Anda di halaman 1dari 33

ANALISIS LENDUTAN BALOK BETON BERTULANG DENGAN

VARIASI RASIO TULANGAN DENGAN PROGRAM BERBASIS


METODE ELEMEN HINGGA
TUGAS METODE ELEMEN HINGGA

Oleh :

I Gede Agus Krisnhawa Putra


1681511035

MAGISTER TEKNIK SIPIL


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Penggunaan beton sebagai bahan material bangunan lebih banyak digunakan

dibandingkan material struktur lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi

umeric

penggunaan beton lebih diminati, diantaranya : beton mudah dicetak dan dibentuk dengan
kondisi penampang apapun, beton harganya

umeric

lebih murah dibandingkan

kompetitornya yaitu baja, dan beton memiliki kekuatan serta kekauan yang tinggi. Akan
tetapi, beton juga memiliki kekurangan, yaitu : beton hanya mampu menerima gaya tekan
sehingga sangat lemah dalam gaya tarik, oleh karena itu beton dikombinasikan dengan
material baja tulangan. Komponen-komponen struktur gedung yang terbuat dari beton
misalnya saja yaitu pondasi, kolom, pelat lantai, dan balok. Setiap komponen struktur
tersebut akan menahan beban rencana yang diberikan. Jika ada suatu aksi maka akan ada
reaksi yang diberikan. Seperti pada balok beton yang diberikan suatu reaksi akan
menimbulkan aksi yaitu lendutan yang terjadi pada balok tersebut. Besarnya beban yang
diberikan akan berpengaruh terhadap besarnya lendutan yang terjadi, ketika beban sudah
melampaui batas kekuatan balok, dan jika bebannya semakin besar maka akan terjadi retak
pada daerah yang mengalami tarik. Selain karena beban yang diberikan melampaui batas,
retakan atau lendutan yang terjadi pada balok juga dipengaruhi oleh besi tulangan yang ada
pada balok bertulang tersebut. Rasio tulangan yang bervariasi tentu akan mempengaruhi
retakan atau lendutan pada balok beton bertulang. Maka perlu dikaji lebih lanjut mengenai
analisis lendutan pada balok beton bertulang dengan variasi rasio tulangan.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pakpahan dan Sitorus
(2015), yang meneliti analisa lendutan balok dengan diameter tulangan
dan letak tulangan berbeda dengan menggunakan software berbasis
metode elemen hingga, menunjukkan bahwa ukuran diameter tulangan
yang digunakan pada balok beton bertulang, dan posisi letak tulangan
akan mempengaruhi lendutan yang terjadi akibat kemampuan balok
menahan gaya lentur yang ada. Kemampuan balok untuk menahan
beban yang ada dipengaruhi oleh tinggi efektif penampang pada beton
tersebut. Besarnya lendutan juga dipengaruhi oleh perbedaan bentuk
1

penampang balok (dimensi balok), mutu beton, dan bentang yang


bervariasi (Wiyono dan Trisina, 2013). Pada analisis beton bertulang,
besarnya diameter tulangan dipengaruhi oleh rasio tulangan atau luas
penampang tulangan yang memenuhi syarat. Penelitian yang dilakukan
oleh Pakpahan dan Sitorus (2015), hanya menganalisis lendutan jika
diameter tulangan berbeda namun rasio tulangan sama. Tentu jika rasio
tulangan yang bervariasi, perilaku lendutan pada balok beton bertulang
akan berbeda dengan penelitian lendutan dengan variasi dimensi
tulangan.
Perbedaan

rasio

tulangan

akan

mempengaruhi

efesiensi

penggunaan jumlah dan diameter tulangan yang digunakan pada balok


beton

bertulang.

