Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

JENIS PROBLEM PRODUKSI DI RESERVOIR KARBONAT


4.1. Jenis dan identifikasi problem produksi
4.1.1. Problem Scale
Scale merupakan kristalisasi dan pengendapan mineral yang berasal dari
hasil reaksi ion-ion yang terkandung dalam air formasi. Pengendapan dapat terjadi
di dalam pori-pori batuan formasi, lubang sumur bahkan peralatan permukaan.
1. Penyebab terbentuknya endapan Scale antara lain :
a. Bercampurnya dua Jenis Air Yang Berbeda
Dua jenis air yang sebenarnya tidak mempunyai kecenderungan untuk
membentuk scale, bila bercampur kemungkinan membentuk suatu komponen
yang tidak larut. Contoh yang umum adalah pencampuran antara air injeksi
dengan air formasi di bawah sumur, dimana yang satu mempunyai kelarutan
garam-garam Barium yang tinggi, sedangkan yang lainnya mengandung larutan
sulfate.
Pencampuran ini akan mengakibatkan pembentukan endapan barium
sulfate (BaSo4) yang dapat menyumbat dan sulit untuk dibersihkan. Endapan
carbonate dan sulfate akan menjadi lebih keras dan makin bertambah apabila
larutan mineralnya dalam keadaan bersentuhan (kontak) dengan permukaan dalam
waktu yang lama.
b. Penurunan Tekanan
Pada saat air formasi mengalir dari reservoir menuju lubang sumur, maka
akan terjadi penurunan tekanan. Penurunan tekanan ini dapat pula terjadi dari
dasar sumur ke permukaan dari well head ke tanki pengumpul. Penurunan tekanan
ini akan menyebabkan terlepasnya CO2 dan ion bikarbonat (HCO3) dari larutan.
Dengan

terbebaskannya

gas

CO2,

sehingga

akan

menyebabkan

berkurangnya kelarutan CaCO3. Hal ini berarti penurunan tekanan pada suatu

sistem akan menyebabkan meningkatnya kemungkinan terbentuknya scale


CaCO3.
c. Perubahan Temperatur
Pada saat terjadi perubahan (kenaikan) temperatur, maka akan terjadi
penguapan, sehingga terjadi perubahan kelarutan, dan hal ini akan mengakibatkan
terjadinya

pembentukan

scale.

Temperatur

mempunyai

pengaruh

pada

pembentukan semua tipe scale, karena kelarutan suatu senyawa kimia sangat
tergantung pada temperatur. Misalnya kelarutan CaCO3 akan berkurang dengan
kenaikan temperatur dan kemungkinan terbentuknya scale CaCO3 semakin besar.
2. Mekanisme Terbentuknya Scale
a.

Makin besar pH.


Makin besar pH cairan, makan akan mempercepat terbentuknya scale. Scale
biasanya terbentuk pada kondisi basa (pH > 7)

b.

Terjadinya agitasi (pengadukan)


Pengadukan atau goncangan akan mempercepat terbentuknya endapan scale.
Scale biasanya terbentuk pada tempat dimana faktor turbulensi besar, seperti
sambungan pipa, valve dan daerah-daerah penyempitan aliran.

c.

Kelarutan zat padat


Kelarutan zat padat yang dikandung oleh air sangat berperan dalam
pembentukan scale, sebab bila kelarutan zat padat rendah atau kecil, maka
kemungkinan untuk terbentuknya scale akan semakin besar.

3. Jenis-jenis scale yang terjadi antara lain :

Scale Calcium Sulfate (CaSO4)


Scale Calcium Sulfate terbentuk dari reaksi ion calcium dan ion sulfat
reaksinya sebagai berikut :
Ca++ + SO4=

CaSO4

Scale Barium Sulfate (BaSO4)


Scale Barium Sulfate dibentuk oleh kombinasi ion Ba++ dan ion SO4=
dengan reaksi sebagai berikut :
Ba++ + SO4=

BaSO4

Scale Kalsium Karbonate (CaCO3)

Scale ini terbentuk dari kombinasi ion kalsium dan ion karbonat atau
bicarbonate, sesuai dengan reaksi :
Ca++ + CO3=

