916290732

-1,81010861

1,810108608

Grafik hubungan antara X (mm) dengan -Ln(N'/No')


2
f(x) = 0.11x + 0.1
R ==0.86
f(x)
0.01x + 1.23
R = 1

1.5

-Ln(N'/No')

Konstanta Serapan
bahan keramik/tegel
Linear (Konstanta
Serapan bahan
keramik/tegel)
Konstanta Serapan
bahan kardus

0.5
0
4

8 10 12 14 16

Linear (Konstanta
Serapan bahan kardus)

X (mm)

Grafik 5.3 Hubungan antara X (mm) dengan -Ln(N'/No')

E. PEMBAHASAN
Percobaan serapan sinar radioaktif secara umum bertujuan untuk
mengetahui prinsip kerja Geiger Muller Counter, menentukan daerah plateau
Geiger Muller, dan untuk menentukan konstanta serapan sinar radioaktif suatu
bahan. Unsur radioaktif adalah unsur yang secara spontan memancarkan radiasi.
Radiasi dapat dideteksi dengan pencacah atau detektor Geiger Muller. Dinding
tabung detektor sebelah dalam dilapisi logam yang berfungsi sebagai katoda, dan
kawat ditengah tabung berfungsi sebagai anoda. Bila beda potensial antara kedua
elektroda dinaikkan, maka jumlah ion yang masuk ke dalam elektroda juga akan
semakin banyak sehingga pulsa listrik atau arus yang terbentuk akan bertambah
atau tetap. Jumlah molekul molekul yang terionisasi oleh partikel radiasi sama
dengan jumlah ion yang terbentuk (daerah ionisasi) terjadinya ionisasi sekunder
dan multiplikasi (daerah proposional) dan daerah Geiger Muller yang juga disebut
daerah plateau. Pada gambar 5.2 dapat dilihat daerah plateau yaitu daerah dimana
nilai cacahan konstan dengan pertambahan tegangan. Serapan sinar radioaktif
terhadap suatu bahan bergantung pada jenis bahan.Besarnya koefisien serapan
sinar radioaktif dapat ditentukan dengan mencacah intensitas sumber radioaktif
yang memancarkan sinar gamma, jika bahan penyerap yang berupa lempengan
timbal diletakkan diantara sumber sinar gamma dan detektor, maka intensitas
yang terbaca pada alat akan berkurang karena sebagian intensitas terserapoleh
lempeng timbal.
Percobaan pertama yang dilakukan yaitu mengamati jumlah cacahan untuk
setiap kenaikan tegangan sebesar 20 volt, nilai cacahan akhir yang diperoleh
adalah hasil rata-rata dari cacahan yang terbaca setiap 10 detik untuk 10 kali
pengamblan data pada satu kenaikan beda potensial. Berdasarkan data yang
diperoleh, dapat dianalisis nilai cacahan yang hampir konstan dengan
pertambahan tegangan. Data dengan nilai cacahan yang hampirr konstan
disimpulkan sebagai Slope Plateau, besar slope plateau yang diperoleh dari hasil
perhitungan analisis data yaitu sebesar 0,0000886524. Nilai gradien dari Grafik
5.2 menunjukan nilai slope plateau yaitu sebesar 0,00005 sehingga selisih nilai

slope plateau dari hasil perhitungan dengan nilai gradien grafik hanya memiliki
selisih sekitar 0,0000386524.
Percobaan kedua yakni pengukuran serapan antar kedua bahan yang berbeda
jenis. Bahan tersebut adalah kepingan tegel dan kepingan kardus. Setelah
dilakukan perhitungan pada analisis data, kemudian dibuatlah suatu hubungan
antara ketebalan masing-masing bahan terhadap intensitas cacahan radioaktif,
didapatkan suatu nilai konstanta absorbsi () . nilai pada tegel adalah sebesar
0.0143 sedangkan nilai pada kardus yakni 0,1061. Nilai untuk masing-masing
bahan berbeda-berbeda. perbedaan ini sangat di tentukan oleh nomor atom dan
juga pada radiasinya. Karena perbedaan konstanta absorbsi pada kedua bahan ini
menyebabkan intensitas radiasi juga berbeda. Menurut kajian teori, didapatkan
hubungan bahwa setiap peningkatan nilai konstanta absorbsi () maka akan
meningkatkan nilai dari intensitas radiasi suatu radioaktif. Dengan teori tersebut,
dapat di tarik suatu simpulan bahwa kecil nya nilai konstanta absorbsi pada tegel,
juga menyebabkan radiasi yang dilewatkan pada tegel tersebut semakin
berkurang. Jadi, dengan istilah yang lebih sederhana menyatakan tegel memiliki
daya serap radiasi yang lebih besar dibandingkan dengan kardus.