Seperti

diketahui

ada

beberapa

syarat

dalam

menggunakan rasio tulangan, yaitu rasio tulangan desain harus diantara


rasio tulangan minimum dan maksimum. Hal ini juga akan berpengaruh
terhadap perilaku lendutan yang terjadi pada elemen struktur yaitu
balok. Pada balok beton bertulang yang dibebani suatu beban tertentu
dengan dimensi penampang, bentang balok, diameter tulangan, dan
mutu beton tertentu akan menimbulkan suatu lendutan atau retakan.
Berdasarkan teori struktur beton bertulang, besarnya lendutan bisa
dihitung dengan persamaan yang sudah ada. Suatu struktur secara
global diharuskan memiliki lendutan yang tidak terlalu besar, karena
akan berpengaruh terhadap keretakan atau kegagalan struktur tersebut.
Seperti pada balok beton bertulang, jika lendutan yang terjadi sudah
melampaui batas maka balok itu bisa saja mengalami kegagalan
struktur atau keretakan. Tetapi keretakan beton tidaklah secara tibatiba, ada proses tertentu beton itu mencapai keretakan. Karakteristik
atau perilaku beton umumnya diperoleh dari pengujian eksperimen di
laboratorium.

Begitupun

halnya

dengan

perilaku

lendutan

atau

keretakan pada balok tentunya bisa diuji di laboratorium.Tetapi tidak


semua informasi didapat dengan pengujian tersebut dikarenakan
beberapa faktor misalnya keterbatasan alat dan metode pengujian.
Namun, seiring dengan majunya perkembangan teknologi computer,
metode +umeric menjadi salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu
2

hal yang belum didapat dari pengujian eksperimental. Salah satu


metode +umeric tersebut ialah metode elemen hingga (finite element
method) yang cukup popular. Beberapa program analisis berbasis
metode elemen hingga diantaranya Abaqus, Lusas, Ansys, dsb.
Dari beberapa ilustrasi diatas, maka penelitian yang berjudul
Analisis Lendutan Balok Beton Bertulang dengan Variasi Rasio Tulangan
dengan Program Berbasis Metode Elemen Hingga akan dilakukan. Pada
penelitian ini akan dimodelkan beberapa balok beton bertulang dengan
perletakan sederhana, pada program berbasis metode elemen hingga
yaitu Abaqus. Sementara untuk desain baloknya sendiri dihitung manual
berdasarkan SNI Beton 03-2847-2013.
1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan

yang dapat dirumuskan adalah bagaimanakah menganalisa perilaku


lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan dengan
menggunakan program berbasis metode elemen hingga.
1.3.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui

perilaku lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan


dengan menggunakan program berbasis metode elemen hingga.
1.4.

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat menganalisa perilaku

lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan, dan


pemahaman pemodelan pada program berbasis metode elemen hingga
yaitu Abaqus dalam menganalisis suatu elemen struktur secara detail,
dan dapat mengidentifikasi sifat mekanik beton, sehingga bisa menjadi
referensi tambahan dalam perencanaan struktur nantinya.
1.5.

Batasan Masalah

Adapun masalah yang dibatasi dalam penelitian ini adalah:


3

1. Lendutan yang dianalisis adalah akibat beban lentur murni yaitu


beban merata sepanjang balok.
2. Perletakan atau tumpuan balok adalah sendi-roll.
3. Struktur beton bertulang dimodel dalam tiga dimensi.
4. Balok yang ditinjau dalam keadaan elastis.
5. Peraturan yang dipakai dalam pedoman adalah peraturan SNI 032847-2013 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung, dan ACI (American Concrete Institute).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Serviceability dan Pentingnya Penyelidikan Defleksi (Nawy, 2003)
Serviceability (kemampuan layan) suatu struktur ditentukan oleh
lendutan, retak, korosi tulangan, dan rusaknya permukaan betonnya.
Rusaknya permukaan dapat dikurangi dengan kontrol yang baik pada
waktu pengadukan, pengecoran, dan perawatan betonnya. Penggunaan
selimut beton yang cukup, kontrol retak, dan kriteria lendutan dalam
desain, dapat mengurangi atau mungkin dapat menghapuskan masalahmasalah tersebut.
Dalam tegangan kerja (working stress design) dan analisisnya
yang digunakan sebelum tahun 1970-an membatasi tegangan pada
beton sampai sekitar 45% dari kekuatan tekannya, dan tegangan pada
baja sampai 50% dari kekuatan lelehnya. Analisis elastis digunakan
untuk desain rangka structural, juga pada penampang beton bertulang.
Elemen structural dirancang untuk mampu memikul momen kerja di
sepanjang bentang batang dengan seringkali pengabaian redistribusi
momen. Akan tetapi, sebagai akibatnya, penampang akan mempunyai
kekuatan cadangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang
diperoleh dengan pendekatan cara kekuatan batas (ultimate strength).
Semakin berkembangnya pengetahuan mengenai sifat-sifat material
4