CaCO3

Ca++ + 2(HCO3)

CaCO3 + CO2 + H2O

Perubahan kesetimbangan kimia ini menyebabkan terbentuknya scale yang


dapat menghambat atau menutup pori-pori batuan.
4.a. Identifikasi Problem Scale (CaCO3)
Untuk menentukan kemungkinan terbentuknya scale dapat digunakan
beberapa metode perhitungan, yaitu dengan menentukan nilai Stability Index atau
Scaling Index. Metode yang digunakan adalah Metode Stiff dan Davis.
Metode ini menggunakan parameter ionic strength atau biasa disebut
dengan kekuatan ion () sebagai koreksi terhadap total konsentrasi garam dan
temperatur. Stiff dan Davis menggunakan persamaan berikut :
SI

= pH pHs ..

(4-1)

pHs

= K + pCa + pAlk

(4-2)

Jika persamaan 4-2 disubstitusikan ke Persamaan 4-1, maka akan


dihasilkan persamaan sebagai berikut :
SI

= pH K + pCa + pAlk ...

(4-3)

Dimana :
SI

= indeks stabilitas scale

pH

= pH air sebenarnya

pHs = nilai pH dimana air akan tersaturasi dengan CaCO3


K

= konstanta, fungsi dari kadar garam, konsentrasi dan temperatur


I

pCa = log

..

(4-4)

(4-5)

molCa+2/ liter
1
pAlk = log
totalequivalenalkalinitas

Harga pCa dan pAlk selain dari grafik dapat pula dengan menggunakan
persamaan berikut :
pCa = 4,5997 0,4327 ln (Ca+2).......................... (4-6)
pAlk = 4,8139 0,4375 in (CO3 + HCO3) ............ (4-7)
Total alkanitas = (CO2=) + (HCO3-)

(4-8)

Dalam membuat perhitungan daya larut CaCO3 menurut metode ini harus
diketahui pH, temperatur air dan konsentrasi ion-ion, Na+, Ca+2, Mg+2, Cl-, CO3-2,
HCO3-, dan SO4-2.
Untuk mengetahui harga K dapat diperoleh dari Gambar 4.1 mengenai
korelasi antara ionic strength dan K pada temperatur yang berbeda-beda. Dan
harga pCa dan pAlk dapat ditentukan dari Gambar 4.2.

Gambar 4.1.Harga Konstanta K pada Berbagai Temperatur5)


Jika nilai SI yang diperoleh berharga negatif, maka air cenderung
menimbulkan scale, sementara jika berharga negatif maka air berada dibawah

saturasi CaCO3 dan tidak akan berbentuk scale, tetapi akan bersifat korosif.
Adanya garam yang berbeda-beda akan mempengaruhi harga K yang diperoleh.
Dalam air tawar, efek ini dapat diabaikan, tetapi dalam air formasi haruslah
diperhitungkan karena hal ini dapat mempengaruhi hasil perhitungan.
Untuk menanggulangi perolehan data yang kurang akurat maka dilakukan
koreksi dengan mensubstitusikan harga tenaga ion atau ionic strength dengan
menggunakan persamaan berikut :
= (C1Z12 + C2Z22 + . + CnZn2).. (4-9)
Dimana :
= kekuatan ion (ionic strength)
C = konsentrasi ion (mol/ 1000 gr air)
Z = valensi ion.

Gambar 4.2. Grafik untuk Menentukan Harga pCa dan pAlk5)

Jadi untuk menghitung Stability Index (CaCO3, menurut metode ini harus
diketahui data-data dari konsentrasi ion-ion yang terkandung di dalam formasi,
pH air dan temperatur. Dari hasil perhitungan dapat ditentukan :

SI > 0 : air sangat jenuh dengan CaCO3 sehingga scale terbentuk.

SI = 0 : air berbeda pada titik jenuh.