F. KESIMPULAN
Kesimpulan dari eksperimen ini adalah sebagai berikut :
1. Detektor Geiger-Muller merupakan salah satu detektor yang berisi gas.
Detektor Geiger-Muller bekerja dengan cara mengukur perubahan yang
disebabkan oleh penyerapan energi radiasi oleh medium penyerap.
terdapat banyak mekanisme yang terjadi di dalam detektor tetapi yang
sering digunakan adalah proses ionisasi dan proses sintilasi. Prinsip kerja
detektor Geiger-Muller pada umumnya didasarkan pada interaksi zarah
radiasi terhadap detektor (sensor) yang sedemikian rupa sehingga
tanggapan (respon) dari alat akan sebanding dengan efek radiasi atau
sebanding dengan sifat radiasi yang diukur.
2. Penentuan daerah plateau dilakukan dengan cara melihat grafik yang telah
dibuat kemudian melakukan operasi pengurangan antara nilai tegangan
ambang mulai lucutan (break down discharge) terhadap nilai tegangan
ambang (threshold Voltage).
3. Cara menentukan nilai konstanta absorbsi () suatu bahan pada percobaan
ini yakni dengan penganalisaan grafik hubungan intensitas cacahan sinar
terhadap ketebalan suatu bahan penyerap. Atau dengan cara lain

menggunakan hubungan intensitas radiasi terhadap perkalian antara


intensitas mula-mula dan nilai eksponensial dari mines koefisien absorbsi
dikalikan dengan ketebalan bahan uji.

G. TUGAS
1. Apakah arti nilai koefisien serapan pada suatu bahan ?
2. Apakah arti nilai gradien grafik yang Anda buat pada prosedur eksperimen?
3. Mengapa tegangan detektor hatus terus diperbesar hingga diperoleh daerah
Plateau sebelum detektor dapat dipergunakan untuk mendekteksi partikel
radioaktif ? Jelaskan !
Jawab:
1. Arti nilai koefisien serapan pada suatu bahan merupakan pembanding
yang menghubungkan antara besarnya intensitas sumber radioaktif yang
terserap dengan ketebalan suatu bahan penyerap. Koefisien serapan yang
dimaksud adalah sinar radioaktif. Dimana besarnya koefisien serapan
sinar radioaktif dapat ditentukan dengan mencacah intensitas sumber
radioaktif yang memancarkan sinar gamma dengan detektor GeigerMuller.
2. Arti nilai gradient grafik yang ada pada prosedur eksperimen adalah
untuk menunjukkan nilai slope Plateaunya.
3. Karena dengan adanya tegangan detektor yang diperbesar maka, untuk
mencari wilayah tegangan kerja, dimana nilai cacahan hampir konstan
dengan tegangan yang terus diperbesar tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Arya Wisnu Wardhana. Cara Menentukan Karakteristik Tabung G.M. Dan Metoda
Statistik

Pencacahan.

Jurnal

Pusat

Penelitian

Bahan

Murnidan

Instrumentasi Yogyakarta. Volume 2.Nomor 1. Oktober 2006.


Azam. M,dkk. Penentuan Efisiensi Beta Terhadap Gamma Pada Detektor Geiger
Muller. Jurnal Sains & Matematika (JSM). Volume 15, Nomor 2, April
2007.
Irianto, Sayono, Wiwien Andriyanti. Efek Material Katode Terhadap Karakteristik
Detektor Geiger Mueller Tipe Jendela Samping. JurnalTeknologi
Akselerator dan Proses Bahan, Badan Tenaga Nuklir Nasional. Volume 2.
Nomor 1.20 Juli 2010.
http://bahanbelajarsekolah.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-dan-sifat-radiasizat-radioaktif.html
http://fredrico-mangatas.blogspot.co.id/2012/06/unsur-radioaktif.html
http://www.slideshare.net/anniskenny/laporan-lengkap-geiger-muller-kelompok-115527659