pembentuk beton, semakin kecil juga faktor bebannya dan semakin


berkurang kekuatan cadangnya. Apalagi dewasa ini banyak digunakan
beton berkekuatan tinggi dan baja berkekuatan tinggi, sehingga batangbatang yang semakin langsing dan efektif juga harus ditentukan oleh
defleksi atau lendutan sebagai kriteria dalam desain. Lendutan yang
berlebihan

pada

balok

dapat

menyebabkan

rusaknya

partisi

di

bawahnya, jika balok tersebut dikombinasikan pada elemen slab lantai.


2.2. Perilaku Defleksi Pada Balok
Hubungan beban-defleksi balok beton bertulang pada dasarnya
dapat diidealisasikan menjadi bentuk trilinier seperti gambar 2.1 di
bawah ini. Hubungan ini terdiri atas tiga daerah, yaitu :

Gambar 2.1 Hubungan Beban Defleksi Pada Balok


2.2.1. Taraf Praretak : Daerah I
Segmen praretak dari kurva beban-defleksi pada dasarnya berupa
garis lurus yang memperlihatkan perilaku elastis penuh. Tegangan tarik
maksimum pada balok dalam daerah ini lebih kecil daripada kekuatan
tariknya akibat lentur, atau disebut dengan lebih kecil dari modulus
rupture fr beton. Kekakuan lentur EI balok dapat diestimasi dengan
menggunakan modulus young Ec dari beton, dan momen inersia
penampang beton bertulang tak retak. Perilaku beban defleksi sangat
bergantung pada hubungan tegangan regangan beton. Besarnya Ec
dapat diestimasi menggunakan rumus empiris yaitu:
5

Ec =4700 f ' c

(1.2)

Estimasi akurat mengenai momen inersia I memerlukan peninjauan


kontribusi tulangan As. Ini dapat dilakukan dengan mengganti luas baja
dengan luas beton ekuivalen (Es/Ec) As

karena besarnya modulus

young Es dari tulangan lebih besar daripada modulus young beton Ec.
Daerah praretak berhenti pada saat mulainya retak lentur
pertama dimana tegangan beton memcapai kekuatan modulus rupturenya fr. Untuk keperluan desain, besarnya modulus tersebut untuk beton
berbobot normal, yaitu sebagai berikut:
f r=7.5 f ' c
Jika jarak serat tarik terluar ke pusat berat penampang adalah
momen retaknya
I f
M cr = g r
yt

(1.2)
yt

dan

M cr , maka:

Untuk penampang segiempat:


h
yt =
2

(1.3)

(1.4)

Dimana h adalah tebal total balok. Perhitungan defleksi untuk daerah ini
tidak begitu penting, karena hanya sedikit balok beton bertulang yang
tidak retak pada beban aktualnya. Akan tetapi, pengetahuan matematis
mengenai variasi besaran kekauan sangat penting sebab segmensegmen balok di sepanjang bentang bisa saja belum retak.
2.2.2. Taraf Beban Pasca Retak : Daerah II
Daerah praretak diakhiri dengan mulainya retak pertama dan
maulai bergerak menuju daerah II pada diagram beban defleksi seperti
yang diperlihatkan pada Gambar. Hampir semua baok terletak pada
daerah ini pada saat beban kerja. Suatu balok dapat mengalami
berbagai taraf keretakan di sepanjang bentangnya sesuai dengan taraf
tegangan dan defleksi pada masing-masing bagiannya. Untuk suatu
balok di atas tumpuan sederhana, retak akan semakin lebar dan
semakin dalam pada lapangan, sedangkan pada tumpuan hanya terjadi
retak minor yang tidak lebar.
Apabila sudah terjadi retak lentur, kontribusi kekuatan tarik beton
sudah dapat dikatakan tidak ada lagi. Hal ini menunjukkan bahwa
6

kekuatan penampangnya telah berkurang sehingga kurva beban


defleksi di daerah ini akan semakin landau dibandingkan dengan taraf
praretak.