SI < 0 : air tidak jenuh dan scale CaCO3 tidak mungkin terbentuk.
Hasil yang didapat dari Persamaan (4-3) hanya digunakan sebagai

indikator keberadaan endapan scale. Kelarutan ini secara alamiah dianalisa


dengan menggunakan diagram Stiff. Dalam diagram Stiff ini dibagi dua bagian
yaitu : bagian kiri digunakan untuk memplot konsentrasi kaiton dan bagian kanan
digunakan untuk memplot konsentrasi anion. Hubungan ini dapat ditunjukkan
dalam gambar 4.3.

Gambar 4.3. Contoh Hasil Analisa Air Formasi Menggunakan Diagram Stiff4)
Air yang mengandung CO2 dalam bentuk apapun cenderung membentuk
kerak atau korosi, tergantung pada pH dan temperatur. Hal ini dapat diketahui dari
inseks stabilitas CO2 yang terdapat dalam air sebagai asam arang (H2CO3),
bikarbonat (HCO3) atau karbonat (CO3). Jika air terlalu jenuh CO2, maka asam
arang didapati terlarut dalam air. Sedangkan bikarbonat akan didapat dalam air
jika kondisi air mempunyai pH berkisar antara 8,5 11.
4.b. Identifikasi Problem Scale CaSO4
Data yang sama diperlukan dalam perhitungan ini seperti halnya pada
perhitungan SI CaCO3. Perhitungan kelarutan gypsum dibandingkan dengan
konsentrasi actual Ca++ dan SO4= yang terdapat dalam air. Jika S lebih kecil dari

kedua konsentrasi Ca++ dan SO4= maka air tidak dijenuhi dengan gypsum dan scale
tidak terbentuk.
Metoda Skillman, Mc. Donald dan Stiff telah banyak digunakan untuk
memperkirakan kelarutan gypsum dilapangan minyak pada temperatur diatas 80 0
C. Metoda ini didasarkan pada pengukuran kelarutan thermodinamika dan
mempunyai persamaan sebagai berikut :
S 1000

X 2 4K X

....................................................

(4.10)

Dimana :
S = Kelarutan gypsum hasil perhitungan, meq/lt
K = Konstanta yang merupakan fungsi komposisi air dan temperatur.
X = Kelebihan konsentrasi ion dalam mole/lt, atau perbedaan konsentrasi ion
calsium dan sulfate, yang dihitung dengan menggunakan persamaan.
X = (2,5 Ca- 1,04 SO4) x 10-5) .................................................. (4.11)
5.

Cara Mencegah Terbentuknya Scale

Menghindari tercampurnya air yang incompatible (tidak boleh campur).

Mengubah komposisi air dengan water dilution (pengencer air) atau


mengontrol pH.

6.

Menghilangkan zat pembentuk scale

Penambahan scale control chemical.


Cara mengatasi problem scale

o Penambahan larutan EDTA (Eythelene Diamine Tetra Acetic)


o Acidizing (Penambagan larutan HCL atau HCl:HF)
4.1.2. Emulsi
Emulsi adalah campuran dua macam cairan yang dalam keadaan biasa
tidak dapat bercampur (immiscible). Problem emulsi umumnya timbul pada saat
air mulai terproduksi bersama minyak. Air yang tidak dapat bercampur dengan
minyak dinamakan air bebas dan dengan mudah dipisahkan dengan cara
pengendapan. Namun disegi lain ada emulsi yang sulit berpisah, sehingga

diperlukan suatu usaha untuk pemecahannya. Terdapat tiga faktor penting yang
membentuk emulsi stabil, yaitu :
1. Adanya dua macam cairan yang immiscible.
2. Adanya pengadukan/ agitasi yang cukup kuat untuk menyebarkan cairan
yang satu ke dalam cairan yang lainnya.
3. Adanya emulsifying agent yang dapat membuat emulsi menjadi stabil.
Di dalam emulsi cairan dalam bentuk butiran-butiran yang tersebar disebut
dispersed (internal) phase dan cairan yang mengelilingi butiran-butiran itu disebut
continuous (external) phase. Secara umum emulsi dapat diklasifikasikan menjadi
2 (dua), yaitu :
1. Water in oil (W/O) emulsion dimana air sebagai dispersed dan minyak
sebagai continuous phase. Water in oil emulsion inilah yang sering
dijumpai.
2. oil in water (O/W) emulsion, dimana minyak sebagai dispersed phase dan
air sebagai continuous phase.

