Anda di halaman 1dari 3

Apa yang dimaksud dengan infantisid?

Apakah setiap tindakan pembunuhan terhadap anak sendiri selalu dikategorikan


sebagai infantisid? Komponen infantisid?
Bagaimana insidensi/prevalensi kasus infanticide di Indonesia?
Bagaimana pandangan Islam terkait infanticide/pembunuhan anak sendiri?
Pembunuhan adalah kegiatan/perbuatan menghilangkan nyawa seseorang baik
sengaja maupun tidak sengaja dengan menggunakan alat mematikan maupun
tidak. Membunuh merupakan perbuatan yang dilarang ajaran islam. Karena
manusia mempunyai hak hidup yang harus dilindungi dan dihormati, oleh karena
itu membunuh dalam ajaran islam dosa besar, seperti firman Allah SWT:

"Dan janganlah kamu membunuh terhadap jiwa yang diharamkan oleh Allah
melainkan dengan suatu alasan yang benar". (Q.S. Al-Isra: 33).
Pembunuhan ada beberapa macam, yaitu:
1. Pembunuhan sengaja
Pembunuh dapat dikatagorikan sebagai pembunuhan sengaja jika
memenuhi syaratnya, yaitu: ada aktivitas membunuh dan ada niat
membunuh. Contoh pembunuhan sengaja: membunuh direncanakan, dll.
2. Pembunuhan seperti sengaja
Syarat pembunuhan ini adalah ada aktivitas membunuh tapi tidak ada
niat membunuh, contoh: A dan B berkelahi di lantai 50, si B mendorong A
sampai dia jatuh dari lantai 50.
3. Pembunuhan tidak disengaja
Syaratnya adalah tidak ada aktivitas membunuh (manusia) dan tidak
ada pula niat membunuh, contoh: saat kita berburu kita sudah dapatkan

sasarannya, saat kita menembak ternyata senjata yang kita tembakan meleset
sehingga mengenai orang yang ada di sebelahnya.
Hukuman untuk tiga jenis pembunuhan ini tentu ada dan semuanya sudah
diatur oleh islam. Sanksi-sanksi itu adalah qisos, diyat mugholadoh, diyat
mukhofafah dan tentunya dalam tiga jenis ini berbeda hukumannya.
a) Qisos (dengan cara dibunuh kembali) diberikan kepada pembunuh sengaja
tapi jika keluarga korban memaafkan diganti dengan diyat mugholadoh
(denda berat), terdapat dalam surat QS. Al-Baqarah :179
b) Diyat mugholadoh untuk pembunuh seperti sengaja dan pembunuh sengaja
(jika dimaafkan keluarga korban) jumlah diyat mugholadoh yang kita
bayarkan sudah diatur oleh Islam dan bisa diangsur selama tiga bulan,
tedapat dalam dalil yang berbunyi: "Dan dalam melaksanakan hukum
tersalah dan seperti sengaja kalau dengan cambuk dan tongkat ialah seratus
ekor unta, empat puluh diantaranya yang sedang bunting" (dikeluarkan oleh
Abu Daud, an-Nasai dan Ibnu majah) rincianya seperti berikut :
- 30 ekor unta betina berumur 3-4 tahun (hiqqah)
- 30 ekor unta betina berumur 4-5 tahun (jadz'ah)
- 40 ekor unta betina yang sedang mengandung (khilfah)
c) Diyat mukhofafah (denda ringan) untuk pembunuh tidak sengaja sama
seperti diyat mugholadoh yang sudah diatur jumlah dendanya, yaitu 100
ekor unta tapi berbeda pada jenisnya, berikut rinciannya:
- 20 ekor unta hiqqah
- 20 ekor unta jadz'ah
- 20 ekor anak unta betina
- 20 ekor anak unta jantan,dan
- 20 ekor unta jantan berumur 2-3 tahun
Diyat bagi orang yang membuat kerusakan atau memotong anggota tubuh
orang lain mendapatkan sanksi berupa diyat mukhofafah, lihat rinciannya:
-

Wajib membayar diyat penuh jika yang dia potong anggota tubuh

berpasangan, seperti: dua tangan, dua kaki, dll.


Wajib membayar setengah diyat jika yang dia potong salah satu dari
pasangan anggota tubuh, seperti satu tangan, satu kaki, dll.

Islam melarang umatnya membunuh seseorang manusia atau seekor


binatang sekalipun, kalau itu tidak berdasarkan kebenaran hukumnya. Dalam
Islam orang-orang yang halal darah atau boleh dibunuh karena perintah hukum
dengan prosedurnya adalah orang-orang murtad, yaitu orang-orang Islam yang
berpindah agama dari Islam ke agama lainnya, sesuai dengan hadis Rasulullah
saw: Man baddala diynuhu faqtuluwhu (barangsiapa yang menukar agamanya
maka bunuhlah dia). Ketentuan ini dilakukan setelah orang murtad itu diajak
kembali ke agama Islam selama batas waktu tiga hari, kalau selama itu dia tidak
juga sadar baru dihadapkan ke pengadilan. Yang halal darah juga adalah
pembunuh, bagi dia berlaku hukum qishash yakni diberlakukan hukuman balik
oleh yang berhak atau negara melalui petugasnya. Penzina muhshan (yang sudah
kawin) adalah satu pihak yang halal darah juga dalam Islam melalui eksekusi
rajam, mengingat jelek dan bahayanya perbuatan dia yang sudah kawin tetapi
masih berzina juga. Semua pihak yang halal darah tersebut harus dieksekusi
mengikut prosedur yang telah ada dan tidak boleh dilakukan oleh seseorang yang
tidak punya otaritas baginya. Selain dari tiga pihak tersebut dengan ketentuan dan
prosedurnya masing-masing tidak boleh dibunuh, sebagaimana firman Allah
SWT: ...wala taqtulun nafsal latiy harramallahu illa bilhaq... (...jangan
membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran...) (QS. alAnam: 151). Larangan ini berlaku umum untuk semua nyawa baik manusia
maupun hewan, kecuali yang dihalalkan Allah sebagaimana terhadap tiga model
manusia di atas tadi atau hewan nakal yang mengganggu manusia dan hewan yang
disembelih dengan nama Allah.
Allah memberi perumpamaan terhadap seorang pembunuh adalah:
...barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi,
maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa
yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara kehidupan manusia semuanya... (QS. Al-Maidah: 32).

Anda mungkin juga menyukai