Semakin

besar

retaknya,

akan

semakin

berkurang

kekakuannya hingga mencapai suatu harga yang berupa lower-bound


(batas bawah) sehubungan dengan momen inersia penampang retak.
Pada saat mencapai keadaan limit beban retak kerja, kontribusi beton
tarik terhadap kekakuan dapat diabaikan. Momen inersia penampang
retak disebut dengan Icr yang dapat dihitung dari prinsip-prinsip dasar
mekanika teknik.
Distribusi tegangan dan regangan pada tinggi suatu penampang
beton segiempat tipikal yang telah retak ditunjukkan pada Gambar.
Asumsi-asumsi yang diambil dalam perhitungan defleksi berdasarkan
pembuktian ekspereimental yang diteliti adalah:
Distribusi regangan pada tingginya dianggap linier
Beton sama sekali tidak menahan tarik
Beton maupun baja masih dalam limit elastis
Distribusi regangan serupa dengan yang telah diasumsikan
untuk desain kekuatan, tetapi besarnya regangan, tegangan,
dan distribusi tegangannya berbeda.
Untuk menghitung momen inersia, besarnya tinggi garis netral c harus
ditentukan dari keseimbangan gaya horizontal:
fc
A s f s=bc
2
Karena tegangan baja

fs=ES S dan tegangan beton

(1.5)
fc=EC C maka

persamaan 1.5 diatas ditulis sebagai berikut:


bc
A s E s s= E C C
2

(1.6)

Dari segitiga sebangun dalam Gambar


c

= s
c dc

(1.7)

atau

d
s= c ( 1)
c

Dari persamaan (1.6) dan (1.8)


d
bc
A s E s c ( 1)= EC C
c
2

(1.8)

(1.9)

Atau
7

As Es d
bc
( 1)=
Ec c
2
(1.10)
Dengan menuliskan angka perbandingan modulus Es/Ec sebagai

n,

maka persamaan (1.10) menjadi


bc
+n A s cn A s d=0
2
2

(1.11)
Besarnya c dapat diperoleh dengan memecahkan persamaan kuadrat
(1.11). Momen inersia Icr dapat diperoleh dari
b
I cr= c +n A s (dc )2
3
3

(1.12)
3

bc
Dimana suku 3

dalam persamaan (1.12) menunjukkan momen

inersia luas bc yang tertekan terhadap sumbu netral yang disebut dasar
kekuatan tekan dengan mengabaikan bagian luas penampang yang
tertarik, yaitu di bawah sumbu netral. Luas tulangan dikalikan dengan n
untuk

ditransformasikan

menjadi

luas

beton

ekuivalen

sebagai

kontribusi pada kekauan penampang. Momen inersia tulangan tersebut


terhadap sumbunya sendiri dapat diabaikan.
Bagian yang belum retak di bawah sumbu netral di sepanjang
bentang balok mempunyai derajat kekakuan yang merupakan kontribusi
terhadap kekakuan balok secara menyeluruh. Kekakuan actual balok
terletak di antara EcIg dan EcIcr , bergantung pada faktor-faktor lain
yaitu: banyaknya retak, ditribusi pembebanan, dan kontribusi beton di
antara retak yang terjadi. Pada umumnya, pada saat beban mencapai
taraf yang menyebabkan tulangan baja leleh, besarnya kekakuan
mencapai EcIcr. Branson telah mengembangkan suatu persamaan yang
sederhana untuk menghitung kekakuan efektif EcIe yang diperlukan
dalam desain. Persamaan ini dapat digunakan dalam perhitungan
lendutan, mendefinisikan momen inersia efektif sebagai berikut:

[ ( )]

M cr 3
M
I e=
I g +1 1 cr
Ma
Ma

( )

I cr I g

(1.13)
Persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk
3
M cr
I e=I cr +
(I gI cr ) I g
Ma

( )

(1.14)
Momen inersia efektif Ie seperti yang ditunjukkan pada persamaan
(1.14), bergantung pada momen maksimum Mu disepanjang bentang
dan kapasitas momen retak Mcr penampangnya.
2.2.3.