Gambar 4.4. Water in oil emulsion5

Gambar 4.5.Oil in Water emulsion5)


Ditinjau dari kestabilannya, emulsi juga dapat dibagi 2 (dua) macam, yaitu :
1.

Emulsi yang stabil adalah emulsi dimana minyak dan air tidak dapat
memisahkan diri tanpa bantuan dari luar.

2.

Emulsi yang tidak stabil adalah emulsi dimana minyak dan air dapat
memisahkan dirinya tanpa bantuan dari luar, cukup hanya diberikan
settling time saja.

Kestabilan emulsi tergantung beberapa faktor, yaitu :

Emulsifying agent, pada emulsi minyak bumi yang stabil. Hal ini terdiri
dari : asphant, resin, oil soluble organic acid dan material-material halus
yang lebih larut atau dapat berpencar dalam minyak daripada dalam air.

Viskositas, jika tinggi maka kecenderungan untuk mengikat butiran air


lebih besar dibanding minyak yang viskositas lebih rendah. Minyak yang
viskositasnya besar memerlukan waktu lebih lama untuk memecahkan
emulsinya.

Specific grafity, bila perbedaannya besar maka akan mempercepat settling.


Minyak yang berat berkecenderungan untuk menahan butiran-butiran air
dalam bentuk suspensi lebih lama.

Prosentase air yang tinggi akan membentuk emulsi yang kurang stabil,
sehingga mudah dipisahkan dari minyaknya.

Umur emulsi, minyak yang mengandung emulsi bila dimasukkan ke


dalam tangki, dan air yang tersisa terpisahkan serta tidak segera dilakukan
treatmen, maka emulsi tersebut menjadi sangat sulit untuk dipisahkan.

A. Pencegahan problem emulsi


Secara umum pencegahan problem emulsi dapat dibagi 2 (dua) yaitu :
Tidak memproduksi minyak dengan air secara serentak.
Mencegah timbulnya agitasi yang dapat membentuk emulsi.
Karena memisahkan air di dalam wellbore bisanya sangat sulit, maka
pencegahan agitasilah yang dituju, yaitu dengan :
Mencegah aliran turbulensi akibat penggunaan surface choke yang kurang
tepat, dengan memberi tekanan separator lebih besar namun dijaga
perbedaan tekanannya masih mampu mengalirkan minyak ke separator.
Pemakaian bottom hole choke, yang didasarkan atas :
a) Perbedaan tekanan yang kecil antara up dan down stream
b) Temperatur didasar sumur jauh lebih tinggi dari temperatur permukaan
c) Aliran yang lurus dengan jarak relatif panjang pada down-stream dari
choke.

Pembukaan dan penutupan sumur secara terencana

Pada sumur-sumur yang di gas lift, pembentukan emulsi bisa dicegah


dengan meningkatkan efisiensi di tubing (pada continious gas lift) dan
pemberian demusifier pada ghatering systemnya.
Pada sumur-sumur pompa, pembesaran efisiensi volumetris pompa yang akan
mengurangi terjadinya emulsi yaitu dengan pemasangan gas anchor, clearance
pompa yang kecil, spacing yang baik serta kecepatan dan panjang stroke yang
semestinya.
B. Penanggulangan problem emulsi
Terdapat beberapa macam cara untuk memecahkan emulsi, antara lain dengan:
1. Metode Settling Time (Pengendapan)

Dengan cara ini diharapkan air, emulsi dan minyak akan terpisah secara
gravitasi (karena perbedaan densitasnya). Peralatan yang dipakai dapat
berupa : gun barrel atau wash tank, free water knock out, storage tank, atau
oil skimmer.
2. Metode Kimiawi (penggunaan demulsifier)
Dengan metode ini dapat merusak film dari emulsifying agent yaitu dengan
membuat kaku dan merekrutkannya.
3. Metode pemanasan
Metode ini diterapkan dengan anggapan dispersed phase dalam emulsi
tetap dalam keadaan bergerak (seperti gerak Brown dalam larutan koloidkoloid zig-zag). Panas akan mempercepat gerakan tersebut dan
menyebabkan partikel dispersed phase saling tubrukan lebih sering dengan
kekuatan lebih besar, sehingga menyebabkan lapisan film yang dibentuk
emulsifying agent menjadi pecah, dan viskositas cairan makin berkurang
yang menyebabkan air terpisah. Di lapangan metode ini diterapkan pada
alat-alat Heater Treater.
4. Metode elektrik (listrik)
Prinsip metode ini adalah merusak atau menetralkan film penyelubung
butiran-butiran air yang diinduksi oleh medan listrik statis, sedangkan
minyak sebagai continious phase diinduksikan sehingga butiran-butiran air
yang lebih besar akan cepat mengendap dibanding butiran air kecil.
5. Metode kombinasi
Di lapangan, metode kombinasi inilah yang sering diterapkan yaitu metode
panas-kimiawi dan kimiawi-listrik. Selain itu terdapat metode kombinasi
dengan sistem mekanik, yaitu :
Filtering, dimana emulsi dipaksa mengalir melalui filter (saringan)
sehingga film yang menyelubungi dispersed phase pecah, namun
demikian ternyata tidak semua terpecahkan.
Centrifuging, dimana emulsi dipecah dengan gaya centrifugal.
Seringkali metode pemecahan problem emulsi juga dikombinasikan
dengan memecahkan problem korosi.

6.1.1. Problem Parafin


Parafin atau asphaltin adalah unsur-unsur pokok yang banyak terkandung
dalam minyak mentah. Jenis kerusakan akibat endapan organik ini umumnya
disebabkan oleh perubahan komposisi hidrokarbon, kandungan wax (lilin) di
dalam crude oil, turunnya temperatur dan tekanan, sehingga minyak makin
mengental (pengendapan parafinik) dan menutup pori-pori batuan. Secara umum
rumus parafin adalah CnH2n+2.
Endapan parafin yang terbentuk merupakan suatu persenyawaan
hidrokarbon dan hidrogen antara C18H38 hingga C38H78 yang bercampur dengan
material organik dan inorganik lain.
Kelarutan parafin dalam crude oil tergantung pada komposisi kimia
minyak dan temperatur. Pengendapan akan terjadi jika permukaan temperaturnya
lebih rendah daripada crude oil. Viskositas crude oil akan meningkat dengan
adanya kristal parafin dan jika temperatur terus turun crude oil akan menjadi
sangat kental. Temperatur terendah dimana minyak masih dapat mengalir disebut
titik tuang (pour point).
1. Secara rinci penyebab utamanya adalah :
Turunnya tekanan reservoir
Hilangnya fraksi ringan minyak
Pemindahan panas dari minyak ke dinding pipa dan diteruskan ke tempat
sekitarnya.
Aliran cairan yang tidak tetap dan tidak merata.
Adanya partikel lain yang menjadi inti pengendapan.
Kecepatan aliran dan kekasaran dinding pipa.
Terhentinya aliran fluida.
2. Problem endapan organik ini dapat terjadi pada daerah :
Sepanjang zona perforasi
Pada tubing

Flow line
Separator
Di stock tank
3. Cara mengatasi problem parafin
Mekanik (direservoir : hydroulic facturing, di tubing dengan alat scraper dan
cutter dan di flowline dengan alat pigging).
Kombinasi dengan pemakaian solvent (korosen, kondensate, dan minyak
diesel) dengan cara pemanasan (pemakaian heater treater, steam simulation
atau thermal recovery seperti injeksi uap).
Pemakaian larutan air + calcium carbide atau acethylene.
Acidizing
Kedua faktor (endapan inorganik dan organik) ini akan menghambat aliran
fluida reservoir ke sumur produksi dan membentuk daerah kerusakan atau zone
damage. Penurunan produksi dari sumur minyak tergantung dari banyaknya dan
tempat dimana endapan tersebut terdapat Gambar 4.6. merupakan model dari
endapan parafin.

Gambar 4.6. Pengaruh dari Kristal Modifier pada endapan Parafin5)