Taraf

Retak

Postserviceability

dan

Keadaan

Limit

Perilaku

Lendutan pada Daerah Keruntuhan III


Diagram

beban-defleksi

pada

daerah

III

jauh

lebih

datar

ketimbang pada daerah-daerah sebelumnya. Ini diakibatkan oleh


hilangnya kekakuan penampang karena retak yang cukup banyak dan
lebar di sepanjang bentang. Jika bebannya terus menerus bertambah,
maka regangan

pada tulangan pada sisi yang teratrik akan terus

bertambah melebihi regangan lehernya

tanpa adanya tegangan

tambahan,. Balok yang tulangan tariknya mulai leleh dikatakan telah


runtuh secara structural. Balok ini terus-menerus mengalami defleksi
tanpa adanya tambahan beban, dan retaknya semakin terbuka sehingga
garis netralnya terus mendekati serta tepi yang tertekan. Pada akhirnya
terjadi

keruntuhan

tekan

sekunder

yang

dapat

mengakibatkan

kehancuran total pada beton daerah momen maksimum dan segera


diikuti dengan terjadinya rupture.
Bertambahnya taraf beban mulai dari leleh pertama pada
tulangan tarik pada balok sederhana sampai taraf beban rupture
bervariasi antara 4% dan 10%. Akan tetapi, besarnya defleksi sebelum
rupture dapat beberapa kali dari besar defleksi pada saat beban yang
menyebabkan leleh pertama, bergantung pada perbandingan bentang
tinggi balok, presentase tulangan, jenis beban, dan derajat confinement
9

penampang beton. Dari percobaan-percobaan yang telah dilakukan


diperoleh bahwa besarnya defleksi batas berkisar antara 8 sampai 12
kali defleksi pertama.
Defleksi setelah leleh dan defleksi limit pada keadaan runtuh
bukan merupakan faktor yang terpenting dalam desain sehingga tidak
dibahas secara mendalam. Akan tetapi, pengenaln terhadap cadangan
kapasitas defleksi sebagai ukuran daktilitas struktur tahan gempa
merupakan suatu hal yang penting, juga untuk kasus-kasus lain yang
kemungkinan terjadinya beban lebih (overload) sangat tinggi.
2.3. Perhitungan Defleksi (Lendutan) Pada Balok
Defleksi batang-batang structural merupakan fungsi dari panjang
bentang, perletakan, atau kondisi-kondisi ujungnya (seperti tumpuan
sederhana atau ada tahanan karena kesinambungan batang), jenis
pembebanan (beban terpusat ataukah beban terdistribusi merata),
kekakuan lentur EI dari elemen. Persamaan umum defleksi maksimum
max

pada balok elastis dapat diperoleh dari prinsip dasar mekanika,

yaitu:
W l 3n
max=K
48 E I c

(1.15)

dimana,
W = beban total pada bentang
l n = panjang bentang bersih
E = modulus elastisitas beton
l C = momen inersia penampang
K = suatu faktor yang bergantung pada derajat kekakuan tumpuan
Persamaan (1.15) dapat juga dinyatakan dalam momen lentur sehingga
defleksi pada suatu titik balok adalah:
ML2
=k
Ec I e

(1.16)

dimana,
k = suatu faktor yang bergantung pada kekakuan tumpuan dan kondisi
pembebanan
M = momen yang bekerja pada penampang
l e = momen inersia efektif
10

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.

Metode Pemecahan Masalah


Pada penelitian ini akan dimodelkan balok beton bertulang pada

Abaqus dalam tiga dimensi dengan perletakan pada tumpuan sendi-roll,


beban yang digunakan adalah beban merata. Balok yang akan dianalisis
memiliki panjang bentang 6 m, dengan estimasi dimensi untuk
penampang balok yaitu tinggi (h = 40 cm) dan lebar balok (b = 25 cm).
Lendutan balok beton bertulang tersebut direncanakan memikul beban
merata q pada sepanjang bentang. Model balok beton bertulang
tersebut nantinya akan dianalisis lendutannya yang terjadi akibat
perbedaan rasio tulangan. Untuk model baloknya ditampilkan pada
gambar 3.1 dibawah ini.

q=10 kN/m=10N/mm
A

B
6m

h=400

b=250

Gambar 3.1 Model Balok Beton Bertulang yang dianalisis


11

Metode yang digunakan dalam tugas ini adalah berupa study


literatur,

dengan

mengumpulkan

bermacam-macam

teori

dan

pembahasan melalui buku-buku, peraturan Standar Nasional Indonesia


(SNI), serta jurnal yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
Kemudian, dilakukan pemilihan mutu bahan, dimensi penampang untuk
besi tulangan komponen struktur balok beton bertulang yang akan
digunakan. Untuk selanjutnya, dilakukan analisa dan perhitungan
terhadap

kebutuhan

jumlah

tulangan

pada

SAP2000v15

yang

berdasarkan acuan SNI 03-2847-2013 dan ACI. Rasio tulangan analisis


yang didapat harus diantara rasio minimum dan rasio maksimum.
Selanjutnya dilakukanlah analisis lendutan dari balok beton bertulang
yang memiliki variasi rasio tulangan dengan menggunakan program
berbasis metode elemen hingga yaitu Abaqus. Setelah dianalisis dengan
Abaqus, maka akan diperoleh hasil mengenai hubungan antara beban
dengan lendutan yang terjadi. Secara garis besar, tahapan metodologi
penelitian ini digambarkan pada Mulai
diagram alir pada gambar 3.2.

Pengumpulan Data (Studi Literatur)

Pemilihan Kriteria Desain

Analisa Perhitungan Balok Beton Bertulang


(Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2013) dan ACI

Analisa Perhitungan Lendutan Pada Balok Bertulang Dengan Variasi Rasio Tulangan Dengan Program Abaqus

Beban-Lendutan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

12

Gambar 3.2 Diagram Alir Penelitian


3.2.

Analisa Perhitungan Balok Beton Bertulang Berdasarkan Hasil SAP2000


Analisa perhitungan balok beton bertulang digunakan untuk menghitung rasio

tulangan berdasarkan model balok yang sudah ditentukan. Balom dimodel pada SAP2000,
dengan beban merata yang sudah ditentukan, kombinasi beban yang bekerja adalah 1,4D,
sedangkan berat sendiri balok diabaikan. Setelah dianalisis kemudian diperoleh rasio
tulangan maka akan ditentukan model balok yang akan dianalisis pada Abaqus nantinya.
Data-data material ditentukan sebagai berikut:

Kuat tekan beton (fc')


Kuat leleh baja tulangan longitudinal (fyl')
Kuat leleh baja sengkang (fyv')
Modulus Elastisitas Beton (Ec)
Modulus Elastisitas Baja (Es)

: 25 Mpa
: 400 Mpa
: 240 Mpa
: 23500 MPa
: 200000 MPa

3.2.1. Model Desain Balok Pada SAP2000 Pada Balok

Gambar 3.3 Model Balok Pada SAP2000 (satuan dalam N/mm)


Berikut merupakan gambar bidang momen, dan gaya geser akibat
kombinasi 1,4D pada pemodelan balok tersebut.

13

Gambar 3.4 Diagram Momen Balok Pada SAP2000 (satuan dalam Nmm)

Gambar 3.5 Diagram Geser Balok Pada SAP2000 (satuan dalam N)


Analisa desain tulangan berdasarkan acuan ACI 318-08/IBC 2009
sehingga didapatkan rasio tulangan dan luas tulangan yang dibutuhkan.

Gambar 3.6 Rasio Tulangan Lentur Pada Balok

Gambar 3.7 Rasio Tulangan Geser Pada Balok


3.2.2. Perhitungan Penulangan Pada Balok
Diketahui data-data material sebagai berikut:

Kuat tekan beton (fc')


Kuat leleh baja tulangan longitudinal (fyl')
Kuat leleh baja sengkang (fyv')
Dimensi Balok

: 25 Mpa
: 400 Mpa
: 240 Mpa
: 25/40
14

Tinggi efektif (d)

Rasio tulangan minimum :

: 50 mm

min

f 'c
25

0.003125
4 fy 4 400

min

1 .4 1 .4

0.0035
fy 400

Digunakan min terbesar yaitu min = 0.0035

=
max

0.85 f ' c
600

fy
600 fy
0.85 25
600
0.85
400
600 400

0.75 b

0.75 0.027

= 0.027

= 0.0203

jadi besarnya adalah

min max
0.0035 0.0203

Jika lebih kecil dari min maka yang digunakan adalah min.
Setelah mendapatkan analisis pada hasil SAP2000, maka akan ditentukan variasi rasio
tulangan untuk analisis lendutan dengan abaqus, yaitu:
min =0.0035

model balok 1 (Balok I)

analisis=0.0055

model balok 2 (Balok II)

Perhitungan Balok I

= 0.0035

As

bd

= 0.0035 250 350 = 306.25 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 13 (D13)

As
1
D2
4
15

306.25
132.732

= 2.3

3 buah

Maka dipasang tulangan longitudinal 3D13 dengan luas tulangan Ast = 398.20 mm2.
Kapasitas Terpasang :

Mnt

Ast fy
0.85 f ' c b

(398.20) 400
0.85 25 250

= 29.98 mm

Ast fy d
2

29.98

(398.20) 400 350

= 53360392.8 Nmm
Mnt = 53360392.8 Nmm > Mn = 52500000 Nmm.............................................OK!
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 3D13

2D13

400
3D13

50

250
Gambar 3.8 Model Balok Type I
Perhitungan Balok II

= 0.0055

As

bd

= 0.0055 250 350 = 481.25 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 16 (D16)

16

As

1
D2
4
481.25
201.06

= 2.39

3 buah

Maka dipasang tulangan longitudinal 3D16 dengan luas tulangan Ast = 603.18 mm2.
Kapasitas Terpasang :

Mnt

Ast fy
0.85 f ' c b

(603.18) 400
0.85 25 250

= 45.42 mm

Ast fy d
2

45.42

(603.18) 400 350

= 78965912.88 Nmm
Mnt = 78965912.88 Nmm > Mn = 52500000 Nmm...........................................OK!
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 4D13

2D16

400
3D16

50
250

Gambar 3.9 Model Balok Type II


Perhitungan Balok III

= 0.0203
17

As

bd

= 0.0203 250 350 = 1776.25 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 19 (D19)


As

1
D2
4
1776.25
283.52

= 6.26

7 buah

Maka dipasang tulangan longitudinal 7D19 dengan luas tulangan Ast = 1990.90 mm2.
Kapasitas Terpasang :

Mnt

Ast fy
0.85 f ' c b

(1990.90) 400
0.85 25 250

= 149.9 mm

Ast fy d
2

149.9

(1990.90) 400 350

= 219038818 Nmm
Mnt = 219038818Nmm > Mn = 52500000 Nmm...............................................OK!
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 7D19

2D19

400
7D19

50
250

Gambar 3.10 Model Balok Type III

18

Perhitungan Penulangan Geser


Data :

Tulangan sengkang

Gaya geser maksimum (VU) = 42000 N

Dimensi Balok

= 25/40

= 350 mm

= 8 mm

Sehingga :
VU = 42000 N
1

VC =

f 'c b d

1
25 250 350
6

= 72916.67 N
VC = 0.75 72916.67 N
= 54687 N
1
VC
2

= 27343 N

Dari hasil perhitungan didapat kondisi

1
VC
2

< VU <

VC

sehingga diperlukan tulangan

geser minimum, yaitu :

Av 1200 fy
Smaks =

75 fc' bw

Av = 2

=2

1
4
1
4

d2

82 = 100.57 mm2

100.57 1200 240


Smaks =

75 25 250

= 308.955 mm 300 mm
Jadi digunakan 8 200 sebagai tulangan Transversal.
19

3.3.

Pemodelan Balok Dengan Abaqus


Dalam abaqus, input data dibagi dalam beberapa modul. Masing-masing modul

memiliki fungsi yang spesifik untuk mendefinisikan data. Berikut langkah langkah input
data dalam masing-masing modul untuk pemodelan balok beton bertulang dengan variasi
rasio tulangan.
3.3.1. Modul Geometri (Part)
Menggambar geometri dilakukan dengan modul part, terdapat 3 part yang perlu
digambar untuk pemodelan ini, yaitu

Gambar 3.10 Menu pada Modul part


Tabel 1.1 Type Part
Nama Part
Balok Beton
Tulangan Lentur
Tulangan Sengkang

Type
Solid Ekstrusion
Wire Planar
Wire Planar

3.3.2. Modul Property


Mendefenisikan material, mendefenisikan section dan mengaplikasikannya ke
dalam part yang telah dibuat terdapat pada modul ini. Terdapat tiga material dan tiga
section yang perlu didefenisikan.
Tabel 1.2 Material dan Section Part
Nama Part
Balok
Tulangan Lentur

Material
Beton f'c 25
Mpa
Baja fy 400 MPa

Section
Solid Homogen
Truss
20

Tulangan Sengkang

Baja fy 240 Mpa

Tuss

Gambar 3.11 Menu pada Modul property

Gambar 3.12 Menu pada Create section

21

3.3.3. Modul Assembly


Setiap part yang sudah terdefenisi akan dirakit satu persatu

Gambar 3.13 Menu pada Modul Assembly

3.3.4. Step
Pada modul ini analisys step diciptakan dan kemudian dikonfigurasikan. Selain itu
output request juga dapat dikonfigurasikan disini sesuai kebutuhan.

Gambar 3.14 Menu pada Modul Step


22

3.3.5. Modul Interaction


Pada modul ini interaksi mekanik dan termal antara daerah-daerah dari model atau
antar daerah model dan lingkungannya didefinisikan. Dalam hal ini hubungan material
beton dengan material baja tulangan didefinisikan.

Gambar 3.15 Menu pada Modul Interaction Create Constraint

3.3.6. Modul Load dan Boundary Condition


Pada boundary condition merupakan pendefenisian perletakan, model balok ini
menggunakan perletakan sederhana (pinned).

23

Gambar 3.16 Menu pada Modul Load Create Boundary Condition


Pemberian beban diberikan pada modul ini, yaitu beban merata (Q) sebesar 10 N/mm pada
modul Load

Gambar 3.17 Menu pada Modul load


3.3.7. Modul Mesh
Pada modul ini tersedia tools yang bertujuan menciptakan mesh elemen hingga
pada assembly yang telah dibuat. Besarnya mesh diambil 50 mm.
24

Gambar 3.18 Menu pada Modul Mesh

3.3.8. Modul Job


Setelah semua langkah diatas selesai dilakukan, maka akan dilakukan analisis (run)
menggunakan modul job.

25

Gambar 3.19 Menu pada Modul job

Berikut ini merupakan gambar model 3D pada Abaqus untuk model balok type I dan II,
karena dari segi penampang sama, dan jumlah tulangan sama tetapi diameter berbeda,
disini hanya akan ditampilkan salah satu model balok.

26

Gambar 3.20 Model Balok Beton Bertulang dengan Abaqus

Gambar 3.21 Model Balok Beton Bertulang dengan Pembebanan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

27

4.1 Hasil Analisis Model Balok Type I

Hasil Analisis Model Balok Type II

28

Hasil Analisis Model Balok Type I

29

30

Model Balok Type I

31

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-28472013). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Nawy, E. G. 2003. Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar. Bandung: Refika Aditama,
Bandung.
Pakpahan, Y. R dan Sitorus, T. 2015. Analisa Lendutan Balok Beton Bertulang Dengan
Variasi Diameter Tulangan Berbeda Dan Letak Tulangan Berbeda Namun Luas
Penampang Tetap Sama Dengan Cara Teoritis Dan Simulasi Program FEA. Jurnal
Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara. Vol. 4, No 1.
Wiyono, D, R dan Trisna, W. 2013. Analisa Lendutan Seketika dan Lendutan Jangka
Panjang Pada Struktur Balok. Jurnal Teknik Sipil Universitas Kristen Maranatha.
Vol. 9, No. 1.

32